12.28.2011

JADI JUGA SANDWICH-NYA

Hahaha, udah lama banget pengen bikin sandwich, tapi belum kesampaian. Yang lupa beli daun selada, yang lupa beli tomat, yang nggak sempet, akh banyak aja deh alasannya... Tapi kali ini nggak dong, akhirnya sempet juga bikin sandwich! Yippie, sandwich ala chef ibunya Nares. Sandwich jadi-jadian gitu lho. Tapi enyak kok. Si bapak aja bilang enyak! Ya iya lah, pak... Kalo nggak enyak besok nggak dimasakin lagi lho!

Bahan-bahannya:
Roti tawar (boleh pake kulit, boleh nggak)
Smoked beef (boleh ganti pake tuna spread mayo atau salmon spread mayo)
Daun salada air (bisa juga pake salada crop, tapi mehooong ya ciyn)
Timun, iris tipis
Tomat, iris tipis
Keju cheddar, parut (mau pake yang singles juga boyeeeh, mau cheese spread juga enyak)
Saos tomat
Saos cabe

Cara bikinnya:
Atur dan isi bahan sandwich sesuka hati. Hahaha... nggak ada aturannya, yang penting enyak!

Nih dia jadinya si sandwich impian...

sandwich saya...

Lumayan lah, buat sarapan atau cemilan sehat! Agak-agak murah dibanding kalo harus beli diluaran sana, seperti toko kue, toko roti, supermarket, minimarket.

12.27.2011

CERITA YANG HARAM

Di penghujung tahun Masehi ini, pasti umat Nasrani di seluruh muka bumi merayakan hari besar keagamaan mereka, yaitu Natal atau Christmas. Bagi mereka, Natal adalah hari peringatan kelahiran Tuhan-nya. Saya tidak mengerti prinsip dasar Tuhan bagi mereka, karena agama Islam yang saya anut mempercayai bahwa Tuhan itu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Stop. Saya tidak ingin membahas masalah ini lebih panajng dan dalam karena memang saya tidak ahlinya. Daripada saya salah dan makin tidak menentu, maka lebih baik saya tidak membahas masalah keTuhanan ini.

Ketika Natal tiba, seluruh umat Nasrani di muka bumi ini pasti menyambutnya dengan sukacita. Yang menghias pohon natal, yang tukar kado, yang Christmas dinner, yang macam-macam sesuai dnegan tradisi keluarga mereka. Yaaa, nggak jauh beda dengan perayaan Idul Fitri umat Islam. Yang ketupat, yang opor, yang sungkem, dan yang lain-lain sesuai dnegan tradisi keluarga. Semuanya sah-sah saja lah, secara menyambut suka cita gitu lho. Nggak jarang juga kan, pas momen suka cita itu, kerabat kita pun ingin bebagi kebahagiaan atau membuat bahagia yang sedang bersuka cita. Misalnya, kolega bisnis kirim kue Lebaran, parcel, karangan bunga, atau bahkan kunjungan ke rumah. Intinya sih Cuma satu, yaitu ingin membuat orang lain bahagia, ingin menunjukkan kalo dirinya menghargai orang lain yang bersuka cita.

Nah, sekarang permasalahannya ketika yang memberikan suka cita itu berbeda agama dari yang merayakan suka cita. Bermasalah kah?

Sepanjang yang saya tau, kalo bagi umat Nasrani mungkin tidak ada larangan bagi mereka untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri atau Selamat Waisyak atau Selamat Galungan atau mungkin Gong Xi Fa Cai kepada rekannya. Nah, yang lagi rame itu justru yang umat Islam : boleh nggak sih ngucapin Selamat Natal, Selamat Waisyak, Selamat Galungan, Gong Xi Fa Cai kepada rekan dan kerabat? Hal ini sempet jadi rame banget di twitter lho. Saya sendiri pun, ditegur sama teman saya, katanya “Nggak boleh ucap Natal lho...” Memang sih, saya sempet posting “Merry Christmas buat yang merayakannya ... ... ...” Bagi saya, mengucapkan selamat hari raya bagi agama yang bukan Islam, adalah hal yang wajar. Dilandasi niat menghormati dan menghargai orang lain, tidak ada salahnya mengucapkan selamat Natal atau perayaan besar agama lainnya. Secara saya juga nggak ikut misa Natal gitu lho!

Wishing a Merry Christmas at FB to those who celebrate

Okey, lanjut ya cerita sama temen saya.

Temen saya ini bilang, katanya ada adabnya orang Islam itu ucap Natal nggak boleh. Coba buka link-nya disini. Haram katanya ucapkan Natal. Yah, tak pelak bbm-an ini menjadi perdebatan seru antara saya dan teman saya ini. Dia mempertahankan prinsipnya yang tidak boleh ucapkan Natal dan saya pun mempertahankan prinsip saya yang memberi ucapan Natal itu sah-sah saja selagi tidak ikut ritualnya.

Begini ya, inilah cerita dibalik kenapa saya tidak setuju dengan “haram mengucapkan selamat Natal”...

Pertama, tidak ada dalil di dalam Al-Quran yang mengharamkan kalo mengucap selamat Natal itu haram.

Berbeda dengan larangan makan babi, makan bangkai, makan darah yang memang tercantum di dalam Al-Quran ya book! Cekidot di QS Al-Maidah ayat 3:
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan..."

Beda juga sama minum khamar, atau arak, atau alkohol yang memang jelas nggak boleh. Ceki-ceki di marih nih, QS Al-Maidah ayat 90-91:
"90. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah [434], adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. 91. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)"

Itu hanya beberapa kasus yang tertera haram di Al-Quran ya, yang saya tulis. Masih ada beberapa hal lain yang ada, cuma saya nggak tulis disini. Maaf, saya kurang rajin. Tapi sih ya saya sendiri kok yakin, kalo di Al-Quran nggak ada tuh dalilnya yang bilang kalo ucapkan Natal itu haram (kalo ijma' memang ada saya baca. Tapi kan ijma' itu pendapat ulama. Nah ulama yang bagaimana?) Jadi, buat yang bisa nunjukin dalil di dalam Al-Quran kalo haram hukumnya ngucapin selamat Natal, sini bawa ke saya yah... Saya baru yakin kalo memang haram kalo udah dalilnya. Kalo emang ucapin Selamat Natal haram, berarti ucapin selamat hari raya yang lainnya haram juga donk?

Mungkin ada yang bilang, dasar nggak boleh mengucap Selamat Natal itu bersumber dari ayat ini, QS Az-Zumar  ayat 7:
"Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu"
Dari kata-kata Allah diatas pun, tidak ada kata haram terhadap mengucapkan Selamat Natal. Okey, memang ayat tersebut menjelaskan, kalo kita kafir Allah nggak perlu kita. Tapi ya emangnya ngucapin Selamat Natal itu langsung menjadikan kita murtad? Menjadikan kita kafir? Menjadikan kita pindah dari agama Islam? Nggak kan? Sama sekali di benak saya, tidak terlintas saya menduakan Tuhan saya, yaitu Allah, SWT. Apa dengan memberikan ucapan selamat merayakan hari agama besar kepada orang lain yang berbeda agama itu langsung kita masuk neraka? 


Kedua, Lakum dinukum waliyadin. Bagimu Agamamu – Bagiku Agamaku. Jelas  kan, agama kita ya agama kita (disini ya agama saya Islam) dan agama yang lain ya urusan yang lain, bukan urusan saya. Jadi, saya nggak mau ikut campur agama selain Islam (baca: ritual). Itu sama sekali bukan urusan saya. Ketika mereka merayakan hari besar mereka, dan saya mengucapkan selamat merayakan, itu hanya berdasarkan menghargai mereka. Inget, kita hidup didunia ini harus bersosialisasi. Kita punya tetangga, tetangga kita ada yang beda agama sama kita. So, please appreciate them. Kenapa? Karena kita nggak tau apa yang akan terjadi di kemudian hari. Kali-kali aja ada saatnya kita butuh bantuan mereka. Tetangga itu orang yang paling deket untuk dimintain tolong, lho! Secara kadang sodara kita tinggalnya jauh-jauh. In case of emergency, cuma ada tetangga, mau minta tolong ama siapa lagi?


Ketiga, Hablum Minallah and Hablum Minannas – Hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia. Udah jelas yah, bahwa kita hidup itu harus berhubungan dengan Allah sebagai pencipta dan penguasa kita. Itu mah udah mutlak nggak bisa diganggu gugat! Pastinya kita sebagai mahluk ciptaan Allah, harus mengabdikan diri kepadaNya. Menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi segala apa yang dilarangNya. Nah, secara kita juga tinggal di muka bumi dan muka bumi ini terdiri dari berbagai macam jenis orang dan agama, suku, tradisi, bahasa pun berbeda, maka kita nggak usah heran, kalo hidup menghormati perbedaan itu adalah hal yang wajar. Iya donk, kita nggak boleh egois kan? Masa’ mau hidup sendirian aja? Manusia itu mahluk sosial, mahluk yang membutuhkan mahluk-mahluk lainnya. Nggak ada manusia yang bisa berdiri sendiri. Iris kuping saya kalo ada manusia yang nggak butuh bantuan orang lain! Makanya, baek-baek deh sama tetangga, sama sodara, sama siapapun itu, soalnya ya itu tadi, kita nggak mungkin hidup sendiri!


Dari dasar yang saya tulis di atas, makanya saya itu nggak setuju sama pendapat yang mengatakan “Mengucapkan Natal itu haram”.

Nih, lebih lanjut di bawah ini, saya uraikan kenapa saya nggak setuju. Kalo uraian di bawah ini sih lebih banyak kepada logika saya yang berbicara...


Satu.
Keluarga besar saya berlatar belakang dari multireligi dan multietnis. Kakek buyut dari ibu saya berasal dari negeri China dan beliau memang muallaf. Kerena kami keluarga keturunan, nggak sedikit keluarga kami yang masih beragama Konghucu (merayakan Imlek).  Keluarga besar ayah saya, berasal dari suatu kota di Jawa Tengah, Muntilan, yang tidak sedikit warganya beragama Katolik. Keluarga bapak pun ada beberapa yang beragama Katolik. Rumah asli kakek saya berada di lingkungan Katolik (dekat dengan gereja, kuburan Kerkovv, sekolah Panguldi Luhur VanLith). Nah, kalo begini kondisinya, apa saya tetap harus bertahan nggak ngucapin Selamat Hari Besar agama lain, sekedar untuk menghormatinya?

Kerukunan hidup beragama di kampung ayah saya, sangat terasa nikmat. Betapa tidak? Pernah membayangkan tidak, ketika ada peresmian mesjid di kampung ini, umat yang beragama Katolik turut membantu melancarkan acaranya. Ya, memang tidak yang masuk ke ranah ritual peresmian mesjid seperti pembacaan surat di Al-Quran atau sholat fardhu berjamaah. Tapi mereka lebih membantu kepada acara teknis-nya. Seperti membantu pemasangan tenda, membantu jadi juru parkir (karena tamu yang datang cukup banyak), membantu membuat kue (bahkan ada yang nyumbang kue), dan lain sebagainya.  Masa’ ya iya sih, mereka yang sudah membantu kita trus kita nggak mau berbaik sama mereka karena agamanya berbeda dari kita? Masa’ sih, pas lebaran Idul Fitri kita disamperin, kita diselamatin, tapi pas mereka Natal, kita nggak mau berkunjung ke rumah mereka dan sekedar memberikan selamat. Walau bagaimana pun, saya dan mereka kan bersaudara. Kami satu buyut! Kami satu asal muasal! Kalo nggak ada timbal balik, saya bisa dibilang egois donk? Tidak menghormati mereka. Bisa-bisa saya kehilangan sodara-sodara! Bukannya menjalin silaturahmi itu baik? Coba aja kalo yang ngomong haram itu ada di posisi saya?


Dua.
Saya menghabiskan masa kecil saya di negeri orang yang agamanya pun tidak 90% Islam. Saya tinggal di apartment yang di lantai itu tidak ada yang beragama Islam. Tetangga depan saya beragama Kristen, tetangga samping-samping, agamanya Budha. Kalo kami merayakan lebaran, mereka pasti pada datang ke rumah kami untuk menyampaikan Selamat Idul Fitri dan tidak jarang juga mereka memberikan kue untuk kami. Entah karena memang mau mengucapkan Selamat Idul Fitri, atau karena ingin mencicipi ketupat bikinan ibu saya yang enak, saya nggak tau yah, hahahaaa... Tapi yang jelas, memang mereka pasti datang saat kita berlebaran untuk sekedar menyalami kami. Walaupun sehari-hari jarang ketemu, tapi ya kalo ada hari besar, suka pada ngunjungin lho... Nah kalo udah pada baik sama kita, masa’ kita nggak baik sama mereka? Masa’ sih ketika mereka Imlek atau Christmas, kita nggak kunjungan balik ke mereka karena ada pendapat haram?

Ketika kecil di negara orang ini pun, saya sempat mengikuti kursus musik di sekolah musik ternama dengan standard lagu-lagu internasional. Lagu-lagu yang diajarkan kebanyakan lagu gereja. Jujur, saya tidak mengetahui lagu tersebut adalah lagu-lagu gereja. Yang ada di dalam pikiran saya hanya bagaimana agar lagu-lagu tersebut dapat saya mainkan di alat musik yang saya pelajari. Bagaimana saya bisa lulus ujian dengan memainkan lagu tersebut. Kalo ucapkan Selamat Natal aja dosa, apalagi nyanyiin lagu Natal donk, ya? Hihihi... Allah, saya berlumur dosa!


Tiga.
Ini yang bikin saya ketawa atas pendapat “Mengucapkan Selamat Natal itu haram”. Katanya haram buat ngucapin Selamat Natal, tapi nyatanya:
  • Ikutan libur pas tanggal 25 Desember. Hahaaa, katanya haram, tapi ikutan libur mah iya! Kalo nggak menghormati yang Natal, ya jangan libur donk. Masuk aja harusnya yah?
  • Kerja di perusahaan dimana boss-nya beragama Nasrani. Tapi tiap bulan gajian ya diambil juga! Nah, coba ini gimana? Boss-nya bukan muslim, boss-nya tidak percaya kepada Allah, SWT. Boss-nya tidak seiman dengan kita. Dan kita kerja sama boss kita. Kita digaji sama boss kita. Toh diterima juga kan? 
  • Ikutan pake kalender Masehi. Masehi kan kalender umat Nasrani. Kok diikutin sih? Kan haram? Nah, ini saya nggak tau degh, harus jelasin gimana lagi.
  • Pake baju/tas/sepatu brand luar negeri, which is yang buat orang Nasrani. Kok masih dipake sih? Kan Nasrani? Kok diikutin? 
  • Pake mobil keluaran Eropa/Jepang/China, which is bukan orang Muslim yang membuat. Kok nggak haram?
  • Kok yang haram Natal doang? Imlek,Waisyak, Galungan haram nggak? Mana pendapatnya? Yang adil lah yawh...

Masih banyak hal-hal lain yang lucu yang bisa bikin saya bertanya, “katanya haram, tapi diikutin juga... Konsisten degh ya...”


So, pemirsaaah, ini memang masalah yang sangat sensitif. Saya sih sangat berharap kalo statement haram itu nggak sembarangan bisa dikeluarkan. Berhati-hatilah dalam mengucap kata haram. Nggak semudah itu lho, memvonis haram. Saya emang nggak jago-jago banget dalam urusan beragama, tapi setidaknya saya punya pandangan yang berbeda terhadap haram mengucakan Selamat Natal. Toh saya mengucapkan itu hanya untuk menghargai kerabat yang sedang merayakannya, tidak untuk mengikuti ajaran agamanya ataupun ritualnya. Jauh panggang dari api deh! So, saya menghormati pemeluk agama lain yang juga menghormati agama saya daripada ada orang yang tidak menghargai agamanya sendiri. Percayalah, kalo kita mau dihormati orang lain, maka kita harus menghormati orang lain. 

Coba buka link ini. Kalo nggak salah yang saya baca, disitu Fatwa MUI berbicara memang haram hukumnya untuk mengikuti upacara Natal bersama. Ya iyalah, secara itu kan sudah masuk ke acara ritual gitu loh. Saya juga setuju kalo itu. Tidak diragukan lagi. Tapi kalo sekedar mengucapkan selamat hari raya Natal apakah haram? 

Allah Maha Tahu. Maha Adil. Maha Segala-galanya. Mudah-mudah apa yang saya curahkan di sini tidak membuat saya menjadi kafir. Karena yang berhak menentukan kafir atau tidak, hanya Allah. Karena yang berhak menentukan dosa atau tidak, hanya Allah. Karena yang berhak menentukan masuk syurga atau neraka hanya Allah. Dan karena di hati saya hanya ada Allah, SWT. 

Saya padaNya... 


Lebih dan kurang saya mohon maaf. Jika ada yang tidak berkenan pun, saya mohon maaf. Saya hanya manusia biasa yang jauh dari kesempurnaan. Di kesempatan kali ini, saya hanya mencurahkan apa yang ada di benak saya....

"asyhadu an-laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah"
Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah 
dan 
saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah



Sumber diambil dari mana-mana...

12.23.2011

DUNIA INI SEMUANYA POLITIKUS


Pernah denger kata “politik” kan? Apa artinya yah? Kalo saya liat di wikipedia, arti politik adalah:
  1. proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.
  2. Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional


Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain:
  1. politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)
  2. politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara
  3. politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat
  4. politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.


Nah, kalo kata sahabat saya, seorang pengamat politik, ahli filsafat, penyiar radio, dan relawan ini... menurutnya, “politik itu dimana-mana (dengan kata lain kekuasaan itu menyebar, tidak lagi terpusat)”. Hahaaa, dia juga sepaham dengan saya sepertinya. Politik itu dimana-mana.

Setelah dari beberapa arti kata “politik” diatas, saya mengambil beberapa pengertian yang akan saya masukkan di tulisan saya ini. Ini dia yang saya pilih: Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan. Yap, saya memilih pengertian ini untuk pembahasan selanjutnya. Makanya buat yang baca, dimulai dari sini ya? Bukan di mulai dari nol kaya mas/mba di SPBU itu lho yah!

Awal tulisan ini saya buat karena kemarin pagi, saya membaca time line seseorang di Twitter mengenai pro kontra imunisasi bagi anak bayi mereka. Ternyata sekarang ini, banyak lho yang anti imunisasi. Mereka nggak mau mengimunisasi anaknya dengan alasan-alasan yang menurut mereka itu benar. Mereka yakin bahwa anak yang diimunisasi belum tentu sehat dan anak yang tidak diimunisasi belum tentu sakit. Belum lagi kabar yang beredar adalah bahwa material imunisasi itu nggak halal karena mengandung bayi, aborsi, babi, monyet. Hehehe, maaf ye, saya bukan ngomong kotor, tapi ini serius dari yang saya baca! Huh, dunia internet menyajikan jutaan informasi. Yang salah, yang bener, yang setengah-setengah juga ada. Jadi saya sendiri harus bijak menentukan mana yang baik dan mana yang nggak baik. Tapi semuanya pasti punya kepentingan masing-masing untuk satu tujuan pribadinya.

Baiklah, begitulah kira-kira kenapa saya mau mencurahkan isi pikiran saya dengan kata “politik” tadi. Nah, di bawah ini, adalah curahan pemikiran saya, kenapa politik itu ada dimana-mana. Ternyata, politik itu nggak sekedar politik di negara saja. Bikin partai itu adalah kegiatan politik? Iya memang. Tapi belum tentu semua politik itu harus bikin partai yah. Grosir aja! Wkwkwk...


KESEHATAN

Pro dan Kontra Imunisasi

Sejak jaman saya dulu lahir (mungkin dari jaman emak saya lahir), yang namanya imunisasi udah ada. Kalo nggak percaya, coba liat di tangan atau paha degh, pasti ada bekas imunisasi atau cacar tuh, istilahnya. Kalo ibu dan abang-abang saya, ada rata-rata di tangan ada kaya bekas luka. Nah kalo saya sendiri adanya di bagian pangkal kaki. Nah, sekarang ini, lagi musim juga yang nggak mau di imunisasi. Apapun katanya, anaknya nggak perlu diimunisasi. Ada yang bilang sih karena material imunisasi itu nggak halal. Soalnya ngambil dari bagian tubuh babi, orang mati, monyet, dan sebagainya yang membuat tidak halal. Coba cari sendiri degh kalo mengenai artikel ini. Saya nggak mau bahas detail di sini, soalnya nanti malah kok ngangkat pro kontra imunisasi.


Tapi kan jaman sekarang ini, kabar berita yang umum adalah anak bayi itu ya kudu diimunisasi kan? Bukannya biar sehat sih memang, tapi ya biar kalo sakit, nggak sakit-sakit amat gitu lho. Dan kalo kita lahiran, pasti sudah dijadwalkan untuk imunisasi kan? Lucunya lagi, di Indonesia itu ada imunisasi wajib dan imunisasi nggak wajib. Yang wajib itu ada 5 (hepatitis, DPT, polio, campak, BCG), yang bisa didapatkan gratis di Puskesmas atau posyandu di lingkungan rumah. Nah, yang nggak wajib itu (HIB, MMR, IPD, rotarix, dll) kudu bayar dan lumayan mihil harganya. Nares sendiri sih udah complete yang wajib, plus HIB untuk yang nggak wajib. Oia, wajib disini menurut standard dari Department Kesehatan RI ya.

Semakin kesini, semakin banyak yang kontra dengan imunisasi. Tapi yang pro imunisasi pun nggak kalah ngototnya. Mereka semua mempertahankan pendapat mereka apa yang mereka inginkan. Saling saut menyaut di group, jejaring sosial, tempat kicauan, dan sebangsanya untuk mengkampanyekan apa yang mereka perjuangkan. Yang pro imunisasi, pasti menuding yang kontra dengan alasan bla-bla-bla. Yang kontra imunisasi pun sebaliknya, pasti ngehajar balik dengan alasan ba-bi-bu. Oh no..., kasiyan buat yang nggak bisa menyerap dengan baik. Pasti dia bingung seada-adanya. Imun, nggak, imun, nggak. Iya kan? Kalo saya sih nggak mau bingung, soalnya suami saya pasti bisa menetukan pilihannya. Yes or no. Make it! Gitulah kira-kira kalo suami saya...

So, liat kan, setiap orang pasti punya kepentingannya masing-masing kenapa digelontorkan imunisasi dan tidak imunisasi. Yang nyuruh imunisasi dapat disinyalir karena mau ngambil keuntungan dari jualan vaksin. Kebayang kan, berapa hasil penjualan dari vaksin-vaksin itu? Sedunia ya booo, pada imunisasi gitu lho. Nah, mungkin yang anti imunisasi ini juga nggak rela si produsen vaksin bisa mengambil keuntungan dari jualan vaksin itu. Makanya jadi, dibuat gerakan “jangan beli vaksin” dengan meng’claim bahwa vaksin itu nggak perlu. Gitu kan? See, semuanya pasti ada maksud dan tujuan dibalik itu.


Air Susu Ibu dan Susu Fabrikan

Akh, ini mah paling keliatan nih, siapa yang berpolitik. Jelas sudah lah kalo produsen susu fabrikan itu mau ngambil keuntungan. Emang nggak kira-kira sih ngambil keuntungannya. Pernah denger aja lho, kalo marketing susu fabrikan bisa dapet hadiah jalan-jalan ke Eropa karena achieved target jualan susu fabrikan. Oh nooo, do they know kalo yang beli susu fabrikan itu banyak dari golongan yang nggak mampu? Mereka kok tega ya, ngambil keuntungan dari pihak-pihak yang justru harusnya dibantu? Susu fabrikan itu kan nggak murah lho? Coba, sekaleng besar itu harganya bisa sekitar Rp 200,000. Dan itu pun hanya cukup untuk seminggu kan? Lah kalo sebulan? Berarti kan sekitar Rp 800,000? Yah, kalo uang segitu mah, bisa-bisa gajian abis buat beli susu. Bandingan dengan ASI yang nggak perlu beli. Gratis, dari Tuhan. Nggak pake mahal.

Si bapak pusing milih susu fabrikan yah?
Nah, kemaren pas imunisasi campak dek Nares, terjadilah percakapan seperti ini antara bu dokter dengan saya...
DSA : “Anaknya masih ASI full?”
Saya : “Masih dokter”
DSA : “Coba kasih sufor ya? Jangan ASI melulu. Nanti kalo tiba-tiba ASI nggak keluar, jadi bayinya udah bisa minum sufor”
Saya : “Ooo, gitu ya dok” (nggak ngaruh akh, ASIin aja terus sampe kapanpun Nares mau)
Yah, lagi-lagi dokter jualan sufor. Kalo nggak jualan obat, jualan sufor, jualan vaksin degh!)
  
Tuh kan, sekarang ini nggak cuma politik bernegara aja yang lagi lagu keras. Tapi dunia kedokteran juga berpolitik. Gimana nggak politik, kalo si produsen susu fabrikan dan obat-obatan saling mensupport supaya jualannya laku? Ckckck, kasiyan yah, kita suka dijadikan objek!



TRANSPORTASI

Duuuh, Jakarta siyh nggak ada abisnya lah ya, ngomongin kemacetan! Tak ada duanya gitu, kalo Jakarta macet. Tapi sepertinya ya, kalo diperhatikan,solusi pemerintah (nggak tau pemerintah pusat atau pemerintah daerah), mereka kok kaya’ nggak perduli sama kondisi transportasi yang nggak layak ini yah?

Saya rasa, bukannya pemerintah nggak bisa atau nggak punya dana buat membangun satu sistem transportasi massal yang layak seperti di luar negeri. Bukannya nggak punya tenaga ahli juga untuk memikirkannya. Saya yakin, banyak orang pintar di Indonesia yang sangat paham teknis jaringan infrastruktur transportasi massal ini. Saya pribadi lebih cenderung kepada sikap pemerintah yang tidak serius untuk menangani sistem transportasi kita. Yes, absolutely they are not serious to take care of the problems and seems they don’t care.

naek kereta api, tut tut tuuut... *mana kereta apinya?
 Sekarang ini pemerintah lebih pro kepada pembebasan lahan utnuk bikin jalan toll ketimbang bikin jalur kereta api. Coba aja kalo diperhatikan, pelebaran jalan masih suka diliat kan? Tapi pernah liat penambahan jalur kereta? Perbaikan fasilitas kereta? Kenapaaa? Soalnya kalo kereta api, uang yang masuk nggak ada. Sementara efek pelebaran jalan toll adalah, ramai-ramai orang pada beli mobil. Sales untung, pajak masuk, bbm terkuras. Yaaa, nggak heran kalo pemerintah lebih cinta jalan toll ketimbang kereta api.

Nggak bisa di detailkan di sini ya, masalah transportasi. Nanti saya akan bikin postingan sendiri tentang busuknya transportasi di Indonesia. Kalo sebelumnya, sudah pernah ada postingan sedikit sih, cuma dikiiit. Tapi ya monggo mampir lah kalau berkenan.

See, another politic, kan? Ujung-ujungnya ada yang mau ngambil keuntungan secara sepihak. Mau supaya tujuannya tercapai. Yang pada akhirnya mengorbankan orang lain demi terwujudnya cita-citanya... Ironis!


TEMPAT BEKERJA

Duh, kalo disini sih udah nggak diragukan lagi ya pemirsaaaaah, pasti degh ajang politiknya kuenceng bener! Semua orang pasti punya ambisi dan kepentingan untuk  melancarkan keinginannya. Kadang jadinya malah nggak asik, karena sudah cenderung seperti suka menyikat teman sendiri. Musuh dalam selimut? Nggak heran! Duri dalam daging, udah biasa! Hahahaaa, berhati-hatilah di tempat kerja anda, karena yang namanya politik kantor itu pasti ada dan kadang bisa lebih kejam dari suster ngesot! Hayaaah...


Sodara-sodara yang dimuliakan Tuhan... hahaha, gaya gw udah kaya ustadzah ajah!

Begitulah politik. Selalu ada kepentingan individu untuk meluluskan keinginannya sehingga terkadang mengorbankan orang lain. Politik itu nggak hanya di tingkat negara, tapi sudah merasuk ke dalam kehidupan setiap individu. Nggak mungkin nggak bisa berpolitik setiap manusia. Karena apapun itu, ternyata dia berpolitik. Yaaah, hanya niat tulus dan ikhlas saja yang bisa mengimbangi politik yang dijalankan seseorang.

12.13.2011

RESEP HANDAL MPASI

This is it..., postingan tentang apa yang saya pikirkan. Topiknya seputaran MPASI si unyil mungil. Yups, masak memasak gitu loh, bu.

yuk makan yuuuk....

Sebagaimana di postingan saya sebelumnya, sudah jelas lah ya, kalo untuk makanan baby Nares, pasti saya bikin sendiri. Artinya, Nares itu ya makan yang tidak instant dan tidak beli (katanya sekarang ada yang jual bubur bayi sehat, lho). Semuanya dimasak sama ibunya, alias saya #nyengir. Dari mulai belanja, sampe buang-nuangin ke wadah makannya (food container). Jadi ya si mbak tinggal manasin dan nyuapin saja.

Saya sendiri dari kecil nggak pernah masak. Udah gede, paling banter masak mie instant, nasi goreng, telor ceplok, spaghetti (udah tob banget itu), dan masak nasi (pake rice cooker). Secaraaa, saya selalu dimanjakan sama ibu saya. Semua ibu yang masak. Palingan ya kalo mau, saya bantu-bantu nyiapin bahan aja di dapur. Yah, begitulah kisah saya yang tidak bisa memasak.

Begitu menikah, mau nggak mau masak buat suami. Beruntung, saya punya suami yang nggak cerewet. Makannya mudah, nggak pilah pilih (pokoknya asal jangan batang-batang sayur), trus yang paling kece adalah dirinya selalu menghargai masakan saya (yang mungkin jauh dari rasa enak). Makasih ya darling, dirimu selalu appreciate dengan hasil karyaku.

Cerita berawal dari sini nih, pemirsaaa... Ketika masa ASI Exclusive baby Nares selesai, berarti kan harus masuk ke masa MPASI (Makanan Pendamping ASI). Jeng jeng jeng dung pak pak dung! Makan makaaan. Dek Nares  harus makan lho. Heheee. Belajar sana sini di oprek di dunia maya alias browsing. Gabung sama group mpasirumahan di yahoogroup dan homemade healthy baby food di facebook. Hasilnya adalah, masak makanan bayi itu mudah ya. Weeheeeee, katanya mba Depe di mpasirumahan (sorry ya mba, nyatut namamu), masak makanan bayi itu gampang. Masih susahan bikin rendang Padang, katanya. Ini juga yang menguatkan saya untuk memasak makanannya Nares. Oia, saya juga sempet cerita-cerita sama ibuku, gimana caranya masak makanan bayi. Eh, malah kata ibuku, “Masak makanan bayi itu kaya’ maen masak-masakan kok, gampang banget. Ambil dikit-dikit bahannya, kan kukus-kukus doang. Ancurin. Udah”

Nah, makin semangat lah saya untuk masak-masak makanan Nares. Soalnya kalo dipikir-pikir makanan baby itu kan yang penting bersih, sehat, nggak pake pengawet. Nah, setelah belajar sana sini, baca ini itu, baru degh saya pahami, kalo makanan bayi itu nggak perlu gula, garam, dan bumbu penyedap. Hohooo, manteb lagh kalo begitu. Berarti hanya mengandalkan rasa asli dari bahan makanan tersebut. Gampang, berarti, nggak perlu nakar gula dan garam! Dan saya pun agak semakin lega mendengarnya. Saya sih bukan apa ya bu, cuma takut makanan nggak ada rasa, trus anaknya malah jadi nggak mau makan. Huaaa, sedih banget pastinya kan. *ketok ketok meja sambil bilang amit-amit.

Di kesempatan kali ini, saya mau cerita, betapa mudahnya bikin makanan bayi. Bukan cara bikin makanan bayi ya, tapi kali ini lebih kepada konsep makanan bayi. Makanya, kalo ada yang suka tanya, resep makanan bayi umur 7 bulan sampai 9 bulan, saya suka bingung. Soalnya, saya nggak pernah pusing sama pertanyaan, “Mau masak apa, ya?” Saya itu lebih pusing dengan pertanyaan, “Mau belanja apa ya?” Kenapa? Soalnya pengen banget ngasih Nares jenis-jenis makanan yang baru yang belum dicoba sama Nares. Trus takut salah-salah ngasih jenis makanan. Iye, salah-salah kan bisa keracunan atau alergi. Tapi, kalo salah dengan resep makanan, mudah-mudahan si baby nggak kenapa-kenapa, paling banter ya nggak mau buka mulut.


Baby food umur 6 bulan.

Makanan apa sih yang cocok? Buah, sayur, apa beras-berasan?
Apaan aja boleh kok. Sayur bisa, buah boleh, beras-berasan juga gak masalah. Suka-suka emaknya aje dah yang mau ngasih. Dulu sih Nares dikasih beras-berasan saja. Itu lho, pake tepung Gasol. Tepung beras yang tinggal dimasak. Dimasak yah, bukan diseduh air panas. Kira-kira selama sebulan, Nares makan tepung Gasol. Katanya kalo ngenalin beras duluan, takut makan sayur dan buahnya susah. Nggak juga tuh! Nares dikasih beras-berasan di awal MPASInya, tapi sempet gak mau makan nasi pas diumur 8 bulan. Jadi, slogan itu sih kayanya nggak ngaruh. Lha kalo buah, apaan juga dihajaaar! Sikaaat, bleh!

Makanan Nares di umur 6 bulan ini masih yang halus banget. Bubur tepung Gasol yang udah dimasak aja harus disaring lagi, biar lembut banget.  Buah juga abis diblender, disaring lagi. Eh tapi kalo kaya pepaya dan alpukat, sih ya nggak usah diblender. Saring saja sudah cukup.

Lolos di umur 6 bulan ini untuk Nares adalah : alpukat, apel (bikin susah pup), pear, pepaya, jeruk, kabocha, zukini, buncis, dan oatmeal.


Baby food umur 7 bulan.

Semakin lama, semakin banyak yang boleh dikenalin ke Nares. Conteknya dimana? Pastinya di group mpasirumahan yawh! Banyak diberikan kemudahan untuk dipelajari. Untung aja udah jamannya internet dan bisa browsing. Makanan Nares di umur 7 bulan, nggak jauh juga cara masaknya kaya makanan Nares umur 6 bulan. Ya palingan kukus dan blender. Udah degh, taraaa, jadi! Cumaaa, di umur 7 bulan ini, jenis makanannya udah bertambah jenisnya.

Lolos di umur 7 bulan ini untuk Nares adalah : tahu, bunga kol, kentang, tempe.


Baby food umur 8 bulan.

Yeheee, semakin naik lagi  dan banyak lagi yang boleh dimakan sama Nares. Kali ini Nares udah boleh makan bubur nasi, makan daging, makan sayuran yang beraneka ragam macam. Yehaaa, emaknya semakin doyan belanja ke pasar. Dan jujur aja, pas masa 8 bulan ini saya excited sama jenis makanan yang boleh dikasih ke Nares. Setelah 2 bulan bosan sama menu yang itu-itu aja, akhirnya naek tingkat lagi dan lagi. Apalagi nih, umur 8 bulan ini udah bisa dikasih bumbu dapur yang versi ringan. Jadilah bawang merah, bawang putih, bawang bombay, daun bawang, daun seledri dikasih buat makanan Nares.

Cara masaknya gimana? Ya udah, still the same with the previous one kok. Cuma kukus, trus blender. Atau nggak, rebus, blender. Resep? Jangan tanya resep dah. Nggak pake resep-resepan kalo emaknya Nares masak makanannya Nares. Secara kalo kaldu juga cuma ditambah bumbu dapur yang diatas yang udah disebut tadi. Jadinya ya masak kaldu, ditambah bawang bombay, daun bawang seledri, jahe. Udah degh! Yah, secara kalo nyontek di group juga cuma begitu-gitu doang bumbunya. 

Lolos di umur 8 bulan ini untuk Nares adalah : kangkung, ubi, wortel, jambu biji, melon, lobak, sawi, brokoli (sempet merah-merah dikit badannya), kacang merah, kacang hijau, terung, asparagus, daging sapi, daging ayam, daging ikan, ati ayam, keju, bayam, jagung, tomat.


Baby food umur 9 bulan.

Yeeeaaah, 9 bulan makanannya makin banyak lagi. Urusan tekstur, udah pernah dibahas di postingan sebelumnya. Coba intip yah, kalo mau tingak tinguk. Nah, mulai 9 bulan, masak makanan Nares gimana? Ya masih sama aja tuh. Cuma kukus atau rebus dan kemudian blender. Gampang kan? Sooo, apa yang mau di-resep-in? Nggak perlu kan? Hihihi, tinggal nyontek bahan-bahan, masak-masak, jadi degh! This is it, makanan baby Nares! Hahaha, gampaaang! #sombong

Lolos di umur 9 bulan ini untuk Nares adalah : kuning telur, kiwi, kacang polong (harusnya udah kacang polong udah bisa dari 8 bulan).

Nah, ceritanya baru sampe umur baby Nares 9 bulan aja yah, soalnya di pas bikin postingan ini, Nares baru umur 10 bulan. Belum punya pengalaman nih emaknya...

Pemirsah, jadi masih perlu resep? Masih suka ada pertanyaan, “Bundaaa, aku punya ini itu anu dan ono, enaknya dibikin apa ya? Minta resep dooonk, baby-ku umur 7 bulan neh” atau mungkin "Emaaak, minta resep donk, gimana bikin kacang ijo buat baby umur 8 bulan?" Ngoook, kayanya nggak segitu-gitu butuh resep degh kalo masih umur segitu. Ayo coba tingkatkan kreativitas diri untuk si unyil tercinta. Baby nggak perlu makanan enak, yang penting ada rasa dan sehat bergizi. Enak menurut baby itu belum tentu enak menurut kita lho. 

Resep handal buat masakan baby kita tuh sebenernya adalah cuma 3 dibawah ini kok. Itu pun yang nomor 3 masih bisa toleransi untuk nggak punya. Yang penting itu yang nomor 1 dan nomor 2 saja.
  1. Niat yang kuat.
  2. Kreativitas yang tinggi.
  3. Kesabaran yang tiada batas untuk belajar seluk beluk MPASI.
Selamat masak! Baby sehat, ibu senang, bapak bahagia!

12.12.2011

UTILITAS INI

Duuuh, kali ini pengen banget numpahin kekesalan hati yang mendalam, walaupun kejadiannya udah lewat dan berlalu. Complain abish degh ceritanya di marih yak. Tapi ya hanya bisa complain dan complain, gitu lho... Cabe ndiri jadinya degh!

Jadi begini, ini postingan mau mengungkapkan, betapa saya sebagai seorang warga Jakarta yang telah dizolimi oleh fasilitas pelayanan publik yang telah merugikan saya. Duuuh, plis degh ya, secara fasilitas itu semuanya juga nggak gratis! Tiap bulan kita (baca: suami) bayar dan tidak boleh telat sedikit pun! Telat means denda. Good yah? Tapi kalo kita nggak disupply, kita nggak bisa complain ke mereka. Pengen ditelanjangin aja deh rasanya itu orang-orangnya. Abis itu orangnya dicemplungin ke empang komplek gw, bersatu sama ikan lele dan tokai, biar pada rasa! Coba deh baca curhatan saya, betapa saya disusahkan sama penyedia fasilitas utilitas publik di Jakarta.


PAM mati pas Lebaran

Di rumah saya memang sumber air itu cuma dari Perusahaan Air Minum (PAM) aja - walaupun airnya nggak enak untuk diminum dan saya pun pake air mineral galon untuk minum. Nggak ada air sumur tanah lagi di rumah saya. Pompa-nya ada, tapi rusak! Hufth, bukan rusak sih sebenernya. Hanya aja dari awal beli nggak pernah bener itu pompa (tukang yang masang jahat, barang bekas dipasangin juga). Jadinya, ya kita hanya mengandalkan PAM buat supply air di rumah. Sekalinya PAM mati, ya wassalammualaikum pula lah nasib per-airan di rumah.

Naaah... Di hari ke-3 Lebaran Idul Fitri 2011, PAM mati. Bener-bener kejadian yang menyesakkan hati ini. Pilu *lebaaay! Jadinya di hari ke-3 lebaran tahun 2011 itu, supply air udah mulai kecil dan kecil. Begitu air kecil, langsung deh tampung dan tampung. Lumayan, buat bertahan sampe di hari ke-2 nggak ada air PAM. Memang di hari itu pun kita rencananya mau nginep di Cibinong, tempat pakdhe dan budhe-nya Nares. So, lumayan lagh nggak mikirin air. Nginep semalam saja di Cibinong.

Pulang ke rumah, dipikir air udah nyala, ternyata kok ya belum. Hiks hiks hiks, mana punya bayi pula! Butuh air bersih! Nggak tau apa ya itu orang PAM, air bersih itu penting buat kehidupan. Nggak mikir apa ya, dia, kalo air bersih itu kita bayar! We’re costumer, we pay for it! Hey, come on PAM, please do your job! Ga pernah bayar telat deh eikeee! 

Karena udah nggak punya air bersih, terpaksa minta ke rumah om yang ada di komplek juga. Masih untung punya om yang tinggalnya sekomplek dan nggak pake PAM pula. Jadilah si bapak alias suami saya bolak balik ke rumah si om untuk minta air. Nah, kalo tetangga saya pada ngambil di sekolahan komplek tuh. Ada juga yang ngambil di mesjid, ada juga yang ngambil di balai warga. Huh, bikin kerjaan orang ajah!

Tunggu di tunggu, ternyata mati-nya selama 5 hari. Lumayan yah sodara-sodaraaa! Dipantau-pantau, ternyata air bersih nggak disupply karena ada tanggul Kalimalang yang jebol! Boleh nemu beritanya disini. Yah ampuuun, masa’ masalah begituan doang sampe harus ngorbankan konsumen sih? Bener lho, supply air yang terhenti begini merugikan banget. Kenapa? Lah iya dooonk, kan kita jadinya harus extra kerja keras untuk dapetin air bersih. Iya kalo yang masih bisa minta, lha kalo harus beli? Kan harus keluar duit lagi. Saya sendiri karena minta sama si om, nggak perlu beli! Tapi akhirnya keluar bensin buat mondar mandir ngangkut air pake mobil! Cabeee degh! Lah, orang-orang nggak sedikit lho yang harus beli air bersih. 

Saya sebagai orang awam yang sangat buta dengan perairan rada sedikit berfikir dengan kejadian ini. Tanggul jebol, supply air terputus. Apa ya iya sih, masa’ sumber airnya cuma berasal dari satu sumber? Punya back-up sumber air gitu lho harusnya. Jadi ketika ada masalah dengan satu sumber, masih bisa ngandelin sumber lain buat supply airnya. Jadi konsumen nggak perlu dirugikan sampe kaya’ gitu. Huuuh, heboh tau, ga ada air! Biasakan donk, lakukan plan B ketika plan A tidak berjalan sesuai harapan. What a mess banget ini negara!  

Coba liat ini slogannya PAM Palyja : Customer Come First. Hahahahaaaa, kaya’nya nggak cucok ya degh bu, mau pake slogan begituan. Customer mana yang di-first-kan? Hayooo?

Palyja : Customers Come First?


Neh, cerita sakit hati kedua dengan tersangka si PLN.....
  
PLN mati 12 jam

Nah nih lagi nih, hari Kamis (8 Desember 2011) kemaren pasokan listrik terputus selama 12 jam. Dua belas jam, bu ibu pak bapak... Bener-bener kebangeteeen neh PLN! Sebenernya sih mungkin kalo nggak karena tabungan Air Susu Ibu diPerah (ASIP) yang banyak di freezer, saya nggak akan sekhawatir ini. Ya gimana nggak, ya? Kan eike nyimpen ASIP di freezer itu sebanyak 90 botol, tambah lagi sekitar 40kantong. ASIP itu kan ngumpulinnya pake perjuangan banget-banget sampe berdarah-darah. Nggak lucu aja kalo harus rusak ASIPnya karena PLN nggak supply listrik! Semprul bener degh tuh PLN.

Suami dan saya sudah antisipasi mau pindahin itu ASIP ke rumah Kedoya kalo jam 4 pagi belum nyala juga. Hiks hiks, sungguh nggak tega sama ASIP-ASIP itu. Itu ASIP botol ada nyawa-nya lho. Itu air ajaib yang bisa bikin Nares sehat dan pintar. Kalo sampe rusak karena PLN mati, saya mau tuntut perusahaan tersebut. Saya mau suruh dia ganti ASIP juga! Nggak mau tau caranya! Biar dia rasa tuh PLN. Sekonyong-konyong dia matiin listrik tanpa pemberitahuan. Gimana nggak ngamuk coba!!

Jadi begini ceritanya. Jam 3 itu saya telpon ke rumah untuk nanyain keadaan Nares. Eh, si mba’nya laporan degh, kalo di rumah itu masti listrik dari jam 12. Huhuu... Lama aja yah, metongnya? Ajegile PLN, mbo’ ya cepet itu dibenerinnya? Ojo suwe-suwe yo mas?

Nungguin dari jam ke jam, supply listrik belum masuk juga. Huuu, ini sampe digigit nyamuk. Mana panas pula! Lengkap lah. Oia, ada kejadian ledakan di gardu lho. Pas jam 7 malam, tiba-tiba ada suara ledakan dari dalam gardu listri, beserta cahaya putih yang keluar. Hidiiih, serem ya bu dan pak?! Ternyata bener aja, kata ibu tetangga, trafonya meleduk! Mbledosss... Kacaaau, kacaaau... Lha nggak heran kalo trafo-nya meleduk, ya teknisi aja pada ngerokok di seputaran gardu kok. Please deh ya boook, nggak proper banget gitu lho! Mungkin sih ngga ada hubungannya. Tapi kan mereka kerja di daerah yang rawan terbakar dan mereka merokok disituuu! 

Eh, pemadaman ini gw 'kicau'kan di twitter ke account @protespublik lho... Dan di respons sama @protespublik. Di follow ke PLN-nya. Dari @protespublik barulah ketahuan, ternyata kemaren itu ada jadwal maintenance PLN. Oh gusti Allah, mbo' ya kalo ada jadwal maintenance gitu ini konsumen di woro-woro gitu! Jangan tanpa pemberitahuan gitu donk! 12 jam itu nggak sebentaran, bung! Coba aja kalo di rumahnya dimatiin listrik segitu lama. Apa nggak senewen juga? Apa ngga mau ngamuk? 

Ah, nih coba baca kewajiban PLN terhadap konsumen. Saya nemuin di webnya PLN.
Sesuai ketentuan Pasal 29 Undang-Undang No : 30 Tahun 2009 Tentang Ketenagalistrikan, Konsumen berhak untuk :
a) Mendapatkan pelayanan yang baik
b) Mendapatkan tenaga listrik secara terus menerus dengan mutu dan keandalan yang baik.
c) Memperoleh tenaga listrik yang menjadi haknya dengan harga yang wajar
d) Mendapatkan pelayanan untuk perbaikan apabila ada gangguan tenaga listrik
e) Mendapat ganti rugi apabila terjadi pemadaman yang diakibatkan kesalahan dan/atau kelalaian pengoperasian oleh pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik  sesuai syarat yang diatur dalam perjanjian jual beli tenaga listrik

Tapi kok ya sepertinya kewajiban PLN di atas hanya sekedar angin lalu yah?

PLN oh PLN...

Nah, kalo udah pada kejadian di atas yang mati listrik itu, siapa mau tanggung jawab? No one and nobody pastinya. Yaaah, nasib deh ya, jadi warga Jakarta ini....

12.09.2011

BELAJAR MAKAN


Bismillah...

Kali ini mau cerita, ninggalin jejak dek Nares belajar ngunyah di blog. Gini lho ceritanya, di umur Nares yang mau ke 10 bulan, Nares masih agak susah kunyah-kunyahnya. Saya sudah agak parno ketika baca di milis mpasi rumahan, banyak baby lain yang umur 10 bulan udah makan nasi lembek. Waaad? Yah, Nares boro-boro nasi lembek. Diumurnya hampir 9 bulan, Nares masih makan bubur saring ya bu... Habis gimana dong, orang kalo dikasih yang agak kasar suka howak howek. Ya sudah lah, mari kita beri kelonggaran. Why? It’s because I know how my baby, not others. Nggak apa-apa ya, dek, namanya juga belajar, pelan-pelan juga nggak apa-apa. Tapi janji ya, dek Nares harus belajar. Nanti sama ibu belajarnya...

Pas waktu umur 8 bulan udah dicoba kasih yang agak kasar, tapi belum mau. Pas disuapin, Nares howek howek dan howek. Kasiyan banget ngeliatnya. Nggak tega. Jadilah dikembalikan ke tekstur yang lebih ringan alias di blender dan saring. Nah, semenjak blender dan saring, Nares jadi cepet banget makannya. Sekitar 10 menit pasti itu mangkok makanannya udah bersih. Ludes ya ciyn... *jempol buat Nareswari. Anak inu makannya lahap ya, sama kaya ibu! Eh, bapak juga ding...

Masuk 9 bulan, mulai ngajarin Nares dengan tekstur yang lebih kasar. Masih di blender, tapi nggak saring lagi. Yah, namanya juga belajar, mau nggak mau harus dicoba. Jadi di umur 9 bulan ini makanannya udah nggak saring lagi. Tapi cukup sampe tahapan blender saja. Oia, sebelum di blender, tetep ya, itu makanan di grinder dulu pake Munchkin grinder. Soalnya kalo cuma dipotong kecil-kecil, kadang nggak ancur di blender  dan masih suka ada itu potongan-potongan kecilnya. Daripada susah-susah nanti milihinnya lagi, akhirnya sebelum masuk blender-an, digrinder dulu degh bahannya. Oiya, kalo lagi males pake grinder, biasanya aku pake parutan tuh. Kece juga noh parutan!

Alhamdulillah, Nares bisa terima ya, makanan yang nggak disaring. Mau juga ya booo, deske. Awal-awal pemberian siyh emang agak pelan makannya, sekitar 20 menit. Tapi udah kesini-sini lumayan cepet kok. Pernah waktu itu sekali di hari Minggu, Nares makannya lebih cepet ketimbang aku yang makan nasi uduk. Huahahaha... kalah saing nih emaknya! Hebat deh Nares, ibu seneng!

Masuk di 9 bulan dan 2 minggu, mulai naek tekstur lagi ya, nak... Ibu mau ngajarin lepas blender nih dek. Tapi tetep digrinder kok, dek. Tenang aja. Nah, masuk di 9 bulan 2 minggu, ibu ngasihnya pun bertahap. Awalnya, makan pagi doang yang di grinder, yang makan siang dan makan sore masih blender. Trus 3 hari kemudian, makan pagi dan siang grinder, tinggal makan sore yang blender. Sampe akhirnya, jreng jreng jreng... lepas lah itu blender. Bye bye blender. Sampai jumpa lagi yah... Nares udah nggak blender-an nih makanannya. Sekarang jadilah mengandalkan sang grinder. Udah lega deh, soalnya pas ngingep di rumah pakdhe dan budhe-nya Nares di Cibinong, Nares udah bisa makan yang nggak di blender lagi. Yippie beud yak!

Kalo di rangkum, ini tahapan tekstur makanannya Nares:
















Eh, tapi pas mau lepas itu blender, Nares diajarin kunyah-kunyah lho sama ibu. Caranya? Hehehe, finger food pake safety feeder. Ini beli-nya satu paketan sama grinder. Biasa degh, online shop gitu! Nah, ngasihnya pas malem. Barengan sama makan malem bapak ibu (secara kalo pagi sampe sore, bapak ibu nggak bisa nemenin adek makan). Jadinya, bapak ibu makan dan dek Nares bisa ngemil sambil belajar kunyah pake safety feeder. Ya, itung-itung cemilan lah. Nggak makan kok, Cuma nyemil sambil belajar kunyah. Yuk mare liat penampakannya...

Liat nih, dek Nares lagi belajar kunyah-kunyah. Ini masih dipegangin sama bapak. Abisnya belum mau pegang sendiri.



Nah, yang ini dipegangin sama ibu, safety feedernya. Belum mau pegang juga nih... Ayo donk, dek... pegang sendiri feedernya...



Masih nggak ngerti juga kali ya, cara pegang feeder, walaupun dah diajarin. Hahaha... unyu banget neh, akhirnya feeder digeletakin di tray high chair. wkwkwk... unyu bangeeet!



Horeee, akhirnya bisa pegang feeder sendiri! Berhasil berhasil dan berhasiiil.... Yippie... dek Nares pegang feeder sendiri! Cakeup banget lah kamu dek... Keceh abeeesh! 


Nah bu ibu pak bapak tak iye..., semoga di kedepannya Nares makin pinter ya, makannya. Semoga Nares mirip bapak ibunya kalo udah urusan makan. Yang semuanya disantap yang semuanya dimakan. Kalo batu bisa dimakan, mungkin udah dimakan juga. Wkwkwk... 

11.30.2011

AKHIRNYA, TANPA BREASTPUMP!

Akhirnya saya merasakan juga, seret pumping! Rasanya mau nangis degh, tapi kalo kata suami saya, nangis juga nggak berarti ASInya akan keluar. Marah juga ASInya nggak akan deres. Hufth, bingung jadinya harus gimana lagi. Akhirnya saya merasakan gimana rasanya sedih ASI susah keluar. Soalnya ada beberapa kerabat dekat yang bercerita kalo mereka susah pumping. Tapi kalo anaknya mimik langsung, lancar jaya. Wuzz wuzz...  Duh Gusti, mohon ampun kalo saya ada salah! Ini ASInya jangan dikurangin donk...

Hari ini rasanya sudah hopeless banget saya. Pumping pagi bangun tidur dapetnya 50ml dari biasanya yang sekitar 80ml. Terus saya pumping lagi sebelum berangkat kantor, dapetnya 20ml dari yang biasanya sekita 50ml. Ya Allah, saya nurunin 400ml buat Nares. Tapi ini baru dapet 70ml. Masih ngutang 330ml. Huaaa, banyak banget! Perjalanan masih panjang. Kalo tiap kali pumping dapetnya segitu, gimana bisa balance? Pasti bandar nombok neh? Kemaren aja udah nombok 1 botol.

(Walaupun di freezer masih penuh sama ASIP, tapi saya kan nggak mau lengah. Nggak boleh terlena dengan freezer yang penuh ASIP. Balance tiap hari itu target saya. Mungkin terlalu perfeksionis, tapi saya maunya gitu. Kalo tiap hari lengah, terlena, bisa-bisa dek Nares nggak kebagian ASI sampe 2 tahun. Saya kan maunya Nares bisa mimik ASI sampe 2 tahun)

Sessi pertama perah di kantor jam 11:30. Siap-siap cuci tangan, pasang breastpump dan perintilannya. Bismillah, semoga ASInya yang keluar banyak. Tapiii... ini horror banget neh! Udah 5 menit mesin breastpump nyala, tapi nggak setetes ASI yang turun di botol. Pasang breastpump udah bener, sama seperti biasa. Adoooh, ini kenapa segh? Okey, coba benerin perlekatannya. Tapi kok nggak mau juga ya? Putus asa degh rasanya *bersandar ke tembok ruang mompa. Yang ada di pikiran saya, “masa iya sih, saya pulang nggak bawa ASIP? Nares gimana? Ya Allah, jangan diambil ASInya dooonk. Nares masih butuh. Saya pun butuh, buat Nares.

Setelah dicoba lagi tapi tak berhasil, dengan tekad kuat sekuat baja komposit K-225, saya coba perah pake tangan. Bismillah aja. Pasti emang belepetan. Secara saya nggak jago marmet (teknik perah ASI pake tangan), tapi semangat membara buat dapetin ASIP. Semangkaaaaa....

Pelan pelan dan pelan. Setetes setetes dan setetes. Pegel pegel dan pegel. Hahaha! Tapi beneran pegel lho. Mungkin karena nggak biasa perah tangan selama ini kali ya, jadinya pegel. Kalo udah biasa sih, mungkin nggak. Mungkin lho, ya? Kan saya sendiri juga belum pernah coba lama-lama.

Nah, setelah 10 menit perah pake tangan, ini lah pendapatannya! Yahelaaah, kok pendapatan sih? Emang uang?

nyaris 50ml yah?

 Dan setelah 30 menit perah, ini lah yang saya dapatkan, sodara sodara!!!

This is it! 70ml

Taraaaa... hihihi 70ml lho booo! Ini sesuatu banget lho! Nggak nyangka saya. Bisa juga perah pake tangan. Walaupun tangan pegel-pegel, tapi rasanya terbayar degh dengan ASI yang banyak itu.

Tau nggak sih, apa yang ada di benak saya, selama saya perah pake tangan? Ini yang ada di benak saya:
  1. Jadi ibu itu susah juga ya? Ini buktinya, harus rela-rela pegel untuk ngeluarin ASI
  2. Jadi ibu itu penuh perjuangan ya? Ini buktinya, harus rela puter otak gimana caranya biar anaknya dapet ASI.
  3. Bener banget ya, setetes ASI itu mahal banget. Ya itu coba caranya diperjuangkan segimana mungkin supaya ASInya keluar.
  4. Pantesan aja ya, ibu ASI itu hebat. Perjuangan perah ASI itu ternyata nggak mudah, ada aja cobaannya.
  5. Ya Allah, masih bersyukur saya, masih bisa dikeluarin ASInya.

Hah, 30menit sudah perah pake tangan ini dan hasilnya juga cukup memuaskan saya. Saatnya kembali kerja di meja dan senyum sumringah karena dapet 70ml di sesi pertama ini. Perjalanan masih panjang. Tapi setidaknya saya tetap harus menyimpan semangat itu. Sewaktu-waktu saya butuh, bisa saya pergunakan lagi. Heheee...

Oia, ini ada link yang bisa dijadikan acuan untuk perah ASI pake tangan alias marmet. Mudah-mudahan berguna buat yang membaca. Kali aja suatu waktu membutuhkannya:

Semangat ASI!

Terima kasih ya Allah, hari ini ASInya bisa keluar. Besok jangan dikredit lagi ya, ASInya...

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post