Showing posts with label Seputar Kerja. Show all posts
Showing posts with label Seputar Kerja. Show all posts

1.29.2018

TELAT PERPANJANG SIM SEHARI? BIKIN BARU JAWABNYA

Hahaha... udah, jangan terlalu meresapi judul tulisan ini ya. Cukup baca aja sekali, skip lanjut baca isi tulisannya aja. InsyaaAllah bermanfaat... (aamiin). Nggak usah nanya siapa yang telat perpanjang Surat Ijin Mengemudi (SIM). Pokoknya, pesen saya, jangan sampai lupa ya itu tanggal berlaku SIM kita. Mau SIM A, SIM B, atau apapun, pokoknya jangan sampai telat deh. Kalau buka-buka dompet, coba jangan lupa liat sekalian itu periode SIM. Secara kalau KTP sih enak ya, kan nggak ada masa berlakunya alias seumur hidup. Kalo SIM? 5 (lima) tahun sajaaa...

1. Telat perpanjang SIM? Ada batas waktu?
Ini ya, jaman now, ternyata telat perpanjang SIM 1 hari aja, hitungannya sudah harus bikin baru. Entah mulai kapan peraturan ini berlaku, yang jelas, kalau dulu sih masih boleh lewat 14 hari tuh perpanjang SIM. Sekarang nggak bisa. Yah, demikian laporannya pandangan mata. Makanya, jangan kelewat ya, masa berlaku SIM kita.

2. Kalau gitu, datangnya kemana?
Nggak perlu datang ke gerai atau SIM keliling. Percuma, karena akan ditolak. Nah, kalau bikin baru kan ya harus di tempat awal bikin SIM lah. Entahlah apa kepanjangannya, kemarin saya datang ke SATPAS SIM POLDA METRO JAYA yang berada di Daan Mogot sana. Secara kalau di gerai atau SIM keliling itu nggak ada yang buat SIM baru, maka datanglah ke SATPAS SIM wilayah kita.

3. Dokumen yang disiapkan?
Bawa saja dari rumah, copy dari KTP dan SIM lama. Masing-masing jumlahnya 5 lembar saja. Mau copy di SATPAS SIM juga ada kok. Harganya kemarin Rp 5.000 untuk 10 lembar copy-an. Saya sih yakin, kalau copy sendiri bakalan lebih murah harganya diluaran sana. Hihihi... (udah ya, gak usah dibahas panjang disini tentang harga copy-an).


Datang di SATPAS... ini langkahnya...

Pertama - Periksa Kesehatan
Judulnya periksa kesehatan, tapi nyatanya cuma disuruh membaca tulisan yang ada di depan. Duduk di kursi yang sudah disediakan sama petugas di loket kesehatan. Tulisannya emang agak kecil, tapi bisa terbaca. Selesai di loket ini, kita dapat semacam surat keterangan lulus kesehatan, kertas warna merah. Yang jaga di loket ini ada 2 (dua) orang ibu-ibu galak dan menurut saya agak sengak tengil. Pas ada orang salah masuk sini, langsung aja tuh emak-emak ngomel gak karuan (yahilah, orang mana tau siyk kalo dia salah?). Di loket kesehatan ini kita bayar Rp 25.000 (dua puluh lima rebuuu).

Kedua - Bayar Asuransi
Nggak ngapa-ngapain disini selain cuma bayar premi asuransi. Serahin aja 1 lebar copy KTP tadi sama berkas kesehatan yang sudah dicap sama petugas di loket kesehatan. Petugas disini kemarin sih cukup ramah, nggak pakai sombong (kayak di loket sebelah). Wajib nggak sih asuransi? Kayaknya nggak wajib. Tapi nanti ada kemungkinan kalau nggak beli asuransi disini, dipertanyakan pada loket selanjutnya. Males kaaan... ya kaaan? Daripada panjang dan lama, udah beli aja tuh asuransi. Biaya asuransi sebesar Rp 30.000 (tiga puluh rebuuu), kita akan dikasih kartu asuransi dan berlaku selama 5 (lima) tahun.

Proses pemeriksaan Kesehatan dan Loket Asuransi ini berada pada gedung yang berbeda dengan gedung utama SATPAS SIM ya... Lokasi pemeriksaan dan asuransi ini mendekat ke halaman parkir motor. Nah, lanjut deh ya... silahkan menuju gedung utama pembuatan SIM, setelah lolos di kesehatan dan membeli asuransi.

Ketiga - Bayar Biaya SIM
Bilang aja sama petugas loket, mau bayar biaya bikin SIM A baru. Biaya bikin SIM baru sebesar Rp 120.000 (seratus duapuluh ribu rupiah) untuk SIM A (mobil). Kendaraan lain nggak tau kena berapa besar biayanya. Perpanjang juga nggak tau kena berapa. Uang bikin SIM dibayar pada loket BRI di gedung induk, yang masuk ke dalamnya harus pakai ID Card. Abis bayar, nanti kita dapat kuitansinya gitu. Isi deh tuh kuitansi pakai nama kita dan nomor KTP. Hihihi, kenapa ya, nggak langsung aja ditulisin sama petugas Bank disana? Yaudahlah yaaaah... hahahahaa!

Keempat - Ambil Formulir dan Isi Form-nya 
Sudah bayar, langsung aja geser ke dua loket sebelahnya. Ambil formulir dengan menunjukkan bahwa kita sudah bayar di loket sebelahnya. Isi formulir di meja yang sudah disediakan. Oia, jangan lupa ya, bawa peralatan tulis (pensil atau bolpen atau mungkin tip-ex, biar nggak beli disana lagi). Isian nggak terlalu banyak kok. Kalau ada yang nggak ngerti, balik ke loket formulir aja, tanya ke petugas.

Kelima - Daftar Online
Sudah isi formulir? Lanjut aja ke loket pendaftaran online. Saya sebenernya kurang mengerti kenapa disebut Pendaftaran Online - secara saya datang offline kok. Kasih aja berkas kita semua, nanti petugas loket yang akan memasukkan data kita. Disini kita nanti ditanyain, nama, alamat, tanggal lahir, dan nama ibu kandung - buat apa ya nama ibu kandung?. Proses disini sekitar 10 menit. Enaknya sih disini disediakan tempat duduk, jadi kita nggak perlu capek diri. Dari sini, nanti kita dapat macam tiket untuk menuju loket selanjutnya. Ada tulisan nomor loket yang dituju. 

Keenam - Foto dan Tanda Tangan   
Silahkan lanjut ke loket (A - K kalao nggak salah) selanjutnya untuk foto dan tanda tangan. Kemarin saya dapat loket I yang lumayan cukup rame. Jadinya disini itu butuh sekitar 30 menit menunggu sampai nama kita dipanggil. Nanti di depan loket tersebut ada kotak antrian, kita masukkan saja berkas kita, nanti dipanggil.

Antrian Foto dan TTD


Ketujuh - Test Teori
Setelah foto dan tanda tangan, lanjut lagi masukin berkas kita ke loket 47. Di loket 47 ini, nanti kita dikasih tau suruh masuk ke ruang mana untuk ikut ujian tertulis (teori). Masuk aja lah ke ruang kelas ujian, silahkan duduk di tempat duduk yang udah ada, dan memulai ujian. 15 menit adalah waktu untuk mengerjakan soal ujian. Pakai komputer, sodara-sodara. Meuni canggih computernya, keyboard aja di monitor. Saya panik nyariin keyboard, secara adanya mouse doang. Saya geser mouse-nya, nongol deh tuh keyboard di monitor.

Lolos? Alhamdulillah.. Walaupun nilai ngepas, tapi lolos kok tuh saya di ujian teori. Hahaha... ya iyalah, udah puluhan tahun nyupir, kalau nggak lolos mending balik kursus setir mobil aja lagi.  *benerin lengan baju

Di depan ruang tes teori mengemudi


Kedelapan - Test Praktek
Test praktek ini kita menuju ke loket 11 ya. Loketnya berada diluar bangunan induk lokasi proses ketiga sampai ketujuh diatas. Masih satu komplek SATPAS, tapi yang test praktek kan emang di outdoor. Alhamdulillah, kemarin nggak hujan. Kalau pas test praktek hujan, ya ngak tau lagi deh gimana nasibnya. Selesai test praktek dan ternyata dinyatakan lulus. Yihaaa... kelar deh proses bikin SIM A (lama rasa baru).

Lapangan tempat test praktek


Selesai semua proses, tinggal ambil deh tuh SIM A yang telat perpanjang. Loket pengambilan SIM berada di gedung induk.

Tips saya buat yang mau datang ke SATPAS, coba bawa makanan dan minuman yang mungkin kita butuhkan selama disana. Karena sesungguhnya jajan di SATPAS Daan Mogot itu... mahal sekaleeeh, pemirsa... Saya coba kasih gambaran posisi-posisi di SATPAS ya... mudah-mudahan bermanfaat.

Gambaran kondisi di SATPAS SIM Daan Mogot

6.18.2016

SIAP BENERAN JADI IBU? SIAP SIAP INI...

Belum sempat jalan-jalan kemana-mana...
Belum bisa pergi kemana-mana...
Tandanya... Tandanya saya cuma bisa menulis apa yang saya alami di rumah...

Menjadi seorang ibu, tentu nggak mudah. Dari mulai awal hamil, sudah harus banyak yang dipelajari. Dari awal mulai hamil, sudah mulai merasakan hal-hal yang sedikit mengurangi kenyamanan. Mengurangi kenyamanan bukan berarti nggak enak ya, bukan berarti sulit juga, dan bukan berarti nyusahin. Namanya juga ada perubahan dalam tubuh, ada yang berbeda, ada mahluk ajaib di dalam tubuh kita. Semuanya butuh penyesuaian dan setiap (calon) ibu bisa saja mengalami hal yang berbeda-beda. Sejauh kita bisa menikmati keadaan dan kondisi tersebut, saya yakin nggak ada masalah. Semuanya will be okay, kan? Saya sih yes... nggak tau mas Anang... - weeewww...

Melahirkan putri sekali dan melahirkan putra dua kali, saya mau berbagi pengalaman apa yang saya rasakan setelah melahirkan. Dari ketiga anak, kondisinya memang tidak sama persis, tapi ada beberapa hal yang kurang lebih sama adanya. Anak pertama dan kedua saya lahir dalam kondisi saya harus kembali bekerja di tiga bulan kedepannya - masih kerja di kantoran full time, sementara anak ketiga saya lahir dalam keadaan saya sudah tidak lagi bekerja full time. Anak pertama dan kedua saya lahir dalam kondisi ibu mertua saya ada dan ibu saya sehat bugar, sementara anak ketiga saya lahir dalam kondisi ibu mertua saya yang sudah tidak ada dan ibu saya sendiri dalam kondisi pasca operasi tulang bonggol paha (sedih banget deh...).

bla bla bla... (ambil gambar dari sini)
Setelah melahirkan, setelah sang buah hati keluar melihat dunia... maka ini yang saya rasakan lho...

1 - Manfaatkanlah waktu senang-senang waktu di RS

Baru banget melahirkan? Abis dari ruang persalinan masuk ke kamar perawatan, kan? Nah, puas-puasin deh seneng-seneng di kamar perawatan ini. Leyeh-leyeh, santai-santai, ngapain kek... Selama di kamar perawatan ini, anda hanya disibukkan dengan mengurus bayi saja. Bayi baru lahir pun, lebih banyak jam tidurnya daripada jam meleknya. Di kamar perawatan ini, makanan datang sesuai jadwal tanpa kita harus mikir mau belanja bahan makanan apa, masak apa dan siapa yang masak. Di ruang perawatan ini, kita nggak perlu mikirin yang beresin kamar siapa, karena ada petugas yang bersihin. Kita tinggal duduk cantik aja lah, selama di kamar perawatan.


2 - Kehadiran Ibu mertua dan/atau Ibu kandung itu perlu

Setelah melahirkan, apalagi kalau kita merupakan orang tua baru alias melahirkan anak pertama, percayalah bahwa kehadiran orang tua kita itu sangat membantu kita. Hal yang saya rasakan adalah membantu dalam hal supportnya, mulai dari support doa, semangat, ilmu, dan sampai kepada support tenaga. Menjadi ibu baru, masih perlu banyak ilmu mengasuh anak bayi baru lahir. Ini nggak mudah, secara badan kita pasti cukup lelah setelah melakukan proses lahiran. Mau lahir secara spontan maupun sectio, pasti sama-sama teleeer... Maka, usahakan jika Ibu kita masih ada, yuk undang ke rumah kita.


3 - Jika memungkinkan ada Asisten Rumah Tangga (ART)

Menemukan seorang ART di jaman sekarang ini, sudah menjadi rahasia umum kalau ini bukan perkara mudah - semua pengguna ART pasti tau alasannya. Tapi setelah saya melahirkan, kondisi badan yang tidak prima, belum lagi urusan pengurusan bayi baru banget lahir yang jam tidurnya sesuka hatinya, maka mintalah bantuan kepada ART untuk mengurusi sebagian tugas bersih-bersih dan masak-masak di rumah. Beneran ya, berat sungguh kalau harus urus bayi juga plus harus urus rumah (mulai dari bebersih, cuci setrika dan masak). Bisa sih, bisa gempooor. Manusia nggak ada yang sempurna, daripada pingsan, mending minta bantuan ART. 


4 - Persiapan ASI perah itu penting

Waktu melahirkan anak pertama dan kedua, saya masih bekerja sebagai karyawan penuh waktu. Masa cuti persalinan tiga bulan (saja). Maka hal yang perlu dipersiapkan adalah menabung ASI perah. Kerja keras lah pokoknya nabung ASI, biar nggak kejar tayang nantinya. Sekarang, melahirkan anak ketiga, saya sudah tidak bekerja full time lagi, tapi saya tetap perah ASI in case adik bayi harus saya tinggal, sudah punya tabungan ASI. Tapi kali ini nggak perlu seperti kerja keras anak pertama dan kedua. Saya yakin bahwa kebutuhan ASI bagi tiap-tiap anak itu cukup dan menyesuaikan dengan kebutuhan anak. 


5 - Menjadikan suami sebagai sahabat

Beneran, setelah menjadi seorang Ibu, banyak hal baru yang pastinya akan kita alami. Walaupun itu sudah anak ketiga, saya tetap saja punya pengalaman baru. Mungkin ada yang bilang, "udah anak ketiga, masih kayak baru pertama ngelahirin aja?" Jangan salah, setiap anak itu unik, maka setiap pasca melahirkan kita pun pasti punya kondisi yang berbeda. Yang sama persis adalah capeknya, tenaga yang terkuras. Dalam kondisi kita yang seperti ini, saya selalu berkeluh kesah dengan pak suami. Ya iyalah, mau cerita dengan siapa lagi? Tapi itu hal yang wajar kok. Lebih baik meluapkan, daripada disimpen sendiri, nanti tiba-tiba meledak. 


6 - Melakukan belanja bulanan via online

Nah, ini yang nggak bisa ditinggalin juga. Penting banget soalnya. Belanja bulanan, kadang nggak bisa minta tolong ke orang lain, saya punya gaya belanja bulanan sendiri. Minta tolong ke pak suami, walaupun sudah dikasih list-nya, tetap aja beda (terbukti). Sekarang, bersyukur sudah banyak toko online ya, bahkan hypermarket pun beberapa sudah ada yang punya online-nya. Di saat saya melahirkan anak ketiga ini, belanja bulanan saya beralih ke belanja online. Mudah sangat, banyak pilihannya dan tinggal tunggu di rumah. Siapin aja token dan jumlah yang cukup di rekening kita. hihiii...


7 - Menjaga kondisi tubuh sebaik mungkin

Nggak ada yang nggak capek abis melahirkan. Ngurus anak bayi baru lahir sungguh tak mudah, pemirsaaa. Sungguh aku tidak berdusta. Apalagi ini melahirkan anak ketiga, umur sudah 35 tahun, kondisi badan yang ada bukan makin setrong, tapi makin ompong. Jagalah kondisi tubuh kita, kesehatan diri kita sendiri. Bukan apa-apa, kalau sakit bisa lebih parah lagi. Belum urus bayi, belum urus rumah, belum urus suami, belum urus diri sendiri. Emang bener banget kan, ada yang bilang "Jadi Ibu itu nggak boleh sakit". Yah, baik-baiklah jaga badan. Saya mah minta rekomendasi lah sama pak dokter, vitamin buat jaga kondisi tubuh ini, plus makan buah dan makan yang teratur. 


8 - Menyiapkan mental untuk 40 hari pertama

Ini bukan mitos menurut saya. 40 hari pertama itu emang masa yang cukup rawan buat ibu yang baru melahirkan. Secara bayi masih piyik banget, pasti belum boleh dibawa keluar. Mau dibawa keluar, takut kontaminasi dengan lingkungan luar. Belum lagi kalau ditinggal, nyusunya gimana? Pakai ASI perah ya bisa, tapi bukannya 2 bulan pertama masa yang bagus untuk menyusui langsung? Nah, saya sendiri memilih nggak keluar rumah kalau bukan untuk keperluan yang sangat sangat penting. Jangan tanya, rasanya sangat jenuh nggak keluar rumah untuk senang-senang. Ini bener-bener bikin stress. Mau pergi, ada bayi. Nggak pergi, udah jenuh. Alternatifnya? Silahkan dipilih masing-masing ya. Saya sendiri cuma bisa nulis, main socmed, tidur, ngobrol di Whatsapp, dan berceloteh dengan suami.


9 - Perkaya ilmu merawat anak

Bener deh, selama ada waktu luang pasca lahiran, saya paling seneng membaca. Terutama cara-cara perawatan dan pengasuhan bayi. Sekarang membaca nggak cuma dari buku, banyak situs atau sumber yang bisa dipercaya untuk meningkatkan ilmu perasuhan anak kita. Mulai dari A sampai Z tentang ngurus anak, ada kok. Tinggal kita yang pinter-pinter saring aja. Yang masuk akal, logis, bagus ya inget-inget, sementara yang nggak masuk akal ya monggo dibuang aja. Tapi sebenernya, kalau seneng baca yang lain juga nggak apa-apa. Yang jelas, membaca di sela-sela waktu luang pasca lahiran, membunuh rasa bosan buat saya.


10 - Menyaring masukan-masukan tentang ilmu perawatan bayi

Yang namanya orang abis melahirkan, biasanya dikunjungi sama kerabat. Mau dari temen sekolah, temen kantor, sampe sodara atau tetangga. Kerabat ini ketika mengunjungi kita yang baru saja melahirkan, (alhamdulillah) kadang selain membawa kado buat si kecil, tapi membawa juga wejangan untuk kita. Apalagi kalau kita baru melahirkan anak pertama, ilmu kita pasti dianggap cetek - emang sih, namanya juga pengalaman pertama. Nah, nggak jarang wejangan yang dihadiahi buat kita itu, suka nggak masuk akal. Makanya, saringlah hadiah-hadiah tadi ya, kalau ada yang kurang paham, mending tanya ke dokter aja dah.


11 - Mengeluh? Nggak Berguna

Semua orang juga tau, kondisi setelah melahirkan itu pasti hmmm... iya banget lah pokoknya. Perasaan kita juga campur aduk kacau balau, kan? Ada rasa seneng karena punya mainan baru, rasa ringan karena perut udah nggak bawa gembolan, tapi rasa capek juga ada, plus kadang rasa ketakutan akan kondisi bayi kita. Namanya aja ngurus anak kecil, belum bisa ngomong dia kalau haus, gerah, dingin, nggak enak, nggak nyaman. Emaknya yang harus menerka-nerka. Kadang kondisi campur aduk gini yang bikin kita jadi nggak jelas. Terus, ujung-ujungnya ngeluh, marah, stress. Saya berfikir, ngeluh sama sekali nggak berguna lho. Bawa santai sambil dalam hati komat kamit "nggak ada yang sempurna... nggak ada yang sempurna..."


12 - Mencari alternatif "me time"

Lagi kondisi pasca persalinan, pasti sangat terbatas, Saya sendiri, sangat bersyukur bisa melahirkan dengan spontan partus di ketiga anak saya. Benar adanya, persalinan spontan pemulihannya lebih cepat dibanding sectio. Wong 2 jam post partum boleh jalan kok, kalau nggak ada keluhan. Saya, termasuk yang nakal. Pasca lahiran 7 hari, udah nekat nyupir mobil ke supermarket. Ahahaha, gateeel, pemirsa. Tak apalah, supermarket cuma 5 menit dari rumah, sekedar melepas kejenuhan. Barang yang dibeli juga nggak penting-penting banget kok. Cuma nyupir sebentar, belanja, habis 20 menit, pun cukup sebagai "me time" saya. Ceteeeek.... hahahaha...


13 - Memanfaatkan waktu untuk mendekatkan diri dengan Tuhan 

Nah, ini yang terakhir, beneran banyak manfaatnya. Kondisi ibu setelah melahirkan itu banyak menguras fisik dan psikologis ternyata. Saya setelah lahiran, capek, ngurus bayi dan ngurus semuanya juga, bikin hati berasa nggak karuan. Mau nangis, tapi ternyata hanya bisa membuat sedikit lega, tidak mengubah keadaan sama sekali. Mau marah, malah makin runyam dan sama sekali tidak merubah keadaan, yang ada malah nambah persoalan. Salah satu yang bisa saya lakukan untuk menenangkan hati adalah dengan menyebut asma-Nya, mengingatnya bahwa ini semua adalah titipan dariNya, amanah dariNya, dan saya diberikan ini semua karena saya kuaaaat... Iyaaa, kuaaattt...


Hahahaha, demikian yang bisa saya sampaikan. Nah, ini ya, ada baiknya dipersiapkan dari sebelum melahirkan. Jadi pasca lahiran udah tau harus ngapain aja dan bagaimana... Percayalah, persiapan setelah melahirkan tidak kalah pentingnya dengan persiapan sebelum melahirkan. Kalau pre lahiran lebih persiapan ke fisik, barang untuk bayi dan persiapan setelah melahirkan, persiapan fisik dan non fisik harus dilakukan. 

4.09.2015

MENGURANGI KEMACETAN

Postingan kali ini agak beda ya... Sekali-kali ngepost yang nggak berhubungan sama perjalanan dan pengalaman, tapi bener-bener mau curhat. Caileeeee, curhat ceritanya. Disini pula. Kece dah, curhat di blog udah macam yang iye-iye aja curhat di blog. E tapi ya, namapun sharing, apapun boleh lah dibagi kan? Kali-kali aja dengan berbagi, bisa menginspirasikan yang lain. Syukur alhamdulillah kalau hal positif. Kalau hal negatif ya jangan ditiru, cukup dijadikan contoh aja. Contoh yang jangan ditiru. Hahahahahaaa... 

Oke, first of all, resolusi pertama saya di tahun 2015 adalah mengurangi kemacetan di Jakarta. Semua orang seantero dunia udah pada tahu kalau Jakarta itu kota yang macet gila. Pengalaman saya, pernah jarak 2,5 kilometer harus ditempuh dalam waktu 1 jam. Iya satu jam menggunakan mobil, kendaraan roda empat. Coba aja, satu jam perjalanan cuma dapet 2,5 kilometer. Pastinya kan lebih cepat kalau kita jalan kaki (kecepatan orang berjalan kaki adalah 5km/jam kalau saya baca di berbagai sumber). Pakai sepeda? Mungkin bisa lebih cepat. Pakai motor, kendaraan roda dua? Bisa lebih cepat bisa, tapi mungkin juga masih terjebak dengan kemacetan. Andai saja jarak rumah saya ke kantor hanya 2,5km, saya pasti memilih berjalan kaki untuk pulang pergi ke kantor. Tapi jarak rumah saya ke kantor, 7,5 km, mau dibantai jalan kaki ya pasti gempor.

Macet di Jakarta udah semakin menggila belakangan ini. Jujur saja, saya sudah tidak tahan. Belakangan hari ketika masih ngantor, 30 menit sebelum pulang, saya pasti merasakan sakit perut. Sakit perut mules karena salah makan kah? Bukan. Ini sakit perut karena stress. Stress membayangkan pulang kerja harus berjibaku dengan jalanan Jakarta yang sangat tidak bersahabat. Ya motor, ya mobil, ya angkot, ya bus, ya semuanya. Akh, semrawut semuanya. Jalanan sangat padat, bottle neck dimana-mana, semua pada berebut jalur. Harus tahan-tahanan adu gas di tengah kemacetan. Skill nyupir menengah, nyali kurang, pasti disabet terus sama orang lain. Ini jalan atau hutan rimba ya? Aturan ada tapi nggak pernah ditaati. Traffic light Jatibaru, jalan arah saya pulang dari kantor, seperti menjadi sebuah furniture di jalan. Cuma buat pajangan. Merah, bisa jadi jalan. Hijau, bisa jadi berhenti. 

Persoalan semakin runyam ketika musim hujan. Hujan lebat turun, Yang sudah macet, semakin macet parah maksimal. Udahlah macet karena volume kendaraan yang sangat padat, tambah lagi genangan air dimana-mana. Banjir? Bukan! Ini hanya genangan air, kata mereka (pejabat). Entahlah, sekarang saya tidak bisa membedakan antara genangan air dan banjir. Mungkin sekarang ada klasifikasi dan persepsi khusus antara genangan air dan banjir. Mobil yang saya pakai juga sedan, bukan mobil yang bersahabat untuk menerjang banjir (eh genangan air) yang tingginya mungkin hanya 20cm. Kalo udah ada genangan air itu, yang ada saya makin stress. Bukan nggak berani, tapi lebih sayang sama mobil. Nekat menerjang banjir bakalan lebih banyak ruginya ketimbang enggak ruginya (kalo untung pasti sama sekali nggak ada). 

Hujan... Weekend... Jadilah... 

Kelar. Kelar di jalanan itu adalah ketika weekend, hujan dan sore. Aseli, hidup di jalanan bakalan kelar lah kita. Macetnya jangan ditanya. Semua orang pada mau pulang, semuanya di waktu yang bersamaan. Volume kendaraan padat sekali, di satu waktu dan volume jalan tidak mendukung, tambah lagi supir-supir mobil dan motor yang bringas. Selesai sudah. Siap-siap bawa makanan buat di dalam mobil, siap-siap pipis dulu sebelum jalan, dan bagi laki-laki silahkan siapkan botol di mobil untuk bisa pipis. Perempuan seperti saya apa nasibnya? Ya, tahanlah kalau nggak ada pom bensin. Seburuk-buruknya, mampirlah di minimarket dan numpang pipis. Long weekend hujan? Selamat menikmati kawan, jalanan di Jakarta tampak seperti hantu buat saya. Rasanya lebih baik "ngetem" dulu di rumah makan, atau mungkin di kantor biar nggak terjebak macet parah di jalan. 

Sudah... sudah... rasanya sudah sangat cukup buat saya berjibaku di jalanan setiap pagi dan sore yang berbarengan dengan mereka pengendara. Muak, itu kata ayng tepat buat saya. Saya mengundurkan diri. Saya hands up. Saya give up. Saya kalah. Iya... saya melambaikan bendera putih dan tangan akan saya lambaikan ke kamera. Tanda saya menyerah terhadap beringasnya jalanan ibukota Indonesia. Hidup saya tua jalan. Huhuuu, padahal rumah saya ke kantor cuma 7,5 km saja. Apa kabarnya ya, yang perjalanan rumah ke kantor sekitar 20 km? Berangkat pukul 05.00 dan bisa pulang lagi ke rumah pukul 21.00? Hanya beberapa jam saja di rumah? Itu tinggal di rumah apa numpang nginep?

Buat saya sendiri... sudah nggak worth-it untuk nyetir di jalanan sampai sebegitu lama-nya untuk jarak yang sebegitu dekatnya. Iya, 7,5 km sebenernya jika tidak macet bisa saya tempuh dalam waktu 20 menit saja. Sangat manusiawi buat saya. Ya, mentok 30 menit lah... tapi kalau sudah lebih dari itu, buat saya sudah sangat menyita waktu. Bukan apa-apa, saya punya anak yang harus saya urus. Saya punya keluarga yang menanti saya di rumah. Saya punya badan yang harus diistirahatkan juga. Saya juga manusia yang punya keterbatasan. Hidup saya ini pastilah sangat singkat. Buat saya, anak-anak saya adalah kepentingan nomor satu dan bahkan diatas nomor satu. Jadi, jika waktu di jalan saya habiskan lebih banyak ketimbang waktu untuk anak-anak, bagi saya, itu sangatlah merugikan buat saya. Saya lebih senang menghabiskan waktu untuk anak saya, melihat mereka di rumah, walaupun memang terkadang ricuh di rumah. 

Selesai. Berhenti kerja kantoran yang waktunya sangat menyita. Apalagi yang harus ke kantor ikut arus kemacetan lalu lintas. Naik ojek sebagai salah satu solusinya? Iya dari segi waktu. Tapi dari segi biaya, justru lebih tinggi. Belum lagi kalau hujan, badan basah kuyup. Paham sekali dengan kondisi badan ini, yang tidak terlalu kuat sama terpaan hujan. Naek bus reguler atau bus transjakarta? Iya emang nggak capek nyupir. Tapi capek antri dan berdiri di bus. Akh sudahlah, buat saya, ini yang terbaik. berhenti kerja kantoran. Resolusi mengurangi kemacetan di tahun 2015 saya telah terwujud. No more complain about traffic jam. Enough is enough for me... 


Family - Numero Uno (walaupun fotonya pake 2 jari - eh 4 jari)

Terima kasih telah membaca isi hati saya... 
Waktu sangat berharga buat saya..., hidup sangatlah singkat, berikan kepada orang tercinta... 
(dedicated to my loveliest husband... yang mungkin sudah bosan dengar keluhan saya tentang macetnya Jakarta ini selama 5 tahun - hadiah pernikahan ke 5 buat kita ya pak).

3.18.2015

PERPANJANGAN PASPOR - ONLINE

Nah, ini dia niyh, postingan yang bakal beredar nanti per 5 tahunan. Secara bikin passport itu ya jangka waktunya cuma 5 tahun kan maksimal. Iya, itu pun kalo perpanjangan passport karena habis masa berlaku (macam saya ini, ya... jarang pergi luar negeri, makanya passport habis karena expired). Secara ini pengalaman pertama perpanjang passport ngurusin sendiri (tanpa dibantuin bokap), makanya wajib dan perlu di-share di blog. Hahaha, mudah-mudahan mempermudah buat yang membutuhkan informasi untuk perpanjang passport dan mau bikin online sama kayak saya. Sekarang perpanjangan passport mudah kok. Alhamdulillah, nggak di-macem-macemin macam dulu lagi. Emang dulu gitu ya? Banget! Kalo nggak pake "orang dalem" atau "calo" ya wassalam lah urusannya. Ribet tingkat dewa (nggak pake 19). 

Perpanjang passport di Indonesia sekarang emang jauh lebih mudah dibandingkan dulu. Kenapa? Soalnya sekarang udah bisa ngurus secara online. Bukan berarti bisa nggak dateng ke kantor Imigrasi ya..., ya tetap harus datang ke KanIm (Kantor Imigrasi) untuk sidik jari, foto, tanda tangan paspport. Tapi kalo pake online, kita menghemat sedikit proses di KanIm. Ya lumayanlah, menghemat waktu daripada lama-lama di KanIm. Secara kemarin ada yang cerita, dia mau perpanjangan passport dengan proses yang biasa (disebut sistem Walk-In), itu datengnya dari pkl. 06.00. Wadaw, PR banget ya, dateng pagi-pagi gitu. Kalau saya disuruh dateng pagi buta begitu, pasti langsung lemes tak berdaya.

Oke, lanjut ke permasalahan ehm, pembicaraan... eh bukan ding, tepatnya mah pembahasan berikutnya, proses bikin passport dengan sistem Online...


Pertama, 

Silahkan klik website www.imigrasi.co,id untuk menuju ke website resmi imigrasi. Lanjut dengan klik Layanan Paspor Online untuk mengisi data-data kita. Mulai dari nama lengkap, tanggal lahir, alamat, pekerjaan, nomor passport lama, dan sebagainya semua-muanya. Siapkan satu alamat email untuk satu nama pemegang passport ya. Satu email cuma bisa dipakai untuk satu nama pemegang passport. Kemarin karena ngurus sekalian punya bapak ibu, ceritanya mau pake satu email address untuk ketiganya, tapi ternyata nggak bisa, akhirnya numpang email suami dah. Email address ini gunanya ada untuk konfirmasi Imigrasi kepada kita. Isi semua data yang diminta sama Imigrasi, ya. nanti kalau ada yang kelewat, dia akan minta diisi lagi. Oia, sekarang nggak perlu upload dokumen-dokumen seperti dulu yang perlu upload dokumen. Canggih yak, they make our life easier, lha... hahaha... Singlish saya keluar.


Kedua,

Setelah isi form di Layanan Paspor Online, nanti kita akan dikirimin email balasan dari pihak Imigrasi. Makanya, cek email setelah selesai melengkapi formulir tadi. Email dari Imigrasi ini judulnya yang saya terima kemarin adalah "Pendaftaran Paspor Online atas nama ....." Isi dari email tersebut adalah attachment yang ada nomor kode pembayaran. Nah, pembayaran biaya perpanjangan passport ini cuma bisa ke Bank BNI ya. Jadi, silahkan bayar ke Bank BNI terdekat mana saja. Jangan lupa, attachment dari Imigrasi tadi dibawa ya, sebagai pengantar bayar perpanjangan passport dari KanIm. Bayar langsung aja di teller-nya. Mereka sudah ngerti kok. Biaya perpanjangan passport 48 halaman adalah Rp 355.000, ditambah dengan biaya administrasi Bank sebesar Rp 5.000. Jadi total biaya per buku adalah Rp 360.000. Nanti setelah bayar, kita dapet bukti tanda pembayaran dari Bank. Disitu tertera Nomor Jurnal bank. Itu yang perlu dicatat.

Email dari Imigrasi


Ketiga,

Kalau sudah bayar biaya perpanjangan passport di Bank, balik lagi buka email dari Imigrasi. Klik link yang dikasih sama Imigrasi ya. Itu gunanya buat konfirmasi kalau kita sudah bayar biaya perpanjangan passport dan mau lanjut ke proses berikutnya. Nah, nanti proses konfirmasi ini akan minta nomor jurnal bank (yang ada di bukti pembayaran BNI) dan tanggal kita mau dateng ke KanIm-nya. Informasi lagi nih, kalo mau urus perpanjangan passport secara online, jangan lebih dari 5 hari ya. Udah nggak berlaku lagi. Nanti mesti ngulang proses lagi. Udah gitu, bayaran BNI-nya juga nggak bisa di-refund, yeee... (eee dikata online shop bisa refund).

Udah konfirmasi ke link yang ada di email pertama? Lanjut ya, diisi tuh mau tanggal berapa ke KanIm-nya. Kalau udah, nanti Imigrasi akan kirim email kedua yang isi juga ada attachment formulir. Attachment ini kudu di download dan di cetak. Ada beberapa yang harus diisi pakai tulisan tangan. Sedikit kok, cuma selembar aja yang diisikan. Tapi total halaman attachment ada 4 halaman. Setelah print attachment, isi formulir, done di step ini. Siap-siap deh langsung buat dateng ka KanIm untuk foto dan sidik jari sesuai dengan tanggal yang udah kita pilih tadi.


Keempat,

Sebelum datang ke KanIm, pastikan dulu dokumen salinan dan asli untuk dibawa serta dengan kelengkapan yang udah diprint dan diisi. Di KanIm Kelas I Khusus Jakarta Barat (Kota), ada juga sih nyediakan layanan fotokopi di kantin, tapi lebih baik siapin dari rumah saja. Biar udah nggak ada sangkutan lagi nantinya. Ini ya, yang perlu disiapin... Yang paling penting juga adalah, semua salinan (copy-an dibawah ini), harus dicopy menggunakan kertas A4. Harus ya, jangan ngeyel, jangan bandel. Kalau nggak di-copy pake kertas A4, bakalan dibalikin lagi. Cateeet...

Dokumen asli yang perlu dibawa adalah:
1. Passport asli yang sudah ada
2. KTP
3. Kartu Keluarga
4. Akta Lahir
5. Buku Nikah - jika sudah menikah. Kalo belum kayaknya bisa diganti ijazah deh.

Dokumen salinan (copy) yang perlu disiapkan adalah:
1. Copy passport halaman depan dan belakang (1 kali)
2. Copy KTP (1 kali)
3. Copy Kartu Keluarga (1 kali)
4. Copy Akta Lahir (1 kali)
5. Copy Buku Nikah (1 kali) - atau copy Ijazah
6. Copy Pembayaran Passport di BNI (2 kali)

Depan kantor KaIm Jakarta  Barat

Kelima,

Datang ke KanIm, lengkap dengan dokumen-dokumen tadi ya. Semuanya harus dibawa. Asli dan salinan. Trus, sampai di KanIm, jangan kesiangan. Masuk ke KanIm, nanya sama pak Satpam, mau urus perpanjang passport melanjuti yang sistem online. Okey, dapet jalur khusus di loket "ONLINE". Ada juga loket disampingnya adalah "WALK-IN". Nah, kalo yang Walk-In berarti yang ngurus langsung datang tuh, alias spontan (macam lahiran aja nih, spontan partus). Nanti di loket Online itu, dokumen kita diperiksa sama petugas KanIm. Persyaratan saya waktu itu sudah lengkap, tapi salah ukuran kertas fotocopy aja. Makanya tuh, buat yang mau copy, jangan lupa ya, kertasnya harus A4 dan nggak boleh dipotong.

Dikasih map biru


Kemarin saya datang pukul 09.00, udah dapet nomor antrian 32. Wowww. Kebayang kan, yang urutan 001 datang jam piro. Nah, bersyukur banget, kalau yang bapak ibu (karena usia udah diatas 65 tahun), bisa dapet jalur khusus. Disebutnya jalur Prioritas. Bapak dan Ibu dapet urutan no. 002 dan 003. Mantep banget. Bapak Ibu, akhirnya bisa masuk ke ruang interview, foto dan sidik jari pkl. 10.15 dan selesai pkl 11.00. Sementara saya, baru bisa masuk untuk interview dll pk. 11.40. Satu kata : NYARIS! Iya, nyaris banget kepotong jam istirahat yang mana nanti pk. 13.00 baru mulai lagi. Wwweeww, lama kan nungguinnya. Alhamdulillah, saya selesai pkl 11.55. Rejeki anak sholehah ye...

Ruang Tunggu

Oia, pada waktu proses interview di dalam, sama petugas KanIm, sempet kesel juga saya. Kenapa? Aseli petugas yang ngelayanin saya ini songong belagunya nggak ketulungan minta diajakin gelut. Ngomongnya nggak ada sopan-sopannya, macam nggak diajarin etika sama mamak bapaknya. Namanya siapa, namanya? Rali S. Tuh, catet lah namanya petugas yang sombong itu. Tapi saya bersyukur, bapak ibu saya dapet petugas yang ramah. Akh, ya sudahlah... mungkin doi lapppaaar...

Setelah dari proses ini, kita akan dapet selembar kertas untuk mengambil passport yang sudah jadi nanti. Lamanya adalah 3 (tiga) hari kerja. Kemarin saya proses hari Rabu, maka Selasa minggu depannya baru bisa diambil.


Keenam,

Tinggal datang pada hari yang telah ditentukan untuk mengambil passport yang sudah jadi. Nggak boleh diwakilkan ya, soalnya kita harus tanda tangan di passport yang baru. Abis tanda tangan di passport, kita perlu foto copy passport baru halaman depan dan belakangnya saja untuk diserahkan kepada petugas pengambilan passport. Proses pengambilan passport cukup 8 menit saja. Cihuy kan? Eim, yak... padahal menuju ke KanIm dari rumah butuh waktu 1 jam. Pergi dan pulang udah 2 jam dan di KanImnya sendiri cuma 8 menit (10 menit lah sama parkir). Done. Proses selesai. Cihuuuy, bikin passport online gampang!

Udah jadi, tinggal ambil

Semoga bermanfaat ya buat semuanya... Perpanjangan passport hari gini, nggak perlu pake calo. Mudah, gampang dan tidak ribet. Cuma butuh siap mental buat ngadepin oknum petugas KanIm yang agak songong tadi. Oia, selain yang namanya saya sebut diatas tadi ya, orangnya pada ramah-ramah kok. Termasuk pas waktu kita ngambil passport yang udah jadi.

12.09.2014

KANTOR POS KINI

Jadi ceritanya nih (straight forward to the point aja kali ini ga pake babibubebo), kemarin saya itu main ke Kantor Pos. Iya, kantor pos yang buat ngirim-ngirim surat itu lho, yang dulu tempat saya (mungkin kita) berbondong-bondong ke Kantor Pos kalau udah menjelang lebaran atau tahun baru atau mungkin natal. Jaman dulu itu kan ya, salah satu media komunikasi ya surat dan kartu itu kan ya? Belum jamannya media elektronik sekarang ini. Eh tapi ya, sensasi berkirim surat dan kartu itu sangat luar biasa lho. Kalau ada pak pos datang, saya pasti antusias pengen tau itu kiriman buat siapa. Hahahaaa, ngarep banget ya kalau kirimannya itu buat kita. Padahal mah buat bokap, nyokap... Eciye yang balik lagi nostalgia ke jaman dulu (baek-baek keingetan mantan yeee...).

Balik lagi ke topik, saya mau cerita tentang pelayanan di Kantor Pos. Kantor Pos yang mau saya bahas ini Kantor Pos di Slipi, yang pastinya deket dengan rumah saya. Ya, kurang lebih jaraknya sekitar 1km lah. Kalo jalan kaki sekitar berapa menit ya? Sekitar 20 menit kali. Tapi kemaren karena sekalian dari pasar, ya nggak pake jalan kaki lah. Hiyahahaha... pake dibahas pulak. Ya intinya itu Kantor Pos deket rumah, lah. Sementara emang Kantor Pos yang benernya lagi di renovasi, pindah deh tu Kantor Pos agak menjauh dikit. Tapi ya masih selemparan telur juga sih lokasinya, tinggal ngesot juga nyampe...

Nih, ya terus terang aja, gegara "project bebersih rumah" yang saya adakan, makanya saya suka kiram kirim barang ke majikan barang yang baru. Nah, biasanya tuh ya, saya sukanya kirim barang via JNE, karena emang pelayanannya cukup cepat dan deket rumah pun ada JNE. Makanya kiram kirim barang, saya lakukan pakai JNE. Tapi gegara kali ini yang minta dikirimin pakai Pos Indonesia, jadilah saya menjelajah ke Kantor Pos. Harap maklum, kirimannya mau dilempar ke Medan sana, kalau pakai JNE mungkin memang agak mahal ya. Okelah kalau begitu, gak apa-apa saya akan main ke Kantor Pos. Sekalian membuka wawasan saya, kondisi Kantor Pos sekarang kayak apa. Hmmm, ini sama nggak ya, dengan KEPO?

Sampai di Kantor Pos (walau pakai kesasar karena salah masuk gang), akhirnya bisa senyum juga liat itu Kantor Pos. Apalagi tukang es bubur sumsum udah nangkring di depan Kantor Pos. Pesenlah dulu 2 porsi untuk dibungkus (eh ini kok malah cerita bubur sumsum sih...). Masuk ke dalam halaman Kantor Pos, liat beberapa tempat duduk yang kosong. Di sana ada beberapa bapak-bapak berusia 40 tahunan yang sedang berbicara tentang mekanisme pembagian BLT. Ahahaha, lucu-lucu sekali komentar mereka terhadap pembagian BLT tersebut. Gayanya tuh bapak-bapak pada komentar, udah kayak anggota dewan aja.. Saya melewati mereka, tapi nggak pake permisi. Maklum, pasti juga mereka udah seru dengan pembicaraan mereka itu.

Masuk ke dalam ruang utama, ada empat (catet ya... empat!!!) petugas Kantor Pos yang sedang duduk di belakang loket yang tingginya sekitar dada orang dewasa. Saya langsung bertanya kepada petugas yang paling dekat dengan pintu, dimana loket untuk mengirimkan paket. Jawab petugas tersebut adalah loket yang paling ujung belakang. Oke langsung menuju ke TKP tanpa mengucapkan terima kasih kepada petugas tadi, karena juga dirinya menjawab dengan ketusnya. Yahilah, galak amat tante, abis makan mercon apa petasan ya? Mentang-mentang cabe naek harganya, trus makan cabe jadi makin pedes tuh muka. Hahaha..., sabar tante om, cabe boleh naek harganya, tapi harga diri jangan sampai jatoh #ngoook.

Menyebalkan

Ada satu mbak yang antri di depan loket pengiriman barang. Saya santai gan antri di belakangnya. Palingan juga nggak lama nih, pikir saya. Lha orang dia cuma bawa 1 paket kok. Tapi ya, ternyata di mau ngirim barang ke Yunani. Hokeeeh... Parahnya lagi, itu ternyata mbak-nya disuruh sama "juragan"nya. Huhuuu, menjadi lama karena si juragan nun jauh di sana bingung mau kirim pake paket normal apa kilat. Yahilaaah..., make up your mind, sistaaa... akika udah ngantri 10 menit ciyn... Nah, karena loket di sebelah antrian saya ini kosong, saya memberanikan diri nanya ke loket sebelah, apakah saya bisa kirim di loket tersebut? Kasihan tapi saya, karena jawabannya adalah "Maaf mba, loket pengiriman cuma sama bapak ini (nunjuk bapak yang disebelahnya)". Afgan banget nih Kantor Pos. Ada empat petugas, yang satu lagi sibuk, yang tiga lainnya sibuk juga... sibuk makan es bubur sumsum itu - iya yang tadi saya pesen di depan itu. Hadeuh, mbok ya itu si bapak dibantuin kek, malah makan es bubur sumsum pulak...?!

Hmmm, jadi nih ya sistem bagi kerja Kantor Pos ini, sepenglihatan saya adalah : sebiji orang hanya untuk ngurusin wesel, sebiji orang hanya untuk ngurusin paket, sebiji orang untuk ngurusin apaan entah, dan sebiji orang lagi tau dah ngurusin apaan tauk? Kok gini amat ya pembagian kerjanya? Kok nggak bisa ya, dibuat sebijik orang biar bisa ngerjain banyak hal? Jadi lebih efisien gitu? Lah ini kalo pembagian kerjanya begitu, ketika satu bijik orang petugas lagi kelimpungan sama pelanggannya, trus yang lain sebodo cuek? Owh yeeesss banget pikir saya. Udah tahun 2014 ini pelayanan masih busuk aja gitu? Come on dude, orang udah sampe bulan nganterin paket, di Pos Indonesia masih ngantri kirim paket pake urat.

Permasalahan pun belum selesai. Ketika si mbak depan saya sudah mendapat keputusan untuk mengirimkan paket ke Yunani itu dengan reguler, ternyata penjaga loket bikin saya semakin kesaaal, pemirsaaa... Aseli ya, dalam hati berulang kali ngucap, "Gini amat ya layanan Pos Indonesia... gini amat ya... gini amat ya..."  Lah gimana nggak kesel coba, si bapak penjaga loket itu bolak balik keluar nyariin temennya gegara dia nggak tau dimana letak sticker paket. Hayaaah... hellooow, pak... mbok ya kira-kira lah pak kalo menjadi pelayan publik. Gimana mau bersaing sama yang swasta kalau begini pelayanannya? Bener aja kan, 3 orang yang antri di belakang saya pun ngedumel, "Lama iyh..., lemot", gitu katanya.

Resi Pos Indonesia

Udah deh tuh ya, sekarang giliran saya. Langsung aja bilang sama si bapak kalao mau kirim paket ke Medan, minta pengiriman yang biasa aja, bukan yang Express. Lah, si bapak ngotot nyaranin untuk kirim pake Pos Express, katanya cuma beda Rp 2.000 kok, tapi sampenya bisa sehari aja. Secara udah males duluan dan ilfill duluan, akhirnya saya menolak dan bilang kalau mau yang reguler aja. Oke sip, Rp 15.330 aja pemirsah, terterta di resi-nya. Saya bayar pake uang Rp 20.000, dan kembaliannya hanya Rp 4.000 saja. Yang Rp 670 peraknya nggak dikembalikan dan nggak pake basa basi busuk. Yaudahlah, ikhlasin aja... Udah males aja gitu urusan dimarih, maleeeh...

Pulang balik dari kantor pos, sepanjang jalan ke rumah mikir keras nasib itu Kantor Pos. Pertama, gimana mau maju kalau pelayanan yang diberikan begitu? Kedua, dia kan pekerja yang dibayar negara, yang harusnya melayani publik, tapi kok pelayanannya begitu ya? Ketiga, mau sampai kapan pelayanan kayak gitu dipertahankan? Akh ya sutralah ya.., mudah-mudahan suatu hari nanti pelayanan akan lebih baik lagi dan lagi. Banyak kok BUMN dan kantor pelayanan pemerintah yang udah jauh baik pelayanannya. Coba tengok Puskesmas Palmerah yang jauh lebih baik sekarang... Wake up lah Kantor Pos...

4.24.2014

TIONGKOK AKU KEMBALI (Chapter 02 - habis)

Nah, lanjutan dari cerita kemarin waktu di Beijing adalah ketika kita dikasih kesempatan untuk melihat kota Shanghai. Alhamdulillah ya, kan saya udah cerita kalo kemarin yang 2007 itu, kita belum main-main ke Shanghai. Maka nikmat Allah mana yang kau dustakan, kali ini dikasih jalan ke Shanghai. Sebagai intro aja nih, kalau dari beberapa sumber yang saya baca, ini kota Shanghai letaknya agak lebih mendekat ke khatulistiwa, alias agak ke bawah. Kalau Beijing kan lebih ke atas yah. Nah, maka dari itu, kota Beijing itu lebih dingin dari kota Shanghai. Tapi kenyataannya, emang masih dingin juga sih. Ditambah pulak dengan angin yang niupnya agak kencang.

Berangkat dari kota Beijing di pukul 0800 kita menuju Shanghai. Perjalanan Beijing ke Shanghai yang berjarak sekitar 1500km ditempuh selama 5 jam saja dengan menggunakan Bullet Train. Stasiun kereta untuk ke Shanghai sama dengan stasiun kereta yang kita pakai untuk ke Tianjin kemarin. Bedanya cuma di gate masuk nya aja. Harga tiketnya adalah RMB 553 untuk sekali jalan duduk di kelas Ekonomi. Lumayan lah ya, Sekitar IDR 1,1 jutaan. Emang lebih murah dibandingkan dengan harga tiket kereta api Jakarta - Surabaya - Jogya (karena jaraknya mirip-mirip) yang seharga sekitar Rp 800,000. Tapi kan ya, ini waktu tempuhnya cuma 5 jam saja ya pemirsah. Bullet Train itu nyaman sekali, nggak ada suara berisiknya sedikit pun. Jadi, sepanjang 5 jam perjalanan itu saya nyenyak tidur. Biar nanti sampai di Shanghai bisa segar bugar lagi. Ya maklum aja, semalem udah kecapekan packing gara-gara mau bedol desa ke Shanghai.

Sampai di Shanghai, kita "landing" di Stasiun Kereta yang terintegrasi dengan Airport Domestic Shanghai Hongqiao. Keren abis emang, di sini, semua alat transportasi sudah terintegrasi. Dalam satu bangunan, ada terminal bus, ada subway, ada stasiun antar kota dan ada airport domestic. Canggih kan? Ini yang Indonesia belum punya. Di Indonesia, masing-masing alat angkutan umum masih berdiri sendiri. Walaupun Bandara Soekarno Hatta udah ada Damri, tapi tetap aja belum ada kereta apalagi terminal bus yang terintgrasi begitu. Nanti mungkin ya, tahun 2050 baru ada yang model gitu di Indonesia. Aamiin…

Shanghai, kota ini melekat banget dengan bangunan tinggalan jaman penjajah mereka : Inggris. Bangunan eropa banyak di berdiri di kota ini. Kotanya pun lumayan cukup maju. Dibandingkan dengan Beijing, Shanghai jauh lebih berkembang secara fisiknya. Hutan beton juga ini kota. Saya emang suka ngeliat sih, kalo peninggalan penjajah Inggris itu, kotanya lebih maju ketimbang negara yang dijajah sama Belanda. Liat deh, Singapore dan Hong Kong, juga Malaysia. Negara Commonwealth jauh lebih maju fisiknya dibanding Indonesia. Kalau waktu bisa diputar kembali, rasanya pengen banget dijajah sama Inggris. #eh. Ya ampun, nggak bersyukur banget ya, udah dijajah sama Belanda, malah minta dijajah sama Inggris. Emang rumput tetangga lebih hijau yeah.

Jalan-jalan di kota Shanghai, kita menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa lokasi yang terkenal di Shanghai. Pertama, kita ngunjungi pabrik sutra (ini sutra kain yah, bukan jenis sutra lainnya). Di pabrik ini, kita diliatin bagaimana ulat kepompong itu berkembang biak dan akhirnya bisa diproses itu sutra-nya. Pabrik sutra ini punya pemerintah China, makanya harganya nggak bisa mahal-mahal banget. Tapi kan ya, emang harga sutra itu nggak boong. Secara emang bikinnya juga nggak gampang. Butuh beberapa orang pekerja secara manual, dan nggak pake mesin, makanya mahal. Di pabrik sutra yang kita kunjungin ini, ada jual selimut sutra dengan berbagai macam ukuran, trus ada juga bed cover sutra, baju sutra, selendang sutra (asli yang ini made in China dan bukan lagu), dan ada pernak pernik lainnya juga kayak dompet, sarung bantal, tempat tissue, tas besar, tas kecil. Saya menyempatkan beli selendang titipan si emak. Hihihi, harganya emang agak mehong, tapi kan ya mamak udah kepengen, ya belikan lah ya.

Proses bikin kain sutra
Sedang mempergakan bagaimana mengambil sutera-nya (ya sutra lah ya....)

Dari pabrik sutra, kita jalan lagi ke Pearl Tower. Ini merupakan landmark-nya Shanghai. Bentuknya ada bola-bola gitu. Ini architect-nya asli Perancis, dibangun sekitar tahun 1996. Tinggi menara ini 256 meter dari permukaan tanah. Nah, dari atas menara Pearl Tower ini kita bisa lihat keseluruhan kota Shanghai. Menara Pearl Tower ini dikenal juga dengan TV Tower. Tapi sebelum kita naik ke Pearl Tower ini, kita menyempatkan diri jalan di sisi sungai yang terkenal di Shanghai, yang lebar badan sungainya itu kayak selebar sungai Kapuas. Lebar banget deh, pokoknya. Lha wong kapal tangker aja bisa lewat situ. Nah sempat juga saya dikasih tau, kalau dulu orang Inggris datang ke Shanghai ya lewat sungai ini. Makanya, di pinggiran sungai ini masih banyak gedung-gedung sisa peninggalan jaman Inggris. Aseli cakep emang (lagi-lagi peninggalan Inggris).

Hutan Beton dan Sungai-nya

Tuh liat kapalnya gede aja... 

Shanghai ini ya, konon menurut cerita, bisa maju juga karena orang-orang yang asli penduduk Shanghai ini penuh gengsi. Mereka rela beli barang mewah, demi penampilan. Istilah kasarnya, sebodo amat makan nasi warteg, tapi yang penting bisa punya tas LV, Aigner, Lanvin, atau apapun. Makanya, dalam hal pengembangan kota pun demikian. Mereka rela habis-habisan ngeluarin duit untuk pembangunan kota mereka, biar kota mereka dibilang, “wwaaahhh…”. Tapi jangan salah lho, dulu kala sebelum Shanghai ini maju, Shanghai merupakan kota yang terbuang, kota yang hancur lah. Kenapa? Soalnya Shanghai itu orang-orangnya diracuni sama yang namanya opium atau kalau anak jaman sekarang bilangnya “narkoba”. Hingga pada satu saat pemimpin tertinggi di Shanghai pusing dengan kelakuan tentara-tentaranya yang jadi pada tukang mabok opium. Nah, dari situ deh perang terhadap opium dimulai. Shanghai pun bangkit kembali. Sekilas ya, kalau kota Shanghai ini merupakan kota modern di China, sementara kalau Beijing itu emang kota sejarah. Jadi, kalau mau belajar banyak sejarah, datanglah ke Beijing. Eh tapi ada lagi sih kota yang lebih tua. Itu namanya kota Xian. Aseli, disana banyak peninggalan sejarah jama dahulu kala yang masih bisa dilihat. Tahun 2007 ke Xian, kita sempat main ke Terracota dan mesjid tertua di Xian (hhhmmm, kok jadi pengen bikin tulisan 2007 ke China yak…).

Kita naik ke Pearl Tower juga akhirnya. Berapa harga tiketnya, saya nggak tau soalnya semuanya udah dibayarin. Yang saya tau, Cuma di dalam Pearl Tower ini kita naik ke salah satu bola, yang bola itu lantainya dibuat dari kaca. Jadi kita bisa ngeliat ke bawah. Buat yang ngeri ketinggian, saya sarankan untuk nggak mendekat ke lantai kaca itu. Saya sendiri, nggak phobia sama ketinggian, tapi awalnya ya agak gimana juga gimanaaa gitu. Abis itu ya biasa aja lagi. Di atas ini beneran kita bisa lihat kota Shanghai dengan hutan beton-nya. Cakep lah. Mirip sama Hong Kong gitu.

Apa rasanya ya... 

Kota Shanghai dari Pearl Tower

Selesai main ke Pearl Tower, kita berangkat ke tempat belanja souvenir khas Shanghai, namanya YuYuan Night Market. Barang yang dijual disini banget-banget barang souvenir dan hampir nggak ada barang palsu-palsuan mirip di Yashow Beijing. Harga yang ditawarkan pun nggak segila di Yashow, tapi ya tetap mesti ditawar lah. Lumayan loh, beli tas boneka panda buat nares yang backpack, dia majangnya RMB 128, tapi akhirnya lepas juga RMB 50. Nah, di YuYuan itu, ada juga toko yang nggak mau ditawar, tapi di toko mereka udah ada tulisan fix price dan ada label harganya. Harganya emang belum tentu lebih murah, tapi yang jelas kita nggak pake ngotot untuk nawar-nawar pake urat. Ada salah satu toko yang kita kunjungi, jual boneka panda kecil seharga RMB 15 saja, padahal waktu di Yashow, nawarinnya RMB 200, di YuYuan toko lainnya nawarin RMB 45. Itu alat pijet muka yang dari jade ukuran kecil, harganya RMB 15. Nah, kalo udah belanja, mendingan jangan cerita ke temen-temennya ya. Soalnya bisa jadi temennya sakit hati karena beli barang yang sama, tapi harganya jauh lebih mahal. Wkwkwk….

YuYuan Garden at Night... Cakeeeep!

See the lighting... 
Belanjaaaaahhh...

Oia, pasar malam ini bentuk pasarnya lucu banget (lebih tepatnya cakep). Bangunan deret toko-toko dibalut dengan bangunan gaya arsitektur China. Dan yang membuat keren banget itu karena lightingnya yang emang jagoan banget. Cakep, indah, keren, bagoooos lah pokoknya. YuYuan ini tutup sekitar pukul 2200 local time. Bener-bener udah nggak ada yang buka di pukul 2200 itu. Mereka penjual disana serempak nutup toko entah pukul berapa. Karena pas kita turun selesai makan, toko-toko udah pada tutup semua. Huaaa, yang tadinya mau belanja lagi, malah nggak bisa. Hiks hiks hiks, dasar ibuk-ibuk… Dan finalnya adalah disini saya beli 2 boneka panda kecil, 1 tas panda backpack, 4 piece magnetic Shanghai, 1 piece crystal pasir landmark Shanghai, gelang batu Tiger Eye buat "si engkong" plus boneka karakter Kwang Dong, kaos Shanghai 2 bijik, tas manik hitam buat pesta (ini buat sayaaah). Lumayanlah, semua yang penting kebagian. Olraaaiiitt...

Di Shanghai, selesai sudah perjalanan kita. Berakhir lah sudah cerita saya ini. Mudah-mudahan nanti ada kesempatan lagi ya, ngunjungi kota di China yang lainnya. Aamiin… Mudah-mudahan juga nanti bisa pergi sama sang suami dan anak-anak… aamiin… Mudah-mudahan juga buat yang baca ini, kalau belum ke China, nanti bisa main ke China ya… aamiin…

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post