Showing posts with label Seputar Kreativitas. Show all posts
Showing posts with label Seputar Kreativitas. Show all posts

1.29.2018

TELAT PERPANJANG SIM SEHARI? BIKIN BARU JAWABNYA

Hahaha... udah, jangan terlalu meresapi judul tulisan ini ya. Cukup baca aja sekali, skip lanjut baca isi tulisannya aja. InsyaaAllah bermanfaat... (aamiin). Nggak usah nanya siapa yang telat perpanjang Surat Ijin Mengemudi (SIM). Pokoknya, pesen saya, jangan sampai lupa ya itu tanggal berlaku SIM kita. Mau SIM A, SIM B, atau apapun, pokoknya jangan sampai telat deh. Kalau buka-buka dompet, coba jangan lupa liat sekalian itu periode SIM. Secara kalau KTP sih enak ya, kan nggak ada masa berlakunya alias seumur hidup. Kalo SIM? 5 (lima) tahun sajaaa...

1. Telat perpanjang SIM? Ada batas waktu?
Ini ya, jaman now, ternyata telat perpanjang SIM 1 hari aja, hitungannya sudah harus bikin baru. Entah mulai kapan peraturan ini berlaku, yang jelas, kalau dulu sih masih boleh lewat 14 hari tuh perpanjang SIM. Sekarang nggak bisa. Yah, demikian laporannya pandangan mata. Makanya, jangan kelewat ya, masa berlaku SIM kita.

2. Kalau gitu, datangnya kemana?
Nggak perlu datang ke gerai atau SIM keliling. Percuma, karena akan ditolak. Nah, kalau bikin baru kan ya harus di tempat awal bikin SIM lah. Entahlah apa kepanjangannya, kemarin saya datang ke SATPAS SIM POLDA METRO JAYA yang berada di Daan Mogot sana. Secara kalau di gerai atau SIM keliling itu nggak ada yang buat SIM baru, maka datanglah ke SATPAS SIM wilayah kita.

3. Dokumen yang disiapkan?
Bawa saja dari rumah, copy dari KTP dan SIM lama. Masing-masing jumlahnya 5 lembar saja. Mau copy di SATPAS SIM juga ada kok. Harganya kemarin Rp 5.000 untuk 10 lembar copy-an. Saya sih yakin, kalau copy sendiri bakalan lebih murah harganya diluaran sana. Hihihi... (udah ya, gak usah dibahas panjang disini tentang harga copy-an).


Datang di SATPAS... ini langkahnya...

Pertama - Periksa Kesehatan
Judulnya periksa kesehatan, tapi nyatanya cuma disuruh membaca tulisan yang ada di depan. Duduk di kursi yang sudah disediakan sama petugas di loket kesehatan. Tulisannya emang agak kecil, tapi bisa terbaca. Selesai di loket ini, kita dapat semacam surat keterangan lulus kesehatan, kertas warna merah. Yang jaga di loket ini ada 2 (dua) orang ibu-ibu galak dan menurut saya agak sengak tengil. Pas ada orang salah masuk sini, langsung aja tuh emak-emak ngomel gak karuan (yahilah, orang mana tau siyk kalo dia salah?). Di loket kesehatan ini kita bayar Rp 25.000 (dua puluh lima rebuuu).

Kedua - Bayar Asuransi
Nggak ngapa-ngapain disini selain cuma bayar premi asuransi. Serahin aja 1 lebar copy KTP tadi sama berkas kesehatan yang sudah dicap sama petugas di loket kesehatan. Petugas disini kemarin sih cukup ramah, nggak pakai sombong (kayak di loket sebelah). Wajib nggak sih asuransi? Kayaknya nggak wajib. Tapi nanti ada kemungkinan kalau nggak beli asuransi disini, dipertanyakan pada loket selanjutnya. Males kaaan... ya kaaan? Daripada panjang dan lama, udah beli aja tuh asuransi. Biaya asuransi sebesar Rp 30.000 (tiga puluh rebuuu), kita akan dikasih kartu asuransi dan berlaku selama 5 (lima) tahun.

Proses pemeriksaan Kesehatan dan Loket Asuransi ini berada pada gedung yang berbeda dengan gedung utama SATPAS SIM ya... Lokasi pemeriksaan dan asuransi ini mendekat ke halaman parkir motor. Nah, lanjut deh ya... silahkan menuju gedung utama pembuatan SIM, setelah lolos di kesehatan dan membeli asuransi.

Ketiga - Bayar Biaya SIM
Bilang aja sama petugas loket, mau bayar biaya bikin SIM A baru. Biaya bikin SIM baru sebesar Rp 120.000 (seratus duapuluh ribu rupiah) untuk SIM A (mobil). Kendaraan lain nggak tau kena berapa besar biayanya. Perpanjang juga nggak tau kena berapa. Uang bikin SIM dibayar pada loket BRI di gedung induk, yang masuk ke dalamnya harus pakai ID Card. Abis bayar, nanti kita dapat kuitansinya gitu. Isi deh tuh kuitansi pakai nama kita dan nomor KTP. Hihihi, kenapa ya, nggak langsung aja ditulisin sama petugas Bank disana? Yaudahlah yaaaah... hahahahaa!

Keempat - Ambil Formulir dan Isi Form-nya 
Sudah bayar, langsung aja geser ke dua loket sebelahnya. Ambil formulir dengan menunjukkan bahwa kita sudah bayar di loket sebelahnya. Isi formulir di meja yang sudah disediakan. Oia, jangan lupa ya, bawa peralatan tulis (pensil atau bolpen atau mungkin tip-ex, biar nggak beli disana lagi). Isian nggak terlalu banyak kok. Kalau ada yang nggak ngerti, balik ke loket formulir aja, tanya ke petugas.

Kelima - Daftar Online
Sudah isi formulir? Lanjut aja ke loket pendaftaran online. Saya sebenernya kurang mengerti kenapa disebut Pendaftaran Online - secara saya datang offline kok. Kasih aja berkas kita semua, nanti petugas loket yang akan memasukkan data kita. Disini kita nanti ditanyain, nama, alamat, tanggal lahir, dan nama ibu kandung - buat apa ya nama ibu kandung?. Proses disini sekitar 10 menit. Enaknya sih disini disediakan tempat duduk, jadi kita nggak perlu capek diri. Dari sini, nanti kita dapat macam tiket untuk menuju loket selanjutnya. Ada tulisan nomor loket yang dituju. 

Keenam - Foto dan Tanda Tangan   
Silahkan lanjut ke loket (A - K kalao nggak salah) selanjutnya untuk foto dan tanda tangan. Kemarin saya dapat loket I yang lumayan cukup rame. Jadinya disini itu butuh sekitar 30 menit menunggu sampai nama kita dipanggil. Nanti di depan loket tersebut ada kotak antrian, kita masukkan saja berkas kita, nanti dipanggil.

Antrian Foto dan TTD


Ketujuh - Test Teori
Setelah foto dan tanda tangan, lanjut lagi masukin berkas kita ke loket 47. Di loket 47 ini, nanti kita dikasih tau suruh masuk ke ruang mana untuk ikut ujian tertulis (teori). Masuk aja lah ke ruang kelas ujian, silahkan duduk di tempat duduk yang udah ada, dan memulai ujian. 15 menit adalah waktu untuk mengerjakan soal ujian. Pakai komputer, sodara-sodara. Meuni canggih computernya, keyboard aja di monitor. Saya panik nyariin keyboard, secara adanya mouse doang. Saya geser mouse-nya, nongol deh tuh keyboard di monitor.

Lolos? Alhamdulillah.. Walaupun nilai ngepas, tapi lolos kok tuh saya di ujian teori. Hahaha... ya iyalah, udah puluhan tahun nyupir, kalau nggak lolos mending balik kursus setir mobil aja lagi.  *benerin lengan baju

Di depan ruang tes teori mengemudi


Kedelapan - Test Praktek
Test praktek ini kita menuju ke loket 11 ya. Loketnya berada diluar bangunan induk lokasi proses ketiga sampai ketujuh diatas. Masih satu komplek SATPAS, tapi yang test praktek kan emang di outdoor. Alhamdulillah, kemarin nggak hujan. Kalau pas test praktek hujan, ya ngak tau lagi deh gimana nasibnya. Selesai test praktek dan ternyata dinyatakan lulus. Yihaaa... kelar deh proses bikin SIM A (lama rasa baru).

Lapangan tempat test praktek


Selesai semua proses, tinggal ambil deh tuh SIM A yang telat perpanjang. Loket pengambilan SIM berada di gedung induk.

Tips saya buat yang mau datang ke SATPAS, coba bawa makanan dan minuman yang mungkin kita butuhkan selama disana. Karena sesungguhnya jajan di SATPAS Daan Mogot itu... mahal sekaleeeh, pemirsa... Saya coba kasih gambaran posisi-posisi di SATPAS ya... mudah-mudahan bermanfaat.

Gambaran kondisi di SATPAS SIM Daan Mogot

12.31.2015

URBAN FARMING

Dan sudah mulai jarang isi blog, mengingat belum ada yang perlu di share. Nah, sekarang udah ada yang mau di share lagi, makanya saya hadir lagi. Taraaa... tring! Saya datang! Bahahahahaaa... Alhamdulillah ya, sesuatu... ada yang pengen di share lagi, dan mumpung masih semangat, saya akan tuangkan di blog ini. Bismillah ya... mudah-mudahan bermanfaat...

Cerita punya cerita, kemarin dapet penawaran dari kampus untuk ikutan pergi ke kebun milik PT. East West Seed Indonesia (Ewindo) yang adanya di Purwakata. Topiknya : Urban Farming. Eyaaa, disuruh jalan dan topiknya cukup menarik, akhirnya saya mau aja. Iya donk, sekalian jalan-jalan kan? Hahahaha... Lumayan lah, liat kebon disana macam apa. Cuma yang nggak sedep itu ya, disuruh kumpul pkl 0600 pagi di kampus. Yaiyalah udah pasti berangkat dari rumah pkl 0530 kan? Bangunnnya kan, kudu lebih pagian, kan? Ho'oh aja udah, secara mau jalan luar Jakarta. Nggak macet sih pasti di Purwakartanya, tapi Bekasi itu, udah pasti macet cet cet. Toll kan ada? Nggak ngaruh yeuy...

Berangkat dari kampus Meruya pkl 0600 sampai di Purwakarta, kebun (dan kantor) Ewindo pkl 0900. Jalan masuknya lumayan enak, agak ke dalam, tapi jalanan mulus. Nggak khawatir mau pake mobil besar ataupun kecil. Eh tapi kunjungan kesini kayaknya nggak terbuka untuk umum, alias kudu reservasi dulu. Disana kita ketemu beberapa rombongan dari instansi yang lain, ada anak sekolah dan ada juga rombongan mahasiswa. Tapi disana nggak ada loket tiket ya... makanya tadi saya bilang kayaknya nggak dibuka buat umum. Bus kampus kita aja disuruh parkir di luar, parkir di seberang kebun ini juga luas, lumayan ada pemandangan dikit-dikit. Namanya juga luar kota, jadi pemandangan masih ada... 

Foto dulu sebelum keliling kebun

Begitu masuk ke area Ewindo, langsung liat tanaman-tanaman dimana-mana. Mata seger banget. Alhamdulillah, cuaca juga nggak panas saat itu, cenderung gerimis kecil-kecil malah... niyh ya, langsung share aja foto-foto di kebon Ewindo...

Tanam sayuran - ditumpuk - kangkung, salada, selederi.

Tanam pohon pare bisa di pagar

Parenya sudah mulai menguning, paneeen...

Cabe warna warni yaaa... 

Lahan sedikit, bisa tanam-tanam

Ini tempat lampu pake minyak malah jadi pot.
Jadi ya, sebenernya walaupun tanah kita terbatas, masih tetap bisa tanam-tanam lho. Rumah di Jakarta sekarang ini, lahannya kecil-kecil. Masih syukur bisa punya lahan yang besar, tapi harganya selangit ketujuh. Macam saya ini, udah menyerah untuk membeli rumah di Jakarta dengan ukuran yang memadai. Nyingkir aje kita maaah... Kalau yang beginian, mau tanam di rumah susun juga bisa niy... kan rusun juga biasanya ada balkon tuh, jadi masih bisa deh tanam-tanam. Nah, ini di kebun Ewindo, kita ditunjukin bagaimana caranya menanam di lahan yang sangat terbatas alias nggak perlu lahan yang segambreng-gambreng.

Menanam di lahan yang sempit begini, mungkin hanya bisa untuk dikonsumsi bagi diri sendiri. Tapi kan lumayan banget, berarti nggak perlu beli atau setidaknya mengurangi uang belanja sayur yang harus keluar. Secara selada daun itu kalau di pasar, sebonggol harganya udah sekitar Rp 5.000. Nah, belum lagi kangkung, bayam, seledri. Yang nggak kalah seru ya tanam buah-buahan. Kalau konsumsi buat diri sendiri masih berlebih, ya boleh lah coba dibagi-bagi ke tetangga. Hahahaha, takut rugi, udah beli bibit? Ya jual murah! Maklum, hari gini masih ada orang yang punya prinsip, "mana ada yang gratisan?" Sape niyh yang begini, hayooo ngaku...

Okey, caranya gimana? Sebenernya caranyanya macam-macam media tanamnya. Bisa pakai sekam yang dicampur sama pupuk kandang, bisa juga pakai macam busa begitu (seperti yang suka kita lihat di supermarket). Nah, belum lagi urusan tempatnya alias pot-nya. Bisa pakai pipa pvc, bika pakai pot kecil-kecil, bisa pakai drum bekas, mau pakai botol bekas air minum juga bisa. Kemarin ya liat di kebun Ewindo, ya pakai bahan-bahan yang sangat mudah didapatkan di kota, dan bisa yang bekas pula. Lumayan ngirit kan... Tapi di tulisan ini, saya nggak bisa ngajarin detail how to nya ya. Kalau itu bisa langsung browsing aja. Saya pun newbie... ahahaha...

Bibit-bibit ini bisa didapat dengan mudahnya pula. Kemarin di kebun Ewindo, dijual bibit-bibitnya. Untuk sayuran, Rp 8.000 per pack dengan isi bibit per paknya bervariasi jumlahnya. Bibit kangkung aja satu pack isi 200 bibit. Bibit cabe rawit, bibit bayam, bibit seledri, dan lain-lain. Untuk bibit buah-buahan dan bunga, harganya lebih mahal sedikit dari bibit sayur. Isinya juga nggak sebanyak per pak bibit sayuran. Saya nyoba yang mudah nanamnya aja, bibit cabe, bibit chaisim, dan bibit kangkung. Buat lucu-lucuan aja dulu nyoba-nya... Kalau berhasil, besok beli lagi ya, yang lainnya. Kalau nggak berhasil, ya coba lagi. Pantang menyerah, gan...

Nah, ini nih uji coba kita di rumah nanam-nanam bibit yang udah dibeli. Belum berhasil kayaknya, tapi melihat prosesnya sangatlah lucu. Liat dari benih biji-bijian gitu, trus bisa tumbuh, jadi batang, daun... ahahahah, kayak punya bayi. Buat yang mau nyoba-nyoba, silahkan dimulai. Tutorialnya banyak di youtube kok... alat tempurnya bisa dibeli online, maupun offline. Harganya nggak terlalu mahal-mahal banget, tapi yang jelas sangat bermanfaat...

Umur 3 hari... 
Umur 6 hari...
Selamat mencoba ya... semoga berhasil... 

7.22.2015

PEKAN RAYA JAKARTA - JAKARTA FAIR 2015

Yeeeaaay... akhirnya main ke PRJ lagi lho kita (saya aja sih tepatnya). Seinget saya, terakhir ke PRJ itu tahun 1993. Sekarang udah 2015. Tandanya udah 22 tahun nggak pernah main ke PRJ. Hihihi... udah lumutan banget ya? Nggak gaul banget deh... Abis ya, lokasi kan di Kemayoran yang agak jauh dari rumah. Trus denger sana sini, preman parkirnya ganas-ganas tuh di PRJ. Kalo nggak salah pernah ada yang dimintain Rp 50.000 per mobil. Ampuuun... Belum lagi panas... Akh, itu semua yang membikin saya males main ke PRJ. Daaan pastinya PRJ nggak kayak Pasar Rakyat lagi, tapi udah jadi ajang belanja. Hahahaaa... kantong mana kantong? Dompeeet dompeeet...

Tahun ini, kebetulan komunitas ALTIC (Altis Indonesia Community) dapet undangan dari GT Radial untuk ikutan event di PRJ, makanya saya mau dateng ke PRJ. Ahahaha, seseruan sama temen-temen komunitas, makanya mau dateng ke PRJ. Niatnya adalah kopdar donk ya, sekalian belanja. Nah, itu baru bener... hihihihi, kalo belanja doang mah, ampuuun deh. Saya melambaikan tangan pada kamera. Etapi ya, emang hidup hemat kan juga dianjurkan ya... jadi orang jangan konsumtif... *sokiyepembelaandiri.

Okey, setelah 22 tahun nggak ke PRJ, ternyata PRJ yang kemarin kita kunjungi...

Lokasinya masih di Kemayoran, kalo nggak salah namanya Jiexpo Kemayoran. Lokasi PRJ sih nggak pernah berubah ya, selalu di Jiexpo itu. Iya deh, pokoknya yang deket jalanan bekas runway pesawat. Hohooo, keren yak, kita bisa jalan di runway pesawat.

Bawa mobil? Masuk ke area parkir Jiexpo ini kena Rp 25.000 per sekali masuk. Bawa motor? Kena Rp 10.000 per sekali masuk. Nanti di dalam, bisa ngasih lagi parkir tips, tapi mereka nggak maksa kok. Beda sama preman yang di Senayan. Jalan kaki? Gretong. Buat yang naik bus atau kereta (KRL), ada disediakan shuttle bus oleh pengelola PRJ. Ini kebukti kemarin ada temen kita dari Bogor, ke Kemayoran naik KRL, turun di Stasiun Rajawali dan sambung shuttle bus ke PRJ (*tunjuk tante Visi dan om Alfath). Nah, ada juga kalo pakai bus Transjakarta, ada shuttle bus dari halte Transjakarta Monas. Cek sendiri deh kalo tentang ini mah (tahun depan ngga tau juga sih nasibnya...). Lumayan lah, kalo nggak bawa kendaraan sendiri masih bisa gampang dicapai.

Masuk ke dalam area PRJ, kudu bayar ya... Tarifnya? Senin : Rp 20.000, Selasa - Kamis : Rp 25.000, Jumat - Minggu : Rp 30.000. Semuanya per orang ya... Jadi setiap orang dewasa ya bayarnya segitu. Kalo anak-anak dihitung bayar kalau tingginya 100cm ke atas... Oia, Lansia diatas 60 tahun juga gratis kayaknya. Kemarin tapi sih ya, Nares gratis lho. Umur Nares 4 tahun, tapi tingi udah 108cm. Harusnya bayar. Berhubung kemarin kita naikin Nares ke stroller, akhirnya Nares nggak kena wajib bayar. Aahahahah... curaaang!

Karena kemarin kita datang pas lagi di bulan Ramadhan dan tanggal tua alias tanggal sekarat alias tanggal bokek, makanya PRJ nggak terlalu ramai. Parkiran cenderung sepi. Enak deh kalo jalan begitu, nggak desak-desakan. Masih bisa napas lega. Mungkin bisa disiasatin, buat tahun depan kalau mau ke PRJ, pas tanggal tua dan puasa aja. Nyaman deh pasti... Oia, pintu masuk ke PRJ ini mulai dari A sampe K ya... nah, cari pintu masuk nggak masalah dimana aja, yang penting deket aja sama parkir atau akses kita diturunin shuttle bus-nya.

Karena wilayah Jiexpo ini luas sekali, jadi jangan lupa ambil peta PRJ ya. Kita bisa liat di peta, kita ada dimana dan mau kemana lewat mana. Hilang sih kayaknya nggak ya, cuma nanti mungkin muter-muter malah bisa nggak jelas mau kemana. Kecuali emang niat mau mubeng-mubeng nggak ada kerjaan, monggo... Yang bawa bayi, anak kecil, bawa stroller jangan lupa. Anak-anak pasti kecapekan kalo jalan kaki. Ntar dia rewel, malah bikin ribet sendiri ke kita. Saya kemarin bawa 2 stroller. Iya si kakak dan buat si adek. Hihihiii...

Di luar hall
Pasukan lagi pada makan... buka puasaaa...
Hall B kayaknyabisinya otomotif...

Bikin list belanjaan yang mau dibeli, kalau belum punya tujuan yang jelas. Catatan belanjaan ini soalnya buat memantau keuangan kita pada akhirnya. Kalaupun nggak punya list belanjaan, beli yang emang bener-bener lagi murah atau promo. Kemarin sih kita kesana ada beberapa list yang emang mau dibeli. Tapi dengan syarat kalau harganya murah dibanding harga normal toko. Jadi, ya begitu deh mensiasatinya. Liat juga sih orang yang memborong ini itu anu ono... hihihi, pasti emang seru banget ya belanjanya... 

Nggak sempet dan nggak minat main liat pertunjukan musik... udah lokasinya paling jauh di belakang, terus kita juga bawa anak-anak. Belum lagi udah mulai malem, besok bapaknya anak-anak kerja juga. Skip dulu deh liat panggung musik segede gaban. Done sama urusan komunitas dan belanja seadanya ala ala aja... kita balik... hihihih...

1.06.2015

MENGISI LIBURAN ANAK DI RUMAH

Begini rasanya punya anak udah mulai sekolah. Ada bagi raport-nya (kalo di Playgroup sekolah Nares namanya Buku Laporan Kegiatan). Ada libur sekolahnya. Ada field trip-nya. Ada uang bayarannya yang pasti. Ho oh, the latest one itu yang wajib mutlak ya, nggak mungkin khilaf. Tapi tenang kok, saya nggak bicara tentang bayaran sekolah kali ini. Bayaran urusan bapaknya, saya cuma ngasihin ke gurunya kok. Aman terkendali kalo masalah bayaran. Yang penting cukup remind bapak suami, kalao awal bulan itu bayaran sekolahnya Nares. Kelar. Hidup emang tak semudah cocotnya pakde Mario Teguh, sih. Tapi buat saya, hidup itu udah sulit dan jangan dipersulit adanya. #gayaloemonsokbijak

Semester pertama telah berlalu, cepet banget emang waktu berjalan. Nggak berasa ya? E siapa bilang dah? Saya mah berasa. Lah ngurusin rumah, ngurusin anak, ngurusin suami, ngurusin tetek bengek, sampe akhirnya diri sendiri kurus karena tak terurus. Eeeaa, ada yang curcol di blog. Weits, tapi  nggak lah, keluarga walaupun berat seperti apa juga tetap enjoy. Kali ini beneran enjoy lho, bukan sekedar slogan belaka macam Enjoy Jakarta tapi bener-bener nggak enjoy sama Jakarta ini. Eh lah ini ngemengnya kemana-mana dah. Iye, intinya ya, ini semester pertama sekolahnya Nares udah berlalu, saatnya terima raport yang mana disusul dengan liburan sekolah. Yeeeaaayyy liburan! Iya, anaknya mah liburan, emaknya? Hmmm...

Liburan sekolah Nares kali ini, agak bersyukur ya, karena si emak lagi libur juga (masih on maternity leave ceritanya). Jadilah kita yang setiap hari penuh berjumpa di rumah. Okesiph. Nares tipe anak yang punya banyak kegiatan alias nggak bisa diem. Kalo nggak ada kerjaan, Nares akan marah-marah, pemirsa... huhuuu, iya marah-marah sama ibunya. Marah yang nggak jelas. Kadang malah jadi cenderung njahilin ibunya dan adiknya si bayi. Makanya, pas kemarin liburan di rumah, setiap hari saya cari ide mau bikin apa bareng sama Nares. Intinya biar dia ada kerjaan, nggak iseng. Secara kan kalau liburan juga nggak bisa melulu pergi keluar tho? Masa' mau ngelayap melulu? Sesekali boleh lah pergi. Seringkali bisalah jebol tuh kantong pundi.

Apa sih yang kita lakuin di rumah selama Nares libur...? Inilah kekacauan di rumah yang kami buat...

Main guru-guruan, bikin whiteboard jadi-jadian di dinding. Ceritanya Nares mau jadi bu guru. Udahlah semua yang gurunya di sekolah lakukan, diulang di rumah. Mulai dari nyuruh masuk anak-anak ke kelas, baca doa sebelum belajar, doa makan, suruh nyanyi-nyanyi, suruh beres-beres, termasuk sampai adegan menegur anak-anak yang nggak bisa diem. Misalnya aja kayak gini, "Anton, ayo duduk. Kita mau mulai berdoa. Kalau anak pintar itu, duduk, doa... yuk duduk". Nah, udah kan macam guru banget dia punya gaya. Tetiba, pun Nares minta, "Bu, mana papan tulisnya? Bu Guru di sekolah suka tulis-tulis di papan". Yahilah, kerjaan banget deh bikin papan tulis jadi-jadian. Akhirnya ambil kertas bekas ukuran A3 yang ada di dapur (bekas sobekan kalender), pluk, tempel ke pintu. Tapi ya, anaknya kok minta bisa dihapus juga tuh papan tulis. Jreeeng, nyarilah kertas mika di dapur lagi. Untung aja ada. Selamat...

Bu Guru Nareswari

Besok harinya, kita bikin i-pad dan camera foto versi kardus bekas. Kardus bekasnya sangat sederhana banget, saya pakai kardus bekas minuman sachet kopi. Pun, minuman itu dikasih, jadi bener-bener modal lem, gunting, sama idea. Kardus dibentuk dipotong sedemikian rupa adanya menyerupai kamera. Kamera jadul pastinya, secara kamera segede gaban gitu. Hahahha, yang penting ada lobang buat ngintip sama ada layar untuk melihat hasil yang di foto. Trus Nares minta bikinin i-pad. Jadilah itu kardus bekas dimodif ina inu macam i-pad jadi-jadian. Akh, sekali lagi, yang penting jadi, yang penting happy, yang penting seru, yang penting nggak rusuh lah.

Ipad dan Camera versi Nareswari

Selain itu dua macam bikin-bikin seseruan, kita pun coba bermain sedikit lelucuan. Wkwkwk, tapi kalo ini sih agak-agak sambil belajar, karena Nares harus sedikit mikir. Iya, kita bikin tempel-tempel bentuk. Jadi saya gambarin bentuk di kertas polos, trus saya potongin karton yang bentuknya sama dengan yang di kertas. Nanti saya minta Nares untuk tempel potongan-potongan itu sesuai dengan yang di kertas polos. Maksudnya sih biar Nares bisa menyamakan bentuk yang ada. Alhamdulillah, Nares bisa lah untuk nyamain bentuk itu. Bunga dengan bunga, hati dengan hati, daun dengan daun. Kocaknya lagi, setelah itu tempal tempel jadi, anaknya bilang gini, "Bintang tiga ya bu, bagus nih..." Iya, emang di sekolahnya kalau hasil pekerjaan bagus, suka diberi stempel bintang 3. Oia, ini bahan tempal tempel saya pakai bener dari bahan bekas. Kertas amplop cokelat bekas, karton sampul bekas, pita bekas.

Tempel-menempel

Selain main-main yang di atas, Nares selama liburan juga main peran. Katanya sih ya, emang anak umur segitu senengnya berperan jadi guru, jadi dokter, jadi pemadam, jadi pilot, jadi supir, dan bahkan kemarin jadi ibu-ibu. Wakwaaawww... Nah, secara emang Nares itu suka banget ambil barang-barang di rumah untuk dijadiin mainan, nih yuk coba liat hasilnya. Lucu banget deh. Main dokter-dokteran, susun rapih tempat tidur, pasien, bantal, selimut. Ada lagi main rumah-rumahan pake kardus bekas beli freezer. Hahahahaa... seruuu banget!

Rumah Sakit
Rumah Nares

Yang nggak kalah seru banget niyh ya..., kita bikin baling-baling dari kertas lipat warna. Iyalah, macam origami itu, tapi nggak bisa bikin origami, akhirnya saya bikin baling-baling aja. Ini ya, sebenernya emaknya Nares juga doyan maen beginian. Jadi kalau bilangnya bikinin anak sih, ya kamuflase dikit-dikit. Hahahaaa, jikalah suatu saat Nares sudah bisa membaca blog ibu, maafkan ibu ya nak, terkadang memanfaatkan situasi. Bikin baling-baling ini sangatlah mudah. Bahannya sederhana; kertas lipat bujur sangkar, gunting, lem, lidi. Kelar. Bahannya sederhana tapi bahagianya seampunan. Lihatlah itu expresi muka si anak yang kegirangan. Nah, kurang lebih si ibu pun kegirangan. Sayang nggak mau mengabadikannya.

Baling-baling kertas

Naaah..., begitulah kami mengisi liburan akhir tahun 2014 kami dengan cara yang sangat sederhana. Udahlah main di rumah, pakai barang-barang yang ada pula, bahkan ada yang pakai barang-barang bekas. Nggak perlu keluar biaya lagi, duitnya bisa buat beli makanan aja. Huaaa, jajan barang nggak, tapi jajan makanan mah iya. Sama juga boong itu mah... Nah, liburan akhir semester nanti, liburan Nares bakal kayak apa ya...? Masih bisa seseruan bareng nggak ya, secara ibunya udah mulai kelayapan lagi...? God knows... 

8.28.2014

LIBURAN MENDADAK - KUNTUM NURSERY and FARM FIELD

Ya begini ini nasib nge-blog kalau yang di posting cuma pengalaman belanja, jalan-jalan, atau bener-bener yang bersifat bukan cerita pribadi dengan pendapat tertentu. Apalagi harus sampai menuliskan "pendapat" saya seorang diri. Jangan tanyakan mengapa saya males berbagi cerita curhatan hati atau pendapat saya, ya. Yang pasti pernah sekali posting tentang pendapat saya, trus ada response nggak enak di comment blog. Yasutralah, daripada ribut, akhirnya saya pindah jalur dan hanya akan menulis pengalaman saya yang tanpa menitikberatkan pendapat saya semata. Nah, baru bisa posting blog lagi deh, akhirnya menunggu cerita yang bisa bener-bener dimuat, baru deh ditulis. Seperti sekarang ini yang mana saya akan berbagi cerita keluarga kecil kita di weekend kemarin. Seruuu...

Kuntum Farm Field. Enggak tau nemu dimana si bapaknya Nares ini kalau di daerah Tajur, Bogor ada tempat anak-anak yang menyenangkan. Di tempat ini, anak-anak (mau orang gede juga boleh siyh, nggak ada larangannya) bisa main sama hewan-hewan yang ada, bisa berinteraksi langsung dengan memberi makan, memberi minum, atau bahkan main sama hewan-hewan itu. Lucu banget deh pokoknya. Waktu itu emang masih liat-liat blog yang sudah pernah main ke sana, sih... intinya pada merekomendasikan untuk membawa anak-anak ke situ. Ini rencana sudah sekitar 2 bulan yang lalu sih. Kalo ditanya kapan mau kesana, ya pasti jawabnya emang cuma, "nanti deh, cari waktu...". Iya, kita emang nggak berani janji sama Nares mau pergi kemana dan kapan waktu pastinya. Takutnya kadung udah janji, eh amalah nggak bisa nepatin janji kita. Kecewa di dapat, anaknya kasihan.

Kamis sore, tetiba si bapak bilang, "Minggu ini kita ke Kuntum Farm Field yuk, pembimbingku lagi keluar kota, jadi nggak bisa bimbingan". Ooo, begitu adanya toh. Baiklah. Saya manut saja. Tapi tetap aja siyh, nggak koar-koar dulu sama Nares, takut nggak jadi, yang ada kita malah ditagih janji. Maaf ya, nggak mau deh PHP-in Nares. Hihihi... emaknya sih udah biasa di PHP-in sama orang lain. Tapi jangan gitu deh sama anaknya. Tiba sampai di hari Sabtu, rencana ke Kuntum Farm Field belum ada perubahan. Si anak udah disuruh tidur cepet, karena mau berangkat Minggu paginya. Kita emang berencana berangkat pagi, biar siang udah bisa balik ke Jakarta lagi, secara masih ada urusan negara yang harus diselesaikan.

Minggu pagi, pukul 08.00 kita udah siap berangkat. Kurang pagi kayaknya ya? Emang... soalnya sampai kita di exit toll Ciawi yang ada malah macet dan padat. Aseli, itu tuh ya, tanggal tua setua-tuanya, tapi orang-orang ternyata masih pada foya-foya... huahahaha.... Eh tapi ternyata emang ada truck bawa air galon juga sih yang mogok di kanan jalan. Makanya jadi macet. Kuntum Farm Field ini letaknya di Tajur. Begitu keluar toll Ciawi, langsung belok kanan (kalo ke kiri ya arah puncak). Nah, kira-kira 2,5km dari exit toll Ciawi tadi itu, ya sudah sampai di lokasi. Kalo kita cari di google maps, udah ada kok, Kuntum Farm Field atau Kuntum Nursery. Lokasinya ada di kanan jalan, di depannya ada plang "Kuntum" dengan cat dasar putih dan tulisan warna orange. Jalan masuknya, sama juga ke Teras Hijau Residence. Nah, bagian depan (jalan baru masuknya), ada kayak rumah makan dan pemancingan gitu, tapi kita jalan terus aja, nanti sekitar 500meter dari jalan masuk, baru deh entrance ke Kuntum Farm Field. Parkirnya nggak terlalu luar, mungkin cuma dapat nampung sekitar 50 mobil saja. Tapi aseli, lingkungannya bersih. Saya sukaaa... 



Masuk. Langsung ada receptionist-nya. Bayar tiket masuk saja sebesar Rp 25,000 per orang. Nares umur 3,5 tahun sudah kena hitungan 1 tiket. Di depan pintu masuk ini, pemilik Kuntum Farm Field menjual produk-produk furniture kayu dan beberapa kerajinan tangan. Sayangnya, di sini nggak ada jual souvenir yang khas "Kuntum Farm Field", misalnya sticker, gantungan kunci, magnetic, atau apalah yang ada tulisan "Kuntum". Sebagai kolektor magnetic, saya suka berburu kalau pergi ke tempat-tempat wisata begitu. Masuk ke dalam kebun, kita dipinjemin caping yang buat orang dewasa yang besar dan ada juga caping kecil buat anak-anak. Nares mau donk, pake capingnya, tapi yang warna warni. Sementara bapak ibunya ya males aja gitu pake yang warna warni. 

Di Kuntum Farm Field and Nursery ini, kita bisa lho ngasih makan hewan-hewan yang ada disini. Tinggal beli aja di dalam, harga sebakul kecil sayuran (bisa untuk marmut dan kelinci) harganya Rp 5,000. Untuk makanan sapi, seikat rumput harganya Rp 5,000. Kalau mau ngasih susu buat kambing, sebotol kecil harganya Rp 5,000 dan botol susu untuk sapi harganya Rp 10,000. Pemirsa budiman, catat ya, makanan hewan disini kita yang beli dan bukan gratisan boleh nyomot. Hhahaha... agak kesel juga kemarin soalnya, pas kita lagi ngasih makan si sapi, eh ikatan rumput kita dicomotin sama orang lain tanpa tanya tinyi tunyu dulu. E dia pikir itu gratisan kalik ya...? 

Seiket ini "marebu"

Lanjut dari ngasih makan sapi, Nares diajak sama bapaknya untuk masuk kandang marmut. Sebelumnya, kita beli dulu sebakul kecil sayuran (bayam dan wortel) untuk makanan si marmut. Nares seneng banget, kegirangan bisa kasih makan binatang-binatang itu. Ya, namanya juga bocah ya, mana jarang nemu pula yang beginian, jadilah dia heboh. Saya sendiri nggak terlalu banyak interaksi dengan binatang-binatang itu, maklum lagi hamidun begini, agak-agak takut interaksi sama binatang. Jadinya saya nunggu duduk aja. Banyak kursi dan tempat yang bisa dibuat duduk kok disini. 

Kasih makan si marmut... 
Marmut si imut lagi minum
Dari kandang marmut, lanjut ke kandang kelinci. Aseli, kelinci disini gendut dan semok punya. Bulunya lebat. Pokoknya menggemaskan. Jadi kebayang sate kelinci yang di Lembang. Eh kok pada tega yah, nyate kelinci? Huaaa... saya mah ogah makan sate kelinci. Nggak tega gitu ngebayangin binatang selucu itu malah dimakan, walaupun ya sah-sah saja siyh untuk menyantapnya asalkan halal. Ngasih makan kelinci disini, bisa pake sayur, bisa juga pake pelet (bukan pelet guna-guna ini...). Tapi berhubung kita masih punya sayuran sisa ngasih makan si marmut, akhirnya kelinci kebagian sayuran di bakul dah.

Hai Kelinci.... :)
Meuni lucu pisan... 
Abis dari sini, kita masuk lagi ke area kebun tanaman. Kita sendiri nggak ikutan petak petik sayuran yang ada disini. Lanjut kita jalan ke dalam, untuk nyari area unggas-unggas. Area unggas punya kandang besar sendiri yang isinya ayam, bebek, entok, soang. Di luar kandang unggas besar, ada juga kandang unggas yang kecil-kecil, seperti kandang ayam ketawa, kandang burung merpati, kandang burung yang lainnya. Aseli, saya cuma nunggu di luar kandang. Sekali lagi, bukan larangan sih bumil masuk ke kandang unggas, tapi saya cuma jaga-jaga aja kok #terlalukhawatir. Saya duduk di depan kandang unggas yang berupa pemancingan ikan. Ada 2 keluarga yang lagi duduk sambil mancing, tapi selama saya duduk di situ sekitar 15 menit, tak tampak pun ikan yang tertangkap. Hahaha, namanya juga mancing ikan, ya kudu sabar tho? Kalo ndak sabar ya beli langsung aja di pasar ikan. 

Kandang Unggas
Mancing niyh... mancing ikan... 
Cantiknya... 
Eh iya, sekedar informasi niyh, di dalam area ini juga menyediakan tempat untuk gathering gitu lho. Pas kita main ke situ pun, pas ada acara gathering. Beberapa pendopo disediakan memang sepertinya untuk ngadain acara gathering. Emang enak sih gathering di sini, selain bisa mengedukasi anak-anak sama binatang itu, ada kebunnya, juga dapet lingkungan asri-nya. Tapi kalau masalah harganya berapa untuk sewa lapaknya, saya nggak tau juga siyh gimana perhitungannya. Mungkin bisa ditanyakan langsung ke managementnya, jangan ke saya. 

Lanjut yuk akh, waktu udah menunjukkan pukul 11.00, mau ngejar makan siang dan acara berikutnya di Jakarta. Sambil menuju ke jalan keluar, kita menemukan kandang sapi yang mana sapinya sangat besar sekali. Kalau kata si bapak, ini sapinya yang disumbang SBY untuk Qurban niyh... kayak yang iya iya aja siyh nih si bapak pernah liat sapi yang di-qurban SBY. Ngarang beud dah si bapak!

Sapi besar
Kepala-kepala sapi besar
Sambil lalu, kita mau mampir ke kandang kambing untuk ngasih susu. Yang ini Nares doyan banget. Tapi agak-agak takut juga si bocah. Jadinya pegang botol susu si kambing, berduaan sama bapak dan ibunya. Sebenernya ibu juga agak ngeri sih, makanya ngasih susunya ke kambing kecil aja alias anak kambing. Hahahaaa... ternyata emang memberi contoh itu nggak mudah seperti bayangan kita, pemirsah. Setelah ngasih si kambing susu, kita pun lanjut liat kolam ikan dan kebun sayur yang siap panen. Ikannya banyak banget mana galak-galak pulak (kayaknya ikan pada kelaperan siyh, makanya sampe pada loncat-loncatan). Tapi sayang bingit, nggak sempet foto-foto kolam ikannya, gegara space di memory card udah abis duluan. 

Lucunya.... (yang mana yang lucu)

Kebon yang siap dipanen... 
Selesai sudah keliling Kuntum Farm Field and Nursery ini. Butuh waktu sekitar 2 jam saja untuk meng-khatam-kan semuanya. Enaknya sih emang datang pagi-pagi, jadi masih nggak panas. Tapi ada juga beberapa tamu lain yang sampai di lokasi pas kita mau pulang. Kalo kita siyh mendingan pagi-pagi ya... Alhamdulillah, selesai weekend dadakan kita minggu kemarin. Nares happy banget, emaknya juga happy. Apalagi bapaknya, secara modal nggak terlalu banyak, tapi anak istri happy. Hahahah... yang beginian emang perlu banget buat keluarga ya, modal happy dikit dapet happy banyak. Cuss lah bagi yang berminat silahkeun main-main ke Kuntum Farm Field Nursery. Cocok buat anak-anak yang hidup di kota dan jarang bersinggungan dengan nuansa alam (seperti Nares kayaknya). 

12.17.2013

JEKARDAH NITE MARKET

Latepost lah judulnya. Udah kapan tauk jalan ke Jakarta Night Market, baru hari gini posting di blog. Ya maklum, namanya juga baru sembuh, baru balik rawat inap, eciyeee tumbang juga niyh ye. Alhamdulillah ya Allah, masih disayang Allah, masih disuruh istirahat kan. Kurang baik apalagi coba Allah, udah capek kerja minta istirahat, ya dikasih istirahat.

Balik lagi ke acara Jakarta Night Market. Ceritanya diceritain sama adik ipar yang udah nyobain duluan ngunjungin JNM di Jl. Medan Merdeka Selatan alias depan kantor Gubernur DKI alias deket Stasiun Gambir. Nah, konsep acaranya emang model ala-ala pasar malam gitu, cuma dikemas lebih apik dan rapih lagi. Tau lah ya, pasar kaget pasar malam yang suka ada di lingkungan perumahan kita (saya banget). Yang model pasar malam *begini* lah pokoknya. Cuma kalo JNM itu tenda dan lapaknya dikoordinir profesional, mak. Pake tenda putih bagus gitu. Uhuy emang...

JNM adanya cuma setiap malam Minggu. Sabtu sore, tenda-tendanya dan panggung mulai disiapin. Jalanan ditutup. Yups, itu Jl Medan Merdeka yang sisi depan kedubes itu emang ditutup. Dua arah ditutupnya. Jadi, akses mau ke Bunderan BI dari arah Tugu Tani maupun sebaliknya ya ditutup. Jalan hanya dibuka bagi yang mau parkir ke lapangan IRTI alias parkiran Monas. 

Pertama pengen liat JNM, gagal. Hujan tak kunjung henti. Sampe pukul 21.00 masih aja hujan. Saya jelas-jelas bukan seseorang yang waterproof, apalagi Nares dan pak suami. Jadilah rencana pertama ke JNM gagal. Try next week saja, kalau rejeki emang nggak kemana kan? Lagian JNM juga tiap malem minggu bakalan ada kok. Bubar paling kalo emang udah nggak diadain aja. Itupun entah kapan tauk.

Tibalah hingga satu saat dimana ada kesempatan jalan ke JNM. Makan malem dulu lah sebelum ke JNM. Kita mampir makan di Jl Juanda alias Veteran yang searah juga sama tujuan kita. Nggak muter jauh-jauh kesana kemari yak, secara udah males sama macet dan keramaian. Mending cari yang deket ajalah. 

Masuk area JNM, parkirlah di lapangan IRTI yang banyak tukang parkir liar itu. Banyak petugas parkir tanpa pakai seragam. Nah, hati-hati nuyh yang mau parkir, mending liat-liat parkiran dulu puter-puter sekali seenggaknya. Tukang parkir syka ngece' alias kaya nipu-nipu gitu kita disuruh parkir di tempat yang dia tunjuk dan seperti memberi isyarat bahwa tempat lain udah penuh. Padahal mah ya, masih banyak banget parkiran kosong. Hati-hatilah pokoknya. Kebetulan banget, saya yang nggak langsung percaya sama tukang parkir, menemukan tempat parkir yang lebih mendekati JNM dibandingkan tadi dengan tempat yang ditawarin sama tukang parkir.
Ada tempat buat makan juga loh, tuh di belakang

Masuk area JNM, mulai liat keramaian. Ya tua ya muda ya tanggung ada semua disini. Pas kebetulan kita sampe di sana, ada Fatin X Factor lagi nyenyong dengan lagu andalannya. Nggak terlalu menarik, karena tinggi panggunggnya cuma 10cm dr lantai, jadi Fatinnya nggak bisa keliatan juga.

Menyusuri jualan yang dijajakan sama penjual di JNM ini. Yang dijual itu makanan, makanan berat maupun ringan. Segala macam jenis makanan lah pokoknya. Pempek, sate padang, sate ayam, lauk dan sayur, sampe keripik, pudding, ada semua di marih. Nasional dan internasional model sosis gitu dijual. Minuman juga gitu, mulai yang bubble tea sampe beer pletok ada dijual. Kita cuma bisa liat-liat aja, secara baru makan juga ya masa' makan lagi... #rakusbener

Selain makanan, di JNM juga ada yang jualan baju alias bahan-bahan sandang lah. Baju anak sampe baju orang dewasa. Baju perempuan dan baju laki. Baju santai dan baju formal. Baju daerah aja yang nggak ada. Baju renang juga ada. Baju jas ujan, pun ada. Komplit banget. Nggak cuma itu, tapi ada juga jualan sprei, sarung bantal, sama bed cover juga ada. Sepatu, kaos kaki, sandal pun ada. Nyahahaa... sebut aja, pasti juga ada!
Background tenda pedagang

Nah, masalah harga nih sekarang. Sepemantauan sepanjang jalan-jalan di JNM, harga yang dijual sama pedagangnya ya harga standard ITC aja kok. Misalnya niyh, baju kaos anak-anak umuran Nares, harganya sekitar Rp 35rb per biji dan beli 3 jadi Rp 100rb. Sangat standard ITC banget. Sepatu dan sandal pun begitu, nggak jauh beda sama harga ITC. Yang kocak nya donk, kita kan beli beer pletok, yang mana produsen itu beer pletok adanya deket rumah mamak mertua daerah Kedoya. Di JNM, harga jual beer pletok yang isi 1 liter, Rp 20rb. Padahal niyh, kalo di rumahnya dijual Rp 15rb aja kok. Beda Rp 5rb doang kalik?! Ya layan lah, beli dua udah bisa dapet 1 liter ndiri kan selisihnya. 

Yang beda di JNM sih ya cara bayarnya aja yang bisa pake Brizzi. Itu loh, kartu debit ala-ala flazz nya bank BCA yang tinggal tap doangan gitu. Bah, kalo harganya mahal sih ya malas juga lah...

Demikian laporan singkat mengenai JNM yang karanya pesta malam rakyat Jakarta. Nyari hiburan lain lagi ah, selain JNM...
Oleh-oleh dari JNM

8.16.2013

BISNIS ITU NAMANYA : EM EL EM

Beneran banget, bercerita adalah hobby saya. Sebenernya sih orang bisa tau apa yang saya maksudkan hanya ketika saya mengemukakan satu kalimat. Tapi kalo kalimat itu udah nyangkut di otak, urusannya jadi panjang. Ada yang namanya analisa, ada yang namanya mencari latar belakang, ada yang namanya efek kedepan, dan lain sebagainya. Nah, postingan kali ini juga begitu. Sebenernya saya cuma mau bilang “Saya nggak tertarik sama yang namanya Multi Level Marketing”, tapi ketika itu nyangkut di otak, ada di list-list yang saya mau ceritakan. Mulai deh, pengen cerita ini itu anu ono ina inu. Dulunya gimana, sekarang gimana, kenapa begitu, kenapa begini, kok bisa ya? Panjaaaaang lah urusannya. Tapi jangan sepanjang jalan toll Cipularang yah, kelamaan bok…

Jadi ceritanya itu, gegara udah beberapa kali diajakin ikutan bisnis MLM alias Multi Level Marketing, tapi saya nggak pernah gabung. Kenapa? Jawabannya adalah karena saya nggak hobby dengan yang namanya marketing. Sadar sih, semua orang pasti mau nggak mau berurusan dengan yang namanya marketing, termasuk salah satunya adalah menjajakan diri kepada suatu perusahaan. Naro biodata di jobsDB, Jobstreet, karir.com, linkedin, itu kan ya masuknya sebagai marketing diri sendiri kan. Tapi kalo untuk urusan marketing yang terkait bisnis tulen, saya kok agak-agak gimana gitu ya join-nya. Minder takut nggak berhasil? Nggak, itu sih namanya pesimis. Tapi apa yang saya rasakan, banyak ada hal-hal yang agak nggak masuk di akal saya (aseli ini menurut pandangan saya).

Duit duit duit euy...


Masih inget kan, beberapa cerita MLM di jaman dulu yang mulainya dari Amway. Amway ini kalo nggak salah jualan produk rumah tangga gitu, ya pokoknya seputar cleaning-cleaning. Amway menghilang, mulai ganti ke CNI yang jualannya produk untuk ngisi rumah dari A sampe Z. Malah ada yang bilang, CNI itu isinya ya kaya’ supermarket aja, cuma ya satu label : CNI. CNI Berjaya banget loh, sampai ada gedung CNI tuh di Puri Indah. Dan akhirnya, sampai akhirnya CNI mulai meredup, terus ganti ke Tiens yang jualannya kebanyakan adalah vitamin atau supplemen kesehatan tapi bukan obat. Yang Tiens ini nggak secemerlang kaya’ CNI. Trus, sekarang yang lagi rame banget itu ya Oriflame. Oriflame sendiri produknya adalah kosmetik-kosmetik perempewong dan lelekong.

Waktu jamannya Amway dan CNI beredar, saya masih dibawah umur 21 tahun, yang mana akhirnya saya jarang banget ditawarin produk-produk itu. Boro-boro ditembak jadi member, orang ditawarin beli produk aja nggak. Ya, belum kerja gitu loh, dong hadong hepeng, lay… Tapi, saya nggak jarang, dengerin bapak ibu dan abang-abang saya diberondong sama member Amway dan CNI untuk jadi member  MLM itu. Mereka dikirimin kaset dan CD beserta buku yang itu semua merupakan tools (atau apa tuh namanya) yang ngasih tau apa itu MLM, apa manfaat MLM dan lain-lain yang pokoknya ngasih gambaran kalo ikut MLM itu pasti baik dan bagus dan menguntungkan.

Ketika saya mulai kerja, saat itu yang lagi jaya-jayanya Tiens. Punya temen yang ketemu di seminar suatu acara asosiasi profesi, trus berlanjut. Eh nggak tau ujung-ujungnya dia ngajakin ikutan gabung ke Tiens. Sampe waktu itu temen saya bela-belain jemput ke kantor, ngajak makan siang. Asem banget pas disuruh beli tiket seharga Rp 50 ribu, yang ternyata isi acaranya motivasi gitu buat member-membernya. Wadda hell event is this.. Hadeuh, mendingan duit segitu buat makan dah, udah kenyang pastinya. Yah, tapi kalo nggak gitu ya nggak dapet pengalaman juga sih. Nah kan pengalaman adalah guru yang paling berharga kan? Nggak bisa dibeli kan? Nah, apalah arti uang Rp 50 ribu untuk membeli sebuah pengalaman. #gaya banget nggak sih bahasa sayah.  Tapi ya nggak ngaruh sih, saya tetep nggak gabung di bisnis MLM itu. Sampe akhirnya, saya memutuskan contact dengan teman saya itu. Ya, bukan mau mutusin tali silaturahmi yang emang dosa sih, kalo diputus secara sengaja, tapi kan ya, kalo cuma ditelpon atau ditanyain kabar yang ujung-ujungnya saya disuruh ikutan MLM, ya mending mundur perlahan aja degh….

Setelah menikah, ternyata system MLM ini masih berjalan yah. Ini terbukti banget dengan adanya temen suami saya yang memberikan kepada suami saya itu “seperangkat alat jualan”. Hihihi, nggak jauh beda dengan apa yang ada di benak saya, suami ya males juga sih sama yang namanya MLM. Komentar dia sih nggak banyak, “males akh…” gitu doang. Ahahaha, orang rajin model suami saya aja bilang males, apa kabarnya si neng Mona yah? Palingan juga yuk dadah gudbay.

Nah, belum lama ini, ada lagi sahabat saya yang nawarin bisnis MLM itu (lagi). Kali ini yang ditawarin adallah Oriflame. Karena nggak enak, akhirnya mencoba isi form pendaftaran sebelum proses yang terakhir yaitu transfer uangnya. Tapi ya, walaupun udah isi form, kok transfernya males banget degh. Padahal saya udah dikejar-kejar disuruh transfer. Nggak mahal kok cuma Rp 50 ribu kurang dikit. Tapi ya, namapun belum kepengen dan belum sreg, jadi males aja gitu nransfer segitu. Pelit? Kaya’nya sih bukan sih. Tapi ini lebih kepada komitmen. Buat apa ikutan kalo nggak yakin. Itu intinya. Nggak yakin kenapa? Emang nggak sreg aja. Dan saya emang nggak mau kalo ngerjain sesuatu itu nggak tuntas alias nggak serius. Ketika mau ngerjain sesuatu, ya serius. Nggak serius, mending nggak usah sekalian. Just for fun? Mending fun beneran degh. Itu emang karakter saya.

Berbisnis MLM ini mungkin memang mudah bagi sebagian orang, tapi saya tidak. Jiwa saya nggak pada marketing. Kalau boleh disuruh milih antara produksi dan marketing, walaupun mungkin orang produksi penghasilannya nggak seberapa ketimbang orang marketing, tapi saya milih untuk jadi orang produksi. Nggak pengen kaya? Akh, rejeki udah ada yang ngatur. Allah Maha Adil. Yang penting kita usaha, insyaaAllah ada jalannya. Aamiin. Nggak tergiur sama penghasilan-penghasilan yang bisa didapet dari bisnis MLM? Yahilah, kan rejeki dari Allah, datang bisa darimana saja, asalkan kita berusaha bersungguh-sungguh. Ya kalo nggak cocok, ya masa’ mau dipaksain? #eh nggak ada juga sih yang maksain, hihihi…

Tapi aseli ya, apakah ini sifat keturunan genetic atau apa, makanya saya pun nggak sreg sama bisnis MLM itu. Bapak ibu saya nggak pernah tertarik dengan konsep MLM. Kakak-kakak saya juga nggak pernah gabung dengan bisnis MLM. Sekarang saya, pun nggak sreg sama bisnis itu. Wedeeeh, ini ya namanya gambreng yeee, lima-limanya nggak ada yang berbakat ngejalanin bisnis gituan.

Macam-macam MLM yang saya tau...

Entah apa yang ada di pikiran saya mengenai bisnis MLM itu. Tapi yang jelas, saya berfikir bahwa…

Ngikutin bisnis itu harus tega nggak tega sama temen sendiri. Ini maksudnya adalah, kadang temen pun dijadikan sasaran tembak. Nah, yang nggak saya sependapat disini adalah, karena bisnis MLM itu ya, temennya dijadikan korban. Pasti ngajak temennya ikutan gabung, biar diri kita dapet bonus. Bukannya niat mbantuin temen, tapi justru niatnya besar ke pribadi sendiri alias Cuma nguntungin diri sendiri. Lah gimana nggak, coba deh, pasti kebanyakan yang ikutan MLM, trus mau narik member lain, niatnya biar dirinya sendiri selamat dari target marketingnya. Jarang banget kan, yang niatnya emang mau bantuin temennya itu…

Di bisnis itu ya, menurut saya kita disuruh (baca : setengah maksa) untuk beli produk perusahaan itu. Yang core bisnis di jualan supplemen, ya beli supplemen. Yang core bisnis di jualan produk rumah tangga, ya beli deh tuh sabun, odol, karbol, endebreh-endebreh. Yang core bisnis di jualan produk kecantikan, ya beli deh tuh segala peralatan dan perabotan lenong. Nah, kali aja ada gitu, yang core bisnisnya spare part mobil atau gadget, pengen banget saya gabung. Hihihiii…

Member-member yang mendewakan bonus dari apa kerja kerasnya. Eh kenapa pula dibilang bonus? Kan si member itu kerja keras, tandanya emang dibayar donk, sama perusahaan. Itu sih semua orang juga lumrah banget kalau begitu adanya. Yang kerja di kantoran juga kadang dapet bonus donk, sama kan? Jadi, apa kelebihannya dink bisnis MLM itu?

Salah satu kelebihannya adalah sepertinya memang waktu kerjanya nggak seterikat kaya’ orang kantoran. Tapi jangan salah, kalo orang kantor jam kerjanya biasa dari eight to five, ini MLM bisa eight to eight kali ya, malah bisa lebih lama. Bisa jadi loh. Nah, belum lagi yang ceritanya adalah kalo lagi ada training Sabtu atau hari libur, blah kapan waktu sama keluarganya? Apa kabarnya yang disuruh e-training after office hour ya? Pulang kerja, di rumah malah sibuk sama bisnis MLMnya ketimbang sama anak-anak dan suami atau istri. (disclaimer : ini menurut saya yah).

Diimingi bonus yang membludak dengan sharing pengalaman si member A dapet mobil BMW bulan ini, si B dapet pesiar ke luar negeri, dan si C dapet emas batangan sekian gram. Iming-iming bonus itu menurut saya terlalu dibesar-besarkan. Tapi saya yuakin buanget kalo imingan bonus itu untuk narik member yang lain biar tergiur. Maafkan, saya belum (dan sepertinya tidak akan) tergiur untuk memulainya. Yah, maklum saja,  masih percaya bahwasanya adalah “kalau emang rejeki, nggak bakalan lari”. Balik lagi, yang penting usaha maksimal. Nah, urusan usahanya dimana, ya itu balik lagi sama pemilihan seseorang. Masing-masing orang punya pilihan kan…

Nah jadi ya…, mohon maaf banget buat yang suka nawarin saya berbisnis MLM, sampai saat ini saya belum berhasil untuk bergabung dengan bisnis MLM. Mungkin kalau saya nanti suatu saat saya berubah pikiran atau gimana-gimana, baru bisa bergabung. Mungkin yeee…

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post