Showing posts with label Seputar Nares. Show all posts
Showing posts with label Seputar Nares. Show all posts

2.24.2019

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa jangan-jangan saya doang yang merasakannya ya? 

Ini emang berasa banget semenjak saya menjadi orang tua yang anaknya ada di TK. Dulu, waktu masih di TK, Nares udah kena yang namanya Calistung (Baca, Tulis, dan Berhitung). Agak kaget juga waktu itu, karena anak umur 5 tahun sudah diajarkan membaca, menulis dan berhitung... Tapi ya mau gimana tho? Emang bisa apa saya melawan? Saya, waktu dulu TK sih sama sekali belum kena yang namanya Calistung itu. Ya walaupun kena, tapi hanya sekedar pengenalan. Mengenal angka dan huruf. Belum sampai tahap yang bisa membaca, bisa menulis kata, dan menghitung.

Jaman sekarang...? Jangan tanya... anak-anak semakin dini diajarkan di sekolahnya...

Makin terasa ketika Nares masuk SD. Nares memang masuk SD yang tidak pakai test Calistung. Namanya juga masuk SD Negeri, nggak pakai test apa-apa pun. Syarat masuk SD Negeri hanya umurnya sudah memenuhi syarat. 7 tahun adalah syarat masuk SD Negeri, lewat 7 tahun, lebih mudah, dan kurang sedikit ya tunggu nasib. Ceki-ceki deh, buat yang mau masuk SD Negeri di sini. Mudah-mudahan masih update ya...

Beda ya, kalau mau SD swasta, banyak syarat-syaratnya. Beberapa memang menerapkan test baca tulis hitung untuk masuk SDnya. Memenuhi nilai pada test, bisa masuk. Nilai kurang, ya udah lah ya... selamat jalan kekasih, sampai jumpa pada kesempatan berikutnya... 
😆😆😆

Cerita dikit ya... waktu jaman saya SD, masuknya nggak pakai test nggak pakai apapun. Masuk kelas 1 SD, saya baru diajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Bu Guru saya (nama beliau adalah Ibu Cut), dengan sigapnya mengajarkan anak-anak calistung. Iya banget, kesimpulannya, saya bisa baca nulis dan hitung itu ya waktu kelas 1 SD, bukan di TK. 

Jaman sekarang, di TK sudah pasti diajarkan calistung. Kelas 1 SD jangan ditanya lagi apa yang diajarkan. Ngeri banget lihatnya... E tapi karena SDnya Nares adalah SD Negeri, jadi bersyukur sekali masih mengajarkan calistung di awal masuk sekolah.

Sekarang, anak sya udah kelas 2 SD. Sebagai ibu yang selalu mendampingi anaknya mengerjakan PR di rumah, ngeliat materi yang diajarkan kelas 2 SD kok mengerikan sekali... Kelas 2 SD ini, anak-anak sudah diajarkan yang namanya konversi. Konversi berat dan konversi panjang. Agilak banget ini sih..., anak kelas 2 SD, sudah harus belajar konversi panjang, meter ke centimeter... konversi berat, dari kilogram ke gram lah... ke ons lah... ewww... percaya sama saya, orang tua aja ada kok yang udah pada lupa materi konversi ini. 

Kelas 2 SD lho, ini...
(gambar dari sini)
Parah abis deh ya..., jaman saya dulu, ini belajar konversi macam ini, kelas 4 dan 5 SD. Yups... ini juga setelah belajar perkalian yang sudah matang. Ketika perkalian sudah matang, hafal di luar kepala, baru belajar konversi macam begini. Pondasinya kuat dulu, baru nanjak naik ke atas. Ini sekarang gimana ceritanya? Perkalian belum habis dikupas, sudah dibantai sama pembagian, lalu dihantam lagi dengan konversi macam ini.. Gusti... 

Duh ya... apa perlu banget sih, anak seusia 8 tahun (mungkin ada beberapa yang masih jalan ke 8 tahun), belajar konversi berat dan panjang begitu? Apa perlu? Apa nggak lebih penting dia berkreasi? Mengaplikasikan ide-idenya yang cemerlang? 

Pertanyaan dari saya nih... siapa sih yang menyusun kurikulum anak SD itu? Sampai sebegitu beratnya? Apa penting bangget buat anak kelas 2 SD? Sejauh apa sih materi yang dikasih bisa diaplikasikan pada kehidupan mereka sehari-hari...

E btw, ini yang merasa keberatan, saya doank apa gimana sih...? Coba deh... mungkin ada yang merasa fine-fine aja gitu?

1.18.2018

SESERUAN LIBURAN AKHIR TAHUN DI JAKARTA

Mati gaya sudah liburan mau kemana. Seperti biasa, si bapak dan si ibu ogah pergi keluar kota kalau musim liburan begini. Alasannya banyak. Pertama, biaya liburan pasti membengkak. Kedua, tempat liburan jadi kayak cendol dawet. Ketiga, liburannya jadi nggak nyaman lagi. Jadilah, kita sekeluarga akhir tahun 2017 nggak kemana-mana. Alhamdulillah, kita menikmati sepinya kota Jakarta (yang katanya kejam ini). Emang banget, antara pelit sama perhitungan dan nggak mau rugi itu beda tipis banget udah kayak kulit crepes!

Walau liburan nggak keluar kota Jakarta, sebagai orang tua yang bijak, tetap berusaha menyenangkan si anak. Gimana caranya, biar liburan walau nggak keluar kota, mereka tetap punya cerita berlibur. Berlaku buat si kakak aja, karena si adek masih batita dan belum paham artinya libur. Jadilah kita berlibur muter-muter kota Jakarta sebagian kecilnya saja. Yang paling penting itu emang pengalaman anak-anak aja. Hahaha, anak seumuran SD kelas 1 belum paham yang libur mahal dan murah, kan? Jadinya, yang penting mereka happy!

Keluarin list tempat yang akan dikunjungi selama liburan, dan yang paling memungkinkan dan mendesak adalah: NAIK BUS TINGKAT! Sebenernya emang bus tingkat ini bukan barang baru buat saya, tapi buat di kakak, iya banget. Dulu pernah, waktu itu kita udah pernah mau coba naik bus tingkat. Tapi karena dulu itu armada belum banyak, jadilah berebutan gak karuan kalau mau naik. Alhasil kita males lah mau naik, rebutan sama anak-anak muda yang gesit nian. Skip. Masih ada lain hari, dan kemarin inilah waktunya. 

Berangkat dari rumah (milih naik taxi nggak bawa mobil sendiri karena belum tau rencana selanjutnya), pk 10.00 menuju Masjid Istiqlal. Kenapa ke Istiqlal? Karena saya pernah ngeliat kalau disini banyak bus tingkat yang "mangkal". Istiqlal dari rumah saya nggak terlalu jauh, makanya saya pilih kesini.  Sampai di Istiqlal, bus tingkat sudah tersedia. Langsung naik menuju ke Lapangan IRTI alias Monas. Bayar berapa? Gratis! Bahahaha... pilihan tepat buat liburan, kantong saya nggak bolong! Biar murah, yang penting seseruan kan?

Bus Gratis bertiket

Silahkan pilih tempat duduknya...
Jadi, route bus tingkat itu ada 3:
Route 1 - Istiqlal/Pasar Baru - Bunderan HI - Pasar Baru
Route 2 - Lapangan IRTI - Kota Tua - Lapangan IRTI
Route 3 - Lapangan IRTI - Semanggi - Kalijodo - Lapangan IRTI

Saya milih di route yang ke-3. Pengen banget liat Kalijodo, gitu lho! Yang waktu itu mau ngebangun Kalijodo penuh dengan "keramaian". Sekarang dibangun RPTRA Kalijodo pun penuh dengan "keramaian". Akh, Jakarta emang selalu ramai... --- kembali ke topik ---

Nunggu bus tingkat di Lapangan IRTI yang menuju ke Kalijodo itu lamaaa. Ini sampe setengah kesel nungguinnya (Kenapa cuma setengah? Karena naiknya pun gratis. Jadi nggak usah mereh-mereh). Denger punya denger informasi dari petugasnya, hari itu bus tingkat yang ke Kalijodo ada yang rusak 1 armada, makanya waktu putarannya lama. Maigad lah, emang nggak bisa ya, pinjem bus yang lain buat ganti yang ke Kalijodo? Sementara bus route lain tiap 5 menit datang, yang route Kalijodo mah lama bingit.  (Kan ai dah bilang, ini gratis - jangan banyak cakap).

Bus datang kami pun naik! Duduk manis diatas, dan mulai lah liat sana sini. Anak-anak senang dan gembira, ibu pun happy lah ya... Oh iya, selama di bus tingkat ini nggak boleh makan minum ya. Sama kayak naik KRL dan TransJakarta yang tidak boleh makan minum. Diatas bus, kita dikasih karcis sesuai dengan jumlah penumpang (buat apa? gak ngerti). Perjalanan bus ke Kalijodo menempuh waktu selama 30 menit. Lancar jaya karena waktu itu musim liburan dan hari Jumat (tidak tanggal merah) - makanya lancar jaya abadi. 

Menikmati Sepinya Jalanan Jakarta

Kalijodo inilah rupanya

Selesai dari Kalijodo kita kembali ke daerah Jakarta Pusat. Kita turun di Sarinah. Tujuan selanjutnya adalah makan siang di restoran cepat saji yang terwahid disana. Playground jadi tujuan si bocah. Ya silahkan lah nak, main lah sepuasmu disana. Gratis aja kok... Bahahahaa! Yang penting perut kenyang dan hati gembira. Apalagi kan? Mau mendustakan nikmat Allah yang mana kalau sudah begitu? Bukan begitu, bukan? 

Selesai makan, kita pulang arah rumah pakai TransJakarta. Nares udah bayar dan Nara belum perlu bayar. Hahaha... hari itu emang hari penuh berkah buat jalan-jalan menghibur anak-anak. Macet sih nggak, cuma emang karena Jumat sore menjelang akhir tahun, jadinya ya sedikit padat. Tapi masih bisa ditolerir banget kok. Yang nggak bisa ditolerir cuma satu, si Nara minta gendong pas turun di Interchange Grogol. Alamaaak, dia ngantuk, nggak mau jalan. Jadilah emaknya gendong bocah.

Kemon pulang...

Turun di halte TransJakarta Slipi, menuju rumah, kita pakai Bajaj dooonk. Biar maksimal jalan-jalannya. Pakai mobil udah biasa. Cari yang tidak biasa, sekali-sekali... Dan hari itu kita kecapekan di sore hari. Pulang sampai rumah, mandi, makan dan mereka pada tidur. 

Pengeluaran liburan di hari itu:
1. Taxi Online Slipi - Istiqlal = Rp 25.000
2. Makan siang buat bertiga = Rp 85.000
3. TransJakarta Sarinah - Slipi untuk 2 orang = Rp 7.000
4. Bajaj dari Halte TransJakarta Slipi - rumah = RP 10.000
5. Air minum tambahan = Rp 10.000
Total semuanya = Rp 137.000 (bisa lebih murah kalau makannya di tempat lain atau mungkin bawa makan sendiri - hahahahaaa...)

Boleh dicoba ya ibu bapak buat nyenengin bocah sekali-kali pas liburan di Jakarta. Biar anak-anak ngerti beragam macam angkutan umum di Jakarta. 

Selamat liburan selanjutnya...

1.03.2018

NAIK NAIK KE PUNCAK BOGOR

Di penghujung tahun 2017 ini, saya dan keluarga alhamdulillah berkesempatan 2 kali pergi ke daerah Puncak. Jalan-jalan seneng-seneng? Alhamdulillah... Nikmat Allah mana yang hendak didustakan? Kebetulan ada acara komunitas kita. Tempat acara kesemuanya ya di Puncak (Bogor, Jawa Barat), soalnya nggak terlalu jauh dari Jakarta, akses gampang. Tinggal masuk tol dalam kota, keluar Ciawi, cuss naik Puncak. Cuma emangg jangan heran, karena alasan yang sama diatas, banyak orang menjadikan Puncak destinasi wisatanya. "Macet dan nggak gerak", itulah jargon liburan ke Puncak di weekend.

Sedikit tips kalau mau ke Puncak niy... Menghindari kemacetan yang menyesakkan hati ini...
1. Usahakan jangan naik pas long weekend. 
2. Baiknya pergi di tanggal kantong sekarat (setelah tanggal 15- 23nya).
3. Liat jadwal buka tutup arah naik/turun. Pergi pas jam buka ke atas, turun pas jam buka ke bawah.


November 2017, Hotel Grand Ussu Puncak.

Keren banget emang perayaan HUT ALTIC ke 6 kali ini. Perayaan puncak HUT juga diadakan di Puncak, 4-stars hotel gitu, Grand Ussu Hotel and Convention. Hotel ini lokasinya dekat sama daerah Megamendung. Kalau dari Jakarta, adanya di sisi kanan jalan. Kemarin waktu perayaan ALTIC, kita berangkat dari Jakarta pk 12.15 dan alhamdulillah sampai di Grand Ussu pk 15.00. Menurut saya, waktu tempuh ini cukup singkat. Iya, alhamdulillah nggak macet, apalagi kita nyaris ketutup jalur turun. Hahaha, kalau rejeki emang nggak kemana!

Masuk di komplek hotel Grand Ussu, udah keliatan banget kalau hotel ini rapih, bersih, dan terawat. Well managed nih! Hotel ini terdiri dari beberapa bagian bangunan. Komplek Hotel ini cukup besar lho, parkiran juga muat banyak banget. Jadi buat yang mau bawa rombongan besar, nggak perlu khawatir. Nggak perlu khawatir juga sama komplek hotel yang gede banget ini, soalnya di hotel nyiapin golf car yang wira wiri bisa buat anter kita. Kali-kali aja ada yang mau ke depan beli apaan di minimarket, tinggal numpang golf car.

Masuk di kamar hotel, dan kita seneng sama kamarnya yang sangat modern furniture-nya. Kamar kita di cluster Catalya, menghadap langsung bisa lihat pemandangan. Di kamar yang bisa bikin anak kicik lari sana sini, tersedia dengan lengkapnya lemari es (berguna nih buat mamak yang bawa anak MPASI), mini bar (complimentary ada teh, gula dan kopi), safety box, bahkan disediakan juga sajadah lho. Kamar mandi emang gak pakai bathtub, tapi okelah. Sabun, handuk, sikat gigi tersedia. Jadi tinggal bawa baju aja. 

Fasilitas di Grand Ussu lengkap banget ciyn... ada mini waterpark, ada taman bermain anak, ada lapangan olahraga (bisa buat main futsal), ada restoran (berikut stage), ada ruang rapat. Keeereeen pol polan. Alhamdulillah, menghabiskan waktu 1 malam disini, rasanya kurang puas alias kurang lama. Hotelnya keren banget dan emang rekomen buat ngisi liburan. 

Restoran Amarylis Grand Ussu

Di dalam kamar type Catalya

Complimentary

Mini Waterpark


Desember 2017, Villa Anthurium 18

Kembali mengunjungi daerah Puncak, dibulan selanjutnya setelah kita nginep di Grand Ussu. Bedanya, kali ini bukan hotel. Tapi villa atau rumah sewa gitu lah ya. Lokasi villa ada di jalan yang menuju ke Taman Safari. Pertigaan Taman Safari, kalau dari arah Puncak, belok kanan dan villa Anthurium ini ada di sebelah kanan jalan. Di depan ada plang-nya kok, tulisan Anthurium 18. InsyaaAllah nggak akan keder kebingunan nyari villanya.

Ngapain sih ke Villa ini? Kebetulan kita ada rapat pengurus komunitas. Maklum, tahun baru pasti datang dengan segabruk agenda baru. Kegiatan, keuangan, dan lainnya mau dibahas. Nggak cukup waktu kalau dibahas beberapa jam. Makanya kita pilih untuk ngerjainnya semalam suntuk (ala wayang semalam suntuk). Nyari villa yang cukup untuk menampung sekitar 7 keluarga, maka pilihan Villa Anthurium ini bisa dijadikan pertimbangan. Pertimbangan lainnya adalah budget. Kebetulan yang masuk di budget kita ya Villa ini.

Villa Anthurium ini, berada di jalan utama menuju Taman Safari. Nggak usah khawatir nyarinya susah. Mobil sedan pasti bisa masuk, bis yang ukuran Metro Mini (3/4 kah itu?) juga bisa masuk kesini. Parkiran di Villa ini muat untuk 10 mobil kecil. Kemarin kita 8 mobil ya cukup banget, masih luas dan legaaa... 

Fasilitas di villa ini cukup lengkap. Ada kolam renang (tapi nggak ada buat anak-anak), gazebo, dapur lengkap dengan perabotannya, meja makan bisa buat banyak orang, kulkas, perlengkapan barbeque juga ada. Jadi, kalau mau buat acara yang kekeluargaan, Villa Anthurium ini bisa dijadikan salah satu pilihan. Oh iya, kalau bingung makan disana gimana, bisa minta tolong sama yang jaga disana untuk sediakan makanan. Budget berapanya, tinggal diatur aja. Kita kemarin begitu... 

Teras Depan

Dapur

Ruang Santai
 
Ruang Makan
Nah... buat yang mau ke Puncak, bingung mau kemana, ini 2 tempat penginapan boleh lah dicoba... Semoga sharing saya bermanfaat ya...

9.14.2017

PROSES DAFTAR SEKOLAH DASAR NEGERI

Setelah beribu bulan purnama blog ini tidak terurus oleh sang penghuni karena alasan yang tidak masuk akal, maka... alhamdulillah banget ini bisa nulis kembali. Masih padat banget jadwalnya, tapi ya udahlah menyempatkan banget buat menjaga keutuhan blog saya ini, pemirsa... PAstinya juga pada kangen kan sama saya? *siul-siul 

Dah ya, nih saya mau cerita aja pengalaman ngurusin Nares masuk sekolah. Sudah diputuskan oleh kedua belah pihak orang tua Nares dengan sematang-matangnya, sebaik-baiknya (aamiin), sejujur-jujurnya, segala-galanya, kalau Nares masuk sekolah dasar negeri. Pernah nulis juga lho, tentang persiapan Nares mau masuk SD di blog saya. Pertimbangan-pertimbangan yang kita fikirkan, aiueo-nya. Alhamdulillah, sampe di akhir waktu mendekati persiapan masuk SD, kita mantap masukin Nares ke SD Negeri deket rumah. 

Ciyeee... yang lolos Jalur Umum...

Persiapan masuk SD Negeri itu ternyata nggak sulit dan sama sekali tidak susah. 

Yang pertama, persyaratannya adalah cukup umur aja. Nggak boleh kurang dari 6 tahun ya... itu syarat mutlak. Semakin tua, semakin besar kesempatan diterima di sekolah.Nah, buat yang anaknya mau masuk SD Negeri, coba aja jangan buru-buru masukin ke TKnya. Pastikan saja nanti pas di bulan Juli, anaknya udah umur 6 tahun. Tahun ini, di sekolah Nares, ada anak yang umurnya 9 tahun lho. Jangan tanya kenapa umur 9 tahun baru masuk kelas 1 ya. I dunno...

Yang kedua,
siapkan Kartu Keluarga. Masuk SD Negeri ini, persyatannya ya harus punya Kartu Keluarga dan KK tersebut harus terverifikasi di Kelurahan. Maksudnya terverifikasi itu, ya KK-nya KK beneran ya... bukan KK palsu atau KK bodong. Hahahah... ya kali aja ada KK palsu kan, jadi nggak terverifikasi di Kelurahan. Saran saya, copy KK beberapa lembar. Soalnya nanti bakalan banyak kepakai tuh KK.

Yang ketiga, pahami dengan baik tata cara daftar Sekolah Dasar Negeri. Kemarin waktu Nares mau daftar, selalu panteng website ini https://jakarta.siap-ppdb.com/. Di website ini, tercantum dengan jelasnya, jadwal penerimaan, syarat-syarat penerimaan dan bagaimana caranya daftar secara online untuk masuk sekolah negeri. Walau masih jauh dari tanggal pendaftara, coba-coba aja baca tata caranya.

Yang keempat,
catat tanggal penting untuk pendaftarannya. Kemain saya sampai nge-save di kalender handphone sebagai reminder. Jangan sampai kelewat. Amit-amit kalau sampai kelewat. Soalnya nggak bisa ngulang, nggak bisa tawar-menawar. Ini tahun 2017, pemirsa... DKI udah bukan jaman kayak dulu lagi. Its totally different. Nggak ngikutin update-an, wassalam dah. Jangan lupa, deketin temen yang juga mau masukin anaknya ke negeri ya, biar punya temen... 

Yang kelima, pas hari H pendaftaran, siapkan waktu luang setidaknya separo hari. Kalau buat ibu bekerja kantoran, perlu cuti atau ijin separo hari lah. Mulai buka pendaftaran di 08.00 dan tutup pukul 14.00. Proses daftar sih sebentar. Paling 1 jam aja, Itu untuk nulis biodata di berkas yang disediakan dari sekolah, dan nanti kalau sudah lengkap akan diinput oleh pihak sekolah ke sistem pendaftaran. Mau online sendiri bisa nggak? Kemarin jaman Nares sih nggak bisa.

Yang keenam, info paling penting. Kalau sudah niat masuk SD Negeri, usahakan KK kita sesuai dengan zona sekolahnya. Misalnya nih, KK kita Kebon Jeruk, maka pilihlah sekolah yang hanya di Kebon Jeruk. Karena Jalur Kedua alias Jalur Lokal itu pemilihannya berdasarkan KK dan lalu berdasarkan umur. Kalau Jalur Pertama atau Jalur Umum, KK mana aja bisa milih sekolah dimana aja. Bebas. Kalau Jalur lokal, terbatas.

Nah... kalau proses semuanya sudah dilalui, nanti tinggal tunggu pengumuman ya. Pengumuman bisa dilihat di website tadi. Nanti nama-nama anak yang keterima akan muncul di web. Siap-siap kuota data aja buat check-checknya. Kalau sudah keterima, jangan lupa ya, daftar ulang. Kalau nggak daftar ulang udah pasti dianggap mengundurkan diri. Kemarin ada yang udah keterima, tapi nggak daftar ulang, akhirnya ya tersisih.

Jangan lupa banyak doa ya, kalau emang mau masuk negeri. Di tahun angkatan Nares, anaknya yang daftar muda-muda. Ada temen Nares masuk di umur 6th 1bl. Padahal di angkatan sebelum Nares, yang umurnya 6th 6bl aja nggak bisa keterima di negeri. Jadi hoki-hokian dan untung-untungan deh. Mungkin juga di angkatan Nares ini, banyak anak yang umurnya muda, hopeless masuk negeri ya dan langsung daftar swasta.

Selamat mencoba bagi yang minat di sekolah negeri ya... mudah-mudahan share informasi dari saya ini bermanfaat.

6.12.2017

SERTIFIKAT IMUNISASI SYARAT MASUK SD NEGERI

Hidup berputar kayak roda. Kadang di atas dan kadang dibawah. Ini bukan berlaku cuma buat rejeki aja siyh kayaknya ya, tapi juga buat pemikiran saya. Namanya juga hidup, kita punya mata, punya hati dan punya perasaan. Kadang konsep hidup jadi bisa berubah, seiring dengan berjalannya waktu. Seperti yang sudah pernah saya share waktu itu, tentang persiapan sekolah buat anak yang paling besar (disini). Hahaha, karena jadinya mau masuk ke Sekolah Negeri, jadilah terus-terusan mengikuti perkembangan pendaftaran SD Negeri. 

Poster Jadwal Daftar SD Negeri - 2017

Mulai terima digital leaflet dari WA Group TK, tentang jadwal pendaftaran masuk SD Negeri, akhirnya gerilya deh baca persyaratannya. Sebenernya mudah saja persyaratannya. Secara umur 6 tahun dan beberapa persyaratan administrasi lainnya. Yang agak jadi barang baru buat saya adalah adanya syarat Sertifikat Imunisasi. Uhuuuy... browsing sana sini situ, akhirnya baca kalau sertifikat imunisasi bisa didapatkan di Puskesmas wilayah kita. Sempat bingung juga, padahal imunisasi nggak di Puskesmas, kok bikin sertifikatnya di Puskesmas?

Pertama-tama saya datang ke Puskesmas ke Kecamatan Palmerah. Kenapa kok langsung ke Puskesmas Kecamatan? Karena saya mikirnya, Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) BPJS kita adanya di Puskesmas Kecamatan. Makanya sikat deh ke situ. Sampai di Puskesmas Kecamatan, dijelaskan bahwa pembuatan Sertifikat Imunisasi dilakukan di Puskesmas Kelurahan sesuai dengan domisili kita. Saya dikasih tau, bahwa Puskesmasnya ada di deket rumah saya malah. Tinggal bawa kelengkapannya saja. 


Kelengkapan administrasi Sertifikat Imunisasi? 

Buku Kesehatan Anak yang ada catatan tentang Imunisasi-nya. Bukunya Nares udah mulai lusuh, dulu dikeluarkan oleh RSAB Harapan Kita karena emang lahirnya disana. Terus, fotocopy Buku Imunisasinya aja. Gak usah semua sebuku dicopy, tapi cukup yang penting ada nama anaknya, dan catatan dokter tanggal berapa imunisasi dan imunisasinya apaan aja.

Copy Kartu Keluarga
Copy Akta Kelahiran Anak
Copy KTP kedua orang tua

Kalau sudah lengkap, silahkan bawa ke Puskesmas Wilayah domisili kita ya. Coba browsing aja domisili kita Puskesmas-nya ada dimana. Kemarin saya karena keburu datang ke Puskesmas Kecamatan, jadinya dikasih tau dimana alamat Puskesmas yang harus disambangi.

Proses pembuatan Sertifikat Imunisasi ini waktunya beda-beda. Saya dijanjikan seminggu selesai. Tapi ada temannya Nares, ternyata waktu pembuatan Sertifikatnya selama 2 minggu. Harap bersabar, karena ini ujian... hahahaha... Eh iya, kalau bicara ada nggak biayanya untuk pembuatan Sertifikat Imunisasi ini? Jawabnya adalah tidak. Grateish aja lah... alhamdulillah. Tapi ya gitu, Sertifikat Imunisasinya ditulis tangan aja. Nggak pakai komputer. Hahaha, saya mah nggak apa-apa kok. Yang penting ada. E tapi nih ya, ternyata ada juga yang pakai komputer ditulisnya.

Cerita tentang Sertifikat Imunisasi

Nah, ada yang lucu nih, mengenai Sertifikat Imunisasi yang katanya sebagai persyaratan masuk SD Negeri ini... Ternyata kemarin pas nany-nanya sama temen yang anakanya 2 tahun lalu masuk SD Negeri, tahun itu juga sudah mensyaratkan siswa untuk masuk pakai Sertifikat Imunisasi. Eh tapi kok ya ternyata pas pendaftaran, Sertifikat Imunisasinya nggak ditanyain... Hahahaha! Disyaratkan, tapi nggak ditanyain... Udahlah, nggak mau nyinyir sayah. Bulan Ramadhan, dan selalu tebarkan kebaikan... 

5.22.2017

STAYCATION DI ARYADUTA LIPPO VILLAGE KARAWACI

Bulan April 2017 ini sebenernya adalah bulan bikin bangkrut para bapak-bapak. Kenapa? Hahaha, hampir tiap minggu itu adalah long weekend, pemirsa... Yang mana daripada long weekend itu merupakan penguras kantong. Anak dan istri (apalagi model istri macam saya ini yang nggak ngerja ngantoran) minta jalan-jalan, minta liburan, setidaknya bakalan minta keluar rumah sekedar pergi ke mall atau ke rumah kerabat. Keluar duit donk lah yah pastinya. Ah tapi nggak usah khawatir, kalo kantong tebal, pasti mah ada aja rejekinya. Aamiin. Cewek matre? Cowoknya kali yang nggak punya duit? Nyahahaha, slogan ini sekarang lagi happening banget di dunia maya... Catet lah yaaah...

Di keluarga kita, emang sudah perjanjian, liburan besar itu hanya boleh setahun sekali. Tahun ini, kita nggak liburan yang jauh-jauh, karena si adhe masih bayi. Saya menyerah melambaikan tangan pada kamera saja untuk membawa anak-anak itu pergi berlibur yang jauh. Jadilah kita putuskan untuk staycation saja. Udah nggak kebayang bawa si adhe pergi jauh dan kemudian dia cranky di tengah jalan. No thank you. Si adhe ini emang nggak kayak kedua kakaknya yang pada betah duduk di car seat. Baru jalan bentar, udah oooeeekkk... hahaha, ya kalau jalan sampai 5 jam keluar kota, alamat saya nggak liburan kan? Malah yang ada saya ikutan cranky. Emak kan butuh liburan juga...

Liburan tahun ini setidaknya kita udah putuskan nginep di Aryaduta Lippo Village yang berada di Karawaci. Hahaa, seempritan doang dari Slipi. Bayar toll aja cuma Rp 7.000 lho (ini juga karena setelah tarif toll naik dari sebelumnya Rp 5.500). Jadinya kita milih liburan sesaat dan sejenak aja ke Aryaduta Lippo Village ini, pemirsa. Kita beli voucher melalui web penyedia voucher hotel itu lho. Tapi ternyata, setelah kita tau, harga beli disitu lebih mahal. Jadi, mending beli langsung ke web Aryaduta-nya aja deh. Ini juga menjadi bahan perbincangan emak-emak di hotel soalnya, hahaha, gossip harga emang ibu-ibu numero uno! Dimanapun dan kapanpun, harga nomor satu.

Sabtu, 29 April, kebetulan kita plot sudah untuk nginep di Aryaduta. Check in di TKP pkl 14.00, jadi kita berangkat dari rumah setelah pk. 12.30 aja. Syantai, soalnya nggak jauh dari rumah. Perjalanan pun ternyata lancar, nggak pakai macet. Long weekend kali itu sepertinya orang-orang sudah duluan berangkat di hari Jumat. Oia, lokasi Aryaduta Lippo Village ini tepat sekali berseberangan dengan Supermal Karawaci itu. Jadi kalau mau kesana, lewat toll Jakarta - Tangerang - Merak dan exit di Karawaci. Jadi, kalau dari arah Jakarta Tomang, ngelewatin 3 pintu exit toll dulu ya, baru keluar. Jangan kurang dan jangan lebih.

Main Lobby Aryaduta
Minta tolong tutup stop kontak listrik.

Sampai di Aryaduta, pk 14.00 langsung check-in di receptionist. Kebetulan kok ya pas kosong, nggak ada yang lagi check-in. Tapi setelah kita check-in, kamarnya belum siap. Kita diminta nunggu dulu. Selama menunggu kamar kita disiapkan, kita keliling-keliling Aryaduta dulu. Cek TKP, ciyn... lihat situasi. Sekitar 30 menit kemudian, baru kita dapat kamar dan bisa menuju kamar. Lantai 6. Barang-barang kita dibantu sama bapak bell boy yang baik hati.

Tiba di kamar, senengya adalah kita dapet view yang ke arah Selatan - sepertinya arah Bogor kali ya - bukan arah ke Supermal Karawaci. Nice banget pemandangan dari kamar. Serasa bukan di Karawaci karena banyak pohon-pohon kelapa gitu dan rumah penduduk berserta tidak ada bangunan tingginya. Alhamdulillah ya, dapet kamar yang di sisi ini. Kalau dapet kamar yang di sisi menghadap mall, pasti ngebosenin. Serasa banget di kota. Bisa request kali ya buat besok-besok kalau mau nginep sini lagi, kamarnya yang menghadap ke Selatan. Eh tapi ya kalau mau emang request ngadep ke mall sih ya sah-sah aja lho ya. Kali-kali aja emang suka juga.

Pemandangan dari kamar kita. Karawaci kah ini?


Ngapain aja disini? 

Staycation semalam ini sebenernya tujuan utamanya adalah berenang. Di Aryaduta ini emang ada poolnya yang lumayan menyenangkan. Ada waterpark deh ceritanya. Jadi emang sudah siap-siap mau berenang di hari pertama dan hari kedua. Nggak ada satupun dari kita yang nggak mau main air disini. Lah boleh main air sepuasnya kok, makanya sikat aja lah. Ban berenang bocah juga dibawa kok. Ternyata disana emang nggak sediakan ban berenang. Hore banget ya, bocah seneng banget bisa main air disini. Di sini kita dipinjemin juga handuknya buat lap-lap badan sebelum naik ke kamar.

Waterpark ini yang kita cari
Playgroundnya bagus lho...

Hari pertama disini, saya dan si bayi nggak ikutan berenang. Males aja, sama beberes bersih-bersihnya setelah renang. Akhirnya saya dan si bayi main di playground yang ada di area country club Aryaduta. Gratis kok, asal sebutin aja nomor kamar kita dan pesan kamarnya atas nama siapa. Langsung masuk. Kalau mau nambah kegiatan, boleh aja ikut cooking class atau sand painting yang diadain sama Kids Club Aryaduta. Acaranya dan harganya nggak tentu, tergantung sama kegiatan sih kayaknya. Kemarin kita nggak ikut, soalnya besoknya udah mau renang lagi.

Disini, kita bisa juga menghabiskan waktu untuk berolahraga. Di country club, ternyata fasilitasnya bisa dipakai semua lho. Ada sauna, ada gym, ada jacuzzi, ada jogging track, ada lapangan buat main bola, ada apaan lagi ya? Kalau nginepnya 2 malam sih bisa dibantai tuh sauna. Tapi kita kan nginep cuma semalam, jadi kita skip sama kegiatan di country club. Bayar lagi nggak masuk suana dan lain-lain? Nggak sih katanya. Harga nginep sudah termasuk dengan fasilitas tersebut. Ehm, murah donk ya? Ya kalau buat sesekali pas liburan ya murah. Hahahaha...

Bosen sama kegiatan di hotel, bisa nyebrang ke seberang, ada Supermal Karawaci. Mall yang gede banget dan lengkap banget. Hypermarket aja ada 2, Hypermart dan Transmart Carrefour. Restoran ya jangan tanya. Dari yang enak banget sampe yang nggak enak ya ada. Dari yang mahal sampe yang murah juga ada. Jalan kaki dari hotel cukup 10 menit aja kok. Tapi sayangnya, mau nyebrang dari hotel ke mall ini, jalannya nggak stroller friendly. Susah banget mau turun tangganya. Mana mau masuk mall juga jalannya dipalang-palang. Banyak angkot ngetem gitu...

Liat seseruan di Aryaduta Lippo Village ini yuuuk....




Jadi...

So far, saya merekomendasikan kalau ada yang mau staycation di Aryaduta Lippo Village Karawaci ini. Value for money banget. Kalau nginep 2 malam, harganya lebih murah lagi lho. Jadinya semalam sekitar Rp 700.000an gitu. Itu udah termasuk breakfast pula. Jadi udah nggak pusing mau cari-cari makanan. Ya walaupun sih di sekeliling hotel banyak banget tempat makan. Jelas-jelas juga samping hotel ini ada McDonalds buka 24 jam. Saya kasih nilai 8.5 dari 10 untuk Aryaduta Lippo Village Karawaci ini. Suatu saat bakal mau balik sini lagi deh... aamiin... 

5.04.2017

KARTINI KITA di 2017

Sudah masuk bulan Mei, tapi masih aja Kartini-an berasa. Rasanya masih belum bisa move on, karena dimana-mana kemarin masih ada lomba peringatan hari Kartini. Jadilah saya juga mau meninggalkan jejak tentang Kartini di blog saya tercinta ini. Late? Better late than never kan ya, kata orang sih begitu. Setidaknya ikut berpartisipasi dalam tidak melupakan Kartini yang telah berjasa begitu besarnya untuk perempuan di Indonesia ini. Kalau nggak ada Kartini saat itu, belum tentu juga sekarang saya bisa pegang computer begini dan menuliskan apa yang saya mau share.

Semua sudah tau siapa Ibu Kartini. Seorang perempuan yang berasal dari Jepara, sebuah kota di Jawa Tengah dan kini terkenal dengan furnitur (yoi... jati jepara toh...? *wink). Lahir dari keluarga bangsawan, iya karena bapaknya Kartini seorang Bupati daerah sana. Kartini, saat itu mau banget kalau dirinya bisa baca dan menulis. Yah, di zaman itu emang perempuan kodratnya di dapur. Nggak usah bisa baca menulis (dan berhitung mungkin?). Wanita adalah dapur dan begitu juga sebaliknya. Ngebayanginnya udah lumayan mumet saya mah kalau cuma seputar dapur. 

Perempuan sekarang, udah sangat jauh berkembang. Kegiatannya nggak sebatas di dapur. Udah sampai langit kalau bisa dibilang. Perempuan sekarang sudah pegang computer, udah berjibaku dengan lalu lintas, udah bisa bersaing dengan laki-laki dalam pekerjaannya, dan udah bisa jadi apaan aja yang tidak biasa dilakukan oleh seorang wanita, dan sebagaimana lainnya. Perempuan yang sekarang sih ya sudah luar biasa kegiatannya. Bahkan ada juga yang diluar batas. Hahaha, kalau yang ini ai no comment deh ya. Ntar malah dibilang nyinyir. Maap, sekarang si nyinyir lagi naik daun.

Seiring dengan perkembangan waktu dan jaman, Kartini udah beragam macamnya. Kartini dari waktu ke waktu menyesuaikan dengan kemajuan jamannya. Di tahun 70an - saya mah belum lahir - mungkin Kartini saat itu adalah Kartini yang bisa baca tulis saja sudah cukup. Di tahun 80an - nah ini saya baru lahir - mungkin Kartini saat itu adalah perempuan yang bisa sekolah tinggi. Di tahun 90an - nah saya baru mulai hidup - Kartini di jaman ini mungkin adalah perempuan yang sudah bisa nyupir, ngajar, dan berkarir. Semakin kesini, perempuan semakin berkarya dengan bebas.


Setiap orang pasti punya Kartini versinya masing-masing, ya... Siapa Kartini versi saya?

Yah kalau ini sih udah pasti nggak perlu ditanyakan lagi. Kartini saya udah pasti ya ibu saya sendiri. Ibu saya ini, luar biasa (buat saya). Lahir di sebuah kota Kalimantan Barat, setelah tamat SMA-nya udah langsung melanglang buana untuk kuliah di sebuah perguruan tinggi terkenal di Bandung. Tahun 65-an, anak perempuan tanpa saudara bisa merantau itu luar biasa menurut saya. Saya sendiri aja sampai sebelum nikah nggak pernah jauh dari orang tua. Lah si ibu saya ini, udah anak perempuan, jauh dari orang tua, tanpa saudara, siap menunggu kiriman wesel tiap bulan. Joss... 

Kebayang lagi, setelah lulus dari kuliah di Bandung, lanjut nikah sama si bapak baik hati dan langsung pula melanglang buana ke negeri jiran. Baru nikah, jauh dari orang tua, hidup di negeri orang beda budaya dan beda kultur, sering ditinggal suami dinas, baru nikah, adouh... sanggup sanggup aja. Kalau nggak modal keberanian dan kecerdasan yang luar biasa, kayaknya mah ini bakalan berat ya. Hahahaaa, asli dah buat saya yang cemen ini pasti mewek mulu kali ya. Lah si suami dinas 3 hari luar kota aja dah babibubebo...

Tapi nih ya, selain ibu saya sendiri, saya juga punya lho, "Kartini" lain yang saya idolakan. Seperti adalah ibu dosen tercinta saya yang sukses di pendidikan, karir dan rumah tangga. Ini awesome banget menurut saya. Kartini lainnya adalah ibu Susi Menteri Kelautan. Udahlah jangan ditanya mengapa saya mengidolakan dirinya. Semua orang juga tau gimana bu Susi. Terus ada juga nih, Kartini berikutnya, yaitu seorang selebritis yang hidupnya anteng adem dan ayem. Rumah tangganya jauh dari hossip dan karirnya juga bagus. Kartini versi dirimu, siapakah...?


2017 dan saatnya saya mencetak Kartini...

Bersyukurlah saya ini, di tahun 2017, saatnya saya mencetak seorang Kartini versi baru. Iya, anak perempuan saya dan suami ini, semakin membesar. Saatnya untuk mendidik dirinya agar menjadi wanita yang pintar, tangguh, cerdas, tapi juga rendah hati. Ini hal yang tidak mudah pastinya. Saya sendiri perlu banyak belajar dan belajar untuk menjadi orang tua, mencetak Kartini yang baru lagi. Tapi walau bagaimana juga, yang namanya belajar emang nggak mudah. Ada sebuah kegagalan untuk menjadi pengalam agar kita tahu dimana kekurangan kita. Bener nggak?

Kartini tahun 2017 ini, Nareswari berusaha setidaknya untuk berani tampil di depan umum orang banyak. Orang-orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Iya, kemarin dia ikut parade busana daerah di salah sebuah mall di area Jakarta Barat. Menang nggak? Hahahaha... bisa maju tampil aja sudah bersyukur. Buat saya, dia mau maju itu udah jadi juara. Nggak semua anak berani tampil di depan umum, orang banyak dan tidak dikenal. Kalau kata bapaknya anak-anak, yang penting itu prosesnya kok. Menang adalah bonus. So true lah ya...

Anak dan Ibu
In stage... berani maju...
Selesai manggung ceritanya...

Teruslah belajar Nareswari-ku..., belajar menjadi seorang perempuan yang berguna baik banyak orang dan rendah hati. Doa bapak dan ibu selalu menyertai buat Nareswari...


4.17.2017

PERSIAPAN MASUK SD

Nah, kan... udah lama banget nggak update blog. Yang sakit, yang sibuk, dan yang lain-lain yang bikin terhenti mau nulis blog. Punya anak 3, kalau yang satu sakit, biasanya abis itu rolling menular sakit ke yang lainnya. Ujung-ujungnya ibunya yang kena sakit juga. Tepar ngurus 3 anak marathon. Tapi disitulah seninya jadi ibu. Ngurus ina inu anu sendiri. Enjoy banget sama setiap prosesnya. Teler tapi berharga. Tapi emang pasti ada aja yang jadi nggak bisa dikerjain. Salah satu emang urusan update blog jadi terbengkalai.

Nih, kali ini mau share tentang Nares, anak pertama yang mulai menghabiskan waktunya di Taman Bermain dan akan melanjutkan ke SD. Wahaaa, berasa banget ya, punya anak bayi kemarin dan kini sudah aja mau masuk SD. Kok cepet banget waktu berlalu. Nggak berasa? Ya berasa banget. Kalau ada yang bilang nggak berasa, tiba-tiba udah gede aja tuh anak, mungkin nggak ngurus anaknya. Ahahaha... ya masa tiba-tiba anaknya udah gede sendiri? Nggak mungkin kan? Kalo diurus sendiri, pasti berasa banget ngurusinnya.

Sebentar lagi meninggalkan TK ini

Udah mulai masuk SD gini, para emak dan bapak biasanya mulai resah gelisah mau masukin anaknya ke sekolah mana. Semua orang pasti mau kasih yang terbaik buat anaknya. Buat anak kok coba-coba? Gitu bukan katanya? Sama. Saya juga demikian adanya. Nggak kurang nggak juga lebih. Buat semua anak, mau kasih yang terbaik. Terbaik menurut saya dan pak suami, pastinya. Jangan lupa, yang terbaik itu juga dengan pertimbangan faktor a, b, c, d, dan seterusnya. Prioritas ina inu anu juga nggak ketinggalan. Nanti tinggal diurutin aja tuh yang mana yang prinsip-prinsip. Bungkus deh...

Bahas dikit, ya... di seputaran lingkungan kami tinggal di Palmerah ini, ada beberapa sekolah yang termasuk kategori bagus. Ya bagus kualitas dan bagus harga. Semua ada plus minusnya kok. Sekolah-sekolah jagoan yang ada itu adalah SD Bhakti di Kemanggisan, SD Regina Pacis di Palmerah Utara, SD IKKT di Komplek Hankam Slipi, dan SD Al-Azhar di Kemandoran. Cuma SD swasta ajakah yang bagus disini? Nope. Ada juga kok yang Negeri yang nggak kalah hebatnya. SD Palmerah 15, 17, dan 19 ada di Komplek Sandang dekat Univ. Bina Nusantara. Kemudian deket rumah kita ada SD Kemanggisan 01, 03, 05, 06. 

Idealnya saya sih sebenernya masuk SD itu yang nggak pakai test, nggak mahal, nanti belajar di SD juga PR nggak ada, karena umur segitu belum waktunya banyak-banyak PR. Tapi akh ya sudahlah, di deket sini nihil yang begitu. Hahahaha, mari hadapi realita kehidupan ini kawan. Buka mata, bahwa sekolah yang ada di deket lingkungan apa adanya aja.


Terus Nares mau masuk SD yang mana? Ini pertimbangan kita nih...

Pertama, milih sekolah anak itu harus terdekat mungkin dari rumah. Jalan kaki kalau bisa dari rumah. Selain jalan kaki itu sehat, pastinya nggak bakal kena macet sama kejamnya jalanan ibukota. Udah paling males, kalau berangkat ke sekolah harus berjibaku dengan lalu lintas yang tidak bersahabat. Jakarta, pemirsa... jalanannya lebih kejam daripada emak lampir. Jadi, prioritas kita SD yang terjangkau dengan jalan kaki adalah SD IKKT dan SD Kemanggisan. Skip deh tuh ya, sekolah-sekolah yang lainnya. Kudu pakai mobil/motor mau kesana.

Kedua, milih sekolah anak udah pasti yang sesuai dengan kantong si bapak. Ya iyalah, masa mau masukin ke sekolah yang nggak terjangkau harganya sama si bapak? Nanti tiap bulan kita bisa makan dedak dengan lauk sayur daun salam (ini juga karena pohon salam ada di depan rumah - jadi boleh metik langsung aja, nggak usah beli lagi). Alhamdulillah, SD IKKT ini baik uang pangkal masuknya maupun SPP bulanannya dapat terjangkau oleh si bapak. Negeri? Kalau Negeri sih sekolahnya grateis, tutup mata aja. 

Akh, sudahlah. Pilihan kita jatuh kepada kedua SD tersebut saja. Yang dekat dan harga terjangkau di kantong kita. SD IKKT atau SD Kemanggisan. Terus, kira-kira, Nares mau masuk yang mana? Sebenernya pengen bangen masukin Nares ke sekolah negeri. Grateis? Nggak juga semata karena gratisnya lho. Tapi sebagai ibu yang kepoismenya tingkat dewa, saya mulai korak korek informasi dari sana sini sono tentang metode belajar dan kurikulum di sekolah-sekolah tujuan saya. Sementara ini sepertinya lebih cocok sama SD Negeri justru. 

Tapi nih, Nares udah saya daftarin ke SD IKKT, lho. Hahahaha, gimana siyk? Mau masuk Negeri kok masih daftar swasta. Jadi ya, syarat masuk SD Negeri itu berdasarkan umur. Nggak pakai tast test tist lagi seperti SD Swasta. Nah, umur yang diutamakan untuk masuk SD Negeri itu adalah 7 tahun. Nares, nanti bulan Juli 2017, umurnya 6 tahun 5 bulan. Jadi, harap-harap cemas untuk dapet bangku di SD Negeri ini. Kalau saingan umurnya banyak, ya bisa jadi wassalam. Kalau lagi nggak banyak saingan, insyaaAllah bisa masuk. Hihihihi... pengen doa, supaya saingannya nggak banyak.

Jadi, makanya saya dan pak suami itu mikir, Nares tetap harus daftar SD swasta, untuk jaga-jaga kalau nggak bisa masuk di SD Negeri yang kita pilih, yaitu SD Negeri yang terdekat. Sekarang ini, daftar SD swasta sudah mulai berakhir. Kalau nggak daftar sekarang, bisa-bisa pun di SD swasta ini nggak dapet bangku. mulai lah kita mikir, kalao nggak keterima di Negeri yang kita mauin, trus belum daftar SD swasta, gimanaaaaa.....? Ngulang setahun lagi di TK? Nares pasti bosen. 4 tahun di TK bisa-bisa lumutan. Hahahaha... 

Sebenernya nih ya, pas cerita-cerita dengan sesama bu-ibu mengenai SD Negeri ini, sempet juga ada pembicaraan mengenai pergaulan di SD Negeri yang gimanaaa gitu. Apa nggak takut, nyekolahin anak di sekolah negeri yang pergaulannya mungkin lebih ganas dari sekolah swasta? Hihihi, sempet mikir iya, tapi alhamdulillah, dengan kekuatan bulan, datanglaaah... Hahaha... hilang deh ketakutan itu. Kalau kata ayahnya Nares, pergaulan dimana saja sama. Ada kekurangan dan ada kelebihannya masing-masing kok. Nggak usah takut. Bismillah saja.

Ini SD Negeri Kemanggisan 03 dan 05 Pagi (doc. mba Eris)
SD Kemanggisan 01 Pagi dan 02 Petang (doc. mba Eris)

Jujur aja lho, tadinya saya itu udah mau nutup mata menyekolahkan Nares di SD swasta depan rumah ini. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, ina inu pertimbangan lain, jadi bergeser sedikit pilihannya. Ya, tetap harus daftar sekolah di depan rumah ini. Hihihi... Demikianlah sudah cerita perjalanan mencari sekolah Nares saya tumpahkan disini. Semoga bermanfaat ya, buat yang lain yang lagi mencari sekolah buat ananda tercinta. 

8.16.2016

AKHIRNYA MEMILIH CLOTH DIAPERS

Ya udah siyk, udah ngaku kalau saya bukan blogger sejati. Hahaha, piye tho, lha wong nulis aja jarang-jarang, mau dicap blogger? Tapi mah ya, blogger atau bukan, yang penting masih bisa nulis, masih bisa cerita, masih bisa berbagi, masih bisa ninggalin jejak. Yang namanya mood nulis bagus atau nggak itu sudah biasa - ini pembelaan banget - kan..? Hahaha, namanya juga hidup ciyn, kayak roda yang berputar, kadang di atas, kadang dibawah. Too much prologue...

Kali ini mau cerita tentang popok si adek Narfa. Sudah kurang lebih 3 minggu ini saya akhirnya mengurangi sangat pemakaian popok sekali pakai (pospak) untuk si adek. Sebenernya memang jadwal pakai pospak itu cuma malam hari kok, ketika si adek sudah mau tidur, baru pakai pospak-nya. Selebihnya di rumah, ya cuma pakai popok tali itu yang kalau si adek pipis, basah, trus ganti. Gitu aja terus menerus. Udah mulai umur 2 bulan, popok tali mulai ditinggalkan karena sudah mulai kekecilan buat si adek, akhirnya naek kelas pakai celana pop. 

To be honest, saya agak kewalahan dengan bolak balik gantiin celana basah buat si adek. Agak riweuh apalagi kalau harus bolak balik saya ganti baju karena nggak bisa sholat pakai baju yang udah terkena pipis-an si adek. Oh yes lah, mulai ngeluh kan. Tapi udah pasti mau pakai pospak nggak mungkin. Ngeri banget sama ruam popok dan bikin sakit perut sama beli pospak. Hari gini pospak kalau nggak beli promo ya mehong bingit. Mulai punya idea buat pakai cloth diapers (clodi).

Mulai browsing sana sini situ. Apa itu clodi, terbuat dari bahan apa clodi, bagaimana maintenance-nya, apa kelebihan dan kekurangan clodi dibandingkan pospak, harganya berapa, yang paling bagus apaan. Percayalah, ketika saya memulai browsing, ketika itu juga saya mulai pusing. Serius, makin banyak baca itu makin bingung. Etapi kalau kata dosen saya dulu ya, makin bingung itu tandanya kita makin pinter. Makin banyak nggak ngerti, makin keren... Hauuuk akh elaph... 

Nih lah udah rangkuman saya kenapa akhirnya memutuskan untuk menggunakan clodi...

Capek bolak balik gantiin celana kain yang basah. True banget, ini capek buat saya karena si adek kadang baru 5 menit udah pipis lagi. Baru aja ganti, ganti lagi. Belum lagi ngurus si kakak Nara yang masih kecolongan pipis nggak di toilet.

Kalo udah kena pipis adek, harus ganti baju.
Capek bolak balik ganti baju saya, kena pipis si adek, nggak bisa sholat pake baju yang kena pipis. Nah, sementara masa mau bolak balik ganti baju yaaa... Makin besar pun pipis si adek makin bau pesyiiing...

Mengurangi tebaran najis di rumah. Walaupun emang cuma pipis bayi, tapi tetap aja ya najis ya, harus dibersihkan. Pipis jatuh di lantai, ya kudu pel, kudu lap. Nggak capek sih, tapi tetap butuh effort untuk ngebersihin najis di rumah.

Faktor U nggak bisa bo'ong. Makin tua, makin berumur, keberdayaan tubuh semakin menurun pula. Dulu waktu jaman kakak-nya si adek masih muda, sekarang juga masih muda, tapi kok ya... hmmm, pokoknya mulai berasaaa... ahahahah. Gemfor juga lama-lama ganti celana si adek.


Udah akhirnya saya ambil keputusan pakai clodi. Nah terus pusing kan milih clodi yang mana, baca deh tuh review bunda canggih para pakar per-clodi-an. Makin hamsyong baca tips-tips milih clodi. Bahahahaaa, mau milih aja udah bingung sayah. Abis pilihannya banyak banget. Faktor harga, faktor material, faktor model, belum lagi faktor corak. Seneng yang ini tapi begitu, seneng yang itu tapi begini. Puseeeeng...Udahlah kalo pusing nggak usah lama-lama. Maksudnya nggak usah baca review banyak-banyak. Makin banyak baca bisa makin pusing soalnya.

Clodi juga akhirnya...
Bisa juga pakai buat kakak-nya


Nih, akhirnya pertimbangan clodi yang saya pilih adalah...

Pilih pakai kancing (snap) daripada pakai velcro (ceprekan). Walaupun katanya pakai velcro bisa lebih presisi dengan ukuran body si anak, tapi katanya kalau velcro itu lama-lama bisa kurang main velcro-nya. Paham banget siyh, sifat velcro. Belum lagi kalau udah nyangkut benang atau rambut. Iysh... paling sebel tuh liat velcro nyangkut benang sama rambut. 

Pilih yang model pocket daripada yang model universal. Model pocket, semua insert. Ini sih pertimbangannya emang saya ngeliatnya pakai pocket itu lebih rapih daripada yang universal. Model pocket, insertnya masuk semua tertutup rapih dibawah sebuah permukaan suede itu. Kalau yang model universal, insertnya mumcul. Tapi emang universal ganti insertnya lebih mudah.

Pilih yang buatan lokal pastinya. Ini sih udah pasti numero uno, tentang harga. Kemampuan saya sebatas membeli clodi lokal saja, pemirsaaa... Kalaupun mampu beli clodi import, pastinya cuma kebeli 2 biji doang nanti. Ya mana cukuuup. Hahaha, kecuali kalau ada yang mau kasih gratisan, saya terima dengan senang hati tu clodi import.

Pilih yang bukan bludru sebagai outernya. Nggak tau kenapa, kurang sreg sama yang namanya bludru. Bukan apa-apa siy, sebenernya benda apapun saya nggak suka kalau itu dari bludru. Ahahahaa... jadi bukan untuk clodi saja saya kurang sreg, tapi sama semua. Skip lagh kalau badan bludru. Pilih yang PUL aja untuk outernya. PUL apa? Ntahlah kepanjangannya, monggo browsing.

Pilih yang ada leg-gusset nya. Kalau untuk milih yang ada leg gusset alias tahanan bocor samping, saya emang sengaja. anak saya cowok, pasti lebih gesit, banyak gerak. Grasak grusuk. Makanya mending carikan yang clodi ber leg gusset, biar nggak bocor samping. Browsing sasino, ternyata nggak banyak clodi lokal yang pakai leg gusset.

Pilih yang adjustable ukurannya. Namanya bayi cepet besar, makanya saya milih clodi yang bisa distel ukurannya. Secara anak 2 bulan maunya dipake sampai lulus toilet training.

Jadi..., pilih apa donk buat clodi adek? Pilihan saya jatuh kepada Ecobum. Clodi lokal yang harganya masuk di kantong saya ini, ternyata menurut review-an ibu-ibu canggih perclodian emang kualitas-nya bagus, terus ada leg-gusset juga ada. Pertama beli cuma 2 piece aja kok. Nyobain aja, kalau cocok ya beli lagi, kalau nggak cocok ya nggak rugi banget lah. Eh ternyata cocok. Akhirnya jadi beli lagi dan lagi deh.

Alhamdulillah, sekarang nggak capek bolak balik ganti celana kalau si adek pipis, nggak kena pipis adek nih baju ibu dan alhamdulillah ternyata efek samping yang lain adalah adek bisa tidur agak panjang, karena celananya nggak langsung basah kalau pipis. Jadi, sekarang pakai pospaknya hanya kalau pas pergi aja deh. Kalau di rumah, udah pakai clodi selalu.

Cukup sekian dan terima suka dengan kehadiran clodi. Rasanya sih males ya, bikin tulisan gimana cara bersihin clodi, gimana ngerawat clodi, boleh apa dan nggak boleh apa. Udah banyak review-an yang okay punya lah yang gampang banget dicari di dunia maya. Saya udah tinggal baca dan ngikutin aja. Hihihi. Jadi, ini tulisan sih sebenernya cuma mau bantu ninggalin jejak kenapa saya pakai clodi.


*bukan endorse-an Ecobum ya, ini cuma beneran review lho...

8.04.2016

TARIK NAPAS DALAM-DALAM... SANGAT...

Ini emang bukan ranah saya sebenarnya, tapi kalau nggak numpahin rasanya belum puas, karena saya pun sebenernya terlibat dalam hal ini. Bukan sebagai korban (dan in shaa Allah jangan sampai), tapi kan anak-anak saya diimunisasi juga.

Vaksin Palsu (gambar nyomot dari sini)


Udah ramai-ramai dari sebelum lebaran tentang vaksin palsu ini, dan sampai saat ini di menjelang akhir Juli 2016 masih ramai pembicaraannya. Emang harus ramai sih menurut saya. Ini satu hal yang harus dituntaskan karena bukan masalah yang sederhana dan semudah itu melupakannya. Ini terkait dengan kehidupan orang banyak, apalagi urusan dengan nyawa. Emang gila dasar ya..., kok ada yang tega mencari uang dengan cara yang teramat sangat merugikan orang lain.

Katanya, permulaan vaksin palsu ini dilakukan tahun 2003. Sudah 13 berarti hingga saat ini, mereka mengedarkan vaksin palsu itu. Coba aja dalam kurun rentang waktu 13 tahun itu, berapa anak kecil yang sudah menjadi korbannya. Berapa nyawa yang sudah dia permainkan? Berapa badan yang sudah dia rusak? Kok nggak pakai mikir ya itu orang? Terbuat dari apakah hatinya sampai demikian sampai hati-nya...

Konon katanya jenis vaksin yang dipalsukan juga termasuk vaksin yang wajib dari pemerintah, BCG, Polio, DPT, Hep B, Campak. Wowww banget ya? Ini mengerikan sekali buat saya. Sampai yang vaksin wajib pun dipalsukan. Coba itu gimana? Nah yang banyak pangsa pasarnya juga tuh yang kena palsu, vaksin HIB yang barengan sama DPT dan Polio. Secara ini vaksin cukup mahal untuk yang nggak pakai demam (kemungkinan demam-nya tipis).

Pediacel, vaksin kombinasi untuk diphteri, tetanus, pertussis, polio dan Hib (haemophillus influenza) itu sekali suntiknya, harganya Rp 875,000 lho... kan mahal banget kan ya, belum termasuk jasa konsultasi dokter lho yang totalnya bisa mencapai diatas Rp 1.000.000. Sementara pemberian vaksinnya nggak cuma sekali lho. Kebayang kan ya, berapa uang yang sudah dikeluarkan, tapi dapetnya apa? Zonk doang? Ampuuuun...

Kemarin sempat ada pembicaraan antara lawyer RS yang membeli vaksin palsu dengan BPOM dan perwakilan konsumen. Intinya, RS nggak tau kalau yang dibeli itu vaksin palsu. Jadi, sebenernya pun RS adalah korban. Sementara waktu itu memang sempat beberapa waktu, vaksin itu pada kosong dan langka. Jadi, katanya mumpung ada yang nawarin, makanya RS tersebut ngambil vaksinnya. Nawarinnya sih katanya lewat apoteker-nya.

Sebenernya sih, yang gw bingungin itu... kenapa pihak procurement Rumah Sakit yang terima vaksin palsu itu nggak cross-check ya ke pihak produsen asli-nya. Ibarat kata, minta surat keterangan bahwa memang si PT yang ngiderin vaksin itu benar adanya perpanjangan tangan dari si produsen. Kan bisa minta keterangan dari produsen, kalau si PT itu bener ambil vaksinnya dari pabrik itu. Nggak bisakah demikian dibuatnya? Aiyh entahlah, saya mah apah atuh cuma bisa nganga aja liat bocah dikasih vaksin palsu.

Walaupun nih ya, katanya pemerintah menyediakan untuk divaksin ulang buat anak-anak yang menjadi korban vaksin palsu, tapi apakah semudah itu jalan keluarnya? Gimana nasib anak-anak yang badannya udah kemasukan zat enatah apaan tau itu? Trus kan imunisasi itu ada masanya kan, misalanya anak umur sekian yang bagusnya divaksin apa. Lah kalo udah kewat, gimana? Apakah masih berlaku? Masih bisa bereaksi kah badannya? Nggak ngerti deh...

Dah lah akh, tulisan ini dibuat cuma karena mau numpahin uneg-uneg dari dalam hati aja kok, karena udah nggak tahan, udah geram, udah sampe ubun-ubun deh tuh geramnya. Dimana letak hati nurani itu orang ya, segitu teganya sama anak kecil pula... 

7.20.2016

LEBARAN 2015 - 1437 H

Selamat Idul Fitri 1437 H

Alhamdulillah, sampai juga di penghujung Ramadhan 1437 H. Walaupun puasa saya hanya 8 hari karena 22 hari Ramadhan masa nifas pasca lahiran adik bayi belum selesai, tapi tetap meriah kok lebaran tahun ini. Yang penting dan yang jelas, Idul Fitri tahun ini alhamdulillah keluarga kami bertambah jumlahnya. Ada adik Narfa yang telah bergabung. 

Lebaran tahun ini, libur panjang dan kita nggak kemana-mana. Nggak usah ditanya lagi kenapa, udah pasti jawabannya karena ada adik bayi. Bayinya belum dua bulan pula pas lebaran, jadi nggak berani yang macem-macem bawa jalan-jalannya. Maklum, saya termasuk ibu yang agak penakut urusan bawa bayi pergi ke tempat umum. Kata orang-orang diluaran sana banyak virus dan tubuh bayi belum terlalu kuat nahan virus. Yah, walaupun ada yang kontra dengan bilang, kalo mau sakit mah ya sakit aja. Apalah terserah, saya mah nggak mau lah bawa-bawa bayi piyik ke tempat umum. Pikirannya emang selain disana banyak virus dan yang paling saya males ya barang bawaan printilan itu.

Lebaran tahun ini, saya memtuskan untuk berlebaran dari H-1 alias mudik ke rumah ibu saya di Joglo. Selain alasan karena biar ikutan mudik, walaupun ala-ala mudik doang, yaitu karena saya udah nggak mampu menyiapkan bocah-bocah untuk rapih dari pagi-pagi buta untuk berangkat berlebaran ke rumah bapak ibu. Kebayang ya, tiga orang anak dan harus disiapin semuanya dari A sampai Z, sementara pak suami udah pasti pergi sholat Ied dan sang pengasuh sudah mudik juga dari H-4. To be honest, saya menyerah dan melambaikan bendera putih. Nah, ini mudik apa cari suaka sih sebenernya? 

Lebaran tahun ini, saya merasakan kehilangan yang sangat mendalam karena mama mertua saya sudah tidak ada lagi. Mama pergi meninggalkan kami semua di tepat hari raya Idul Adha tahun lalu. Ternyata Idul Fitri tahun lalu adalah lebaran terakhir mama dengan semua anak cucunya... Ya Allah, semoga lebaran tahun depan saya dan keluarga masih bisa merayakannya bersama-sama.

Lebaran tahun ini, karena saya nginep di rumah ibu, maka yang senang sekali adalah anak-anak saya. Hahahaha... Ini karena kakak saya (yang masih tinggal di rumah ibu), sangat memanjakan anak-anak saya. Begitu tau kalau saya akan menginap di rumah ibu, dirinya menyiapkan segala macam mainan dan makanan untuk keponakannya. Plus lagi, selama ada keponakan, dirinya mengurung diri di rumah. Menghabiskan waktu bersama dengan anak saya. Oh yes banget... Terima kasih pakde Ai, mainan anak-anak makin banyak, anak-anak makan dengan happy dan pastinya ibunya anak-anak terselamatkan karena ada yang momong. Qiqiqiq...

Lebaran tahun ini, saya amat sangat bersyukur lah pokoknya... karena Allah masih memberikan saya kesempatan untuk merayakannya... Buat semuanya, Mohon Maaf Lahir Bathin ya... Maapin kalau ada yang salah-salah kate, umpame... etdaaah... 

6.23.2016

SEDIAKAN PAYUNG SEBELUM HUJAN - UNTUK KULIT ANAK

Narfa dan Lactacyd Baby

Orang tua mana yang tidak bahagia ketika menyambut kedatangan adik bayi? Buah hati yang dinanti pasti disambut dengan riang gembira oleh seluruh keluarga. Seperti saya dan suami beserta kedua anak kami yang sangat berbahagia menyambut kedatangan adik bayi pada tanggal 14 Mei 2016 kemarin ini. Berbagai persiapan menyambut kedatangan adik bayi pun dilakukan. Masing-masing anggota keluarga sudah mempunyai tugas dalam mempersiapkan kebutuhan adik bayi. Sang bapak mempersiapkan dana untuk lahiran dan dana untuk membeli kebutuhan adik bayi (hahaha... untuk urusan sumber dana dan sumber keuangan, sudah pasti urusan bapak). Sang ibu pastinya bertugas untuk membalanjakan kebutuhan adik bayi yang harus dibeli (nah, urusan belanja sudah pastinya urusan ibu-ibu). Sementara kakak-kakak adik bayi mempersiapkan mental menjadi kakak... 

Seperti pada kedua anak sebelumnya, saya selalu mempersiapkan semua kebutuhan bayi yang akan digunakan setelah adik bayi lahir ke dunia. Prioritas pertama, pastinya memastikan barang-barang yang akan dipakai untuk adik bayi sesaat setelah lahir berikut juga dengan kebutuhan ibu pada saat persalinan di Rumah Sakit. Setelah itu, baru kemudian mempersiapkan kebutuhan adik bayi nanti pada saat sesudah bisa kembali ke rumah. Saya bukan type yang mudah mengingat, terlebih pada kebutuhan yang banyak mempersiapkan kebutuhan bayi, maka dari itu, saya catat semua barang-barang yang harus disiapkan. Berhubung ini merupakan anak ketiga, maka beberapa barang kebutuhan bayi yang masih ada, saya catat. Gunanya? Biar tidak perlu lagi membeli yang sudah ada. Beli saja yang belum ada. Penghematan sebagian dari pelit, pemirsa... ya... namanya juga Ibu-ibu. (*nyengir).



Pengalaman adalah guru yang terbaik... ~ unknown



Kulit anak saya bisa memerah...

Waktu melihat kulit bayi anak saya yang kedua (Nararya) yang lahir pada September 2014 agak merah-merah, saya mulai was-was. Tapi seperti biasa, pak suami selalu membawa saya ke arah dan jalan yang tenang - biar balance ; satu panik, satu tenang. Menunggu penjelasan dokter anak saja. Begitu jam kunjungan dokter anak Nararya, langsung lapor, kalau kulit Nararya memerah. Bu dokter memeriksa, dan memberikan penjelasan kalau memang kulit bayi baru lahir pasti sensitif. Beliau langsung menginstruksikan ke suster dan saya untuk memberikan Lactacyd Baby. Kata bu dokter, sabun bayi yang biasa untuk tidak diberikan dulu ke adik bayi. Siaaap, bu dokter. Ternyata, setelah dua kali mandi pagi dan 2 kali mandi sore menggunakan Lactacyd Baby, badan Nararya sudah tidak memerah lagi. Horeee...


Penyebab kulit anak saya memerah...

Sebagai orang tua yang baik hati dan tidak sombong serta rendah hati... hahaha (asli nggak nyambung), saya menanyakan ke bu dokter, mengapa anak saya yang kedua kulitnya bisa memerah seperti itu, sementara anak pertama saya tidak. Bu dokter memberikan penjelasan singkat, bahwa penyebab kulit bayi yang baru lahir bisa memerah karena:
  1. Ada faktor keturunan dari orang tua yang mempunyai kulit sensitif
  2. Ada kemungkin faktor cuaca yang tidak cocok dengan bayi.
  3. Ada kemungkinan dari air yang digunakan saat mandi tidak cocok
  4. Ada kemungkinan sabun yang digunakan bayi tidak cocok dengan kulit bayi
  5. Ada kemungkinan dari bahan baju yang digunakan tidak sesuai dengan kulit bayi
Kemungkinan kulit Nararya memerah karena sabun bayi yang digunakan saat itu tidak cocok. Tapi jujur saja, kulit ibunya anak-anak ini (yaitu saya sendiri maksudnya), memang sangat sensitif. Jadi mohon maaf ya nak, jika ibumu ini mewariskan satu hal yang bisa membuat kulitmu memerah tadi. Tapi syukurlah, dengan Lactacyd Baby, kulit Nararya bisa hilang merah-merahnya. Penyebab kulit memerah, jika dikarenakan poin 1 dan poin 2 di atas, sepertinya agak sulit menghindarinya, tapi untuk poin 3 sampai poin 5, kita bisa menghindarinya. Bagaimana caranya, menghindari kulit memerah karena faktor keturunan dan faktor cuaca? Rasanya sulit sekali...


Persiapan Baby Narfa di awal Mei 2016...

Ada yang berbeda pada persiapan beli-beli kebutuhan adik bayi kali ini. Iya, saya mencatat salah satu kebutuhan adik bayi yang harus dibeli adalah Lactacyd Baby. Jujur saja, pada persiapan persalinan di kedua anak sebelumnya, saya tidak mempersiapkan Lactacyd Baby di list belanja kebutuhan bayi. Anak pertama saya, setelah lahir tidak bermasalah dengan kulitnya. Makanya di anak kedua saya santai saja. Ternyata, anak kedua saya kulitnya sensitif sehingga memerah. Paham banget deh ya sama pepatah yang bilang, "Sedia payung sebelum hujan..." Nah itulah saya, menyediakan Lactacyd Baby buat anak ketiga sebelum disuruh bu dokter.

Menyambut kedatangan adik bayi kali ini, saya pastikan Lactacyd Baby sudah tersedia di tas yang akan saya bawa untuk persalinan. Saya memilih untuk menggunakan Lactacyd Baby untuk mencegah ketidakinginan yang dapat terjadi pada kulit anak saya nantinya, seperti anak kami kedua yang sebelumnya. Sungguh rasa tak tega melihat buah hati yang baru lahir beberapa saat ke dunia, yang harusnya orang tuanya senang, tapi agak sedikit meringis karena lihat adik bayi kulit memerah. Alhamdulillah, produk Lactacyd Baby mudah dicari di mana saja, kebetulan saya mendapatkannya di apotiek dekat rumah. Produk mudah dicari dan harganya pun sangat terjangkau. Lengkap sudah, kebutuhan untuk dibawa saat persalinan nanti. Adik bayi in shaa Allah tidak memerah lagi ya kulitnya. Bayi senang, ibu tenang... 

List Persiapan Belanja Kebutuhan Baby - Lactacyd Baby


Baby Narfa lahir dan Lactacyd Baby...

Alhamdulillah, tepat tanggal 14 Mei 2016, pkl 02.15 dinihari, putra kami yang kedua, anak ketiga lahir ke dunia. Walaupun melahirkan di ruang UGD karena ruang persalinan penuh, baby Narfa dan saya sehat semua - yeeeah, kita berhasil, nak! Hihihi, melahirkan di UGD Rumah Sakit pun pengalaman pertama buat saya. Narfa lahir dengan berat 2900 gram dan panjang 50cm. Setelah semua proses persalinan, proses Inisiasi Menyusui Dini, dan masa observasi pos partum, kami bersiap pindah ke ruang perawatan. Lega sekali rasanya, setelah melalui proses persalinan sekitar 2 jam 30 menit ini ditambah masa observasi 2 jam. Begitu tiba di ruang perawatan ini, saya mulai bisa menyusui Narfa dan bisa melihat Narfa mandi. Saya sudah menyiapkan Lactacyd Baby dan mulai menggunakannya. Antisipasi kulit memerah seperti sang kakak terdahulu.

Selamat datang Baby Narfa...


Lactacyd Baby itu...

Saya jadi penasaran, apa sebenernya Lactacyd Baby itu? Produk yang bisa dihandalkan untuk mengamankan kulit anak saya, bahkan anak bayi yang baru lahir ini. Nah, ini ternyata bahan yang ada pada Lactacyd Baby; Aqua, TEA-lauryl sulfate and Ammonium lauryl sulfate, Ethyleneglycol stearate, Diethyleneglycol stearate, Hydrogenated peanut oil, Lactic Acid dan Lactoserum, Ethylhydroxyethylcellulose, Natural orange flavour, Sodium methyl paraben, Sodium hydroxide, Cholesterol, Phoshoric acid. Ternyata banyak juga ya, kandungan yang ada pada Lactacyd Baby. Banyak kandungannya, ternyata sangat bermanfaat untuk bayi saya yang baru lahir. Nah, Lactacyd Baby ini mengandung susu lho... Ternyata Lactacyd Baby kan bukan hanya untuk mengatasi kulit sensitif seperti anak saya, tapi juga bisa mengatasi ruam-ruam (paling sering siy ruam popok) dan mengatasi biang keringat pada kulit bayi. 

Lactacyd Baby siap sedia

Komposisi, Fungsi, Cara Pemakaian, Tanggal Kadaluarsa


Bagaimana pakai Lactacyd Baby...

Cara pakai Lactacyd Baby ternyata juga mudah sekali. Sambil tutup mata nyiapinnya juga bisa lho... Tinggal tuang 3 atau 4 sendok teh cairan Lactacyd Baby ke dalam bak mandi si anak. Karena anak saya masih bayi banget, jadi saya ya mencampurnya ke dalam bak mandi berisikan air hangat alias air hangat suam suam kuku. Iya, bayi Narfa ketika mandi dengan air hangat langsung anteng padahal sebelumnya menangis. Mungkin karena air yang hangat sama seperti waktu di dalam perut ibu waktu belum lahir. Eh tapi ternyata, Lactacyd Baby ini bisa digunakan dengan berbagai macam cara lho. Pertama dengan cara yang seperti saya tadi, campurkan Lactacyd Baby ke dalam air di bak mandi bayi. Yang kedua yaitu dengan cara seperti menggunakan sabun cair sebagaimana biasanya kepada tubuh sang anak. Untuk saya, saya lebih memilih kepada cara pertama.

Cara menggunakan Lactacyd Baby (Sumber gambar : FB Lactacyd Baby)



Menggunakan Lactacyd Baby Ketika...

Nah, buat buk ibuk dan pak bapak, siapkan ya, Lactacyd Baby untuk buah hati anda. Ini bermanfaat sekali sangat. Kita nggak tau, anak kita punya masalah kulit apa, makanya lebih baik berjaga-jaga. Karena pepatah "sedia payung sebelum hujan" itu benar sekali adanya. Dulu pernah dikasih tahu oleh bu dokter, kalau kulit bayi anak bisa sensitif karena beberapa faktor, seperti cuaca, keturunan (kayaknya kalau anak saya karena menurun dari saya yang memang punya kulit rada sensitif - ya untung aja kulit yang sensitif, coba kalau perasaan *eeeaa), air susu ibunya, sama apalagi ya, lupaaaa. Siapkan saja Lactacyd Baby. Mudah didapatkan, kalau mau pergi-pergi untuk dibawa, tinggal beli yang kemasan kecilnya saja (60 ml), karena untuk kemasan yang besar bisa untuk dipakai di rumah (150 ml dan 230 ml).

Ayooo..., kita gunakan Lactacyd Baby untuk buah hati kesayangan kita, seperti bayi yang satu ini juga mandi dengan Lactacyd Baby... Lactacyd Baby buat kulit anak yang bermasalah maupun pencegahan ya... 



Penasaran dan mau tau lebih banyak tentang Lactacyd Baby? Like aja Fanpage Lactacyd Baby di Facebook. Ada banyak informasi tentang Lactacyd Baby disana, berikut tentang seluk beluk kulit perbayian. Kulit orang dewasa aja ada yang sensitif ya, apalagi kulit bayi yang baru lahir, pasti lebih sensitif lagi deh ya...


Tulisan ini diikutsertakan dalam #LactacydBaby Blog Competition

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post