Showing posts with label Seputar Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Seputar Pendidikan. Show all posts

6.12.2017

SERTIFIKAT IMUNISASI SYARAT MASUK SD NEGERI

Hidup berputar kayak roda. Kadang di atas dan kadang dibawah. Ini bukan berlaku cuma buat rejeki aja siyh kayaknya ya, tapi juga buat pemikiran saya. Namanya juga hidup, kita punya mata, punya hati dan punya perasaan. Kadang konsep hidup jadi bisa berubah, seiring dengan berjalannya waktu. Seperti yang sudah pernah saya share waktu itu, tentang persiapan sekolah buat anak yang paling besar (disini). Hahaha, karena jadinya mau masuk ke Sekolah Negeri, jadilah terus-terusan mengikuti perkembangan pendaftaran SD Negeri. 

Poster Jadwal Daftar SD Negeri - 2017

Mulai terima digital leaflet dari WA Group TK, tentang jadwal pendaftaran masuk SD Negeri, akhirnya gerilya deh baca persyaratannya. Sebenernya mudah saja persyaratannya. Secara umur 6 tahun dan beberapa persyaratan administrasi lainnya. Yang agak jadi barang baru buat saya adalah adanya syarat Sertifikat Imunisasi. Uhuuuy... browsing sana sini situ, akhirnya baca kalau sertifikat imunisasi bisa didapatkan di Puskesmas wilayah kita. Sempat bingung juga, padahal imunisasi nggak di Puskesmas, kok bikin sertifikatnya di Puskesmas?

Pertama-tama saya datang ke Puskesmas ke Kecamatan Palmerah. Kenapa kok langsung ke Puskesmas Kecamatan? Karena saya mikirnya, Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) BPJS kita adanya di Puskesmas Kecamatan. Makanya sikat deh ke situ. Sampai di Puskesmas Kecamatan, dijelaskan bahwa pembuatan Sertifikat Imunisasi dilakukan di Puskesmas Kelurahan sesuai dengan domisili kita. Saya dikasih tau, bahwa Puskesmasnya ada di deket rumah saya malah. Tinggal bawa kelengkapannya saja. 


Kelengkapan administrasi Sertifikat Imunisasi? 

Buku Kesehatan Anak yang ada catatan tentang Imunisasi-nya. Bukunya Nares udah mulai lusuh, dulu dikeluarkan oleh RSAB Harapan Kita karena emang lahirnya disana. Terus, fotocopy Buku Imunisasinya aja. Gak usah semua sebuku dicopy, tapi cukup yang penting ada nama anaknya, dan catatan dokter tanggal berapa imunisasi dan imunisasinya apaan aja.

Copy Kartu Keluarga
Copy Akta Kelahiran Anak
Copy KTP kedua orang tua

Kalau sudah lengkap, silahkan bawa ke Puskesmas Wilayah domisili kita ya. Coba browsing aja domisili kita Puskesmas-nya ada dimana. Kemarin saya karena keburu datang ke Puskesmas Kecamatan, jadinya dikasih tau dimana alamat Puskesmas yang harus disambangi.

Proses pembuatan Sertifikat Imunisasi ini waktunya beda-beda. Saya dijanjikan seminggu selesai. Tapi ada temannya Nares, ternyata waktu pembuatan Sertifikatnya selama 2 minggu. Harap bersabar, karena ini ujian... hahahaha... Eh iya, kalau bicara ada nggak biayanya untuk pembuatan Sertifikat Imunisasi ini? Jawabnya adalah tidak. Grateish aja lah... alhamdulillah. Tapi ya gitu, Sertifikat Imunisasinya ditulis tangan aja. Nggak pakai komputer. Hahaha, saya mah nggak apa-apa kok. Yang penting ada. E tapi nih ya, ternyata ada juga yang pakai komputer ditulisnya.

Cerita tentang Sertifikat Imunisasi

Nah, ada yang lucu nih, mengenai Sertifikat Imunisasi yang katanya sebagai persyaratan masuk SD Negeri ini... Ternyata kemarin pas nany-nanya sama temen yang anakanya 2 tahun lalu masuk SD Negeri, tahun itu juga sudah mensyaratkan siswa untuk masuk pakai Sertifikat Imunisasi. Eh tapi kok ya ternyata pas pendaftaran, Sertifikat Imunisasinya nggak ditanyain... Hahahaha! Disyaratkan, tapi nggak ditanyain... Udahlah, nggak mau nyinyir sayah. Bulan Ramadhan, dan selalu tebarkan kebaikan... 

5.04.2017

KARTINI KITA di 2017

Sudah masuk bulan Mei, tapi masih aja Kartini-an berasa. Rasanya masih belum bisa move on, karena dimana-mana kemarin masih ada lomba peringatan hari Kartini. Jadilah saya juga mau meninggalkan jejak tentang Kartini di blog saya tercinta ini. Late? Better late than never kan ya, kata orang sih begitu. Setidaknya ikut berpartisipasi dalam tidak melupakan Kartini yang telah berjasa begitu besarnya untuk perempuan di Indonesia ini. Kalau nggak ada Kartini saat itu, belum tentu juga sekarang saya bisa pegang computer begini dan menuliskan apa yang saya mau share.

Semua sudah tau siapa Ibu Kartini. Seorang perempuan yang berasal dari Jepara, sebuah kota di Jawa Tengah dan kini terkenal dengan furnitur (yoi... jati jepara toh...? *wink). Lahir dari keluarga bangsawan, iya karena bapaknya Kartini seorang Bupati daerah sana. Kartini, saat itu mau banget kalau dirinya bisa baca dan menulis. Yah, di zaman itu emang perempuan kodratnya di dapur. Nggak usah bisa baca menulis (dan berhitung mungkin?). Wanita adalah dapur dan begitu juga sebaliknya. Ngebayanginnya udah lumayan mumet saya mah kalau cuma seputar dapur. 

Perempuan sekarang, udah sangat jauh berkembang. Kegiatannya nggak sebatas di dapur. Udah sampai langit kalau bisa dibilang. Perempuan sekarang sudah pegang computer, udah berjibaku dengan lalu lintas, udah bisa bersaing dengan laki-laki dalam pekerjaannya, dan udah bisa jadi apaan aja yang tidak biasa dilakukan oleh seorang wanita, dan sebagaimana lainnya. Perempuan yang sekarang sih ya sudah luar biasa kegiatannya. Bahkan ada juga yang diluar batas. Hahaha, kalau yang ini ai no comment deh ya. Ntar malah dibilang nyinyir. Maap, sekarang si nyinyir lagi naik daun.

Seiring dengan perkembangan waktu dan jaman, Kartini udah beragam macamnya. Kartini dari waktu ke waktu menyesuaikan dengan kemajuan jamannya. Di tahun 70an - saya mah belum lahir - mungkin Kartini saat itu adalah Kartini yang bisa baca tulis saja sudah cukup. Di tahun 80an - nah ini saya baru lahir - mungkin Kartini saat itu adalah perempuan yang bisa sekolah tinggi. Di tahun 90an - nah saya baru mulai hidup - Kartini di jaman ini mungkin adalah perempuan yang sudah bisa nyupir, ngajar, dan berkarir. Semakin kesini, perempuan semakin berkarya dengan bebas.


Setiap orang pasti punya Kartini versinya masing-masing, ya... Siapa Kartini versi saya?

Yah kalau ini sih udah pasti nggak perlu ditanyakan lagi. Kartini saya udah pasti ya ibu saya sendiri. Ibu saya ini, luar biasa (buat saya). Lahir di sebuah kota Kalimantan Barat, setelah tamat SMA-nya udah langsung melanglang buana untuk kuliah di sebuah perguruan tinggi terkenal di Bandung. Tahun 65-an, anak perempuan tanpa saudara bisa merantau itu luar biasa menurut saya. Saya sendiri aja sampai sebelum nikah nggak pernah jauh dari orang tua. Lah si ibu saya ini, udah anak perempuan, jauh dari orang tua, tanpa saudara, siap menunggu kiriman wesel tiap bulan. Joss... 

Kebayang lagi, setelah lulus dari kuliah di Bandung, lanjut nikah sama si bapak baik hati dan langsung pula melanglang buana ke negeri jiran. Baru nikah, jauh dari orang tua, hidup di negeri orang beda budaya dan beda kultur, sering ditinggal suami dinas, baru nikah, adouh... sanggup sanggup aja. Kalau nggak modal keberanian dan kecerdasan yang luar biasa, kayaknya mah ini bakalan berat ya. Hahahaaa, asli dah buat saya yang cemen ini pasti mewek mulu kali ya. Lah si suami dinas 3 hari luar kota aja dah babibubebo...

Tapi nih ya, selain ibu saya sendiri, saya juga punya lho, "Kartini" lain yang saya idolakan. Seperti adalah ibu dosen tercinta saya yang sukses di pendidikan, karir dan rumah tangga. Ini awesome banget menurut saya. Kartini lainnya adalah ibu Susi Menteri Kelautan. Udahlah jangan ditanya mengapa saya mengidolakan dirinya. Semua orang juga tau gimana bu Susi. Terus ada juga nih, Kartini berikutnya, yaitu seorang selebritis yang hidupnya anteng adem dan ayem. Rumah tangganya jauh dari hossip dan karirnya juga bagus. Kartini versi dirimu, siapakah...?


2017 dan saatnya saya mencetak Kartini...

Bersyukurlah saya ini, di tahun 2017, saatnya saya mencetak seorang Kartini versi baru. Iya, anak perempuan saya dan suami ini, semakin membesar. Saatnya untuk mendidik dirinya agar menjadi wanita yang pintar, tangguh, cerdas, tapi juga rendah hati. Ini hal yang tidak mudah pastinya. Saya sendiri perlu banyak belajar dan belajar untuk menjadi orang tua, mencetak Kartini yang baru lagi. Tapi walau bagaimana juga, yang namanya belajar emang nggak mudah. Ada sebuah kegagalan untuk menjadi pengalam agar kita tahu dimana kekurangan kita. Bener nggak?

Kartini tahun 2017 ini, Nareswari berusaha setidaknya untuk berani tampil di depan umum orang banyak. Orang-orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Iya, kemarin dia ikut parade busana daerah di salah sebuah mall di area Jakarta Barat. Menang nggak? Hahahaha... bisa maju tampil aja sudah bersyukur. Buat saya, dia mau maju itu udah jadi juara. Nggak semua anak berani tampil di depan umum, orang banyak dan tidak dikenal. Kalau kata bapaknya anak-anak, yang penting itu prosesnya kok. Menang adalah bonus. So true lah ya...

Anak dan Ibu
In stage... berani maju...
Selesai manggung ceritanya...

Teruslah belajar Nareswari-ku..., belajar menjadi seorang perempuan yang berguna baik banyak orang dan rendah hati. Doa bapak dan ibu selalu menyertai buat Nareswari...


4.17.2017

PERSIAPAN MASUK SD

Nah, kan... udah lama banget nggak update blog. Yang sakit, yang sibuk, dan yang lain-lain yang bikin terhenti mau nulis blog. Punya anak 3, kalau yang satu sakit, biasanya abis itu rolling menular sakit ke yang lainnya. Ujung-ujungnya ibunya yang kena sakit juga. Tepar ngurus 3 anak marathon. Tapi disitulah seninya jadi ibu. Ngurus ina inu anu sendiri. Enjoy banget sama setiap prosesnya. Teler tapi berharga. Tapi emang pasti ada aja yang jadi nggak bisa dikerjain. Salah satu emang urusan update blog jadi terbengkalai.

Nih, kali ini mau share tentang Nares, anak pertama yang mulai menghabiskan waktunya di Taman Bermain dan akan melanjutkan ke SD. Wahaaa, berasa banget ya, punya anak bayi kemarin dan kini sudah aja mau masuk SD. Kok cepet banget waktu berlalu. Nggak berasa? Ya berasa banget. Kalau ada yang bilang nggak berasa, tiba-tiba udah gede aja tuh anak, mungkin nggak ngurus anaknya. Ahahaha... ya masa tiba-tiba anaknya udah gede sendiri? Nggak mungkin kan? Kalo diurus sendiri, pasti berasa banget ngurusinnya.

Sebentar lagi meninggalkan TK ini

Udah mulai masuk SD gini, para emak dan bapak biasanya mulai resah gelisah mau masukin anaknya ke sekolah mana. Semua orang pasti mau kasih yang terbaik buat anaknya. Buat anak kok coba-coba? Gitu bukan katanya? Sama. Saya juga demikian adanya. Nggak kurang nggak juga lebih. Buat semua anak, mau kasih yang terbaik. Terbaik menurut saya dan pak suami, pastinya. Jangan lupa, yang terbaik itu juga dengan pertimbangan faktor a, b, c, d, dan seterusnya. Prioritas ina inu anu juga nggak ketinggalan. Nanti tinggal diurutin aja tuh yang mana yang prinsip-prinsip. Bungkus deh...

Bahas dikit, ya... di seputaran lingkungan kami tinggal di Palmerah ini, ada beberapa sekolah yang termasuk kategori bagus. Ya bagus kualitas dan bagus harga. Semua ada plus minusnya kok. Sekolah-sekolah jagoan yang ada itu adalah SD Bhakti di Kemanggisan, SD Regina Pacis di Palmerah Utara, SD IKKT di Komplek Hankam Slipi, dan SD Al-Azhar di Kemandoran. Cuma SD swasta ajakah yang bagus disini? Nope. Ada juga kok yang Negeri yang nggak kalah hebatnya. SD Palmerah 15, 17, dan 19 ada di Komplek Sandang dekat Univ. Bina Nusantara. Kemudian deket rumah kita ada SD Kemanggisan 01, 03, 05, 06. 

Idealnya saya sih sebenernya masuk SD itu yang nggak pakai test, nggak mahal, nanti belajar di SD juga PR nggak ada, karena umur segitu belum waktunya banyak-banyak PR. Tapi akh ya sudahlah, di deket sini nihil yang begitu. Hahahaha, mari hadapi realita kehidupan ini kawan. Buka mata, bahwa sekolah yang ada di deket lingkungan apa adanya aja.


Terus Nares mau masuk SD yang mana? Ini pertimbangan kita nih...

Pertama, milih sekolah anak itu harus terdekat mungkin dari rumah. Jalan kaki kalau bisa dari rumah. Selain jalan kaki itu sehat, pastinya nggak bakal kena macet sama kejamnya jalanan ibukota. Udah paling males, kalau berangkat ke sekolah harus berjibaku dengan lalu lintas yang tidak bersahabat. Jakarta, pemirsa... jalanannya lebih kejam daripada emak lampir. Jadi, prioritas kita SD yang terjangkau dengan jalan kaki adalah SD IKKT dan SD Kemanggisan. Skip deh tuh ya, sekolah-sekolah yang lainnya. Kudu pakai mobil/motor mau kesana.

Kedua, milih sekolah anak udah pasti yang sesuai dengan kantong si bapak. Ya iyalah, masa mau masukin ke sekolah yang nggak terjangkau harganya sama si bapak? Nanti tiap bulan kita bisa makan dedak dengan lauk sayur daun salam (ini juga karena pohon salam ada di depan rumah - jadi boleh metik langsung aja, nggak usah beli lagi). Alhamdulillah, SD IKKT ini baik uang pangkal masuknya maupun SPP bulanannya dapat terjangkau oleh si bapak. Negeri? Kalau Negeri sih sekolahnya grateis, tutup mata aja. 

Akh, sudahlah. Pilihan kita jatuh kepada kedua SD tersebut saja. Yang dekat dan harga terjangkau di kantong kita. SD IKKT atau SD Kemanggisan. Terus, kira-kira, Nares mau masuk yang mana? Sebenernya pengen bangen masukin Nares ke sekolah negeri. Grateis? Nggak juga semata karena gratisnya lho. Tapi sebagai ibu yang kepoismenya tingkat dewa, saya mulai korak korek informasi dari sana sini sono tentang metode belajar dan kurikulum di sekolah-sekolah tujuan saya. Sementara ini sepertinya lebih cocok sama SD Negeri justru. 

Tapi nih, Nares udah saya daftarin ke SD IKKT, lho. Hahahaha, gimana siyk? Mau masuk Negeri kok masih daftar swasta. Jadi ya, syarat masuk SD Negeri itu berdasarkan umur. Nggak pakai tast test tist lagi seperti SD Swasta. Nah, umur yang diutamakan untuk masuk SD Negeri itu adalah 7 tahun. Nares, nanti bulan Juli 2017, umurnya 6 tahun 5 bulan. Jadi, harap-harap cemas untuk dapet bangku di SD Negeri ini. Kalau saingan umurnya banyak, ya bisa jadi wassalam. Kalau lagi nggak banyak saingan, insyaaAllah bisa masuk. Hihihihi... pengen doa, supaya saingannya nggak banyak.

Jadi, makanya saya dan pak suami itu mikir, Nares tetap harus daftar SD swasta, untuk jaga-jaga kalau nggak bisa masuk di SD Negeri yang kita pilih, yaitu SD Negeri yang terdekat. Sekarang ini, daftar SD swasta sudah mulai berakhir. Kalau nggak daftar sekarang, bisa-bisa pun di SD swasta ini nggak dapet bangku. mulai lah kita mikir, kalao nggak keterima di Negeri yang kita mauin, trus belum daftar SD swasta, gimanaaaaa.....? Ngulang setahun lagi di TK? Nares pasti bosen. 4 tahun di TK bisa-bisa lumutan. Hahahaha... 

Sebenernya nih ya, pas cerita-cerita dengan sesama bu-ibu mengenai SD Negeri ini, sempet juga ada pembicaraan mengenai pergaulan di SD Negeri yang gimanaaa gitu. Apa nggak takut, nyekolahin anak di sekolah negeri yang pergaulannya mungkin lebih ganas dari sekolah swasta? Hihihi, sempet mikir iya, tapi alhamdulillah, dengan kekuatan bulan, datanglaaah... Hahaha... hilang deh ketakutan itu. Kalau kata ayahnya Nares, pergaulan dimana saja sama. Ada kekurangan dan ada kelebihannya masing-masing kok. Nggak usah takut. Bismillah saja.

Ini SD Negeri Kemanggisan 03 dan 05 Pagi (doc. mba Eris)
SD Kemanggisan 01 Pagi dan 02 Petang (doc. mba Eris)

Jujur aja lho, tadinya saya itu udah mau nutup mata menyekolahkan Nares di SD swasta depan rumah ini. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, ina inu pertimbangan lain, jadi bergeser sedikit pilihannya. Ya, tetap harus daftar sekolah di depan rumah ini. Hihihi... Demikianlah sudah cerita perjalanan mencari sekolah Nares saya tumpahkan disini. Semoga bermanfaat ya, buat yang lain yang lagi mencari sekolah buat ananda tercinta. 

6.10.2016

DAN LAGI... ASI...


Kembali lagi saya harus ng-ASI... Secara udah lahir si adik bayi, adik Narfa, maka kembali lagi saya ngASI. Anak udah 3, pasti jago ngASI donk ya? Duuuh, jauh deh dari kata jago. Ini aja mulai belajar lagi. Setiap ngASI pasti ya ngilmu lagi dan lagi. Umur yang mulai menua, pelajaran ASI yang terlalu banyak, membuat saya selalu buka primbon ASI lagi ketika lupa. Maklum, pelajaran ASI itu banyak banget. Susah? Nggak juga siyh... Tapi juga nggak mudah-mudah sangat. Tapi demi anak sehat dan mencerdaskan anak bangsa (ceile), makanya saya harus belajar lagi dan lagi... Sebenernya nggak cuma karena yang dikasih ASI bisa mendapatkan asupan yang terbaik, tapi juga sebenernya ASI adalah hemat, pemirsaaa... *ngakak.

Saya kembali ngASI? Iya banget karena semua anak saya sebisa mungkin ng-ASI. Udah banyak cerita dan banyak bukti bahwa ASI adalah asupan yang terbaik buat si bayi. Nggak ada yang bisa ngalahin kandungan gizinya. Dari ujung afrika sampe ujung berung, pasti survey membuktikan ASI adalah yang paling bagus. Ya namapun ciptaan Allah, pasti udah numero uno kan? Masih ada yang mau lawan? Secara juga di dalam Al-Quran sudah terpampang dengan jelas bahwa ibu hendaklah menyusui sampai dua tahun, ada pada QS Al-Baqarah ayat 233, yang isinya... 

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ
"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyusui secara sempurna..."


Tulisan saya ini sebenarnya berawal dari perbincangan ibu yang baru melahirkan di kamar sebelah (barengan sama saya lahiran) yang give-up untuk nyusuin anaknya. Ceritanya, si ibu ini pusing 7 bunderan karena anaknya rewel melulu. Abis melahirkan, ASInya belum banyak, anak rewel, akhirnya panggil suster untuk kasih susu tambahan. Alhamdulillah, bu suster baik hati ngasih tau kalau anak bayi nangis karena ini itu anu, bu suster juga kasih tau kalau ASI emang awal lahiran keluarnya sedikit, bu suster juga kasih tau kalau cara nyusuin yang benar itu gimana. Salut buat bu suster lah...

Tulisan saya ini juga saya tumpahkan karena di kompas.com ada artikel yang berjudul Kemenkes Segera Sempurnakan Regulasi Pemberian ASI. Saya setuju dengan isi artikel ini, yang isinya bahwa pembatasan penjualan susu formula akan dibatasi. Eim ya, kalau nggak salah saya ingat ada kerabat yang kasih info bahwa di negara tempat dirinya tinggal, susu formula itu nggak dijual bebas. Untuk beli susu formula itu katanya harus pakai resep dokter - belum pernah ngebuktiin siyh. Sementara di Indonesia ini, penjualan susu formula dengan bebasnya. Di supermarket bertebaran ya, stock banyak dan berbagai macam merk. 

Dulu, saya termasuk yang sangat sebel dengan susu formula. Saya anti sama susu formula. Ehm, sebenernya Nares juga kena kok, minum susu formula selama 5 hari. Tapi niyh ya..., beriring dengan jalannya waktu dengan usia yang semakin tua, saya semakin tidak peduli. Hahaha, bukan mendukung susu formula ya, tapi nggak anti juga. Jadi netral? Oh no, tetap mendukung ASI dari segi manapun. Tapi udah nggak se-ekstrem dulu. Dulu masih jiwa muda merah membara, kalau ada yang pakai susu formula langsung blacklist! Bahahaha, padahal yah, ngapain juga begitu. Nggak ada gunanya, selain yang suka membuat permusuhan; sufor vs ASI. 

Nah, sekarang tuh ya, lebih milih jalur kanan. Kalau ada yang nanya-nanya ASI, baru deh edukasi. Hmmm, bukan edukasi siy, tapi lebih kepada share pengalaman aja. Sekarang lebih hati-hati aja kalau ngomongin ASI, apalagi sama ibu-ibu yang pakai susu formula untuk anaknya. Boro-boro mau bicara yang extreme, yang lembut aja malah bisa jadi salah. Kelaaar daaah... kelar... Mending tarik pasukan mundur aja. Perang, baik dingin maupun panas... saya mah mundur aja.

Niyh ya, balik lagi ke topik awal, jadi sebenernya tuh, menurut ana, keberhasilan dan demi meningkatkan jumlah anak Indonesia yang dapet ASI dari ibunya, ya harus mengedukasi ibu-ibunya donk ya. Si calon ibu, dari hamil itu udah harus dikasih informasi from A to Z mengenai ASI. Ya dokter kandungan, ya bidan, ya mungkin dukun beranak (lhaaah?!). Abis kalo nggak dari tenaga medis tersebut, informasi bisa dapat dari mana donk? Secara niyh ya, dokter kandungan saya alhamdulillah memberikan informasi mengenai ASI kepada saya (dan pasti kepada pasien lainnya), apa yang harus dilakukan sama Ibu kepada anaknya. Seru kan? Bingit!

Dah akh, cuma mau cerita itu aja kok. Masih banyak belajar banget tentang perASIan. Adek Narfa perjalanan masih jauh untuk ngASI. Doakan kami ya... 

5.02.2016

BAPAK SUPER - SUPER DIDI

Super Didi

Tetiba... alhamdulillah dapet undangan nonton grateis dari Mother and Baby Indonesia, lhooo... Jreng jreng, sungguh di luar dugaan, rejeki nomplok dapet nonton bareng di Panet Hollywood Kartika Chandra sebanyak 3 orang. Iseng-iseng berhadiah ikutan jawab quiz di FP FB Mother and Baby Indonesia, malah kecipratan rejeki. Ya Allah, nikmat Tuhan mana yang hendak kamu dustakan... hihihi. Tapi ya, sebenernya ikutan kuis itu juga karena udah tau bakal lowong di hari Sabtu tanggal 23 April itu, kalau nggak lowong schedule-nya, ya udah pasti nggak mau ikut. Ngapain ikut, lha wong nggak bisa dateng, mending buat yang lain aja yang bisa datang, tho...

Film yang akan ditonton adalah Super Didi! Film baru tayang tanggal 21 April 2016, dan kita nobar-nya tanggal 23 April. Masih hot lah ya... (ya yang nggak hot saya yang update di blog ini sepertinya - seperti biasa, saya suka telat). Diperankan oleh Vino G Bastian sebagai ayah, Karina Nadila sebagai ibu, beserta dua orang bocah lucu sebagai anak - yang mana saya lupa namanya dan mau browsing pun males. Oia, ada Ira Maya yang berperan sebagai Oma dan Mathias Muchus yang berperan sebagai Opa. 

To the point niyh ya mas bro om tante... 

Cerita film Super Didi ini sebenernya sangat sederhana, lho... nggak neko-neko dan kalau saya liat ini emang berdasarkan kisah nyata dalam kehidupan kita. Hmmm, kurang tau kalau yang di luar Indonesia sana, tapi kalau masih seputaran Indonesia khususnya Jakarta, sepertinya memang banyak yang begini. Sepertinya ya... melihat kan kegiatan ibu-ibu sekarang nggak semuanya di rumah, nggak semuanya jadi ibu rumah tangga. Ibu-ibu jaman sekarang itu kegiatan dan kegiatannya luar biasa, sudah hampir mirip kepala rumah tangga. 

Mengisahkan tentang keluarga yang sangat harmonis, si ayah bekerja mencari nafkah (arsitek lho pekerjaan ayahnya... ciyeee) dan si ibu menjaga merawat anak-anak di rumah.Tidak ada masalah apa-apa dengan rumah tangga mereka. Bapak baik, ibu baik, anak-anak juga keren! Sampai pada satu waktu, si ibu harus pergi berangkat ke Luar Negeri dan terpaksa hand over sama si Bapak untuk ngurusin bocah-bocah. Nah, yang bikin lucu itu, emang bapaknya nggak biasa urus anak-anak - hmmm... lebih tepatnya emang karena nggak biasa ngurus anak-anak, karena tugas bapaknya adalah mencari nafkah. Asisten Rumah Tangga? Ada, tapi bukan untuk ngurus anak-anak dan hanya sekedar ngurus rumah. Keren banget konsep nya... ART emang buat ngurus rumah, bukan urus anak. 

Oh iya, sebenernya oma dan opa juga ada lho, tinggal sekota dengan mereka, tapi emang prinsip oma dan opa juga keren, mereka nggak mau emong cucu, karena punya kesibukan sendiri. Ya sepakat lah, udah tua ya wajarnya nikmatin hidup, bukan lagi ngurus cucu. Ngawasin sih boleh la ya, kalau keadaan darurat, tapi bukan diserahkan secara utuh. Ini juga prinsip yang berlaku buat keluarga kecil saya dan pak suami. Kakek nenek bukan buat jaga cucu. Kakek nenek ya cukup nikmati hidup di hari tua. Eh jadi kebayang sendiri, nanti saya udah tua (kalo umur panjang), jadi MC nggak ya...? Momong Cucu... hihihihi

Well done banget si bapak kena urus bocah-bocah, sementara istrinya pergi ke Luar Negeri dan di kantor lagi ada project besar. Hari demi hari dilalukan sama sang bapak untuk mengurus bocah-bocah. Dari mulai awalnya kesulitan, sampai akhirnya jago ngurus anak-anak. Bravo banget buat sang bapak! Eh, sebenernya nggak cuma ngurusin anak lho, tapi juga include pergaulan si ibu yang seperti arisan, begaul dan lain semacamnya. Bahahah... kebayang ya, si bapak juga harus ikutan yang begituan. Tapi hebat kok, si bapak bisa ngejalanin-nya. Suami saya? Hohoooo... pasti nggak kalau urusan diluar anak-anak... 

Jadi ya... inti film itu emang ngasih pelajaran buat para bapak-bapak, untuk urusan perbocahan, sewajarnya sang ayah juga turut peran serta. Nggak cuma jadi tugas ibu semata, karena in case ibunya perlu urusan sesuatu yang mendadak dan urgent, si bapak udah tau apa yang harus dikerjakan dan nggak kagok lagi... Walaupun bukan tugas utama si bapak, nggak ada salahnya bapak tau apa yang harus dikerjakan untuk anaknya. ya urusan sekolah, urusan update pergaulan anak (update tokoh kartun ini penting banget sepertinya, jangan sampe nggak tau Frozen yaaaa.... atau mungkin Thomas dan Boboboi).

Ira Maya lagi opening... 

Nukerin tiket dulu ya.... 

Alhamdulillah dapet goodies bag... isinya bermanfaat semua...

Rejeki Nares....

Yuk, bagi yang belum nonton, coba deh nonton. Cussss ke bioskop yang masih muterin film Super Didi ini. Film-nya layak banget untuk ditonton. Belajar dari kehidupan yang sebenernya. Cuma satu menurut saya yang agak janggal pada film ini.... alasan kepergian ibunya ke Luar Negeri agak kurang kurang kuat. Andaikan saja alasan kepergian ibunya ke Luar Negeri itu sangat signifikan, sempurnalah film ini... Tapi overall, kereeen....

2.24.2016

GOODIES BAG ISI PRODUK RUMAHAN

Nares ulang tahun ke-5! Direncanakan untuk membuat syukuran kecil di sekolah-nya saja. Teman sekelas dan teman playgroupnya. Sederhana saja, tiup lilin, potong kue dan bagikan goodies bag. Udah pasti pun goodies bag yang sederhana, dan bukan produk pabrikan semata. Udah kebayang aja capeknya, tapi itulah saya. Suka dengan hal-hal yang berbau kerajinan tangan, lipat melipat kertas, pokoknya yang serba bikin sendiri. Punya kenikmatan sendiri ketika bisa bikin. Kecuali bikin kue, saya udah nyerah yaaa... Jadi, apa yang sanggup saya bikin sendiri, pasti saya bikin. Yang tak sanggup, saya akan serahkan kepada ahlinya.

Syukuran HUT Nares ke-5 ini, saya nggak punya konsep atau tema apapun, selain memberikan produk Homemade kepada temen-temen sekolah Nares. Dulu, guru sekolah Nares juga pernah pesan kepada orang tua murid, jika mengadakan ultah di sekolah, tidak disarankan memberikan makan yang mengandung MSG semacam snack-snack yang pakai bahan pewarna juga. Bukan apa-apa, ada beberapa anak-anak yang alergi makan perasa makanan, jadinya batuk-batuk deh. Kalau mau dibilang ya jangan dikasihin ke anaknya, kasihan juga... soalnya kan mereka lihat temannya pada makan, masa sendirian nggak makan? Ckckck... terlalu...

Okey, yuk mari bongkar isi goodies bag HUT Nares ke-5. Semoga bisa menginspirasi ibu ibu semuanya ya, memberikan goodies bag sehat buat anak-anak...


Puzzle 

Iya, saya menghadiahi anak-anak puzzle, daripada memberikan peralatan makan atau peralatan tulis lainnya. Kebetulan waktu itu ada bazaar di kantor pak suami, jual puzzle murah meriah buat anak-anak dengan karakter Winnie The Pooh, Cars, Frozen, dan Barbie! Yihaaa, lumayan banget ini. yang cowok bisa dapet The Pooh, atau Cars dan yang perempuan bisa dapet Frozen atau Barbie. Menurut saya, puzzle ini bisa membuat anak-anak bermain kan. Out of the box, kalau kata suami saya. Whatever itu, yang jelas harga dan barangnya lucu... ahahahaa...


Susu UHT

Yang ini  nggak mungkin bikin, udah pasti beli. Ya mau bikin gimana susu UHT? Beli aja di swalayan terdekat dengan harga yang terjangkau. Kebetulan waktu itu ada yang lagi promo, langsung deh borong susu UHT. Mau Indomilk, mau Ultra, mau Diamond, mau Frisian Flag, sama aja lah... tinggal liat yang masuk budget aja kok... dan lihat expired date-nya ya...


Spaghetti Bolognese

Menu ini dipilih sama saya karena gampang masaknya... tinggal cemplungin spaghetti-nya. Bumbu bolognese bisa bikin pun gampang pakai pasta tomat, daging cincang, dan bawang bombay. Males beli bumbu bolognese, bisa pesen rumahan. Yah, kalaupun mau juga, ada jual bumbu bolognese yang udah jadi, tinggal tambahin daging cincang atau apapun sesuai dengan selera. Lebih enak pakai parutan keju. Tapi kemarin saya udah gak sempat, makanya nggak pakai parutan keju deh.


Pudding Ubi Ungu

Bikin pudding ini gampang sekali. Beli agar-agar di supermarket, trus rebus atau kukus ubi ungu, ambil sari pati warnanya. jadi deh keungunan. Sehat karena nggak pakai pewarna buatan. Iya, pakai pewarna alami dari ubi ungu tadi. Pudding itu saya masukin ke cup-cup kecil bertutup, tinggal tambahin pakai sendok plastik. Jadi deh... Anak-anak cenderung suka warna yang menarik, tapi jangan juga dibantai pakai pewarna ya, kalau masih bisa pakai pewarna alami, kenapa nggak?


Nugget Ayam Wortel

Mencari pasangan makan spaghetti, agak bingung tadinya. Sempet kepikir mau kasih sosis, kebetulan ada temen jual sosis enak, tapi kok belum sreg sebagai padanan spagetthi. Akhirnya memutuskan bikin chicken carrot nugget. Iya, bikin sendiri alias nggak beli jadi. Kebetulan emang punya alat-alatnya, punya resepnya, dan punya niat bikin nugget. Horeee, jadi nugget homemade yang masih sangat fresh. Ngerjainnya emang gempor, tapi happy kok... bahahaha! Mau order? Boleeeh... ahahaha!


Cookies Hias Huruf

Aseli, kalau yang ini mah nyerah saya mau bikinnya. Saya nggak jago bikin kue. Kue apapun itu, kok nggak pede dan hampir jarang berhasil kalau bikinnya. Alhamdulillah, punya temen yang jago masak bikin kue, tinggal whatsapp, pesen dan bisa ambil. Sempet kepikiran bikin chocolate cookies aja. tapi emak Dian nawarin bikin cookies hias huruf bertuliskan NARES. Okey banget ide-nya dan saya setuju. Tinggal siapin kotak mika aja. Gampang lah itu bikin mika kotak...

Jajaran paper bag - ya bikin sendiri

Ready to distribute

Homemade semua

Happy Birthday, Nares

Bu... saya mau kue-nya... 

Done... jadi deh goodies bag Nares... alhamdulillah anak-anak dan emak-emak juga suka karena nggak pakai produk-produk ber MSG banyak. Mau pesen goodies bag buat ultah anak dengan harga bersahabat? Boleh contact ke bawah ini ya... hihihihi...


Cookies, kue ulang tahun dan berbagai jenis makanan home made lainnya..
Facebook : Dian Ekayani
Whatsapp : 081282208916
Line: dekamade_dianekayani
PIN BBM : 56B24375

Pesen chicken carrot nugget...
Email ke mona.archy@gmail.com
Whatsapp : 08151606909

12.31.2015

URBAN FARMING

Dan sudah mulai jarang isi blog, mengingat belum ada yang perlu di share. Nah, sekarang udah ada yang mau di share lagi, makanya saya hadir lagi. Taraaa... tring! Saya datang! Bahahahahaaa... Alhamdulillah ya, sesuatu... ada yang pengen di share lagi, dan mumpung masih semangat, saya akan tuangkan di blog ini. Bismillah ya... mudah-mudahan bermanfaat...

Cerita punya cerita, kemarin dapet penawaran dari kampus untuk ikutan pergi ke kebun milik PT. East West Seed Indonesia (Ewindo) yang adanya di Purwakata. Topiknya : Urban Farming. Eyaaa, disuruh jalan dan topiknya cukup menarik, akhirnya saya mau aja. Iya donk, sekalian jalan-jalan kan? Hahahaha... Lumayan lah, liat kebon disana macam apa. Cuma yang nggak sedep itu ya, disuruh kumpul pkl 0600 pagi di kampus. Yaiyalah udah pasti berangkat dari rumah pkl 0530 kan? Bangunnnya kan, kudu lebih pagian, kan? Ho'oh aja udah, secara mau jalan luar Jakarta. Nggak macet sih pasti di Purwakartanya, tapi Bekasi itu, udah pasti macet cet cet. Toll kan ada? Nggak ngaruh yeuy...

Berangkat dari kampus Meruya pkl 0600 sampai di Purwakarta, kebun (dan kantor) Ewindo pkl 0900. Jalan masuknya lumayan enak, agak ke dalam, tapi jalanan mulus. Nggak khawatir mau pake mobil besar ataupun kecil. Eh tapi kunjungan kesini kayaknya nggak terbuka untuk umum, alias kudu reservasi dulu. Disana kita ketemu beberapa rombongan dari instansi yang lain, ada anak sekolah dan ada juga rombongan mahasiswa. Tapi disana nggak ada loket tiket ya... makanya tadi saya bilang kayaknya nggak dibuka buat umum. Bus kampus kita aja disuruh parkir di luar, parkir di seberang kebun ini juga luas, lumayan ada pemandangan dikit-dikit. Namanya juga luar kota, jadi pemandangan masih ada... 

Foto dulu sebelum keliling kebun

Begitu masuk ke area Ewindo, langsung liat tanaman-tanaman dimana-mana. Mata seger banget. Alhamdulillah, cuaca juga nggak panas saat itu, cenderung gerimis kecil-kecil malah... niyh ya, langsung share aja foto-foto di kebon Ewindo...

Tanam sayuran - ditumpuk - kangkung, salada, selederi.

Tanam pohon pare bisa di pagar

Parenya sudah mulai menguning, paneeen...

Cabe warna warni yaaa... 

Lahan sedikit, bisa tanam-tanam

Ini tempat lampu pake minyak malah jadi pot.
Jadi ya, sebenernya walaupun tanah kita terbatas, masih tetap bisa tanam-tanam lho. Rumah di Jakarta sekarang ini, lahannya kecil-kecil. Masih syukur bisa punya lahan yang besar, tapi harganya selangit ketujuh. Macam saya ini, udah menyerah untuk membeli rumah di Jakarta dengan ukuran yang memadai. Nyingkir aje kita maaah... Kalau yang beginian, mau tanam di rumah susun juga bisa niy... kan rusun juga biasanya ada balkon tuh, jadi masih bisa deh tanam-tanam. Nah, ini di kebun Ewindo, kita ditunjukin bagaimana caranya menanam di lahan yang sangat terbatas alias nggak perlu lahan yang segambreng-gambreng.

Menanam di lahan yang sempit begini, mungkin hanya bisa untuk dikonsumsi bagi diri sendiri. Tapi kan lumayan banget, berarti nggak perlu beli atau setidaknya mengurangi uang belanja sayur yang harus keluar. Secara selada daun itu kalau di pasar, sebonggol harganya udah sekitar Rp 5.000. Nah, belum lagi kangkung, bayam, seledri. Yang nggak kalah seru ya tanam buah-buahan. Kalau konsumsi buat diri sendiri masih berlebih, ya boleh lah coba dibagi-bagi ke tetangga. Hahahaha, takut rugi, udah beli bibit? Ya jual murah! Maklum, hari gini masih ada orang yang punya prinsip, "mana ada yang gratisan?" Sape niyh yang begini, hayooo ngaku...

Okey, caranya gimana? Sebenernya caranyanya macam-macam media tanamnya. Bisa pakai sekam yang dicampur sama pupuk kandang, bisa juga pakai macam busa begitu (seperti yang suka kita lihat di supermarket). Nah, belum lagi urusan tempatnya alias pot-nya. Bisa pakai pipa pvc, bika pakai pot kecil-kecil, bisa pakai drum bekas, mau pakai botol bekas air minum juga bisa. Kemarin ya liat di kebun Ewindo, ya pakai bahan-bahan yang sangat mudah didapatkan di kota, dan bisa yang bekas pula. Lumayan ngirit kan... Tapi di tulisan ini, saya nggak bisa ngajarin detail how to nya ya. Kalau itu bisa langsung browsing aja. Saya pun newbie... ahahaha...

Bibit-bibit ini bisa didapat dengan mudahnya pula. Kemarin di kebun Ewindo, dijual bibit-bibitnya. Untuk sayuran, Rp 8.000 per pack dengan isi bibit per paknya bervariasi jumlahnya. Bibit kangkung aja satu pack isi 200 bibit. Bibit cabe rawit, bibit bayam, bibit seledri, dan lain-lain. Untuk bibit buah-buahan dan bunga, harganya lebih mahal sedikit dari bibit sayur. Isinya juga nggak sebanyak per pak bibit sayuran. Saya nyoba yang mudah nanamnya aja, bibit cabe, bibit chaisim, dan bibit kangkung. Buat lucu-lucuan aja dulu nyoba-nya... Kalau berhasil, besok beli lagi ya, yang lainnya. Kalau nggak berhasil, ya coba lagi. Pantang menyerah, gan...

Nah, ini nih uji coba kita di rumah nanam-nanam bibit yang udah dibeli. Belum berhasil kayaknya, tapi melihat prosesnya sangatlah lucu. Liat dari benih biji-bijian gitu, trus bisa tumbuh, jadi batang, daun... ahahahah, kayak punya bayi. Buat yang mau nyoba-nyoba, silahkan dimulai. Tutorialnya banyak di youtube kok... alat tempurnya bisa dibeli online, maupun offline. Harganya nggak terlalu mahal-mahal banget, tapi yang jelas sangat bermanfaat...

Umur 3 hari... 
Umur 6 hari...
Selamat mencoba ya... semoga berhasil... 

9.10.2015

BELAJAR UNTUK BERBAGI... SEDARI KECIL

Tulisan di blog saya, biasanya seputar tentang pengalaman saya jalan-jalan atau pengalaman tips dan trik apalah sesuatu. Kali ini postingan agak beda, tapi ya masih berdasarkan pengalaman juga, lho... Intinya emang based on true story (ceilaaah bahasanya!). Kali ini tulisannya agak sedikit membawa perasaan, iya kalo bahasa gaulnya "baper", pemirsaaa... Ini kisah dari anak-anak sekolahnya Nares, rame di group emak-emak dan cukup membuat kami heboh ngebahasnya. Iya banget, yang biasa itu kalo udah dibahas sama emak-emak, bisa jadi heboh banget. Nah, maka dari itu pun, saya tertarik untuk menulis. Setidaknya, ini juga pelajaran berharga buat kami dan mudah-mudah buat siapapun yang ingin belajar.

Mereka hidup bersama, pasti juga akan berbagi...


Berbagi...

Inti dari tulisan saya kali ini mengenai berbagi. Berbagi rejeki dan berbagi sesuatu yang sifatnya kebaikan. Maaf ya, ini bukan tulisan menggurui atau sok kepinteran atau sok baik atau sok-sok yang lainnya, murni karena saya sendiri pun agak heran. Heran karena kami terbiasa dengan yang namanya berbagi. Apalagi yang sifatnya kebahagiaan, harus dibagi-bagi katanya. Kalau kata nyokap saya, "Kesenangan kita harus dibagi dengan orang lain, tapi kalo kesedihan kita, cukuplah simpan dalam diri sendiri". Nah, ini penting banget buat saya. Masalah orang lain tidak mau berbagi kesenangan dengan saya, ya nggak masalah. Mungkin dia punya pemikiran sendiri... Tapi jujur saja, kita pasti sebel kalau ada yang nggak adil... ahahahah...

Nah, cerita kali ini adalah, ketika ada seorang ibu dari temen Nares, menanyakan kepada kami, anak siapa yang suka ngambil atau minta makanan anaknya. Lanjutan ibu itu, nggak mungkin anaknya ngabisin makanan yang dibawain sama ibunya itu. Hou hou hou... langsung saya nganga. Bingung kan ya, emaknya nggak rela kalau makanan anaknya diminta sama anak lain? Padahal juga dibawainnya banyak lho, bukan sedikit dan terbatas. Udahlah bawanya banyak, nggak bakal abis juga kalau dimakan sama anaknya sendiri, nah diabisin sama temennya malah nggak terima. 


Okey... saya bingung...

Iya banget, saya bingung. Saya sendiri selalu ingatkan ke Nares, kalau ada temen yang minta makanan Nares, jangan nggak dikasih. Tapi kalau saya sendiri, emang selalu bilang sama Nares, untuk jangan minta makanan temennya, karena takutnya temennya lagi lapar, jadi kalau diminta sama Nares, nanti temennya kelaperan, bisa sakit perut. Sementara kalau Nares ada kepengen makanan temen Nares, silahkan bilang ke ibu, nanti ibu siapkan. So far, alhamdulillah berjalan dengan lancarnya. 

Seringkali Nares bawa makanan ke sekolah, nggak lupa dari ingatannya, bawa 2, 3 atau bahkan lebih. Ketika saya tanya untuk siapa, Nares jawab, "Buat A, B, C, D. Nggak mau kasih si E dan F karena mereka pernah pukul Nares". Hahahah... anak bocah, masih aja ya emang mereka belum paham apa yang namanya dendam itu nggak boleh. Well, jujur ya, saya mah happy anak saya bisa berbagi sama temennya, nggak pelit. Biasanya, anak kecil justru egois. Nggak mau berbagi, apalagi sama barang yang dia suka. 


Semua bilang agar berbagi...

Nggak pernah ada yang ngajarin kita untuk pelit. Emang ya, bukan berarti harus boros juga. Perhitungan boleh, tapi jangan kebangetan lah. Yang penting kan ya, kita tetap bisa berbagi. Semua agama juga ngajarin kita untuk berbagi. Berbagi terhadap rejeki yang kita punya. Karena, di dalam rejeki yang kita punya, ada hak orang lain disitu. Kalau dalam agama Islam, makanya wajib yang namanya sedekah, zakat. Karena intinya adalah untuk berbagi. Emang sih ya, berbagi makanan (dalam hal ini temen-temen Nares), bukan sesuatu yang wajib banget mutlak hukumnya, secara temen yang akan dikasih juga hitungannya (in shaa Allah pasti mampu). Tapi saya yakin banget banget, mulai dari kecil diajarin berbagi biar nanti kalau udah gede nggak pelit. Membiasakan diri untuk berbagi.


Eh tapi semua ada hikmahnya...

Dengan kejadian ini, kita para emak jadi makin lebih ngasih tau anak-anak biar berbagi. Kalau makanan diminta sama temen, boleh donk dikasih ke teman. Mungkin dia pengen, mungkin dia masih lapar... Berikanlah, karena siapa tau suatu saat kita yang lapar, mengharap untuk dibagi juga. Kita ambil positifnya saja lah, hikmah dibalik orang tua yang nggak rela makanan anaknya diminta sama temen anaknya. Dan, serunya lagi, ada orang tua murid yang rela bagi-bagiin wafer dan susu untuk temen-temen sekelas walaupun lagi nggak ada event apa-apa, intinya mau ngajarin ke anak-anak untuk berbagi. Giliran saya, minggu depan yang bawa. Inisiatif sendiri lho ini, hahahaha...

Berbagi itu Indah... seindah bunga ini... 

Berbagi itu indah, pemirsa... semoga kita semua bisa berbagi dengan sesama... 

1.06.2015

MENGISI LIBURAN ANAK DI RUMAH

Begini rasanya punya anak udah mulai sekolah. Ada bagi raport-nya (kalo di Playgroup sekolah Nares namanya Buku Laporan Kegiatan). Ada libur sekolahnya. Ada field trip-nya. Ada uang bayarannya yang pasti. Ho oh, the latest one itu yang wajib mutlak ya, nggak mungkin khilaf. Tapi tenang kok, saya nggak bicara tentang bayaran sekolah kali ini. Bayaran urusan bapaknya, saya cuma ngasihin ke gurunya kok. Aman terkendali kalo masalah bayaran. Yang penting cukup remind bapak suami, kalao awal bulan itu bayaran sekolahnya Nares. Kelar. Hidup emang tak semudah cocotnya pakde Mario Teguh, sih. Tapi buat saya, hidup itu udah sulit dan jangan dipersulit adanya. #gayaloemonsokbijak

Semester pertama telah berlalu, cepet banget emang waktu berjalan. Nggak berasa ya? E siapa bilang dah? Saya mah berasa. Lah ngurusin rumah, ngurusin anak, ngurusin suami, ngurusin tetek bengek, sampe akhirnya diri sendiri kurus karena tak terurus. Eeeaa, ada yang curcol di blog. Weits, tapi  nggak lah, keluarga walaupun berat seperti apa juga tetap enjoy. Kali ini beneran enjoy lho, bukan sekedar slogan belaka macam Enjoy Jakarta tapi bener-bener nggak enjoy sama Jakarta ini. Eh lah ini ngemengnya kemana-mana dah. Iye, intinya ya, ini semester pertama sekolahnya Nares udah berlalu, saatnya terima raport yang mana disusul dengan liburan sekolah. Yeeeaaayyy liburan! Iya, anaknya mah liburan, emaknya? Hmmm...

Liburan sekolah Nares kali ini, agak bersyukur ya, karena si emak lagi libur juga (masih on maternity leave ceritanya). Jadilah kita yang setiap hari penuh berjumpa di rumah. Okesiph. Nares tipe anak yang punya banyak kegiatan alias nggak bisa diem. Kalo nggak ada kerjaan, Nares akan marah-marah, pemirsa... huhuuu, iya marah-marah sama ibunya. Marah yang nggak jelas. Kadang malah jadi cenderung njahilin ibunya dan adiknya si bayi. Makanya, pas kemarin liburan di rumah, setiap hari saya cari ide mau bikin apa bareng sama Nares. Intinya biar dia ada kerjaan, nggak iseng. Secara kan kalau liburan juga nggak bisa melulu pergi keluar tho? Masa' mau ngelayap melulu? Sesekali boleh lah pergi. Seringkali bisalah jebol tuh kantong pundi.

Apa sih yang kita lakuin di rumah selama Nares libur...? Inilah kekacauan di rumah yang kami buat...

Main guru-guruan, bikin whiteboard jadi-jadian di dinding. Ceritanya Nares mau jadi bu guru. Udahlah semua yang gurunya di sekolah lakukan, diulang di rumah. Mulai dari nyuruh masuk anak-anak ke kelas, baca doa sebelum belajar, doa makan, suruh nyanyi-nyanyi, suruh beres-beres, termasuk sampai adegan menegur anak-anak yang nggak bisa diem. Misalnya aja kayak gini, "Anton, ayo duduk. Kita mau mulai berdoa. Kalau anak pintar itu, duduk, doa... yuk duduk". Nah, udah kan macam guru banget dia punya gaya. Tetiba, pun Nares minta, "Bu, mana papan tulisnya? Bu Guru di sekolah suka tulis-tulis di papan". Yahilah, kerjaan banget deh bikin papan tulis jadi-jadian. Akhirnya ambil kertas bekas ukuran A3 yang ada di dapur (bekas sobekan kalender), pluk, tempel ke pintu. Tapi ya, anaknya kok minta bisa dihapus juga tuh papan tulis. Jreeeng, nyarilah kertas mika di dapur lagi. Untung aja ada. Selamat...

Bu Guru Nareswari

Besok harinya, kita bikin i-pad dan camera foto versi kardus bekas. Kardus bekasnya sangat sederhana banget, saya pakai kardus bekas minuman sachet kopi. Pun, minuman itu dikasih, jadi bener-bener modal lem, gunting, sama idea. Kardus dibentuk dipotong sedemikian rupa adanya menyerupai kamera. Kamera jadul pastinya, secara kamera segede gaban gitu. Hahahha, yang penting ada lobang buat ngintip sama ada layar untuk melihat hasil yang di foto. Trus Nares minta bikinin i-pad. Jadilah itu kardus bekas dimodif ina inu macam i-pad jadi-jadian. Akh, sekali lagi, yang penting jadi, yang penting happy, yang penting seru, yang penting nggak rusuh lah.

Ipad dan Camera versi Nareswari

Selain itu dua macam bikin-bikin seseruan, kita pun coba bermain sedikit lelucuan. Wkwkwk, tapi kalo ini sih agak-agak sambil belajar, karena Nares harus sedikit mikir. Iya, kita bikin tempel-tempel bentuk. Jadi saya gambarin bentuk di kertas polos, trus saya potongin karton yang bentuknya sama dengan yang di kertas. Nanti saya minta Nares untuk tempel potongan-potongan itu sesuai dengan yang di kertas polos. Maksudnya sih biar Nares bisa menyamakan bentuk yang ada. Alhamdulillah, Nares bisa lah untuk nyamain bentuk itu. Bunga dengan bunga, hati dengan hati, daun dengan daun. Kocaknya lagi, setelah itu tempal tempel jadi, anaknya bilang gini, "Bintang tiga ya bu, bagus nih..." Iya, emang di sekolahnya kalau hasil pekerjaan bagus, suka diberi stempel bintang 3. Oia, ini bahan tempal tempel saya pakai bener dari bahan bekas. Kertas amplop cokelat bekas, karton sampul bekas, pita bekas.

Tempel-menempel

Selain main-main yang di atas, Nares selama liburan juga main peran. Katanya sih ya, emang anak umur segitu senengnya berperan jadi guru, jadi dokter, jadi pemadam, jadi pilot, jadi supir, dan bahkan kemarin jadi ibu-ibu. Wakwaaawww... Nah, secara emang Nares itu suka banget ambil barang-barang di rumah untuk dijadiin mainan, nih yuk coba liat hasilnya. Lucu banget deh. Main dokter-dokteran, susun rapih tempat tidur, pasien, bantal, selimut. Ada lagi main rumah-rumahan pake kardus bekas beli freezer. Hahahahaa... seruuu banget!

Rumah Sakit
Rumah Nares

Yang nggak kalah seru banget niyh ya..., kita bikin baling-baling dari kertas lipat warna. Iyalah, macam origami itu, tapi nggak bisa bikin origami, akhirnya saya bikin baling-baling aja. Ini ya, sebenernya emaknya Nares juga doyan maen beginian. Jadi kalau bilangnya bikinin anak sih, ya kamuflase dikit-dikit. Hahahaaa, jikalah suatu saat Nares sudah bisa membaca blog ibu, maafkan ibu ya nak, terkadang memanfaatkan situasi. Bikin baling-baling ini sangatlah mudah. Bahannya sederhana; kertas lipat bujur sangkar, gunting, lem, lidi. Kelar. Bahannya sederhana tapi bahagianya seampunan. Lihatlah itu expresi muka si anak yang kegirangan. Nah, kurang lebih si ibu pun kegirangan. Sayang nggak mau mengabadikannya.

Baling-baling kertas

Naaah..., begitulah kami mengisi liburan akhir tahun 2014 kami dengan cara yang sangat sederhana. Udahlah main di rumah, pakai barang-barang yang ada pula, bahkan ada yang pakai barang-barang bekas. Nggak perlu keluar biaya lagi, duitnya bisa buat beli makanan aja. Huaaa, jajan barang nggak, tapi jajan makanan mah iya. Sama juga boong itu mah... Nah, liburan akhir semester nanti, liburan Nares bakal kayak apa ya...? Masih bisa seseruan bareng nggak ya, secara ibunya udah mulai kelayapan lagi...? God knows... 

12.11.2014

NGATUR DUIT

Pemirsa budiman..., kalo weekend biasanya pada kemana sih? Kalo saya sekeluarga suka nggak tentu. Kadang weekend di rumah, kadang weekend keluar. Bisa makan, bisa jalan-jalan (dalam maupun luar kota), atau ya kadang kumpul-kumpul keluarga aja. Eh kadang juga kumpul-kumpul sama komunitas siyh... hihihi. Ya, kemanapun weekend kita, yang penting jangan manyun ya. Kenapa manyun? Manyun karena weekend harus di rumah mengingat tanggal tua, duit gajian udah tiris. Hahaha... horror banget emang kalo udah liat saldo tabungan menipis di tanggal 10 ke atas... *knock the wood.

Keluarga kami emang type keluarga yang gak boleh manyun di tanggal tua, ya tandanya emang gak boleh hura-hura di tanggal muda. Ahahaaa, kami memilih manyun di tanggal muda dan hura-hura di tanggal tua. Yah itu mah sama aja kaleee..., tetep aja ada manyun-manyunnya. Eh tapi ya, hura-hura bergembira di saat orang lain manyun itu punya kenikmatan tersendiri lho. Hahahaaa, afgan ya kita, sadis udah kayak "berbahagia di atas penderitaan orang lain". Maafkanlah ya teman-teman..., bukan apa-apa sih, selain karena emang tempat-tempat keramaian itu hebringnya kan kalau tanggal muda, sementara tanggal tuanya udah sepi. Nah, saya itu lebih seneng kalo jalan bawa pasukan yang gak terlalu rame.


Mas Yuda di pembukaan acara


Mba Mike

Bicara tentang tanggal tua dan tanggal muda, pasti ada penyebabnya. Kalo bisa ada klasifikasi tersebut, ada kemungkinan pengaturan uang kita alias money management (hahahaaa... ngasal), tandanya masih kurang baik. Menurut saya sih ya, harusnya gak ada tanggal tua dan tanggal muda. Setiap saat harus tanggal muda! Lha hura-hura mulu donk? Okey, kalo gitu setiap tanggal harus tanggal tua! Lha kapan have fun-nya? Kapan nikmatin hasil kerja? Disimpen semua tanpa menikmati? Bisa bisaaa... bisa gila... 

Jadi, kita niyh perempuan yang kudu pinter ngatur keuangan keluarga lho. 80% keuangan di sebuah keluarga itu ya, yang ngatur si mamak, begitu yang dibilang sama mas Yuda dalam acara Smart Money yang diadakan sama Cigna Indonesia) dan Mommies Daily. Jadi kalau mamak nggak pinter ngatur duit, ya jadinya bisa-bisa keuangan kacau donk ya? Nah kalo yang ini mah kata saya. Hahahaaa... Lah secara kan katanya perempuan yang ngatur duitnya. Makanya, cari istri yang bener, yang bisa ngatur duit ye. Jangan asal bisa ngatur-ngatur suami, tapi harus jago ngatur duit. Saya..., bisa gak ya ngatur duit? Hmmm, bisa lah... bisa ngabisin aja tapinya. Kayaknya sih pernah denger, suami istri itu kaya workshop, yang mana suami work dan istri shop. Nyooossshh..., bener banget itu...

Kalau mba Mike Rini, justru nge-share sama kita loh... bahwa uang yang kita terima itu harus disiapin untuk yang penting dan yang genting. Kalau yang genting itu seperti kebutuhan yang memang digunakan sehari-hari kaya living cost gitu kali ya? Bayar listrik, bayar air, bayar uang sekolah, bayar bensin, bayar telfon, beli makan, belanja bulanan, ya macam-macam itulah pokoknya. Nah itu yang genting. Kalo yang penting? Ternyata yang penting itu bayar asuransi, bayar dana pensiun, kumpulin modal buat usaha, bayar dana pendidikan anak (uang pangkal masuk sekolah mungkin), pokoknya yang sifatnya dipake belakangan. Nah, kedua hal itu lah duit kita harus dialokasikan. Terus lagi, kata mba Mike, yang perlu diingat adalah jangan besar pasak daripada tiang. Catet ya, pemirsa... besar pasak daripada tiang itu memang gak pernah ada bagus-bagusnya. Peribahasa yang udah saya denger dari jaman baheula itu, ternyata kepake juga di jaman sekarang ini. Mau gaya, ya sesuai dompet lah...


Macam Monopoli, kan...?
Amunisi awal

Dalam kesempatan ini, mba Mike ngajakin kita untuk main Smart Money Game, mainan ngatur duit semacam permainan monopoli gitu lah konsepnya. Pake lempar dadu, ada papannya, ada pion-pionnya. Kita diminta untuk mengatur duit yang kita terima, ya uang masuk dan uang tersebut akan dibelanjakan untuk apa. Disitu, nanti akan terlihat, bagaimana kita mengelola uang yang kita dapat. Apakah dibelanjakan untuk pembelian investasi, atau mungkin bayar-bayaran yang lainnya. Boleh ngutang juga lho ke bank-nya, nggak pake bunga pula. Hmmm, coba aja ya di kehidupan nyata ada yang beneran begitu. Minjem duit nggak pake bunga, mana buat usaha pula. Nah, nanti pemenangnya dihitung berdasarkan ratio yang dihitung, seperti ratio pendapatan, ratio hutang, sama passive income. Yang passive income-nya paling besar, maka dialah pemenangnya. Saya? Emang gak bakat jadi pengusaha kali ya, passive income cuma $76 sementara yang lainnya bisa sampe $400. Wewww...

Selesai main Smart Money, mba Mike njelasin lagi info lainnya untuk mengatur keuangan, Salah satunya adalah, hutang itu pada dasarnya boleh-boleh saja asalkan kegunaannya adalah untuk sesuatu yang produktif dan bukan konsumtif. Misalnya nih, hutang untuk membuat usaha yang mana hasil dari usaha itu lumayan buat jadi income. Tapi kalo udah hutang untuk yang belanja belenji nggak jelas ya itu nggak boleh. Catet deh ye, nggak boleh pemirsah.. Bukan apa-apa sih emang, karena bunga bank itu emang menjerat sekali. Coba aja liat masing-masing tagihan kartu kreditnya, berapa bunga yang dikenakan? Kalo saya pribadi nih ya, penggunaan kartu kredit mah sah-sah aja asalkan dibayar full payment jangan pernah bayar minimum payment. Lah jadi pake kartu kredit buat apa donk? Hahaaa, aseli cuma ngumpulin poin kok, sama ndapetin promo-promonya aja kalau ada.

Oh, ternyata begitu tho ya, tips-tips ngatur duit.  Seru banget ya, dapet ilmu baru tentang ngatur-ngatur dan mengalokasikan duit. Atur sana atur sini, inves sana inves sini. Baek-baek juga lho kalo kena musibah nggak punya insurance, bisa menguras kocek. Belum lagi kena PHK yang nggak bisa gajian, Nah lho... Yayaya... Makanya semuanya harus dipersiapkan ya buk ibuk dan pak bapak. Mulai dari sekarang, iya sekarang dan bukan bulan depan. Belajar sambil bermain gini emang paling enak deh. Nggak berasa bete kayak di kelas gitu, malah udah kayak acting beneran... Seruuu!

Peserta Smart Money Game (pic taken from IG @mommiesdailydotcom)

5.08.2014

HUNTING SEKOLAH BUAT NARES

Jadi orang tua nih sekarang, beneran jadi orang tua karena mau daftarin Nares masuk sekolah. Emang cuma playgroup sih, tapi ya kan tetep aja ala-ala sekolah. Yang harus masuk pagi dan pulang agak menjelang siang. Yang pastinya lagi, karena harus bayaran! Kalo kerja ya kan dibayar gitu, nah ini sekolah kan ya harus mbayar. Tahun ini umur Nares 3 tahun di bulan Februari, dan bakal jadi 3 tahun lewat 4 bulan nanti. Jadinya umurnya emang masuk playgroup. Kebetulan banget, di komplek tempat kita tinggal itu ada fasilitas TK dan SD. TK Tunas Muda IKKT I dan SD-nya juga SD IKKT. Ini dua sekolah berdiri dari tahun jebot. Jaman abang saya sekolah TK aja uda ada di marih. Saya pun TK juga disini, tapi cuma TK tahun pertama, secara tahun kedua TK udah pindah keluar kota. Sekolah di komplek ini milik yayasan Tunas Muda, yang mana yayasan ini punya Mabes TNI (secara juga emang kompleknya juga milik Mabes gitu...).

Ayoooo, sekolaaaah.... (gambar nyomot disini)


Secara prinsip, saya dan pak suami mempunyai pola pikir yang sama dalam memilih sekolah buat anak. Yang penting sekolah itu : (pertama) nggak jelek banget dari kualitas pendidikannya, (kedua) sebisa mungkin dekat dengan rumah (kasihan hari gini kalo anak sekolah jauh-jauh mesti bangun subuh - ini nasib saya waktu kecil, sekolahnya kudu jauh dari rumah jadi pagi buta udah harus bangun dan tidur lagi di school bus), (ketiga) bukan merupakan kewajiban masuk sekolah unggulan nan penuh gengsi. Kalau orang tua saya sendiri punya prinsip dalam menyekolahkan anaknya, "Sekolah nggak mesti unggulan, tapi anak harus unggul". Huahahahah... Ya, masing-masing pribadi pasti punya prinsip yang berbeda dalam mengambil keputusan memilih sekolah. 

Tapi ya, denger nggak sih, baru-baru ini ada kejadian kasus pelecehan seksual di sekolah beken daerah Pondok Indah itu? Anak umur 5 tahun, di kindergarten class, menjadi korban pelecehan seksual sama petugas cleaning service-nya. Mana itu si provider cleaning service juga perusahaan yang terkemuka seantero jagat raya kan? Masuknya aja duitnya nggak sedikit (uang pangkalnya pasti udah pake ribuan USD). Bulanannya pasti juga udah diatas Rp 1 juta (pasti bayarnya juga pake USD). Nggak jaminan juga kan kalo sekolah itu aman? Nggak jaminan juga kan kalo sekolah mahal nan unggulan itu bakal safe anak kita. Nah, jadi itu kesimpulan saya kenapa nggak mesti masukin anak ke sekolahan yang notabene dicap "unggulan".

Di sekitar perumahan kita tinggal ini, sebenernya ada 2 TK dan Playgroup yang agak besar. Yang satu itu di dalam Komplek, yang TK Tunas Muda IKKT tadi, dan satunya lagi TK Anggrek di luar komplek tapi masih dapat dijangkau dengan jalan kaki. Yuk bahas satu persatu informasinya... Mudah-mudahan berguna buat yang lagi nyari sekolah buat anaknya di seputaran Slipi sini. 


TK Tunas Muda IKKT I - Komplek Hankam Slipi

Fisik sekolah
Bangunan TK ini dibangun di tahun 1987 (kalau TK ini sih berdirinya mungkin tahun 1970an tapi di lokasi yang sedikit berbeda). TK ini berdiri di atas lahan seluas 3300 m2. Taman bermainnya cukup luas dan lengkap. Segala perosotan, ayunan, dan entah apalagi itu namanya, ada di sekolah ini. Tempat bermainnya juga cukup rindang karena pohonnya udah pada rimbun. Di sekolah ini juga ada aula atau hall buat tempat pertunjukan, eh tapi ada juga panggung buat pertunjukan outdoornya gitu lho. Ruang kelas-nya seluas kurang lebih 7 meter x 9 meter. Untuk playgroup sendiri, bakalan ada 2 kelas dan 1 kelas bisa diisi sampai 15 anak. Pas kemarin Nares daftar, udah 7 anak yang daftar (8 sama Nares). Kalau untuk CCTV sendiri, sepertinya belum ada degh, itu sepenglihatan saya loh ya... 

Metode Pendidikan
TK Tunas Muda IKKT ini menggunakan metode pendidikan Sentra yang terkenal dengan konsep bermain sambil belajar. Di rumah kita, ada tuh bukunya Yudhistira ANM Massardi yang tentang metode pendidikan sentra, buat gambaran apa itu metode sentra, monggo intip dimarih. Sedikit banget yang bisa saya jelaskan adalah (secara yang khatam buku metode sentra ini adalah pak suami, maka saya nggak bisa jelasin banyak), anak itu nggak belajar, tapi cuma main aja. Nah, di dalam permainan itu, diselipin pelajaran biar dia inget. Di TK IKKT sendiri ini, nerapin 8 metode sentra, dari 9 metode ya g ada. Guru pendamping untuk setiap metode pun beda-beda. Plus wali kelas yang selalu standby. Kebetulan banget, suami saya emang nyarinya yang pake metode sentra. Kebetulan pulak disini pakenya metode sentra.

Waktu masuk sekolah
Playgroup sendiri, masuk hanya 3 kali dalam seminggu. Hari Senin, Selasa dan Rabu. Masuk mulai pukul 0730 sampai pkl 1000. Kalau TK emang masuknya dari Senin sampai Jumat. Sekolahnya tutup sampai pukul 1200 (ya kalik ada yang mau daftar, datanglah sebelum pukul 1200).

Biaya-biaya
Total untuk masuk Playgroup di tahun 2014 ini adalah sebesar Rp 4.100.000. Biaya tersebut adalah untuk pembayaran Uang Pangkal, uang seragam, uang kegiatan selama setahun, uang peralatan selama setahun, uang SPP di bulan Juli 2014, dan uang bantuan sosial. Uang pangkal itu bakalan berlanjut sampai nanti kalau Nares ngelanjut TK di IKKT juga. Jadinya udah nggak perlu uang pangkal TK lagi. Nah, lumayanan menghemat kan. Tinggal bayar SPP, uang kegiatan, uang sosial, uang seragam. Uang sebesar Rp 4.100.000 ini diserahkan pada saat pengembalilan formulir berikut dengan fotokopi KK dan fotokopi Akta Lahir yah, sebelum sekolahnya masuk. Kalau biaya SPP perbulannya adalah sebesar Rp 340.000. Itu sudah termasuk makan bersama di sekolah pada setiap harinya. Biaya beli formulirnya sebesar Rp 100.000 ya pemirsah... dibayar tunai. Kalo uang pangkalnya boleh dicicil. Nah, buat PNS di Mabes TNI dan Anggota TNI, bisa dapet discount khusus. Jadi silahkan dimanfaatkan jika bisa...




Kalau mau liat-liat gimana TK IKKT Tunas Muda 1 ini, monggo buka disini yah... Saya sendiri nggak punya foto yang langsung diambil dari telepon pintar saya... Hihihi. JAdinya gambar boleh nyomot....


TK Anggrek - Jl Anggrek Rosliana, Slipi

Fisik Sekolah
Kalau dibandingkan dengan TK IKKT, TK Anggrek luasannya sekitar 1/3 dari TK IKKT. Bangunannya juga seperti udah lama nggak direnovasi, karena ada beberapa lisplank yang bekas bocor, keliatan banget. Ruangan kelas juga nggak sebesar di TK IKKT, sementara halaman bermain ya jauh lebih kecil. Begitu juga dengan peralatan mainan si bocah (merry-go-round, swing, etc), pasti jumlahnya nggak sebanyak di IKKT. Disini pastinya nggak pula hall indoor kayak di IKKT, tapi mereka punya area berkumpul outdoor tapi pake canopy gitu. Kemarin sih pas kesana, itu bocah-bocah lagi pada kumpul di hall luar itu. Taman hijau di TK Anggrek juga nggak sebanyak di IKKT. Tapi bukan berarti di TK ini nggak banyak tumbuhan atau pohonan yah. Rimbun sih tetep rimbun tapi emang menyesuaikan dengan lahan yang ada aja.

Metode Pendidikan
Pas dateng ke TK ini, saya ketemu dengan pengurus yayasan TK Anggrek. Ramah orangnya (ya iyalah namanya juga guru TK gitu). Sayang banget, pas kita nanya metode pendidikan yang digunakan di sini, si ibu cuma menjelaskan "Ya metodenya adalah bermain dan bermain. Kita juga mengenalkan pendidikan agama dini disini...". Rasanya kok kita nggak puas ya, dengan jawaban itu. Yaiyalah namanya juga anak-anak, taunya kan cuma bermain dan main. Makan, tidur, jalan-jalan. Kelar degh urusan. Huahahaha... Okesiplah. Oh iya, jumlah pengajar disini ada 7 guru yang mana 1 orang guru akan memegang 1 kelas. Beda banget ya sama IKKT yang tiap sentra punya guru masing-masing plus ditambah wali kelas.




Waktu masuk sekolah
Di TK Anggrek ini, untuk playgroup masuknya juga seminggu 3 kali. Bedanya adalah, masuk bulan ini akan berbeda dengan bulan depan. Misalnya bulan ini masuknya Senin, Selasa dan Rabu, maka bulan depan masuknya adalah Rabu, Kamis, dan Jumat. Untuk waktu masuk adalah pukul 07.15 sampai 10.00.

Biaya-biaya
Total masuk pertama di TK Anggrek untuk Playgroup adalah Rp 3.500.000. Uang sebanyak ini sih katanya untuk uang pangkal dan seminar orang tua sebanyak 2 kali dan juga pakaian seragam, alat tulis dan alat gambar, majalah sekolah. Uang sekolah di TK Anggrek ini sebanyak Rp 275.000 per bulannya dan itu juga sudah termauk uang makan di setiap harinya. Biaya formulir di TK Anggrek ini adalah Rp 75.000.


Kira-kira begitulah gambaran hasil hunting sekolah buat Nares. Yang deket rumah emang cuma dua ini sih. Kalau yang agak keluar komplek dan harus pakai kendaraan, tapi nggak terlalu jauh, masih ada Regina Pacis, ada Al Azhar Kemandoran, terus ada juga Tumbler Tots. Yang bisa dicapai dengan jalan kaki dan yang paling deket emang yang di IKKT ini... jadilah kita memutuskan untuk Nares masuk di sekolah ini. Semangat ya, Nares... semoga tumbuh menjadi anak yang sholehah, pintar, kreatif, bersahaja, dan selalu menyenangkan bagi orang lain... 

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post