4.09.2012

KISAH ERWIN – Bagian 3

Cerita tentang Erwin masih berlanjut ya teman. Soalnya ini benar-benar pengalaman saya yang menarik untuk dibagikan. Bukan maksud untuk pamer ya, tapi ini murni adalah sharing. Sesuai dengan janji saya sebelumnya di Bagian 2, pada Bagian 3 ini saya akan menceritakan gimana gerilya kita ngumpulin dana untuk kesembuhan mata Erwin. Gimana juga cerita Erwin pada hari H melakukan operasi. 


Kejar setoraaan...

Namanya denger teman sakit, akhirnya kita-kita temen SMP-nya Erwin pada mulai menggalang dana. Bukan maksud merendahkan Erwin, sama sekali tidak, tapi kita memang sangat ingin berpartisipasi atas kesembuhan Erwin. Terlebih lagi kalau dilihat dari segi penghasilan Erwin sehari-hari, tampaknya memang harus disukung. Tapi bener-bener degh, ide awal ngumpulin dana itu dari Ratmi, secara dirinya emang yang pertama kali dengar berita kalo Erwin sakit dan butuh support dari temen-temennya. Berawal dari BBMan, sampai ke blog, sampai ke FB. Asal muasal dari cerita singkat dengan mem-broadcast cerita Erwin, sampai juga akhirnya saya bikin blog singkat mengenai Erwin. Yah, pastinya juga beberapa diantara kita menyebarkan berita ini melalui group di BBM. Nggak semua orang memang kenal dengan Erwin, tapi pasti semua orang punya rasa persaudaraan dan kemanusiaan. Itu yang tidak tergantikan. Iya lho, heran juga sih saya, beberapa kerabat saya yang saya kirimkan proposal pengajuan dana untuk Erwin, mereka tidak kenal Erwin. Tapi toh mau juga tuh membantu. Teman SMA yang tidak saatu SMP, teman kuliah, teman kantor lama, teman dari mana-mana, bahkan ada adik kelas semasa saya di SMA pun ikut berpartisipasi. Alhamdulillah ya Allah, sesuatu yah...

Sehari, dua hari... Sungguh diluar dugaan yang kami bayangkan. Begitu cepat donasi masuk untuk Erwin. Angka melambung tinggi. Subhanallah memang kuasa Allah. Siapa yang sangka ya, belum seminggu sudah terkumpul Rp 7 juta. Ini berkat kemajuan teknologi juga lho. Kebayang donk, tinggal copy paste berita yang udah dibikin sama seseorang? Gampang banget ya? Yah, kalo penggunaan teknologi untuk urusan yang begini sih, saya setuju 500% deh. Manfaatnya emang luar biasa. Iya, berkat FB, group dan contact BBM, urusan perkomunikasian sangatlah mudah. Rencana Ratmi untuk garage sale barang second layak pakai juga dijalanin. Pokoknya apapun yang bisa jadi uang, pasti diusahakan.


Pasang surut dalam penggalangan dana buat Erwin mulai tampak. Yah, namanya juga "ngamen", harus sabar untuk nungguin keikhlasan dan kerelaan hati sang penderma untuk mengatakan, "saya transfer tadi ya...". Bener lho. Ini nggak mudah, dan sama sekali nggak mudah. Kita harus merelakan waktu dan pikiran untuk nyebar informasi ke rekan-rekan. Ditolak, dicemooh, diledek? Udah biasa itu. Apalagi yang dicuekin pura-pura nggak baca atau lupa transfer padahal sudah bilang iya. Nggak heran lah, yah namanya juga sedekah ; dipenuhi ya alhamdulillah kalo ngga ya nggak usah kecewa atau bahkan sakit hati. Pernah juga kok, saya dikomentarin gini di group BB saya, "Wuih, ngamen disini Mon?". Kadang miris juga sih, liat itu orang yang sinis sama ngamennya saya... Hmmm, giliran dimintain sumbangan buat sedekah, pura-pura nggak punya uang, tapi giliran pesta pora urusan duniawi, paling depan. Astaghfirullah... Yah, bukan halangan sih. Tetap maju cari dana. "Mau diapain kek gw, mang gw pikirin?" senjata terkuat dalam hati. 

Sempat berada di posisi Rp 12 juta pada waktu kira-kira penggalangan dana berjalan dua minggu. Dag dig dug ser-ser-an, soalnya emang mau ngumpulin Rp 30 juta itu kan ya nggak mudah ya sodara-sodara. Lah berarti kalo Rp 12 juta itu kan belum setengahnya. “Ya Allah, memang jika Kau kehendaki, apapun cara yang kau berikan, Erwin pasti bisa sembuh” (kira-kira begitu ujar saya dalam hati ketika menggalang dana untuk Erwin). Gimana juga caranya, insyaaAllah Erwin bisa dioperasi dan sembuh. Bismillah...


Pre-operasi...

Setelah berkonsultasi dengan dokter, akhirnya pak dokter memutuskan untuk melakukan preventive treatment bagi mata Erwin yang sebelah kanan, mumpung belum terjadi seperti yang sebelah kiri. “Laser mata kanan dulu ya, minggu depan kita laser. Nanti selesai laser mata kanan, kita tunggu dulu sekitar 2 mingguan, baru deh kita observasi untuk operasi mata kiri”, begitu pesan dr. Isfahani, Sp.M. Baiklah dokter.

Seminggu setelahnya, Erwin melakukan laser untuk mata sebelah kanannya. Nggak didampingi sama siapa-siapa kecuali Sopian Hadi, temen SMP kita juga. Kebetulan yang punya waktu luang juga sepertinya Hadi. Sebenarnya sih ya tidak luang sekali, tapi waktunya Hadi sepertinya lebih flexible dibandingkan saya yang harus absen kantor di jam 8 pagi dan 5 sore. Laser pun berjalan dengan lancarnya. Alhamdulillah. Sungguh diluar dugaan adalah biaya laser yang ditagihkan tidak 100%, tapi hanya 50%. Subhanallah banget ya, memang selalu ada jalan untuk Erwin. Saya semakin optimis dengan usaha ini. 

Update ke group SMP di BBM dan FB pastinya, bagaimana kondisi Erwin, bagaimana rencana ke depan, dan posisi dana ada dimana. Lagi dan lagi, gerilya pengumpulan dana dilakukan. Kebayang kan, tinggal menghitung hari untuk operasi Erwin? Ya Allah, hanya dengan kuasaMu, Erwin bisa operasi mata demi kesembuhannya. Usaha penggalangan dana masih berjalan, perlahan menaik sedikit. Tak apalah, yang penting ada pemasukan.

Setelah beberapa minggu Erwin laser mata kanan, pak dokter pun memberikan lampu hijau untuk operasi mata. Waaah, sempat deg-degan juga ini, soalnya dana masih belum capai target. Tapi mukjizat Allah datang benar-benar tanpa di duga, Erwin bisa dioperasi matanya hanya dengan biaya Rp 7,5 juta. Benar-benar hanya t25% dari yang diberitahukan oleh pak dokter sebelumnya. Subhanallah, bagaimana ini ya Allah, Kau tunjukkan kuasaMu... Erwin memberikan informasi tersebut kepada saya, “Mon, kata dr. Isfahani, biayanya nggak sampe Rp 13 juta”. Alhamdulillah, rejeki untuk Erwin memang ada jalannya. 


Operasi “itu”...

Hari yang dinantikan segera datang, Erwin akan operasi mata kiri yang bermasalah. “Tanggal 18 Maret ya Mon, operasinya... “, begitu Erwin menginformasikan kepada saya. “Mohon doa ya dari teman-teman, terima kasih atas bantuan semuanya. Saya nggak bisa balas apa-apa. Hanya Allah yang bisa membalas kalian semua”, begitu pesan Erwin kira-kira 3 hari sebelum operasi. Saya memang setidaknya seminggu sekali ada komunikasi dengan Erwin dan Hadi untuk memantau perkembangan Erwin. Selain untuk memantau perkembangannya, pastinya juga untuk update ke teman-teman. 

Hingga pada akhirnya, 18 Maret 2012, Minggu pagi, di salah satu RSIA milik yayasan organisasi keagamaan di daerah Grogol, Erwin melakukan operasi. 

Pukul 08.00 pagi, Erwin sms saya untuk memberitahukan bahwa dirinya sedang dalam perjalanan ke lokasi operasi.

Pukul 09.00 pagi, Erwin kembali sms saya bahwa dirinya sudah berada di ruang operasi dan akan memulainya. “Jangan siang-siang datangnya ya Mon”, begitu isi sms-nya. "Bereees Win...", balas sms saya kepadanya.

Rani (istri Erwin) ayah Erwin, Hadi dan Yusuf (teman Hadi) turut menemani jalannya operasi Erwin. Saya pun menyusul dengan pak suami ke lokasi, sekitar pukul 09.30 tiba ditempat.


Ini dia RSIA Ibnu Sina tempat Erwin melakukan operasi


Ruang Tunggu dalam RS

Mulai dari pukul 09.30 saat saya tiba di lokasi operasi, hingga hampir pukul 12.00 Erwin dioperasi, saya mengisi waktu dengan mengobrol bersama ayahnda Erwin. Sedikit bercerita pengalaman masa muda sang bapak yang pada akhirnya berlanjut ke petuah-petuah bijak sang ayah. “Semasa muda harus menabung dan memanage keuangan yang baik ya, jangan sampai masa tua tidak punya tabungan”, begitu pesan yang saya ingat dari ayah Erwin. Baiklah pak, insyaaAllah akan saya camkan itu. Oiya, sedikit cerita, ibunda Erwin sudah meninggal dunia kira-kira 10tahun yang lalu...

Hampir pukul 12.00 siang, Rani dipanggil oleh suster untuk masuk ke dalam ruang operasi. Sepertinya operasi sudah selesai dilakukan. Rani langsung menuju ruang operasi. Saya beserta ayah Erwin, Hadi, dan pak suami saya masuk ke ruang tunggu dalam RS. Pak dokter pun keluar ruangan sedikit menjelaskan bahwa operasi sudah selesai. Pesannya, “Jangan kena air dulu. Untuk keterangan lain, bisa dijelaskan oleh suster ya”. Alhamdulillaaah, operasi selesai. Setidaknya tahapan besar sudah dilaksanakan. Saya segera menyelesaikaikan urusan administrasi bersama mba' suster. Erwin pun duduk di ruang tunggu. Setelah urusan administrasi selesai, Rani pun mendengarkan penjelasan dari suster tentang obat yang harus diminum oleh Erwin. Bebrapa obat minum dan ada pula obat tetes yang harus diberikan kepada Erwin. "Hari Selasa kontrol ke Klinik ya..." pesan dr. Isfahani.

Erwin setelah operasi
Selesai semua urusan. Erwin siap pulang. Hadi dan Yusuf pergi mencari taxi untuk mengantarkan Erwin pulang. Maklum, lokasi RS tidak berada di pinggir jalan raya, sehingga harus mencari taxi terlebih dahulu ke jalan besar. Tak lama taxi pun datang, dan Erwin pulang. Hadi dan Yusuf menyusul menggunakan motor. Setelah semua pulang, saya dan pak suami pun ikut pulang.


Erwin mau pulang :)

Lega rasanya hati ini, satu misi besar sudah dijalankan. Tentunya bersama mukjizat-mukjizat dari Allah, SWT. Untuk semua rekan, sahabat, dan kerabat yang telah menyumbangkan dana, doa, tenaga, waktu, dan semuanya, saya haturkan banyak terima kasih. Tanpa kalian semua, tentu proses ini belum bisa berjalan. Tuhan Maha Baik, pasti akan membalas kalian semua yang baik juga...


Bagian 3 sampai disini dulu ya. Saya mau lanjut ke bagian 4, cerita tentang pasca operasi Erwin.

3.20.2012

RUAMEEE...

Kamis 8 Maret 2012...

Jam makan siang pengen banget makan sate ayam. Kata temen kantor saya, di deket sekolah yang menuju Pasar Baru, ada warung sate yang lumayan. Baiklah, meluncur kesana. Udah kangen makan sate ayam siang-siang. Di kantor dulu, sering juga makan sate siang-siang, abis itu minumnya es podeng. Nikmat! Semenjak pindah ke kantor ini, agak susah makan siang sate. Soalnya si den mas OB rada suka nyinyir kalo disuruh beli makan siang yang agak jauh. Andaikan mau, nanti baliknya bisa jam 1 siang, dimana perut dan gerombolannya sudah dalam posisi "empty". Ya sudahlah, saya jalan saja. Dianggap olahraga saja, mudah-mudahan menjadi sehat.

Sekitar pukul 12.15, saya jalan keluar kantor menuju arah Stasiun Juanda. Dari depan kantor sih sudah terlihat beberapa hal yang tidak biasa. Misalnya, orang pada sibuk menggotong kipas angin dan selimut. Dalam hati saya, mungkin ada kebakaran.


Sampai pada akhirnya berjalan di Jl. Juanda 1, ternyata benar lho, ada asap mengepul dari salah satu rumah penduduk. Waaah, langsung deh ramai kerumunan massa. Yang gotong-gotong perabotan sih udah nggak heran. Yang teriak-teriak juga ada. Yang nonton seperti saya, ya banyak. Langsung lihat gambarnya aja yah, biar tau gimana situasi kondisi pada saat itu.

Kios-kios langsung mengosongkan diri

Barang-barang kios langsung pindah ke jalanan

Nggak ngerti deh gimana caranya itu barang-barang di kios yang berat, yang besar, yang banyak bisa pindah ke jalanan. Salut sama kerja keras mereka mempertahankan aset dan properti mereka. Bagaimanapun caranya, properti harus diselamatkan.

Barang rumah tangga diamankan di pelataran Stasiun Juanda
Nah, ini gambar yang sempet aku capture. Mereka yang masih bisa menyelamatkan barang-barang yang ada, menitipkan di pelataran Stasiun Juanda. Hebat ya, sampe gotong spring bed ukuran queen lho. She the picture there.

Mobil pemadam dateng juga lho

Ambulance juga ada
 Liat gambar diatas? Ada mobil Toyota Avanza hitam di bawah tulisan "Dea Cellular"? Mobil itu terpaksa dipecah kaca belakangnya karena harus disingkirkan agar akses pemadaman lancar. Entah kemana orang yang punya mobil itu, sehingga mobilnya harus dipecah kacanya. Yah, mungkin dirinya tak tahu pun kalau musibah ini akan terjadi. 

Kondisi Jl. Juanda I yang ramai dengan massa

Itu dia rumah yang terbakar (bukan iklan Pizza Hut ya?)

Nah, akhirnya sekitar pukul 13.30 berhasil lah pemadaman api. Asapnya menjadi putih setelah tadi berwarna hitam. Syukurlah... Semoga yang mendapatkan musibah diberikan kekuatan lahir dan bathin oleh Allah. Semoga apa yang hilang cepat mendapatkan gantinya. Aaamiin...

Sudah padam, asap menjadi warna putih
Nah, coba baca link di bawah ini mengenai beritanya. Kebakaran ini menyebabkan kemacetan lho, sampai ke Harmoni, kata beberapa sumber berita dari twitter.

Pemirsah, semoga kita selalu dilindungi Allah SWT ya, dari segala marabahaya dan bencana. Aamiin...

3.19.2012

KISAH ERWIN - Bagian 2


Kembali lanjut cerita tentang Erwin ya pemirsah. Setelah sekian lama break mengenai cerita mata Erwin, mari saya share kembali bagaimana perjalanan pengobatan mata Erwin.

Setelah pertemuan dengan Erwin bersama beberapa teman-teman SMP yang dilakukan langsung di rumah Erwin, saya meminta Erwin untuk kembali ke dokter untuk memeriksakan kondisi matanya, bagaimana tahap selanjutnya, apa yang harus dilakukan oleh Erwin. Tapi Erwin langsung bilang ke saya agar dirinya didampingi pada saat ketemu dokter mata tempat dirinya berkonsultasi. Rasanya Erwin kurang pede untuk bertemu dokter, soalnya banyak yang harus ditanyain ke dokter seperti permasalahan pembiayaan pengobatan dan operasi mata kiri yang bermasalah itu. Saya pun menawarkan kepada teman-teman di group Blackberry dan di Facebook. Hanya ada beberapa saja yang bersedia. Tak mengapa, mungkin sedang berhalangan. Sementara saya sudah saya niatkan untuk mendampingi Erwin. Bersyukur, suami saya pun bersedia mendampingi saya.


Sabtu, 04 Februari  2012...

Jam 09.00 pagi janjian sama Erwin dan Hadi di Klinik Mata Mayestik. Beruntung, saya sudah hafal dengan lokasi klinik tersebut. Jaman dahulu kala, ketika masih suka numpang bapak ibu jalan-jalan (selagi masih jadi anak bawang), daerah Mayestik sudah saya kenal, jadi nggak perlu cari-cari lagi degh. Saya dan pak suami telat sedikit tiba di klinik tersebut. Maklum, ibu-ibu kalo sudah pagi ya urusannya banyak. Hihihiii, belanja ke pasar, urus bocah, urus rumah, dan segambreng kegiatan lainnya #eh kok malah curhat. Setibanya disana diriku sudah disambut Hadi di depan klinik. Klinik tersebut pasti pada awalnya peruntukannya adalah rumah, kemudian dialihfungsikan untuk klinik. Terlihat sekali konstruksi rumah masih berasa di klinik tersebut. Szaaah, naluri anak kuliahan arsitektur masih berbicara.

Ketika saya masuk, Erwin sedang diperiksa oleh suster klinik. Memang begitu prosedurnya, sebelum diperiksa oleh dokter, harus diperiksa oleh suster. Ada seperti obat tetes mata yang harus diberikan ke pasien sebelum diperiksa oleh dokter. Mungkin biar steril kali yah, mata Erwin. Sempat ada kejadian konyol juga sih pas saya nyari-nyari Erwin. Secara Hadi menginformasikan kepada saya, bahwa Erwin sedang diperiksa. Lah, saya langsung ngacir nyari Erwin donk, biar ketemu sama pak dokter. Kan pengen tau juga, hasilnya bagaimana, kemudian kedepannya harus bagaimana? Bertanyalah saya kepada si suster di depan, “Sus, pasien Erwin Suryahadi ada di ruangan mana ya? Saya mau dampingin, sus.” Si suster langsung nunjukkin tempat Erwin berada dan saya pun langsung masuk. Begitu masuk ruangan itu, langsung saya ditegur sama suster yang ada disana, “Mau ngapain mba? Udah dipanggil belum? Tunggu aja di luar!” Hahahaaa, aseli degh tengsin banget sayah! Salah kamar, ya pemirsah. Walaupun Erwin sedang diperiksa di sana, tapi saya belum waktunya untuk mendampingi Erwin. Nanti pas diperiksa sama pak dokter, baru saya boleh dampingi. Tak apalah, buat pelajaran saja, besok-besok kalo mau tau tanya dulu detailnya ya, periksa apa. Jangan slonong boi aja yak! Hihihihi

Setelah Erwin diperiksa oleh para suster, akhirnya Erwin dan saya beserta Hadi dan pak suami saya duduk di ruang tunggu klinik. Cukup lama juga kami antri di klinik ini, kurang lebih selama 2 jam. Ngobrol sana sini sama Erwin, Hadi dan pak suami saya menjadi salah satu kegiatan saya menunggu. Ada tivi juga lhi di ruangan tunggu itu, tapi sepertinya lebih menarik untuk ngobrol. Sepertinya juga karena hari Sabtu, pengunjung klinik agak ramai, menurut Erwin kalau hari kerja tidak seramai itu. Tua dan muda ada di klinik ini. Nah, pas nunggu antrian ini, banyak yang saya perhatikan lho. Ada yang lucu, ada yang haru...

Coba lihat foto di bawah ini...

Nenek yang di kursi roda ini lho...
Ada seorang nenek yang duduk di kursi roda. Kalau dilihat dari penampilannya, mungkin usia sang nenek berkisar diantara 75-an, mungkin bisa juga lebih. Hal apa yang membikin saya menarik untuk mengabadikan nenek ini? Nenek ini mengingatkan pada eyang putri saya semasa hidupnya. Si nenek ini ternyata menyirih lho, beigtu juga dengan almarhumah eyang putri saya. Wah, di zaman yang sangat modern ini, si nenek masih melakukan ritual menyirih. Widiiih, salut sama si nenek ini. Hari gini, pasti yang jualan daun sirih, inang, nggak banyak lagi degh, tapi si nenek masih dapet aja stock nyirih ya? Dapet dari mana ya nek, stock-nya?


Majalah... majalah...
Nah, yang di atas ini tumpukan majalah yang habis saya baca semasa nungguin antriannya Erwin. Lumayan lah, walaupun majalah udah lama, tapi ada yang bisa dibaca.
Yak, ini yang konyol lagi. Liat kan, ada dua wanta muda yang duduk di dekat railing tangga itu? Si mba’ yang paling sebelah kanan itu lagi nahan sakit mata karena iritasi pemakaian soft lense. Antara mau ketawa sama sedih sih, abisnya konyol banget pake soft lense sampe iritasi gitu. That’s why diriku nggak pede pake soft lense. Ya gini ini, takut akibatnya. Selama 21 tahun saya pakai kacamata, hanya sekali saja saya paki soft lense, yaitu waktu hari pernikahan. Itu pun sudah di paksa sama ibu perias pengantin, katanya, “Ya masa’ udah dandan cakep-cakep masih pake kacamata?” Hmmm, baiklah bu, softlense lah saya. Nah, kalo si mba’ yang ini, entah apa ya, dia pake soft lense itu. Well, besok kalo pake soft lense, ati-ati ya mba’. Itu mata lho mba’, panca indera pertama kita. Bukan apa sih, kasiyan banget liat si mba’ ini, menahan sakitnya mata. Saking sakitnya sampe nggak bisa jalan. Saking sakitnya, si suster nyuruh untuk istirahat dulu aja. Nggak bisa diperiksa, soalnya itu urat syaraf lagi pada tegang semua kali ya? Hihihi...

Aduh mba, sakit yah? :(
Kira-kira pukul 11.30, akhirnya Erwin di panggil untuk masuk ke ruangan periksa dokter. Saya pun ikut mendampingi, beserta Hadi. Erwin duduk di kursi pemeriksaan mata. Sementara saya dan Hadi duduk di kursi yang berada di depan meja pak dokter. Lampu ruangan dimatikan lho, soalnya pak dokter meriksanya pakai lampu yang dipakaikan di kepalanya. Entah apa itu namanya. Setelah pak dokter periksa mata Erwin, kurang lebih 10menit, akhirnya lampu ruangan dinyalakan kembali. Pak dokter menjelaskan bahwa memang ada syaraf mata Erwin yang putus, sehingga penglihatan Erwin terganggu. Solusinya adalah ya operasi. 

Ruang Periksa yang sebelah kiri...

Erwin sempat ngomong, “Ya saya sih siap aja dok kalau memang harus operasi. Sekarang tergantung dananya. Soalnya saya nggak membiayai sendiri. Ini teman-teman saya yang bantuin dana operasi”. Pak dokter nggak hanya menanggapi, “Heran, biasanya kalau disuruh operasi pada nggak mau lho. Pada mundur. Ini semangat yah, mau operasi? Hebat”. Aiyh, jempol lah buat Erwin dan semangatnya. Kweceh ya Win!


Akhirnya saya pun turut menanyakan beberapa hal kepada pak dokter. Yang saya tanyakan pun adalah sebenarnya hal-hal yang sangat sederhana, tapi setidaknya saya perlu ketahui demi kesembuhan Erwin. Pak dokter menjelaskan beberapa hal yang saya tanyakan, diantaranya adalah (1) Operasi yang dilakukan adalah termasuk operasi besar, karena lokasi syaraf itu berada di belakang bola mata. Nah, kebayang kan, betapa sulitnya untuk melakukan operasi tersebut, (2) Resiko pasca operasi tetap ada, tapi kita sebagai manusia tetap berusaha yang terbaik, (3) Biaya yang diperlukan untuk operasi cukup besar, kurang lebih Rp 30juta, (4) Beberapa cara tehnik pengoperasian yang bisa dilakukan untuk kasus Erwin, akan dicarikan tehnik yang paling sesuai untuk Erwin, (5) Jangan lupa banyak berdoa kepada Allah.

Dan pada sampai titik permasalahan biaya ini lah, yang saya fokuskan bicara dengan pak dokter. Bukan apa ya..., nggak perlu ditutupi lagi, bahwa memang operasi ini pastinya butuh biaya, sementara biaya operasi untuk Erwin, ditanggulangi oleh rekan-rekan dan bukan rekan Erwin. Saya pun akhirnya menjelaskan kepada pak dokter, bagaimana kami menggalang dana untuk operasi Erwin. Pak dokter sempat terharu atas kondisi ini sambil berujar, “Sudah terpisah belasan tahun, tapi masih peduli dengan rekannya? Hebat kalian!” Alhamdulillah pak dokter, kami masih memiliki rasa persaudaraan. Pak dokter kembali menerangkan, operasi bisa dilakukan di klinik milik salah satu ormas agama yang berada di bilangan Grogol, Jakarta Barat. Memang kalau disitu, hanya sewa tempat dan peralatan saja. Doaku dalam hati, “Semoga tidak sampai Rp 30 juta, ya Allah”.

Okey, akhirnya kami sepakat untuk melanjutkan pengobatan Erwin. Pak dokter pun menjelaskan, bahwa tahap pertama dalam operasi mata kiri Erwin adalah dengan me-laser mata kanan Erwin yang belum separah mata kirinya. Melalui pemeriksaan tadi, pak dokter bilang kalau mata kanan Erwin gejala awal untuk terjadi seperti mata kiri sudah ada, makanya lebih baik mata kanan dilindungi dulu, sebelum terlambat. Laser mata kanan bisa dilakukan di klinik tersebut. Seminggu setelah pemeriksaan ini, bisa dilakukan laser mata Erwin. Setelah laser mata kanan dilakukan, baru di bicarakan lagi untuk operasi mata kirinya. “Kita lihat perkembangan yang mata kanan dulu ya” ujar pak dokter. Siap dok, kita ikuti langkah pak dokter.

Kira-kira selama 30 menit kami berdiskusi dengan dr. Isfahani, Sp.M, akhirnya kami pun harus keluar ruangan. Selain memang karena yang dibahas sudah selesai, ya ada pasien lain yang ngantri lho. Hihihihi, bisa diamuk massa kalau kelamaan ngobrol ngalor ngidul. Oia, kami pun sempat disampaikan beberapa ayat suci Al-Quran oleh dokter yang berusia sekitar 55 tahunan ini, betapa persaudaraan itu sangat penting. Subhanallah ya dok, dirimu sudah pintar, sholeh pula. Thumbs up for you, doc!

Keluar ruangan dokter, saya menyempatkan berdiskusi dengan Erwin, Hadi dan suami saya. Kami duduk di teras klinik. Kesimpulannya, minggu depan setelah pemeriksaan ini, Erwin harus laser mata kanannya terlebih dahulu. Mengenai biaya Rp 30 juta, akan dibicarakan lagi dengan teman-teman. Allah pasti berikan jalan untuk umatnya yang berusaha. Man Jadda wajada, jika kamu bersungguh-sungguh maka akan berhasil dan saya yakin dengan slogan ini. Semangaaaat! Kalau sejauh ini sudah terkumpul Rp 10 juta, masa’ nggak bisa ngumpulin Rp 30 juta sih? Ngamen dimana aja jadi deh, yang penting uang buat operasi Erwin kekumpul.

Selesai diskusi, saya pun menyerahkan uang kepada Hadi untuk biaya pengobatan laser mata Erwin. Ya, semua uang memang saya serahkan ke Hadi, agar Erwin tidak pusing dengan pengaturan uang ini. Biar tinggal bawa badan saja maksudnya. Kalau perlu uang, langsung info kan ke Hadi.  Kami pun kembali pulang ke rumah masing-masing setelah diskusi itu. Lega rasanya, step awal sudah dilakoni, tinggal melanjutkannya.

Nah, cerita part 2 sampai di sini dulu ya. Nanti sambung lagi di part 3, biar bacanya nggak kepanjangan (baca: penulisnya lagi kehabisan tenaga). Nanti di part 3 saya mau share, bagaimana perjuangan rekan-rekan saya untuk ngumpulin dana buat Erwin, seru degh! Nah, sama sekalian saya akan share juga, bagaimana laser mata Erwin. Be right back ya pemirsah...

3.12.2012

CERITA TANPA CERITA


Minggu pagi kemarin, kita bertiga (suamiku, aku dan Nares) menyempatkan jalan pagi ke Senayan. Sudah setahun belakangan ini kita ngga ke Senayan untuk jalan-jalan pagi. Semenjak Nares lahir, memang kegiatan semuanya agak terbatas. Nah, minggu kemarin ini baru sempat jalan lagi deh ke Senayan. Kamera nggak boleh ketinggalan, selain yang pasti peralatan tempur si neng satu itu. Ya stroller, ya diapers, ya tempat makan, sampe sepeda pun nggak luput.

Kira-kira sampai di lokasi sekitar pukul 06.50pagi. Nggak seberapa jauh memang lokasi Senayan dari rumah kami yang berada di bilangan Palmerah. Sampai di sana, sempat juga sedikit rintik gerimis turun. Makanya yang tadinya mau bawa Nares pakai sepeda, terpaksa dialihkan pakai stroller. Sepeda nggak berkanopi soalnya.

Selesai jalan-jalan di Senayan dan sarapan pula (bapak makan nasi uduk, ibu makan lontong sayur, dan dek nares bawa makan dari rumah), akhirnya kita pulang. Menuju parkiran yang berada di dekat pos polisi, nggak jauh dari pintu masuk driving range. Nah, pada perjalanan pulang ini, saya menyempatkan untuk ambil gambar, jeprat jepret sesuka saya. Maklum, hari gini jeprat jepret nggak usah mikir takut kehabisan roll film. Nggak suka, nggak mau, nggak butuh, tinggal delete. 

Di perjalanan pulang ini, saya menemukan moment yang baik dan menarik untuk saya abadikan. Saya melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan sedang terlibat pembicaraan serius dari mukanya. Namun, pembicaraan mereka melalui bahasa isyarat. Saya yakin seratus persen kalau mereka menggunakan bahasa isyarat. Semakin mendekat saya berjalan menuju ke arah mereka. Bukannya sengaja mendekat, tapi memang lokasi parkir kami ya dekat dengan dimana mereka duduk untuk ngobrol.


Jeprat-jepret terus berlanjut dan ini adalah hasilnya

They are so sweet...


Saya tidak dapat bercerita banyak dengan gambar di atas. Yang saya tangkap dari gerak gerik mereka, sepertinya mereka saling menyayangi satu sama lain, namun ada permasalahan diantara mereka. Mereka memang tidak bisa berbicara melalui mulut mereka, tapi dengan gerak dan gerik, mereka tetap berbicara... Mereka bercerita, walaupun saya tak bisa menceritakannya. Sungguh, mereka sangat saling menyayangi...

2.22.2012

MISOA SKOTEL

Lagi kesambet setan masak, makanya belajar bikin cemilan ini itu anu. Tapi masaknya masak cemilan yah. Bukan masak makanan yang berat-berat untuk lauk nasi. Kalo yang itu sih mati gaya dah! Ampuuun.

Nah, kemaren ini nyobain bikin misoa skotel. Resep aslinya dari mba Dini, kakak iparku yang tinggal di Cibinong, yang jago masak! Cuma yang saya bikin ini udah dikit-dikit di modif biar unyu aja. Misalnya, tambahan jagung manis, wortel, smoked beef, keju, jamur. Nah kan, bahannya segambreng...

Neh, penampakannya ya pemirsah!

Tampak utuh


Tampak yang sudah terpotong

Nah... kata si bapak mah, ini enak! Yah, nggak tau bener nggak tau cuma muji bininya negh yah! Tapi sih setelah saya cobain sendiri, ternyata memang enak! Manisnya dai jagung, gurihnya dari susu dan keju. berasa gigitannya pas makan jamur-nya. Wahaaa... berhasil! Senangnya!

Resepnya neh...
Bahan:
- Misoa, 1 bungkus, masak sampe matang, tiriskan
- Jamur merang, 5 buah, potong halus
- Smoked beef, 2 lembar, potong kecil-kecil
- Wortel, suka-suka, serut kasar
- Jagung manis, setengah buah, pipil
- Butter, 1 sendok makan, cairkan
- Bawang bombay, sesukanya, cincang halus (tumis sama butter)
- Susu UHT, 100ml
- Keju cheddar, sesukanya, parut halus
- Telur ayam, 3 butir, kocok halus
- Garam merica, secukupnya

Bikinnya:
- Campur semua bahan jadi 1 adonan. Aduk rata serata-ratanya.
- Kukus sampai matang dan dinginkan
- Kalau udah dingin, potong sesuai selera. Balurkan telur, kemudian tepung panir. Goreng sampe agak kecoklatan yeee...



Hmmm, besok bikin apa lagi ya? Kalo udah bisa begini, sepertinya sudah bisa bikin nugget negh! ganti misonya pake tepung panir. Pake udang lebih gurih. Whokey, next session dah! Cukup senang dengan hasil yang ini... ;)

GIZI SEIMBANG BUAT PERTUMBUHAN BABY


Minggu tanggal 19 Feb 2012 saya berkesempatan ikutan kelasnya milis Mamaku Koki Handal yang mengupas tentang gizi anak di 1000 hari pertama. Aseli degh, pengen banget ikutan kelas singkat ini. Kenapa? Soalnya pengen tau, bagaimana mengatur gizi yang baik buat Nares. Apakah selama ini makannya Nares udah bener atau masih perlu perbaikan? Nah, daftar deh saya, melalui milis mpasiumahan yang di moderator-in sama mba Dian Prima as known as mba Depe. Udah daftar, trus konfirmasi dan bayar deh. Alhamdulillaaah, si bapak keceh bayarin saya ikutan kelas ini.

Okey, di sini saya mau share beberapa ilmu yang baru saya ketahuin lho, dari Ibu Maria Phan, sang pemateri di kelas ini. Bu Maria bekerja pada badan pangan dunia dan sudah keliling belahan dunia mana saja untuk melihat gizi bayi dan anak di seluruh penjuru dunia. Yang namanya negara entah berantah pun sudah dijajaki sama bu Maria lho. Pernah kok, cerita beliau, dirinya melakukan research ke tempat yang benar-benar sulit untuk dijangkau. Pokoknya akses itu benar-benar tertutup. Sampai-sampai, listrik pun belum masuk. Nah, dengan kondisi yang sulit begitu, makanya distribusi makanan juga susah. Penduduk setempat hanya bisa mengandalkan bahan-bahan yang ada di sekitarnya yang pastinya amat sangat terbatas. Nah, makanya dari itu banyak bayi-bayi yang kekurangan gizi *mulai mewek Makanya, buat kita yang hidup di kota dengan segala ada bahan makanan ada, harus memanfaatkan semaksimal mungkin itu bahan-bahan makanan. Mumpung mudah didapat, ada rejeki, makanya maksimalkan lagh gizi anak kita!

Yuks, lanjut di bawah ini ya share-nya...


Poin 1 – Kapan masa penting pemberian nutrisi kepada anak?

Pada tau nggak, kalo ternyata pemberian nutrisi pada anak itu sebenernya harus sudah dimulai pada masa awal-awal kehamilan lho. Bukan pada saat lahir ternyata, apalagi dari pas mulai MPASI. Got the point kan?  Yups, hamil berarti harus makan bergizi seimbang. Jadi, begitu terjadinya pembuahan di sel telur, itu adalah awal pemberian nutrisi kepada anak. Nah, jangan salah, ternyata di masa hamil ini, nutrisi yang masuk ke baby itu yang menentukan nanti baby-nya bakalah cukup gizi atau nggak pas si baby lahir. Makanya, si ibu pas hamil itu harus makan yang bergizi tinggi. Kalo mual gimana? Trus sampe muntah-muntah? “Ya harus dimasukin lagi setelah muntah. Jenis makanan kan banyak. Coba cari yang ngga bikin mual”, begitu kira-kira penjelasan dari bu Maria. So ladies calon emak atau yang mau hamdun lagi, ayo masupin makanannya yang bergizi tinggi yah, buat si baby kita, bukan buat kita. Jadi, kalo kita nggak makan, yang dipikirin adalah, “baby kita makan apa, kalo kita nggak makan?”.

BBLR (berat badan lahir rendah) pada bayi, sebisa mungkin harus dihindari. Nah, makanya disini penting sekali peranan ibu untuk memberikan gizi yang terbaik buat si baby. Ya karena ternyata memang anak kita butuh asupan gizi dari apa yang kita makan. Jadiii, buat bumil ayo makan yang banyak dan bergizi ya! Buat yang mau hamil pun, ternyata harus makan makanan yang bergizi juga lho.


Poin 2 – Berat dan Tinggi badan anak

Sepertinya sudah barang yang tidak langka lagi, ketika kesehatan anak diukur dari timbangan badannya saja. Baru tau banget ketika ikutan kelas kece ini, ternyata untuk mengukur pertumbuhan si anak, nggak hanya dilihat dari berat badannya saja lho. Tapi juga dari tinggi badan anak. Sempet bingung juga sih tentang tinggi badan ini, secara di benak saya itu kalo masalah tinggi badan ya banyaknya dipengaruhi sama faktor keturunan (genetik). Kalo ibunya bapaknya pendek, ya anaknya cenderung pendek juga. Ternyata paradigma itu ya sama sekali nggak bisa diterima mentah-mentah. Bu Maria menjelaskan, bahwa tinggi anak itu sangat tergantung ya dari gizi dan makanan yang dimakannya. Faktor genetik memang mempengaruhi, tapi ternyata itu sangat sedikit. Nah, ada mama kece di kelas ini yang share pengalaman pribadinya, katanya ada temennya dimana orang tuanya pendek, tapi anaknya bisa tinggi. Hal itu ternyata karena si orang tua selalu memberikan makanan yang bergizi tinggi buat anaknya. Waaah, begitu toh! Hmmm, ya ya ya, pantesan aja mas-mas saya tingginya diatas 175cm semua, soalnya waktu kecil mungkin makanannya bergizi seimbang semua yah...

Kalo saya sendiri berfikir, dengan tinggi badan 166cm ini ya memang karena bapak saya agak tinggi. Nah, kakek dari pihak ibu saya, itu tinggi juga. Eyang putri pun terhitung tinggi untuk seukuran perempuan di desanya. Jadi saya ngga pernah berfikir kalau ternyata tinggi itu berpengaruh banyak dari makanan yang masuk ke badan kita. Lah wong saya sebelum masa pubertas itu tingginya nggak seberapa kok, bila dibandingkan dengan teman-teman perempuan yang lain. Nah, begitu masuk masa puber, makan menggila (udah kaya’ buto jowo yang segala macam dimakan, sampe-sampe kalo makan instant noodle aja harus 2 pak #kebanyakan MSG, wkwkwk...). Akhirnya bener yah, tinggi badan saya kaya ditiup angin. Bet bet bet... ngacir! Ooo, begitu tho. Ternyata kalo makan yang bergizi tinggi, badan kita bertambah tingginya.

Bu Maria melanjutkan materi yang sudah ada di slide show. Beliau bercerita kalau ternyata, menaikkan tinggi badan itu tidak semudah menambah berat badan lho. Banyak yang berhasil untuk naikin berat badan baby-nya, tapi untuk meninggikan badannya, masih belum banyak yang berhasil. Makanya dari itu, kita perlu usaha ekstra untuk meninggikan berat badan anak kita. Nah, gimana biar tinggi badan anak kita bisa menyesuaikan dengan standard tinggi badan WHO? Ya ternyata harus makan yang bergizi seimbang.


Poin 3 – Makanan Bergizi Seimbang

Ternyata 4 sehat 5 sempurna itu udah nggak dipake lagi yah? Setelah melakukan research dan pengembangan-pengembangan ilmu dari mana-mana, sekarang yang dibutuhkan itu adalah Gizi Seimbang. Pake piramida makanan itu lho. Jadi, diawali dengan karbohidrat, sayur mayur, protein hewani dan protein nabati, buah dan produk susu. Nah, ini yang dipake sekarang buat memperbaiki gizi anak-anak. Ya, secara konsep sih sepertinya material makanan yang dipake ya sama. Hanya di piramida gizi seimbang ini ternyata ada air putih 8 gelas.

Di piramida makanan gizi seimbang ini juga, ternyata masing-masing golongan makanan memiliki tugas masing-masing di dalam tubuh kita. Karbohidrat adalah sebagai zat tenaga. Sayur dan buah adalah zat pembangun. Protein hewani sebagai zat pengatur. Nah, komposisi makanan itu lah yang digunakan untuk menunjang nutrisi pertumbuhan anak. Makanya, harus seimbang tuh semua komposisi, biar mereka menjadi satu kesatuan yang kuat. Nggak bisa hanya mengandalkan salah satu zat dari mereka. Misalnya, hanya banyak makan buah atau sayur. Okey mungkin kalo buat orang dewasa, buat yang diet karbohidrat. Tapi untuk bayi, abaikan peraturan tersebut. Karena masa-masa bayi itu membutuhkan nutrisi yang sangat tepat.

Apa saja sih makanan yang ada di piramida gizi seimbang ini?


Piramida gizi seimbang (doc. medicastore)
a. Karbohidrat :
(nasi, ubi, kentang, gandum),
b. Sayur mayur 
(segala jenis sayur),
c. Protein hewani dan nabati 
(daging, ikan, ayam, kedelai, kacang hijau, kacang-kacangan),
d. Minyak-minyak
(evoo, eloo, canola oil)
e. Air putih


Di Amerika sendiri, sekarang mereka menerapkan "my plate" ini untuk acuan makanan gizi seimbang. Jadi, di piringnya mereka itu harus ada serealia, protein, buah, sayur, dan susu di gelas. Tuh liat, komposisinya juga jelas kan? Serealia dan sayurannya besarnya sama. Sementara protein dan buah besarannya juga sama.

Komposisi Gizi Seimbang "My Plate" (doc.  nouurishactive)

Nah, bu Maria juga menjelaskan dengan contoh bagaimana mengatur komposisi gizi seimbang buat nutrisi bayi kita. Ternyata, di dalam sehari makan itu ada harus terdiri dari beberapa macam komponen yang ada di piramida gizi seimbang. Ya nasi, kacang-kacangan, sayuran, telur, daging, buah, minyak. Wah, seru banget! Ini ilmu yang baru saya dapatkan, ternyata dalam sehari daging yang dibutuhkan itu kira-kira sebesar kotak korek api. Pantesan, Nares agak susah naek berat badannya. Soalnya protein hewani yang saya kasih ternyata kurang banyak. Haish, payah beud dah emanknya Nares! Trus minyak-minyak juga kurang. Emang sih, Nares tiap pagi saya kasih EVOO (Extra Virgin Olive Oil), tapi ternyata ya masih kurang. Baiklah, akan diaplikasikan  sepulangnya dari short course ini!

Yang nggak kalah pentingnya itu ternyata karbohidrat! So that's why better perdana MPASI itu dimulai dengan serealia, which is serealia itu mengandung banyak zat tenaga! Iya donk, baby itu butuh tenaga yang banyak, buat maen, buat mikir, buat bikin hati emak bapaknya senang! Hohohooo, bersyukurlah, Nares kena MPASI perdananya pake tepung beras. 

  
Poin 4 – Mengukur pertumbuhan anak dengan aplikasi Athro dari WHO

Ternyata WHO sudah membuat aplikasi khusus untuk mengukur pertumbuhan anak bayi lho. Namanya WHO Anthro. Tinggal masukin data-data anak kita, nanti software itu langsung mengitung pertumbuhan anak kita, apakah sesuai standard WHO atau lebih atau bisa juga kurang. Udah pernah sih, download dari link yang pernah dikasih di milis AFB, tapi nggak ngerti cara bacanya. Walaupun udah ada panduannya, tapi kok ya masih oon sayah. Untung aja pas di kelas ini, Bu Maria menjelaskan bagaimana cara membaca aplikasi ini.

Tampilan awal software WHO Anthro

Sampai di rumah, langsung degh, intip catatan penambahan berat badannya Nares dan tinggi badannya juga. Yah, bersyukur banget. Ternyata pertumbuhan dek Nares masih dalam “lampu hijau semua”. Walaupun nggak banyak, tapi yang penting hijau yah. Ada yang kurang-kurang sedikit, angkanya “-0.xx” Tak apalah, nanti dikejar lagi dengan makanannya. Makan sehat gizi seimbang dan pastinya buatan sendiri dari rumah! Yeaaa... Saya pun menyempatkan email sama bu Maria mengenai perkembangan Nares. Kata bu Maria, sudah bagus sih kalau “hijau” semua, kekurangannya (biar nggak “-0.xx”), masih bisa dikejar. Baiklah, kejar ya nak... brooom tot tooottt...

Nah, buat yang mau download software WHO Anthro, bisa dari sini ya. Mudah-mudahan bisa terpakai untuk memantau pertumbuhan fisik anak. Apalagi buat yang concern sama berat badan anak. Yah, seperti saya ini lah contohnya. Selalu khawatir berat badan anak kurang. Ya emang iye sih, berat badan Nares itu termasuk yang amat sangat standard. Nggak kurang, tapi ya standard! Makanya, harus kerja keras nih emaknya, biar berat badan Nares naek! At least saya berbuat yang terbaik buat anak saya, betol tidak pemirsah?


Nah, ternyata bener lho, setelah praktek, saya banyakin protein hewani untuk makanan Nares, berat badan Nares ya langsung naek! Before praktek 8.7kg dan after praktek 9.2kg. Hanya dalam jangka waktu 4 hari! Amazed! Tapi ya nggak mungkin juga mau naek banyak-banyak banget kali ya? Asal nggak minus, itu udah satu point tambah buat eikeh....

Ukuran WHO Anthro Nares, sebelum nambah protein hewani (liat kotak hjau yang deret kiri)
Ukuran WHO Anthro Nares, setelah nambah protein hewani (liat kotak hjau yang deret kiri) 


Poin 5 – Pertumbuhan Kualitas Anak

Abis digempur abis-abisan masalah pergizian anak, bu Maria juga inform ke kita peserta kelas, bahwa pertumbuhan anak itu nggak serta merta dari makanan yang bergizi seimbang saja, tapi kita orang tuany harus memperhatikan kualitas pertumbuhan anak. Misalnya, anak harus sering diajak ngobrol, ditatap matanya, diajakin baca doa bersama, diajarin baca buku, pokoknya quality time with kiddos lah. Jangan dipikir karena anaknya masih belum genap setahun maka mereka nggak ngerti apa yang disampaikan ortu yah. Hmmm, ternyata baby ngerti lho, apa yang orang tuanya mauin dan maksudkan. Yah, emang sih kadang nggak habis pikir liat pertumbuhan baby. Masih mungil gitu kok bisa makan, kok ngerti handphone itu bunyi, kok tau bapak ibunya datang, kok paham orang yang nggak dia sukain. Nah, makanya itu, kita sebagai orang tua harus ngajarin yang bener-bener buat baby kita.

So parents and parents to be, jagalah asupan nutrisi anak kita. Karena, nutrisi itu menentukan kesehatan anak kita. Senangnya berbagi... :-) 

2.09.2012

KISAH ERWIN - Bagian 1


Masih inget kan, cerita tentang Erwin? Teman saya yang nggak bisa melihat dengan jelas? Kalo lupa atau belum tau, coba intip ini ya, mudah-mudahan bisa refresh sedikit. Yuks akh, lanjut lagi cerita tentang Erwin.

Karena udah pada galang dana kesana kemari untuk Erwin, maka di minggu awal penggalangan dana tersebut, akhirnya diputuskan untuk melihat kondisi Erwin. Berdasarkan kesepakatan teman-teman alumni SMP, akhirnya dipilihlah hari Sabtu untuk berkunjung ke rumah Erwin. Iya pastinya hari Sabtu, karena kalau di hari kerja, pasti nggak ada yang bisa. Termasuk saya pun, sepertinya tak bisa. Okey, Sabtu pagi, sekitar pukul 09.00 pagi, titik kumpul di SMPN 219 Joglo. Ada beberapa teman di group yang sudah mengkonfirmasikan kebersediaannya untuk ikut ke rumah Erwin. Namun ada beberapa juga yang mengkonfirmasi bahwa dirinya tak bisa hadir. Yah, tak apalah, mengerti kok saya. Mungkin ada acara lain yang lebih penting dan sudah direncanakan dari jauh-jauh hari.

Di hari Sabtu pagi tersebut, hujan turun lama dan cukup lebat. Namun walau hujan pun, niat yang sudah dikobarkan tak akan dipadamkan lagi (haeish, bahasanya enak bener yak?). Jam 09.30, saya pun masih terjebak di kemacetan di daerah sekitar Permata Hijau. “Sabar ya temans, maaf saya baru sampai di Permata Hijau. Macet”, begitu kira-kira bbm saya kepada teman-teman di chatgroup teman-teman SMPN 219. Dan akhirnya, sekitar pukul 09.30 saya pun tiba di titik kumpul, yaitu SMPN 219. Akhirnya, setelah sekitar 10 tahun tidak melihat langsung sekolah ini, di hari tersebut, bisa juga saya melihatnya kembali. Saat itu di titik kumpul sudah ada Dwi dan Rieka. Ibu dan calon ibu ini, sudah menunggu dengan setianya. Tampak pun Hadi belum ada, begitu juga dengan Gina. Tak selang beberapa lama, Hadi dan Gina pun hadir. Baiklah, kalau begitu, tinggal menunggu Umar. Hujan pun masih belum berhenti. Sembari menunggu Umar dan hujan reda, kami yang sudah datang terlebih dahulu sempat bernostalgia di sekolah ini.

Wohooo, 16 tahun sudah meninggalkan sekolah dan kini kami disini. Untuk saya sendiri, langsung lah semua kenangan yang pernah terjadi di saat saya sekolah di sini, bangkit dari kuburnya. Hahahaaa, mulai dari tukang jajanan, sampai dengan pembahasan guru-guru. Okey, saya nggak mau bahas lebih lanjut ya, mengenai yang terjadi di masa lalu (siapa juga yang mau baca, ya Mona...?).

Setelah semuanya kumpul, tibalah saatnya berangkat. Hadi, Gina, Dwi (beserta putrinya, Rara), Rieka, Umar, Ahmad (beserta istri dan anak) menuju ke rumah Erwin. Menyusul kemudian Kurniati, yang langsung menuju ke rumah Erwin. 1 mobil dan 3 motor, dengan niat baik yang tulus dan ikhlas, berangkat menuju rumah Erwin. Tentu saja, Hadi sebagai pemimpin rombongan kunjungan. Bismillah...

Lokasi rumah Erwin kini ternyata di dekat menara stasiun televisi ANTV, daerah Meruya. Sepengetahuan saya, dulu itu rumah Erwin di sekitar perumahan Puri Beta, Joglo. Ternyata, setelah menikah dengan istrinya, Erwin tinggal di rumah yang kami kunjungi ini.

Baiklah, lanjut ke kisah Erwin.

Rumah yang berukuran kurang lebih 2.5meter x 6meter ini ternyata milik orang tua istri Erwin yang memang dipinjamkan kepada Erwin, istri dan anaknya. Rumah tanpa halaman, bercat putih dan berada di gang yang hanya bisa dilalui oleh motor inilah, tempat Erwin dan keluarganya berteduh dari panasnya matahari dan dinginnya malam. Yah, kecil memang, bahkan bila dibandingkan dengan garasi mobil ukuran standard pun, masih leih besar garasi mobil. Tapi setidaknya rumah ini bisa melindungi Erwin dan keluarga dari segala gangguan yang ada. Begitu masuk ke rumahnya, terlihat jelas jejeran galon air di ruang tamu. Sesuai dengan pekerjaan Erwin, sebagai karyawan di perusahaan air isi ulang galon, maka di rumahnya pun terdapat galon-galon tersebut. Tak disangkal, di depan rumah Erwin pun tertera “Sedia Air Galon”.

Di depan rumah Erwin (1)

Di depan rumah Erwin (2)
Akhirnya, ketemua juga sama Erwin. Mukanya sih nggak banyak berubah. Heheee, emang mau kaya’ gimana lagi ya? Erwin ya tetep Erwin, gitu lho... Huhuuu, sempet speechless juga sih, begitu ketemu Erwin. Teman lama, setelah 16 tahun nggak ketemu, akhirnya ketemu lagi.  Okey, kita semua yang hadir di situ, membaur menjadi satu. Saling menanyakan kabar, saling bertukar nomor handphone, pin BB, ID facebook, dan lain-lain yang bisa dibagikan lah. Secara emang ngasih nomor juga gratis kan?

Mulai lah, pembicaraan dengan Erwin. Mulai dari tanya kabar, latar belakang kenapa bisa matanya seperti itu, sampai ke permasalahan berobat. Yah, satu persatu diantara teman yang hadir disitu saling sambut menyambut pertanyaan.

Diawali dengan pembicaraan mengenai mata Erwin. Ternyata, Erwin sudah merasakan gejala yang sangat mengganggu penglihatannya tersebut. Erwin memang berkaca mata semenjak SMP. Namun sekitar di awal Januari 2012, Erwin merasa ada yang semakin tidak beres pada mata kirinya. Berawal dari Erwin tidak bisa melihat lingkaran. Bentuk lingkaran yang dilihatnya, tidak lingkaran lagi, tapi sudah menjadi oval alias lonjong. Sudahlah minus tinggi, tambah lagi nggak bisa lihat bentuk dengan sempurna. Nggak kebayang ya, mata kanan Erwin itu minus 13 dan yang kiri minus 14. Hadeeeuuuh, saya yang minus 3.75 aja udah rempong. Tau nggak, saat ini ternyata Erwin memakai kacamata keponakannya yang berminus 9? Erwin belum bisa pakai kaca mata yang sesuai dengan minus-nya dikarenakan harga lensa untuk ukuran mata Erwin, ya memang mahal. Yah, lensa kacamata kan emang gitu, semakin tinggi minus-nya, maka akan semakin tinggi pula harganya. Pasti nggak enak degh, kalo pake kaca mata yang nggak sesuai ukurannya sama mata kita. Aseli degh, itu mata kaya’ kerja rodi. Beraaat, berat kerjanya mata kita.

Nah, karena ada keluhan tersebut, akhirnya ya Erwin datang ke Klinik Mata Mayestik untuk memeriksakan kondisi matanya. Menurut dr. Isfahani, dokter yang memeriksa Erwin, ternyata ada syaraf mata Erwin yang terlepas. Jalan satu-satunya adalah Erwin memang harus dioperasi. Yah, begitu mendengar kata-kata operasi, Erwin pun sempat merasa ‘down’. Pasti ujung-ujungnya tak lain dan tidak bukan adalah karena masalah biaya. Untuk biaya operasi yang sekitar 12 juta, sudah dapat dipastikan tidak akan terpenuhi. “Gw sih ya pasrah deh, terima nasib begini. Abis mau gimana ya, Mon, biayanya besar banget. Sedangkan penghasilan gw cuma dari anterin air galon ini”, begitu cerita kepasrahan Erwin dengan saya. Sambil nepuk pundak Erwin, sambil ngomong, “Sabar ya Win...” *senyum. Dokter yang memeriksakan mata Erwin, sempat menyarankan Erwin untuk tidak bekerja yang berat-berat. Termasuk di dalamnya adalah kerja sebagai penganter botol galon isi ulang. Namun apa daya, Erwin belum berkesempatan mendapat pekerjaan lain. Erwin pun sempat menunjukkan surat dari dokter mengenai penyakitnya. Tapi pun saya tak mengerti.

Surat dari dokter mata Erwin
Tanpa tersadar, Erwin melanjutkan cerita tentang pekerjaannya sehari-hari kepada kami. Yak, dari pekerjaan sehari-hari Erwin mengantarkan air isi ulang di sekitar perumahan Larangan Indah, Ciledug dan Komplek DKI Joglo, Jakara Barat, ternyata Erwin diupah Rp 1,000 untuk setiap galonnya. Setiap hari, kira-kira ada 50-60 galon yang bisa diantarnya. Berarti, dalam sehari Erwin bisa mendapatkan sekitar Rp 50,000 – Rp 60,000. Iya, itu kalau Erwin sendiri yang bekerja. Tapi kalau ada dua orang yang bekerja, berarti ya penghasilan Erwin hanya separuh dari hasil maksimum yang bisa dicapai. Serba salah memang sepertinya. Kalau dikerjakan sendiri, memang pendapatannya bisa maksimum, tapi badan pasti kerja keras. Kalau dikerjakan berdua, badan tidak kerja keras memang, tapi penghasilan hanya separuhnya. Yah, tapi belum ada pilihan lain untuk Erwin, selain bekerja di tempat isi ulang air tersebut. Kebayang kan, dari penghasilan perhari tersebut, betapa beratnya Erwin untuk membiaya pengobatan matanya.  Mungkin pun untuk biaya kehidupan sehari-hari hanya bisa secukupnya. Terlebih, istri Erwin, hanya seorang ibu rumah tangga.

Tak beberapa lama setelah kita berbincang di ruang depan rumah Erwin, anak Erwin satu-satunya, pun keluar dari dalam kamar. Si bocah kecil langsung duduk santai dipangku oleh ayahnya, Erwin. Saya pun menyempatkan berbincang santai dengan bocah tersebut.
 “Namanya siapa, mas?”
“Santo”
“Udah sekolah?”
“Udah”
“Kelas berapa?”
“TK”
“Emang umurnya berapa?”
“6 tahun” sambil dirinya mendirikan jari berjumlah 6

Erwin pun memotong pembicaraan kami, sambil melanjutkan kisahnya. *take a deep breath siap-siap buat baca kelanjutannya yah, pasti readers akan terenyuh seperti saya.

Erwin bercerita, untuk biaya sekolah (TK) Santo, sebulan menghabiskan sekitar Rp 150,000. Uang sebesar itu adalah untuk biaya Taman Kanak-kanak dan biaya belajar mengaji-nya. Lokasi Santo belajar pun dekat dengan rumah Erwin, supaya tidak memakan biaya transport lagi sepertinya. Hanya perlu berjalan kaki untuk mencapai sekolahnya. Seketika Erwin menangis, menitikkan airmatanya. Saya pun terdiam. Speechless. “Yang saya pikirkan hanya anak ini. Santo. Saya harus berjuang buat Santo. Biarpun saya susah, Santo nggak boleh putus sekolah. Santo harus sekolah tinggi, nggak kaya’ saya”, begitu ucap Erwin dengan nada yang terbata-bata. Nggak tega juga sih ya, saya ngeliat Erwin nangis begitu. Terenyuh banget. Erwin, walaupun hidup pas-pasan, tapi bersemangat untuk menyekolahkan anakknya. “Tahun ini Santo masuk SD, makanya saya harus kerja keras biar Santo bisa sekolah”, lanjut Erwin. Well, Cuma bisa kasih semangat buat Erwin, semoga cita-cita Erwin buat menyekolahkan Santo bisa terlaksana.

Setelah Erwin selesai menceritakan kondisinya, akhirnya kami pun menyampaikan tujuan dan maksud berkunjung ke rumah Erwin. Saya, sedikit memulai pembicaraan tersebut, sampai pada akhirnya rekan-rekan semua yang berkunjung ke rumah Erwin saling menambahkan maksud dan tujuan kedatangan tersebut. Termasuk di dalam pembicaraan tersebut juga adalah supaya Erwin tidak salah paham dengan maksud penggalangan dana ini. Tidak kalahnya juga dengan dukungan moril kepada Erwin, supaya Erwin bisa berobat sampai tuntas dan bisa beraktivitas seperti semula. Mudah-mudahan dengan niat yang tulus ini, semua proses dan jalan diberikan kemudahan oleh Allah, SWT. Aamiin. Kami semua disana, termasuk teman-teman yang tidak bisa hadir, menginginkan kesembuhan mata Erwin, agar dirinya bisa melihat kembali dengan sebaik mungkin.

Setelah Erwin dapat bernafas sedikit lega mengenai bantuan dari rekan-rekan dan kerabat maupun ada beberapa yang tidak mengenal dirinya, Erwin kembali resah. “Tapi gimana kerjaan nanti ya? Kan saya juga harus bekerja, tapi kalau harus anter dan angkat galon kembali, gimana nanti mata saya?”, pertanyaan terlontar dari Erwin. Kembali, kami semua disitu menyemangati Erwin. “Tenang Win, ini dulu disembuhkan. Nanti kalau sudah sembuh, baru kita bicarakan lagi, mengenai pekerjaan dan masa depan. Tapi matanya biar diobatin dulu ya...”, salah satu dari kami berujar demikian. Yah, memang tidak dapat disangkal, dimana-mana, pasti pancingan lebih dibutuhkan daripada memberikan seekor ikan. Tapi saya yakin, Allah Maha Segala-galanya, diriNya akan memberikan jalan keluar yang baik dan terbaik untuk Erwin.

Diujung pembicaraan, kami mendiskusikan beberapa hal yang perlu ditempuh oleh Erwin dalam rangka pengobatan matanya tersebut. Mulai dari periksa kembali ke dokter, urus surat-surat yang penting dari pejabat setempat, dan lain-lainnya. Tapi pada intinya, kami dari rekan-rekan Erwin, peduli dengan kesehatannya.

Erwin dan keluarga
Rasa hangatnya kebersamaan sangat terasa diruangan yang kecil tersebut. Walaupun kami sudah berpisah sekolah selama hampir 16 tahun, tapi pada saat kami berkumpul, seperti tidak ada waktu yang memisahkan. Syukurlah, saya mempunyai teman yang masih peduli dengan teman lama. Masih sangat peduli dengan rekan kecil.

Setelah 90 menit kami larut dalam pembicaraan, tiba kini saat kami berpamitan setelah sebelumnya kami menyempatkan berfoto dengan keluarga Erwin. Hari itu hari Sabtu, masih banyak mungkin keperluan yang harus dipenuhi oleh kami semua karena di hari kerja tidak sempat melakukannya. Satu persatu berpamitan kepada Erwin, sambil tak lupa memberi semangat kepada Erwin.

This is it, setelah belasan tahun terpisah
Readers, dari pertemuan saya bersama dengan rekan-rekan alumni seangkatan bersama Erwin, saya sedikit bisa mengambil pelajaran hidup yang amat sangat berguna. Teman ternyata tidak hanya sekedar teman, tapi teman adalah saudara. Bayangkan, Erwin yang “hanya” teman kami semasa SMP, tapi kita bisa kembali erat. Maka dari itu, benar sepertinya pepatah yang pernah disampaikan kepada saya melalu bapak saya. Begini katanya, “Punya seribu teman itu kurang dan punya satu musuh itu belerbihan”. See kan, dalam keadaan seperti ini, ternyata punya teman itu sangat bermanfaat. Bukan berarti memanfaatkan lho yak! Itu udah beda lagi urusannya. Hihihihi.....

Okey, demikian yang bisa saya share disini megenai Erwin pada saat kunjungan kami di rumah Erwin. Nantikan share saya selanjutnya ya, di episode berikutnya. 

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post