Showing posts with label Seputar Narfa. Show all posts
Showing posts with label Seputar Narfa. Show all posts

1.03.2018

NAIK NAIK KE PUNCAK BOGOR

Di penghujung tahun 2017 ini, saya dan keluarga alhamdulillah berkesempatan 2 kali pergi ke daerah Puncak. Jalan-jalan seneng-seneng? Alhamdulillah... Nikmat Allah mana yang hendak didustakan? Kebetulan ada acara komunitas kita. Tempat acara kesemuanya ya di Puncak (Bogor, Jawa Barat), soalnya nggak terlalu jauh dari Jakarta, akses gampang. Tinggal masuk tol dalam kota, keluar Ciawi, cuss naik Puncak. Cuma emangg jangan heran, karena alasan yang sama diatas, banyak orang menjadikan Puncak destinasi wisatanya. "Macet dan nggak gerak", itulah jargon liburan ke Puncak di weekend.

Sedikit tips kalau mau ke Puncak niy... Menghindari kemacetan yang menyesakkan hati ini...
1. Usahakan jangan naik pas long weekend. 
2. Baiknya pergi di tanggal kantong sekarat (setelah tanggal 15- 23nya).
3. Liat jadwal buka tutup arah naik/turun. Pergi pas jam buka ke atas, turun pas jam buka ke bawah.


November 2017, Hotel Grand Ussu Puncak.

Keren banget emang perayaan HUT ALTIC ke 6 kali ini. Perayaan puncak HUT juga diadakan di Puncak, 4-stars hotel gitu, Grand Ussu Hotel and Convention. Hotel ini lokasinya dekat sama daerah Megamendung. Kalau dari Jakarta, adanya di sisi kanan jalan. Kemarin waktu perayaan ALTIC, kita berangkat dari Jakarta pk 12.15 dan alhamdulillah sampai di Grand Ussu pk 15.00. Menurut saya, waktu tempuh ini cukup singkat. Iya, alhamdulillah nggak macet, apalagi kita nyaris ketutup jalur turun. Hahaha, kalau rejeki emang nggak kemana!

Masuk di komplek hotel Grand Ussu, udah keliatan banget kalau hotel ini rapih, bersih, dan terawat. Well managed nih! Hotel ini terdiri dari beberapa bagian bangunan. Komplek Hotel ini cukup besar lho, parkiran juga muat banyak banget. Jadi buat yang mau bawa rombongan besar, nggak perlu khawatir. Nggak perlu khawatir juga sama komplek hotel yang gede banget ini, soalnya di hotel nyiapin golf car yang wira wiri bisa buat anter kita. Kali-kali aja ada yang mau ke depan beli apaan di minimarket, tinggal numpang golf car.

Masuk di kamar hotel, dan kita seneng sama kamarnya yang sangat modern furniture-nya. Kamar kita di cluster Catalya, menghadap langsung bisa lihat pemandangan. Di kamar yang bisa bikin anak kicik lari sana sini, tersedia dengan lengkapnya lemari es (berguna nih buat mamak yang bawa anak MPASI), mini bar (complimentary ada teh, gula dan kopi), safety box, bahkan disediakan juga sajadah lho. Kamar mandi emang gak pakai bathtub, tapi okelah. Sabun, handuk, sikat gigi tersedia. Jadi tinggal bawa baju aja. 

Fasilitas di Grand Ussu lengkap banget ciyn... ada mini waterpark, ada taman bermain anak, ada lapangan olahraga (bisa buat main futsal), ada restoran (berikut stage), ada ruang rapat. Keeereeen pol polan. Alhamdulillah, menghabiskan waktu 1 malam disini, rasanya kurang puas alias kurang lama. Hotelnya keren banget dan emang rekomen buat ngisi liburan. 

Restoran Amarylis Grand Ussu

Di dalam kamar type Catalya

Complimentary

Mini Waterpark


Desember 2017, Villa Anthurium 18

Kembali mengunjungi daerah Puncak, dibulan selanjutnya setelah kita nginep di Grand Ussu. Bedanya, kali ini bukan hotel. Tapi villa atau rumah sewa gitu lah ya. Lokasi villa ada di jalan yang menuju ke Taman Safari. Pertigaan Taman Safari, kalau dari arah Puncak, belok kanan dan villa Anthurium ini ada di sebelah kanan jalan. Di depan ada plang-nya kok, tulisan Anthurium 18. InsyaaAllah nggak akan keder kebingunan nyari villanya.

Ngapain sih ke Villa ini? Kebetulan kita ada rapat pengurus komunitas. Maklum, tahun baru pasti datang dengan segabruk agenda baru. Kegiatan, keuangan, dan lainnya mau dibahas. Nggak cukup waktu kalau dibahas beberapa jam. Makanya kita pilih untuk ngerjainnya semalam suntuk (ala wayang semalam suntuk). Nyari villa yang cukup untuk menampung sekitar 7 keluarga, maka pilihan Villa Anthurium ini bisa dijadikan pertimbangan. Pertimbangan lainnya adalah budget. Kebetulan yang masuk di budget kita ya Villa ini.

Villa Anthurium ini, berada di jalan utama menuju Taman Safari. Nggak usah khawatir nyarinya susah. Mobil sedan pasti bisa masuk, bis yang ukuran Metro Mini (3/4 kah itu?) juga bisa masuk kesini. Parkiran di Villa ini muat untuk 10 mobil kecil. Kemarin kita 8 mobil ya cukup banget, masih luas dan legaaa... 

Fasilitas di villa ini cukup lengkap. Ada kolam renang (tapi nggak ada buat anak-anak), gazebo, dapur lengkap dengan perabotannya, meja makan bisa buat banyak orang, kulkas, perlengkapan barbeque juga ada. Jadi, kalau mau buat acara yang kekeluargaan, Villa Anthurium ini bisa dijadikan salah satu pilihan. Oh iya, kalau bingung makan disana gimana, bisa minta tolong sama yang jaga disana untuk sediakan makanan. Budget berapanya, tinggal diatur aja. Kita kemarin begitu... 

Teras Depan

Dapur

Ruang Santai
 
Ruang Makan
Nah... buat yang mau ke Puncak, bingung mau kemana, ini 2 tempat penginapan boleh lah dicoba... Semoga sharing saya bermanfaat ya...

5.22.2017

STAYCATION DI ARYADUTA LIPPO VILLAGE KARAWACI

Bulan April 2017 ini sebenernya adalah bulan bikin bangkrut para bapak-bapak. Kenapa? Hahaha, hampir tiap minggu itu adalah long weekend, pemirsa... Yang mana daripada long weekend itu merupakan penguras kantong. Anak dan istri (apalagi model istri macam saya ini yang nggak ngerja ngantoran) minta jalan-jalan, minta liburan, setidaknya bakalan minta keluar rumah sekedar pergi ke mall atau ke rumah kerabat. Keluar duit donk lah yah pastinya. Ah tapi nggak usah khawatir, kalo kantong tebal, pasti mah ada aja rejekinya. Aamiin. Cewek matre? Cowoknya kali yang nggak punya duit? Nyahahaha, slogan ini sekarang lagi happening banget di dunia maya... Catet lah yaaah...

Di keluarga kita, emang sudah perjanjian, liburan besar itu hanya boleh setahun sekali. Tahun ini, kita nggak liburan yang jauh-jauh, karena si adhe masih bayi. Saya menyerah melambaikan tangan pada kamera saja untuk membawa anak-anak itu pergi berlibur yang jauh. Jadilah kita putuskan untuk staycation saja. Udah nggak kebayang bawa si adhe pergi jauh dan kemudian dia cranky di tengah jalan. No thank you. Si adhe ini emang nggak kayak kedua kakaknya yang pada betah duduk di car seat. Baru jalan bentar, udah oooeeekkk... hahaha, ya kalau jalan sampai 5 jam keluar kota, alamat saya nggak liburan kan? Malah yang ada saya ikutan cranky. Emak kan butuh liburan juga...

Liburan tahun ini setidaknya kita udah putuskan nginep di Aryaduta Lippo Village yang berada di Karawaci. Hahaa, seempritan doang dari Slipi. Bayar toll aja cuma Rp 7.000 lho (ini juga karena setelah tarif toll naik dari sebelumnya Rp 5.500). Jadinya kita milih liburan sesaat dan sejenak aja ke Aryaduta Lippo Village ini, pemirsa. Kita beli voucher melalui web penyedia voucher hotel itu lho. Tapi ternyata, setelah kita tau, harga beli disitu lebih mahal. Jadi, mending beli langsung ke web Aryaduta-nya aja deh. Ini juga menjadi bahan perbincangan emak-emak di hotel soalnya, hahaha, gossip harga emang ibu-ibu numero uno! Dimanapun dan kapanpun, harga nomor satu.

Sabtu, 29 April, kebetulan kita plot sudah untuk nginep di Aryaduta. Check in di TKP pkl 14.00, jadi kita berangkat dari rumah setelah pk. 12.30 aja. Syantai, soalnya nggak jauh dari rumah. Perjalanan pun ternyata lancar, nggak pakai macet. Long weekend kali itu sepertinya orang-orang sudah duluan berangkat di hari Jumat. Oia, lokasi Aryaduta Lippo Village ini tepat sekali berseberangan dengan Supermal Karawaci itu. Jadi kalau mau kesana, lewat toll Jakarta - Tangerang - Merak dan exit di Karawaci. Jadi, kalau dari arah Jakarta Tomang, ngelewatin 3 pintu exit toll dulu ya, baru keluar. Jangan kurang dan jangan lebih.

Main Lobby Aryaduta
Minta tolong tutup stop kontak listrik.

Sampai di Aryaduta, pk 14.00 langsung check-in di receptionist. Kebetulan kok ya pas kosong, nggak ada yang lagi check-in. Tapi setelah kita check-in, kamarnya belum siap. Kita diminta nunggu dulu. Selama menunggu kamar kita disiapkan, kita keliling-keliling Aryaduta dulu. Cek TKP, ciyn... lihat situasi. Sekitar 30 menit kemudian, baru kita dapat kamar dan bisa menuju kamar. Lantai 6. Barang-barang kita dibantu sama bapak bell boy yang baik hati.

Tiba di kamar, senengya adalah kita dapet view yang ke arah Selatan - sepertinya arah Bogor kali ya - bukan arah ke Supermal Karawaci. Nice banget pemandangan dari kamar. Serasa bukan di Karawaci karena banyak pohon-pohon kelapa gitu dan rumah penduduk berserta tidak ada bangunan tingginya. Alhamdulillah ya, dapet kamar yang di sisi ini. Kalau dapet kamar yang di sisi menghadap mall, pasti ngebosenin. Serasa banget di kota. Bisa request kali ya buat besok-besok kalau mau nginep sini lagi, kamarnya yang menghadap ke Selatan. Eh tapi ya kalau mau emang request ngadep ke mall sih ya sah-sah aja lho ya. Kali-kali aja emang suka juga.

Pemandangan dari kamar kita. Karawaci kah ini?


Ngapain aja disini? 

Staycation semalam ini sebenernya tujuan utamanya adalah berenang. Di Aryaduta ini emang ada poolnya yang lumayan menyenangkan. Ada waterpark deh ceritanya. Jadi emang sudah siap-siap mau berenang di hari pertama dan hari kedua. Nggak ada satupun dari kita yang nggak mau main air disini. Lah boleh main air sepuasnya kok, makanya sikat aja lah. Ban berenang bocah juga dibawa kok. Ternyata disana emang nggak sediakan ban berenang. Hore banget ya, bocah seneng banget bisa main air disini. Di sini kita dipinjemin juga handuknya buat lap-lap badan sebelum naik ke kamar.

Waterpark ini yang kita cari
Playgroundnya bagus lho...

Hari pertama disini, saya dan si bayi nggak ikutan berenang. Males aja, sama beberes bersih-bersihnya setelah renang. Akhirnya saya dan si bayi main di playground yang ada di area country club Aryaduta. Gratis kok, asal sebutin aja nomor kamar kita dan pesan kamarnya atas nama siapa. Langsung masuk. Kalau mau nambah kegiatan, boleh aja ikut cooking class atau sand painting yang diadain sama Kids Club Aryaduta. Acaranya dan harganya nggak tentu, tergantung sama kegiatan sih kayaknya. Kemarin kita nggak ikut, soalnya besoknya udah mau renang lagi.

Disini, kita bisa juga menghabiskan waktu untuk berolahraga. Di country club, ternyata fasilitasnya bisa dipakai semua lho. Ada sauna, ada gym, ada jacuzzi, ada jogging track, ada lapangan buat main bola, ada apaan lagi ya? Kalau nginepnya 2 malam sih bisa dibantai tuh sauna. Tapi kita kan nginep cuma semalam, jadi kita skip sama kegiatan di country club. Bayar lagi nggak masuk suana dan lain-lain? Nggak sih katanya. Harga nginep sudah termasuk dengan fasilitas tersebut. Ehm, murah donk ya? Ya kalau buat sesekali pas liburan ya murah. Hahahaha...

Bosen sama kegiatan di hotel, bisa nyebrang ke seberang, ada Supermal Karawaci. Mall yang gede banget dan lengkap banget. Hypermarket aja ada 2, Hypermart dan Transmart Carrefour. Restoran ya jangan tanya. Dari yang enak banget sampe yang nggak enak ya ada. Dari yang mahal sampe yang murah juga ada. Jalan kaki dari hotel cukup 10 menit aja kok. Tapi sayangnya, mau nyebrang dari hotel ke mall ini, jalannya nggak stroller friendly. Susah banget mau turun tangganya. Mana mau masuk mall juga jalannya dipalang-palang. Banyak angkot ngetem gitu...

Liat seseruan di Aryaduta Lippo Village ini yuuuk....




Jadi...

So far, saya merekomendasikan kalau ada yang mau staycation di Aryaduta Lippo Village Karawaci ini. Value for money banget. Kalau nginep 2 malam, harganya lebih murah lagi lho. Jadinya semalam sekitar Rp 700.000an gitu. Itu udah termasuk breakfast pula. Jadi udah nggak pusing mau cari-cari makanan. Ya walaupun sih di sekeliling hotel banyak banget tempat makan. Jelas-jelas juga samping hotel ini ada McDonalds buka 24 jam. Saya kasih nilai 8.5 dari 10 untuk Aryaduta Lippo Village Karawaci ini. Suatu saat bakal mau balik sini lagi deh... aamiin... 

1.27.2017

REVIEW CLODI ECOBUM PANT - CLODI LANJUTAN

Udah sekian lama bye-bye beli diapers sekali pakai alias pospak. Lumayan banget menghemat dan nggak lagi berburu diapers murah tiap promo di supermarket. Udah nggak grasak grusuk lagi sama yang namanya promo diapers. Skip dan bhaaay pokoknya. Sukses dengan cloth diapering (clodi) sessi 1, mari lanjut dengan cloth diapers sessi 2. Sessi 1 nya itu adalah cloth diapers dengan model yang selama ini Narfa pakai, dan sessi 2 dilanjut dengan model pants. Kurang lebihnya mirip pospak dengan perekat dan pospak celana (baby awal dengan tape dan lanjut dengan pant).

Belajar dari sana sini situ di dunia maya, emang kan jenis dan type clodi Ecobum - popok kain modern - itu berbagai macam. Dari segi materialnya, ada yang dari bludru disebut Minky dan ada yang PUL. Nah PUL ini yang menjadi pilihan saya. Saya emang nggak terlalu telaten untuk pelihara material bludru, makanya pilih yang PUL. Tapi jangan salah, yang type Minky ini motif-nya lucu-lucu banget. Jadi iri gimana gitu sama motifnya minky. Walaupun yang material PUL ini ya lucu-lucu juga motifnya. Ada yang motif tema perempuan, laki-laki dan ada juga yang universal.

Dari segi type perekat atau kancing-nya, nah yang clodi pertama ini seperti yang saya udah bilang diatas tadi, seperti pospak perekat (disebutnya type snap). Ini buat anak bayi yang masih belum banyak gerak aktif sana sini sono. Masih mudah sekali memakaikannya. Giliran si anak udah mulai membesar, udah mulai menendang-nedang, jungkir balik jumpalitan, tipe yang snap itu udah mulai agak susah memakaikannya lho. Seperti sekarang ini baby Narfa yang udah mau 8 bulan dan semakin lincah. Saya rasa ini saatnya saya memakaikan clodi Ecobum pants.

Taraaa... bukan sulap bukan sihir... ayo kita coba clodi lanjutan baby Narfa : Ecobum Pants - clodi pull up pant. Kenapa Ecobum, ya pasti karena clodi pertama-nya yang tipe snap, udah cocok banget sama Narfa. Kebayang kan, clodi lokal tapi citarasa clodi import. Kalau soal harga, udah pasti emang termasuk clodi murah dan dapat clodi bagus. Dengan harga segitu dan kualitas clodi premium, cihuy banget lho. Sekarang mau coba review Ecobum Pants ini, ya...


Material

Ecobum Pants, setelah dijelajahi di dunia maya, ternyaata ada yang mingky dan ada yang PUL. Ini dari segi material yang luarnya ya... Saya tetap pilih yang PUL. Sekali lagi, saya bukan type yang pinter merawat type minky alias seperti bludru itu. Jadilah saya pilih PUL kembali untuk Ecobum Pants ini. Kalau ibu-ibu yang pinter ngerawat bahan minky, saya mempersilahkan dengan sangat, pilih Ecobum minky ya. Abis motifnya lucu-lucu banget. Menurut para suhu perclodian, yang minky itu lebut banget bludru-nya. Cakep lah pokoknya...

Nah, kalau material bagian dalamnya, Ecobum Pants ini menggunakan material suede. Suede ini, kering banget lho. Saya juga bingung, kok bisa ya, suede-nya kering gitu, padahal insert-nya clodi udah cukup basah. Beruntung banget emang pakai inner suede ini, karena kulit bayi adik Narfa yang cukup sensitif, jadi nggak merah-merah karena lecet. Kemarin sempet dag dig dug ser ser ser, waktu kelamaan pakai pospak (belum kenalan sama clodi), itu merah-merah semua bagian dalam si bayi. Tanda-tanda kulit sensitif kan muncul banget. Alhamdulillah, pakai clodi nggak lecet.


Motif

Clodi Ecobum bagus ini, mau yang minky atau yang PUL semuanya bermotif bagus-bagus lho. Motifnya ada motif yang untuk perempuan dan motif untuk laki-laki. Tinggal pilih aja sesuai selera. Kalau mau aman, silahkan pilih yang motif-nya universal. Mungkin buat nanti dipakai sama adiknya lagi (ini berlaku bagi yang masih mau punya adik, ya... ahahahaaa - kalau saya skip dulu aja). Motif apapun yang dikeluarkan sama Ecobum, ciamik punya lho bu ibu. Lucu-lucu. Saya tetap memilih warna yang tahan kotor, maklum sangat ya, nggak berani jorok-jorokan kalau saya.

Lucu banget ini motif scooter. Sukak!


Ukuran

Karena Narfa yang sekarang ini umur 7 bulan 20 hari dengan berat 8.5 kg, jadinya pakai clodi PUL Pants udah paling tepat. Ecobum pants ini punya satu ukuran, tapi bisa disesuaikan dengan ukuran bayi kita kok. Soalnya Ecobum pants punya beberapa kancing yang bisa dipaskan dengan ukuran berat badan anak kita. Namanya juga anak bayi, beda pabrik bisa beda cetakan. Jadi saya nggak khawatir beli Ecobum Pants snap ini nggak cukup buat anak saya. Kancing-nya bisa di-adjust kok. Waktu kemarin masih umur 2 bulan pakai, set kancing yang paling kecil. sekarang bisa udah yang medium.

Dikecilin, kancing 1 baris ya...

Dibesarin, lepas semua kancing-nya
Silahkan atur sesuai besar badan anak kita ya...

Double Leg Gusset

Ini emang handalan saya, yaitu clodi yang pakai double leg gusset. Double leg gusset ini manfaatnya adalah seperti pelindung anti bocor sisi samping clodi. So far selama memakai clodi yang PUL snap selama 6 bulan ini, itu pup nggak pernah bocor. Aman terkendali. Jadi double leg gusset Ecobum ini bekerja dengan sangat baiknya. Nggak salah deh ya, milih Ecobum clodi anti bocor ini, soalnya jadi bersih selalu. Saya paling nggak bisa deh tuh poop anak-anak berantakan. Antara malas bersihkan poop dan jijik sih emang rada tipis, kan ya? *wink


Insert Clodi

Kemarin waktu baby Narfa mulai pakai clodi di umur 2 bulan, saya memilih insert yang microfiber. Semuanya microfiber saya pilih. Kenapa nggak pakai bamboo atau hemp yang menyerap cairan lebih banyak dibanding microfiber? Jawabannya adalah karena saya baru nyoba waktu itu. Hahaha. Sekarang, buat clodi Ecobum Pants ini, saya coba yang hemp-nya. Ternyata emang bener jauh lebih banyak menampung cairan dibanding yang microfiber. Tau gitu dari awal dulu beli yang hemp ya, pemirsa. Yah, telat banget nggak sih? Weheee, tapi better late than never.

Insert Clodi Ecobum yang canggih
Paling kusuka, type pocket gini. Rapih. 


Nyuci Clodi

Belajar dari pengalaman dari cara mencuci clodi Ecobum PUL Snap kemarin yang hampir tiada kendala, kali ini dengan Ecobum pull up pants juga tanpa kendala. Nyuci clodi mudah sangat, tidak sesulit yang dibayangkan oleh orang-orang lho. Emang bener banget, tak kenal maka tak sayang. Belum nyoba pakai clodi, pasti belum tau mudahnya pakai clodi. Emang paling seneng tuh tapi kalau cuaca cerah. Clodi, clodi basah jemur aja pantengin matahari dan bersih kembali. Saya nggak usah pakai cairan kimia macem-macem demi menjaga kinerja clodi yang maksimal.


Clodi Idaman


Ini emang agak gimana gitu ya, antara senang dan sedih. Senangnya itu karena yang jual clodi Ecobum itu banyak lho. Jadi mudah aja dicari barangnya. Onlineshop paling juara deh. Selama ini bela-beli Ecobum pastinya melalui onlineshop. Cek langsung aja ke ecobum.net kalau nggak percaya. Mau beli di onlineshop yang lain juga bisa kok. Tapi ya gitu ya, kudu cepet-cepet dah belinya. Pengalaman kemarin, begitu restock langsung beli. Eh tapi kemarin baca-baca juga pada banyak yang PO lho. Warbiyasak banget ya, Ecobum...


Alhamdulillah, seneng banget deh baby Narfa udah naik kelas pakai clodi pants. Makin besar, makin pinter, sehat selalu ya baby Narfa. Belajar hemat dan belajar cinta lingkungan sedari kecil, nak. Kelak dirimu akan tau, betapa berharga-nya lingkungan hidup ini (eciyeee... mamaknya lagi bijaksana). 

9.21.2016

MUDAHNYA URUS AKTA KELAHIRAN dan KARTU KELUARGA

Berbagi itu indah... apa aja dah yang bisa dibagi, asalkan halal, mari dibagi. Kali ini saya mau bagi-bagi cerita (seperti biasa), gimana caranya urus atau mungkin lebih tepatnya bikin surat Akta Kelahiran anak. Baru kali ini (di saat anak sudah tiga), saya urus sendiri Surat Akta Kelahiran si bocah.

Lha kemarin yang dua anak, piye bikinnya? Hmmm... joki, ciyn! Bahahahaha! Waktu jaman Nares, yang ngurus Akta Kelahiran, dari pihak RS (bayar sekian ratus ribu dan jadi). Waktu jaman Nara, yang ngurus Akta Kelahiran ada pengurus RW yang berbaik hati. Sekarang, karena saya pengangguran, makanya mau urus sendiri aja. Belajar... kali aja bisa jadi joki ngurus Akta Kelahiran... *kunyah bubble tea. Eh tapi ya, ini siy sebenernya karena pihak RS sekarang udah nggak mau lagi ngurusin bikin Akta Kelahiran, makanya mau nggak mau ngurus sendiri deh.

Ngurus Akta Kelahiran ternyata gampang banget kok, nggak pakai susah dan berbelit-belit. Sekarang apalagi jamannya koh Ahok jadi DKI-1, nggak main-main punya, urusan di kelurahan dan kecamatan nggak bisa sembarangan jadi permainan. Salah-salah ehm main-main maksudnya... kalo petugas main-main sama penduduk jelata macam saya ini, tinggal laporin via aplikasi Qlue, kelarlaaah... kelar riwayatnya di instansi pemerintahan.

Udah siap mau bikin Akta Kelahiran adik bayi? Nih langkah-langkahnya...


Lapor ke RT setempat untuk mendapatkan Surat Pengantar

Ini hal pertama banget yang harus dilakukan. Mintalah Surat Pengantar dari Pak/Bu RT kita. Tapi jangan lupa ya..., kalo mau minta Surat Pengantar RT pun harus bawa: 
   1. Surat Keterangan Lahir dari RS (asli)
   2. Kartu Keluarga (KK) - copy
   3. Surat Nikah - copy
   4. KTP suami dan istri - copy

Itu semua lampiran yang harus ditunjukan ke RT. Surat Pengantar ini nanti harus dilanjutkan untuk mendapatkan tanda tangan dan stempel pak/bu RW. 

Nah, yang perlu diperhatikan adalah, Surat Pengantar-nya nanti dapetnya 2 ya... karena yang satu adalah Surat Pengantar untuk membuat Akta Kelahiran dan yang satunya lagi Surat Pengantar untuk membuat/merevisi KK (karena ada tambahan anggota keluarga baru). Kalau menurut informasi dari pak RT saya, ini karena sekarang di Akta Kelahiran harus sudah ada Nomor Induk Kependudukan (NIK). Makanya, bikin KK dulu baru bisa bikin Akta Lahir.

Selesai Surat Pengantar Akta dan KK, saya lanjut ke Kelurahan Palmerah...


Lapor ke Kelurahan untuk Pembuatan KK dan Akta Kelahiran

Yuk lanjut proses di Kelurahan. Sampaikan ke petugas PTSP di Kelurahan, kalau kita mau bikin Akta Kelahiran si bocah, serahin aja semua Surat Pengantar Akta dan KK ke petugas. Nah, untuk yang dokumen Akta Kelahiran, jangan lupa siapkan 2 (dua) paket berkas:
   1. Surat Pengantar dari RT dan RW (asli)
   2. Surat Keterangan Lahir dari RS (copy) 
   3. Cap kaki bayi saat lahir dari RS (copy)
   4. Surat Nikah Orang Tua (copy)
   5. KK (copy)
   6. KTP orang tua anak - suami dan istri (copy)
   7. KTP 2 orang saksi (copy)

Kalau berkas diatas sudah lengkap, nanti petugas PTSP akan terima dan selanjutnya untuk dibuatkan Surat Pengantar membuat Akta Kelahiran kepada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jakarta Barat. Jadi, di Kelurahan itu hanya untuk membuat pengantar-nya ya, bukan untuk menjadi sebuah Akta Kelahiran. Setelah menyerahkan berkas diatas, seminggu kemudian saya disuruh datang kembali.

Datang kembali ke Kelurahan, seminggu setelah masuk berkas yang pertama, ternyata Surat Pengantar untuk bikin Akta Kelahiran dari Kelurahan sudah jadi, berikut dengan KK yang baru juga. KK-nya sudah ada nama adik bayi berikut dengan NIK-nya. Nah, KK yang baru ini, harus di tanda tangan Kepala Keluarga dan RT (tanda tangan dan stempel), baru kemudian diserahkan kembali ke Kelurahan. Mari kita pulang, minta tanda tangan pak suami dan pak RT...

Setelah lengkap tanda tangan pak suami dan pak RT di KK yang baru, saya kembali ke Kelurahan, untuk meminta tanda tangan pak/bu Lurah Palmerah. Setelah KK kita ditandatangani Kepala Keluarga dan RT, kembalikan ke Kelurahan dan selanjutnya ditandatangani pak/bu Lurah. Cepet kok, cukup 1 hari saja. Kebetulan waktu itu saya masuk berkas hari Jumat, maka datang lagi hari Senin dan taraaaa... sudah ada.

Lengkap sudah urusan di Kelurahan. Surat Pengantar untuk bikin Akta Kelahiran ke Disdukcapil Kecamatan dan Kartu Keluarga.

Kelurahan Palmerah kini canggih lah pokoknya...


Ajukan berkas Akta Kelahiran ke Kecamatan

Langkah selanjutnya, mari masukkan berkas-berkas untuk membuat Akta Kelahiran di tingkat Kecamatan. Jadi, sebenernya kita cukup antar berkas saja ke Disdukcapil di tingkat Kecamatan. Nanti petugas Kecamatan yang akan bawa berkas kita ke Disdukcapil Jakarta Barat. Cihuuuuy kan yesss...? Aman lah pokoknya. Asal berkas lengkap, nggak perlu amsyong. Nah, untuk di tingkat kecamatan ini, kelengkapan berkas bikin Akta Kelahiran:
   1. Surat Pengantar untuk membuat Akta Kelahiran dari Kelurahan (asli)
   2. Surat Keterangan Lahir dari RS (copy dan asli)
   3. Cap kaki bayi saat lahir dari RS (copy)
   4. Surat Nikah Orang Tua (copy)
   5. KK yang baru (copy)
   6. KTP orang tua anak - suami dan istri (copy)
   7. KTP 2 orang saksi (copy)

Setelah berkas kita diperiksa oleh petugas Disdukcapil Kecamatan dan sudah lengkap, kita diminta untuk mengisi formulir untuk data-data. Info aja nih, kalau yang mengurus Akta Kelahiran bukan orang tua sang anak alias perwakilan, perlu membuat Surat Kuasa bermaterai. Ini saya karena orang tuanya langsung, jadi nggak perlu Surat Kuasa. Setelah isi formulir dan dinyatakan sudah beres sama petugas Kecamatan, maka kita akan dikasih tanda terima berkas. Tanda terima ini nantinya akan dipergunakan untuk mengambil Akta Kelahiran yang ditargetkan jadi 2 minggu setelah berkas kita masuk.

2 minggu lewat 1 hari. Mari ambil Akta Kelahiran si adek... Begitu datang ke Kecamatan, serahkan Tanda Terima yang kita punya, dan taraaa... Akta Kelahiran si baby bala bala sudah ada. Grateish dan nggak pakai ribet. Asal berkas lengkap, express kok jadinya. Calo? Udah nggak ada. Ya orang ngurusnya juga gampang banget. 

Well done, alhamdulillah beres... Siap jadi joki Akta Kelahiran... anyone...? Bahahahahaha.....


Kantor Kecamatan Palmerah
Pelayanan Terpadu yang banyak membantu

Rangkuman proses bikin Akta Kelahiran:

1. Ke RT - RW setempat bikin Surat Pengantar (Akta dan KK)
2. Bawa Surat Pengantar dari RT ke Kelurahan
3. Surat Pengantar Akta jadi berikut KK baru jadi juga
4. Tanda tangan KK baru oleh Kepala Keluarga dan RT (berikut stempel RT)
5. Balikin KK yang sudah ditandatangani ke Kelurahan, untuk ditandatangani Lurah
6. Ambil KK yang sudah ditandatangani Lurah
7. Bawa Surat Pengantar Akta dari Kelurahan, berikut dengan KK baru ke Kecamatan.
8. Masukin berkas Akta Kelahiran ke Disdukcapil Kecamatan.  

8.16.2016

AKHIRNYA MEMILIH CLOTH DIAPERS

Ya udah siyk, udah ngaku kalau saya bukan blogger sejati. Hahaha, piye tho, lha wong nulis aja jarang-jarang, mau dicap blogger? Tapi mah ya, blogger atau bukan, yang penting masih bisa nulis, masih bisa cerita, masih bisa berbagi, masih bisa ninggalin jejak. Yang namanya mood nulis bagus atau nggak itu sudah biasa - ini pembelaan banget - kan..? Hahaha, namanya juga hidup ciyn, kayak roda yang berputar, kadang di atas, kadang dibawah. Too much prologue...

Kali ini mau cerita tentang popok si adek Narfa. Sudah kurang lebih 3 minggu ini saya akhirnya mengurangi sangat pemakaian popok sekali pakai (pospak) untuk si adek. Sebenernya memang jadwal pakai pospak itu cuma malam hari kok, ketika si adek sudah mau tidur, baru pakai pospak-nya. Selebihnya di rumah, ya cuma pakai popok tali itu yang kalau si adek pipis, basah, trus ganti. Gitu aja terus menerus. Udah mulai umur 2 bulan, popok tali mulai ditinggalkan karena sudah mulai kekecilan buat si adek, akhirnya naek kelas pakai celana pop. 

To be honest, saya agak kewalahan dengan bolak balik gantiin celana basah buat si adek. Agak riweuh apalagi kalau harus bolak balik saya ganti baju karena nggak bisa sholat pakai baju yang udah terkena pipis-an si adek. Oh yes lah, mulai ngeluh kan. Tapi udah pasti mau pakai pospak nggak mungkin. Ngeri banget sama ruam popok dan bikin sakit perut sama beli pospak. Hari gini pospak kalau nggak beli promo ya mehong bingit. Mulai punya idea buat pakai cloth diapers (clodi).

Mulai browsing sana sini situ. Apa itu clodi, terbuat dari bahan apa clodi, bagaimana maintenance-nya, apa kelebihan dan kekurangan clodi dibandingkan pospak, harganya berapa, yang paling bagus apaan. Percayalah, ketika saya memulai browsing, ketika itu juga saya mulai pusing. Serius, makin banyak baca itu makin bingung. Etapi kalau kata dosen saya dulu ya, makin bingung itu tandanya kita makin pinter. Makin banyak nggak ngerti, makin keren... Hauuuk akh elaph... 

Nih lah udah rangkuman saya kenapa akhirnya memutuskan untuk menggunakan clodi...

Capek bolak balik gantiin celana kain yang basah. True banget, ini capek buat saya karena si adek kadang baru 5 menit udah pipis lagi. Baru aja ganti, ganti lagi. Belum lagi ngurus si kakak Nara yang masih kecolongan pipis nggak di toilet.

Kalo udah kena pipis adek, harus ganti baju.
Capek bolak balik ganti baju saya, kena pipis si adek, nggak bisa sholat pake baju yang kena pipis. Nah, sementara masa mau bolak balik ganti baju yaaa... Makin besar pun pipis si adek makin bau pesyiiing...

Mengurangi tebaran najis di rumah. Walaupun emang cuma pipis bayi, tapi tetap aja ya najis ya, harus dibersihkan. Pipis jatuh di lantai, ya kudu pel, kudu lap. Nggak capek sih, tapi tetap butuh effort untuk ngebersihin najis di rumah.

Faktor U nggak bisa bo'ong. Makin tua, makin berumur, keberdayaan tubuh semakin menurun pula. Dulu waktu jaman kakak-nya si adek masih muda, sekarang juga masih muda, tapi kok ya... hmmm, pokoknya mulai berasaaa... ahahahah. Gemfor juga lama-lama ganti celana si adek.


Udah akhirnya saya ambil keputusan pakai clodi. Nah terus pusing kan milih clodi yang mana, baca deh tuh review bunda canggih para pakar per-clodi-an. Makin hamsyong baca tips-tips milih clodi. Bahahahaaa, mau milih aja udah bingung sayah. Abis pilihannya banyak banget. Faktor harga, faktor material, faktor model, belum lagi faktor corak. Seneng yang ini tapi begitu, seneng yang itu tapi begini. Puseeeeng...Udahlah kalo pusing nggak usah lama-lama. Maksudnya nggak usah baca review banyak-banyak. Makin banyak baca bisa makin pusing soalnya.

Clodi juga akhirnya...
Bisa juga pakai buat kakak-nya


Nih, akhirnya pertimbangan clodi yang saya pilih adalah...

Pilih pakai kancing (snap) daripada pakai velcro (ceprekan). Walaupun katanya pakai velcro bisa lebih presisi dengan ukuran body si anak, tapi katanya kalau velcro itu lama-lama bisa kurang main velcro-nya. Paham banget siyh, sifat velcro. Belum lagi kalau udah nyangkut benang atau rambut. Iysh... paling sebel tuh liat velcro nyangkut benang sama rambut. 

Pilih yang model pocket daripada yang model universal. Model pocket, semua insert. Ini sih pertimbangannya emang saya ngeliatnya pakai pocket itu lebih rapih daripada yang universal. Model pocket, insertnya masuk semua tertutup rapih dibawah sebuah permukaan suede itu. Kalau yang model universal, insertnya mumcul. Tapi emang universal ganti insertnya lebih mudah.

Pilih yang buatan lokal pastinya. Ini sih udah pasti numero uno, tentang harga. Kemampuan saya sebatas membeli clodi lokal saja, pemirsaaa... Kalaupun mampu beli clodi import, pastinya cuma kebeli 2 biji doang nanti. Ya mana cukuuup. Hahaha, kecuali kalau ada yang mau kasih gratisan, saya terima dengan senang hati tu clodi import.

Pilih yang bukan bludru sebagai outernya. Nggak tau kenapa, kurang sreg sama yang namanya bludru. Bukan apa-apa siy, sebenernya benda apapun saya nggak suka kalau itu dari bludru. Ahahahaa... jadi bukan untuk clodi saja saya kurang sreg, tapi sama semua. Skip lagh kalau badan bludru. Pilih yang PUL aja untuk outernya. PUL apa? Ntahlah kepanjangannya, monggo browsing.

Pilih yang ada leg-gusset nya. Kalau untuk milih yang ada leg gusset alias tahanan bocor samping, saya emang sengaja. anak saya cowok, pasti lebih gesit, banyak gerak. Grasak grusuk. Makanya mending carikan yang clodi ber leg gusset, biar nggak bocor samping. Browsing sasino, ternyata nggak banyak clodi lokal yang pakai leg gusset.

Pilih yang adjustable ukurannya. Namanya bayi cepet besar, makanya saya milih clodi yang bisa distel ukurannya. Secara anak 2 bulan maunya dipake sampai lulus toilet training.

Jadi..., pilih apa donk buat clodi adek? Pilihan saya jatuh kepada Ecobum. Clodi lokal yang harganya masuk di kantong saya ini, ternyata menurut review-an ibu-ibu canggih perclodian emang kualitas-nya bagus, terus ada leg-gusset juga ada. Pertama beli cuma 2 piece aja kok. Nyobain aja, kalau cocok ya beli lagi, kalau nggak cocok ya nggak rugi banget lah. Eh ternyata cocok. Akhirnya jadi beli lagi dan lagi deh.

Alhamdulillah, sekarang nggak capek bolak balik ganti celana kalau si adek pipis, nggak kena pipis adek nih baju ibu dan alhamdulillah ternyata efek samping yang lain adalah adek bisa tidur agak panjang, karena celananya nggak langsung basah kalau pipis. Jadi, sekarang pakai pospaknya hanya kalau pas pergi aja deh. Kalau di rumah, udah pakai clodi selalu.

Cukup sekian dan terima suka dengan kehadiran clodi. Rasanya sih males ya, bikin tulisan gimana cara bersihin clodi, gimana ngerawat clodi, boleh apa dan nggak boleh apa. Udah banyak review-an yang okay punya lah yang gampang banget dicari di dunia maya. Saya udah tinggal baca dan ngikutin aja. Hihihi. Jadi, ini tulisan sih sebenernya cuma mau bantu ninggalin jejak kenapa saya pakai clodi.


*bukan endorse-an Ecobum ya, ini cuma beneran review lho...

8.04.2016

TARIK NAPAS DALAM-DALAM... SANGAT...

Ini emang bukan ranah saya sebenarnya, tapi kalau nggak numpahin rasanya belum puas, karena saya pun sebenernya terlibat dalam hal ini. Bukan sebagai korban (dan in shaa Allah jangan sampai), tapi kan anak-anak saya diimunisasi juga.

Vaksin Palsu (gambar nyomot dari sini)


Udah ramai-ramai dari sebelum lebaran tentang vaksin palsu ini, dan sampai saat ini di menjelang akhir Juli 2016 masih ramai pembicaraannya. Emang harus ramai sih menurut saya. Ini satu hal yang harus dituntaskan karena bukan masalah yang sederhana dan semudah itu melupakannya. Ini terkait dengan kehidupan orang banyak, apalagi urusan dengan nyawa. Emang gila dasar ya..., kok ada yang tega mencari uang dengan cara yang teramat sangat merugikan orang lain.

Katanya, permulaan vaksin palsu ini dilakukan tahun 2003. Sudah 13 berarti hingga saat ini, mereka mengedarkan vaksin palsu itu. Coba aja dalam kurun rentang waktu 13 tahun itu, berapa anak kecil yang sudah menjadi korbannya. Berapa nyawa yang sudah dia permainkan? Berapa badan yang sudah dia rusak? Kok nggak pakai mikir ya itu orang? Terbuat dari apakah hatinya sampai demikian sampai hati-nya...

Konon katanya jenis vaksin yang dipalsukan juga termasuk vaksin yang wajib dari pemerintah, BCG, Polio, DPT, Hep B, Campak. Wowww banget ya? Ini mengerikan sekali buat saya. Sampai yang vaksin wajib pun dipalsukan. Coba itu gimana? Nah yang banyak pangsa pasarnya juga tuh yang kena palsu, vaksin HIB yang barengan sama DPT dan Polio. Secara ini vaksin cukup mahal untuk yang nggak pakai demam (kemungkinan demam-nya tipis).

Pediacel, vaksin kombinasi untuk diphteri, tetanus, pertussis, polio dan Hib (haemophillus influenza) itu sekali suntiknya, harganya Rp 875,000 lho... kan mahal banget kan ya, belum termasuk jasa konsultasi dokter lho yang totalnya bisa mencapai diatas Rp 1.000.000. Sementara pemberian vaksinnya nggak cuma sekali lho. Kebayang kan ya, berapa uang yang sudah dikeluarkan, tapi dapetnya apa? Zonk doang? Ampuuuun...

Kemarin sempat ada pembicaraan antara lawyer RS yang membeli vaksin palsu dengan BPOM dan perwakilan konsumen. Intinya, RS nggak tau kalau yang dibeli itu vaksin palsu. Jadi, sebenernya pun RS adalah korban. Sementara waktu itu memang sempat beberapa waktu, vaksin itu pada kosong dan langka. Jadi, katanya mumpung ada yang nawarin, makanya RS tersebut ngambil vaksinnya. Nawarinnya sih katanya lewat apoteker-nya.

Sebenernya sih, yang gw bingungin itu... kenapa pihak procurement Rumah Sakit yang terima vaksin palsu itu nggak cross-check ya ke pihak produsen asli-nya. Ibarat kata, minta surat keterangan bahwa memang si PT yang ngiderin vaksin itu benar adanya perpanjangan tangan dari si produsen. Kan bisa minta keterangan dari produsen, kalau si PT itu bener ambil vaksinnya dari pabrik itu. Nggak bisakah demikian dibuatnya? Aiyh entahlah, saya mah apah atuh cuma bisa nganga aja liat bocah dikasih vaksin palsu.

Walaupun nih ya, katanya pemerintah menyediakan untuk divaksin ulang buat anak-anak yang menjadi korban vaksin palsu, tapi apakah semudah itu jalan keluarnya? Gimana nasib anak-anak yang badannya udah kemasukan zat enatah apaan tau itu? Trus kan imunisasi itu ada masanya kan, misalanya anak umur sekian yang bagusnya divaksin apa. Lah kalo udah kewat, gimana? Apakah masih berlaku? Masih bisa bereaksi kah badannya? Nggak ngerti deh...

Dah lah akh, tulisan ini dibuat cuma karena mau numpahin uneg-uneg dari dalam hati aja kok, karena udah nggak tahan, udah geram, udah sampe ubun-ubun deh tuh geramnya. Dimana letak hati nurani itu orang ya, segitu teganya sama anak kecil pula... 

7.20.2016

LEBARAN 2015 - 1437 H

Selamat Idul Fitri 1437 H

Alhamdulillah, sampai juga di penghujung Ramadhan 1437 H. Walaupun puasa saya hanya 8 hari karena 22 hari Ramadhan masa nifas pasca lahiran adik bayi belum selesai, tapi tetap meriah kok lebaran tahun ini. Yang penting dan yang jelas, Idul Fitri tahun ini alhamdulillah keluarga kami bertambah jumlahnya. Ada adik Narfa yang telah bergabung. 

Lebaran tahun ini, libur panjang dan kita nggak kemana-mana. Nggak usah ditanya lagi kenapa, udah pasti jawabannya karena ada adik bayi. Bayinya belum dua bulan pula pas lebaran, jadi nggak berani yang macem-macem bawa jalan-jalannya. Maklum, saya termasuk ibu yang agak penakut urusan bawa bayi pergi ke tempat umum. Kata orang-orang diluaran sana banyak virus dan tubuh bayi belum terlalu kuat nahan virus. Yah, walaupun ada yang kontra dengan bilang, kalo mau sakit mah ya sakit aja. Apalah terserah, saya mah nggak mau lah bawa-bawa bayi piyik ke tempat umum. Pikirannya emang selain disana banyak virus dan yang paling saya males ya barang bawaan printilan itu.

Lebaran tahun ini, saya memtuskan untuk berlebaran dari H-1 alias mudik ke rumah ibu saya di Joglo. Selain alasan karena biar ikutan mudik, walaupun ala-ala mudik doang, yaitu karena saya udah nggak mampu menyiapkan bocah-bocah untuk rapih dari pagi-pagi buta untuk berangkat berlebaran ke rumah bapak ibu. Kebayang ya, tiga orang anak dan harus disiapin semuanya dari A sampai Z, sementara pak suami udah pasti pergi sholat Ied dan sang pengasuh sudah mudik juga dari H-4. To be honest, saya menyerah dan melambaikan bendera putih. Nah, ini mudik apa cari suaka sih sebenernya? 

Lebaran tahun ini, saya merasakan kehilangan yang sangat mendalam karena mama mertua saya sudah tidak ada lagi. Mama pergi meninggalkan kami semua di tepat hari raya Idul Adha tahun lalu. Ternyata Idul Fitri tahun lalu adalah lebaran terakhir mama dengan semua anak cucunya... Ya Allah, semoga lebaran tahun depan saya dan keluarga masih bisa merayakannya bersama-sama.

Lebaran tahun ini, karena saya nginep di rumah ibu, maka yang senang sekali adalah anak-anak saya. Hahahaha... Ini karena kakak saya (yang masih tinggal di rumah ibu), sangat memanjakan anak-anak saya. Begitu tau kalau saya akan menginap di rumah ibu, dirinya menyiapkan segala macam mainan dan makanan untuk keponakannya. Plus lagi, selama ada keponakan, dirinya mengurung diri di rumah. Menghabiskan waktu bersama dengan anak saya. Oh yes banget... Terima kasih pakde Ai, mainan anak-anak makin banyak, anak-anak makan dengan happy dan pastinya ibunya anak-anak terselamatkan karena ada yang momong. Qiqiqiq...

Lebaran tahun ini, saya amat sangat bersyukur lah pokoknya... karena Allah masih memberikan saya kesempatan untuk merayakannya... Buat semuanya, Mohon Maaf Lahir Bathin ya... Maapin kalau ada yang salah-salah kate, umpame... etdaaah... 

6.23.2016

SEDIAKAN PAYUNG SEBELUM HUJAN - UNTUK KULIT ANAK

Narfa dan Lactacyd Baby

Orang tua mana yang tidak bahagia ketika menyambut kedatangan adik bayi? Buah hati yang dinanti pasti disambut dengan riang gembira oleh seluruh keluarga. Seperti saya dan suami beserta kedua anak kami yang sangat berbahagia menyambut kedatangan adik bayi pada tanggal 14 Mei 2016 kemarin ini. Berbagai persiapan menyambut kedatangan adik bayi pun dilakukan. Masing-masing anggota keluarga sudah mempunyai tugas dalam mempersiapkan kebutuhan adik bayi. Sang bapak mempersiapkan dana untuk lahiran dan dana untuk membeli kebutuhan adik bayi (hahaha... untuk urusan sumber dana dan sumber keuangan, sudah pasti urusan bapak). Sang ibu pastinya bertugas untuk membalanjakan kebutuhan adik bayi yang harus dibeli (nah, urusan belanja sudah pastinya urusan ibu-ibu). Sementara kakak-kakak adik bayi mempersiapkan mental menjadi kakak... 

Seperti pada kedua anak sebelumnya, saya selalu mempersiapkan semua kebutuhan bayi yang akan digunakan setelah adik bayi lahir ke dunia. Prioritas pertama, pastinya memastikan barang-barang yang akan dipakai untuk adik bayi sesaat setelah lahir berikut juga dengan kebutuhan ibu pada saat persalinan di Rumah Sakit. Setelah itu, baru kemudian mempersiapkan kebutuhan adik bayi nanti pada saat sesudah bisa kembali ke rumah. Saya bukan type yang mudah mengingat, terlebih pada kebutuhan yang banyak mempersiapkan kebutuhan bayi, maka dari itu, saya catat semua barang-barang yang harus disiapkan. Berhubung ini merupakan anak ketiga, maka beberapa barang kebutuhan bayi yang masih ada, saya catat. Gunanya? Biar tidak perlu lagi membeli yang sudah ada. Beli saja yang belum ada. Penghematan sebagian dari pelit, pemirsa... ya... namanya juga Ibu-ibu. (*nyengir).



Pengalaman adalah guru yang terbaik... ~ unknown



Kulit anak saya bisa memerah...

Waktu melihat kulit bayi anak saya yang kedua (Nararya) yang lahir pada September 2014 agak merah-merah, saya mulai was-was. Tapi seperti biasa, pak suami selalu membawa saya ke arah dan jalan yang tenang - biar balance ; satu panik, satu tenang. Menunggu penjelasan dokter anak saja. Begitu jam kunjungan dokter anak Nararya, langsung lapor, kalau kulit Nararya memerah. Bu dokter memeriksa, dan memberikan penjelasan kalau memang kulit bayi baru lahir pasti sensitif. Beliau langsung menginstruksikan ke suster dan saya untuk memberikan Lactacyd Baby. Kata bu dokter, sabun bayi yang biasa untuk tidak diberikan dulu ke adik bayi. Siaaap, bu dokter. Ternyata, setelah dua kali mandi pagi dan 2 kali mandi sore menggunakan Lactacyd Baby, badan Nararya sudah tidak memerah lagi. Horeee...


Penyebab kulit anak saya memerah...

Sebagai orang tua yang baik hati dan tidak sombong serta rendah hati... hahaha (asli nggak nyambung), saya menanyakan ke bu dokter, mengapa anak saya yang kedua kulitnya bisa memerah seperti itu, sementara anak pertama saya tidak. Bu dokter memberikan penjelasan singkat, bahwa penyebab kulit bayi yang baru lahir bisa memerah karena:
  1. Ada faktor keturunan dari orang tua yang mempunyai kulit sensitif
  2. Ada kemungkin faktor cuaca yang tidak cocok dengan bayi.
  3. Ada kemungkinan dari air yang digunakan saat mandi tidak cocok
  4. Ada kemungkinan sabun yang digunakan bayi tidak cocok dengan kulit bayi
  5. Ada kemungkinan dari bahan baju yang digunakan tidak sesuai dengan kulit bayi
Kemungkinan kulit Nararya memerah karena sabun bayi yang digunakan saat itu tidak cocok. Tapi jujur saja, kulit ibunya anak-anak ini (yaitu saya sendiri maksudnya), memang sangat sensitif. Jadi mohon maaf ya nak, jika ibumu ini mewariskan satu hal yang bisa membuat kulitmu memerah tadi. Tapi syukurlah, dengan Lactacyd Baby, kulit Nararya bisa hilang merah-merahnya. Penyebab kulit memerah, jika dikarenakan poin 1 dan poin 2 di atas, sepertinya agak sulit menghindarinya, tapi untuk poin 3 sampai poin 5, kita bisa menghindarinya. Bagaimana caranya, menghindari kulit memerah karena faktor keturunan dan faktor cuaca? Rasanya sulit sekali...


Persiapan Baby Narfa di awal Mei 2016...

Ada yang berbeda pada persiapan beli-beli kebutuhan adik bayi kali ini. Iya, saya mencatat salah satu kebutuhan adik bayi yang harus dibeli adalah Lactacyd Baby. Jujur saja, pada persiapan persalinan di kedua anak sebelumnya, saya tidak mempersiapkan Lactacyd Baby di list belanja kebutuhan bayi. Anak pertama saya, setelah lahir tidak bermasalah dengan kulitnya. Makanya di anak kedua saya santai saja. Ternyata, anak kedua saya kulitnya sensitif sehingga memerah. Paham banget deh ya sama pepatah yang bilang, "Sedia payung sebelum hujan..." Nah itulah saya, menyediakan Lactacyd Baby buat anak ketiga sebelum disuruh bu dokter.

Menyambut kedatangan adik bayi kali ini, saya pastikan Lactacyd Baby sudah tersedia di tas yang akan saya bawa untuk persalinan. Saya memilih untuk menggunakan Lactacyd Baby untuk mencegah ketidakinginan yang dapat terjadi pada kulit anak saya nantinya, seperti anak kami kedua yang sebelumnya. Sungguh rasa tak tega melihat buah hati yang baru lahir beberapa saat ke dunia, yang harusnya orang tuanya senang, tapi agak sedikit meringis karena lihat adik bayi kulit memerah. Alhamdulillah, produk Lactacyd Baby mudah dicari di mana saja, kebetulan saya mendapatkannya di apotiek dekat rumah. Produk mudah dicari dan harganya pun sangat terjangkau. Lengkap sudah, kebutuhan untuk dibawa saat persalinan nanti. Adik bayi in shaa Allah tidak memerah lagi ya kulitnya. Bayi senang, ibu tenang... 

List Persiapan Belanja Kebutuhan Baby - Lactacyd Baby


Baby Narfa lahir dan Lactacyd Baby...

Alhamdulillah, tepat tanggal 14 Mei 2016, pkl 02.15 dinihari, putra kami yang kedua, anak ketiga lahir ke dunia. Walaupun melahirkan di ruang UGD karena ruang persalinan penuh, baby Narfa dan saya sehat semua - yeeeah, kita berhasil, nak! Hihihi, melahirkan di UGD Rumah Sakit pun pengalaman pertama buat saya. Narfa lahir dengan berat 2900 gram dan panjang 50cm. Setelah semua proses persalinan, proses Inisiasi Menyusui Dini, dan masa observasi pos partum, kami bersiap pindah ke ruang perawatan. Lega sekali rasanya, setelah melalui proses persalinan sekitar 2 jam 30 menit ini ditambah masa observasi 2 jam. Begitu tiba di ruang perawatan ini, saya mulai bisa menyusui Narfa dan bisa melihat Narfa mandi. Saya sudah menyiapkan Lactacyd Baby dan mulai menggunakannya. Antisipasi kulit memerah seperti sang kakak terdahulu.

Selamat datang Baby Narfa...


Lactacyd Baby itu...

Saya jadi penasaran, apa sebenernya Lactacyd Baby itu? Produk yang bisa dihandalkan untuk mengamankan kulit anak saya, bahkan anak bayi yang baru lahir ini. Nah, ini ternyata bahan yang ada pada Lactacyd Baby; Aqua, TEA-lauryl sulfate and Ammonium lauryl sulfate, Ethyleneglycol stearate, Diethyleneglycol stearate, Hydrogenated peanut oil, Lactic Acid dan Lactoserum, Ethylhydroxyethylcellulose, Natural orange flavour, Sodium methyl paraben, Sodium hydroxide, Cholesterol, Phoshoric acid. Ternyata banyak juga ya, kandungan yang ada pada Lactacyd Baby. Banyak kandungannya, ternyata sangat bermanfaat untuk bayi saya yang baru lahir. Nah, Lactacyd Baby ini mengandung susu lho... Ternyata Lactacyd Baby kan bukan hanya untuk mengatasi kulit sensitif seperti anak saya, tapi juga bisa mengatasi ruam-ruam (paling sering siy ruam popok) dan mengatasi biang keringat pada kulit bayi. 

Lactacyd Baby siap sedia

Komposisi, Fungsi, Cara Pemakaian, Tanggal Kadaluarsa


Bagaimana pakai Lactacyd Baby...

Cara pakai Lactacyd Baby ternyata juga mudah sekali. Sambil tutup mata nyiapinnya juga bisa lho... Tinggal tuang 3 atau 4 sendok teh cairan Lactacyd Baby ke dalam bak mandi si anak. Karena anak saya masih bayi banget, jadi saya ya mencampurnya ke dalam bak mandi berisikan air hangat alias air hangat suam suam kuku. Iya, bayi Narfa ketika mandi dengan air hangat langsung anteng padahal sebelumnya menangis. Mungkin karena air yang hangat sama seperti waktu di dalam perut ibu waktu belum lahir. Eh tapi ternyata, Lactacyd Baby ini bisa digunakan dengan berbagai macam cara lho. Pertama dengan cara yang seperti saya tadi, campurkan Lactacyd Baby ke dalam air di bak mandi bayi. Yang kedua yaitu dengan cara seperti menggunakan sabun cair sebagaimana biasanya kepada tubuh sang anak. Untuk saya, saya lebih memilih kepada cara pertama.

Cara menggunakan Lactacyd Baby (Sumber gambar : FB Lactacyd Baby)



Menggunakan Lactacyd Baby Ketika...

Nah, buat buk ibuk dan pak bapak, siapkan ya, Lactacyd Baby untuk buah hati anda. Ini bermanfaat sekali sangat. Kita nggak tau, anak kita punya masalah kulit apa, makanya lebih baik berjaga-jaga. Karena pepatah "sedia payung sebelum hujan" itu benar sekali adanya. Dulu pernah dikasih tahu oleh bu dokter, kalau kulit bayi anak bisa sensitif karena beberapa faktor, seperti cuaca, keturunan (kayaknya kalau anak saya karena menurun dari saya yang memang punya kulit rada sensitif - ya untung aja kulit yang sensitif, coba kalau perasaan *eeeaa), air susu ibunya, sama apalagi ya, lupaaaa. Siapkan saja Lactacyd Baby. Mudah didapatkan, kalau mau pergi-pergi untuk dibawa, tinggal beli yang kemasan kecilnya saja (60 ml), karena untuk kemasan yang besar bisa untuk dipakai di rumah (150 ml dan 230 ml).

Ayooo..., kita gunakan Lactacyd Baby untuk buah hati kesayangan kita, seperti bayi yang satu ini juga mandi dengan Lactacyd Baby... Lactacyd Baby buat kulit anak yang bermasalah maupun pencegahan ya... 



Penasaran dan mau tau lebih banyak tentang Lactacyd Baby? Like aja Fanpage Lactacyd Baby di Facebook. Ada banyak informasi tentang Lactacyd Baby disana, berikut tentang seluk beluk kulit perbayian. Kulit orang dewasa aja ada yang sensitif ya, apalagi kulit bayi yang baru lahir, pasti lebih sensitif lagi deh ya...


Tulisan ini diikutsertakan dalam #LactacydBaby Blog Competition

6.18.2016

SIAP BENERAN JADI IBU? SIAP SIAP INI...

Belum sempat jalan-jalan kemana-mana...
Belum bisa pergi kemana-mana...
Tandanya... Tandanya saya cuma bisa menulis apa yang saya alami di rumah...

Menjadi seorang ibu, tentu nggak mudah. Dari mulai awal hamil, sudah harus banyak yang dipelajari. Dari awal mulai hamil, sudah mulai merasakan hal-hal yang sedikit mengurangi kenyamanan. Mengurangi kenyamanan bukan berarti nggak enak ya, bukan berarti sulit juga, dan bukan berarti nyusahin. Namanya juga ada perubahan dalam tubuh, ada yang berbeda, ada mahluk ajaib di dalam tubuh kita. Semuanya butuh penyesuaian dan setiap (calon) ibu bisa saja mengalami hal yang berbeda-beda. Sejauh kita bisa menikmati keadaan dan kondisi tersebut, saya yakin nggak ada masalah. Semuanya will be okay, kan? Saya sih yes... nggak tau mas Anang... - weeewww...

Melahirkan putri sekali dan melahirkan putra dua kali, saya mau berbagi pengalaman apa yang saya rasakan setelah melahirkan. Dari ketiga anak, kondisinya memang tidak sama persis, tapi ada beberapa hal yang kurang lebih sama adanya. Anak pertama dan kedua saya lahir dalam kondisi saya harus kembali bekerja di tiga bulan kedepannya - masih kerja di kantoran full time, sementara anak ketiga saya lahir dalam keadaan saya sudah tidak lagi bekerja full time. Anak pertama dan kedua saya lahir dalam kondisi ibu mertua saya ada dan ibu saya sehat bugar, sementara anak ketiga saya lahir dalam kondisi ibu mertua saya yang sudah tidak ada dan ibu saya sendiri dalam kondisi pasca operasi tulang bonggol paha (sedih banget deh...).

bla bla bla... (ambil gambar dari sini)
Setelah melahirkan, setelah sang buah hati keluar melihat dunia... maka ini yang saya rasakan lho...

1 - Manfaatkanlah waktu senang-senang waktu di RS

Baru banget melahirkan? Abis dari ruang persalinan masuk ke kamar perawatan, kan? Nah, puas-puasin deh seneng-seneng di kamar perawatan ini. Leyeh-leyeh, santai-santai, ngapain kek... Selama di kamar perawatan ini, anda hanya disibukkan dengan mengurus bayi saja. Bayi baru lahir pun, lebih banyak jam tidurnya daripada jam meleknya. Di kamar perawatan ini, makanan datang sesuai jadwal tanpa kita harus mikir mau belanja bahan makanan apa, masak apa dan siapa yang masak. Di ruang perawatan ini, kita nggak perlu mikirin yang beresin kamar siapa, karena ada petugas yang bersihin. Kita tinggal duduk cantik aja lah, selama di kamar perawatan.


2 - Kehadiran Ibu mertua dan/atau Ibu kandung itu perlu

Setelah melahirkan, apalagi kalau kita merupakan orang tua baru alias melahirkan anak pertama, percayalah bahwa kehadiran orang tua kita itu sangat membantu kita. Hal yang saya rasakan adalah membantu dalam hal supportnya, mulai dari support doa, semangat, ilmu, dan sampai kepada support tenaga. Menjadi ibu baru, masih perlu banyak ilmu mengasuh anak bayi baru lahir. Ini nggak mudah, secara badan kita pasti cukup lelah setelah melakukan proses lahiran. Mau lahir secara spontan maupun sectio, pasti sama-sama teleeer... Maka, usahakan jika Ibu kita masih ada, yuk undang ke rumah kita.


3 - Jika memungkinkan ada Asisten Rumah Tangga (ART)

Menemukan seorang ART di jaman sekarang ini, sudah menjadi rahasia umum kalau ini bukan perkara mudah - semua pengguna ART pasti tau alasannya. Tapi setelah saya melahirkan, kondisi badan yang tidak prima, belum lagi urusan pengurusan bayi baru banget lahir yang jam tidurnya sesuka hatinya, maka mintalah bantuan kepada ART untuk mengurusi sebagian tugas bersih-bersih dan masak-masak di rumah. Beneran ya, berat sungguh kalau harus urus bayi juga plus harus urus rumah (mulai dari bebersih, cuci setrika dan masak). Bisa sih, bisa gempooor. Manusia nggak ada yang sempurna, daripada pingsan, mending minta bantuan ART. 


4 - Persiapan ASI perah itu penting

Waktu melahirkan anak pertama dan kedua, saya masih bekerja sebagai karyawan penuh waktu. Masa cuti persalinan tiga bulan (saja). Maka hal yang perlu dipersiapkan adalah menabung ASI perah. Kerja keras lah pokoknya nabung ASI, biar nggak kejar tayang nantinya. Sekarang, melahirkan anak ketiga, saya sudah tidak bekerja full time lagi, tapi saya tetap perah ASI in case adik bayi harus saya tinggal, sudah punya tabungan ASI. Tapi kali ini nggak perlu seperti kerja keras anak pertama dan kedua. Saya yakin bahwa kebutuhan ASI bagi tiap-tiap anak itu cukup dan menyesuaikan dengan kebutuhan anak. 


5 - Menjadikan suami sebagai sahabat

Beneran, setelah menjadi seorang Ibu, banyak hal baru yang pastinya akan kita alami. Walaupun itu sudah anak ketiga, saya tetap saja punya pengalaman baru. Mungkin ada yang bilang, "udah anak ketiga, masih kayak baru pertama ngelahirin aja?" Jangan salah, setiap anak itu unik, maka setiap pasca melahirkan kita pun pasti punya kondisi yang berbeda. Yang sama persis adalah capeknya, tenaga yang terkuras. Dalam kondisi kita yang seperti ini, saya selalu berkeluh kesah dengan pak suami. Ya iyalah, mau cerita dengan siapa lagi? Tapi itu hal yang wajar kok. Lebih baik meluapkan, daripada disimpen sendiri, nanti tiba-tiba meledak. 


6 - Melakukan belanja bulanan via online

Nah, ini yang nggak bisa ditinggalin juga. Penting banget soalnya. Belanja bulanan, kadang nggak bisa minta tolong ke orang lain, saya punya gaya belanja bulanan sendiri. Minta tolong ke pak suami, walaupun sudah dikasih list-nya, tetap aja beda (terbukti). Sekarang, bersyukur sudah banyak toko online ya, bahkan hypermarket pun beberapa sudah ada yang punya online-nya. Di saat saya melahirkan anak ketiga ini, belanja bulanan saya beralih ke belanja online. Mudah sangat, banyak pilihannya dan tinggal tunggu di rumah. Siapin aja token dan jumlah yang cukup di rekening kita. hihiii...


7 - Menjaga kondisi tubuh sebaik mungkin

Nggak ada yang nggak capek abis melahirkan. Ngurus anak bayi baru lahir sungguh tak mudah, pemirsaaa. Sungguh aku tidak berdusta. Apalagi ini melahirkan anak ketiga, umur sudah 35 tahun, kondisi badan yang ada bukan makin setrong, tapi makin ompong. Jagalah kondisi tubuh kita, kesehatan diri kita sendiri. Bukan apa-apa, kalau sakit bisa lebih parah lagi. Belum urus bayi, belum urus rumah, belum urus suami, belum urus diri sendiri. Emang bener banget kan, ada yang bilang "Jadi Ibu itu nggak boleh sakit". Yah, baik-baiklah jaga badan. Saya mah minta rekomendasi lah sama pak dokter, vitamin buat jaga kondisi tubuh ini, plus makan buah dan makan yang teratur. 


8 - Menyiapkan mental untuk 40 hari pertama

Ini bukan mitos menurut saya. 40 hari pertama itu emang masa yang cukup rawan buat ibu yang baru melahirkan. Secara bayi masih piyik banget, pasti belum boleh dibawa keluar. Mau dibawa keluar, takut kontaminasi dengan lingkungan luar. Belum lagi kalau ditinggal, nyusunya gimana? Pakai ASI perah ya bisa, tapi bukannya 2 bulan pertama masa yang bagus untuk menyusui langsung? Nah, saya sendiri memilih nggak keluar rumah kalau bukan untuk keperluan yang sangat sangat penting. Jangan tanya, rasanya sangat jenuh nggak keluar rumah untuk senang-senang. Ini bener-bener bikin stress. Mau pergi, ada bayi. Nggak pergi, udah jenuh. Alternatifnya? Silahkan dipilih masing-masing ya. Saya sendiri cuma bisa nulis, main socmed, tidur, ngobrol di Whatsapp, dan berceloteh dengan suami.


9 - Perkaya ilmu merawat anak

Bener deh, selama ada waktu luang pasca lahiran, saya paling seneng membaca. Terutama cara-cara perawatan dan pengasuhan bayi. Sekarang membaca nggak cuma dari buku, banyak situs atau sumber yang bisa dipercaya untuk meningkatkan ilmu perasuhan anak kita. Mulai dari A sampai Z tentang ngurus anak, ada kok. Tinggal kita yang pinter-pinter saring aja. Yang masuk akal, logis, bagus ya inget-inget, sementara yang nggak masuk akal ya monggo dibuang aja. Tapi sebenernya, kalau seneng baca yang lain juga nggak apa-apa. Yang jelas, membaca di sela-sela waktu luang pasca lahiran, membunuh rasa bosan buat saya.


10 - Menyaring masukan-masukan tentang ilmu perawatan bayi

Yang namanya orang abis melahirkan, biasanya dikunjungi sama kerabat. Mau dari temen sekolah, temen kantor, sampe sodara atau tetangga. Kerabat ini ketika mengunjungi kita yang baru saja melahirkan, (alhamdulillah) kadang selain membawa kado buat si kecil, tapi membawa juga wejangan untuk kita. Apalagi kalau kita baru melahirkan anak pertama, ilmu kita pasti dianggap cetek - emang sih, namanya juga pengalaman pertama. Nah, nggak jarang wejangan yang dihadiahi buat kita itu, suka nggak masuk akal. Makanya, saringlah hadiah-hadiah tadi ya, kalau ada yang kurang paham, mending tanya ke dokter aja dah.


11 - Mengeluh? Nggak Berguna

Semua orang juga tau, kondisi setelah melahirkan itu pasti hmmm... iya banget lah pokoknya. Perasaan kita juga campur aduk kacau balau, kan? Ada rasa seneng karena punya mainan baru, rasa ringan karena perut udah nggak bawa gembolan, tapi rasa capek juga ada, plus kadang rasa ketakutan akan kondisi bayi kita. Namanya aja ngurus anak kecil, belum bisa ngomong dia kalau haus, gerah, dingin, nggak enak, nggak nyaman. Emaknya yang harus menerka-nerka. Kadang kondisi campur aduk gini yang bikin kita jadi nggak jelas. Terus, ujung-ujungnya ngeluh, marah, stress. Saya berfikir, ngeluh sama sekali nggak berguna lho. Bawa santai sambil dalam hati komat kamit "nggak ada yang sempurna... nggak ada yang sempurna..."


12 - Mencari alternatif "me time"

Lagi kondisi pasca persalinan, pasti sangat terbatas, Saya sendiri, sangat bersyukur bisa melahirkan dengan spontan partus di ketiga anak saya. Benar adanya, persalinan spontan pemulihannya lebih cepat dibanding sectio. Wong 2 jam post partum boleh jalan kok, kalau nggak ada keluhan. Saya, termasuk yang nakal. Pasca lahiran 7 hari, udah nekat nyupir mobil ke supermarket. Ahahaha, gateeel, pemirsa. Tak apalah, supermarket cuma 5 menit dari rumah, sekedar melepas kejenuhan. Barang yang dibeli juga nggak penting-penting banget kok. Cuma nyupir sebentar, belanja, habis 20 menit, pun cukup sebagai "me time" saya. Ceteeeek.... hahahaha...


13 - Memanfaatkan waktu untuk mendekatkan diri dengan Tuhan 

Nah, ini yang terakhir, beneran banyak manfaatnya. Kondisi ibu setelah melahirkan itu banyak menguras fisik dan psikologis ternyata. Saya setelah lahiran, capek, ngurus bayi dan ngurus semuanya juga, bikin hati berasa nggak karuan. Mau nangis, tapi ternyata hanya bisa membuat sedikit lega, tidak mengubah keadaan sama sekali. Mau marah, malah makin runyam dan sama sekali tidak merubah keadaan, yang ada malah nambah persoalan. Salah satu yang bisa saya lakukan untuk menenangkan hati adalah dengan menyebut asma-Nya, mengingatnya bahwa ini semua adalah titipan dariNya, amanah dariNya, dan saya diberikan ini semua karena saya kuaaaat... Iyaaa, kuaaattt...


Hahahaha, demikian yang bisa saya sampaikan. Nah, ini ya, ada baiknya dipersiapkan dari sebelum melahirkan. Jadi pasca lahiran udah tau harus ngapain aja dan bagaimana... Percayalah, persiapan setelah melahirkan tidak kalah pentingnya dengan persiapan sebelum melahirkan. Kalau pre lahiran lebih persiapan ke fisik, barang untuk bayi dan persiapan setelah melahirkan, persiapan fisik dan non fisik harus dilakukan. 

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post