6.26.2015

TOMCAT YANG BUKAN KUCING

Nggak pernah terbersit banget di benak ini kena gigitan serangga tomcat. Aduuuh, beneran nggak kebayang. Emang sih pernah denger-denger sama nama serangga ini, namanya emang keren, tomcat. Pernah liat bentuknya, tapi ya hasil browsing-an. Bentuknya kayak semut merah, semut api atau semut rangrang lah. Tapi kalo semut mah warnanya merah kecoklatan doang, kalo tomcat ada warna merah dan hitam. Nggak tau juga si tomcat itu hidup dimana. Kemarin emang sempat booming karena banyak orang yang kena gigitan tomcat. Tapi Jakarta kayaknya nggak terlalu parah (bener nggak sih ini, apa saya yang nggak update aja?)

Ceritanya, Jumat pagi, pengasuhnya anak bayi ganteng, si nenek bilang sama saya, "Mba, si adhe kayaknya kena cacar air ini, belakangnya merah-merah ada yang melepuh dikit". Weeehhh, saya langsung shock. Kebayang cacar air, kebayang water poken alias chicken pox. Kasihan sekali kalo bayi harus kena water poken gitu. Yang saya pernah denger, kalau kena chicken pox, badannya gatal-gatal. Etapi ya, si bapak suami bilang, kalo kena chicken pox biasanya demam tinggi dulu. Sementara Nara alhamdulillah nggak ada demam. Jadi, di bagian belakang badan Nara, ada kayak luka-luka kebakar gitu. diameter luka sekitar 1cm. Emang rada melepuh tipis.

Kondisi hari Sabtu

Kondisi hari Senin


Seperti biasa, kita nggak langsung buru-buru ke dokter. Panik? Alhamdulillah nggak... tapi kalo ada rasa dag dig dug emang iya. Namanya juga anak begitu, mana ada emak yang bisa santai? Enggak panik bukan berarti nggak waspada. Tetap dilihat perkembangannya. Liat kondisi Nara juga nggak kenapa-kenapa... maksudnya nggak malas makan, nggak malas nyusu, ceria seperti biasa dan sumringah seperti biasa. Berdasarkan kondisi itu, makanya kita mau observasi dulu. Kalau nggak ada perkembangan, harus berangkat ke dokter. Takut ke dokter? Hmmm, rada iya sih jawabannya. Karena sempet kena salah diagnosa oleh dokter, makanya agak nggak mau buru-buru banget ke dokter. 

Tersangka (sumber: dari sini)

Ada yang kena gigit tomcat, begini katanya (sumber : nyomot dimari)

Hari Minggu pagi, saya kok dapet ilham untuk browsing serangga tomcat dan gigitannya. Buka deh cuss langsung di android kesayangan. Aduuuuh, ciri-cirinya sama persis. Macam luka bakar melepuh tipis gitu. Langsung juga deh, cari pengalaman temen-temen blogger. Search engine masukkan keyword "pengalaman tomcat". Baca sana sini pertolongan pertama pada tomcat. Duh, bukan nggak mau ke dokter buru-buru atau anti dokter ya, sama sekali nggak banget. Tapi ini emang mau dilihat dulu kondisinya. Pengalaman yang sudah pernah kena tomcat, dikasih salep gitu dan katanya kering kok. 

Oh well, tetap aja, saya konsultasi ke dokter akhrinya. Tapi nggak tatap muka langsung. Yups, kebetulan dan alhamdulillah punya temen yang pinter medis. Akhirnya saya kasih foto Nara yang luka itu by Whatsapp. Temen yang baik hati menyarankan untuk bawa ke dokter. Tapi saya juga jelaskan kalau kondisi anak fine aja. Oh well, kata pinter medis, kasih obat luar dulu yang disebutin merk-nya. Untung apotik deket, depan rumah. Jadi si bapak langsung beli.

Kondisi setelah seminggu

Hari Selasa, luka mulai kering... alhamdulillah... Sebenernya emang dari hari Minggu udah nggak radang kayak waktu hari Jumat. Jadi kita sebenernya agak tenang. Dan... hari ini, hari Jumat, tepatnya setelah seminggu, alhamdulillah tinggal yang luka agak besarnya aja. Overall udah jauh banget perkembangannya... Ah, akhirnya... kena tomcat juga ya... nggak sangka sama sekali... Tapi syukurlah sudah sembuh...

6.23.2015

MOBIL KITA

Berbicara tentang mobil, pasti tidak akan ada habisnya. Pembahasan soal mobil selalu menjadi pembahasan yang menarik buat saya. Nggak bisa dipungkiri, saya hidup mau pergi kemana pun pasti pakai mobil. Mobil menjadi satu moda transportasi buat kegiatan saya. Walaupun kegiatan saya lebih banyak di rumah dan beberapa kali dalam seminggu harus ke kampus, tetap pilihan angkutan yang dipakai adalah mobil. Pastinya lagi, bisa pakai mobil juga harus mengerti seluk beluk mobil. Jadi tidak hanya sekedar pakai mobil, ya... Maka dari itu, ngomongin mobil udah pasti tidak akan berujung. 

Bahagia itu emang kalo kita bisa punya mobil yang sesuai dengan kebutuhan kita. Tapi nih ya, menurut saya, bukan hanya mobil yang sesuai dengan kebutuhan untuk menunjang kegiatan kita sehari-hari, tapi juga sesuai dengan karakter kepribadian kita. Sepertinya paling mantap tuh, gabungan keduanya. Ya sesuai kebutuhan dan sesuai dengan karakter kita. Oh iya, yang tidak kalah pentingnya lagi, sesuai dengan kantong kita. Hahahaha, sepertinya memang yang terakhir itu udah yang paling hakiki ya, sesuai dengan kantong atau rekening di tabungan. Jangan sampai beli mobil tapi tidak bisa bayar ya... 

Bicara soal mobil yang saya dambakan, maunya pasti mobil baru. Tapi nggak masalah juga kalau dapat mobil bekas asalkan kondisi masih bagus. Yang penting seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, harus bisa dapat mobil murah, ya yang pasti harganya masuk anggaran kita. Kalau mobil baru masuk anggaran, alhamdulillah. Kalau mobil bekas yang masuk anggaran, ya alhamdulillah juga. Yang luar biasa itu kalau yang dapat mobil bagus dan murah. Horeee...

Sebenernya ya, mau sekali dari dulu itu punya mobil yang irit bahan bakar. Kalau bisa malah isi bahan bakar itu pakai energi sinar matahari, atau isi pakai hembusan angin yang  bertiup (agak terlalu mimpi kalo yang ini). Iya, Jakarta yang sangat padat kondisi lalu lintas ini, sangat membutuhkan mobil yang irit bahan bakar. Kalau macet, jadi tidak perlu mikir bagaimana borosnya konsumsi energi yang tergantikan itu. Sekarang, kalau macet langsung kepikiran borosnya bahan bakar. Sekarang mulai ada ya, mobil yang hybrid, itu lho mobil yang bisa pakai baterai juga. Tapi ya, harga mobil hybrid kan masih mahal di Indonesia ini. 

Kedua, selain mobil yang hemat bahan bakar, mau sekali punya mobil yang tinggi tapi suspensi nyaman dan harus agak luas kabinnya. Nah, mobil yang model begini, biar nyaman kalau dibawa keluar kota. Nggak khawatir sama jalan yang rusak, apalagi kalau banjir. Kabin luas pastinya biar nyaman bawa keluarga. Anak, keluarga lainnya, maupun keluarga besar. Makin rame, makin seru. Keluar kota menjelajahi indahnya Indonesia dengan mobil yang nyaman. Bisa-bisa malah nggak pulang-pulang, karena hidup saya habis di jalan ya nantinya...

Toyota Fortuner Hybrid yang besar, tinggi, dan ramah bahan bakar (sumber gambar: disini)

Ketiga, urusan yang tidak boleh ditinggalkan adalah interior mobil. Saya sendiri senang sekali sama interior mobil yang sederhana, tapi tidak kaku dan tidak model futuristik seperti bentuk robot. Masih senang dengan interior model perkayuan, rasanya lebih elegan lho. Interior tidak harus futuristik, tapi kalau instrumen boleh futuristik. Hahahaaa, nggak mau rugi ya. Iya, saya masih jatuh hati pada desain interior mobil yang elegan, warna cerah dan motif kayu sebagai pengisi sebagian warna interior. Bersyukur lagi kalau ada sunroof ya, biar di dalam mobil agak cerah kalau siang hari - berguna banget buat foto selfie karena udah terang.

Kabin luas, interior sederhana. (sumber gambar : disini)

Lanjut tentang mobil idamanku, saya tetap memilih mobil yang suku cadangnya mudah dicari dan tidak mahal. Bukan apa-apa, mobil yang saya impikan ini, pastinya akan saya bawa keluar kota. Jikalau nanti terjadi kerusakan terhadap mobil (mudah-mudahan jangan sampai), suku cadang mudah di dapat. Repot kalau sampai susah cari suku cadangnya. Ada barang, tapi mahal atau murah tapi tidak ada barangnya? Jangan sampai ya... Jadi, saya selalu pikirkan suku cadang-nya juga lho.

Mudah-mudahan ya, siapa tau ada rejeki, nanti bisa ketemu mobil yang memenuhi kriteria saya diatas. Adakah kiranya? Mobil yang hemat bahan bakar, mobil yang tinggi, mobil yang nyaman suspensi-nya, mobil yang kabinnya lega, mobil yang interiornya elegan, dan yang pasti mobil yang harganya masuk di anggaran belanja negara rumah tangga kami. Rajin-rajin simak di rajamobil.com aja ya, buat cari informasi tentang mobil impian kita, karena di rajamobil.com, semua soal mobil dibahas disini. Ya spesifikasi mobil, harga mobil, inspirasi modifikasi mobil, tempat service, sampai ke wadah komunitas juga ada dibahas di rajamobil.com. 

Oia, kira-kira kalo mobil impianku seperti mobil diatas... karakter saya macam apa ya...?

6.21.2015

URUS PERPANJANGAN PAJAK MOBIL DI STNK KELILING

Sangat suka sekali kalo posting cerita urusan yang berkaitan sama pemerintah atau kenegaraan (halah bahasanya sok iye iye kenegaraan). Entah mengapa, pengen aja share ke semuanya bagaimana kondisi urusan-urusan itu. Susah atau mudah, lama atau sebentar, ribet atau mulus, dan sebagainya yang lainnya. Bukan apa sih, soalnya udah terkenal banget kan, kalo di Indonesia ini, kadang urusan mudah jadi sulit, tambah lagi, udah terkenal banget... "kalo bisa dipersulit, kenapa dipermudah". Aiyh, mau nangis kadang emang kalo udah urusan sama pemerintahan. Tapi kayaknya sekarang udah nggak begitu-gitu amat ya... Contoh aja yang kemarin ngurus passport (ceritanya di sini, lancar jaya, dan alhamdulillah aman terkendali. Gimana nasib perpanjangan STNK kali ini?

Antrian mau kasih formulir

Ceritanya mau perpanjangan pajak, awalnya mau ke Gandaria City kayak waktu itu. Tapi apadaya, waktu datang ke Gandaria City hari Sabtu, sampe TKP pk. 11.30, ternyata udah nolak. Alasannya udah tutup. Padahal kan ya, disitu ada tulisannya sampe pk. 14.00. Akh ya begitulah adanya pelayanan di Indonesia ini. Customer satisfaction? Nggak tau deh. Pokoknya demikian adanya. Harap maklum. Mengapa? Nggak tau, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Mungkin mereka lelah, mungkin mereka lapar. Bahkan mungkin mereka lelah dan lapar. *pulang lagi tangan hampa

Karena deadline waktu itu hari Rabu, dan udah mepet, akhirnya hari Senin, lanjut urusan perpanjang STNK. Cusss, pagi-pagi Senin udah nyari tempat perpanjangan STNK Keliling. Yang paling deket, waktu itu di Lapangan Banteng, depan Hotel Borobudur. Udah pasti tau bakalan rame, berangkat dari rumah pk. 08.00, abis anter Nares sekolah. Sampe Lapangan Banteng, udah rame aja yang ngantri. Tapi banyaknya parkiran motor.

Mau perpanjang STNK mobil disini? Siapin dulu dokumen-dokumen ini ya... (ini informasi dari petugas STNK mobil keliling disini):

- BPKB asli dan salinannya (foto copy-an)
- KTP asli dan salinannya
- STNK asli dan salinannya

Berhubung ini mobil atas nama saya sendiri, jadinya nggak perlu surat kuasa. Denger-denger dari petugas disana, kalo bukan orang yang punya kendaraannya yang perpanjang sendiri, Nah, terus lagi nih, kalo mau foto copy di TKP, bisa juga kok, harganya? Nggak tau. Tapi yang jelas bakalan beda sama harga foto copy di warung depan kampus... hihihi.

Sampe sana, saya langsung ambil formulirnya. Ambil formulir, langsung ikut antrian. Isi formulirnya sambil ngantri aja. Ini bakalan menghemat waktu, ketimbang harus ngisi formulir dulu di meja yang disediakan, trus baru ngantri. Bener aja lho, baru aja selesai isi formulir, eh ternyata antrian di belakang udah panjang. Emang dah, kalo otak gak mau rugi mah ada aja jalannya kan ya... Lanjut sama antrian. Antrian ngapain siyh? Lah itu dia, ngasihin formulir dan tetek bengeknya alias dokumen-dokumen yang tadi dibawa berikut dengan fotocopy-annya.

Udah offline, udah nggak bisa terima formulir...

Mulai kesel, pemirsaaaa...

Udah giliran kita, saya serahin deh tuh semua berkas. Cuma ditanya sama petugasnya, "Mba, ini yang punya mobil siapa?" Hadeeeuh, masa' mau dibilang "Kepo banget deh deh..." Yaudah sih dijawab dengan halus bagaikan mahluk halus, "Saya, pak..." Analisa saya, dia mau bilang kalo bukan punya sendiri, kudu pake surat kuasa bermaterai dari pemilik mobil. Oke, done. Selesai ngasih berkas-berkas, saya disuruh nunggu aja. Saya nunggu disitu juga, sambil duduk-duduk pada kursi yang kebetulan bisa saya dudukin. Alhamdulillah, rejeki dapet tempat duduk.

Udah nunggu 30 menit, eh tetiba ada pengumuman, "Bapak dan Ibu, bersama ini kami sampaikan kepada bapak ibu, bahwa sistem mengalami offline. Bagi yang mau, silahkan perpanjangan ke Mangga Dua" Hueeeh, saya mah disitu rasanya mau ngamuk. Waaaddd... sini dah pengen saya cabik-cabik... Nggak tau apa saya udah ngamuk dari hari Sabtu? Nggak tau saya lagi mau makan orang? Ada beberapa orang bapak yang nanya ke petugas, bakalan online lagi kapan? Jawabnya pak petugas santai ajah... "belum tau pak.. belum pasti" dan... si bapak pun berang... ahahahaaa... acak-acak aja pak, sikaaat pak...

Beberapa orang dipanggil namanya, ternyata berkas mereka dikembalikan. Saya? Nggak termasuk yang dipanggil. Ahahahaaa..., sungguh ya, ini mah mungkin rejeki anak bapak ibu. Akhirnya saya menunggu saja. Nggak lama kok, cuma 1 jam. Hueeeh, iya, cepet lah ya, dibanding suruh nunggu sampe besok, coba? Dipanggil, ternyata suruh mbayar. Bayarnya pakai cash ya. Nggak tau di STNK keliling bisa pakai mesin EDC. Lah, sistem suka offline, gimana mau pake EDC... ada juga ECD yang stands for E Capek Deeeh... Udah bayar? Suruh nunggu lagi... ya, nggak lama kok, cuma 45 menit aja. Iya dah... manut aja...

Kelar juga akhirnya nih urusan STNK... dari pk 09.00 sampe pk 12.00 hohooo... kata kang parkir yang jaga disitu, "Yang penting kelar ya neng... daripada nggak kelar. Biasanya mah palingan sejam juga selesai neng..." Iye bang... bener banget, masih alhamdulillah kelar hari ini... Kalo kudu besok lagi ngurusnya, saya capek bang... capek fisik, capek hati... hiks hiks...

5.16.2015

DOMINOS PIZZA KITCHEN TOUR

Genk Rumpi emak-emak udah emang paling hits sedunia (saya). Mulai dari permasalahan dapur, sampe urusan jalan-jalan pasti rame dibahas di group. Mau itu group Whatsapp, group BBM, group Line, ataupun group Facebook. Apalagi kalo udah urusan anak-anak, pastilah numero uno katanya. Ahahaaa, anak-anak emang wahidun lah. Apapun buat anak pasti diusahakan. Makanya gak heran perbisnisan dunia anak pasti digalakkan (bukan galak yes). Nggak ada, tetap diadain, nggak mampu pasti diusahakan. Tapi ya namapun buat anak, in shaa Allah rejekinya dilancarkan terus. Aamiin...

Genk Rumpi emak-emak sekolah Nares kali ini judulnya kegiatan anak-anak. Iya, mau ngajakin anak-anak cooking class yang lagi heitz dimana-mana. Cooking class alias anak-anak belajar sambil main masak-masakan, jadi salah satu agenda yang dijadwalkan ama emak-emak bocah Playgroup (PG) IKKT. Seseruan aja siyh pastinya, namanya juga buat menghibur. Coba aja deh, McDonalds punya cooking class buat burger, Dapur Cokelat ngadain cooking class ngebikin lollypop cokelat, dan yang saya tau ya Dominos Pizza niyh, bikin pizza. 

Berhubung rumah kita daerah Kemanggisan dan disitu ada Dominos Pizza, jadilah kita agendakan si bocah-bocah masak di Dominos Pizza. Deal tanggalnya, yang penting hari Minggu karena ortunya pada bisa nganter. Lah kalo gak dianter kan bingung ya nanti anaknya disana begimana. Secara anak-anak masih piyik gitu. Sepakat tanggal yang diinginkan, yang mau boleh daftar dan langsung bayar ke ketua kelompok genk PG IKKT.

Daftar pesertanya minimal 10 anak. Cewek cowok nggak masalah yang penting mau aja. Usianya berapa? Ya kira2 aja kalo udah ngerti bikin2 begituan mah diajak ajah. Tapi ya mending sih 4 tahun ke atas kali ya, jadi mereka udah ngerti apa itu pizza dan udah mulai ngerti ngeracik pizza. Nggak semua bocah PG ternyata mau ikut, akhirnya nyulik sepupuan dan sana sini, sampai akhirnya ketemua 10 bocah. Bayarnya? Rp 36.000 saja per anak. Murah saja bukan, untuk sebuah yang namanya pengalaman. 

Sampailah pada waktu yang sudah dipilih sama emak-emak. Kudu wajib harus sampai di Dominos Pizza pk. 10.00, dan nggak boleh telat. Kalao telat? Nggak tau deh, hahahaaa... kebetulan saya bawa gerombolan yang paling banyak, agak telat 8 menit. Maafkanlah daku... the gerombolans super duper rempong... Tepatnya pk. 10.15, kita mulai akhirnya... ahiy... seru banget karena emak-emaknya yang pada sibuk fota foto. Anak-anaknya pada anteng kok, karena pihak Dominos Pizza lagi nyeritain sejarahnya Dominos dan bahan dasar pizza. 

Kelar penjelasan, langsung deh mulai acara bikin pizza oleh anak-anak. Tapi sebelumnya, bocahers pada pake apron dan topi kok dulu ya... Disediakan loh dari Dominos dan sudah termasuk biaya cooking class tadi. Lucu banget nih... liatlah expressi mereka. 

Dengerin penjalasan sejarah Dominos dan bahan baku pizza
Bikin kotak pizza
Cuci tangan dulu... :)
Membuat pizza
Taburin keju... 
Pizzanya lagi dimatengin lagi... 
Pizza matang dan siap disantap
Selesai

Tepat pk. 11.00, acara masak dan makan pizza selesai. Anak-anak dan orangtua diminta foto bersama. Keren banget lah acaranya. Pengalaman baru yang jelas. Dengan harga Rp 36.000 saja, kita bisa dapet pengalaman. Belom lagi itu dikasih apron, kotak pensil, makan pizza dan minum, dan sertifikat. Cuss deh yang mau ngisi liburan sekolah nanti (kalo pas lagi gak puasa kali yeeeee...)

5.12.2015

ULIN KA KUNCIR - TOURING ALTIC 2015

Halooo, assalamualaikum... Saya datang membawa sapu untuk membersihkan sawang-sawang yang ada di blog saya. Udah lama nggak nulis, udah lama juga melupakan blog ini. Lagaknya udah kayak orang sok sibuk, nyatanya emang sibuk. Hahaaa, udah paling bener emang, jadi ibu rumah angga itu sibuknya ngalahin orang kantoran. Nggak ada jeda, ngga ada mau istilah kabur ke pantry, nggak ada istilah biz trip. Makan aja yang ada... Ahahahaa... curhat ini mah ceritanya. Baiklah, mari kembali kepada tujuan awal, meninggalkan jejak pengalaman hidup saya... Ceileh...

Ceritanya sih ya, setelah skip 1 kali touring Altis Indonesia Community (ALTIC) ke Garut karena pas banget sama waktu lahiran adek Nara niyh, touring kali ini kita mau ikut (lagi). Ahiiiy, ikut touring itu seru banget. Ya nambah temen, ya jalan-jalan, ya refreshing, ya jajan, ya seseruan deh pokoknya. Sekali ikut touring, biasanya ketagihan. Mau lagi dan mau lagi... Suasananya itu lho, ngangenin banget. Ketawa ketiwi nggak jelas, yang jelas mah happy deh. Cocok buat pelepas dahaga eh maksudnya pelepas penat dari kegiatan rutin kita. Alhamdulillah, tahun 2014 kemarin, kita ikutan touring ke Anyer. Eh pas yang bulan September, kita belum bisa ikut. Ya namanya juga nungguin lahiran kan ya...

Touring awal 2015 ini, ALTIC milih kota Cirebon dan Kuningan dengan Judul ULIN KA KUNCIR (artinya Main ke KUNingan CIRebon) untuk dituju sebagai tujuan touring kita. Uhuy banget kota tujuan kita kali ini, Cirebon dan Kuningan punya banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Di Kuningan, selain bisa liat pemandangan Gunung Ciremai, bisa liat Curug Cidomba, Museum Linggajati, dan Waduk Darma. Nah, Cirebon-nya sendiri, kita bisa ngunjungi Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman. Kuliner, beuh... banyak banget disini. Mulai dari Nasi Jamblang, Empal Gentong, Tahu Gejrot, Hucap (Tahu Kecap). Kalo emak-emak macam model saya ini, nggak lupa pasti Batik deh. Yang terkenal di Cirebon ini adalah Batik Trusmi. Belanjaaa... Cirebon Kuningan seru deh. 

Ada bayi ikut touring (doc. pribadi)

Berangkat tanggal 1 Mei 2015, pas barengan sama libur nasional May Day. Kita kumpul di Rest Area KM 39 Toll Cikampek. Biar nggak kena macet di Kawasan Industri (antisipasi), kita ngumpul pk. 04.00. Iya, subuuuh, mas bro mba sis... mau gimana lagi, daripada macet bingit? Start dari sini, kumpul 60 mobil Corolla Altis dari berbagai macam gen. Total peserta touring kali ini emang 80 mobil, tapi sisanya datang dari Cirebon, Bandung, Bali, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Total chapter yang ikut, berarti dari Jakarta, Banten, Bogor, Bandung, Cirebon, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Bali. Horeeee, rameee... 80 mobil, 130 peserta semuanya. Seperti biasa, kalo ALTIC Touring udah pasti bareng sama keluarga, "Not Just Brotherhood, We Are Family". Iya, seperti saya juga membawa rombongan sirkus. Hihihi.

Bawa Jalan All New Corolla Altis (doc. om Arul ALTIC-146)

Alhamdulillah, perjalanan lancar. Kami peserta touring, dibekali Handy Talkie (HT) untuk komunikasi selama perjalanan. Udah pasti karena No Text While Driving ya... Sebelum perjalanan Hari-H, kita semua peserta touring di briefing SOP Touring. Iya banget, setiap kali touring kita pas di-briefing tentang SOP Touring. Teruuus..., touring kali ini kita mengedepankan SAFE (smart, alert, focus, and educated) di jalanan. Oh iya, selama touring ini, kita nggak pake Patwal ngiuk-ngiuk atau totot totot itu lho. Kenapa? Karena kita harus Share The Road sama pengguna jalan lainnya. Kita nggak egois pakai jalan sendiri, mentang-mentang touring. No. Terbukti bisa kok. Alhamdulillah ya, sesuatu banget kan... #daripadadisumpahinorangkarenamonopolijalan

Sampai di Kuningan, langsung menuju ke Hotel Prima Resort Sangkanhurip. Tiba di Hotel, pukul 13.00, dilanjut dengan makan siang khas kota Cirebon, Nasi Jamblang. Enak lho, nasi-nya dibungkus Daun Jati. Istirahat dulu sebentar, karena udah perjalanan jauh dan lanjut acara main ke Curug Cidomba. Nggak semua orang ikut sih, soalnya sebagian besar udah teler di jalanan. Hahahahaaa... Malam, dilanjut acara Gala Dinner. Nah, pas itu rame banget deh tuh, pembagian hadiah dan undian. Saya? Alhamdulillah menang lomba Twitter terbanyak. Nyahahaha, anak socmed ya? Kekininian sekali. Acara Gala Dinner selesai pukul 21.00. Lanjut pukul 22.30 yang pada ngapi ngunggun sambil minum bajigur jahe. Sedaaapnyaaa...

Gala Dinner (doc. pribadi)

Cakep, gan... (doc. om Ridho ALTIC-272)

Hari kedua, kita menikmati pemandangan kaki gunung Ciremai. Cakeeeep, ciyn! Makanya pun, foto session adanya disini. Alam Indonesia emang udah paling cakep. Selesai foto sessi dan test drive All New Corolla Altis, kita lanjut ke Cirebon. Karena udah jam makan siang, kita mampir di Empal Gentong Krucuk. Enak bingit. Nggak pake mahal juga. Seporsi lengkap sekitar Rp 23.000 termasuk es teh tawar. Lanjut mampir Keraton Kasepuhan ya. Nggak lama-lama disini, kita takut kesorean soalnya. Dilanjut main ke Pusat Oleh-oleh Pangestu dan lanjut Batik Trusmi. Acara di Batik Trusmi ini udah paling enak deh, belanja gitu loh... Selesai dari Batik Trusmi, kita pisah lagi niyh sama team Bandung, Jawa Tengah, dan Bali. Mereka mau kembali ke alam, dan kita yang di Jakarta juga mau lanjut kembali ke alam. Huhuuu, mulai drama deh... agak gimana gitu rasanya pisah sama sohib chapter nun agak jauh. Mudah-mudahan nanti jumpa lagi ya... 

Alhamdulillah, perjalanan touring lancar. Semua (in shaa Allah) senang. Iya, senang banget soalnya acara Touring ALTIC ULIN KA KUNCIR ini didukung oleh Toyota Astra Motor, Auto 2000, GT Radial, Pertamina Lubricants, Dapur Pacu Autoworks, Duta Motor, ACC Kredit Mobil, dan Garda Oto. Media Partnernya? Beuuuh... sejibun nih... Autobild Indonesia, Car Tuning Guides, Otomotif, Rajamobil.com, Modifikasi. Oia, kita juga kemarin diliput sama Metro TV. Ahoohooo...

Bagi-bagi hadiah... (doc. pribadi)

Not Just Brotherhood, We Are Family (doc. om Arul ALTIC-146)

Here We Are (doc. om Danu ALTIC-212)

4.09.2015

MENGURANGI KEMACETAN

Postingan kali ini agak beda ya... Sekali-kali ngepost yang nggak berhubungan sama perjalanan dan pengalaman, tapi bener-bener mau curhat. Caileeeee, curhat ceritanya. Disini pula. Kece dah, curhat di blog udah macam yang iye-iye aja curhat di blog. E tapi ya, namapun sharing, apapun boleh lah dibagi kan? Kali-kali aja dengan berbagi, bisa menginspirasikan yang lain. Syukur alhamdulillah kalau hal positif. Kalau hal negatif ya jangan ditiru, cukup dijadikan contoh aja. Contoh yang jangan ditiru. Hahahahahaaa... 

Oke, first of all, resolusi pertama saya di tahun 2015 adalah mengurangi kemacetan di Jakarta. Semua orang seantero dunia udah pada tahu kalau Jakarta itu kota yang macet gila. Pengalaman saya, pernah jarak 2,5 kilometer harus ditempuh dalam waktu 1 jam. Iya satu jam menggunakan mobil, kendaraan roda empat. Coba aja, satu jam perjalanan cuma dapet 2,5 kilometer. Pastinya kan lebih cepat kalau kita jalan kaki (kecepatan orang berjalan kaki adalah 5km/jam kalau saya baca di berbagai sumber). Pakai sepeda? Mungkin bisa lebih cepat. Pakai motor, kendaraan roda dua? Bisa lebih cepat bisa, tapi mungkin juga masih terjebak dengan kemacetan. Andai saja jarak rumah saya ke kantor hanya 2,5km, saya pasti memilih berjalan kaki untuk pulang pergi ke kantor. Tapi jarak rumah saya ke kantor, 7,5 km, mau dibantai jalan kaki ya pasti gempor.

Macet di Jakarta udah semakin menggila belakangan ini. Jujur saja, saya sudah tidak tahan. Belakangan hari ketika masih ngantor, 30 menit sebelum pulang, saya pasti merasakan sakit perut. Sakit perut mules karena salah makan kah? Bukan. Ini sakit perut karena stress. Stress membayangkan pulang kerja harus berjibaku dengan jalanan Jakarta yang sangat tidak bersahabat. Ya motor, ya mobil, ya angkot, ya bus, ya semuanya. Akh, semrawut semuanya. Jalanan sangat padat, bottle neck dimana-mana, semua pada berebut jalur. Harus tahan-tahanan adu gas di tengah kemacetan. Skill nyupir menengah, nyali kurang, pasti disabet terus sama orang lain. Ini jalan atau hutan rimba ya? Aturan ada tapi nggak pernah ditaati. Traffic light Jatibaru, jalan arah saya pulang dari kantor, seperti menjadi sebuah furniture di jalan. Cuma buat pajangan. Merah, bisa jadi jalan. Hijau, bisa jadi berhenti. 

Persoalan semakin runyam ketika musim hujan. Hujan lebat turun, Yang sudah macet, semakin macet parah maksimal. Udahlah macet karena volume kendaraan yang sangat padat, tambah lagi genangan air dimana-mana. Banjir? Bukan! Ini hanya genangan air, kata mereka (pejabat). Entahlah, sekarang saya tidak bisa membedakan antara genangan air dan banjir. Mungkin sekarang ada klasifikasi dan persepsi khusus antara genangan air dan banjir. Mobil yang saya pakai juga sedan, bukan mobil yang bersahabat untuk menerjang banjir (eh genangan air) yang tingginya mungkin hanya 20cm. Kalo udah ada genangan air itu, yang ada saya makin stress. Bukan nggak berani, tapi lebih sayang sama mobil. Nekat menerjang banjir bakalan lebih banyak ruginya ketimbang enggak ruginya (kalo untung pasti sama sekali nggak ada). 

Hujan... Weekend... Jadilah... 

Kelar. Kelar di jalanan itu adalah ketika weekend, hujan dan sore. Aseli, hidup di jalanan bakalan kelar lah kita. Macetnya jangan ditanya. Semua orang pada mau pulang, semuanya di waktu yang bersamaan. Volume kendaraan padat sekali, di satu waktu dan volume jalan tidak mendukung, tambah lagi supir-supir mobil dan motor yang bringas. Selesai sudah. Siap-siap bawa makanan buat di dalam mobil, siap-siap pipis dulu sebelum jalan, dan bagi laki-laki silahkan siapkan botol di mobil untuk bisa pipis. Perempuan seperti saya apa nasibnya? Ya, tahanlah kalau nggak ada pom bensin. Seburuk-buruknya, mampirlah di minimarket dan numpang pipis. Long weekend hujan? Selamat menikmati kawan, jalanan di Jakarta tampak seperti hantu buat saya. Rasanya lebih baik "ngetem" dulu di rumah makan, atau mungkin di kantor biar nggak terjebak macet parah di jalan. 

Sudah... sudah... rasanya sudah sangat cukup buat saya berjibaku di jalanan setiap pagi dan sore yang berbarengan dengan mereka pengendara. Muak, itu kata ayng tepat buat saya. Saya mengundurkan diri. Saya hands up. Saya give up. Saya kalah. Iya... saya melambaikan bendera putih dan tangan akan saya lambaikan ke kamera. Tanda saya menyerah terhadap beringasnya jalanan ibukota Indonesia. Hidup saya tua jalan. Huhuuu, padahal rumah saya ke kantor cuma 7,5 km saja. Apa kabarnya ya, yang perjalanan rumah ke kantor sekitar 20 km? Berangkat pukul 05.00 dan bisa pulang lagi ke rumah pukul 21.00? Hanya beberapa jam saja di rumah? Itu tinggal di rumah apa numpang nginep?

Buat saya sendiri... sudah nggak worth-it untuk nyetir di jalanan sampai sebegitu lama-nya untuk jarak yang sebegitu dekatnya. Iya, 7,5 km sebenernya jika tidak macet bisa saya tempuh dalam waktu 20 menit saja. Sangat manusiawi buat saya. Ya, mentok 30 menit lah... tapi kalau sudah lebih dari itu, buat saya sudah sangat menyita waktu. Bukan apa-apa, saya punya anak yang harus saya urus. Saya punya keluarga yang menanti saya di rumah. Saya punya badan yang harus diistirahatkan juga. Saya juga manusia yang punya keterbatasan. Hidup saya ini pastilah sangat singkat. Buat saya, anak-anak saya adalah kepentingan nomor satu dan bahkan diatas nomor satu. Jadi, jika waktu di jalan saya habiskan lebih banyak ketimbang waktu untuk anak-anak, bagi saya, itu sangatlah merugikan buat saya. Saya lebih senang menghabiskan waktu untuk anak saya, melihat mereka di rumah, walaupun memang terkadang ricuh di rumah. 

Selesai. Berhenti kerja kantoran yang waktunya sangat menyita. Apalagi yang harus ke kantor ikut arus kemacetan lalu lintas. Naik ojek sebagai salah satu solusinya? Iya dari segi waktu. Tapi dari segi biaya, justru lebih tinggi. Belum lagi kalau hujan, badan basah kuyup. Paham sekali dengan kondisi badan ini, yang tidak terlalu kuat sama terpaan hujan. Naek bus reguler atau bus transjakarta? Iya emang nggak capek nyupir. Tapi capek antri dan berdiri di bus. Akh sudahlah, buat saya, ini yang terbaik. berhenti kerja kantoran. Resolusi mengurangi kemacetan di tahun 2015 saya telah terwujud. No more complain about traffic jam. Enough is enough for me... 


Family - Numero Uno (walaupun fotonya pake 2 jari - eh 4 jari)

Terima kasih telah membaca isi hati saya... 
Waktu sangat berharga buat saya..., hidup sangatlah singkat, berikan kepada orang tercinta... 
(dedicated to my loveliest husband... yang mungkin sudah bosan dengar keluhan saya tentang macetnya Jakarta ini selama 5 tahun - hadiah pernikahan ke 5 buat kita ya pak).

4.05.2015

REVIEW KANTONG PLASTIK ASI

Postingan emak-emak banget! Kali ini mau share tentang wadah menyimpan ASI perah. Udah pada tau kan,kalo ASI itu yang paling baik buat anak? Udah nggak ada yang bisa tandingi kehebatannya. Susu formula mau sebaik apapun, semahal apapun, ASI paling baik dan bagus. Udah gitu, jelas paling murah. Udah terbukti deh, hitung-hitungan secara matematis, ASI udah paling murah. Nah kalo macam saya yang kudu pumping ASI gini, kudu modal buat pompa, kantong ASI, freezer, apakah masih lebih murah dibanding pakai susu formula? Jawabannya iya, masih lebih murah minum ASI perah. Hitungannya sederhana aja. Susu formula, anak temen saya bisa habis Rp 1.500,000 per bulannya. Setidaknya untuk 6 bulan pertama, temen saya harus habis Rp 9,000,000. Kalo pompa ASI, segitu udah bisa sama jalan-jalan ke Bali kali ye...? Secara pompa beli seharga Rp 2.000.000 (ini pun sebenernya ada yang harga RP 1.000.000), freezer Rp 2.200.000, perintilan ASI sekitar Rp 500,000, kantong ASI per 30 kantong sekitar Rp 35.000. Nah... irit bingit ya?

So, pilih wadah buat nyimpen ASI perah apaan sih yang paling bagus? Saya kalo disuruh pilih, paling seneng pakai botol kaca. Kenapa? Soalnya paling murah secara bisa dipakai ulang. Harga 1 botol kaca tutup karet itu juga cuma Rp 2.500 kok. Kalo kata temen saya, beli di Pasar Pramuka, 100 bijinya Rp 210.000. Nyahahahahaaa, lebih murah bingit! Beli 200 botol udah hemat Rp 80.000. Tapi, sayangnya, botol kaca tutup karet ini makan tempat di kulkas. Kemarin aja, kulkas 2 pintu itu freezer cuma muat sekitar 50 botol kaca. Padahal kebutuhan harus banyak banget. Pastinya kalo pake botol kaca tutup karet emang muatnya cuma dikit. Tapi kalo dipakein kantong plastik ASI, lumayan bisa nampung lebih banyak lagi. Kenapa? Soalnya kalau kantong plastik ASI, bisa dibentuk gepeng-gepeng gitu, jadi nggak banyak makan tempat.

Kantong plastik ASI juga ternyata ada beberapa macam model berdasarkan merk. Beda merk, biasanya beda merk. Beda juga kualitas plastiknya. Beda juga bahannya. Satu lagi yang pasti, adalah beda harganya! Hahahahaaa, aseli ya, buat saya pribadi, keuangan setengah-setengah gini, harga merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk dipertimbangkan. Maunya udah harga yang paling murah, tapi kualitas tetap numero uno, nomor wahid. Belum lagi pakai plastiknya banyak banget. Iya, sehari saya bisa menggunakan 5-6 kantong plastik ASI. Kalo botol kaca, mah nggak mikir deh, soalnya kan tinggal cuci dan kemudian bisa dipakai lagi. Lha kalo kantong plastik ASI? Pastinya abis nyairkan ASI, udah kena buang tuh kantong. Maka dari itu, saya pilih kantong plastik ASI yang paling murah. Pelit? Terserah dah mau dibilang pelit, yang penting minumnya ASI.

Varian Kantong Plastik ASI

Baca sana sini sono, ada beberapa merk kantong plastik ASI. Mothercare, Natur, Medela, Little Giant, Pigeon, Baby Grow, Crown, Dr. Browns, dan belakangan keluar lagi merk Cleeos, Gabag dan Momo. Tapi yang harganya masuk di akal saya di awal adalah Natur.

Pertama kali beli kantong ASI, merk Natur. Awal-awal seneng banget pake Natur, karena harga murah. Sekarang udah males pake Natur, soalnya harga per box-nya sekarang jadi Rp 38.000. Ya, mungkin karena Rupiah melemah, sehingga harga barang di Indonesia jadi naik. Ini review saya mengenai kantong plastik ASI Natur.
> Harga paling murah seantero kantong ASI (tapi ini dulu).
> Isi kantongnya 30 plastik.
> Cukup bagus dari segi design-nya yang sederhana
> Kadang suka bocor (pas keadaan beku, kepentok benda agak tajam dan dia akan suka robek).
> Natur ini buatan negera Thailand.
> Bisa didirikan kalau kantong plastik sudah diisi ASI perah.
> Kapasitas per plastik bisa muat sampai 180cc (tapi saya paling isi 150cc aja)
> Single zip.
> Nggak perlu steril lagi, langsung pake.

Nyobain kantong plastik ASI Gabag, karena baca beberapa busui yang pumping dan pengguna kantong ASI, katanya Gabag lebih bagus. Oke, beli deh ya Gabag. Biar dapet murah, beli aja 5 box sekalian. Hemat ongkir pastinya (harga per box jadinya lebih murah). Begitu dateng, langsung dipake tapi ternyata saya kurang sreg sama model plastiknya. Ini review saya tentang kantong ASI Gabag.
> Harga kantong Rp 37.000 (ini karena beli 5 box sekaligus).
> Isi kantongnya 30 plastik.
> Design cukup bagus, sederhana. Tapi sayangnya nggak bisa digepengin, jadi agak makan tempat.
> Tebel, kecil kemungkinannya untuk bocor.
> Setau saya ini buatan Indonesia (sama produksinya kayak Tas Gabag)
> Bisa didirikan kalau kantong plastik sudah diisi ASI perah.
> Kapasitas per plastik bisa muat sampai  120cc aja. Mau lebih bisa, tapi jadi gendut.
> Double zip.
> Nggak perlu steril lagi, langsung pake.

Kesimpulannya, saya nggak cocok pake kantong ASI Gabag, Kualitas emang bagus, tapi makan tempat di freezer, karena jadi nggak bisa digepenging. Makanya, trus saya baca-baca lagi, mau cari kantong plasti ASI yang model Natur, tapi lebih murah dari Natur yang sekarang (awal 2015). Ketemu lah namanya Momo. Beli deh, nyobain 1 dulu aja, takut gak cocok macam Gabag. Momo, ini dia yang bisa saya informasikan:
> Harga kantong Rp 35.000 (murah kan?).
> Isi kantongnya 30 plastik.
> Design cukup bagus, sederhana. Bisa digepengin, jadi nggak makan tempat.
> Ketebelannya dibanding Natur, lebih tebal Momo, tapi lebih tipis dari Gabag.
> Buatan Thailand
> Bisa didirikan kalau kantong plastik sudah diisi ASI perah.
> Kapasitas per plastik bisa muat sampai  180cc.
> Single zip.
> Nggak perlu steril lagi, langsung pake.

Selamat ngASI

Jadi..., akhirnya saya memutuskan untuk paka kantong ASI Momo sekarang. Harga udah paling murah seantero perkantong ASI-an dan model juga bagus karena bisa digepengin, jadi nggak makan tempat. Oh iya, selain Momo, ada juga merk Cleeos yang mirip-mirip sama Natur, dan Momo. Saya belum sempet coba. Kenapa? Belum aja. Hihihihi... Baiklah, selamat ngASI ya... 

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post