2.22.2012

MISOA SKOTEL

Lagi kesambet setan masak, makanya belajar bikin cemilan ini itu anu. Tapi masaknya masak cemilan yah. Bukan masak makanan yang berat-berat untuk lauk nasi. Kalo yang itu sih mati gaya dah! Ampuuun.

Nah, kemaren ini nyobain bikin misoa skotel. Resep aslinya dari mba Dini, kakak iparku yang tinggal di Cibinong, yang jago masak! Cuma yang saya bikin ini udah dikit-dikit di modif biar unyu aja. Misalnya, tambahan jagung manis, wortel, smoked beef, keju, jamur. Nah kan, bahannya segambreng...

Neh, penampakannya ya pemirsah!

Tampak utuh


Tampak yang sudah terpotong

Nah... kata si bapak mah, ini enak! Yah, nggak tau bener nggak tau cuma muji bininya negh yah! Tapi sih setelah saya cobain sendiri, ternyata memang enak! Manisnya dai jagung, gurihnya dari susu dan keju. berasa gigitannya pas makan jamur-nya. Wahaaa... berhasil! Senangnya!

Resepnya neh...
Bahan:
- Misoa, 1 bungkus, masak sampe matang, tiriskan
- Jamur merang, 5 buah, potong halus
- Smoked beef, 2 lembar, potong kecil-kecil
- Wortel, suka-suka, serut kasar
- Jagung manis, setengah buah, pipil
- Butter, 1 sendok makan, cairkan
- Bawang bombay, sesukanya, cincang halus (tumis sama butter)
- Susu UHT, 100ml
- Keju cheddar, sesukanya, parut halus
- Telur ayam, 3 butir, kocok halus
- Garam merica, secukupnya

Bikinnya:
- Campur semua bahan jadi 1 adonan. Aduk rata serata-ratanya.
- Kukus sampai matang dan dinginkan
- Kalau udah dingin, potong sesuai selera. Balurkan telur, kemudian tepung panir. Goreng sampe agak kecoklatan yeee...



Hmmm, besok bikin apa lagi ya? Kalo udah bisa begini, sepertinya sudah bisa bikin nugget negh! ganti misonya pake tepung panir. Pake udang lebih gurih. Whokey, next session dah! Cukup senang dengan hasil yang ini... ;)

GIZI SEIMBANG BUAT PERTUMBUHAN BABY


Minggu tanggal 19 Feb 2012 saya berkesempatan ikutan kelasnya milis Mamaku Koki Handal yang mengupas tentang gizi anak di 1000 hari pertama. Aseli degh, pengen banget ikutan kelas singkat ini. Kenapa? Soalnya pengen tau, bagaimana mengatur gizi yang baik buat Nares. Apakah selama ini makannya Nares udah bener atau masih perlu perbaikan? Nah, daftar deh saya, melalui milis mpasiumahan yang di moderator-in sama mba Dian Prima as known as mba Depe. Udah daftar, trus konfirmasi dan bayar deh. Alhamdulillaaah, si bapak keceh bayarin saya ikutan kelas ini.

Okey, di sini saya mau share beberapa ilmu yang baru saya ketahuin lho, dari Ibu Maria Phan, sang pemateri di kelas ini. Bu Maria bekerja pada badan pangan dunia dan sudah keliling belahan dunia mana saja untuk melihat gizi bayi dan anak di seluruh penjuru dunia. Yang namanya negara entah berantah pun sudah dijajaki sama bu Maria lho. Pernah kok, cerita beliau, dirinya melakukan research ke tempat yang benar-benar sulit untuk dijangkau. Pokoknya akses itu benar-benar tertutup. Sampai-sampai, listrik pun belum masuk. Nah, dengan kondisi yang sulit begitu, makanya distribusi makanan juga susah. Penduduk setempat hanya bisa mengandalkan bahan-bahan yang ada di sekitarnya yang pastinya amat sangat terbatas. Nah, makanya dari itu banyak bayi-bayi yang kekurangan gizi *mulai mewek Makanya, buat kita yang hidup di kota dengan segala ada bahan makanan ada, harus memanfaatkan semaksimal mungkin itu bahan-bahan makanan. Mumpung mudah didapat, ada rejeki, makanya maksimalkan lagh gizi anak kita!

Yuks, lanjut di bawah ini ya share-nya...


Poin 1 – Kapan masa penting pemberian nutrisi kepada anak?

Pada tau nggak, kalo ternyata pemberian nutrisi pada anak itu sebenernya harus sudah dimulai pada masa awal-awal kehamilan lho. Bukan pada saat lahir ternyata, apalagi dari pas mulai MPASI. Got the point kan?  Yups, hamil berarti harus makan bergizi seimbang. Jadi, begitu terjadinya pembuahan di sel telur, itu adalah awal pemberian nutrisi kepada anak. Nah, jangan salah, ternyata di masa hamil ini, nutrisi yang masuk ke baby itu yang menentukan nanti baby-nya bakalah cukup gizi atau nggak pas si baby lahir. Makanya, si ibu pas hamil itu harus makan yang bergizi tinggi. Kalo mual gimana? Trus sampe muntah-muntah? “Ya harus dimasukin lagi setelah muntah. Jenis makanan kan banyak. Coba cari yang ngga bikin mual”, begitu kira-kira penjelasan dari bu Maria. So ladies calon emak atau yang mau hamdun lagi, ayo masupin makanannya yang bergizi tinggi yah, buat si baby kita, bukan buat kita. Jadi, kalo kita nggak makan, yang dipikirin adalah, “baby kita makan apa, kalo kita nggak makan?”.

BBLR (berat badan lahir rendah) pada bayi, sebisa mungkin harus dihindari. Nah, makanya disini penting sekali peranan ibu untuk memberikan gizi yang terbaik buat si baby. Ya karena ternyata memang anak kita butuh asupan gizi dari apa yang kita makan. Jadiii, buat bumil ayo makan yang banyak dan bergizi ya! Buat yang mau hamil pun, ternyata harus makan makanan yang bergizi juga lho.


Poin 2 – Berat dan Tinggi badan anak

Sepertinya sudah barang yang tidak langka lagi, ketika kesehatan anak diukur dari timbangan badannya saja. Baru tau banget ketika ikutan kelas kece ini, ternyata untuk mengukur pertumbuhan si anak, nggak hanya dilihat dari berat badannya saja lho. Tapi juga dari tinggi badan anak. Sempet bingung juga sih tentang tinggi badan ini, secara di benak saya itu kalo masalah tinggi badan ya banyaknya dipengaruhi sama faktor keturunan (genetik). Kalo ibunya bapaknya pendek, ya anaknya cenderung pendek juga. Ternyata paradigma itu ya sama sekali nggak bisa diterima mentah-mentah. Bu Maria menjelaskan, bahwa tinggi anak itu sangat tergantung ya dari gizi dan makanan yang dimakannya. Faktor genetik memang mempengaruhi, tapi ternyata itu sangat sedikit. Nah, ada mama kece di kelas ini yang share pengalaman pribadinya, katanya ada temennya dimana orang tuanya pendek, tapi anaknya bisa tinggi. Hal itu ternyata karena si orang tua selalu memberikan makanan yang bergizi tinggi buat anaknya. Waaah, begitu toh! Hmmm, ya ya ya, pantesan aja mas-mas saya tingginya diatas 175cm semua, soalnya waktu kecil mungkin makanannya bergizi seimbang semua yah...

Kalo saya sendiri berfikir, dengan tinggi badan 166cm ini ya memang karena bapak saya agak tinggi. Nah, kakek dari pihak ibu saya, itu tinggi juga. Eyang putri pun terhitung tinggi untuk seukuran perempuan di desanya. Jadi saya ngga pernah berfikir kalau ternyata tinggi itu berpengaruh banyak dari makanan yang masuk ke badan kita. Lah wong saya sebelum masa pubertas itu tingginya nggak seberapa kok, bila dibandingkan dengan teman-teman perempuan yang lain. Nah, begitu masuk masa puber, makan menggila (udah kaya’ buto jowo yang segala macam dimakan, sampe-sampe kalo makan instant noodle aja harus 2 pak #kebanyakan MSG, wkwkwk...). Akhirnya bener yah, tinggi badan saya kaya ditiup angin. Bet bet bet... ngacir! Ooo, begitu tho. Ternyata kalo makan yang bergizi tinggi, badan kita bertambah tingginya.

Bu Maria melanjutkan materi yang sudah ada di slide show. Beliau bercerita kalau ternyata, menaikkan tinggi badan itu tidak semudah menambah berat badan lho. Banyak yang berhasil untuk naikin berat badan baby-nya, tapi untuk meninggikan badannya, masih belum banyak yang berhasil. Makanya dari itu, kita perlu usaha ekstra untuk meninggikan berat badan anak kita. Nah, gimana biar tinggi badan anak kita bisa menyesuaikan dengan standard tinggi badan WHO? Ya ternyata harus makan yang bergizi seimbang.


Poin 3 – Makanan Bergizi Seimbang

Ternyata 4 sehat 5 sempurna itu udah nggak dipake lagi yah? Setelah melakukan research dan pengembangan-pengembangan ilmu dari mana-mana, sekarang yang dibutuhkan itu adalah Gizi Seimbang. Pake piramida makanan itu lho. Jadi, diawali dengan karbohidrat, sayur mayur, protein hewani dan protein nabati, buah dan produk susu. Nah, ini yang dipake sekarang buat memperbaiki gizi anak-anak. Ya, secara konsep sih sepertinya material makanan yang dipake ya sama. Hanya di piramida gizi seimbang ini ternyata ada air putih 8 gelas.

Di piramida makanan gizi seimbang ini juga, ternyata masing-masing golongan makanan memiliki tugas masing-masing di dalam tubuh kita. Karbohidrat adalah sebagai zat tenaga. Sayur dan buah adalah zat pembangun. Protein hewani sebagai zat pengatur. Nah, komposisi makanan itu lah yang digunakan untuk menunjang nutrisi pertumbuhan anak. Makanya, harus seimbang tuh semua komposisi, biar mereka menjadi satu kesatuan yang kuat. Nggak bisa hanya mengandalkan salah satu zat dari mereka. Misalnya, hanya banyak makan buah atau sayur. Okey mungkin kalo buat orang dewasa, buat yang diet karbohidrat. Tapi untuk bayi, abaikan peraturan tersebut. Karena masa-masa bayi itu membutuhkan nutrisi yang sangat tepat.

Apa saja sih makanan yang ada di piramida gizi seimbang ini?


Piramida gizi seimbang (doc. medicastore)
a. Karbohidrat :
(nasi, ubi, kentang, gandum),
b. Sayur mayur 
(segala jenis sayur),
c. Protein hewani dan nabati 
(daging, ikan, ayam, kedelai, kacang hijau, kacang-kacangan),
d. Minyak-minyak
(evoo, eloo, canola oil)
e. Air putih


Di Amerika sendiri, sekarang mereka menerapkan "my plate" ini untuk acuan makanan gizi seimbang. Jadi, di piringnya mereka itu harus ada serealia, protein, buah, sayur, dan susu di gelas. Tuh liat, komposisinya juga jelas kan? Serealia dan sayurannya besarnya sama. Sementara protein dan buah besarannya juga sama.

Komposisi Gizi Seimbang "My Plate" (doc.  nouurishactive)

Nah, bu Maria juga menjelaskan dengan contoh bagaimana mengatur komposisi gizi seimbang buat nutrisi bayi kita. Ternyata, di dalam sehari makan itu ada harus terdiri dari beberapa macam komponen yang ada di piramida gizi seimbang. Ya nasi, kacang-kacangan, sayuran, telur, daging, buah, minyak. Wah, seru banget! Ini ilmu yang baru saya dapatkan, ternyata dalam sehari daging yang dibutuhkan itu kira-kira sebesar kotak korek api. Pantesan, Nares agak susah naek berat badannya. Soalnya protein hewani yang saya kasih ternyata kurang banyak. Haish, payah beud dah emanknya Nares! Trus minyak-minyak juga kurang. Emang sih, Nares tiap pagi saya kasih EVOO (Extra Virgin Olive Oil), tapi ternyata ya masih kurang. Baiklah, akan diaplikasikan  sepulangnya dari short course ini!

Yang nggak kalah pentingnya itu ternyata karbohidrat! So that's why better perdana MPASI itu dimulai dengan serealia, which is serealia itu mengandung banyak zat tenaga! Iya donk, baby itu butuh tenaga yang banyak, buat maen, buat mikir, buat bikin hati emak bapaknya senang! Hohohooo, bersyukurlah, Nares kena MPASI perdananya pake tepung beras. 

  
Poin 4 – Mengukur pertumbuhan anak dengan aplikasi Athro dari WHO

Ternyata WHO sudah membuat aplikasi khusus untuk mengukur pertumbuhan anak bayi lho. Namanya WHO Anthro. Tinggal masukin data-data anak kita, nanti software itu langsung mengitung pertumbuhan anak kita, apakah sesuai standard WHO atau lebih atau bisa juga kurang. Udah pernah sih, download dari link yang pernah dikasih di milis AFB, tapi nggak ngerti cara bacanya. Walaupun udah ada panduannya, tapi kok ya masih oon sayah. Untung aja pas di kelas ini, Bu Maria menjelaskan bagaimana cara membaca aplikasi ini.

Tampilan awal software WHO Anthro

Sampai di rumah, langsung degh, intip catatan penambahan berat badannya Nares dan tinggi badannya juga. Yah, bersyukur banget. Ternyata pertumbuhan dek Nares masih dalam “lampu hijau semua”. Walaupun nggak banyak, tapi yang penting hijau yah. Ada yang kurang-kurang sedikit, angkanya “-0.xx” Tak apalah, nanti dikejar lagi dengan makanannya. Makan sehat gizi seimbang dan pastinya buatan sendiri dari rumah! Yeaaa... Saya pun menyempatkan email sama bu Maria mengenai perkembangan Nares. Kata bu Maria, sudah bagus sih kalau “hijau” semua, kekurangannya (biar nggak “-0.xx”), masih bisa dikejar. Baiklah, kejar ya nak... brooom tot tooottt...

Nah, buat yang mau download software WHO Anthro, bisa dari sini ya. Mudah-mudahan bisa terpakai untuk memantau pertumbuhan fisik anak. Apalagi buat yang concern sama berat badan anak. Yah, seperti saya ini lah contohnya. Selalu khawatir berat badan anak kurang. Ya emang iye sih, berat badan Nares itu termasuk yang amat sangat standard. Nggak kurang, tapi ya standard! Makanya, harus kerja keras nih emaknya, biar berat badan Nares naek! At least saya berbuat yang terbaik buat anak saya, betol tidak pemirsah?


Nah, ternyata bener lho, setelah praktek, saya banyakin protein hewani untuk makanan Nares, berat badan Nares ya langsung naek! Before praktek 8.7kg dan after praktek 9.2kg. Hanya dalam jangka waktu 4 hari! Amazed! Tapi ya nggak mungkin juga mau naek banyak-banyak banget kali ya? Asal nggak minus, itu udah satu point tambah buat eikeh....

Ukuran WHO Anthro Nares, sebelum nambah protein hewani (liat kotak hjau yang deret kiri)
Ukuran WHO Anthro Nares, setelah nambah protein hewani (liat kotak hjau yang deret kiri) 


Poin 5 – Pertumbuhan Kualitas Anak

Abis digempur abis-abisan masalah pergizian anak, bu Maria juga inform ke kita peserta kelas, bahwa pertumbuhan anak itu nggak serta merta dari makanan yang bergizi seimbang saja, tapi kita orang tuany harus memperhatikan kualitas pertumbuhan anak. Misalnya, anak harus sering diajak ngobrol, ditatap matanya, diajakin baca doa bersama, diajarin baca buku, pokoknya quality time with kiddos lah. Jangan dipikir karena anaknya masih belum genap setahun maka mereka nggak ngerti apa yang disampaikan ortu yah. Hmmm, ternyata baby ngerti lho, apa yang orang tuanya mauin dan maksudkan. Yah, emang sih kadang nggak habis pikir liat pertumbuhan baby. Masih mungil gitu kok bisa makan, kok ngerti handphone itu bunyi, kok tau bapak ibunya datang, kok paham orang yang nggak dia sukain. Nah, makanya itu, kita sebagai orang tua harus ngajarin yang bener-bener buat baby kita.

So parents and parents to be, jagalah asupan nutrisi anak kita. Karena, nutrisi itu menentukan kesehatan anak kita. Senangnya berbagi... :-) 

2.09.2012

KISAH ERWIN - Bagian 1


Masih inget kan, cerita tentang Erwin? Teman saya yang nggak bisa melihat dengan jelas? Kalo lupa atau belum tau, coba intip ini ya, mudah-mudahan bisa refresh sedikit. Yuks akh, lanjut lagi cerita tentang Erwin.

Karena udah pada galang dana kesana kemari untuk Erwin, maka di minggu awal penggalangan dana tersebut, akhirnya diputuskan untuk melihat kondisi Erwin. Berdasarkan kesepakatan teman-teman alumni SMP, akhirnya dipilihlah hari Sabtu untuk berkunjung ke rumah Erwin. Iya pastinya hari Sabtu, karena kalau di hari kerja, pasti nggak ada yang bisa. Termasuk saya pun, sepertinya tak bisa. Okey, Sabtu pagi, sekitar pukul 09.00 pagi, titik kumpul di SMPN 219 Joglo. Ada beberapa teman di group yang sudah mengkonfirmasikan kebersediaannya untuk ikut ke rumah Erwin. Namun ada beberapa juga yang mengkonfirmasi bahwa dirinya tak bisa hadir. Yah, tak apalah, mengerti kok saya. Mungkin ada acara lain yang lebih penting dan sudah direncanakan dari jauh-jauh hari.

Di hari Sabtu pagi tersebut, hujan turun lama dan cukup lebat. Namun walau hujan pun, niat yang sudah dikobarkan tak akan dipadamkan lagi (haeish, bahasanya enak bener yak?). Jam 09.30, saya pun masih terjebak di kemacetan di daerah sekitar Permata Hijau. “Sabar ya temans, maaf saya baru sampai di Permata Hijau. Macet”, begitu kira-kira bbm saya kepada teman-teman di chatgroup teman-teman SMPN 219. Dan akhirnya, sekitar pukul 09.30 saya pun tiba di titik kumpul, yaitu SMPN 219. Akhirnya, setelah sekitar 10 tahun tidak melihat langsung sekolah ini, di hari tersebut, bisa juga saya melihatnya kembali. Saat itu di titik kumpul sudah ada Dwi dan Rieka. Ibu dan calon ibu ini, sudah menunggu dengan setianya. Tampak pun Hadi belum ada, begitu juga dengan Gina. Tak selang beberapa lama, Hadi dan Gina pun hadir. Baiklah, kalau begitu, tinggal menunggu Umar. Hujan pun masih belum berhenti. Sembari menunggu Umar dan hujan reda, kami yang sudah datang terlebih dahulu sempat bernostalgia di sekolah ini.

Wohooo, 16 tahun sudah meninggalkan sekolah dan kini kami disini. Untuk saya sendiri, langsung lah semua kenangan yang pernah terjadi di saat saya sekolah di sini, bangkit dari kuburnya. Hahahaaa, mulai dari tukang jajanan, sampai dengan pembahasan guru-guru. Okey, saya nggak mau bahas lebih lanjut ya, mengenai yang terjadi di masa lalu (siapa juga yang mau baca, ya Mona...?).

Setelah semuanya kumpul, tibalah saatnya berangkat. Hadi, Gina, Dwi (beserta putrinya, Rara), Rieka, Umar, Ahmad (beserta istri dan anak) menuju ke rumah Erwin. Menyusul kemudian Kurniati, yang langsung menuju ke rumah Erwin. 1 mobil dan 3 motor, dengan niat baik yang tulus dan ikhlas, berangkat menuju rumah Erwin. Tentu saja, Hadi sebagai pemimpin rombongan kunjungan. Bismillah...

Lokasi rumah Erwin kini ternyata di dekat menara stasiun televisi ANTV, daerah Meruya. Sepengetahuan saya, dulu itu rumah Erwin di sekitar perumahan Puri Beta, Joglo. Ternyata, setelah menikah dengan istrinya, Erwin tinggal di rumah yang kami kunjungi ini.

Baiklah, lanjut ke kisah Erwin.

Rumah yang berukuran kurang lebih 2.5meter x 6meter ini ternyata milik orang tua istri Erwin yang memang dipinjamkan kepada Erwin, istri dan anaknya. Rumah tanpa halaman, bercat putih dan berada di gang yang hanya bisa dilalui oleh motor inilah, tempat Erwin dan keluarganya berteduh dari panasnya matahari dan dinginnya malam. Yah, kecil memang, bahkan bila dibandingkan dengan garasi mobil ukuran standard pun, masih leih besar garasi mobil. Tapi setidaknya rumah ini bisa melindungi Erwin dan keluarga dari segala gangguan yang ada. Begitu masuk ke rumahnya, terlihat jelas jejeran galon air di ruang tamu. Sesuai dengan pekerjaan Erwin, sebagai karyawan di perusahaan air isi ulang galon, maka di rumahnya pun terdapat galon-galon tersebut. Tak disangkal, di depan rumah Erwin pun tertera “Sedia Air Galon”.

Di depan rumah Erwin (1)

Di depan rumah Erwin (2)
Akhirnya, ketemua juga sama Erwin. Mukanya sih nggak banyak berubah. Heheee, emang mau kaya’ gimana lagi ya? Erwin ya tetep Erwin, gitu lho... Huhuuu, sempet speechless juga sih, begitu ketemu Erwin. Teman lama, setelah 16 tahun nggak ketemu, akhirnya ketemu lagi.  Okey, kita semua yang hadir di situ, membaur menjadi satu. Saling menanyakan kabar, saling bertukar nomor handphone, pin BB, ID facebook, dan lain-lain yang bisa dibagikan lah. Secara emang ngasih nomor juga gratis kan?

Mulai lah, pembicaraan dengan Erwin. Mulai dari tanya kabar, latar belakang kenapa bisa matanya seperti itu, sampai ke permasalahan berobat. Yah, satu persatu diantara teman yang hadir disitu saling sambut menyambut pertanyaan.

Diawali dengan pembicaraan mengenai mata Erwin. Ternyata, Erwin sudah merasakan gejala yang sangat mengganggu penglihatannya tersebut. Erwin memang berkaca mata semenjak SMP. Namun sekitar di awal Januari 2012, Erwin merasa ada yang semakin tidak beres pada mata kirinya. Berawal dari Erwin tidak bisa melihat lingkaran. Bentuk lingkaran yang dilihatnya, tidak lingkaran lagi, tapi sudah menjadi oval alias lonjong. Sudahlah minus tinggi, tambah lagi nggak bisa lihat bentuk dengan sempurna. Nggak kebayang ya, mata kanan Erwin itu minus 13 dan yang kiri minus 14. Hadeeeuuuh, saya yang minus 3.75 aja udah rempong. Tau nggak, saat ini ternyata Erwin memakai kacamata keponakannya yang berminus 9? Erwin belum bisa pakai kaca mata yang sesuai dengan minus-nya dikarenakan harga lensa untuk ukuran mata Erwin, ya memang mahal. Yah, lensa kacamata kan emang gitu, semakin tinggi minus-nya, maka akan semakin tinggi pula harganya. Pasti nggak enak degh, kalo pake kaca mata yang nggak sesuai ukurannya sama mata kita. Aseli degh, itu mata kaya’ kerja rodi. Beraaat, berat kerjanya mata kita.

Nah, karena ada keluhan tersebut, akhirnya ya Erwin datang ke Klinik Mata Mayestik untuk memeriksakan kondisi matanya. Menurut dr. Isfahani, dokter yang memeriksa Erwin, ternyata ada syaraf mata Erwin yang terlepas. Jalan satu-satunya adalah Erwin memang harus dioperasi. Yah, begitu mendengar kata-kata operasi, Erwin pun sempat merasa ‘down’. Pasti ujung-ujungnya tak lain dan tidak bukan adalah karena masalah biaya. Untuk biaya operasi yang sekitar 12 juta, sudah dapat dipastikan tidak akan terpenuhi. “Gw sih ya pasrah deh, terima nasib begini. Abis mau gimana ya, Mon, biayanya besar banget. Sedangkan penghasilan gw cuma dari anterin air galon ini”, begitu cerita kepasrahan Erwin dengan saya. Sambil nepuk pundak Erwin, sambil ngomong, “Sabar ya Win...” *senyum. Dokter yang memeriksakan mata Erwin, sempat menyarankan Erwin untuk tidak bekerja yang berat-berat. Termasuk di dalamnya adalah kerja sebagai penganter botol galon isi ulang. Namun apa daya, Erwin belum berkesempatan mendapat pekerjaan lain. Erwin pun sempat menunjukkan surat dari dokter mengenai penyakitnya. Tapi pun saya tak mengerti.

Surat dari dokter mata Erwin
Tanpa tersadar, Erwin melanjutkan cerita tentang pekerjaannya sehari-hari kepada kami. Yak, dari pekerjaan sehari-hari Erwin mengantarkan air isi ulang di sekitar perumahan Larangan Indah, Ciledug dan Komplek DKI Joglo, Jakara Barat, ternyata Erwin diupah Rp 1,000 untuk setiap galonnya. Setiap hari, kira-kira ada 50-60 galon yang bisa diantarnya. Berarti, dalam sehari Erwin bisa mendapatkan sekitar Rp 50,000 – Rp 60,000. Iya, itu kalau Erwin sendiri yang bekerja. Tapi kalau ada dua orang yang bekerja, berarti ya penghasilan Erwin hanya separuh dari hasil maksimum yang bisa dicapai. Serba salah memang sepertinya. Kalau dikerjakan sendiri, memang pendapatannya bisa maksimum, tapi badan pasti kerja keras. Kalau dikerjakan berdua, badan tidak kerja keras memang, tapi penghasilan hanya separuhnya. Yah, tapi belum ada pilihan lain untuk Erwin, selain bekerja di tempat isi ulang air tersebut. Kebayang kan, dari penghasilan perhari tersebut, betapa beratnya Erwin untuk membiaya pengobatan matanya.  Mungkin pun untuk biaya kehidupan sehari-hari hanya bisa secukupnya. Terlebih, istri Erwin, hanya seorang ibu rumah tangga.

Tak beberapa lama setelah kita berbincang di ruang depan rumah Erwin, anak Erwin satu-satunya, pun keluar dari dalam kamar. Si bocah kecil langsung duduk santai dipangku oleh ayahnya, Erwin. Saya pun menyempatkan berbincang santai dengan bocah tersebut.
 “Namanya siapa, mas?”
“Santo”
“Udah sekolah?”
“Udah”
“Kelas berapa?”
“TK”
“Emang umurnya berapa?”
“6 tahun” sambil dirinya mendirikan jari berjumlah 6

Erwin pun memotong pembicaraan kami, sambil melanjutkan kisahnya. *take a deep breath siap-siap buat baca kelanjutannya yah, pasti readers akan terenyuh seperti saya.

Erwin bercerita, untuk biaya sekolah (TK) Santo, sebulan menghabiskan sekitar Rp 150,000. Uang sebesar itu adalah untuk biaya Taman Kanak-kanak dan biaya belajar mengaji-nya. Lokasi Santo belajar pun dekat dengan rumah Erwin, supaya tidak memakan biaya transport lagi sepertinya. Hanya perlu berjalan kaki untuk mencapai sekolahnya. Seketika Erwin menangis, menitikkan airmatanya. Saya pun terdiam. Speechless. “Yang saya pikirkan hanya anak ini. Santo. Saya harus berjuang buat Santo. Biarpun saya susah, Santo nggak boleh putus sekolah. Santo harus sekolah tinggi, nggak kaya’ saya”, begitu ucap Erwin dengan nada yang terbata-bata. Nggak tega juga sih ya, saya ngeliat Erwin nangis begitu. Terenyuh banget. Erwin, walaupun hidup pas-pasan, tapi bersemangat untuk menyekolahkan anakknya. “Tahun ini Santo masuk SD, makanya saya harus kerja keras biar Santo bisa sekolah”, lanjut Erwin. Well, Cuma bisa kasih semangat buat Erwin, semoga cita-cita Erwin buat menyekolahkan Santo bisa terlaksana.

Setelah Erwin selesai menceritakan kondisinya, akhirnya kami pun menyampaikan tujuan dan maksud berkunjung ke rumah Erwin. Saya, sedikit memulai pembicaraan tersebut, sampai pada akhirnya rekan-rekan semua yang berkunjung ke rumah Erwin saling menambahkan maksud dan tujuan kedatangan tersebut. Termasuk di dalam pembicaraan tersebut juga adalah supaya Erwin tidak salah paham dengan maksud penggalangan dana ini. Tidak kalahnya juga dengan dukungan moril kepada Erwin, supaya Erwin bisa berobat sampai tuntas dan bisa beraktivitas seperti semula. Mudah-mudahan dengan niat yang tulus ini, semua proses dan jalan diberikan kemudahan oleh Allah, SWT. Aamiin. Kami semua disana, termasuk teman-teman yang tidak bisa hadir, menginginkan kesembuhan mata Erwin, agar dirinya bisa melihat kembali dengan sebaik mungkin.

Setelah Erwin dapat bernafas sedikit lega mengenai bantuan dari rekan-rekan dan kerabat maupun ada beberapa yang tidak mengenal dirinya, Erwin kembali resah. “Tapi gimana kerjaan nanti ya? Kan saya juga harus bekerja, tapi kalau harus anter dan angkat galon kembali, gimana nanti mata saya?”, pertanyaan terlontar dari Erwin. Kembali, kami semua disitu menyemangati Erwin. “Tenang Win, ini dulu disembuhkan. Nanti kalau sudah sembuh, baru kita bicarakan lagi, mengenai pekerjaan dan masa depan. Tapi matanya biar diobatin dulu ya...”, salah satu dari kami berujar demikian. Yah, memang tidak dapat disangkal, dimana-mana, pasti pancingan lebih dibutuhkan daripada memberikan seekor ikan. Tapi saya yakin, Allah Maha Segala-galanya, diriNya akan memberikan jalan keluar yang baik dan terbaik untuk Erwin.

Diujung pembicaraan, kami mendiskusikan beberapa hal yang perlu ditempuh oleh Erwin dalam rangka pengobatan matanya tersebut. Mulai dari periksa kembali ke dokter, urus surat-surat yang penting dari pejabat setempat, dan lain-lainnya. Tapi pada intinya, kami dari rekan-rekan Erwin, peduli dengan kesehatannya.

Erwin dan keluarga
Rasa hangatnya kebersamaan sangat terasa diruangan yang kecil tersebut. Walaupun kami sudah berpisah sekolah selama hampir 16 tahun, tapi pada saat kami berkumpul, seperti tidak ada waktu yang memisahkan. Syukurlah, saya mempunyai teman yang masih peduli dengan teman lama. Masih sangat peduli dengan rekan kecil.

Setelah 90 menit kami larut dalam pembicaraan, tiba kini saat kami berpamitan setelah sebelumnya kami menyempatkan berfoto dengan keluarga Erwin. Hari itu hari Sabtu, masih banyak mungkin keperluan yang harus dipenuhi oleh kami semua karena di hari kerja tidak sempat melakukannya. Satu persatu berpamitan kepada Erwin, sambil tak lupa memberi semangat kepada Erwin.

This is it, setelah belasan tahun terpisah
Readers, dari pertemuan saya bersama dengan rekan-rekan alumni seangkatan bersama Erwin, saya sedikit bisa mengambil pelajaran hidup yang amat sangat berguna. Teman ternyata tidak hanya sekedar teman, tapi teman adalah saudara. Bayangkan, Erwin yang “hanya” teman kami semasa SMP, tapi kita bisa kembali erat. Maka dari itu, benar sepertinya pepatah yang pernah disampaikan kepada saya melalu bapak saya. Begini katanya, “Punya seribu teman itu kurang dan punya satu musuh itu belerbihan”. See kan, dalam keadaan seperti ini, ternyata punya teman itu sangat bermanfaat. Bukan berarti memanfaatkan lho yak! Itu udah beda lagi urusannya. Hihihihi.....

Okey, demikian yang bisa saya share disini megenai Erwin pada saat kunjungan kami di rumah Erwin. Nantikan share saya selanjutnya ya, di episode berikutnya. 

1.30.2012

JADWAL MPASI NARES DIMODIFIKASI


Mau posting lagi tentang jadwal MPASInya Nareswari nih... Ada beberapa perkembangan yang perlu ditinggalkan jejak. Mudah-mudahan jadi pelajaran buat para readers khususnya emak-emak. 

2 minggu lalu Nares sempat demam, kena pilek. Memang sepertinya sih lagi musim pancaroba begini, ya banyak yang kena deh itu batuk, pilek, demam. Sementara bapaknya Nares kena, si mba’nya juga kena. Jadilah neng Nares ikut-ikutan kena pilek. Kasihan banget, soalnya meler gitu. Pas demam pun jadi rewel. Makan salah, nggak makan salah. Main salah, nggak maen salah. Sampe-sampe, gendong juga bisa salah. Yah, gitu lah kalo bayi lagi nggak enak badan. Jadinya ya serba salah. Di situ degh, dituntut peranan kita sebagai seorang ibu, untuk menjadi lebih sabar dan sabar lagi.

Nah, semenjak sakit itu, nafsu makan Nares amat jauh menurun. Makan susah. Mulut mingkem, tangan kita ditepis, kalo dipaksa ya nangis ngamuk-ngamuk gitu. Gaswat! Bahkan biasanya yang minum ASIP dengan mudahnya, menjadi susahnya. Minum ASIP juga nggak mau pake dot. Maunya disendokin, pake gelas. Hahaha, Nares... pinter bener yah! Gaya degh, udah gak mau pake dot. Makan susah, ASIP susah, emak pun resah! Huhuuu, stress tingkat tinggi degh kalo udah begini. Bukan apa yah, kasiyan gitu lho. Udah badannya nggak enak, nggak mau makan, ASIP susah. Mana emaknya di kantor pulak kalo hari kerja. Lah kalo emaknya di rumah, bisa netein mulu. Lha kalo di kantor? Gimana ceritanya?

Akhirnya, dengan bismillah, saya pun merubah jadwal makan Nares. Kalo menurut yang saya baca-baca di website berkat tanya sana sini sama om Google, kalo anaknya susah makan, kan mereka cuma makan sedikit-sedikit... Jadi, tips mensiasatinya adalah, dengan mempersering jam makan si anak. Jadi, biar dikit-dikit, tapi masuk. Baiklah... Saya coba! Nggak berubah banyak sih pada dasarnya. Cuma ngurangi sedikit jatah ASI Nares kok. Monggo dilihat ya, jadwalnya di tabel bawah ini.

Jadwal Makan Nares versi 2 - (merah : makan berat, hijau : buah/cemilan)

Pemirsah, jadi demikianlah, jadwal makan Nares yang baru. Nambahin cemilan di jam 9.30 pagi. Jadi, sehari itu, Nares makan besar 3 kali, dan 2 kali cemilan. Sudah mirip sama jadwal makan orang dewasa kan? (Kecuali jam makan ibunya yang suka sekali dengan cemal cemil).

Oia, baca sana sini dari berbagai macam referensi, ternyata di usia anak sekitar 1 tahun-an itu memang masa-masanya sulit makan lho. Katanya sih, bayi itu sudah mulai bosen dengan makanannya yang itu-itu aja. Logika saya yah, berarti kalo anaknya udah mulai susah makan, bisa juga ya, itu jadwal makan dirubah atau dimodif sedikit. Heheee, kali-kali aja berhasil gitu lho! Namanya juga usaha, kan? Bisa berhasil dan bisa kurang berhasil (saya nggak bilang nggak berhasil lho yah...)

Demikianlah yang bisa dapat saya ceritakan mengenai perubahan jadwal MPASI Nares. Nah, 2 minggu lagi mari kita lihat yah, soalnya Nares sebentar lagi akan berulang tahun. Which is, menurut ilmu perguruan Google yang telah saya baca, katanya kalo baby umur 1 tahun itu sudah bukan yang utamanya itu ASI, tapi makanannya. Yah, diobservasi sajalah kalau demikian. 

1.25.2012

SUPIR MEMBAWA DUKA


Minggu, 22 Januari 2012. 

Sebenernya sih bukan hari yang luar biasa buat saya. Cuma karena besokannya tanggal 23 Januari 2012 itu adalah hari Imlek, maka jadi agak tidak biasa. Yups, long weekend gitu lho. Tapi ya long weekend juga ngga merencanakan mau pergi ke luar kota sih, secara punya baby Nares yang masih umur 11 bulan. Agak repot kalo mau travelling jauh-jauh. Pun, ditambah lagi karena si mba’nya pulang ke kampung karena sakit. Jadilah di hari Minggu itu hari bersih-bersih di rumah. Ngga apa-apa, menikmati jadi ibu rumah tangga yang sibuk di rumah. Biasa degh, walapun jadi emak-emak di rumah yang pegang kerjaan rumah dan pegang baby Nares, tapi yang namanya update berita nggak boleh ketinggalan jaman. Hehehe, saya wajib lapor ke handset Blackberry setidaknya setiap 30 menit. Kurang boleh, tapi kalo lebih jangan! Hihi!

Wajib dikunjungin di handset Blackberry adalah applikasi : Twitter, Facebook, BB Group, BB Message. Itu sudah pasti. Kalo menurut saya pribadi, update-an Twitter itu cepet banget. Secara bisa langsung di-RT (baca : ReTweet) sama orang-orang. Nah, di sekitar pukul 12.00 itu, saya baca di TL salah satu media informasi berita (kalo gak salah @detiknewscom), ada kecelakaan mobil Xenia di Tugu Tani (Jakarta Pusat). Saat itu sih saya belum paham bener apa yang terjadi. Hanya mengira kecelakaan yang biasa terjadi. Yah, namanya juga manusia dan kendaraan, bisa aja lagi tidak hati-hati akhirnya kecelakaan. Apalagi bawa kendaraan, resikonya lebih tinggi dibanding jalan kaki.

Pengemudi, mobil, dan korban kecelakaan (doc. Google)

Kira-kira 1 jam setelah itu, saya membaca lagi berita tentang kecelakaan Xenia di Tugu Tani itu. Yang bikin saya sedikit agak panas adalah ketika berita tersebut adalah “Supir mobil kecelakaan di Tugu Tani adalah seorang wanita”. Beuh, mendidih kepala saya! Aseli degh, saya itu walaupun perempuan, tapi memang kurang respect dengan pengendara wanita. Di mata saya, kebanyakan pengemudi wanita itu sembrono cara menyupirnya, tidak hati-hati, cenderung lebih lelet, perhitungan agak suka kurang mantab, nyupir biar dibilang gaya, pokoknya malas lah saya berurusan dengan pengemudi wanita!

Kenapa saya berani mengutarakan hal ini? Saya bersyukur dan beruntung punya bapak dan mas Ary dan mas Heru (kakak-kakak saya) yang banyak mengajarkan saya cara berkendara yang baik. Mulai dari emosi, perhitungan, etika di jalan raya, tehnik mengendarai, dan semua-semuanya. Banyak berpergian dan satu kendaraan dengan mereka, secara tidak langsung emosi dan tehnik berkendara saya mengikuti pola mereka (baca : laki-laki). Walaupun tidak bisa dipukul rata ya, semua pengendara pria itu bagus cara mengemudinya dan yang wanita tidak bagus semua. Kembali pada kepribadian masing-masing memang. Dan ingat yah, kepribadian kita itu tercermin dari cara mengemudi kita, bahkan mobil kita pun mencerminkan bagaimana kepribadian kita. Nyupir sradak sruduk, potong sana potong sini, ya... nggak jauhlah, si supir juga pasti orang yang nggak bisa dipegang omongannya, nggak konsisten, jorok, dan banyak yang nggak bagusnya. Mobil besat besot, penyok sana penyok sini, ya.. nggak jauhlah, si supir nggak jauh-jauh dari orang yang jorok, nggak perhitungan, nggak sabar, dan banyak lagi macamnya.

Semakin sore, semakin banyak berita yang beredar tentang kecelakaan mobil Xenia ini. Ya gimana nggak cepat beredar, secara yang meninggal katanya sudah 8 orang dari keseluruhan 12 orang yang tertabrak. Duh, isu mulai beredar nih. Mulai dari supir yang mabok, yang habis pesta narkoba, yang pulang dugem, yang nggak punya SIM, yang rem blong. Bener-bener merebak semua isu. Hujatan juga mulai menghiasi dunia Twitter kok. Saya sendiri udah sempatkan untuk posting di FB. Karena saya benar-benar sedih mendengar berita itu. Ngga kebayang, itu perasaan keluarga si korban seperti apa. Ngga ada angin dan ngga ada hujan, mereka harus kehilangan anggota keluarganya. Emang sih, kalo udah mau dipanggil Allah, SWT, semua tidak ada yang bisa menolak. Tapi, kenapa dengan latar belakang kecerobohan orang lain, yang ngga salah, jadi harus menanggung akibatnya? Satu hal memang, saya paling ngga terima kalo ada orang lain yang celaka bukan karena kesalahannya sendiri, melainkan karena kecerobohan orang lain. It so unfair...

Langsung update di FB tentang kecelakaan itu

Semakin malam, semakin beredar itu berita. Mulai juga beredar video amatiran sesaat setelah tragedi itu terjadi (coba lihat di youtube dengan keyword "Xenia Tugu Tani"). Sempet juga siyh, saya buka video-nya dan menonton dari gadget suami saya. Rasanya bener-bener pedih. Ngga kebayang bener degh, itu kecelakaan. Kalau dari video yang saya lihat, itu kecelakaannya terjadi di deket Gedung Perdagangan, sebelum Gedung Pensiunan Pertamina. Soalnya, trotoar yang terlihat agak besar, sementara kalo di daerah dekat Tugu Tani itu sendiri (seputaran Hotel Aryaduta), tidak ada trotoar yang sebesar seperti yang tampak di video itu. Analisa saya pun jalan karena saya terbilang cukup paham daerah itu. Seharusnya, di area kecelakaan tersebut, mengendarai mobil dalam kecepatan tinggi amat sangat kecil kemungkinannya. Wong sebelum Gedung Perdagangan itu ada traffic light kok, dan setelah itu pun masih ada traffic light lagi, dan disitu juga kan jalanannya ngga lurus, tapi agak belok kekiri. Jadi, harusnya di situ mobil kita nggak bisa ngebut banget. Dugaan sementara saya adalah kalau nggak supirnya baru belajar, atau supirnya mabok! Cuma dua itu aja. Kalo dia baru belajar, yah... udah nggak heran degh! Kalo mabok sih, ya mau ngomong apa. Susah emang ngomongin orang mabok, kita jadi kaya’ orang mabok juga!

Nah, bener aja degh... Dari berbagai pemberitaan, ternyata si supir, Afriyani Susanti (29), memang mengendarai mobil dalam keadaan mabok! Deske habis pesta-pesta sama narkoba dan minuman keras. Hebaaat gebaaat! Perempuan, mabok, nyupir, nabrak orang! What a lesson for you, sista! You got what you’ve paid if I could say it to you.  And guess what, she has no driving license. Beudeuh, canggih abis ni perempuan! Tinggal digorok aja kaya’nya yah, pemirsah!

Yah, dibalik kejadian ini semua, yang perlu diambil hikmahnya banyak banget. Nggak heran sih saya, kalo orang berani nyupir tanpa SIM. Di Indonesia ini, Polisi gampang banget dikadalin sama orang-orang yang nggak taat sama aturan. Orang bisa seenaknya bawa kendaraan tanpa SIM. Secara juga bikin SIM gampang banget kok prosedurnya (baca : asal ada uang). Yups, untuk bisa dapet SIM A aja, cukup membayar ‘paket hemat’ di Ditlantas (kalo warga KTP DKI Jakarta, di Daan Mogot tuh markasnya) sebesar Rp 500,000. Itu udah ngga pake ujian praktek. Ujian tertulis pun hanya formalitas. Test kesehatan, cingcai! Nggak heran, siapa aja yang punya duit, mau nyupir, bisa dapet SIM kok. Nggak penting tuh, tau aturan lalu lintas, etika berkendara, tehnik mengemudi. As long as you have money, you get the license then. Nggak heran juga, kalo yang punya kenalan aparat di sana, bisa aja langsung dapet juga. Hahaha, Endosyah gitu lho! Nggak punya SIM, bawa mobil/motor, kena razia, bayar Rp 50,000 juga bisa lepas kok. Makanya, kalo mau pergi, bawa kendaraan tapi nggak punya SIM, siap-siap bawa duit banyak yah. Kalo ketilang, tinggal selipin uang yang kita punya.

Jauh, jauh berbeda dengan cara yang bapak saya ajarkan kepada saya. Untuk mendapatkan SIM A, saya punya banyak prosedur untuk dilalui. Didikan kemiliteran yang melekat pada bapak saya, diterapkan ke semua anak-anaknya yang cewe dan yang cowok. Mau punya SIM? Harus sudah punya KTP dulu, berarti usia sudah mencukupi. Setelah punya KTP, harus belajar setir mobil dulu. Kursus, ya booow. Tuh, kalo nggak Hutomus Yokonsa, Ulisa, dan Persemija. Dua nama tempat kursus mobil itu tahun 1995-2000 cukup ternama. Laris manis (kalo sekarang kayanya pamornya udah turun, secara banyak yang nyupir matic langsung gas). Udah selesai kursus, baru deh ambil SIM. Jadi nggak ujug-ujug pegang setir tuh eike. Hadeuh... Hasilnya? Yah, beda banget lah, sama supir-supir dadakan yang ujug-ujug pegang mobil  dengan modal nekat dan modal pede. Yang nggak tau etika, yang nggak tau aturan, yang nggak bisa perhitungan dengan kendaraannya.

Nggak heran lagi (babak kedua), harga mobil di Indonesia yang cukup mahal, tapi orang pada nekat mau beli mobil. Cicil dan credit dan leasing dan apapun namanya, sangat mempermulus untuk punya mobil. Yah, ngga salah juga sih, kondisi kendaraan umum di Indonesia itu sangat tidak nyaman, makanya orang pada bela-belain punya mobil. Demi kenyamanan semata (atau bahkan juga cenderung diiringi gengsi). Mau cash atau credit, yang penting punya mobil deh yah! Akhirnya apa? Banyak orang-orang yang punya mobil mendadak (gimana ngga mendadak, dengan Down Payment Rp 10juta bisa bawa pulang mobil?), bisa nyupir mendadak (iya lah, kan sekarang banyak mobil dengan automatic transmission yang tinggal injek rem sama gas, gak perlu takut mati di tanjakan karena harus ngimbangin kopling dan gas), akhirnya nggak punya etika di jalan. Malay bener nih urusan sama orang yang begini. Aseli 200%. 

Yah, maaf nih (babak ketiga), mobil Avanza dan Xenia itu kan mobil sejuta umat yah. Which is, mobil yang cukup terjangkau di kantong dan muat untuk orang banyak. Jadi kalo kata mas saya, “Mid low class vehicle dengan supir mid low attitude”. Hahahaha... Maaf ya buat yang kurang berkenan. Saya nggak pukul rata kepada semua orang yang punya mobil Avanza dan Xenia seperti itu, lho... Tapi ya emang kalo saya di jalan, sering banget tuh nemuin supir mobil Avanza dan Xenia yang ngga tau aturan. Motong jalan lah, seradak seruduk lah, pokoknya nggak banget lah! Eh, sekali lagi yah, nggak semua lho, mobil Avanza dan Xenia kaya’ begitu. No argue for this point please, as written previously "nggak semua".

So readers, jika anda salah satu pengendara yang termasuk ke dalam golongan menjadi supir mendadak, cobalah untuk pahami dengan benar aturan, rambu, etika, sopan santun dan tehnik mengendarai mobil. Tidak ada kata terlambat untuk belajar yang baik. Mobil yang anda kendalikan itu punya nyawa, sama seperti anda juga yang bernyawa. Apalagi kalo udah turun ke jalan, maka anda (baca : supir) akan berurusan dengan nyawa orang lain. Kalo yang celaka anda sendiri karena kecerobohan anda, saya dapat memakluminya. Tapi kalo orang lain yang tidak bersalah dan tidak berdosa menjadi korban anda, sungguh... ter-la-lu!

Last but not least, buat semua yang menjadi supir, mohon berhati-hati. Kenali kendaraan anda, jalan yang anda lalui, dan emosi diri anda sendiri!

1.17.2012

BABY BUNCIS DAN SAYUR SCRAMBLE

Hahahaaa... Hari Minggu kemaren beli baby buncis. Niatnya sih buat makannya dek Nares, tapi ujung-ujungnya tergoda untuk bikin buncis Szechuan yang kaya' di restoran itu. Penasaran. Akhirnya nyuplik-nyuplik resep di mba google, dapet degh contekannya. Tapi nggak semuanya diikutin. Cuma caranya, sama bumbu dasarnya aja. Nih lah penampakannya... Hehehe...


Baby Buncis Szechuan

BABY BUNCIS:


Bahan :
- Baby Buncis
- Daging Giling
- Bawang Putih, cincang halus
- Bawang Bombay, cincang kasar
- Jahe, cincang halus
- Daun bawang, potong kasar (lebar + 1cm)
- Cabe keriting, iris kasar
- Minyak wijen, 3 tetes
- Saos tiram, 1 sendok teh


Cara bikin :
- Panaskan minyak, goreng baby buncis sampe agak berkerut
- Tiriskan si baby buncis goreng
- Siapkan minyak buat numis (5 sendok makan)
- Tumis : bawang putih, bawang bombay, jahe sampai harum dan warnanya jadi agak kekuningan
- Masukin daging dan cabe
- Tambahin garam dan lada
- Tunggu sampai daging agak berwarna kehitaman
- Masukin daun bawang


Kalo mau agak pedes, tambahin cabe bubuk deh. Secara di rumah pada nggak doyan pedes, jadinya itu cabe-cabean aja. Daripada nggak kemakan kalo bikinnya pedes.


Nah, sekalian sama masak baby buncis, bikin sayur asal-asalan degh. Yah, tapi cukup bergizi kok. Ada karbohidratnya dan ada proteinnya juga ada sayurnya. Ini lah penampakannya... Yak!

Sayur Scramble Egg

SAYUR SCRAMBLE EGG:

Bahan :
- Wortel, potong dadu
- Jagung manis, pipilan
- Telur ayam
- Bawang merah, iris tipis
- Bawang bombany, cincang kasar

Cara bikin :
- Rebus wortel dan jagung manis, dan tiriskan setelah matang
- Panaskan 3 sendok minyak, buat numis
- Bikin scramble egg
- Masukin bawang merah dan bawang bombay
- Aduk semuanya, tambahin garam dan lada



Lumayan lah, buat menu makan siang di minggu kemaren. Ngirit uang jajan. Lagipula itu bahan-bahan yang dipake juga buat Nares. Wkwkwk...

1.12.2012

JADWAL MPASI/ASI NARESWARI


Yes, back to MPASI!

Ini nih, yang suka dipertanyakan sama emak-emak di group mpasi (either yang di milis mpasirumahan atau group HHBF di FB), “Jadwal Makan Baby”.  Nah, kali ini saya akan share-kan jadwal makan dan minum ASIP/ASI-nya dek Nares (#kok tiba-tiba kangen sama si unyil satu itu yagh). Kali-kali aja dengan berbagi pengalaman di blog saya ini, emak-emak jadi nggak bingung lagi. Yaaa setidaknya ada pencerahan gitu lho. Punya banyak contekan untuk ngasih makan anaknya di jam berapa aja. Tapi dengan contekan ini berharap supaya newbie mommies bukannya tambah bingung lho, tapi harus tambah pinter.  Oia, newbie mommies kalo kebanyakan contekan jangan suka bingung akh. Ambil aja yang menurut mommies paling cocok untuk diaplikasikan di baby-nya. Kan yang paling mengerti tentang baby kita itu ya emaknya sendiri. Bukan emaknya baby lain kan?

Waktu mau siap-siap MPASI Nares, saya sendiri pun tak luput dari contekan sana sini emak-emak lain yang udah lebih jago. Nih ya, korban pertanyaan saya lontarkan ke sepupu saya, ke temen saya, trus udah gitu saya juga nyontek ke blog emak-emak kece (monggo browsing). Pastinya lagi, liat lah di dokumen group. Pasti ada kok. Cuma emang banyak orang, jadinya banyak versi. Balik lagi deh, kita sebagai emaknya, yang menentukan baby kita makan dan minum ASIP/ASI di jam berapa aja. Whokeh? So newbie mommies, let’s start the experiment with your baby and you’ll get the point!

Nih, jadwal makannya dek Nares mulai dari 6 bulan:

Jadwal MPASI dan minum ASIP/ASI Nares


Review-annya nih...


6 bulan : 1 kali makan di pagi hari

Kenapa dikasih makannya di pagi hari? Soalnya kan masih belajar makan atau pengenalan, masih nyobain ini itu. Takut-takut kalo nggak ada yang cocok alias alergi, siang harinya udah ketauan efek makanan di pagi hari. So, let’s start in the morning aja sih kalo saya mah... Selain itu, juga bisa nungguin dek Nares makan gitu lho. Kalo makannya siang, saya pun di kantor tak bisa melihatnya. Huhuuu, kan pengen banget liat dek Nares makan!


6 bulan 2 minggu : 1 kali makan di pagi hari (karbo/sayur) dan 1 kali makan (buah) di siang hari

Kenapa jadwalnya begitu? Alasan dikasih dua kali sih sebenernya biar Nares cepet adaptasi sama makanan aja. Nah, secara juga ada beberapa contekan yang ngasih kabar, kalo mulai umur 6 bulan 2 minggu udah bisa 2 kali makan. Jadilah saya ngasih makan Nares 2 kali sehari. Tapi sekali pagi yang karbo dan sekali yang buah.


7 bulan : 1 kali makan di pagi hari (karbo/sayur) dan 1 kali makan (buah) di siang hari

Masih nyamain jadwal dengan jadwal makannya dek Nares di umur 6 bulan 2 minggu. Biar dek Nares adaptasi dulu sama perutnya. Ada juga sih, beberapa emak yang udah mulai kasih 3 kali (yang sekali camilan). Tapi buat Nares, tetep aja 2 kali. Camilan, nanti saja yah. Emaknya aja yang camal camil. Hihihi, dasar emak gegares...


8 bulan : 2 kali makan (karbo) pagi dan siang beserta 1 kali makan (buah) sore hari

Yups, udah mulai bulan ke-2 MPASI, pelan-pelan mulai naik juga kuantitas makanannya dek Nares. 2 kali karbo dan campuran daging dan sayur yang udah lolos test alergi beserta buah, tampaknya sudah cukup. Nah, seiring kuantitas makan dek Nares yang bertambah, maka minum ASIP pun mulai berkurang. Heheee, pastinya pendapatan ASIP pun semakin turun. (eh kok malah curcol di marih ya?)


9 bulan : 3 kali makan (karbo) pagi, siang, sore beserta 1 kali makan (buah) sebelum maghrib

Nah, di umur 9 bulan ini, Nares udah mulai makan 3 kali untuk karbo-nya ditambah 1 kali makan buahnya. Kenapa makannya mulai ditambah? Secara Nares udah banyak gerak, banyak maen, jadinya perlu banyak energi donk ya. Makanya makanannya ditambah. Nah, untuk pemilihan jam makannya emang sengaja saya taro buahnya itu menjelang magrib, soalnya kan menurut referensi yang saya baca, kalo udah malem, jangan yang berat-berat. Nah, ini makanya, saya taro saja buah di sebelum maghrib. Biar nggak terlalu berat mencerna-nya si lambung sebelum Nares bobo.

Pas masa transisi (dari 2 kali makan karbo ke 3 kali makan karbo) ini pun, makan yang jam 3 sore pada awalnya saya kasih sedikit saja. Hanya separo porsi makan siangnya Nares. Jadi perutnya Nares biar nggak kaget juga. Kira-kira selama 2 minggu, Nares makan karbo yang jam 3 itu porsi separo ajah.


10 bulan : jumlah makan sama dengan bulan sebelumnya, hanya beda waktu

Di umur Nares 10 bulan, jam makan karbo yang terakhir saya tukar dengan jadwal makan buahnya. Jadi, makan buahnya sekarang pukul 15.00 dan makan karbo yang terakhir pukul. 17.30. Kenapa di tuker? Soalnya Nares semakin besar, kan pelan-pelan mulai balajar dengan jadwalnya orang dewasa. Walaupun nggak juga bakal makan malam yang diatas pukul 18.00 lho ya. Sepertinya, jadwal ini pun nantinya bakal dipake sampe Nares agak besar.

  
11 bulan  dan seterusnya : bakalan ngasih jadwal makanan yang sama dengan bulan ke-10


Okey mommies, udah baca kan, jadwalnya Nares makan dan minum ASIP/ASI? Silahkan dipilih jadwal yang cocok buat baby mommies and daddy ya. Jadwalnya Nares sih cocok sama Nares dan pemikiran emaknya Nares. Makanya, kita harus tau jadwal anak kita sendiri, seperti apa.  Yang penting prinsip-prinsip ngasih makan harus tetap dipegang. Misalnya:

  1. Kalo ngasih makan jangan berdekatan waktu setelah menyusui, karena baby pasti udah kenyang duluan dan jadi nggak mau makan.
  2. Kalo ngasih makan nggak lewat dari pukul 18.00, soalnya itu udah berdekatan dengan malam, which is kasiyan kalo usus dan lambung baby disuruh kerja berat, padahal jatahnya istirahat itu si organ tubuh.
  3. Kalo ngasih makan, jam-nya jangan sering berubah-rubah. Usahakan stabil di jam tersebut.


So, kalo kedua prinsip diatas udah terpenuhi, ya lanjut degh... Nggak usah bingung nggak usah parno untuk nentuin jadwal makan anak kita. Yang penting prinsip-prinsip ngasih makan buat anak, sudah lolos... Kalo yang nggak prinsip mah, ya nggak apa-apa kali yeee....

Selamat makaaaan ;)

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post