Showing posts with label Seputar Kantor. Show all posts
Showing posts with label Seputar Kantor. Show all posts

4.09.2015

MENGURANGI KEMACETAN

Postingan kali ini agak beda ya... Sekali-kali ngepost yang nggak berhubungan sama perjalanan dan pengalaman, tapi bener-bener mau curhat. Caileeeee, curhat ceritanya. Disini pula. Kece dah, curhat di blog udah macam yang iye-iye aja curhat di blog. E tapi ya, namapun sharing, apapun boleh lah dibagi kan? Kali-kali aja dengan berbagi, bisa menginspirasikan yang lain. Syukur alhamdulillah kalau hal positif. Kalau hal negatif ya jangan ditiru, cukup dijadikan contoh aja. Contoh yang jangan ditiru. Hahahahahaaa... 

Oke, first of all, resolusi pertama saya di tahun 2015 adalah mengurangi kemacetan di Jakarta. Semua orang seantero dunia udah pada tahu kalau Jakarta itu kota yang macet gila. Pengalaman saya, pernah jarak 2,5 kilometer harus ditempuh dalam waktu 1 jam. Iya satu jam menggunakan mobil, kendaraan roda empat. Coba aja, satu jam perjalanan cuma dapet 2,5 kilometer. Pastinya kan lebih cepat kalau kita jalan kaki (kecepatan orang berjalan kaki adalah 5km/jam kalau saya baca di berbagai sumber). Pakai sepeda? Mungkin bisa lebih cepat. Pakai motor, kendaraan roda dua? Bisa lebih cepat bisa, tapi mungkin juga masih terjebak dengan kemacetan. Andai saja jarak rumah saya ke kantor hanya 2,5km, saya pasti memilih berjalan kaki untuk pulang pergi ke kantor. Tapi jarak rumah saya ke kantor, 7,5 km, mau dibantai jalan kaki ya pasti gempor.

Macet di Jakarta udah semakin menggila belakangan ini. Jujur saja, saya sudah tidak tahan. Belakangan hari ketika masih ngantor, 30 menit sebelum pulang, saya pasti merasakan sakit perut. Sakit perut mules karena salah makan kah? Bukan. Ini sakit perut karena stress. Stress membayangkan pulang kerja harus berjibaku dengan jalanan Jakarta yang sangat tidak bersahabat. Ya motor, ya mobil, ya angkot, ya bus, ya semuanya. Akh, semrawut semuanya. Jalanan sangat padat, bottle neck dimana-mana, semua pada berebut jalur. Harus tahan-tahanan adu gas di tengah kemacetan. Skill nyupir menengah, nyali kurang, pasti disabet terus sama orang lain. Ini jalan atau hutan rimba ya? Aturan ada tapi nggak pernah ditaati. Traffic light Jatibaru, jalan arah saya pulang dari kantor, seperti menjadi sebuah furniture di jalan. Cuma buat pajangan. Merah, bisa jadi jalan. Hijau, bisa jadi berhenti. 

Persoalan semakin runyam ketika musim hujan. Hujan lebat turun, Yang sudah macet, semakin macet parah maksimal. Udahlah macet karena volume kendaraan yang sangat padat, tambah lagi genangan air dimana-mana. Banjir? Bukan! Ini hanya genangan air, kata mereka (pejabat). Entahlah, sekarang saya tidak bisa membedakan antara genangan air dan banjir. Mungkin sekarang ada klasifikasi dan persepsi khusus antara genangan air dan banjir. Mobil yang saya pakai juga sedan, bukan mobil yang bersahabat untuk menerjang banjir (eh genangan air) yang tingginya mungkin hanya 20cm. Kalo udah ada genangan air itu, yang ada saya makin stress. Bukan nggak berani, tapi lebih sayang sama mobil. Nekat menerjang banjir bakalan lebih banyak ruginya ketimbang enggak ruginya (kalo untung pasti sama sekali nggak ada). 

Hujan... Weekend... Jadilah... 

Kelar. Kelar di jalanan itu adalah ketika weekend, hujan dan sore. Aseli, hidup di jalanan bakalan kelar lah kita. Macetnya jangan ditanya. Semua orang pada mau pulang, semuanya di waktu yang bersamaan. Volume kendaraan padat sekali, di satu waktu dan volume jalan tidak mendukung, tambah lagi supir-supir mobil dan motor yang bringas. Selesai sudah. Siap-siap bawa makanan buat di dalam mobil, siap-siap pipis dulu sebelum jalan, dan bagi laki-laki silahkan siapkan botol di mobil untuk bisa pipis. Perempuan seperti saya apa nasibnya? Ya, tahanlah kalau nggak ada pom bensin. Seburuk-buruknya, mampirlah di minimarket dan numpang pipis. Long weekend hujan? Selamat menikmati kawan, jalanan di Jakarta tampak seperti hantu buat saya. Rasanya lebih baik "ngetem" dulu di rumah makan, atau mungkin di kantor biar nggak terjebak macet parah di jalan. 

Sudah... sudah... rasanya sudah sangat cukup buat saya berjibaku di jalanan setiap pagi dan sore yang berbarengan dengan mereka pengendara. Muak, itu kata ayng tepat buat saya. Saya mengundurkan diri. Saya hands up. Saya give up. Saya kalah. Iya... saya melambaikan bendera putih dan tangan akan saya lambaikan ke kamera. Tanda saya menyerah terhadap beringasnya jalanan ibukota Indonesia. Hidup saya tua jalan. Huhuuu, padahal rumah saya ke kantor cuma 7,5 km saja. Apa kabarnya ya, yang perjalanan rumah ke kantor sekitar 20 km? Berangkat pukul 05.00 dan bisa pulang lagi ke rumah pukul 21.00? Hanya beberapa jam saja di rumah? Itu tinggal di rumah apa numpang nginep?

Buat saya sendiri... sudah nggak worth-it untuk nyetir di jalanan sampai sebegitu lama-nya untuk jarak yang sebegitu dekatnya. Iya, 7,5 km sebenernya jika tidak macet bisa saya tempuh dalam waktu 20 menit saja. Sangat manusiawi buat saya. Ya, mentok 30 menit lah... tapi kalau sudah lebih dari itu, buat saya sudah sangat menyita waktu. Bukan apa-apa, saya punya anak yang harus saya urus. Saya punya keluarga yang menanti saya di rumah. Saya punya badan yang harus diistirahatkan juga. Saya juga manusia yang punya keterbatasan. Hidup saya ini pastilah sangat singkat. Buat saya, anak-anak saya adalah kepentingan nomor satu dan bahkan diatas nomor satu. Jadi, jika waktu di jalan saya habiskan lebih banyak ketimbang waktu untuk anak-anak, bagi saya, itu sangatlah merugikan buat saya. Saya lebih senang menghabiskan waktu untuk anak saya, melihat mereka di rumah, walaupun memang terkadang ricuh di rumah. 

Selesai. Berhenti kerja kantoran yang waktunya sangat menyita. Apalagi yang harus ke kantor ikut arus kemacetan lalu lintas. Naik ojek sebagai salah satu solusinya? Iya dari segi waktu. Tapi dari segi biaya, justru lebih tinggi. Belum lagi kalau hujan, badan basah kuyup. Paham sekali dengan kondisi badan ini, yang tidak terlalu kuat sama terpaan hujan. Naek bus reguler atau bus transjakarta? Iya emang nggak capek nyupir. Tapi capek antri dan berdiri di bus. Akh sudahlah, buat saya, ini yang terbaik. berhenti kerja kantoran. Resolusi mengurangi kemacetan di tahun 2015 saya telah terwujud. No more complain about traffic jam. Enough is enough for me... 


Family - Numero Uno (walaupun fotonya pake 2 jari - eh 4 jari)

Terima kasih telah membaca isi hati saya... 
Waktu sangat berharga buat saya..., hidup sangatlah singkat, berikan kepada orang tercinta... 
(dedicated to my loveliest husband... yang mungkin sudah bosan dengar keluhan saya tentang macetnya Jakarta ini selama 5 tahun - hadiah pernikahan ke 5 buat kita ya pak).

2.11.2015

KARYA ANAK BANGSA

Postingan kali ini agak berbeda. Kenapa berbeda? Karena kali ini cuma mau mengekspresikan bagaimana saya bangga terhadap karya anak bangsa. Produk anak negeri sendiri. Iya... bukan produk import dari negara luar. Pada dasarnya saya merasakan bahwa sebenarnya anak-anak Indonesia ini punya potensi yang sangat besar. Anak-anak diatas itu maksudnya bukan anak-anak yang sesungguhnya ya, tapi lebih kepada orang-orang di Indonesia. Ya iyalah, kita punya penduduk sejumlah 200juta jiwa, masa nggak ada yang bisa dibanggakan? Pasti adalah. Saya sendiri yakin, bahwa anak negeri punya potensi yang luar biasa. Pada dasarnya emang semua orang punya kelebihan dan kempuan kan? Tinggal berani eksplorasi atau nggak. Tapi kalo ngeliat kelakuan para pejabat yang mempimpin negara ini, malah jadi malaaas... Aiyh ya sturalah nggak usah ngomongin mereka.

Balik ke topik tentang karya anak bangsa, kali ini saya mau cerita tentang produk anak bangsa yang lagi saya gemari; Chocoofaza - minuman cokelat premium.

Saya bukan penikmat kopi. Tapi bukan berarti anti kopi ya... Minumlah walau sesekali. Entah mengapa kurang begitu berani sama yang namanya kafein. Padahal dulu waktu masih jaman kuliah, hobby banget bikin kopi. Yaaa, walaupun yang diminum kopi merk kapal laut itu, yang mirip abang-abang, yang penting harus ngopi. Kelar kuliah, udah nggak pernah ngopi lagi. Ya begitu absen 3 tahun dari kopi, terus nyoba lagi minum kopi merk kapal laut itu, kok sakit perut. Semenjak itu nggak pernah ngopi lagi. Ya, minum sih, tapi bukan yang kopi macam itu lagi, beralih ke kopi yang rendah kafein itu. Ceritanya namanya decaf. Mahal bingit. Adanya juga cuma di supermarket premium yang di Kemang atau SCBD itu. Ah lupakanlah minum kopi.

Nah, terus nemu deh tuh minuman tinggal seduh gitu, seneng donk, bukan kopi tapi coklat. Saya baru kepikiran, dulu direktur saya itu seneng banget minum hot chocolate. Oh, ternyata rasanya begitu. Enak ternyata. Akhirnya saya jajan deh tuh, minuman hot choc yang tinggal diseduh pake air panas. Abis jujur aja ya, mau beli di macam toko minuman gitu, harganya meuni selangit. sehari segelas bisa bangkrut dah. Tapi ya, sebel banget gegara BBM kemarin itu naik 2 rebu perak per liter, itu se-sachet bubuk coklat harganya naek juga. Yahilah, yang naik harga bengsing, kenapa minuman coklat ikutan naek? Apa sekalian aja kali ya, mending minum bengsing?

Hot Chocolate

Kabar gembira datang dari suami saya tercinta. Iya, dia pulang kantor dan membawakan saya hadiah satu pack bubuk cokelat untuk diminum dan tinggal seduh air panas. Ahiy..., alhamdulillah emang rejeki anak sholehah nggak kemana dah. Tau aja istrinya seneng minum hot chocolate *pelukdaddy. Nggak sabar donk, langsung buka dan cobain nyeduh. Wohooo, suka banget sama rasanya. Cocok di lidah. Parahnya lagi, iseng banget bawa ke kantor karena suka minum yang anget-anget kalo di waktu-waktu yang rawan ngantuk gitu. Eh, ada juga yang mau nyobain. Mereka ternyata juga suka lho. Seru yaaa... Akhirnya, kita borong deh tuh Chocoofaza.

Chocoofaza minuman coklat ini tinggal seduh air panas lho. 2 sendok makan cukup untuk air sebanyak 150cc. Saya sendiri nggak suka terlalu kental, makanya 2 sendok makan bisa buat 200cc air. Maklum, saya udah manis pula jadi nggaknterlalu manis pun buat saya nggak masalah. Oia, kecenya lagi, Chocoofaza ini dibuatnya tanpa bahan pengawet. Jadi cuma cokelat bubuk, gula, dan paling creamer nabati. Nah, aman kan? Tanpa pengaweeet, tanpa perisa tambahan, tanpa pewarna... kurang apalagi coba?  Kurang banyaaaaak! Karena udah beli 1 pack pasti mau lagi dan lagi. Se-pack itu isi 210gram, bisa buat 7 gelas berarti. Hmmm, baunya cokelat jadi terngiang deh...

Chocoofaza

Penasaran sama produk Chocoofaza donk saya. Akhirnya nanya-nanya sama temennya pak suami yang jualan. Aseli ya, ternyata Chocoofaza aseli buatan anak bangsa. Hebat! Keren! Ciamik! Ide-nya maupun semangatnya saya suka sekali. Yang kayak begini ini, yang harus di-support. Iya, produk-produk anak bangsa, produk lokal, harus didukung. Kebayang ya, gimana mereka berjuang meracik untuk menemukan paduan yang pas dalam racikan minuman di bubuk cokelat itu. Itu kan nggak mudah. Mulai dari milih biji cokelat, trus proses bikinnya, packaging-nya, pemasarannya. Angkat topi banget lah buat mereka. Saya pun belum bisa bikin apa-apa, tapi mereka udah bisa bikin bubuk cokelat untuk diminum dan seenak itu... Cobain deh minum cokelat Chocoofaza, kalo nggak ketagihan, hebat. Soalnya dari semua yang udah nyobain, mereka pasti pada bilang Chocoofaza itu enak bingit. Mau nyobain nggak? Email dah ke saya di mona.archy@gmail.com.

3.20.2012

RUAMEEE...

Kamis 8 Maret 2012...

Jam makan siang pengen banget makan sate ayam. Kata temen kantor saya, di deket sekolah yang menuju Pasar Baru, ada warung sate yang lumayan. Baiklah, meluncur kesana. Udah kangen makan sate ayam siang-siang. Di kantor dulu, sering juga makan sate siang-siang, abis itu minumnya es podeng. Nikmat! Semenjak pindah ke kantor ini, agak susah makan siang sate. Soalnya si den mas OB rada suka nyinyir kalo disuruh beli makan siang yang agak jauh. Andaikan mau, nanti baliknya bisa jam 1 siang, dimana perut dan gerombolannya sudah dalam posisi "empty". Ya sudahlah, saya jalan saja. Dianggap olahraga saja, mudah-mudahan menjadi sehat.

Sekitar pukul 12.15, saya jalan keluar kantor menuju arah Stasiun Juanda. Dari depan kantor sih sudah terlihat beberapa hal yang tidak biasa. Misalnya, orang pada sibuk menggotong kipas angin dan selimut. Dalam hati saya, mungkin ada kebakaran.


Sampai pada akhirnya berjalan di Jl. Juanda 1, ternyata benar lho, ada asap mengepul dari salah satu rumah penduduk. Waaah, langsung deh ramai kerumunan massa. Yang gotong-gotong perabotan sih udah nggak heran. Yang teriak-teriak juga ada. Yang nonton seperti saya, ya banyak. Langsung lihat gambarnya aja yah, biar tau gimana situasi kondisi pada saat itu.

Kios-kios langsung mengosongkan diri

Barang-barang kios langsung pindah ke jalanan

Nggak ngerti deh gimana caranya itu barang-barang di kios yang berat, yang besar, yang banyak bisa pindah ke jalanan. Salut sama kerja keras mereka mempertahankan aset dan properti mereka. Bagaimanapun caranya, properti harus diselamatkan.

Barang rumah tangga diamankan di pelataran Stasiun Juanda
Nah, ini gambar yang sempet aku capture. Mereka yang masih bisa menyelamatkan barang-barang yang ada, menitipkan di pelataran Stasiun Juanda. Hebat ya, sampe gotong spring bed ukuran queen lho. She the picture there.

Mobil pemadam dateng juga lho

Ambulance juga ada
 Liat gambar diatas? Ada mobil Toyota Avanza hitam di bawah tulisan "Dea Cellular"? Mobil itu terpaksa dipecah kaca belakangnya karena harus disingkirkan agar akses pemadaman lancar. Entah kemana orang yang punya mobil itu, sehingga mobilnya harus dipecah kacanya. Yah, mungkin dirinya tak tahu pun kalau musibah ini akan terjadi. 

Kondisi Jl. Juanda I yang ramai dengan massa

Itu dia rumah yang terbakar (bukan iklan Pizza Hut ya?)

Nah, akhirnya sekitar pukul 13.30 berhasil lah pemadaman api. Asapnya menjadi putih setelah tadi berwarna hitam. Syukurlah... Semoga yang mendapatkan musibah diberikan kekuatan lahir dan bathin oleh Allah. Semoga apa yang hilang cepat mendapatkan gantinya. Aaamiin...

Sudah padam, asap menjadi warna putih
Nah, coba baca link di bawah ini mengenai beritanya. Kebakaran ini menyebabkan kemacetan lho, sampai ke Harmoni, kata beberapa sumber berita dari twitter.

Pemirsah, semoga kita selalu dilindungi Allah SWT ya, dari segala marabahaya dan bencana. Aamiin...

11.10.2011

OBE

Sebelum pulang kantor, gatel pengen curhat kelakuan si mas OB di kantor saya...

Nyebelin banget ya, si mas OB ini agak punya kelakuan tak wajar seperti OB lain pada umumnya yang manut sama perintah para staff. Rasanya pegel hati kalo minta tolong dia untuk melakukan sesuatu pekerjaan. Entah itu beli makanan, bikin teh atau kopi, atau pekerjaan lainnya. Kalau kita minta tolong A, suka dikasih B. Minta tolong B, suka dikasih A. Kalo dimintain tolong, suka merengut. Hiiih, padahal kan itu tugasnya dia tho? Susah ya boook, tapi mau gimana lagi. Lha wong Direktur saya juga suka dicuekin, dibete-in sama dia. Apalagi saya yang cuma staff ecek-ecek ini?


Puncak kekesalan saya terjadi di hari Selasa ini, 8 November 2011.


ngamuk sayah
Biasanya, saya membawa bekal makan siang saya ke kantor (soalnya di rumah masih banyak makanan, jadi sayang kalo nggak dimakan). Tapi hari itu karena lauk semalem udah nggak nyisa, akhirnya saya nggak bawa makan siang. Selasa siang itu, kebetulan ada meeting kecil dengan calon investor di kantor saya. Meeting berakhir pukul 12.15, which is itu udah jam makan siang donk, yaaa... (Asal tau ya, si OB ini nggak pernah nawarin makan sebelum pukul 12 siang. Dia pasti nawarin makan paling cepet jam 12. Itu pun kalo disuruh jalan. Kalo nggak ada yang nyuruh, ya dia tidur degh tuh di pantry) Karena waktu sudah menunjukkan pukul 12. 15, dan saya harus pumping ASI, saya memilih untuk sholat dan pumping ASI dulu. Maksud saya, saya mau pesan makanan sebelum saya sholat dan pumping, supaya ketika saya selesai pumping, itu makan siang sudah tersedia di meja saya. Duuuh, soalnya perut saya udah keroncongan yang agak nge-jazz gitu. Takut cacing pada demo...

Okey, sebelum wudhu, saya cari si mas ke Pantry. Ternyata dia nggak ada di pantry. Wah, saya wudhu dulu degh. Bener aja, saya ketemu dia di lorong toilet. Dan terjadi pembicaraan antara dia (D) dan saya (S) :
S: "Mas, tolong beliin saya makan siang donk, udah laper nih"
D: "Ntar ya mba, ntar..." jawab si mas OB sambil langsung jalan meninggalkan saya!

Hmmm, bagus banget kelakuan ini orang. Good job! Sopan ya boook?! Ya sudah, saya sholat dulu degh, pumping dulu sambil nurunin emosi karena dicuekin OB dan menahan perut lapar.

Selesai pumping, kira-kira jam 12.30, saya kembali ke ruangan. Tak lama dirinya menanyakan kepada saya makanan yang mau dipesan.


S: "Mas, tolong beliin soto Madura di deket Istiqlal sana donk. Nasi 1 dan soto 1 ya?"
D: "Soto depan stasiun kan? Cak Sikin?"
S: "Bukan, mas... Ini yang di jalan Pintu Air" 
D: "Iyh, jauh amat? Sini aja degh yang deketan" sambil dia nunjuk ke arah stasiun Juanda, padahal jarak kantor saya ke Jalan Pintu Air itu cuma sekitar 700meter.
S: "Nggak mau, pengen yang di Pintu Air itu. Yang depan stasiun nggak enak"
D: "Yaudah deh, yang di stasiun aja tuh, Adeng" 
et dah nih orang masih maksa juga kali? *makin panas
S: "Udeh degh ya, beli yang di Jalan Pintu Air aja. Gw nggak mau yang lain. Cuma pengen yang sana"


Dan akhirnya si mas OB pergi juga setelah saya memberikan uang beli soto.

Hoadaaaaah, ni orang maunya apa ya? Pliss degh Tuhan, kok ada ya, OB model begini? Kesel bener rasanya. Ini yang mau makan siapa, yang milih menu siapa, kok jadi dia yang nentuin. Aseli degh, baru nemu model OB yang begini. Bagus aja saya bukan orang Facility Management seperti dulu, dimana saya bisa ganti orang kalo dia nggak bisa kerja. Tapi kali ini saya harus bersabar punya OB seperti dirinya.

Sabar sabar sabar...


KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post