6.12.2017

SERTIFIKAT IMUNISASI SYARAT MASUK SD NEGERI

Hidup berputar kayak roda. Kadang di atas dan kadang dibawah. Ini bukan berlaku cuma buat rejeki aja siyh kayaknya ya, tapi juga buat pemikiran saya. Namanya juga hidup, kita punya mata, punya hati dan punya perasaan. Kadang konsep hidup jadi bisa berubah, seiring dengan berjalannya waktu. Seperti yang sudah pernah saya share waktu itu, tentang persiapan sekolah buat anak yang paling besar (disini). Hahaha, karena jadinya mau masuk ke Sekolah Negeri, jadilah terus-terusan mengikuti perkembangan pendaftaran SD Negeri. 

Poster Jadwal Daftar SD Negeri - 2017

Mulai terima digital leaflet dari WA Group TK, tentang jadwal pendaftaran masuk SD Negeri, akhirnya gerilya deh baca persyaratannya. Sebenernya mudah saja persyaratannya. Secara umur 6 tahun dan beberapa persyaratan administrasi lainnya. Yang agak jadi barang baru buat saya adalah adanya syarat Sertifikat Imunisasi. Uhuuuy... browsing sana sini situ, akhirnya baca kalau sertifikat imunisasi bisa didapatkan di Puskesmas wilayah kita. Sempat bingung juga, padahal imunisasi nggak di Puskesmas, kok bikin sertifikatnya di Puskesmas?

Pertama-tama saya datang ke Puskesmas ke Kecamatan Palmerah. Kenapa kok langsung ke Puskesmas Kecamatan? Karena saya mikirnya, Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) BPJS kita adanya di Puskesmas Kecamatan. Makanya sikat deh ke situ. Sampai di Puskesmas Kecamatan, dijelaskan bahwa pembuatan Sertifikat Imunisasi dilakukan di Puskesmas Kelurahan sesuai dengan domisili kita. Saya dikasih tau, bahwa Puskesmasnya ada di deket rumah saya malah. Tinggal bawa kelengkapannya saja. 


Kelengkapan administrasi Sertifikat Imunisasi? 

Buku Kesehatan Anak yang ada catatan tentang Imunisasi-nya. Bukunya Nares udah mulai lusuh, dulu dikeluarkan oleh RSAB Harapan Kita karena emang lahirnya disana. Terus, fotocopy Buku Imunisasinya aja. Gak usah semua sebuku dicopy, tapi cukup yang penting ada nama anaknya, dan catatan dokter tanggal berapa imunisasi dan imunisasinya apaan aja.

Copy Kartu Keluarga
Copy Akta Kelahiran Anak
Copy KTP kedua orang tua

Kalau sudah lengkap, silahkan bawa ke Puskesmas Wilayah domisili kita ya. Coba browsing aja domisili kita Puskesmas-nya ada dimana. Kemarin saya karena keburu datang ke Puskesmas Kecamatan, jadinya dikasih tau dimana alamat Puskesmas yang harus disambangi.

Proses pembuatan Sertifikat Imunisasi ini waktunya beda-beda. Saya dijanjikan seminggu selesai. Tapi ada temannya Nares, ternyata waktu pembuatan Sertifikatnya selama 2 minggu. Harap bersabar, karena ini ujian... hahahaha... Eh iya, kalau bicara ada nggak biayanya untuk pembuatan Sertifikat Imunisasi ini? Jawabnya adalah tidak. Grateish aja lah... alhamdulillah. Tapi ya gitu, Sertifikat Imunisasinya ditulis tangan aja. Nggak pakai komputer. Hahaha, saya mah nggak apa-apa kok. Yang penting ada. E tapi nih ya, ternyata ada juga yang pakai komputer ditulisnya.

Cerita tentang Sertifikat Imunisasi

Nah, ada yang lucu nih, mengenai Sertifikat Imunisasi yang katanya sebagai persyaratan masuk SD Negeri ini... Ternyata kemarin pas nany-nanya sama temen yang anakanya 2 tahun lalu masuk SD Negeri, tahun itu juga sudah mensyaratkan siswa untuk masuk pakai Sertifikat Imunisasi. Eh tapi kok ya ternyata pas pendaftaran, Sertifikat Imunisasinya nggak ditanyain... Hahahaha! Disyaratkan, tapi nggak ditanyain... Udahlah, nggak mau nyinyir sayah. Bulan Ramadhan, dan selalu tebarkan kebaikan... 

5.22.2017

STAYCATION DI ARYADUTA LIPPO VILLAGE KARAWACI

Bulan April 2017 ini sebenernya adalah bulan bikin bangkrut para bapak-bapak. Kenapa? Hahaha, hampir tiap minggu itu adalah long weekend, pemirsa... Yang mana daripada long weekend itu merupakan penguras kantong. Anak dan istri (apalagi model istri macam saya ini yang nggak ngerja ngantoran) minta jalan-jalan, minta liburan, setidaknya bakalan minta keluar rumah sekedar pergi ke mall atau ke rumah kerabat. Keluar duit donk lah yah pastinya. Ah tapi nggak usah khawatir, kalo kantong tebal, pasti mah ada aja rejekinya. Aamiin. Cewek matre? Cowoknya kali yang nggak punya duit? Nyahahaha, slogan ini sekarang lagi happening banget di dunia maya... Catet lah yaaah...

Di keluarga kita, emang sudah perjanjian, liburan besar itu hanya boleh setahun sekali. Tahun ini, kita nggak liburan yang jauh-jauh, karena si adhe masih bayi. Saya menyerah melambaikan tangan pada kamera saja untuk membawa anak-anak itu pergi berlibur yang jauh. Jadilah kita putuskan untuk staycation saja. Udah nggak kebayang bawa si adhe pergi jauh dan kemudian dia cranky di tengah jalan. No thank you. Si adhe ini emang nggak kayak kedua kakaknya yang pada betah duduk di car seat. Baru jalan bentar, udah oooeeekkk... hahaha, ya kalau jalan sampai 5 jam keluar kota, alamat saya nggak liburan kan? Malah yang ada saya ikutan cranky. Emak kan butuh liburan juga...

Liburan tahun ini setidaknya kita udah putuskan nginep di Aryaduta Lippo Village yang berada di Karawaci. Hahaa, seempritan doang dari Slipi. Bayar toll aja cuma Rp 7.000 lho (ini juga karena setelah tarif toll naik dari sebelumnya Rp 5.500). Jadinya kita milih liburan sesaat dan sejenak aja ke Aryaduta Lippo Village ini, pemirsa. Kita beli voucher melalui web penyedia voucher hotel itu lho. Tapi ternyata, setelah kita tau, harga beli disitu lebih mahal. Jadi, mending beli langsung ke web Aryaduta-nya aja deh. Ini juga menjadi bahan perbincangan emak-emak di hotel soalnya, hahaha, gossip harga emang ibu-ibu numero uno! Dimanapun dan kapanpun, harga nomor satu.

Sabtu, 29 April, kebetulan kita plot sudah untuk nginep di Aryaduta. Check in di TKP pkl 14.00, jadi kita berangkat dari rumah setelah pk. 12.30 aja. Syantai, soalnya nggak jauh dari rumah. Perjalanan pun ternyata lancar, nggak pakai macet. Long weekend kali itu sepertinya orang-orang sudah duluan berangkat di hari Jumat. Oia, lokasi Aryaduta Lippo Village ini tepat sekali berseberangan dengan Supermal Karawaci itu. Jadi kalau mau kesana, lewat toll Jakarta - Tangerang - Merak dan exit di Karawaci. Jadi, kalau dari arah Jakarta Tomang, ngelewatin 3 pintu exit toll dulu ya, baru keluar. Jangan kurang dan jangan lebih.

Main Lobby Aryaduta
Minta tolong tutup stop kontak listrik.

Sampai di Aryaduta, pk 14.00 langsung check-in di receptionist. Kebetulan kok ya pas kosong, nggak ada yang lagi check-in. Tapi setelah kita check-in, kamarnya belum siap. Kita diminta nunggu dulu. Selama menunggu kamar kita disiapkan, kita keliling-keliling Aryaduta dulu. Cek TKP, ciyn... lihat situasi. Sekitar 30 menit kemudian, baru kita dapat kamar dan bisa menuju kamar. Lantai 6. Barang-barang kita dibantu sama bapak bell boy yang baik hati.

Tiba di kamar, senengya adalah kita dapet view yang ke arah Selatan - sepertinya arah Bogor kali ya - bukan arah ke Supermal Karawaci. Nice banget pemandangan dari kamar. Serasa bukan di Karawaci karena banyak pohon-pohon kelapa gitu dan rumah penduduk berserta tidak ada bangunan tingginya. Alhamdulillah ya, dapet kamar yang di sisi ini. Kalau dapet kamar yang di sisi menghadap mall, pasti ngebosenin. Serasa banget di kota. Bisa request kali ya buat besok-besok kalau mau nginep sini lagi, kamarnya yang menghadap ke Selatan. Eh tapi ya kalau mau emang request ngadep ke mall sih ya sah-sah aja lho ya. Kali-kali aja emang suka juga.

Pemandangan dari kamar kita. Karawaci kah ini?


Ngapain aja disini? 

Staycation semalam ini sebenernya tujuan utamanya adalah berenang. Di Aryaduta ini emang ada poolnya yang lumayan menyenangkan. Ada waterpark deh ceritanya. Jadi emang sudah siap-siap mau berenang di hari pertama dan hari kedua. Nggak ada satupun dari kita yang nggak mau main air disini. Lah boleh main air sepuasnya kok, makanya sikat aja lah. Ban berenang bocah juga dibawa kok. Ternyata disana emang nggak sediakan ban berenang. Hore banget ya, bocah seneng banget bisa main air disini. Di sini kita dipinjemin juga handuknya buat lap-lap badan sebelum naik ke kamar.

Waterpark ini yang kita cari
Playgroundnya bagus lho...

Hari pertama disini, saya dan si bayi nggak ikutan berenang. Males aja, sama beberes bersih-bersihnya setelah renang. Akhirnya saya dan si bayi main di playground yang ada di area country club Aryaduta. Gratis kok, asal sebutin aja nomor kamar kita dan pesan kamarnya atas nama siapa. Langsung masuk. Kalau mau nambah kegiatan, boleh aja ikut cooking class atau sand painting yang diadain sama Kids Club Aryaduta. Acaranya dan harganya nggak tentu, tergantung sama kegiatan sih kayaknya. Kemarin kita nggak ikut, soalnya besoknya udah mau renang lagi.

Disini, kita bisa juga menghabiskan waktu untuk berolahraga. Di country club, ternyata fasilitasnya bisa dipakai semua lho. Ada sauna, ada gym, ada jacuzzi, ada jogging track, ada lapangan buat main bola, ada apaan lagi ya? Kalau nginepnya 2 malam sih bisa dibantai tuh sauna. Tapi kita kan nginep cuma semalam, jadi kita skip sama kegiatan di country club. Bayar lagi nggak masuk suana dan lain-lain? Nggak sih katanya. Harga nginep sudah termasuk dengan fasilitas tersebut. Ehm, murah donk ya? Ya kalau buat sesekali pas liburan ya murah. Hahahaha...

Bosen sama kegiatan di hotel, bisa nyebrang ke seberang, ada Supermal Karawaci. Mall yang gede banget dan lengkap banget. Hypermarket aja ada 2, Hypermart dan Transmart Carrefour. Restoran ya jangan tanya. Dari yang enak banget sampe yang nggak enak ya ada. Dari yang mahal sampe yang murah juga ada. Jalan kaki dari hotel cukup 10 menit aja kok. Tapi sayangnya, mau nyebrang dari hotel ke mall ini, jalannya nggak stroller friendly. Susah banget mau turun tangganya. Mana mau masuk mall juga jalannya dipalang-palang. Banyak angkot ngetem gitu...

Liat seseruan di Aryaduta Lippo Village ini yuuuk....




Jadi...

So far, saya merekomendasikan kalau ada yang mau staycation di Aryaduta Lippo Village Karawaci ini. Value for money banget. Kalau nginep 2 malam, harganya lebih murah lagi lho. Jadinya semalam sekitar Rp 700.000an gitu. Itu udah termasuk breakfast pula. Jadi udah nggak pusing mau cari-cari makanan. Ya walaupun sih di sekeliling hotel banyak banget tempat makan. Jelas-jelas juga samping hotel ini ada McDonalds buka 24 jam. Saya kasih nilai 8.5 dari 10 untuk Aryaduta Lippo Village Karawaci ini. Suatu saat bakal mau balik sini lagi deh... aamiin... 

5.04.2017

KARTINI KITA di 2017

Sudah masuk bulan Mei, tapi masih aja Kartini-an berasa. Rasanya masih belum bisa move on, karena dimana-mana kemarin masih ada lomba peringatan hari Kartini. Jadilah saya juga mau meninggalkan jejak tentang Kartini di blog saya tercinta ini. Late? Better late than never kan ya, kata orang sih begitu. Setidaknya ikut berpartisipasi dalam tidak melupakan Kartini yang telah berjasa begitu besarnya untuk perempuan di Indonesia ini. Kalau nggak ada Kartini saat itu, belum tentu juga sekarang saya bisa pegang computer begini dan menuliskan apa yang saya mau share.

Semua sudah tau siapa Ibu Kartini. Seorang perempuan yang berasal dari Jepara, sebuah kota di Jawa Tengah dan kini terkenal dengan furnitur (yoi... jati jepara toh...? *wink). Lahir dari keluarga bangsawan, iya karena bapaknya Kartini seorang Bupati daerah sana. Kartini, saat itu mau banget kalau dirinya bisa baca dan menulis. Yah, di zaman itu emang perempuan kodratnya di dapur. Nggak usah bisa baca menulis (dan berhitung mungkin?). Wanita adalah dapur dan begitu juga sebaliknya. Ngebayanginnya udah lumayan mumet saya mah kalau cuma seputar dapur. 

Perempuan sekarang, udah sangat jauh berkembang. Kegiatannya nggak sebatas di dapur. Udah sampai langit kalau bisa dibilang. Perempuan sekarang sudah pegang computer, udah berjibaku dengan lalu lintas, udah bisa bersaing dengan laki-laki dalam pekerjaannya, dan udah bisa jadi apaan aja yang tidak biasa dilakukan oleh seorang wanita, dan sebagaimana lainnya. Perempuan yang sekarang sih ya sudah luar biasa kegiatannya. Bahkan ada juga yang diluar batas. Hahaha, kalau yang ini ai no comment deh ya. Ntar malah dibilang nyinyir. Maap, sekarang si nyinyir lagi naik daun.

Seiring dengan perkembangan waktu dan jaman, Kartini udah beragam macamnya. Kartini dari waktu ke waktu menyesuaikan dengan kemajuan jamannya. Di tahun 70an - saya mah belum lahir - mungkin Kartini saat itu adalah Kartini yang bisa baca tulis saja sudah cukup. Di tahun 80an - nah ini saya baru lahir - mungkin Kartini saat itu adalah perempuan yang bisa sekolah tinggi. Di tahun 90an - nah saya baru mulai hidup - Kartini di jaman ini mungkin adalah perempuan yang sudah bisa nyupir, ngajar, dan berkarir. Semakin kesini, perempuan semakin berkarya dengan bebas.


Setiap orang pasti punya Kartini versinya masing-masing, ya... Siapa Kartini versi saya?

Yah kalau ini sih udah pasti nggak perlu ditanyakan lagi. Kartini saya udah pasti ya ibu saya sendiri. Ibu saya ini, luar biasa (buat saya). Lahir di sebuah kota Kalimantan Barat, setelah tamat SMA-nya udah langsung melanglang buana untuk kuliah di sebuah perguruan tinggi terkenal di Bandung. Tahun 65-an, anak perempuan tanpa saudara bisa merantau itu luar biasa menurut saya. Saya sendiri aja sampai sebelum nikah nggak pernah jauh dari orang tua. Lah si ibu saya ini, udah anak perempuan, jauh dari orang tua, tanpa saudara, siap menunggu kiriman wesel tiap bulan. Joss... 

Kebayang lagi, setelah lulus dari kuliah di Bandung, lanjut nikah sama si bapak baik hati dan langsung pula melanglang buana ke negeri jiran. Baru nikah, jauh dari orang tua, hidup di negeri orang beda budaya dan beda kultur, sering ditinggal suami dinas, baru nikah, adouh... sanggup sanggup aja. Kalau nggak modal keberanian dan kecerdasan yang luar biasa, kayaknya mah ini bakalan berat ya. Hahahaaa, asli dah buat saya yang cemen ini pasti mewek mulu kali ya. Lah si suami dinas 3 hari luar kota aja dah babibubebo...

Tapi nih ya, selain ibu saya sendiri, saya juga punya lho, "Kartini" lain yang saya idolakan. Seperti adalah ibu dosen tercinta saya yang sukses di pendidikan, karir dan rumah tangga. Ini awesome banget menurut saya. Kartini lainnya adalah ibu Susi Menteri Kelautan. Udahlah jangan ditanya mengapa saya mengidolakan dirinya. Semua orang juga tau gimana bu Susi. Terus ada juga nih, Kartini berikutnya, yaitu seorang selebritis yang hidupnya anteng adem dan ayem. Rumah tangganya jauh dari hossip dan karirnya juga bagus. Kartini versi dirimu, siapakah...?


2017 dan saatnya saya mencetak Kartini...

Bersyukurlah saya ini, di tahun 2017, saatnya saya mencetak seorang Kartini versi baru. Iya, anak perempuan saya dan suami ini, semakin membesar. Saatnya untuk mendidik dirinya agar menjadi wanita yang pintar, tangguh, cerdas, tapi juga rendah hati. Ini hal yang tidak mudah pastinya. Saya sendiri perlu banyak belajar dan belajar untuk menjadi orang tua, mencetak Kartini yang baru lagi. Tapi walau bagaimana juga, yang namanya belajar emang nggak mudah. Ada sebuah kegagalan untuk menjadi pengalam agar kita tahu dimana kekurangan kita. Bener nggak?

Kartini tahun 2017 ini, Nareswari berusaha setidaknya untuk berani tampil di depan umum orang banyak. Orang-orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Iya, kemarin dia ikut parade busana daerah di salah sebuah mall di area Jakarta Barat. Menang nggak? Hahahaha... bisa maju tampil aja sudah bersyukur. Buat saya, dia mau maju itu udah jadi juara. Nggak semua anak berani tampil di depan umum, orang banyak dan tidak dikenal. Kalau kata bapaknya anak-anak, yang penting itu prosesnya kok. Menang adalah bonus. So true lah ya...

Anak dan Ibu
In stage... berani maju...
Selesai manggung ceritanya...

Teruslah belajar Nareswari-ku..., belajar menjadi seorang perempuan yang berguna baik banyak orang dan rendah hati. Doa bapak dan ibu selalu menyertai buat Nareswari...


4.20.2017

HIBURAN MURAH MERIAH JAKARTA BARAT

Setiap manusia, butuh hiburan. Termasuk juga saya ini. Yaiyalah, ngurus tiga anak yang lagi lucu-lucunya itu, menguras tenaga lho. Jadi nggak ada salahnya kalau ada waktunya juga kita menghibur diri sendiri. Bahkan ada yang bilang, buat emak-emak, "me time itu wajib". Siapa sepakat ayo acungkan tangannya? Nah, tinggal cari deh bentuk hiburan yang sesuai sama kita. Karena pada dasarnya beda orang, beda tingkat kepelikannya dan beda pula cara ngehibur dirinya sendiri. Saya, menghibur cukup injek gas, pergi ke supermarket dan belanja. Kalau duit lagi banyak, boleh belanja mewah. Kalau duit lagi nggak banyak, silahkan nikmati yang ada...

Minggu kemarin, pak suami ngajak kita jalan-jalan sore ke salah satu mall yang ada dekat rumah kita. Iyes, Central Park Mall di Tanjung Duren. Di deretan ini, ada 3 (eh apa empat ya?) mall berjejer - tapi bukan balajaer yak. Mulai dari Taman Anggrek - Central Park - Neo SOHO - jauhan dikit ada Citraland Mall. Kita sebenernya udah ngerencanain ke Central Park itu sejak 2 minggu lalu, tapi karena begitu mau masuk aja udah macet banget, kita skip deh waktu itu. Aseli, ngeliat mobil bejibun dan nggak bergerak itu udah males banget. Ya bela-belain amat ya, mau antri masuk begitu. 

Akhirnya, minggu kemarin kita niatkan lagi ke Central Park, dan parkir di Taman Anggrek. Beruntungnya, akses pejalan kaki dari Taman Anggrek ke Central Park itu dalam kategori yang manusiawi. Pedestrian walau nggak pakai atap, tapi jalanannya beradab. Jadi buat kita sekeluarga yang bawa bocah, nyaman aja jalan dari Taman Anggrek ke Central Park. Cukup 10 menit, dari tempat parkir sampai di Central Park ini. Daripada harus antri mobil mau masuk parkir Central Park yang setidaknya bisa 30 menit lebih sendiri. Ehm, belum lagi cari parkirnya ya?



Kenapa juga kita suka ke Central Park (dan kini Neo SOHO juga)? 

Ini di Jakarta lho.. 

Ini nggak lain karena Central Park mall ini, ada tamannya. Walaupun tamannya adalah taman buatan, tapi lumayan lho dibanding mall lain yang nggak punya taman dan kolam ikan koi. Disini kita bisa santai duduk-duduk di taman Tribeca. Belum lagi kalau pas ada pertunjukan, tandanya kita bisa liat atau nonton disitu. Paling enak emang sore-sore gitu, duduk santai di taman. Ya kalau siang sih jangan tanya lah ya, pasti panas. Kalau pagi? Ya belum buka lah emol-nya... Duduk santai sambil cemal cemil paling enak pastinya. Bawa anak bocah lebih lengkap. 

Nah, sekarang ini makin sedap deh main kesini. Secara mall baru yang sempat terbakar di akhir tahun 2016 ini, menghadirkan konsep yang manusiawi juga kok. Jujur aja, buat saya sih ini menarik. Ada apa di Neo SOHO? Selain mall, yang menarik adalah jembatan penghubung antara Central Park mall dengan Neo SOHO ini. Jembatannya dirancang menarik oleh sang arsitek. Kalau siang, terlihat jembatan dengan garis-garis vertikal yang warna warni. Nah, kalau malam, lampu-lampunya menyala, bikin makin keren aja. 

Cuma jembatan aja gitu? Nggak kok. Di jembatan ini kita bisa duduk-duduk, sambil ngobrol-ngobrol, trus enak juga ngeliat muka Jakarta di seputaran wilayah Jakarta Barat. Kalau siang liat bangunan-bangunannya dan kalau malam bisa liat lampu-lampu di bangunan-bangunan seputar wilayah itu. Oia, dari jembatan ini juga kita bisa ngeliat betapa macetnya akses mobil pribadi yang menuju kawasan yang dikembangkan oleh Agung Podomoro ini. Jadi, banyak yang bisa kita lihat dari jembatan ini. Buat saya sendiri, menarik kok. 

Menurut saya dan pak suami, menghabiskan akhir pekan di Jakarta nggak ada salahnya mengunjungi tempat ini. Salah satu alternatif hiburan murah dan meriah dalam kota. Murah karena nggak perlu keluar uang banyak. Kecuali kalau makan dan belanja di shopping center-nya, itu udah lain cerita. Oia, kemarin menghabiskan biaya parkir di mall Taman Anggrek sebesar Rp 17.000. Masuk pk 17.30 dan keluar pk 20.45 (sekitar 4 jam lamanya). Anggap saja lah biaya parkir ini sebagai tiket masuk ke taman yang murah meriah untuk kita sekeluarga. Akur banget kan, di dompet?

Eco Skywalk

Bisa lihat ini dari Eco Skywalk

Macetnya - banyak mobil banget yaaa...



Mau liat macetnya dan padatnya mobil di seputaran Central Park mall dan Neo SOHO ini? Ini dia gambarnya....



Nah, satu lagi nih. Di Neo SOHO itu ada Jakarta Aquarium lho. Baru. Model-model macam Seaworld gitu. Bedanya sama Seaworld? Kalau saya rasa sih 11-12 lah. Bedanya Jakarta Aquarium ini lokasinya ya ditengah kota. Udah gitu nggak perlu tiket masuk seperti di Ancol. Harga tiketnya berapa? Kemarin pas hari libur, harga tiket Rp 250.000 aja per orang. Hahahaha, masuk berempat abis sejutaaa, pemirsa. Ntar deh ya, nunggu promo tiket aja. Itu juga kalau ada. Kalau nggak ada? Yaudahlah, cukup liat di instagram aja, pengalaman orang lain. 

Jakarta Aquarium - foto di depan aja dulu ya


Jadi... lumayan kan... ada tempat hiburan baru di Jakarta? Nggak menguras kantong yang banyak... 

4.17.2017

PERSIAPAN MASUK SD

Nah, kan... udah lama banget nggak update blog. Yang sakit, yang sibuk, dan yang lain-lain yang bikin terhenti mau nulis blog. Punya anak 3, kalau yang satu sakit, biasanya abis itu rolling menular sakit ke yang lainnya. Ujung-ujungnya ibunya yang kena sakit juga. Tepar ngurus 3 anak marathon. Tapi disitulah seninya jadi ibu. Ngurus ina inu anu sendiri. Enjoy banget sama setiap prosesnya. Teler tapi berharga. Tapi emang pasti ada aja yang jadi nggak bisa dikerjain. Salah satu emang urusan update blog jadi terbengkalai.

Nih, kali ini mau share tentang Nares, anak pertama yang mulai menghabiskan waktunya di Taman Bermain dan akan melanjutkan ke SD. Wahaaa, berasa banget ya, punya anak bayi kemarin dan kini sudah aja mau masuk SD. Kok cepet banget waktu berlalu. Nggak berasa? Ya berasa banget. Kalau ada yang bilang nggak berasa, tiba-tiba udah gede aja tuh anak, mungkin nggak ngurus anaknya. Ahahaha... ya masa tiba-tiba anaknya udah gede sendiri? Nggak mungkin kan? Kalo diurus sendiri, pasti berasa banget ngurusinnya.

Sebentar lagi meninggalkan TK ini

Udah mulai masuk SD gini, para emak dan bapak biasanya mulai resah gelisah mau masukin anaknya ke sekolah mana. Semua orang pasti mau kasih yang terbaik buat anaknya. Buat anak kok coba-coba? Gitu bukan katanya? Sama. Saya juga demikian adanya. Nggak kurang nggak juga lebih. Buat semua anak, mau kasih yang terbaik. Terbaik menurut saya dan pak suami, pastinya. Jangan lupa, yang terbaik itu juga dengan pertimbangan faktor a, b, c, d, dan seterusnya. Prioritas ina inu anu juga nggak ketinggalan. Nanti tinggal diurutin aja tuh yang mana yang prinsip-prinsip. Bungkus deh...

Bahas dikit, ya... di seputaran lingkungan kami tinggal di Palmerah ini, ada beberapa sekolah yang termasuk kategori bagus. Ya bagus kualitas dan bagus harga. Semua ada plus minusnya kok. Sekolah-sekolah jagoan yang ada itu adalah SD Bhakti di Kemanggisan, SD Regina Pacis di Palmerah Utara, SD IKKT di Komplek Hankam Slipi, dan SD Al-Azhar di Kemandoran. Cuma SD swasta ajakah yang bagus disini? Nope. Ada juga kok yang Negeri yang nggak kalah hebatnya. SD Palmerah 15, 17, dan 19 ada di Komplek Sandang dekat Univ. Bina Nusantara. Kemudian deket rumah kita ada SD Kemanggisan 01, 03, 05, 06. 

Idealnya saya sih sebenernya masuk SD itu yang nggak pakai test, nggak mahal, nanti belajar di SD juga PR nggak ada, karena umur segitu belum waktunya banyak-banyak PR. Tapi akh ya sudahlah, di deket sini nihil yang begitu. Hahahaha, mari hadapi realita kehidupan ini kawan. Buka mata, bahwa sekolah yang ada di deket lingkungan apa adanya aja.


Terus Nares mau masuk SD yang mana? Ini pertimbangan kita nih...

Pertama, milih sekolah anak itu harus terdekat mungkin dari rumah. Jalan kaki kalau bisa dari rumah. Selain jalan kaki itu sehat, pastinya nggak bakal kena macet sama kejamnya jalanan ibukota. Udah paling males, kalau berangkat ke sekolah harus berjibaku dengan lalu lintas yang tidak bersahabat. Jakarta, pemirsa... jalanannya lebih kejam daripada emak lampir. Jadi, prioritas kita SD yang terjangkau dengan jalan kaki adalah SD IKKT dan SD Kemanggisan. Skip deh tuh ya, sekolah-sekolah yang lainnya. Kudu pakai mobil/motor mau kesana.

Kedua, milih sekolah anak udah pasti yang sesuai dengan kantong si bapak. Ya iyalah, masa mau masukin ke sekolah yang nggak terjangkau harganya sama si bapak? Nanti tiap bulan kita bisa makan dedak dengan lauk sayur daun salam (ini juga karena pohon salam ada di depan rumah - jadi boleh metik langsung aja, nggak usah beli lagi). Alhamdulillah, SD IKKT ini baik uang pangkal masuknya maupun SPP bulanannya dapat terjangkau oleh si bapak. Negeri? Kalau Negeri sih sekolahnya grateis, tutup mata aja. 

Akh, sudahlah. Pilihan kita jatuh kepada kedua SD tersebut saja. Yang dekat dan harga terjangkau di kantong kita. SD IKKT atau SD Kemanggisan. Terus, kira-kira, Nares mau masuk yang mana? Sebenernya pengen bangen masukin Nares ke sekolah negeri. Grateis? Nggak juga semata karena gratisnya lho. Tapi sebagai ibu yang kepoismenya tingkat dewa, saya mulai korak korek informasi dari sana sini sono tentang metode belajar dan kurikulum di sekolah-sekolah tujuan saya. Sementara ini sepertinya lebih cocok sama SD Negeri justru. 

Tapi nih, Nares udah saya daftarin ke SD IKKT, lho. Hahahaha, gimana siyk? Mau masuk Negeri kok masih daftar swasta. Jadi ya, syarat masuk SD Negeri itu berdasarkan umur. Nggak pakai tast test tist lagi seperti SD Swasta. Nah, umur yang diutamakan untuk masuk SD Negeri itu adalah 7 tahun. Nares, nanti bulan Juli 2017, umurnya 6 tahun 5 bulan. Jadi, harap-harap cemas untuk dapet bangku di SD Negeri ini. Kalau saingan umurnya banyak, ya bisa jadi wassalam. Kalau lagi nggak banyak saingan, insyaaAllah bisa masuk. Hihihihi... pengen doa, supaya saingannya nggak banyak.

Jadi, makanya saya dan pak suami itu mikir, Nares tetap harus daftar SD swasta, untuk jaga-jaga kalau nggak bisa masuk di SD Negeri yang kita pilih, yaitu SD Negeri yang terdekat. Sekarang ini, daftar SD swasta sudah mulai berakhir. Kalau nggak daftar sekarang, bisa-bisa pun di SD swasta ini nggak dapet bangku. mulai lah kita mikir, kalao nggak keterima di Negeri yang kita mauin, trus belum daftar SD swasta, gimanaaaaa.....? Ngulang setahun lagi di TK? Nares pasti bosen. 4 tahun di TK bisa-bisa lumutan. Hahahaha... 

Sebenernya nih ya, pas cerita-cerita dengan sesama bu-ibu mengenai SD Negeri ini, sempet juga ada pembicaraan mengenai pergaulan di SD Negeri yang gimanaaa gitu. Apa nggak takut, nyekolahin anak di sekolah negeri yang pergaulannya mungkin lebih ganas dari sekolah swasta? Hihihi, sempet mikir iya, tapi alhamdulillah, dengan kekuatan bulan, datanglaaah... Hahaha... hilang deh ketakutan itu. Kalau kata ayahnya Nares, pergaulan dimana saja sama. Ada kekurangan dan ada kelebihannya masing-masing kok. Nggak usah takut. Bismillah saja.

Ini SD Negeri Kemanggisan 03 dan 05 Pagi (doc. mba Eris)
SD Kemanggisan 01 Pagi dan 02 Petang (doc. mba Eris)

Jujur aja lho, tadinya saya itu udah mau nutup mata menyekolahkan Nares di SD swasta depan rumah ini. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, ina inu pertimbangan lain, jadi bergeser sedikit pilihannya. Ya, tetap harus daftar sekolah di depan rumah ini. Hihihi... Demikianlah sudah cerita perjalanan mencari sekolah Nares saya tumpahkan disini. Semoga bermanfaat ya, buat yang lain yang lagi mencari sekolah buat ananda tercinta. 

3.09.2017

TENTANG PERNIKAHAN

Alhamdulillaaah, sudah mau masuk 7 tahun pernikahan antara saya dan pak suami. Waktu yang masih sangat muda belia dalam usia pernikahan. Masih nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan usia pernikahan pasangan lainnya. Ya, setidaknya bapak dan ibu saya yang sudah menikah dari tahun 1972. Berarti sudah memasuki 45 tahun di November 2017 ini. Huwooow lah, sesuatu banget. Maklum aja, mempertahankan pernikahan emang nggak gampang. Mau nikah mah gampang, ngejalaninnya itu yang berat. Harus mengurangi ego masing-masing pihak. Eh but no no no, kali ini saya bukan mau bahas tentang kehidupan di pernikahan. Tapi saya mau bahas vendor waktu resespsi saya. 

Tetiba aja gitu mau bahas vendor pernikahan? Tidak lain dan tidak bukan karena adik ipar saya sendiri baru nikah di awal Februari ini. Lalu saya berfikir kalau saya belum tinggalkan jejak tentang vendor pernikahan saya waktu itu (tahun 2010). Ciyeee, ada yang kangen sama masa lalu, masa-masa ngurusin nikahan. Masa-masa ribet sama vendor. Saya bukan type vendor yang cerewet sih, tapi kalau vendor lelet atau nggak bener ya pasti nyap-nyap juga. Nih ya, mau share vendor-vendor kita pas ngadain resepsi nikahan...

Foto Ramean pas Resepsi
Pas banget abis Akad Nikah


Gedung Padepokan Pencak Silat

Agak lucu sebenernya ngadain resepsi di Padepokan Pencak Silat Taman Mini ini. Kenapa? Soalnya suami dan saya kan tinggalnya di Jakarta Barat semua, tapi kok ambil gedung resepsi di wilayah Jakarta Timur? Banyak pertimbangan soalnya. Yang pertama, ya faktor harga yang masuk budget (tahun 2010, charge gedung adalah Rp 6,600,000 per 1/2 hari - sekarang 2017 udah Rp 11,000,000). Terus, aksesnya gampang banget, keluar toll Taman Mini, nggak jauh udah langsung sampai. Terjangkau juga sama kendaraan umum. Aulanya cukup besar, plafonnya tinggi jadi nggak panas. Parkirannya luas. Padepokan PS juga punya penginapan gitu, jadinya kemarin keluarga yang datang dari daerah banyak yang nginep di penginapan sini. Penginapannya juga nggak mahal kok.


Catering dan Dekorasi

Ini yang cukup menyedot dana besar dari biaya resepsi pernikahan di gedung. Biaya makan. Namanya juga ngundang orang makan, maka jadilah biaya makan ini merupakan komponen yang paling besar dibanding biaya lainnya (rias, dekor, foto, souvenir, undangan, dll). Kita pakai vendor Puspita Sawargi punya ibu Lynda. Kenal dari mana sih, Puspita Sawargi? Nyobain juga lah pas ada yang kawinan. So far seneng sama masakannya. Minta price list dan ternyata masuk di budget. Team marketing sangat helpful. Jadilah kita pakai catering Puspita Sawargi. Ternyata bu Lynda nawarin paket. Jadi nggak cuma makanan, tapi juga dekorasi pelaminan, fotografer, rias pengantin, MC, dan lain-lain. Kecuali souvenir dan undangan.

Dipikir-pikir, kayaknya enak juga ambil yang paket. Kenapa? Kita jadi nggak repot ngurusin perintilan sana sini sono. Biar aja di-handle sama 1 vendor. Wedding Organizer donk? Ya semacam itulah. Tapi nggak full WO. Ndak apa, kita ambil paket aja. Tapi ada beberapa items yang masuk di paket, suami dan saya nggak mau pakai. Misalnya, kayak live music alias organ tunggal atau mini orchestra. Kita nggak suka yang hingar bingar, makanya coret dari list deh live music. Trus juga penari pengiring pengantin, alias cucuk lampah, itu juga kita coret. Boleh emangnya? Boleh banget dari Puspita Sawargi. Trus diganti ke yang lain? Iya. Kita alihkan ke makanan semua. Makanya kita berdua sangat puas dengan pelayanan team Puspita Sawargi. Sekarang Puspita Sawargi semakin besar lho (main deh ke IGnya @puspitasawargi. Good banget.


Fotografer

Ini juga ambil paket dari Puspita Sawargi. Kita sebenernya boleh milih beberapa vendor fotografer waktu itu. Ada beberapa hasil dokumentasi yang waktu itu diliatin ke kita dan semuanya bagus-bagus. Alamakjang kan kalo begini, bingung mau milih yang mana. Pilih lobang kancing aja dah akhirnya. Wkwkwkwk. Karena belum paham siapa vendor yang udah bagus banget dan harga murah banget (hahahaha - medit), akhirnya kita minta saran aja dari team Puspita Sawargi, siapa yang direkomendasikan. Terpilih deh Graha Kencana Foto Studio. Hasil foto dikirim 3 minggu setelah acara dan hasil foto dan video bagus hasilnya. Kita nggak bawel sih ya, jadinya fotonya dikirim cepat aja tuh sama vendor-nya. Ahahahaha....


Undangan

Waktu mau bikin undangan, kita coba survey ke beberapa tempat. Diantaranya ada Pasar Tebet yang udah terkenal tempat bikin undangan. Hahaha, nggak masuk budget kita sayangnya. Secara kita punya prinsip, bikin undangan nggak mau yang bagus-bagus amat, tapi nggak jelek-jelek amat. Kenapa? Soalnya kalau undangan biasanya abis dibaca ya dibuang gitu aja. Selesai. Jadi kalau undangannya mahal, rasanya kok sayang. What we did? Suami saya design sendiri undangan dan kita bawa ke percetakan. Mana jumlahnya juga cuma 300 undangan, nggak banyak. Alhamdulillah, H-21 selesai juga tuh undangan. Harganya ya jauh banget sama percetakan-percetakan undangan kawinan. Mau coba? Kalau mau ribet mah bolehlah... ahahahahh... Percetakan mana? Ada tuh di Meruya.


Perias

Dari beberapa vendor yang ditawarin sama Puspita Sawargi (sanggar Liza, Miarosa, Putri Nawangsari, ada apa lagi ya lupa), akhirnya kita milih Putri Nawangsari milik bu Naning. Kenapa milih Putri Nawangsari? Karena lokasinya paling deket sama Padepokan PS. Hahaha, takut perias datang telat kalau jauh lokasinya, makanya ambil perias yang paling dekat sama gedung. Hasil? Sangat puas. Paes Jawa Solo-nya yahud lah pokoknya. Aseli digambar sama bu Naning. What I want to say about bu Naning adalah, professional. Sampe saya pun terperangah pas rambut dikerik sedikit buat paes-nya. Ya tapi emang begitu. Bu Naning ini juga gak cuma ngerias, tapi terus megangin manten apa yang harus dilakukan gitu. Ngajarin cara jalan, nuntun acara. Best lah...


Nah... coba deh mungkin bagi yang mau ngadain respesi nikahan, mungkin tulisan saya ini bisa sedikit membantu ya. Selamat hunting vendor dan semoga prosesnya lancar ya...

1.27.2017

REVIEW CLODI ECOBUM PANT - CLODI LANJUTAN

Udah sekian lama bye-bye beli diapers sekali pakai alias pospak. Lumayan banget menghemat dan nggak lagi berburu diapers murah tiap promo di supermarket. Udah nggak grasak grusuk lagi sama yang namanya promo diapers. Skip dan bhaaay pokoknya. Sukses dengan cloth diapering (clodi) sessi 1, mari lanjut dengan cloth diapers sessi 2. Sessi 1 nya itu adalah cloth diapers dengan model yang selama ini Narfa pakai, dan sessi 2 dilanjut dengan model pants. Kurang lebihnya mirip pospak dengan perekat dan pospak celana (baby awal dengan tape dan lanjut dengan pant).

Belajar dari sana sini situ di dunia maya, emang kan jenis dan type clodi Ecobum - popok kain modern - itu berbagai macam. Dari segi materialnya, ada yang dari bludru disebut Minky dan ada yang PUL. Nah PUL ini yang menjadi pilihan saya. Saya emang nggak terlalu telaten untuk pelihara material bludru, makanya pilih yang PUL. Tapi jangan salah, yang type Minky ini motif-nya lucu-lucu banget. Jadi iri gimana gitu sama motifnya minky. Walaupun yang material PUL ini ya lucu-lucu juga motifnya. Ada yang motif tema perempuan, laki-laki dan ada juga yang universal.

Dari segi type perekat atau kancing-nya, nah yang clodi pertama ini seperti yang saya udah bilang diatas tadi, seperti pospak perekat (disebutnya type snap). Ini buat anak bayi yang masih belum banyak gerak aktif sana sini sono. Masih mudah sekali memakaikannya. Giliran si anak udah mulai membesar, udah mulai menendang-nedang, jungkir balik jumpalitan, tipe yang snap itu udah mulai agak susah memakaikannya lho. Seperti sekarang ini baby Narfa yang udah mau 8 bulan dan semakin lincah. Saya rasa ini saatnya saya memakaikan clodi Ecobum pants.

Taraaa... bukan sulap bukan sihir... ayo kita coba clodi lanjutan baby Narfa : Ecobum Pants - clodi pull up pant. Kenapa Ecobum, ya pasti karena clodi pertama-nya yang tipe snap, udah cocok banget sama Narfa. Kebayang kan, clodi lokal tapi citarasa clodi import. Kalau soal harga, udah pasti emang termasuk clodi murah dan dapat clodi bagus. Dengan harga segitu dan kualitas clodi premium, cihuy banget lho. Sekarang mau coba review Ecobum Pants ini, ya...


Material

Ecobum Pants, setelah dijelajahi di dunia maya, ternyaata ada yang mingky dan ada yang PUL. Ini dari segi material yang luarnya ya... Saya tetap pilih yang PUL. Sekali lagi, saya bukan type yang pinter merawat type minky alias seperti bludru itu. Jadilah saya pilih PUL kembali untuk Ecobum Pants ini. Kalau ibu-ibu yang pinter ngerawat bahan minky, saya mempersilahkan dengan sangat, pilih Ecobum minky ya. Abis motifnya lucu-lucu banget. Menurut para suhu perclodian, yang minky itu lebut banget bludru-nya. Cakep lah pokoknya...

Nah, kalau material bagian dalamnya, Ecobum Pants ini menggunakan material suede. Suede ini, kering banget lho. Saya juga bingung, kok bisa ya, suede-nya kering gitu, padahal insert-nya clodi udah cukup basah. Beruntung banget emang pakai inner suede ini, karena kulit bayi adik Narfa yang cukup sensitif, jadi nggak merah-merah karena lecet. Kemarin sempet dag dig dug ser ser ser, waktu kelamaan pakai pospak (belum kenalan sama clodi), itu merah-merah semua bagian dalam si bayi. Tanda-tanda kulit sensitif kan muncul banget. Alhamdulillah, pakai clodi nggak lecet.


Motif

Clodi Ecobum bagus ini, mau yang minky atau yang PUL semuanya bermotif bagus-bagus lho. Motifnya ada motif yang untuk perempuan dan motif untuk laki-laki. Tinggal pilih aja sesuai selera. Kalau mau aman, silahkan pilih yang motif-nya universal. Mungkin buat nanti dipakai sama adiknya lagi (ini berlaku bagi yang masih mau punya adik, ya... ahahahaaa - kalau saya skip dulu aja). Motif apapun yang dikeluarkan sama Ecobum, ciamik punya lho bu ibu. Lucu-lucu. Saya tetap memilih warna yang tahan kotor, maklum sangat ya, nggak berani jorok-jorokan kalau saya.

Lucu banget ini motif scooter. Sukak!


Ukuran

Karena Narfa yang sekarang ini umur 7 bulan 20 hari dengan berat 8.5 kg, jadinya pakai clodi PUL Pants udah paling tepat. Ecobum pants ini punya satu ukuran, tapi bisa disesuaikan dengan ukuran bayi kita kok. Soalnya Ecobum pants punya beberapa kancing yang bisa dipaskan dengan ukuran berat badan anak kita. Namanya juga anak bayi, beda pabrik bisa beda cetakan. Jadi saya nggak khawatir beli Ecobum Pants snap ini nggak cukup buat anak saya. Kancing-nya bisa di-adjust kok. Waktu kemarin masih umur 2 bulan pakai, set kancing yang paling kecil. sekarang bisa udah yang medium.

Dikecilin, kancing 1 baris ya...

Dibesarin, lepas semua kancing-nya
Silahkan atur sesuai besar badan anak kita ya...

Double Leg Gusset

Ini emang handalan saya, yaitu clodi yang pakai double leg gusset. Double leg gusset ini manfaatnya adalah seperti pelindung anti bocor sisi samping clodi. So far selama memakai clodi yang PUL snap selama 6 bulan ini, itu pup nggak pernah bocor. Aman terkendali. Jadi double leg gusset Ecobum ini bekerja dengan sangat baiknya. Nggak salah deh ya, milih Ecobum clodi anti bocor ini, soalnya jadi bersih selalu. Saya paling nggak bisa deh tuh poop anak-anak berantakan. Antara malas bersihkan poop dan jijik sih emang rada tipis, kan ya? *wink


Insert Clodi

Kemarin waktu baby Narfa mulai pakai clodi di umur 2 bulan, saya memilih insert yang microfiber. Semuanya microfiber saya pilih. Kenapa nggak pakai bamboo atau hemp yang menyerap cairan lebih banyak dibanding microfiber? Jawabannya adalah karena saya baru nyoba waktu itu. Hahaha. Sekarang, buat clodi Ecobum Pants ini, saya coba yang hemp-nya. Ternyata emang bener jauh lebih banyak menampung cairan dibanding yang microfiber. Tau gitu dari awal dulu beli yang hemp ya, pemirsa. Yah, telat banget nggak sih? Weheee, tapi better late than never.

Insert Clodi Ecobum yang canggih
Paling kusuka, type pocket gini. Rapih. 


Nyuci Clodi

Belajar dari pengalaman dari cara mencuci clodi Ecobum PUL Snap kemarin yang hampir tiada kendala, kali ini dengan Ecobum pull up pants juga tanpa kendala. Nyuci clodi mudah sangat, tidak sesulit yang dibayangkan oleh orang-orang lho. Emang bener banget, tak kenal maka tak sayang. Belum nyoba pakai clodi, pasti belum tau mudahnya pakai clodi. Emang paling seneng tuh tapi kalau cuaca cerah. Clodi, clodi basah jemur aja pantengin matahari dan bersih kembali. Saya nggak usah pakai cairan kimia macem-macem demi menjaga kinerja clodi yang maksimal.


Clodi Idaman


Ini emang agak gimana gitu ya, antara senang dan sedih. Senangnya itu karena yang jual clodi Ecobum itu banyak lho. Jadi mudah aja dicari barangnya. Onlineshop paling juara deh. Selama ini bela-beli Ecobum pastinya melalui onlineshop. Cek langsung aja ke ecobum.net kalau nggak percaya. Mau beli di onlineshop yang lain juga bisa kok. Tapi ya gitu ya, kudu cepet-cepet dah belinya. Pengalaman kemarin, begitu restock langsung beli. Eh tapi kemarin baca-baca juga pada banyak yang PO lho. Warbiyasak banget ya, Ecobum...


Alhamdulillah, seneng banget deh baby Narfa udah naik kelas pakai clodi pants. Makin besar, makin pinter, sehat selalu ya baby Narfa. Belajar hemat dan belajar cinta lingkungan sedari kecil, nak. Kelak dirimu akan tau, betapa berharga-nya lingkungan hidup ini (eciyeee... mamaknya lagi bijaksana). 

SERTIFIKAT IMUNISASI SYARAT MASUK SD NEGERI

Hidup berputar kayak roda. Kadang di atas dan kadang dibawah. Ini bukan berlaku cuma buat rejeki aja siyh kayaknya ya, tapi juga buat pemik...

Popular Post