Showing posts with label Seputar ASI. Show all posts
Showing posts with label Seputar ASI. Show all posts

6.18.2016

SIAP BENERAN JADI IBU? SIAP SIAP INI...

Belum sempat jalan-jalan kemana-mana...
Belum bisa pergi kemana-mana...
Tandanya... Tandanya saya cuma bisa menulis apa yang saya alami di rumah...

Menjadi seorang ibu, tentu nggak mudah. Dari mulai awal hamil, sudah harus banyak yang dipelajari. Dari awal mulai hamil, sudah mulai merasakan hal-hal yang sedikit mengurangi kenyamanan. Mengurangi kenyamanan bukan berarti nggak enak ya, bukan berarti sulit juga, dan bukan berarti nyusahin. Namanya juga ada perubahan dalam tubuh, ada yang berbeda, ada mahluk ajaib di dalam tubuh kita. Semuanya butuh penyesuaian dan setiap (calon) ibu bisa saja mengalami hal yang berbeda-beda. Sejauh kita bisa menikmati keadaan dan kondisi tersebut, saya yakin nggak ada masalah. Semuanya will be okay, kan? Saya sih yes... nggak tau mas Anang... - weeewww...

Melahirkan putri sekali dan melahirkan putra dua kali, saya mau berbagi pengalaman apa yang saya rasakan setelah melahirkan. Dari ketiga anak, kondisinya memang tidak sama persis, tapi ada beberapa hal yang kurang lebih sama adanya. Anak pertama dan kedua saya lahir dalam kondisi saya harus kembali bekerja di tiga bulan kedepannya - masih kerja di kantoran full time, sementara anak ketiga saya lahir dalam keadaan saya sudah tidak lagi bekerja full time. Anak pertama dan kedua saya lahir dalam kondisi ibu mertua saya ada dan ibu saya sehat bugar, sementara anak ketiga saya lahir dalam kondisi ibu mertua saya yang sudah tidak ada dan ibu saya sendiri dalam kondisi pasca operasi tulang bonggol paha (sedih banget deh...).

bla bla bla... (ambil gambar dari sini)
Setelah melahirkan, setelah sang buah hati keluar melihat dunia... maka ini yang saya rasakan lho...

1 - Manfaatkanlah waktu senang-senang waktu di RS

Baru banget melahirkan? Abis dari ruang persalinan masuk ke kamar perawatan, kan? Nah, puas-puasin deh seneng-seneng di kamar perawatan ini. Leyeh-leyeh, santai-santai, ngapain kek... Selama di kamar perawatan ini, anda hanya disibukkan dengan mengurus bayi saja. Bayi baru lahir pun, lebih banyak jam tidurnya daripada jam meleknya. Di kamar perawatan ini, makanan datang sesuai jadwal tanpa kita harus mikir mau belanja bahan makanan apa, masak apa dan siapa yang masak. Di ruang perawatan ini, kita nggak perlu mikirin yang beresin kamar siapa, karena ada petugas yang bersihin. Kita tinggal duduk cantik aja lah, selama di kamar perawatan.


2 - Kehadiran Ibu mertua dan/atau Ibu kandung itu perlu

Setelah melahirkan, apalagi kalau kita merupakan orang tua baru alias melahirkan anak pertama, percayalah bahwa kehadiran orang tua kita itu sangat membantu kita. Hal yang saya rasakan adalah membantu dalam hal supportnya, mulai dari support doa, semangat, ilmu, dan sampai kepada support tenaga. Menjadi ibu baru, masih perlu banyak ilmu mengasuh anak bayi baru lahir. Ini nggak mudah, secara badan kita pasti cukup lelah setelah melakukan proses lahiran. Mau lahir secara spontan maupun sectio, pasti sama-sama teleeer... Maka, usahakan jika Ibu kita masih ada, yuk undang ke rumah kita.


3 - Jika memungkinkan ada Asisten Rumah Tangga (ART)

Menemukan seorang ART di jaman sekarang ini, sudah menjadi rahasia umum kalau ini bukan perkara mudah - semua pengguna ART pasti tau alasannya. Tapi setelah saya melahirkan, kondisi badan yang tidak prima, belum lagi urusan pengurusan bayi baru banget lahir yang jam tidurnya sesuka hatinya, maka mintalah bantuan kepada ART untuk mengurusi sebagian tugas bersih-bersih dan masak-masak di rumah. Beneran ya, berat sungguh kalau harus urus bayi juga plus harus urus rumah (mulai dari bebersih, cuci setrika dan masak). Bisa sih, bisa gempooor. Manusia nggak ada yang sempurna, daripada pingsan, mending minta bantuan ART. 


4 - Persiapan ASI perah itu penting

Waktu melahirkan anak pertama dan kedua, saya masih bekerja sebagai karyawan penuh waktu. Masa cuti persalinan tiga bulan (saja). Maka hal yang perlu dipersiapkan adalah menabung ASI perah. Kerja keras lah pokoknya nabung ASI, biar nggak kejar tayang nantinya. Sekarang, melahirkan anak ketiga, saya sudah tidak bekerja full time lagi, tapi saya tetap perah ASI in case adik bayi harus saya tinggal, sudah punya tabungan ASI. Tapi kali ini nggak perlu seperti kerja keras anak pertama dan kedua. Saya yakin bahwa kebutuhan ASI bagi tiap-tiap anak itu cukup dan menyesuaikan dengan kebutuhan anak. 


5 - Menjadikan suami sebagai sahabat

Beneran, setelah menjadi seorang Ibu, banyak hal baru yang pastinya akan kita alami. Walaupun itu sudah anak ketiga, saya tetap saja punya pengalaman baru. Mungkin ada yang bilang, "udah anak ketiga, masih kayak baru pertama ngelahirin aja?" Jangan salah, setiap anak itu unik, maka setiap pasca melahirkan kita pun pasti punya kondisi yang berbeda. Yang sama persis adalah capeknya, tenaga yang terkuras. Dalam kondisi kita yang seperti ini, saya selalu berkeluh kesah dengan pak suami. Ya iyalah, mau cerita dengan siapa lagi? Tapi itu hal yang wajar kok. Lebih baik meluapkan, daripada disimpen sendiri, nanti tiba-tiba meledak. 


6 - Melakukan belanja bulanan via online

Nah, ini yang nggak bisa ditinggalin juga. Penting banget soalnya. Belanja bulanan, kadang nggak bisa minta tolong ke orang lain, saya punya gaya belanja bulanan sendiri. Minta tolong ke pak suami, walaupun sudah dikasih list-nya, tetap aja beda (terbukti). Sekarang, bersyukur sudah banyak toko online ya, bahkan hypermarket pun beberapa sudah ada yang punya online-nya. Di saat saya melahirkan anak ketiga ini, belanja bulanan saya beralih ke belanja online. Mudah sangat, banyak pilihannya dan tinggal tunggu di rumah. Siapin aja token dan jumlah yang cukup di rekening kita. hihiii...


7 - Menjaga kondisi tubuh sebaik mungkin

Nggak ada yang nggak capek abis melahirkan. Ngurus anak bayi baru lahir sungguh tak mudah, pemirsaaa. Sungguh aku tidak berdusta. Apalagi ini melahirkan anak ketiga, umur sudah 35 tahun, kondisi badan yang ada bukan makin setrong, tapi makin ompong. Jagalah kondisi tubuh kita, kesehatan diri kita sendiri. Bukan apa-apa, kalau sakit bisa lebih parah lagi. Belum urus bayi, belum urus rumah, belum urus suami, belum urus diri sendiri. Emang bener banget kan, ada yang bilang "Jadi Ibu itu nggak boleh sakit". Yah, baik-baiklah jaga badan. Saya mah minta rekomendasi lah sama pak dokter, vitamin buat jaga kondisi tubuh ini, plus makan buah dan makan yang teratur. 


8 - Menyiapkan mental untuk 40 hari pertama

Ini bukan mitos menurut saya. 40 hari pertama itu emang masa yang cukup rawan buat ibu yang baru melahirkan. Secara bayi masih piyik banget, pasti belum boleh dibawa keluar. Mau dibawa keluar, takut kontaminasi dengan lingkungan luar. Belum lagi kalau ditinggal, nyusunya gimana? Pakai ASI perah ya bisa, tapi bukannya 2 bulan pertama masa yang bagus untuk menyusui langsung? Nah, saya sendiri memilih nggak keluar rumah kalau bukan untuk keperluan yang sangat sangat penting. Jangan tanya, rasanya sangat jenuh nggak keluar rumah untuk senang-senang. Ini bener-bener bikin stress. Mau pergi, ada bayi. Nggak pergi, udah jenuh. Alternatifnya? Silahkan dipilih masing-masing ya. Saya sendiri cuma bisa nulis, main socmed, tidur, ngobrol di Whatsapp, dan berceloteh dengan suami.


9 - Perkaya ilmu merawat anak

Bener deh, selama ada waktu luang pasca lahiran, saya paling seneng membaca. Terutama cara-cara perawatan dan pengasuhan bayi. Sekarang membaca nggak cuma dari buku, banyak situs atau sumber yang bisa dipercaya untuk meningkatkan ilmu perasuhan anak kita. Mulai dari A sampai Z tentang ngurus anak, ada kok. Tinggal kita yang pinter-pinter saring aja. Yang masuk akal, logis, bagus ya inget-inget, sementara yang nggak masuk akal ya monggo dibuang aja. Tapi sebenernya, kalau seneng baca yang lain juga nggak apa-apa. Yang jelas, membaca di sela-sela waktu luang pasca lahiran, membunuh rasa bosan buat saya.


10 - Menyaring masukan-masukan tentang ilmu perawatan bayi

Yang namanya orang abis melahirkan, biasanya dikunjungi sama kerabat. Mau dari temen sekolah, temen kantor, sampe sodara atau tetangga. Kerabat ini ketika mengunjungi kita yang baru saja melahirkan, (alhamdulillah) kadang selain membawa kado buat si kecil, tapi membawa juga wejangan untuk kita. Apalagi kalau kita baru melahirkan anak pertama, ilmu kita pasti dianggap cetek - emang sih, namanya juga pengalaman pertama. Nah, nggak jarang wejangan yang dihadiahi buat kita itu, suka nggak masuk akal. Makanya, saringlah hadiah-hadiah tadi ya, kalau ada yang kurang paham, mending tanya ke dokter aja dah.


11 - Mengeluh? Nggak Berguna

Semua orang juga tau, kondisi setelah melahirkan itu pasti hmmm... iya banget lah pokoknya. Perasaan kita juga campur aduk kacau balau, kan? Ada rasa seneng karena punya mainan baru, rasa ringan karena perut udah nggak bawa gembolan, tapi rasa capek juga ada, plus kadang rasa ketakutan akan kondisi bayi kita. Namanya aja ngurus anak kecil, belum bisa ngomong dia kalau haus, gerah, dingin, nggak enak, nggak nyaman. Emaknya yang harus menerka-nerka. Kadang kondisi campur aduk gini yang bikin kita jadi nggak jelas. Terus, ujung-ujungnya ngeluh, marah, stress. Saya berfikir, ngeluh sama sekali nggak berguna lho. Bawa santai sambil dalam hati komat kamit "nggak ada yang sempurna... nggak ada yang sempurna..."


12 - Mencari alternatif "me time"

Lagi kondisi pasca persalinan, pasti sangat terbatas, Saya sendiri, sangat bersyukur bisa melahirkan dengan spontan partus di ketiga anak saya. Benar adanya, persalinan spontan pemulihannya lebih cepat dibanding sectio. Wong 2 jam post partum boleh jalan kok, kalau nggak ada keluhan. Saya, termasuk yang nakal. Pasca lahiran 7 hari, udah nekat nyupir mobil ke supermarket. Ahahaha, gateeel, pemirsa. Tak apalah, supermarket cuma 5 menit dari rumah, sekedar melepas kejenuhan. Barang yang dibeli juga nggak penting-penting banget kok. Cuma nyupir sebentar, belanja, habis 20 menit, pun cukup sebagai "me time" saya. Ceteeeek.... hahahaha...


13 - Memanfaatkan waktu untuk mendekatkan diri dengan Tuhan 

Nah, ini yang terakhir, beneran banyak manfaatnya. Kondisi ibu setelah melahirkan itu banyak menguras fisik dan psikologis ternyata. Saya setelah lahiran, capek, ngurus bayi dan ngurus semuanya juga, bikin hati berasa nggak karuan. Mau nangis, tapi ternyata hanya bisa membuat sedikit lega, tidak mengubah keadaan sama sekali. Mau marah, malah makin runyam dan sama sekali tidak merubah keadaan, yang ada malah nambah persoalan. Salah satu yang bisa saya lakukan untuk menenangkan hati adalah dengan menyebut asma-Nya, mengingatnya bahwa ini semua adalah titipan dariNya, amanah dariNya, dan saya diberikan ini semua karena saya kuaaaat... Iyaaa, kuaaattt...


Hahahaha, demikian yang bisa saya sampaikan. Nah, ini ya, ada baiknya dipersiapkan dari sebelum melahirkan. Jadi pasca lahiran udah tau harus ngapain aja dan bagaimana... Percayalah, persiapan setelah melahirkan tidak kalah pentingnya dengan persiapan sebelum melahirkan. Kalau pre lahiran lebih persiapan ke fisik, barang untuk bayi dan persiapan setelah melahirkan, persiapan fisik dan non fisik harus dilakukan. 

6.10.2016

DAN LAGI... ASI...


Kembali lagi saya harus ng-ASI... Secara udah lahir si adik bayi, adik Narfa, maka kembali lagi saya ngASI. Anak udah 3, pasti jago ngASI donk ya? Duuuh, jauh deh dari kata jago. Ini aja mulai belajar lagi. Setiap ngASI pasti ya ngilmu lagi dan lagi. Umur yang mulai menua, pelajaran ASI yang terlalu banyak, membuat saya selalu buka primbon ASI lagi ketika lupa. Maklum, pelajaran ASI itu banyak banget. Susah? Nggak juga siyh... Tapi juga nggak mudah-mudah sangat. Tapi demi anak sehat dan mencerdaskan anak bangsa (ceile), makanya saya harus belajar lagi dan lagi... Sebenernya nggak cuma karena yang dikasih ASI bisa mendapatkan asupan yang terbaik, tapi juga sebenernya ASI adalah hemat, pemirsaaa... *ngakak.

Saya kembali ngASI? Iya banget karena semua anak saya sebisa mungkin ng-ASI. Udah banyak cerita dan banyak bukti bahwa ASI adalah asupan yang terbaik buat si bayi. Nggak ada yang bisa ngalahin kandungan gizinya. Dari ujung afrika sampe ujung berung, pasti survey membuktikan ASI adalah yang paling bagus. Ya namapun ciptaan Allah, pasti udah numero uno kan? Masih ada yang mau lawan? Secara juga di dalam Al-Quran sudah terpampang dengan jelas bahwa ibu hendaklah menyusui sampai dua tahun, ada pada QS Al-Baqarah ayat 233, yang isinya... 

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ
"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyusui secara sempurna..."


Tulisan saya ini sebenarnya berawal dari perbincangan ibu yang baru melahirkan di kamar sebelah (barengan sama saya lahiran) yang give-up untuk nyusuin anaknya. Ceritanya, si ibu ini pusing 7 bunderan karena anaknya rewel melulu. Abis melahirkan, ASInya belum banyak, anak rewel, akhirnya panggil suster untuk kasih susu tambahan. Alhamdulillah, bu suster baik hati ngasih tau kalau anak bayi nangis karena ini itu anu, bu suster juga kasih tau kalau ASI emang awal lahiran keluarnya sedikit, bu suster juga kasih tau kalau cara nyusuin yang benar itu gimana. Salut buat bu suster lah...

Tulisan saya ini juga saya tumpahkan karena di kompas.com ada artikel yang berjudul Kemenkes Segera Sempurnakan Regulasi Pemberian ASI. Saya setuju dengan isi artikel ini, yang isinya bahwa pembatasan penjualan susu formula akan dibatasi. Eim ya, kalau nggak salah saya ingat ada kerabat yang kasih info bahwa di negara tempat dirinya tinggal, susu formula itu nggak dijual bebas. Untuk beli susu formula itu katanya harus pakai resep dokter - belum pernah ngebuktiin siyh. Sementara di Indonesia ini, penjualan susu formula dengan bebasnya. Di supermarket bertebaran ya, stock banyak dan berbagai macam merk. 

Dulu, saya termasuk yang sangat sebel dengan susu formula. Saya anti sama susu formula. Ehm, sebenernya Nares juga kena kok, minum susu formula selama 5 hari. Tapi niyh ya..., beriring dengan jalannya waktu dengan usia yang semakin tua, saya semakin tidak peduli. Hahaha, bukan mendukung susu formula ya, tapi nggak anti juga. Jadi netral? Oh no, tetap mendukung ASI dari segi manapun. Tapi udah nggak se-ekstrem dulu. Dulu masih jiwa muda merah membara, kalau ada yang pakai susu formula langsung blacklist! Bahahaha, padahal yah, ngapain juga begitu. Nggak ada gunanya, selain yang suka membuat permusuhan; sufor vs ASI. 

Nah, sekarang tuh ya, lebih milih jalur kanan. Kalau ada yang nanya-nanya ASI, baru deh edukasi. Hmmm, bukan edukasi siy, tapi lebih kepada share pengalaman aja. Sekarang lebih hati-hati aja kalau ngomongin ASI, apalagi sama ibu-ibu yang pakai susu formula untuk anaknya. Boro-boro mau bicara yang extreme, yang lembut aja malah bisa jadi salah. Kelaaar daaah... kelar... Mending tarik pasukan mundur aja. Perang, baik dingin maupun panas... saya mah mundur aja.

Niyh ya, balik lagi ke topik awal, jadi sebenernya tuh, menurut ana, keberhasilan dan demi meningkatkan jumlah anak Indonesia yang dapet ASI dari ibunya, ya harus mengedukasi ibu-ibunya donk ya. Si calon ibu, dari hamil itu udah harus dikasih informasi from A to Z mengenai ASI. Ya dokter kandungan, ya bidan, ya mungkin dukun beranak (lhaaah?!). Abis kalo nggak dari tenaga medis tersebut, informasi bisa dapat dari mana donk? Secara niyh ya, dokter kandungan saya alhamdulillah memberikan informasi mengenai ASI kepada saya (dan pasti kepada pasien lainnya), apa yang harus dilakukan sama Ibu kepada anaknya. Seru kan? Bingit!

Dah akh, cuma mau cerita itu aja kok. Masih banyak belajar banget tentang perASIan. Adek Narfa perjalanan masih jauh untuk ngASI. Doakan kami ya... 

4.05.2015

REVIEW KANTONG PLASTIK ASI

Postingan emak-emak banget! Kali ini mau share tentang wadah menyimpan ASI perah. Udah pada tau kan,kalo ASI itu yang paling baik buat anak? Udah nggak ada yang bisa tandingi kehebatannya. Susu formula mau sebaik apapun, semahal apapun, ASI paling baik dan bagus. Udah gitu, jelas paling murah. Udah terbukti deh, hitung-hitungan secara matematis, ASI udah paling murah. Nah kalo macam saya yang kudu pumping ASI gini, kudu modal buat pompa, kantong ASI, freezer, apakah masih lebih murah dibanding pakai susu formula? Jawabannya iya, masih lebih murah minum ASI perah. Hitungannya sederhana aja. Susu formula, anak temen saya bisa habis Rp 1.500,000 per bulannya. Setidaknya untuk 6 bulan pertama, temen saya harus habis Rp 9,000,000. Kalo pompa ASI, segitu udah bisa sama jalan-jalan ke Bali kali ye...? Secara pompa beli seharga Rp 2.000.000 (ini pun sebenernya ada yang harga RP 1.000.000), freezer Rp 2.200.000, perintilan ASI sekitar Rp 500,000, kantong ASI per 30 kantong sekitar Rp 35.000. Nah... irit bingit ya?

So, pilih wadah buat nyimpen ASI perah apaan sih yang paling bagus? Saya kalo disuruh pilih, paling seneng pakai botol kaca. Kenapa? Soalnya paling murah secara bisa dipakai ulang. Harga 1 botol kaca tutup karet itu juga cuma Rp 2.500 kok. Kalo kata temen saya, beli di Pasar Pramuka, 100 bijinya Rp 210.000. Nyahahahahaaa, lebih murah bingit! Beli 200 botol udah hemat Rp 80.000. Tapi, sayangnya, botol kaca tutup karet ini makan tempat di kulkas. Kemarin aja, kulkas 2 pintu itu freezer cuma muat sekitar 50 botol kaca. Padahal kebutuhan harus banyak banget. Pastinya kalo pake botol kaca tutup karet emang muatnya cuma dikit. Tapi kalo dipakein kantong plastik ASI, lumayan bisa nampung lebih banyak lagi. Kenapa? Soalnya kalau kantong plastik ASI, bisa dibentuk gepeng-gepeng gitu, jadi nggak banyak makan tempat.

Kantong plastik ASI juga ternyata ada beberapa macam model berdasarkan merk. Beda merk, biasanya beda merk. Beda juga kualitas plastiknya. Beda juga bahannya. Satu lagi yang pasti, adalah beda harganya! Hahahahaaa, aseli ya, buat saya pribadi, keuangan setengah-setengah gini, harga merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk dipertimbangkan. Maunya udah harga yang paling murah, tapi kualitas tetap numero uno, nomor wahid. Belum lagi pakai plastiknya banyak banget. Iya, sehari saya bisa menggunakan 5-6 kantong plastik ASI. Kalo botol kaca, mah nggak mikir deh, soalnya kan tinggal cuci dan kemudian bisa dipakai lagi. Lha kalo kantong plastik ASI? Pastinya abis nyairkan ASI, udah kena buang tuh kantong. Maka dari itu, saya pilih kantong plastik ASI yang paling murah. Pelit? Terserah dah mau dibilang pelit, yang penting minumnya ASI.

Varian Kantong Plastik ASI

Baca sana sini sono, ada beberapa merk kantong plastik ASI. Mothercare, Natur, Medela, Little Giant, Pigeon, Baby Grow, Crown, Dr. Browns, dan belakangan keluar lagi merk Cleeos, Gabag dan Momo. Tapi yang harganya masuk di akal saya di awal adalah Natur.

Pertama kali beli kantong ASI, merk Natur. Awal-awal seneng banget pake Natur, karena harga murah. Sekarang udah males pake Natur, soalnya harga per box-nya sekarang jadi Rp 38.000. Ya, mungkin karena Rupiah melemah, sehingga harga barang di Indonesia jadi naik. Ini review saya mengenai kantong plastik ASI Natur.
> Harga paling murah seantero kantong ASI (tapi ini dulu).
> Isi kantongnya 30 plastik.
> Cukup bagus dari segi design-nya yang sederhana
> Kadang suka bocor (pas keadaan beku, kepentok benda agak tajam dan dia akan suka robek).
> Natur ini buatan negera Thailand.
> Bisa didirikan kalau kantong plastik sudah diisi ASI perah.
> Kapasitas per plastik bisa muat sampai 180cc (tapi saya paling isi 150cc aja)
> Single zip.
> Nggak perlu steril lagi, langsung pake.

Nyobain kantong plastik ASI Gabag, karena baca beberapa busui yang pumping dan pengguna kantong ASI, katanya Gabag lebih bagus. Oke, beli deh ya Gabag. Biar dapet murah, beli aja 5 box sekalian. Hemat ongkir pastinya (harga per box jadinya lebih murah). Begitu dateng, langsung dipake tapi ternyata saya kurang sreg sama model plastiknya. Ini review saya tentang kantong ASI Gabag.
> Harga kantong Rp 37.000 (ini karena beli 5 box sekaligus).
> Isi kantongnya 30 plastik.
> Design cukup bagus, sederhana. Tapi sayangnya nggak bisa digepengin, jadi agak makan tempat.
> Tebel, kecil kemungkinannya untuk bocor.
> Setau saya ini buatan Indonesia (sama produksinya kayak Tas Gabag)
> Bisa didirikan kalau kantong plastik sudah diisi ASI perah.
> Kapasitas per plastik bisa muat sampai  120cc aja. Mau lebih bisa, tapi jadi gendut.
> Double zip.
> Nggak perlu steril lagi, langsung pake.

Kesimpulannya, saya nggak cocok pake kantong ASI Gabag, Kualitas emang bagus, tapi makan tempat di freezer, karena jadi nggak bisa digepenging. Makanya, trus saya baca-baca lagi, mau cari kantong plasti ASI yang model Natur, tapi lebih murah dari Natur yang sekarang (awal 2015). Ketemu lah namanya Momo. Beli deh, nyobain 1 dulu aja, takut gak cocok macam Gabag. Momo, ini dia yang bisa saya informasikan:
> Harga kantong Rp 35.000 (murah kan?).
> Isi kantongnya 30 plastik.
> Design cukup bagus, sederhana. Bisa digepengin, jadi nggak makan tempat.
> Ketebelannya dibanding Natur, lebih tebal Momo, tapi lebih tipis dari Gabag.
> Buatan Thailand
> Bisa didirikan kalau kantong plastik sudah diisi ASI perah.
> Kapasitas per plastik bisa muat sampai  180cc.
> Single zip.
> Nggak perlu steril lagi, langsung pake.

Selamat ngASI

Jadi..., akhirnya saya memutuskan untuk paka kantong ASI Momo sekarang. Harga udah paling murah seantero perkantong ASI-an dan model juga bagus karena bisa digepengin, jadi nggak makan tempat. Oh iya, selain Momo, ada juga merk Cleeos yang mirip-mirip sama Natur, dan Momo. Saya belum sempet coba. Kenapa? Belum aja. Hihihihi... Baiklah, selamat ngASI ya... 

3.10.2015

TIPS MEMBERSIHKAN FREEZER ASIP

19 Februari 2015, tepat banget di hari Kamis itu Lebaran Imlek. Hedeeeuuuh, kenapa nggak di Jumat aja ya, biar long weekend banget gitu. Ini pake segala acara kejepit pulak. Mau masuk ya males, nggak masuk ya bisa dipecat. Nasib dah emang jadi karyawan mah, kata alm. om Bob Sadino. Ya kalau mau bebas mah emang udah paling bener jadi pengusaha. Toko mau buka kapan, mau tutup kapan, seenaknya pengusaha aja yang atur. Tapi walau bagaimana juga tetap bersyukur ya, walaupun cuma hari kejepit, tetap dapat libur. Eh ya daripada tanggal merah libur nasional adanya di hari Sabtu atau Minggu, sakitnya tuh disonooo *tunjuk dada orang.

Liburan Xin Chia kemarin, kita sekeluarga kebetulan nggak ada kunjungan ke rumah kerabat. Cukup kumpul di rumah sendiri aja. Jadwal yang udah saya siapin adalah jadwal bebersih freezer ASInya dek Nara. Iya, udah berantakan banget. Udah amsyong nyusun-nyusunnya. Yang ada itu, terakhir-terakhir ya yang penting dibekuin, trus taro-taronya belakangan. Berantakan. Menyedihkan. Sampe kadang udah males pumping karena kok freezer berantakan. Iya bener, liat freezer berantakan jadi males pumping. Jadilah mendingan liburan Kamis itu diisi dengan kegiatan membersihkan kulkas ASI dari bunga es.

Jujur aja, ini pengalaman saya pertama membersihkan freezer dari bunga es. Sebelumnya nggak pernah, karena kulkas yang dulu dipake waktu jamannya simpan ASIP Nares, nggak berbunga es gitu. Bersih banget. Makanya, ini kemarin nyari-nyari referensi di dunia maya gimana caranya ngebersihin freezer. Ngoprek di browser dan Instagram, alhamdulillah nemu beberapa referensi cara ngebersihin freezer dengan cara yang baik. Karena saya udah dapet ilmu, makanya saya mau sharing balik nih, gimana caranya ngebersihin freezer dari bunga es. Kan katanya ya, nggak boleh pelit sama ilmu yang kita punya. Lha kalo sama ilmu aja pelit, apalagi sama duit? Huahahaha...

Freezer yang saya pakai, kebetulan freezer yang 1 pintu yang buka pintunya dari depan (bukan dari atas), yang ada rak-nya di dalam freezer itu. Nggak tau namanya apa, yang jelas bukanlah chest freezer. Kalo chest freezer itu emang bukaannya dari atas. kapasitasnya juga ada yang jauh lebih besar. Tapi ya, kalo menurut temen saya yang pake chest freezer, pakai chest freezer itu management ASIPnya lebih susah dari pada freezer yang buka pintu depan. Kalo saya sendiri sih emang nyari yang bukaan pintu depan, karena terlihatnya lebih cakep aja... Hihihihi... dan yang pasti, harganya lebih murah daripada chest freezer. begitulah kira-kira adanya, pemirsa...

Yuk akh, ini dia cara saya ngebersihin freezer ASIP dari bunga es...

Mindahin ASIP ke kulkas cadangan. 

Kebetulan di rumah ada 3 kulkas. 1 kulkas operasional, 1 freezer ASIP, dan 1 kulkas jaman baheula punya bapaknya anak-anak masih bujangan yang nganggur. Jadilah saya nyalain dulu kulkas cadangan itu tadi. Gunanya, mindahin pasukan kantong ASIP yang dari freezer ASIP. Iya, nyalainlah itu kulkas cadangan. Kalo udah dingin, pindahin kantong-kantong ASIP yang ada di freezer ke dalam kulkas cadangan. Untungnya saya meletakkan ASIP-ASIP itu dengan wadah-wadah, sehingga mindahinnya tinggal angkut wadah-wadah yang ada. Step 1 done.

Semprot bunga es pake kipas angin. Cepet rontoknya.
Bunga es rontok

Lanjutnya adalah cabut colokan listrik freezer ASIP ya. Ambil kipas angin, taro depan freezer. Asli ini yang bikin bunga es di freezer rontok dengan cepat sekali. Hihihi, rontoknya bunga es itu menyebabkan air luber di lantai. Iya, lantai jadi basah semua. Alhasil kerja rodi lagi ngepel lantai yang basah. Susah? Nggak! Alhamdulillah punya pengering lantai yang nggak perlu pake tenaga untuk peres airnya. Tinggal tarik tuas-nya. kelar deh, airnya terbuang. Hahahaaa, emang ya, kalo perempuan malas seperti saya ini, harus punya banyak akal biar nggak nyusahin diri ini. Proses kipas angin di panteng ke depan freezer ini berlangsung kira-kira selama 45 menit lah. Jadi, sembari nungguin kipas angin nyairin itu bunga es, silahkan berbuat sesuatu yang lain ya ibuk ibuk... xixixi...

Pake Pengepel ini gampang banget bersihin lantainya :p

Kalau sudah cair semua bunga es, bersihkan dulu ya freezer-nya. Di-lap dulu. Pokoknya bersihkan lah. Pake lap basah bahan kaos enaknya atau kalo saya sih pake lap karet yang macam merk Kanebo itu lah. Wkwkwk... nyerap airnya banyak, buk. Ahahaha..., kan, lagi-lagi males kan. Maunya yang enak-enak aja. Harap maklum pemirsa, saya sepertinya terlahir jadi wanita pemalas. Kalo udah dibersihkan, tunggu aja sebentar. Angin-anginkan sekitar 20 menit. Maksudnya biar nggak bau. Emang nggak bau sih, orang isinya ASIP semua. Tapi ya nggak ada salahnya juga diangin-anginkan.

Sudah?

Pindahin lagi ASIP yang tadi di taro di kulkas cadangan, masukin balik ke freezer yang sudah dibersihkan dan siap dinyalakan lagi listriknya. Oh yeeesss... kelar deh bebersih freezer ASIP. Alhamdulillah ya... sesuatu banget itu bebersih kulkas di hari libur.

Done. Hilang bunga es-nya. 

Penting untuk diingat ya... bahwasanya bunga es jangan dikerok pakai apapun ya. Apalagi pakai benda yang tajam-tajam. Rusak tuh freezer yang ada... 

2.04.2015

BELI atau SEWA

Assalamualaikum, pemirsaaa... apa kabarnya? Awal Februari di Jakarta banyak hujannya ya...? Siap-siap banjir, siap-siap bocor (udah ini mah di rumah), siap-siap mati listrik karena bajir. Cuaca boleh mellow, tapi hati dan semangat tetap kudu membara. Awal tahun nggak boleh lesu, nggak boleh sedih, kalo lesu nanti rejekinya dipatok ayam. Hahaha... ya kali gitu ya, emangnya bangun siang-siang sih, rejeki dipatok ayam? Apapun itu, yang penting kita harus tetap semangat ya...

Kembali ke judul yang di post, Beli atau Sewa, iya saya nulis ini cuma mau share bagaimana pertimbangan dan perhitungan saya ketika mau punya barang, beli apa sewa ya? Terakhir kemarin pakai perhitungan ini waktu harus punya kulkas freezer buat naro ASI perah (ASIP) adek Nara. Iyes banget, kulkas udah nggak muat. Full sama ASIP sudah. Nyerah sudahlah harus mengatur sedemikian rupa tata letak ASIP. Penuh ya penuh. Nggak muat ya nggak muat. Intinya harus punya satu kulkas yang khusus ASIP. Okey, yuk cari. Iya cari, tapi mau beli apa sewa? Nah itu perlu pertimbangan khusus emang. Apa aja sih yang saya pikirin waktu timbang-timbang mau beli apa sewa? Eh iya, sebenernya beli pun masih ada pilihan lho, beli baru atau beli second. Nah kan, banyak pilihannya.

Beli...? Sewa...?

Sekarang ini jaman canggih banget. Tinggal duduk depan computer, semua bisa diakses. Mau jual, mau beli, mau sewa ya bisa. Eh bahkan yang lebih parahnya lagi, nggak mesti pake computer lho, tapi bisa pake handphone. Iya, macam saya ini, sekarang udah "dunia dalam genggaman" lah. Mulai dari baca berita negara (caelaaah gayanya pake mikirin negara) sampe jajan kue ya bisa pake online. Dunia emang terbuka luas... terbentang lebar... apa yang nggak bisa dicari di internet, coba? Sebut... sebuuut...? Jadi, begitu saya merasa butuh kulkas, ya langsung browsing dong.. Yang saya browsing pastinya ya harga. Harga beli baru berapa, harga beli second berapa, dan harga sewa berapa. Secara udah tau apa yang mau dibeli dan perkiraan spec-nya, jadi ngefilternya juga gampang, nggak pake lama. Gampil lah, cuma nyari kulkas doang mah. Freezer 4 rak. Dah, itu doang.

Cari sana sini, beberapa hasilnya adalah :
  1. Beli baru, harga sekitar Rp 2.300.000 - Rp 2.750.000
  2. Beli second dengan kondisi prima, harga sekitar Rp 1.600.000 - Rp 1.900.000
  3. Sewa, harga sewa per bulan Rp 150.000 dengan minimal sewa 3 bulan.
Udah kan ya, dapet range harga seputaran itu. Pertimbangan dan pemikiran kita yang ada di otak kita sih...

  1. Beli baru emang barang pasti bagus tanpa cacat, tangan pertama, ada garansi dari produsen, udah pasti nyooos, tapi kekurangannya adalah budget yang sangat besar. Dua jeti ciyn..., jadi perlu nebok tabungan. Tapi ya, menurut saya, beli baru kalau kita pinter ngerawatnya, ketika nanti udah nggak dipake lagi, bisa dijual lho, atau disewakan. Nah malah bisa jadi duit lagi kan? Artinya nih, ya, kita nggak rugi-rugi banget lah. Coba aja kalo beli baru sekitar Rp 2.500.000 terus nanti kita bisa jual dengan harga RP 1.800.000. Berarti kan kita sewa sekitar Rp 700.000 aja kan untuk sekian lama waktu? Dibanding sewa? Iya karena saya emang mau pakai kulkasnya lama lho ya. Kalo sebentar sih mendingan sewa. 
  2. Beli second, harus extra hati-hati belinya karena takut barang yang dibeli itu kurang bagus kondisinya. Iyalah, kita nggak tau gimana pemakaian sama ownernya kan? Kecuali kalo emang beli sama orang yang kita kenal. Terus ribetnya lagi kalau beli second gini, mikir ngangkutnya gimana, soalnya rata-rata yang jual freezer kemarin nggak menyiapkan delivery-nya, jadi kita harus mikir lagi gimana caranya ngangkut itu barang. Sementara sewa mobil pick up, udah bisa kena Rp 250.000. Ya barang nggak kecil gitu kalo ngangkut pake sedan, gimana masukinnya. Lah lumayan juga ongkos angkutnya plus beli udah mirip jadi beli baru, tipis banget bedanya. Kelebihan beli second ini adalah emang harganya lebih murah dibanding beli baru, tapi kita dapet barangnya. Tapi susah juga lho nyari freezer second yang bagus. Beneran deh, iklan freezer segitu banyak, begitu dicontact, katanya udah terjual. Bahkan saya sempat intip ke lapak online khusus jualan barang bekas; di upload pk. 13.00, saya telp pk. 20.00, barangnya udah kejual. Hedeeeuuh... 
  3. Sewa, udah pasti sih dapet barang yang nggak mungkin rusak. Kalaupun barangnya rusak, kita bisa complain sama ownernya untuk dituker sama barang yang lain. Kekurangan dari sewa menurut saya adalah mahal. Iya secara sebulan udah Rp 150.000 dan saya bisa pakai kulkas ini dalam jangka waktu 12 bulan. Kalau 12 bulan berarti sudah harus keluar uang Rp 1.800.000. Lah dikit lagi nambah bisa beli baru dong ya... Udah gitu, pas saya butuh cepet sama kulkas ini, banyak barang yang kosong. "Lagi pada disewa, mba...", begitu balasan dari owner rental kulkas ASI. Yasutraaa...
Jadi kesimpulannya gimana...?

Saya dan pak suami milih untuk beli baru. Mahal! Biarin... hahaha... horang kayah duit ngepas belagu bingit dah! Iya, kita milih beli baru karena pertimbangan-pertimbangan di kondisi saat itu adalah:
  1. Mau beli second, tapi nggak kedapetan yang bagus. Barangnya cepet banget lakunya, sehingga kami nggak kebagian, padahal butuhnya cepet karena kulkasnya kita di rumah udah nggak muat mau taro ASIP. Pengen banget tuh ya, beli second, nanti dijual lagi kalau udah nggak kepake. Weeew... makin irit lah keluar duitnya. Tapi belum rejeki dapet freezer second.
  2. Nggak mau sewa, karena dipakai dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga kalau ditotal nanti jumlah biaya sewa mendekati biaya beli baru atau second. Secara emang niat banget mau ngasih ASI sama Nara sampai 2 tahun.
Yaudah deh, bungkus beli baru... cari toko yang paling murah jual elektronik gitu. Toko online terpercaya yang udah pernah masang TV di rumah. Nah, kalo urusan toko elektronik emang urusan pak suami dah. Saya percayakan itu. 

1.28.2015

MENYUSUI

Alhamdulillah..., Nara kemarin usianya sudah 4 bulan. Masih ada sisa 2 bulan lagi untuk selesai ASI Exclusive-nya. Bismillah, semoga keburu dan bisa menyelesaikan ASIXnya ini sama dengan seperti Nares yang dulu bisa menyelesaikan ASIX dan berlanjut ke menyusui 2 tahun lamanya sesuai dengan apa yang dibilang di dalam Al-Quran. Hahaha, tapi abis menyusui 2 tahun, berlanjut ke nyapihnya yang agak berat. Tak apalah, yang penting bisa menyusui langsung ke bocah-bocah. Jelas-jelas emang ASI manfaatnya nggak ada yang ngalahin. Susu formula sebagus dan semahal apapun nggak ada yang bisa ngalahin manfaatnya ASI lah ya... Udah pasti lah itu, nggak ada yang raguin. 

Semua udah tau manfaatnya ASI kan ya..., yang tiada dua dan tiada bandingannya itu. Semua ibu juga pasti mau yang terbaik buat anaknya, ujung-ujungnya semua ibu pasti mau kasih ASI ke anaknya dan kecil banget kemungkinannya kalo ibu nggak mau nyusuin langsung anaknya. Kalaupun ada yang ngga bisa nyusuin langsung, itu pasti karena keadaan terpaksa dan pasti udah jalan terakhir yang dipilihnya. Bener nggak sih? Mungkin karena sakit atau hal lainnya yang diluar prediksi sang ibu. Tapi mudah-mudah kita semua para ibu yang punya bayi diberikan kesehatan, biar bisa nyusuin si bayi dengan sempurna. Aamiin aamiin aamiin...

Nah, alhamdulillah, pumping jaman Nara kali ini hasilnya luar biasa. Sampai sekarang, di saat umur Nara 4 bulan, hasil pumpingan sehari masih surplus. Nyimpen ASIP mulai awalnya pakai botol, sampai akhirnya pakai kantong ASIP. Mulai dari 1 kulkas sampai akhirnya beli freezer lagi. Udahlah pakai freezer ASIP, sekarang balik lagi ngebajak freezer kulkas 2 pintu itu. Simpen daging, ayam, ikan, dimanaaa neng...? Hihihi, sementara simpen ikan di abang sayur dulu lah. Beli aja tiap pagi, daripada nyimpen di kulkas. Toh juga abang tukang sayur jadi happy kan? Hohooo, saya senang anda senang tho bang sayur? Eh tapi sebenernya masih ada slot kok buat naroh daging-dagingan gitu, tapi ya kecil aja. Taro di container yang kedap udara gitu. 

Postingan  kali ini saya buat karena banyak beberapa teman-teman yang nanya sama saya, gimana caranya bisa pumping ASI sebanyak gitu (sebenernya udah ada beberapa postingan ASI sih di blog). Iya, saya emang sekali pumping ASI belakangan ini bisa sampai 240 cc - 350 cc (dua sisi payudara ya). Tapi ntar dulu... ini bisa dapet hasil segini juga ada ceritanya lho. Bukan sulap bukan sihir, nggak pake jampi-jampi tapi ada prosesnya. Selain emang karena Allah mengijinkan saya untuk bisa memproduksi ASI yang banyak, usaha ya emang perlu banget. Udah paling bener deh, ikhtiar itu bener adanya. Ya doa, ya usaha. Doa tanpa usaha ya nggak mungkin, begitu juga sebaliknya kalau usaha tanpa doa... sombong bingit ya kita, padahal semua kalau Tuhan tidak mengijinkan, ya mana bisa?

Tau nggak, kalau saya itu sebenernya bersyukur banget bisa ketemu dokter kandungan yang kece! Kece bukan artian ganteng ya... wkwkwk... Ini kece dalam artian kece ilmu-nya, kece support-nya. Dari usia kehamilan 8 bulan, om dokter udah mulai bawel masalah ASI dan persusuan. Aseli ya, bawel bingit. Nanya-nanya udah mulai kompras kompres payudara atau belum, udah mulai pijet-pijet payudara belum. Tapi bawelnya emang bawel yang teramat sangat positive. Sampe akhirnya pas udah menghitung hari, om dokter meyakinkan bahwa dari puting susu udah ada yang keluar cairan bening itu (kolostrum kali yeee...). Makin bawel deh tuh ya, pas tau kalau saya after melahirkan mau balik kerja. Kenapa? Ya harus nyetok ASI kan? Lah kalo nggak, anaknya minum apa? 

Pas melahirkan H+1 dan masih di RS, om dokter langsung nanya, "Udah pumping?". Ketika saya jawab belom, om dokter mulai nyanyi dah. Hahahaha... biarin aja om dokter nyanyi dengan kebawelannya, saya mau nikmatin dulu masa-masa indah abis lahiran setelah kemarin 8 jam kesakitan. 
H+2, om dokter periksa lagi dan masuk kamar periksa kandungan dan lain-lain diakhiri dengan pertanyaan yang sama, "Udah pumping?". Haaa, belooooom... Iyak, om dokter mulai bawel tingkat advance. Besok deh ya dok, besoook... promise lah... Langsung minta tolong pak suami bawain pumping-an yang baru #ciyeee...
H+3, om dokter datang lagi dan pas mau periksa langsung bilang walau tanpa ditanya. "Udah pumping, dooook..." huahahaha... etapi dasar dokter kece, masih nanya juga, "Udah dapet berapa cc?" hiks hiks... cuma masih dapet 30 cc, dok... pelan-pelan atuh dok, yang penting mah udah mulai pumping.

Dan mulai saat itu lah, saya pumping ASI, setidaknya 4 jam sekali. Walau cuma dapet 30 cc - 40 cc per sekali pumping, tetap pumping selalu. Dikit waktu di awal setelah lahiran. Lho kok dikit sih? Ya namanya juga bayi, daya tampung lambungnya emang cuma masih dikit. Pernah baca dimana gitu ya, kalo besarnya lambung bayi baru lahir itu cuma sebesar gundu (kelereng) dan bayi baru lahir 2 x 24 jam masih nyimpen sisa makanan dari waktu dia di rahim. Jadi sebenernya nggak minum juga gak apa-apa. Tapi kan ya mana mungkin coba, ngebiarin anak lucu itu nggak minum walau setetes. Pastilah mencoba menyusuinya, iya bukan?

Pumping pumping...

Balik lagi ke dokter kandungan setelah melahirkan pada hari ke 10. Setelah periksa kandungan dan hasilnya alhamdulillah normal, om dokter pun tetiba nanyain, "Udah dapet berapa botol ASIP-nya?". Hahahaaa..., dokter bawel, nanya melulu kan ya. Ampun dah! Eh tapi ya, ini merupakan bentuk perhatian om dokter yang sangat berharga buat kita lho. Iya, coba deh kalau dokternya cuek bebek aje. Saya dan pak suami bersyukur karena om dokter bawel bingit. Nggak semua dokter bawel sibuk nanyain ASIP lho. Bahkan om dokter sampe ngejelasin management ASIP. Gileee, update banget yak om dokter! Segala tau kantong ASIP, coba... Huhuuu... 

Jadi gini..., kalo kata om dokter, mengapa kita harus giat pumping ASI di awal-awal setelah lahiran dan jangan menunda untuk menabung ASI? Itu karena ... (1) ASI itu semakin sering diperah, dia akan semakin banyak produksinya, (2) 2 - 3 minggu pertama setelah lahiran, akan menentukan produksi ASI kita. Nah, kenapa om dokter bawel, ya alasannya cuma satu sih, ingin supaya anak-anak bisa menyusui dengan sempurna. Weeewww, kurang gimana kece lagi coba dokter kandungan kitaaah... Makanya, nggak salah kan kalo om dokter buawel minta ampun. Tau nggak, pas pertemuan kali ini, saya jawab di rumah udah ada 10 botol, beliau bilang, "Harusnya mah udah 20 botol..." Wakwaaawww, asli memacu banget untuk nyuruh saya pumping lebih giat lagi. 

Daaan pemirsaaa, di saat umur Nara 2 bulan, jadilah saya beli freezer, khusus untuk simpan ASIP. Botol ASI sejumlah 60 dan kantong sejumlah 100 udah nggak muat di kulkas 2 pintu itu. Tadinya mau sewa aja dengan berbagai pertimbangan. Tapi ternyata banyak yang out of stock. Mau beli second aja kalo gitu, eh kok ya pada cepet banget lakunya. Beli baru sajalah akhirnya. Aseli ya, Nares lahir beli kulkas baru... ini adek Nara lahir beli freezer baru. Akh, nggak apa lah, yang penting bisa simpen ASI. Karena ASI tiada duanya kan ya... (bukan iklan mobil).

Susu Ibu Nasional
Yuk akh, ikut sukseskan program menyusui anak kita dengan ASI. Anak ASI, anak sehat, anak pintar, melahirkan generasi penerus bangsa yang berkualitas.

11.24.2014

PERDANA KE RUMAH VAKSINASI

Yang namanya punya baby alias anak bayi, urusannya nggak bakal jauh emang dari yang namanya imunisasi. Etapi jangan salah ya pemirsah, sekarang ada beberapa orang tua yang tidak mau memberikan anaknya imunisasi dengan beberapa alasan (kalau nggak salah sih rame karena alasan halal dan haramnya, plus ada yang mengatakan memberikan ASI itu ya udah mengimunisasi anaknya). Udah rame lah tuh seliweran di FB, di milis, dimana lagi entah perang antar pro vaksin dan anti vaksin. Rame bener udah kayak petasan pas malem lebaran apa malem tahun baru yang je dar je dor je dar je dooorrr... Beneran dah. Saya sendiri (lebih tepatnya saya dan suami) memutuskan untuk meng-imunisasi anak kami. Ya emang masing-masing orang kan punya pendapat sendiri ya, untuk memvaksin anaknya atau tidak. Hargai saja keputusan mereka. Apalagi saya, kapasitas medis amat sangat bukan pada ranah saya. 

Ada 5 imunisasi yang wajib dari program pemerintah, yang mana sehapalan saya adalah Hepatitis B, Campak, Polio, DPT, dan BCG. Nah, hapal kan beneran, nggak pake nyontek. Ini niyh ya, 5 jenis imunisasi ini bisa kita dapetin secar harateish (gratis gituuu), asal perginya ya ke posyandu atau puskesmas. Selain itu? Ya bayar, mak... Even saya pergi ke RS pemerintah yakni bernama RSAB Harapan Kita, ya bayar ya ciyn... Gratis lah 5 imunisasi wajib pemerintah kalo di Posyandu dan Puskesmas. Nah, berhubung secara saya merupakan orang yang tidak berpengetahuan luas mengingat jadwal imunisasi di Posyandu di komplek nggak tau kapan, ya bablaslah dapet imunisasi grateish. Eh apa kabar tuh Puskesmas? Nah, sebenernya sih di Puskesmas kayaknya bisa aja dah tuh setiap saat asal hari kerja dan jam kerja. Tapi kan kalo Puskesmas itu campur sama anak-anak yang sakit kan ya? Itu yang saya hindarin. Kendalanya lainnya adalah, parkiran di Puskesmas rada susah. Parkir mobil terbatas dan kalo mau pake motor, kok ya nggak tegaan bawa si kecil naek motor (alesan banget nggak sih niyh). Alhasil, selama ini kalo Nares (dan sekarang Nara) imunisasi, ya bawa ke RS Harapan Kita. Kita bawa ke POTAS itu lho, yang khusus tempat imunisasi anak-anak. Yang boleh masuk cuma yang nggak sakit. Kalo anak sakit ya bawanya ke Alamanda. 

Cukup puas aja sih bawa anak-anak ke POTAS. Tapi kemarin ini kita bingung sama jadwal bapaknya yang nganter ke RS. Lha kalo hari Sabtu, POTAS itu agak ramai, pemirsah... sepertinya diserbu sama orang tua yang emang kerja di weekday sehingga nggak bisa bawa anaknya di hari kerja dan nyari hari Sabtu. Nah kalo udah Sabtu, rame, pasti deh antriannya bejibun. Nunggunya pasti lama donk yes... Nunggu lama itulah yang kita hindarin. Namapun bawa anak kicil-kicil, bosen die, bisa-bisa cranky, boss... Ina inu anu lah, yang ada emak bapaknya jadi bulan-bulanan si bocah. Ini gimana coba, emak bapaknya malah di-bully ama anaknya gegara bete nungguin antrian. Sayaaa... iya saya... udah males juga kalo si bocah mulai membully emaknya. Bisa-bisa saya pun berniat membully si bocah kembali. Iysh... tinggal tunggu aja si suami bully si emak... begitulah kira-kira mata rantai pem-bully-an yang akan terjadi.

Okeh.

Puncak punya cerita, jadwal imunisasi Hepatitis B Nara yang kedua bergeser sekitar 4 hari dari jadwal karena kita bingung nyari hari-nya. Mau minta anterin si bapak, ya ribet ya, namanya juga bapak-bapak yang punya tanggung jawab di kantor. Masa' tiap bulan mau ijin dateng agak siangan gegara anak imunisasi? Weeedeeeh, kalo kantor punya mak babe sendiri sih santai, gan... Lah ini masih nyangkul sama orang laen, kudu ikutin peraturan orang laen bukan? As long as mau gajian, ya pinter-pinter ye nyesuaikan diri. Padahal kan ya, saya bisa nyupir kan ya? Ya tapi kalo juga nyupir kudu cari parkir ribet (aseli RS Harapan Kita kalo weekday parkiran ribet, bok!), belum lagi kudu jalan dari parkiran ke POTAS. Pake taxi? Pesen sih bisa, tapi jarak yang sebegitu dekatnya pastilah gak ada yang mau dipesan, kecuali yang lewat ya, taxinya... tapi nunggunya ya kapan tahun nggak tentu.

Okesip.

Kepikiran sama Rumah Vaksinasi (RV). Udah sering denger (apa baca?) di Twitter lah tentang keberadaan RV ini. Rumah vaksinasi ini emang diadakan khusus untuk imunisasi yang mana artinya tidak bercampur dengan yang sakit. Aiyh, ini yang saya cari. Intinya sih ya, usaha aja gitu biar nggak nyampur itu virus dan bakteri dari yang sakit. Coba browsing-browsing alamat RV, karena setau saya ga ada yang deket dari Slipi. Paling deket ke Mampang. Yah, masih agak jauh itungannya itu sih. Nah, akhirnya seneng bukan main waktu tau kalo RV buka di Grogol. Udah aja lah langsung kontak ke waslap RV Grogol. Nanya-nanya tentang vaksin BCG. Alhamdulillah kalo vaksin BCG ada selalu. Jadi tinggal datang aja kapan mau vaksin.

Rumah Vaksinasi itu...

Tanggal mainnya tiba. 2 minggu setelah Nara imunisasi Hepatitis B yang kedua, saatnya imunisasi BSG. Berhubung RV buka hari Rabu, Sabtu dan Minggu, kita pilih hari Minggu pagi aja. Jalanan nggak macet kalo Minggu pagi. Udah wanti-wanti sama si bapak kalo Minggu itu mau bawa Nara ke RV. Sip aja lah kalo kata laki-laki mah. Yang penting paginya dibangunin. Hihihi..

Jalanlah kita Minggu pagi ke RV Grogol yang ada di Jl. Jelambar Madya. Kebetulan, saya pernah ke daerah situ, jadi nggak buta-buta banget mau jalan kesana. Saya duduk manis cantik timbang nunjukin jalan, si bapak bolehlah menyupir di depan. Kerjasama yang baik kan? Hahahaha... siapin dompet yang tebel aja pak, yang penting... #efekmaugajian. Pkl 9.45 kita jalan dari rumah, aseli jalanan sepi jadi melenggang dengan riang gembiranya. Makanya pkl. 10.15 udah sampe di TKP. Sempet juga nyari-nyari nomornya, tapi yang penting mah jalannya nggak salah. "Akh, itu dia...", malah si bapak yang menemukan TKP yang berbentuk rumah ini. Alhamdulillah, nyarinya nggak susah. gimpil bingit lah!


Nunggu dipanggil nih...

Timbang duyuuu...

Masuk ke dalam RV, disambut sama mbak yang jaga. Nggak ada orang lain (yang mau imunisasi, yaaa...) selain kita, no antrian is very happy, pemirsaaah... Agak kecil sih ruang tunggunya, tapi ada bangku buat duduk plus mainan anak. Saya diminta ngisi data-data anak karena ini merupakan kunjungan saya yang pertama. Bapak dan Nares duduk nunggu aja, sambil main kuda-kudaan yang ada di situ. Setelah isi form, Nara diminta timbang badan. 5.6kg saat itu, kenaikan cukup signifikan dari 2 minggu sebelumnya.

Nggak lama dari itu, kita dipanggil masuk ke dalam ruang dokter. Weew, dokternya cantik! Ngobrol sana sini tentang imunisasi sebelumnya, yang dilanjuti dengan mengukur panjang badan Nara. 60cm sudah, pemirsa... Naek 8cm dari setelah lahiran. Dr. Tri bilang, tinggi badan Nara cukup dan berat badan juga bagus kenaikannya. Alhamdulillah... Dr. Tri mengambil bahan imunisasi dari kulkas yang ada di ruang itu. Sambil mempersiapkannya, kita ngobrol-ngobrol tentang perkembangan Nara. Jam tidur, frekuensi BAB, frekuensi pipis, bagaimana minum ASI-nya, dan lain-lain seputar Nara. Mantab abis dah nih, bisa sambil ngobrol santai begini. So far, kita sependapat banget dengan pemikiran dr. Tri. Maklum, saya kan type orang tua yang bawel sama urusan anak. Hahahaaa..., namanya juga buat anak, ya jangan coba-coba lah... Kesempatan kali ini, banyak bisa ngobrol sama dokter. Seneng bukan main, karena datang nggak cuma suntik semata. Terlebih lagi, nggak terburu-buru periksa anaknya.

Sambil nunggu bu dokter cantik nyiapin vaksinnya  

Siap-siap disuntik...

Setelah Nara disuntik, dr. Tri menjelaskan kembali apa kemungkinan reaksi si anak setelahnya. Ya mungkin rewel, dan itu merupakan hal biasa. Trus juga penjelasan bahwa imunisasi BCG, walaupun tidak berbekas, ya nggak perlu ngulang. Iyh, komplit banget deh informasinya. Seneng banget...

Selesai, dr. Tri menjelaskan imunisasi rotavirus. Ina inu imunisasi rotavirus dijelaskan dengan baik sama dr. Tri. Trus juga kita dikasih tau bahwa 2 minggu lagi Nara jadwalnya imunisasi DPT, Polio dan HIB. Nah, gimana kita nggak puas coba imunisasi di sini. Santai, nggak antri lama, nggak nunggu dokter, nggak macet karena bisa hari Minggu, akh pokoknya sedap lah... Oia, disini juga bisa swipe card lho. Ada Debit BCA dan Debit Mandiri. Tuh, nggak kece gimana coba? Ada yang mau imunisasi? Coba deh ke RV, jamin banget nyaman. Kalo masalah harga, silahkan buka websita RV ya, kayaknya ada price-list-nya disana. Kemarin Nara imunisasi BCG. kena Rp 150,000 udah termasuk biaya jasa dokter.

Nah..., mudah-mudahan RV semakin berkembang ya, semakin banyak buka RV. hehehe... terima kasih banyak ya, buat dr. Piprim sebagai pencetus RV. Proud of you, dokter...

11.01.2014

IMUNISASI KITA DI POTAS RSAB HARAPAN KITA

Ceritanya siyh ya, cuma mau sharing aja tempat imunisasinya anak-anak (ciyeee... sekarang nyebutnya udah anak-anak, mentang-mentang anaknya udah 2). Selama ini emang kalo anak-anak imunisasi ya cuma ke RSAB Harapan Kita. Selain emang karena ini RS jaraknya deket banget sama rumah (tarik garis lurus mah paling cuma 1.5km), Harapan Kita juga RS gede ya pemirsah... lengkap disitu semua ada. Ya dokter kandungan, dokter anak, sampe jantung di sebelahnya ya adinda ya boook..... Kalo ada yang deket dan bagus, kenapa harus cari yang jauh? Kan, makanya bersyukur... *toyorkepalakambing

Buku Catatan Bayi dan Anak

Nah, kenapa juga kita lebih seneng bawa anak-anak imunisasi ke Harapan Kita? Karena disini ada POTAS, yang mana ini merupakan klinik khusus untuk anak-anak yang mau imunisasi dan juga anak-anak sehat yang mau konsultasi. Intinya, anak-anak yang lagi kurang atau nggak sehat, tempat konsultasinya nggak di Potas ini. Ya namanya juga usaha ya, menghindari dari virus yang ada, makanya milih ke Potas ini deh daripada RS yang campur antara imunisasi dan periksa sakit.

Potas RSAB Harapan Kita ini buka dari Senin sampai Sabtu. Pendaftarannya buka sampai pk 12.00 siang saja ya... Dokternya biasa mulai ada pk 09.30. Biasanya sih saya datang pk 10.00 aja, dengan maksud dan tujuan biar gak lama nunggu dokternya. Kasiyan bocah kalo nunggu kelamaan, bisa cranky gak jelas nantinya. Di Potas sendiri ada sih mini playground, tapi kayaknya udah nggak ngaruh kalo terlalu lama nunggu juga. Belum lagi kalo udah masuk jam makan siang, walah... nggak berani dah.

Mari timbang dan ukur...

Kalo ngomongin tentang dokter di Klinik Potas ini, pastinya semua dokter anak di Harapan Kita ada di Potas ya... tinggal tergantung jadwalnya aja. Masalahnya, agak kurang ngerti aja jadwal dokter di Potas ini. Secara ada terpampang jadwal dokter di meja Pendaftaran, tapi begitu saya bilang mau ketemu dengan dokter pilihan saya, ternyata jawaban petugas adalah "jadwalnya sudah berubah". Nyahahaha, ya kalo udah berubah jadwalnya, boleh diganti keleeus itu jadwalnya. Hiyyaaak! Ga update beud ya, jadwalnya. Kalo udah begitu siyh ya, palingan kita cuma bisa bilang "ya udah yang ada aja ya, dokternya..." terima dokter yang ada... yang penting ada dokter.

Okey, last but not least, saya mau share tentang biayanya. Udah naik ya pemirsah, per 1 Oktober 2014 ini emang RSAB Harapan Kitanaikin harga pelayanan mereka. Berapa besarannya? Aseli nggak ngerti. Yang jelas, naik ya... Kemarin ini Nara untuk imunisasi Hepatitis B (yang kedua), kena sebesar Rp 25.000 untuk biaya adminiatrasi, Rp 150.000 untuk biaya konsultasi dokter, dan vaksin Hepatitis B nya sendiri sebesar Rp 83.500 (udah termasuk spuit-nya yah). Oia, waktu umur Nara 10 hari, kita ke sini juga untuk imunisasi polio, yang mana biaya dokternya ya segitu juga tapi harga vaksinnya Rp 20.000.

Tagihan...

Baiklah pemirsaaa, demikian laporan pandangan mata dari saya atas pengalaman di Potas dalam rangka imunisasi anak-anak. Yuk, jangan lupa imunisasi anak, sukseskan program kesehatan...

Btw niii... foto-foto dimari kayaknya bakalan di watermark lagi deh. Kenapa? Kesel aja gitu, kemarin nemu onlineshop yang nyomot gambar dari web. Kesel berjuta rasanya. Langsung tuh OLS akunnya di report. Mau usaha kok nyolong gambar ya..., please degh...

8.06.2013

CERITA WEANING WITH LOVE "KITA"

Nggak berasa banget deh, Nares udah 2 tahun 5 bulann (malah udah mau ke 2 tahun 6 bulan). Waktu ternyata cepet banget ya jalannya. Ehm, nggak juga sih. Itu cuma kamuflase buat saya ajah alias menghibur diri. Emang bener aja kok, bahwasanya ngurus anak itu nggak mudah dan nggak gampang ya... Apalagi semudah membalikkan telapak tangan (kaya' hompimpa alaiyum guambwreeeng). Ya, walaupun nggak sesusah nyari pembantu kok. Huahahaha... aseli susah banget kan ya, hari gini mau dapet pengasuh lebih susah daripada segalanya. Tapi ya balik lagi sih, susahnya ngurusin anak akan dibayar dengan buah yang baik kok. Liat anak yang makin pinter dan makin besar itu hilang rasa susah. Yang punya anak pasti setuju dengan statement saya yang terakhir.

Masih mimik, niiihhh...

Breastmilk


Balik lagi mau cerita tentang menyapih Nareswari, setelah selama 1,5 tahun yang cuma minum ASI (dan perjuang pumping ASI saya di sini) dan sisanya minum UHT campur ASI dan ngempeng. Akhirnya mau juga Nares lepas dari nenen. Buat beberapa ibu-ibu mungkin saat menyapih merupakan saat yang menyedihkan dan nggak tega. Buat saya pribadi, nggak gitu-gitu amat kok. Bagi saya, menyapih itu ya sekedar cuma ngelepas mimik aja. Nggak lebih dari itu. Dan itu memang sudah alamiah sekali prosesnya. Semua anak pasti merasakan itu. Yah, bisa dibilang saya nggak mau mendramatisir ini semua. Proses alami saja. Nggak sayang? Merasa ada yang hilang? Sama sekali nggak. Yah, nenen kan bukan segalanya dalam hidup kan? Masih banyak cara lain yang bisa membuat anak dan ibu lebih terikat. Etapi ya saya nggak bilang kalo nenen itu nggak nimbulin hubungan emosional dengan anak yah. Itu mah pasti ada. Tp ya bedanya, saya nggak mau mendramatisir saja. Te i ti te i ti ka. 

Dari umur 2 tahun, sebenernya proses nyapih Nares udah dimulai. Tapi masih angin-anginan. Kadang mau nyapih, kadang nggak. Tapi lebih banyak nggaknya daripada iyanya. Alhasil ya nggak berhasil. Tiap Nares minta mimik ya kasih aja. Hihihi, emang nggak niat. Kondisi ini berlangsung sampe Nares umur 2 tahun 2 bulan, di April 2013. Sedih nggak bisa nyapih Nares? Nggak kok. Santai aja. Emang belum waktunya kali. Masih enjoy jadi busui. 

Belajar dan baca-baca mengenai WWL terus berlanjut. Minta pengalaman dari temen-temen yang udah berhasil nyapih, tapi sangat disayangkan kasusnya nggak ada yang mirip Nares. Ehm maksudnya gini loh. Kalo Nares itu kan disapihnya bukan karena si mamak hamil atau mengandung adik bayi lagi. Kebanyakan dari cerita-cerita yang sudah dibaca, berhasil weaning with love karena si mamak punya adik bayi lagi. Jadi mau tak mau ya harus disapih. Baeklah... mari lanjut berjuang. Korak korek referensi, susah bener nyarinya. Tapi sempet dapet satu kesimpulan dari referensi yang udah saya baca, intinya adalah : niat untuk menyapih itu nomor hiji. 

Mei 2013, punya target bahwa setelah mudik dari Muntilan harus bisa nyapih Nares. Harus. Niat nomor satu (sesuai dengan anjuran yang dibaca di babycenter.com), bulat sudah tekad menyapih Nares. Nares itu emang kalo nggak ada mamak, udah nggak ribut cari nenen. Siang pun kalau tidur, walau ada mamak tapi nggak ribut cari nenen. Pinter sih. Tapi kalau malam mau tidur, itu dia yang "ibuuu... mimik!" Hahahaaa.... kalo nggak dikasi gimana? Wohooo, nangis guling-guling kaya kambing guling yang diputar-putar. Ya nangis ya sambil teriak sekenceng mungkin. Kaya' digebukin sama mamaknya aja. Pernah donk, ditanyain sama tetangga, itu Nares kenapa nangis kaya digebukin. Hedeuuuh, maluuu...*tutup muka pake selimut*

Oia, sebenernya salah satu cara untuk nyapih (menurut tante Winny yang telah berhasil menyapih Alden), katanya sih kasih reward buat anaknya. Misalnya anaknya suka eskrim (ini sih Nares banget), ya bilang ke anaknya kalo nggak mimik, besok di kasih eskrim. Tapi sayang banget, nggak berlaku sama Nares. Mau dikasih eskrim segentong juga nggak peduli. Mimik tetap mimik. And she is the queen and the boss. Jadi cuma bisa ngikut apa kata bu boss saja. Sayah? Saya udah biasa diperintah dan disuruh-suruh sama neng kecil itu. Aseli lah, she's the boss...

Juni 2013, mulai putar otak gimana caranya nyapih Nares. Contekan yang ada udah dilakukan, tapi sayangnya nggak mempan. Berarti mau nggak mau harus susun strategi sendiri alias cari ide sendiri alias kreatip ndiri. Jadilah nyoba pake sistem tarik ulur. Ya, prinsipnya sama kayak masa transisi yang perlu adaptasi.8
Tarik ulur misalnya begini : 
1. Hari senin mimik, kasih.
2. Hari selasa kalo minta mimik, jangan kasih. Nangis gegulingan? Biarkan. Sadis? Nggak. Ini cuma proses kok. Kalo sadis itu namanya mukulin yang nggak jelas. 
3. Hari Rabu, minta mimik? Ya bolehlah... sembari kasih pengertian. Nares udah gede, nggak usah mimik lagi. 
4. Hari Kamis, minta mimik? Nope. Nangis lagi? Ya emang, biarkan dia nangis, tapi gendong aja. Gendong sambil tenangin dan peluk erat. Bisikin hati ke hati aja, kalo ibu tetap sayang walau nggak mimikin lagi.
5. Hari seterusnya begitu selalu, dengan makin mengurangi frekuensi mimik. Tega nggak tega ya harus tega. Ini bukan masalah tega atau nggak tega, tapi lebih kepada mendidik juga. Bahwasanya apa yang diinginkan tidak harus selalu dipenuhi.

Alhamdulillah, di Juli 2013 Nares sudah nggak nenen lagi. Sebagai ganti nenen? Nares minta gendong. Hahaha, jadilah si mamak tiap dia mau tidur, minta gendong. PR baru pun hadir ya pemirsah..., nyapih gendong. Syelamaaat, syelamaaat... ahahahai, hidup memang rantai kehidupan. Satu PR selesai, masih ada PR lain menanti. Yah, namapun hidup, kalo nggak ada masalah, nggak mungkin hidup. Selesai sudah itu namanya kehidupan kalau nggak ada PR. 
Sudah nggak mimik lagiii...

Sekarang, di Agustus 2013, Nares kalo ditawarin mimik, pasti jawabnya, "nggak akh, malu..." atau "nggak akh, Ayesh udah gede..." atau "nggak bu, nggak mimik lagi...". Akh, hebat bener ini anak, akhirnya mau lepas juga dari nenen yang berkepanjangan. Satu proses sudah dilampaui, dan proses lain menanti. Bismillah, semoga lancar dengan proses-proses yang lainnya. 

8.07.2012

BERAWAL DARI IMD


Pemirsa, minggu lalu itu ya, ternyata pekan ASI sedunia. Tapi ternyata di Indonesia, dibuat menjadi Bulan ASI oleh organisasi menyusui di Indonesia, AIMI ASI. Uhuuuy, saya ikutan bangga karena menjadi salah satu member AIMI. Yah, bukan karena menjadi member saja, tapi lebih dari sekedar itu, yaitu menjadi ibu menyusui. Karenaaa, saya nggak pernah membayangkan kalo saya itu menjadi seorang busui. Hahaha, orang model macam saya gitu, nyusuin. Boro-boro nyusuin, yang berbau agak perempuan aja udah males dengernya. Kalo boleh milih harus masuk bengkel atau masuk dapur, pasti saya pilih masuk bengkel. Serius! Tapi emang jalan cerita hidup tertulis menjadi busui. Yak mariii, kita menyusui… 

Nah, tema World Breastfeed Week tahun 2012 ini adalah “Understanding The Past, Planning The Future” (sumber dari web-nya AIMI ASI). Pengertian yang saya ambil sih adalah memahami/memelajari masa lalu dan merencanakan masa depan. Monggo di oprek web AIMI ASI kalo mau lebih dalam memahaminya. 

Sementara saya di postingan ini cuma mau share gimana proses IMD Nares, which is IMD itu part yang penting banget dari menyusui. 


Part I – Oprek youtube dan website semuanya tentang IMD atau Early Latch On

IMD sih tau, intinya si baby nyari puting emaknya sendiri setelah dia lahir ke permukaan bumi ini. Tapi gimana prosesnya, ya mana ketehe? Akhirnya di sela-sela kesibukan kantor (cahelah sok sibuk), saya buka lah itu youtube, carilah yang namanya IMD, kalo di-barat-in, namanya Early Latch On. Begitu ketemu, barulah saya tau gimana proses si IMD itu. Lumayan ada pencerahan. Banget udah terinspirasi gimana harus menjalankan IMD itu.

Ada beberapa unggahan di youtube yang bagus bagus untuk di simak. Yang kalo nggak saya salah inget sih, yang lucu itu ya video yang dari orang negro lahiran trus IMD. Bukan lucu IMDnya sih, tapi lucu bayinya, hitam keling gitu. xixixi...


Part II – Milih Rumah Sakit tempat beranak

For sure, karena bulan terakhir periksa kandungan sama dr. Erwin yang pro ASI dan IMD (baca review dokter kandungan saya di sini), makanya saya pengen juga (banget) lahiran sama beliau. Pada saat itu, dr. Erdwin cuma rekomendasikan RS Harapan Kita dan RS Pondok Indah yang di Puri Indah (used to be RS Puri Indah). Tapi karena yang deket rumah adalah RS Harapan Kita (cuma 3 km dari rumah kita ciyn…), makanya kita pengennya di RS Harapan Kita. 

Karena sudah jatuh hati sama RS Harapan Kita untuk tempat persalinan, jadilah saya membuka om gugel untuk mengetahui, apakah RS Harapan Kita itu friendly ASI atau tidak? Ternyata iya banget. Baca sana sini pengalaman yang di share sama emak-emak yang lahiran di RS Harapan Kita, ternyata RS nya pro ASI dan pro IMD. Great lah kalo begitu. Nggak ragu buat lahiran di sana. Ehm, satu lagi yang jadi referensi adalah saudara sepupuan saya. Nyoih, dirinya juga melahirkan di RS Harapan Kita. Beda 6 bulan sebelumnya dari saya, jadi masih fresh ingatannya untuk dibagi kepada saya. 

Selanjutnya, cari tau biaya lahiran di RS Harapan Kita. Ya iya donk, kan nggak mau aja gitu, dapet RS yang deket rumah, tapi mahalnya seujung dunia (emang ujung dunia dimana?). Nehi lah. Maaf ya, biar gini-gini, ilmu perhitungan saya masih jalan. Jadi, kalo yang udah pake label mahal, maaf maaf, saya gusur degh.  Untung aja, biaya lahiran di Harapan Kita masih terjangkau sama kantong si bapak (si bapak yak, bukan saya. Hihihi). 

Bungkus lah kalau begitu, mari melahirkan di RS Anak dan Bunda Harapan Kita, dengan harapan yang banyak dari kita (murah, pelayanan bagus, IMD, proASI, dan dekat rumah).


Part III – Mau Lahiran

Pas hari H-nya, berangkatlah kita ke RS Harapan Kita sekitar pukul 10.00AM. Tadinya mau nunggu kontraksi yang datangnya per 5 menit. Tapi keburu udah takut kenapa-kenapa, secara juga pengalaman pertama mau lahiran, pas kontraksi per 15 menit, jalan pulak saya dan pak suami ke RS. Bener aja…, pas sampe parkiran, berasa ada air ngegerujuk keluar dari tempat pipis. Oh tidaaak, apalah itu namanya saya nggak ngerti (waktu itu ya belum ngerti, sekarang udah tau, ternyata namanya ketuban). 

Pas daftar di administrasi, langsung disuruh ke bagian kebidanan. Lumayan jauh euy, lokasinya dari tempat awal pendaftaran tadi. Untung aja ruangannya pake AC. Sayang, kurang travelator (dikata di airport, pake travelator). Begitu ketemu susternya, kasih pengantar yang dari tadi dibawa dari administrasi, langsung degh, diperiksa. Heheh, untuk cara periksanya saya nggak bisa cerita dimarih yak! Tapi tiba-tiba yang jelas itu suster bilang, “Bukaan 1 ya bu…”. Terserah dah sus, mau bukaan berapa, yang jelas biar anak ibunya sehat lah…

Cerita lengkap proses lahiran nggak saya ceritakan di sini. Tapi saya cuma mau bold aja, ternyata dr. Erdwin hari itu lagi di Bandung, pemirsah. Huhuhuuu, ceritanya saya mau dikasih dokter jaga disitu. O-em-ji, dokter baru kenal, saya belum tau bagaimana dia. Tapi saya nggak patah semangat, terus ngotot sama si suster, minta tolong telponin dr. Erdwin, kali-kali aja beliau udah pulang dari Bandung. Dan ternyata bener, pas ditelpon, ternyata dr. Erdwin lagi otw Jakarta. Yippieee… Alhamdulillah...


Part IV – Lahiran dan IMD time

Pukul 18.53, pas berhasil sudah keluar Nares, rasanyaaa legaaaa banget degh. Lega secara fisik dan lega secara bathin. Lega fisik karena perut jadi longgar dan lega bathin karena ngerasa dapet uang Rp 50 milliar. Embeeer, punya anak emang dapet anugerah banget lah pokoknya. 

Nah, tiba saat yang ditunggu-tunggu sama saya dan pak suami, yaitu… jeng jeng jeng… IMD. Abis lahiran, Nares digunting tali pusar sama bapak (suami saya), trus di-lap dikit-dikit sama suster di tempat tidur bayi kecil yang ada di samping tempat tidur saya. Nggak lama, mak suster ngasih Nares ke dada saya. Huhuuu, inilah anugerah terindah seumur hidup. Punya anak, gitu lho. Finally, saya jadi orang tua juga. Selama ini kan jadi bocah…

Ehm, pas Nares udah di taro di dada saya untuk IMD, bapak ibu dan ibu mertua saya boleh masuk ke ruangan, jadi lihat jelas gimana Nares di IMD waktu itu. Mereka semua pada komentar positif, salah satunya gini, “bayi jaman sekarang pinter ya, baru keluar ngek ngok udah bisa cari mimik ibunya”. Alhamdulillah, semua keluarga saya mendukung proses IMD itu. Pak suami pun masih ada di sebelah saya. 

Nggak lama, bapak saya berpesan, untuk segera meng-adzan-kan Nares (eh, waktu itu belum dinamain Nares, jadi kita panggil adek bayi). Segera lah si bapak adek bayi melakukan adzan. Subhanallah, itu kita di ruangan itu semuanya terkesima. Sambil melakukan proses IMD, sambil di adzan-kan. Ya Allah, semoga bayi ini tumbuh sehat dan menjadi orang yang berguna (aamiin…). Beneran degh, momen ini adalah salah satu momen yang nggak pernah bisa mungkin terlupakan sama saya. Itu khidmat bener dah prosesnya. Beluman makan malem sampe nggak berasa laper. Asik liatin bocah yang nyari puting emaknya. 

Kira-kira proses IMD Nares berlangsung selama 2 jam. 2 jam IMD ngapain aja, neng? Ya pokoknya menikmati Nares belajar nyusu sama ibu. Mulai dari yang Nares hanya ngendus-ngedus, sampe yang merangkak di perut ibu, pokoknya semuanya. 2 jam nggak terasa banget lah pokoknya, beda sama 2 menit pas kontraksi bukaan 4. Parah. At the end sih, kita akuin kalo Nares nggak berhasil ngenyot puting emaknya secara sendiri. Aiyh, nggak apa-apa lah nak, yang penting tadi kita udah ngobrol banyak kan? 


Part V – Pasca IMD

Yups, sekitar pukul 21.00, Nares diambil ama suster buat ditimbang, divaksin, dan lain sebagainya di ruang yang lain pula. Yang ikut hanya si bapak saja. Sementara eyang kakung, nekwan, dan nenek tetap di kamar persalinan saya. Baru deh, saya bisa makan, bisa santai sejenak setelah Nares di bawa ke ruang timbang dan cap jari. Alhamdulillah, proses IMD berjalan lancar. 

Yang paling penting lagi, abis IMD itu, saya diajarin nyusuin Nares sama mak suster. Gimana perleketan yang benar, trus harus diapain dulu payudaranya biar kita nggak tegang. Pokoknya, ya support banget degh, mak suster di sono. Bersyukur dan bersyukur banget lah saya pokoknya.





Pemirsa pembaca yang budiman (ala pembaca berita jaman dulu), sampai disini dan sekian cerita saya tentang perjalanan IMD Nares waktu itu. Nggak banyak yang bisa diambil hikmahnya sih, selain saya emang cuma berbagi pengalaman gimana awal mula perjalanan ngASI saya bersama Nares. Lah pan, emang gunanya blog ini ya berbagi pengalaman, toh? Iya sajjalah, yang punya blog pun saya kan? Yang pasti, buat yang mau punya baby, ntar kalo baby-nya lahir, jangan lupa IMD yah. Itu cikal bakal berhasilnya proses nyusui dan ngASI. Cari RS dan dokter yang pro IMD, the real IMD. Cari yang pro ASI juga pastinya. Jangan mau tuh, dioleh-olehin susu formula. Mending oleh-olehnya diapers aja degh.

Sedikit tips dari saya juga adalah, pastikan aja kalo semua suster ngerti yang namanya IMD. Kalo pun nanti pas hari H panik, tetap inget yah, IMD itu 2 jam dan tidak perlu sufor sama sekali selama 2 x 24 jam setelah bayinya lahir. Itu basic banget degh... Nah, silahkan mencari tau yang lainnya yah...

#benar-benar dipersembahkan dalam rangka Bulan ASI di Indonesia Tahun 2012.

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post