2.04.2013

3 DERITA DI TRANSJAKARTA, AKHIR JANUARI 2013

Peta route koridor busway (pic taken from here)

Okey, saatnya berceloteh tentang pelayanan publik bidang transportasi yang namanya transJakarta. Udah pada tau kan, kalo transportasi publik (massal mungkin iya, tapi nggak rapid) di Jakarta itu adalah transportasi yang dibanggakan sama pak Gubernur Jakarta? Warganya dihimbau sekali banget untuk menggunakan tranportasi itu, daripada pakai kendaraan pribadi yang notabene bikin macet. Tapi, kali ini beneran saya nggak mau cerita mengenai konsep transJakarta itu seperti apa. Postingan ini bener-bener cuma mau cerita bagaimana pengalaman saya pakai jasa transportasi publik yang dibanggakan DKI 1 dan beberapa orang lainnya.

Let’s go to the point…

Kamis, tanggal terakhir di bulan Januari 2013, saya pulang menggunakan bus transJakarta. Naik dari halte Pecenongan, halte terdekat dari kantor saya, mampir di interchange Harmoni  serta Grogol dan tujuan akhir Slipi. Nah, kalau masalah koridor berapa ke berapa, saya nggak ngerti. Yang pasti pokoknya tujuannya begitu.

Alhamdulillah, antrian tiket di loket Pecenongan sama sekali tidak ada. Sampai halte, langsung beli tiket di loket. Tiket yang saya beli, masih tiket manual. Kenapa nggak pakai e-ticket kaya’ yang baru diluncurkan sama pak Jokowi? Nggak penting menurut saya. Secara nggak ada untungnya. Lha, pelayanan tiket transJakarta udah bagus kok. Nggak pernah ngantri. Jadi buat apa pakai e-ticket?

Setelah membeli tiket, masuk gate, akhirnya nunggu bus transJakarta di halte yang sisi Jl. Veteran. Nggak lama, bus transJakarta yang jurusan ke Harmoni datang. Naiklah saya. Waktu menunjukkan pukul 17.50 ketika saya naik bus menuju interchange Harmoni. Bus yang mengangkut saya ini berakhir di interchange Harmoni, mau tidak mau saya harus turun untuk ganti bus yang menuju Kalideres.

Kira-kira 5 menit dari halte Pecenongan, saya sudah sampai di interchange Harmoni. Turun, langsung menuju ke antrian koridor Harmoni – Kalideres yang berada di ujung utara interchange. Panjang juga antriannya, sekitar 30 baris. Setiap baris ada sekitar 3 orang penumpang. Di antrian koridor lainnya, tidak kalah penuhnya dengan antrian saya ini. Namun yang agak panjang dan tidak bergerak itu antrian koridor Harmoni – Lebak Bulus. Di interchange Harmoni itu, tampak hilir mudik orang-orang. Malah, ada beberapa yang sampai berlari-lari mengejar apa entah.

Selama mengantri bus yang akan mengangkut saya ke arah Interchange Grogol, saya sibuk dengan gadget saya. Headset pastinya nggak lepas dari kuping. Sambil denger radio, sambil liat timeline twitter atau kadang instagram, dan nggak luput juga dari memerhatikan situasi halte Harmoni, pokoknya sabar menanti di tengah ramai orang dengan udara yang panas (padahal di situ keliatan ada beberapa kipas angin, tapi satupun nggak ada yang muter itu baling-baling kipas angin – pajangan atau koleksi ya?) . Untungnya, antrian ini berjalan agak cepat. Tiap 5 menit, maju untuk melepas sekitar 10 baris tadi. Sampai pada akhirnya, saya berada di depan pintu halte itu sekitar pukul 18.10. Lumayan, antri sekitar 15 menit di interchange sih masih bisa diajak kompromi.

Ketika bus datang, saya masuk dan menuju ke area khusus wanita di bagian depan. Tidak dapat tempat duduk karena memang ramai sekali penumpang. Ya maklum saja, jam pulang kantor pasti ramai. Lagipun, Harmoni – Grogol tak seberapa jauhnya (hanya melewati 1 halte ; Sumber Waras). Gadget dalam genggaman saya setidaknya akan setia menghibur saya selama perjalanan, walau dengan kondisi berdiri dan sedikit berdesakan dengan penumpang lainnya.

Ketika bus mulai berjalan dari interchange Harmoni menuju Jl. Hasyim Ashari, saya sudah siapkan mental untuk menerima kenyataan pahit, yaitu macet. Maklum yah, ini ruas busway tidak steril. Banyak mobil pribadi yang masuk jalur busway, tapi nggak ditilang sama pihak berwajib. Belum lagi perempatan ke Jl. Sangaji, Jl. Cideng, dan Jl. Biak, macetnya nggak nahan (selalu ngunci deh itu perempatan). Dan bener aja kan, baru masuk Jl. Hasyim Ashari, langsung berhenti total. Macet. Okeylah, tidak apa-apa, memang sudah begitu adanya, mau apa lagi? Bersyukur donk, masih punya gadget yang setia nemenin perjalanan. Mudah-mudahan aja baterainya kuat dan tidak habis selama perjalanan.

Waktu menunjukkan pukul 18.30, masih belum sampai di pusat kemacetan pertama, perempatan Jl. Sangaji yang tandanya baru jalan sekitar 100 meter dari mulai masuk Jl. Hasyim Ashari. Belum selesai hati ini tersakiti karena macet, kenyataan pahit kedua datang dengan tidak sopannya menghantam penumpang transJakarta. AC bus yang saya naikin, mulai panas. Nah loh, bener aja, ternyata AC bus mati! Ya Allah, mau jadi apa ini penumpang di dalam bus? Penumpang udahlah penuh, jalanan macet tidak bergerak, AC bus mati pula? Hastaaagaaah… Aseli deh, keringet saya mulai ngucur dan saya pun mulai kegerahan. Ada penumpang perempuan yang kebetulan bawa kipas, dirinya berkipas dan bersyukur saya kebagian anginnya, walaupun tetap terasa pengap.

Petugas transJakarta yang selalu berada di dekat pintu bus, menginformasikan kepada kami, bahwa AC bus mati dan perjalanan bus akan berakhir sampai di halte Sumber Waras. Beberapa penumpang ada yang mulai mengeluh, karena  pun mau sampai ke halte Sumber Waras bisa sampai 1 jam sendiri mengingat macetnya seperti itu. Petugas tampak tidak menggubris keluhan penumpang. Yang saya perhatikan, petugas sibuk menelfon (entah kemana?) dan memberikan informasi kepada lawan bicaranya disana, bahwa bus yang dirinya naiki sedang mengalami gangguan teknis AC. Sedikit yang saya ingat pembicaraannya adalah; “Ini bus gw ACnya mati. Penumpang gimana mau evakuasi, orang macet begini? Tapi mau evakuasi juga halte Sumber Waras masih jauh, macet juga”

Pukul 18.45, bus dengan nomor armada TB 113 beneran mulai pengap, karena sumuk sekali di dalam bus itu. Ya gimana nggak sumuk, penumpang bus penuh, tanpa dapat udara segar? Berebut udara bersih kami yang berada di dalam. Saya sempat meminta untuk membuka pintu bus yang di bagian tengah, agar kita mendapat udara segar. Namun permintaan saya tidak digubris oleh petugas. Beneran deh, udah mulai emosi saya dengan situasi yang begini. Petugas apa nggak ngerti ya, kalo kondisi tertutup rapat gitu jadinya sumuk? Yailah, mas… situ mau mati lemas kah? Ya nggak usah ngajak-ngajak saya kalo gitu sih, mati ya mati aja sendiri.  Tapi syukurlah, akhirnya pintu bagian tengah yang disebelah kanan, dibuka juga sama pak supir. Lumayan, dapet udara segar. Kalo ada mobil lewat, malah angin sepoi-sepoi masuk. Aman…

Pukul 19.10, lokasi bus sudah sampai di sekitar perempatan Jl. Cideng. Pintu darurat bus bagian depan dibuka oleh pak supir. Sekitar 4-5 penumpang di bagian depan turun untuk pindah ke bus belakang (atau mungkin ganti moda transportasi?). Apakah itu bagian dari evakuasi penumpang? Nggak jelas sama sekali. Nggak ada pengumuman apa-apa dari petugas dan supir bus. Saya sendiri memilih untuk bertahan di bus itu dengan pertimbangan pintu bus bagian tengah dibuka. Memang tidak sedingin memakai AC, tapi lumayan banget setidaknya nggak sumuk. Eh tapi ya, abis itu pintunya ditutup lagi loh. Yahilah bang, et dah baaaang (X_X). Panas bang, gerah, sumuk!!!

Petugas mulai sibuk lagi telfon dengan entah siapa. Kali ini terdengar dari pembicarannya bikin saya nyolot banget. Gimana nggak mau marah, kalo terdengar pembicaraan seperti ini, “Iya, penumpang pada nggak mau dievakuasi. Pintu depan udah gw buka, penumpang pada nggak mau pindah. Ya udah, ini pintu tengah gw tutup aja lagi” Hehhh???!!! Kapan dia umumin sama penumpang kalo pintu depan dibuka dan bisa pindah ke bus belakang? Buseeet, nyolot abis! Nggak pake aiueo, saya langsung ngemeng, “Mas, kapan diumumin ke penumpang kalo pintu depan dibuka dan penumpang boleh pindah? Diumumin juga nggak! Gimana penumpang mau tau kalo pintu depan dibuka????!!!” Iysh, beneran nyolot deh. Dan akhirnya pintu depan diminta dibuka kembali sama petugas ke pak supir. Langsung petugas ngomong, “Bagi penumpang yang mau pindah ke bus belakang, silahkan turun melalui pintu depan”. Langsung setelah pengumuman itu keluar, sekitar 15 penumpang bergegas turun, pindah ke bus lainnya. Lumayaaan, makin longgar deh bus ini. Setidaknya makin sedikit rebutan udara bersihnya.

Lanjut lagi dengan kemacetan, kesumukan, tapi masih bersyukur nggak mati gaya dengan adanya gadget saya yang bisa facebook-an, twitter-an, instagram-an, whatsapp-an, dan dengerin musik…

Eh tapi ya, sekitar 5 menit setelah pintu depan itu ditutup kembali, ada seorang ibu-ibu paruh baya yang meminta kembali kepada petugas untuk membukakan pintu di depan, karena dirinya baru saja berubah pikiran. Si ibu menyampaikan kepada petugas agar dapat membukakan pintu di depan karena ternyata harus tiba di tempat tujuan secepat mungkin dan tidak mungkin kalau ngarep nungguin jalanan ini. “Saya mau ganti ojek aja, mas. Saya nggak punya waktu lama”, begitu ujar si ibu kepada petugas transJakarta. Namun permintaan si ibu dimentahkan oleh petugas dengan alasan, “Saya nggak bisa menurunkan penumpang kalau nggak di halte, bu”. Eh ya ampyun deh, bwaaang. Ini kan keadaannya begini. Sekali lagi ya, udah jalanan macet, AC bus mati pula. Orang kan punya kepentingan juga kali bang… Si ibu kemudian berbicara agak keras, “Mas saya nggak main-main ya. Saya serius. Saya harus ganti ke ojek. Saya ngejar waktu”. Setelah si ibu maksa begitu, si petugas jawab dengan lantangnya, “Makanya, kalo jam segini jangan naek busway. Ini koridor Roxy. Macet banget, crowded selalu. Nggak usah pake busway kalo jam-jam segini” Jdeeeeeng!!! 
Kaget bener saya denger si mas ngomong begitu.

Ikut termakan kesel sama ucapan si mas, akhirnya saya pun ikutan berkoar. “Eh mas, tau nggak kalo moda transportasi transJakarta ini adalah moda transportasi yang diandalkan sama pemerintah daerah Jakarta. Tau nggak, kalo masyarakat diminta untuk pake transJakarta dan diminta untuk meninggalkan kendaraan pribadi? Tau nggak, mas? Kok sekarang si mas malah ngomong gitu? Itu kan tandanya si mas nggak ndukung program pemerintah!” Si mas hanya bisa terdiam dan terdiam. Aseli saya kesel banget sama ucapannya itu. Nggak sepatutnya dia sebagai petugas transJakarta ngomong begitu donk… Itu kan kontradiksi banget.

Setelah itu, akhirnya si ibu diperbolehkan turun melalui pintu depan. Itu pun setelah petugas menyerahkan keputusan untuk membuka pintu depan kepada pak supir. Ish, capek deh mas, ya gitu aja sampe ribet banget. Bener kata ibu penumpang yang duduk di depan saya. Katanya, “Mas ini, udah keadaan seperti ini, bukannya mempermudah urusan orang, malah menyulitkan orang. Bukannya bikin adem suasana, malah bikin suasana tambah panas”. Nah kan, ada lagi yang marahin itu petugas. Huahaha, mang enak, mas… dimarahin sama ibu-ibu.

Pukul 19.30, lokasi bus yang saya naikin sudah berada di sekitar perempatan yang ke Jl. Biak. Tinggal dikit lagi naik jembatan Roxy, sampe di halte Sumber Waras. Pastilah bentar lagi, banyak yang akan turun. Saya sih pasti ngikutlah, sampe halte Grogol. Turun di Sumber Waras, bakalan jadi nggak waras saya. Secara tinggal dikit lagi udah sampe halte interchange Grogol kan? Pas udah ngelewatin perempatan Jl. Biak itu, Alhamdulillah diberikan kelancaran itu jalan. Walaupun bergerak perlahan, tapi ya masih jalan. Pintu tengah bus mulai ditutup kembali setelah kondisi bus berjalan pelan.

Turun jembatan Roxy, berarti halte Sumber Waras tinggal deket aja. Mas petugas, mengeluarkan pengumuman,  “Mohon maaf kepada seluruh penumpang, perjalanan bus ini hanya sampai di halte Sumber Waras dan Grogol karena AC bus mati. Bagi yang akan melanjutkan perjalanan, silahkan turun di halte Sumber Waras atau halte Grogol. Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini dan mohon maaf jika ada salah ucap atau kata”. Iyh, hebat ini mas’nya minta maaf atas kesalahan yang telah dia perbuat tadi. Well, I do appreciate it so much, mas bro. Saya maafkeun… E tapi ya, ada ibu-ibu yang tadi ngomel itu, bilang gini lagi, “Besok jangan diulangin lagi mas. Kalo udah situasi panas, jangan ikutan panas donk. Harusnya ngademin, bukan panas juga” Hihihi, tetep yah, ibu-ibu. Ngomel nomor satu. Wahid lah, pokoknya.

Pukul 19.45, pas sampe di halte Sumber Waras, banyak yang turun donk. Alhamdulillah, semakin lega. Sekitar 90% penumpang turun di halte ini. Saya tetap lanjut sampai halte Grogol. Lancar banget dari halte Sumber Waras, Cuma 3 menit untuk sampe di halte Grogol.

Alhamdulillah, akhirnya menapakkan jejak juga di interchange Grogol. Mau lanjut ke koridor Grogol – Pinang Ranti. Cool banget, dari pkl 18.10 – 19.45 (1,5 jam) untuk menempuh jalur Jl. Hasyim Ashari sampe ke Grogol yang berjarak 2,7km (berdasar jarak peta di Google earth). Eh ya ampun ya Allah, segitunya macet ya? Jakarta oh Jakarta. Tapi lega bener deh, udah sampe interchange Grogol. Karena biasanya kalo dari interchange Grogol, mau ke Slipi itu udah jarang banget yang macet menggila. Edyaaan itu sih, 1,5 jam hanya dapet 2,7km. Lebih cepet jalan kaki kaya’nya. Tapi kaki gempor pastinya. E tapi macet sih kan ya, kalo pake kendaraan? Eh nggak tau deh, bingung!

Naaah, kelar juga cerita derita di transJakarta pada akhir bulan Januari 2013 kemaren ini. Perjalanan waktu 90 menit dengan jarak 2,7km tapi bisa ngabisin sampe lebih dari 10,550 kata. Terlalu banyak cerita derita. Ya, tapi kesimpulannya sih nggak banyak kok. Cuma 1 kalimat saja cukup, yaitu “Pelayanan transjakarta begitu kok mau diandelin dan dibanggakan sih? Mana tahaaannn…” Selamat Menikmati Pelayanan TransJakarta ya...

1.31.2013

AMPERA 2 TAK

Rumah Makan Ampera 2 Tak dari depan
Sesuai dengan janji saya sebelumnya di posting-an 1 JANUARI 2013, yang dimana saya akan menceritakan tentang rumah makan yang bernama Ampera 2 Tak (apakah ada hubungannya dengan motor bebek 2 tak itu?), maka kali ini beneran deh, pengen nulis tentang itu rumah makan. Ehm, namapun janji, jadi ya harus dipenuhi. Secara juga udah siap dengan beberapa gambarnya untuk di posting, jadinya saya berniat untuk mempostingkan itu cerita. Kalo search di om google sih, udah ada beberapa ulasan tentang rumah makan ini. Tapi tetep donk ya, saya mau berbagi dengan versi saya. Yoi donk, pede cerita lah pokoknya, secara udah langganan makan disini cukup lama. Dan kadang bikin ngangenin nih, makanan yang model begini. Makanan rakyat, nggak mahal, enak, meriah lah pokoknya...


Lokasinya...

Lokasi rumah makan ini ada di Jl. Cikini Raya, deket sama Hotel Menteng II. Pas sebelumnya banget deh. Keliatan banget lah pokoknya kalo ada parkiran rame sebelum Hotel Menteng II itu. Secara itu jalan one-way (dari Menteng situ kan ya), parkirannya nggak ada, jadilah pada parkir di pinggiran jalan. Kiri dan kanan lho, parkirnya. 

Lokasinya (yang ada pin biru)
Dulu itu lokasi rumah makannya nggak di situ, tapi ada di Jl. RP Soeroso, lebih bekennya daerah Gondangdia, tepatnya di depan Hotel Godila (hmmm, baru nyadar kalo lokasi ini rumah makan kok deketan melulu sama hotel). Tapi kira-kira udah 3 tahun terakhir dia pindah ke Cikini situ. Sepertinya sih tempat yang lama itu direnovasi, tapi kalo diliat, sampe sekarang ya belum  kelar juga renovasinya.


Kok saya bisa nyampe sini ya...

Diajakin temen. Tepatnya yang ngasih tau siapa ke saya, lupak! Aseli udah lama banget ke sini. Dari jamannya belum buka 24 jam, sampe sekarang yang buka 24 jam. Dulu tuh ya, kalo kesini pukul 1600 aja, makanannya udah tinggal sedikit. Pernah sekali-kalinya makan jam 1800, udah bener-bener tinggal sisa-an aja. Yang masih banyak cuma lalapnya aja. Hihihi...

Setelah kenal ini rumah makan, langsung donk pamer sama bapak ibu dan temen-temen lainnya. Akhirnya bapak ibu juga doyan kesini. Menyebar virus berhasil...


Rumah makan apa sih nih...

Ya kalo dari namanya aja kan ya "Ampera", nah udah tau deh bangsa rumah makan apa ini. Nggak mungkin ke sushi atau steik lah ya. Sundanese food pastinya. Tapi ada yang bilang juga sih ini rumah makan Cianjur. Makanan rumah makan ini udah jadi semua. Model fast food donk? Emang. Makanya, kalo yang lagi pengen makan cepet, nggak pake nunggu masak, ya disini ini. Makanannya udah jadi semua. Mau nasi, sayur, lauk, pokoknya udah ready. Tinggal pesen minum. Pun kalaupun pesennya teh tawar, ya udah siap, tinggal tuang aja ke gelas. Kecuali kalo mau diangetin (goreng sebentar) lagi itu makanannya.


Apa aja makanannya...

Rumah makan ini menjual makanan yang hampir sama alias tipikal dengan rumah makan Sunda lainnya. Nggak jauh dari ayam goreng, ikan goreng, empal, paru goreng, limpa, babat sapi, tahu/tempe goreng, pepes ayam, pepes jamur, pepes tahu, pete (mau rebus mau goreng mau mentah bisa), lalapan, sayur asem, bisa pesen gurame goreng, dan yang lain-lainnya. 

Makanannya
Beberapa menu makanannya
Saya sendiri kalo kesini, nggak pernah missed sama yang namanya sayur asem. Sayur asem disini boleh ngambil semangkok sesuka kita (model ngambil salad bar di pizza hut). Menurut saya pun, sayur asemnya lumayan enak. Walaupun kalau boleh jujur, sayur asem waktu di tempat yang lama itu jauh lebih enak ketimbang rasa yang sekarang ini. Tapi ya masih enak lah, apalagi kalo dibandingkan dengan sayur asem di tempat yang lain-lain itu. Hmmm, tapi jangan bandingkan dengan sayur asem buatan ibu ya. Dimana-mana, pasti sayur asem  buatan ibu itu yang paling enak.

Nah, lalap dan sambel juga boleh ngambil sesuka kita. Soalnya, ditarohnya di meja gitu, jadi kita bebas mau ngambil lalapan sama sambelnya. Watch out, sambelnya lumayan pedes. Buat yang nggak doyan pedes banget, mending tambahin kecap. Nggak suka sampel dipakein kecap? Ya udah kalo gitu, cocol-cocol aja tuh sambel. Walaupun lalap dan sambel boleh ngambel sesuka hati, tapi tetep ya, ambil seperlunya aja. Kalo nggak abis kita makan, jatuhnya kan kebuang. Mubazir banget...

Sempet nge-jokes juga nih sama bapak ibu waktu makan disini. Jadi ceritanya ya, di rumah makan ini, nasi kan boleh ngambil sepuasnya dengan satu harga yang tetap. Lalap boleh ngambil sepuasnya, berikut dengan sambel yang mana keduanya adalah gratis. Teh tawar anget, gratis sampe kembung. Naaah, kalo makan kesitu, boleh dicoba, makannya : nasi putih, lalap dan sambel, minum teh tawar anget. Sampe kenyang, cuma bayar nasi putih aja... (garing nggak sih ini jokes?)

Lalapan yang segar
Menu pilihan kami waktu kunjungan tahun baru

Harganya...

Masalah harga, cukup terjangkau kok. Nggak mahal-mahal banget, walaupun ya nggak murah sekali. Kalo dulu, si kasir itu ngitungnya masih manual lho. Hitung manual tuh ya maksudnya, itu si kasir udah punya nota bon yang ukurannya kurang lebih lebar 10cm dan panjang 25cm. Disitu udah tertera semua harga makanan dan minumannya. jadi kita bisa tau semua harga makanan dan minuman. Nah kalo sekarang, udah ada kemajuan sedikit. Si kasir udah pake mesin hitung ala kasir itu. Jadi, yang keluar di nota bon cuma apa yang kita makan. Nih, contohnya kaya' di gambar.

Bon yang sekarang modelnya begini nih
Siapa yang makan disini...

Pengunjung rumah makan ini datang dari berbagai kalangan ekonomi loh. Dari yang pake baju parlente necis bin rapih, sampe yang model anak punk juga ada. Yang naek mobil Carry sampe yang naek Alphard juga ada. Yang kulitnya hitam legam sampe yang putih mengkilap ada. Tempatnya sederhana, tapi emang makanannya seru banget. Indonesia banget deh, seleranya. 

Beberapa tips dari saya kalo mau makan di rumah makan ini:
  1. Pilih meja yang adanya di bagian depan, jangan di bagian dalam. Kenapa? Soalnya di dalam itu sumuk alias gerah alias panas. Soalnya itu kompor buat manasin makanan, adanya kan di dalam rumah makan, jadi hawa panasnya langsung berasa. Belum lagi di dalem itu ada toilet. Hehehe, walau tempatnya bersih, tapi kalo sumuk ya jadi males lah. Mending duduk di luaran aja yang hawa-nya lebih segar, udara mengalir bebas.
  2. Jangan pake baju tebal-tebal. Beneran ini rumah makan nggak ada ACnya. Pake baju tebal sama juga nyusahin diri sendiri. Apalagi makan sambel yang bisa bikin keringetan. Pake baju tebel, makan pedes, keringetan, sumuk pulak, komplit!
  3. Jangan datang pas jam makan siang banget (antara pukul 12.00 - 12.30), karena pasti ruamenya ampun. Mbludak lah. Cari tempat duduk bakalan susah, jalan juga bakalan susah. Belum lagi buat yang bawa mobil, pasti parkirnya bikin males. Penuh banget. Yang ada, jadinya malah males makan disini, karena udah kesel sama susah parkir dan susah dapet tempat duduk.

Es Podeng dan Rujak...

Naaah, ada cerita lain lagi nih di rumah makan ini. Disini, ada penjual makanan lainnya yang nebeng jualan. Es podeng sama rujak (potong dan serut). Es podengnya terakhir di bandrol harga Rp 7,000. Menurut saya, es podengnya ya biasa aja. Masih kalah sama es podeng langganan saya di Kemang samping Kemchik (et dah jauh amat yah). Yang di Cikini ini, es podengnya nggak pake alpukat. Jadinya kurang menarik buat saya.   Sementara itu ya, yang di Kemang, pake kacang giling, coklat meisyes, alpukat, susu coklat. Yah, jadi kangen deh...

Es podeng

Kalo buat rujaknya, asli nggak nahan. Nggak nahan mahalnya. Di bandrol seharga Rp 15,000 per porsi which is isi buahnya paling cuma 15 potong (bukan 15 jenis buah ya). Sangat mahal menurut saya. Apalagi didukung dengan bumbu rujak yang sangat biasa. Lha rujak di Jl. Lombok, Menteng yang lebih enak bumbunya dan porsinya lebih banyak aja cuma di bandrol Rp 10,000 per porsi. Apalagi mau bandingin sama rujak depan kantor yang harganya cuma Rp 7,000 yah. Bumbunya sih sama aja, tapi buahnya jauh lebih banyak... Hehehe, pikir-pikir aja lagi kalo mau beli rujak disini. Kalo cuma mau ngerasain sih ya boleh-boleh aja. Tapi kalo nggak siap dengan kekecewaan, mending jangan coba ya... 

Tukang rujak yang kemahalan
Baiklah, saya rasa cukup sampai disini berita rumah makan Ampera 2 Tak Cikini ini. Nulis ini beneran nggak dibayar sama rumah makan itu, lho... Cuma murni banget pengen cerita. Sharing pengalaman. Selamat mencoba buat yang belum pernah...

1.17.2013

1 JANUARI 2013

Akh... Tahun Barunya udah kapan tauk, baru cerita sekarang.... Ya, namanya juga ide baru muncul, jadilah baru bisa dicurahkan. Nah, kali ini, mau cerita kegiatan keluarga Rifani pada hari perdana di tahun 2013. Ya namanya juga cerita, jadi ya apa yang bisa diceritakan, ya diceritakan (ya nggak ada juga yang makasa ceritak!!!)... Ceritanya gini, udah jadi tradisi di keluarga kita (saya dan suami pastinya) kalau malam pergantian tahun baru itu di rumah saja. Kita pilih untuk menghabiskan waktu di rumah, berkumpul bersama keluarga ketimbang harus keluar rumah apalagi kalau harus bermacet-macetan pulangnya. Lah hari kerja aja udah macet, masih mau tambah lagi pas malam tahun baru? Tentu tidak. Nah, ketemu sama pak suami, ternyata punya pola pikir yang sama, yaitu yang males keluar rumah kalo malam pergantian tahun baru. Kalo kata si bapak sih, males macetnya. Apalagi kalo bawa anak bayi, kasihan di jalan.

Tahun Baru-an? (pic taken from here)
Karena malam tahun barunya nggak keluar, akhirnya kita keluar pas hari pertama di tahun baru. Enak banget lho. Jalanan di Jakarta sepi, lancar, jadi bisa menikmati lengangnya kota Jakarta. Dimana saat orang istirahat di rumah, saya malah jalan-jalan keliling kota. Ini baru bisa namanya menikmati. Hemat bensin, hemat waktu, dan pastinya murah meriah.

Kalau bapak saya lebih extreme lagi. Dulu, sewaktu saya belum nikah, kalau mau pamit keluar untuk ngerayain tahun baruan, pasti beliau komentar gini, "Tahun baru kok pesta pora? Tahun baru itu ya mengaji, baca Alquran, merenung apa yang telah terjadi di tahun sebelumnya, terus merencanakan agenda di tahun berikutnya. Bukan dengan hura-hura begitu. Mau dibilang setahun sekali? Padahal juga ngaji juga belum tentu 2 tahun sekali kan?" Okey yes, bapak. Nggak deh, nggak keluar. Di rumah aja sama bapak ibu. Huhuuuy, jadilah memang saya hampir tidak pernah merayakan malam pergantian tahun baru bersama teman keluar rumah. Pilih sama bapak ibu aja deh... Eits, tapi jangan salah ya. Di rumah sih di rumah, tapi ya belum tentu ngaji juga sih, hihihihi.... *keplak kepala sendiri* 

Selama pernikahan dengan si bapak suami, kira-kira begini lah perjalanan pergantian tahun baru saya... Saya menikah dengan pak suami Mei 2010, berarti sudah mengalami 3 kali ganti tahun masehi. 

Tahun 2011 : 
Malam pergantian tahun baru di rumah pak suami Kedoya. Kita ngabisin malam tahun baru cuma dengan nonton box office (itu pun box officenya RCTI - aselik gak modal)  di rumah bersama dengan cemilan potato chips. Nggak niatan begadang sama sekali. Tidur telat karena emang filmnya (waktu itu Transformer yang puter RCTI abisnya udah dini hari). Nares belum lahir nih, saya masih hamil besar. Sayang banget nih, nggak punya dokumentasi sama sekali pas pergantian tahun baru yang ini. 

Tahun 2012 :
Malam pergantian tahun baru di rumah Slipi. Nikmatin waktu main sama Nares yang pada saat tahun baru itu berusia 1 bulan 3 minggu menuju 1 tahun. Nah, pas hari pertama tahun barunya, kita lunch di Pizza Hut Jl Juanda. Kenapa di Pizza Hut? Karena deket sama rumah kita, karena waktu itu Pizza Hut baru buka jadi tempatnya pasti masih baru dan bersih, karena tempatnya bukan di mall/shopping center, karena Pizza Hut Jl Juanda itu parkirannya banyak, karena Pizza Hut Jl Juanda itu konsep interiornya comfy banget. Naaah, karena itulah, kita pengen kesana. Hmm, ini bukan jualan Pizza Hut kok, tapi just tell the truth alasan kenapa kita mau makan siang Tahun Baru disana. Buat bawa bayi seumuran nares itu juga nyaman. Tempatnya bersih gitu loh. Secara juga ada toiletnya yang bersih banget dan ada musholla-nya. Selesai makan siang perdana di Pizza Hut Jl Juanda, kita cuma putar-putar jalanan Thamrin - Sudirman. Ya menikmati jalanan kosong kan, soalnya kan besokannya sudah macet seperti biasa, toh?

Makan Siang perdana 2012

Tahun 2013 : 
Seperti biasa, malam tahun baru di rumah. Walaupun ada malam Car Free Night usungan Guberbnur DKI Jakarta yang baru, tapi ya tetep aja, kita pilih untuk di rumah. Ya rumah Slipi pastinya. Kali ini kita nggak ngapa-ngapain, selain makan malam biasa ala rumahan. Cuma karena saya iseng mau ngotorin dapur, akhirnya bikinlah kita popcorn. Yang satu pake caramel, yang satu pake garam saja. Nares dan bapak suka yang asin sementara saya ngabisin yang caramel. Eh, laku juga loh, abis.  Makan popcorn sambil dengerin tetesan air hujan (yoih, malam tahun baru diiringi dengan hujan intensitas sedang dan awet). Tidur pun jam 10 malam saja. Petasan sih petasan, tapi kalo ngantuk ya turu (baca : tidur). Besokannya, pas hari perdana di tahun baru kita baru deh, makan siang di luar. Seperti biasa, menikmati jalanan yang kosong melompong dan lengang. 

Untuk makan siang tahun 2013 ini, kita pilih makan siang di rumah makan Sunda Ampera 2 Tak yang di Cikini itu loh. Hihihi, iseng banget degh makan disitu. Kenapa milih disitu? Karena, Nares udah bisa diajak ke tempat yang agak nggak steril, karena kita lagi pengen makan makanan Indonesia, karena juga nggak terlalu jauh dari rumah, karena juga udah lama nggak makan di Ampera, karena lokasinya melewati jalanan protokol Jakarta yang pastinya lengang di saat itu walau semalamnya habis dipake sama ribuan orang untuk merayakan malam pergantian tahun. Nah, buat cerita tentang rumah makan Ampera 2 Tak ini biar saya bikinkan postingan sendiri yang lebih lengkap ya.. (yess, punya idea baru).

Makan Siang Perdana 2013 
Selesai makan siang di Ampera 2 Tak Cikini, kita tadinya mau ke Grand Indonesia dengan tujuan ke Ace Hardware. Si bapak nyari itu loh, yang penutup sudut meja secara Nares sempat kejedut sudut meja yang tajam kapan hari itu. Tapi niat ke Grand Indonesia diurungkan setelah melihat antrian masuk parkir ke Grand Indonesia mengular panjang. Udah ribet deh urusannya kalo sampe urusan parkir aja ngantri mau masuknya sampe 200 meter sendiri. Akhirnya kita urungkan niat ke Grand Indonesia dan find another place yang lebih nggak waste time untuk antrian parkir. Saya sampaikan ke pak suami, better try to Glodok Elektronik di samping Sarinah, which is masih sekomplek sih sama Sarinah. Nggak perlu parkir jauh-jauh juga antara toko dan mobil. Saya dan Nares nggak turun dari mobil, si bapak biar sendirian aja belanja ke Glodok Elektronik, Naresnya tidur soalnya. 

Selesai bapak beli itu penutup sudut meja yang harganya cuma Rp 20 ribu, kita langsung pulang. Cuaca udah mendung banget juga loh. Langitnya gelap, warnanya udah abu-abu tua. Keluar dari parkiran Sarinah udah sekitar pukul 15.00. Saat itu udah mulai turun air dari langit, tapi masih ya kecil banget loh, kalo katanya orang Jawa sih, "kremun". Tapi pas begitu sampe bunderan HI, eh ujannya makin lebat. Makin ke arah Semanggi, semakin lebat dan lebat. Tapi lucunya, pas sampe bunderan Slipi, hujannya menghilang alias Slipi nggak hujan toh? Hihihi... padahal sama-sama bunderan, tapi beda kondisi #garing.

Dari agak mendung sampai hujan lebat (kiri atas ke kanan turun kanan bawah ke kiri)
Alhamdulillah, acara menikmati hari perdana di tahun 2013 berjalan lancar. Bisa menikmati makan siang dan perjalanan pulang. Acara yang sangat sederhana, tapi tetap punya kenangan (pastinya dikenang nanti kalau baca blog ini lagi :p). Biar dibilang sederhana, tapi kan yang penting kumpul sekeluarga. Hmmm, kira-kira kalau masih dikasih kesempatan untuk bernafas di tahun 2014, acara hari perdana kemana ya?

Buat pembaca blog saya, selamat tahun baru ya? Belum telat kan, ngucapin selamat tahun baru? Yah, walau udah pertengahan Januari, tapi yang penting semangat tetap baru. Sukses selalu buat pembaca blog ini ya... :)

1.07.2013

REVIEW DIAPERSnya NARESWARI

Wowhooo... kali ini postingan produk lagi. Yang gampang-gampang aja kok review-nya. Review diapers yang pernah dicobain buat Nares. Udah lumayan banyak soalnya, nyoba-nyoba diapers buat Nares. Pertimbangan gonta-ganti merk ya karena banyak dan beberapa hal. Antara banyak hal adalah pertimbangan harga (yang promo dahsyat pasti dilirik), merk, dan tahan bocor.

Nah, kenapa saya milih pake diapers sekali pakai alias pospak ketimbang clodi, adalah karena setelah saya membaca review-an dari pengguna clodi, clodi itu pencuciannya harus bener dan nggak bisa sembarangan. Lah kalo saya di rumah kan ya, dulu itu yang nyuci si mba'nya. Yang mana si mba' itu kebanyakan kalo nyuci suka nggak beres alias asal-asalan. Makanya mendingan pake pospak dah. Sekali pakai, selesai urusannya. Mahal? Emang. Tapi daripada nggak ketelatenan (baca : ketelitian), mending pake yang pasti aja degh. Pasti bersih pas mau dipake. Sederhana aja sih alasannya...

Mari lanjut dengan review-an si pospak :

Huggies New Born

Huggies New Born

Sebenernya tuh ya, saya beli merk Huggies ini nggak lain karena itu bungkus itu plastik warnanya hijau muda. Ya, sebagai penggemar warna hijau sejati, maka segala sesuatu yang berbau hijau, pastinya akan saya utamakan terlebih dahulu ketimbang warna lain. Haha... pokoknya everything is gonna be green lah yaw! Secara kualitas, Huggies new born ini bagus dan saya puas dengan kualitasnya. Nggak pernah ada kenal yang namanya bocor. Perekatnya juga bagus kok. Ya, dari segi harga dan kualitas, sepadan lah.








Huggies Ultra

Huggies Ultra

Pake diapers ini karena memang ukuran yang new born udah mulai kekecilan buat Nares. Badan Nares udah mulai membesar dan mengharuskan dirinya upsize ke yang ukuran S. Masih beli Huggies salah satunya juga karena lagi ada program pengumpulan poin mau dapet hadiah. Wahaha... Niat banget kan, sambil nyelam ya minum air. So far, kualitas Huggies Ultra ukuran S ini ngga beda sama sekali dengan Huggies yg newborn. Harganya pun dalam jumlah 1 bal ya sama, tp kan ya kuantitas di dalam bal itu yang berbeda. Jadi, hitungan per piece ya memang naik. Nah, selama pake Huggies Ultra S, M, dengan sistem perekat itu tidak pernah ada masalah bocor.





Pampers Active Baby

Pampers Active Baby 

Ketika promo poin Huggies berakhir dan sudah menukarkan hadiahnya pulak, mulailah saya hunting merk2-merk lain diapers baby. Brand pertama yg dituju adalah Pampers. Kenapa pilih Pampers? Karena harganya di bawah Mamy Poko. Trus alasan lainnya adalah karena sepupuan cerita kalo Pampers lebih slim bentuknya ketimbang Mamy Poko yang bulky gitu. Sip bungkus si Pampers. Alhamdulillah, selama pake Pampers active, ngga menemukan juga masalah kebocoran. Selain kebocoran dana.









Huggies Pull Ups Pants

Huggies Pull Ups Pants 

Nah, ini sih emang kebetulan rejeki dapet diapers 1 bal isi 36 (atau 38 ya, lupa!). Ceritanya menang kuis dan hadiah merupakan diapers 1 bal. Kualitas Huggies Pull Ups Pants sama seperti Huggies Ultra. Cuma kalo menurut saya, kalao anaknya belum bisa berdiri atau setidaknya ngelurusin kaki, pake yg pull up pants ini agak meribetkan. Karena pas narik ke bagian perutnya itu loh, kl posisi tiduran ya ternyata susah. Enakan yg model strap ketimbang pull ups. Hehe, secara emang juga kan ya, suggestion di packaging itu ya pull ups ini buat anak yang setidaknya bisa merangkak. Hihihi...








Fitti Basic

Fitti Basic

Aseli nggak ada rekomendasi dari siapa-siapa untuk pakai diapers ini. Beli diapers ini tuh karena kalo di Sing banyak bener diapers merk ini. Makanya nyobain aja beli diapers ini. Ternyata hasilnya kurang memuaskan. Ya bocor gitu deh. Menang di bentuknya yang rada tipis gitu aja, tapi ya pas dipake kok ya bocor. Kalo dari segi harga, emang dibawah Pampers dan Huggies (apalagi Mamy Poko). Ya mungkin karena itu lah ya, jadi harga pun sesuai dengan kualitas. Hihihi, baru beli sekali diapers merk Fitti ini dan belum pernah beli untuk kedua kalinya karena kebocorannya itu.








Pampers Active Baby Pants

Pampers Active Baby Pants

Kualitas Pampers baby Active Pants ini ya sama seperti Pampers Active Baby yang Strap itu. Bedanya ini ya model celana itu. Selama ini pake yang type dan merk ini belum penah bocor. Tapi, saya beli ini biasanya kalo lagi ada promo aja. Hihihi... Harga, pasti diatas yang versi strap. Hitung punya hitung, harga per piece sekitar Rp 2700-an. Mahal? Ya relatif sih kalo mahal atau murahnya. Tapi memang biasanya ya harga sesuai dengan kualitas toh?









Huggies Dry Pants

Huggies Dry Pants

Nah, kalo alasan kenapa saya beli ini diapers adalah karena lagi ada promo! Kebayang kan, waktu itu promonya seharga Rp 39,000 untuk diapers sejumlah 20 biji. Kan berarti sabijinya seharga Rp 2,000an. Hihihi... untuk harga segitu dapet yang type pants ya lumayan banget lah. Makanya beli 2 bal waktu itu. nah, pas dipake, eh ternyata agak kurang memuaskan. Kenapa? Eee... sering banget bocor. Hadeuh, 2 kali bocor pas di tempat tidur dan sekali bocor pas lagi jalan-jalan. Ilang feeling degh jadinya sama diapers merk ini yang type ini. Kalo saya bilang, ini diapers sepertinya type ekonomisnya si Huggies degh. Sama seperti yang lain yang punya type ekonomisnya.






Mamy Poko Pants - Ekonomis 

Mamy Poko Pants versi Ekonomis

Nah, ini satu-satunya diapers merk Mamy Poko yang saya pakai buat Nares. Awalnya beli karena liat harganya emang murah. Yang ukuran M isi 20 seperti digambar diatas ini, harganya sekitar Rp 35,000 saja. Berarti kan sebiji nggak sampe Rp 2,000 kan yah? Nah waktu itu malah pernah beli yang isinya 36 atau 38 lupa, harganya sekitar Rp 51,000. Tapi harga Rp 51,000 ini stocknya jarang ada. Banyaknya stock ukuran XL. Sementara Nares aja masih pake M. Untuk segi kualitas, walaupun versi ekonomis (kalo kata Mamy Poko sih, versi standard), cukup okey lah. It's better then Huggies Dry Pants yang lebih sering bocor. Emang sayang aja sih, untuk ukuran yang M dan L itu jarang ada.






Happy Nappy

Happy Nappy

Ini sih dipakai gegara kado dari RS tempat lahiran Nares. Alhamdulillah ya, RS tempat melahirkan saya, pulang nggak dibungkusin sufor, tapi dibungkusin diapers. Diapers ini tuh bentuknya bukan kaya' diapers yang biasa. Tapi dia lebih kaya' pembalut yang perlu ditempel ke celana gitu. Hihii, berhubung dulu pakenya waktu Nares masih sekitar umur 1 bulan, ya nggak ada masalah. Soalnya kan anaknya belum banyak gerak sana sini kaya' sekarang. Nggak kebayang juga sih kalo sekarang Nares pake diapers yang model begini.









Sweety Fit Pants

Sweety

Nah, ini yang baru-baru aja saya beli nyoba untuk Nares. Selama ini nggak pernah pengen nyentuh, karena kata orang-orang murah dan nggak bagus. Secara juga merk lokal. Tapi nggak tau kenapa, tiba-tiba aja pengen nyobain pake merk ini. Hargaya itu untuk ukuran L isi 20 itu sekitar Rp 35,000 (kalo nggak salah). Cukup murah sih, untuk type pants diapers. Makanya nggak ada salahnya beli. Nah, pas dicoba, ternyata bagus-bagus aja kok. Dari sampling 20 diapers, nggak ada yang bocor sekalipun (makanya jangan suka under estimate yah *ngomong sama diri sendiri*). Saya pribadi jadi cukup satisfied sama produk ini. Mau lanjutin pake sweety ini? Iya sih kalo lagi nggak ada promo yang merk-merk lain yang favourite saya (Pampers Active Baby Pants atau Huggies Pull Ups Pants).





Nah, itu aja sih yang pernah dipake sama Nares. Alhamdulillah, selama Nares pake diapers, nggak pernah terjadi ruam. Secara emang Nares kan pake diapers ya cuma setelah mandi sore aja. Sementara kalo pagi sampai dengan sore, nggak pake diapers. Sekarang sudah besar apalagi, sudah bilang mau pipis, jadi ya aman-aman aja. Tapi ya kulit anak emang beda-beda sih ya. Kalau Nares alhamdulillah bisa cocok kulitnya sama semua merk, tapi belum tentu yang lain bisa begitu.

Tips buat beli diapers sepanjang pengalaman dari saya beli diapers:

  1. Test drive dulu beli yang package kecil (isi 7 atau 8 per pack), kalau anaknya ada bakat alergi kulit yang menyebabkan ruam popok. Sayang kan, kalau udah beli banyak-banyak, trus anaknya nggak cocok sama merk itu.
  2. Cari harga promo diapers. Coba liat di iklan harian Kompas hari Jumat setiap Minggu deh. Biasanya suka ada promo diapers di hari weekend itu. Kalo di Kompas, yang suka ngiklanin itu Hypermart, Carrefour, Giant, Superindo, dan Lottemart (retail). Biasanya, promo dahsyat harga diapers itu kalo baru-baru mak bapake gajian (kisaran akhir bulan).
  3. Kalo lagi ada promo dahsyat, beli sekalian yang banyak (as long as nggak ada jumlah pembelian maximum). Ya kalaupun ada, silahkan bekerja sama dengan bapak, ibu, suami, mertua, adik, kakak, dll utnuk gerilya beli promo tersebut.
  4. Jangan sungkan untuk coba-coba merk diapers seperti saya, sehingga menemukan yang terbaik buat kita (ya segi harga, ya segi kualitas dan kecocokan sama anaknya).


Well readers, itulah sedikit sharing saya terhadap diapers Nares yang pernah dicoba. Selamat membeli diapers buat putra-putrinya ya.

12.26.2012

NONTON HABIBIE-AINUN


Mari bercerita tentang film Habibie-Ainun garapan mas Hanung Bramantyo nan kesohor itu..

Ceritanya sih gegara mas Fani yang “nyoel” saya untuk nonton film itu. Lah tapi kan gimana ceritanya coba, mau nonton ke bioskop, lha terus si neng Nares sama siapa? Kan nggak ada pengasuh toh? Emang juga gegara pengasuh aneh. Dasar banget. Mas Fani bilang, kita nonton gentian aja. LoL – aseli ngakak denger ide ini dari mas Fani. Yah, segitunya ya, mau nonton sampe harus gentian? Ya iya lah, secara nggak bisa kalo barengan. Nares kan kudu dijagain. Sip bungkus, gentian nonton. Secara lagi liburan panjang gitu loh. Keluar kota ya males macetnya. Mending enjoy kehidupan di Jakarta yang sepi bebas dari macet #sokmenghiburdiri.

Secara rumah paling deket sama bioskop lorosiji di Slipi Jaya, jadilah nonton di situ. Murah abis, cukup Rp 50rb untuk 2 tiket. Hihihi, dekat pulak. Nggak perlu pake mobil. Ngangkot sekali, Rp 2000 untuk sekali jalan. Pulang pergi bungkus jadi Rp 4000. Eh, udah murah gitu, ya… masih dibeliin pulak lho sama mas Fani. Cihuy banget deh pokoke. Mas Fani nonton yang pkl 12.15, sementara eike dibelikan yang jadwal pkl 15.25. Sip, berarti setelah urusan Nares selesai, rapih, tinggal mandi sore yang bisa dikerjakan bapake.

14.40, si bapak pulang dari bioskop. Setelah mas Fani sholat, makan, eike langsung cuss ke Slipi Jaya. Sampe di TKP pkl. 15.15, dan pintu studio 1 udah dibuka. Nggak perlu sibuk cari cemilan, soalnya mas Fani dari rumah juga udah nyangu-in makanan kecil dan teh kotakan *et dah mantab bener yak, laki sayah #perhatian*.  Tempat duduk yang dipilih ya mantab pisan, pas banget depan layar, pokoknya nyuss beud. Sebelah kiri saya, 3 perempuan yang nonton. Sebelah kanan saya, sepasang cewe cowo yg nonton. Saya terhimpit di tengah. Gak peduli, yang penting nonton.



Tepat di 15.25, itu film mulai daaannn menurut saya, film ini…

Secara jalan cerita, biasa saja. Kisah sepasang insan yang jatuh cinta, trus berniat baik untuk menikah, punya keluarga yang wajar, dan pokoknya serba wajar. Ya paham banget lah, soalnya memang film ini kan diangkat dari true story-nya pak Habibie dan bu Ainun. Makanya sih, nggak terlalu yang menyanyat hati gimana gitu yang kaya’ cerita drama India dan drama Korea (apalagi sinteron Indonesia) yang penuh dengan cerita yang menggelora. Menurut saya, jalan ceritanya sederhana. Tapi dengan kesederhanaan ini, saya justru suka. Yah, namapun diulas sama penggemar film drama, jadi pastilah filmnya dikata bagus. 

Secara akting, Reza Rahadian pun gw nilai baik. Penjiwaan karakter pak Habibie, sangat terlihat. Cuma (ada cumanya nih…), banyak komentar penonton lain di studio itu kok jadi kaya’ Mr. Bean banget. Apa ya iya sih? Kalo saya bilang sih memang ada beberapa bagian yang agak lebay tuh Reza Rahadian dan memang menjadikan dirinya malah seperti Mr. Bean. Apa mungkin karena tubuhnya Reza yang tinggi ya, sementara karakter aseli pak Habibie kan agak pendek (eh maaf ya pak Habibie). Ehm tapi ya, gw suka aja sih sama aktingnya Reza Rahadian yang all out gitu. Penuh penjiwaan. Gesture tubuh memang agak-agak mirip Mr. Bean, tapi kalo logat, dapet banget pak Habibie. 

Secara akting BCL, biasa aja sih menurut sayah. Nothings special. Hehehe, nggak bisa banyak komentar karena actingnya BCL ya gitu-gitu aja. Hmmm, lagian emang mau disuruh gimana lagi ya? 

Secara angel pengambilan gambar, over all akuh sukah sekalih sama semua angle-angle gambarnya. Apalagi yang pas waktu shooting di Jerman itu (eh ini gegara lokasi shooting apa gegara angel yak?). Eh tapi bener deh, cukup bagus kok kalo saya boleh menilai, secara saya nggak ngerti dunia perkameraan.  Yang nggak asik itu ya, pas ada iklan-iklan yang jadi sponsor-nya film itu. Seperti Chocolatos, Markisa Pohon Pinang, sama e-toll card tuh. Eish, keliatan banget degh pokoknya itu slot yang nggak menarik buat saya. Terlalu vulgar iklannya.

Beberapa notes dari pak Habibie ada yang bisa diambil untuk jadi bahan kita berfikir. Hal yang paling saya ingat adalah ketika pak Habibie mengalami kesulitan mengenai keuangan pas baru nikah di Jerman, dan bu Ainun minta pulang ke Indonesia, pak Habibie bilang kira-kira begini sama bu Ainun, “Kita ini ibarat gerbong kereta yang sedang memasuki terowongan. Gelap memang, panjang memang. Tapi yakin, suatu waktu itu kereta pasti akan keluar dari terowongan dan akan melihat cahaya kembali” Hiks hiks hiks, berasa ini perkalimatan buat sayah. Beneran ya, ternyata orang yang baru nikah itu rata-rata nggak mudah ngejalaninnya. Ternyata, yang sulit bukan sayah saja… Baiklah.

Trus, ada lagi yang bikin haru dari bu Ainun, ketika sakit nggak bilang-bilang sama pak Habibie, biar suaminya nggak pusing. Iyh, kalo saya yah, sakit dikit udah nyenyong sama suami. Udah gempar deh seisi rumah. Padahal ya, sakitnya sakit yang cemen yang nggak berat seberat bu Ainun. Yah, bu Ainun aja sakit parah gitu, diem-diem. Lah kok yang sakit cemen aja malah ribut. Maluuu… maluuu…

Tapi pas the end, saya akhirnya menitikkan air mata itu juga. Mewek, nggak tahan. Ngebayangin kalo saya berada di posisi itu. Ya Allah, sungguh berat berat berat. 

Intinya ini film layak untuk ditonton. Banyak pelajaran yang bisa diambil. Tapi pelajaran mengenai kehidupan ya. Bukan perjalanan traveling pastinya *plaaak*. Film berdurasi sekitar 120menit ini, pantas ditonton oleh yang sudah memiliki pasangan, atau yang akan memiliki pasangan hidup. Bukan untuk anak-anak pastinya. Jadi, jangan bawa anak-anak untuk nonton film ini, karena pastinya mereka bête, nggak ngerti maksudnya. Apalagi sampe bawa anak toddler, dan menangis pulak pas ditengah-tengah pemutaran film (#eeaaa curcol).

Cukup sekian dan terima nonton.

12.17.2012

PENERTIBAN KIOS STASIUN DEPOK BARU

Aseli deh, selama hidup saya, baru kali ini liat langsung (pake mata kepala sendiri) proses penertiban pedagang dan kios yang berada di tanah yang bukan milik mereka. Serem juga ya ternyata. Nggak sesantai dan semudah seperti yang biasa saya tonton di televisi-televisi itu. Kejadian di lapangan bener-bener mencekam juga ternyata. Walaupun saya bukan petugas yang terkait atau bukan juga pihak pedagang yang ditertibkan, tapi rasa deg-degan itu muncul banget. Apalagi begitu ngeliat banyak pasukan dan banyak orang, duh... kok kaya' mau rusuh ya?

Jadi tuh ya, awal ceritanya begini...

Dapet tugas dari kantor untuk visit ke salah satu Stasiun untuk checklist fasilitas stasiun yang sudah rusak untuk diperbaharui. Yups, saat ini emang PT KAI lagi melakukan perbaikan fasilitas-fasilitas stasiun. Yah, namanya juga usaha untuk memuaskan pengguna. Nah, jadwal hari Senin kemaren tanggal 10 Des itu ya visit ke Stasiun Depok Baru. Cuss berangkat ke St. Depok Baru setelah meeting internal di kantor, sekitar pukul 10.00. Pake KRL pastinya, karena lebih cepet (waktunya) dan lebih murah (ongkos transportnya). Tiba di St. Depok Baru ini, sekitar 45 menit dari St. Juanda. 

Aseli banget, kita pada nggak (dikasih) tau kalo ternyata St. Depok Baru itu lagi ada penertiban pedagang. Huhuuu, kalo tau lagi ada penertiban, mendingan reschedule visit kali. Tuker tempat lain yang lagi damai. Pas sampe di Depok Baru, kondisi di dalam peron kondusif banget. Emang sih ada, lagi ada beberapa petugas PT KAI dari Daop I yang sedang berjaga-jaga di seputaran peron. Beberapa diantara petugas (pake masker) sedang melakukan pembongkaran kios-kios yang berada di peron. Tapi beneran, nggak ada sama sekali gelagat ribut atau ricuh. Pokoknya normal banget. Kurang lebih 20 kios permanen dan 30 kios semi permanen dibongkar di dalam peron ini.

Petugas KAI di depan kios yang dibongkar (dalam peron)
Lanjut sesuai dengan tujuan visit ke Stasiun, adalah melakukan checklist donk ya, apa-apa aja yang harus dilakukan perbaikan. Satu persatu dicatat, difoto, diinget-inget. Lumayan banyak kerjaannya ternyata. Yah, everybody knows gimana kondisi fasilitas di (hampir) keseluruhan stasiun kan? Kalo boleh dibilang perlu renov total, ya renov total kali ya... hihihi. Ssst, nggak boleh banyak komentar di marih. Takut dipentung sama yang ngasih gaji bulanan. Jadi, tugasnya ya cukup melaporkan dan berbagi kondisi saja di blog ini. 

Setelah kira-kira satu jam melakukan checklist apa-apa aja yang mau dibenerin di dalam peron, akhirnya kita keluar peron. Kaget juga sih, secara di luar peron itu udah banyak orang dan pastinya nggak ketinggalan petugas. Mulai yang dari polisi pamong praja, marinir, dan polisi. Jumlahnya ada kali sekitar 80 orang. Pas saya keluar peron itu, rata-rata petugas yang lagi jaga-jaga di stasiun lagi menyantab makan siang di box gitu. Hahah, jadi inget temen yang (juga) petugas pernah cerita kalo melakukan pengamanan itu enaknya emang jangan dikasih makan dulu. biar bringas. Hahaha... dasar!

Checklist areal luar peron mulai dilakukan. Pelan-pelan kita keliling areal stasiun, liat-liat sana sini apa yang perlu dibenerin. Banyak juga sih, sebanyak checklist di dalam peron. Tapi ya, ternyata pemandangan di areal luar peron itu lebih berasa penertibannya ya, dibanding yang didalam peron tadi. Pemandangan yang saya dapat adalah beberapa orang sedang berbicara dengan aparat berwajib. Jelas banget itu perbincangan antara perwakilan pedagang dengan pak polisi. Tapi lucunya sih, itu yang perwakilan pedagang, dandannya kaya' mafia-mafia gitu loh. Yang badan besar, rambut gondrong dikuncir belakang (ya iyalah masa kuncir 2 kepang pulak?!), pake topi ala Jason Mraz, kaca mata hitam, jaket kulit (malah ada juga yang pake model jasket gitu). Hiiih... menyeramkan lah pokoknya. 

Negosiasi antara petugas dan perwakilan pedagang

Nah, nggak lama beberapa saat dari situ, mulai deh ada teriakan-teriakan dari beberapa pedagang. Seketika donk, para aparat kepolisian yang bertugas langsung susun barisan, merapat dan berbaris membentuk pagar besi eh.. pagar betis. Huaaah, filmnya dimulai nih. Sementara kan ya, itu alat berat eskavator (alias backhoe) mulai disiapkan. Mesin eskavator mulai nyala. Aseli serem banget (lebay gak sih, secara nggak pernah denger mesin itu nyala meraung-raung gitu). Semenjak mesin backhoe nyala, pedagang makin histeris. Ternyata ada 2 kiosk yang belum mengosongkan kiosnya. Waduh... Tapi sih akhirnya mesih backhoe dimatiin lagi. Petugas (polisi dan pamong praja) gotong royong estafet ngebantu ngangkutin barang-barang si ibu pedagang itu. Barang-barang dagangannya di taro di depan stasiun. Si ibu pemilik kios sedih banget keliatan dari mukanya. Yah, mau gimana lagi ya bu ya? Saya juga nggak bisa bantu gitu. Paling ya bisanya bantu doa aja bu, semoga ibu diberikan rejeki dari tempat yang lain.

Dagangan si Ibu yang dipindahin sama petugas
Selesai si ibu ngebersihin kiosnya yang dibantu sama petugas, si masinis backhoe mulai lah menghancurkan kios-kios yang ada tepat di depan stasiun Depok Baru. Pas pertama bangunan yang dihancurkan sama backhoe, teriakan pedagang sangat terdengar. Tapi backhoe ya tetap menghancurkan kios itu. Debunya yah ampuuun, banyak banget. Udah kaya' hujan abu gunung berapi (lebay part II kan nih). Lucunya sih emang orang-orang ya tetep nggak bergeming walau hujan abu gitu. Hmmm, sementara saya sendiri memilih untuk menyingkir ke bagian agak dalam stasiun.

Kira-kira setelah penghancuran kios berjalan selama 15 menit, ada seseorang dari barisan pedagang yang diamankan sama petugas. Nggak jelas juga kenapa penyebabnya itu orang ditangkap. Desas-desus sih katanya doi lempar batu ke arah petugas, mungkin dianggap provokator kericuhan, makanya diamankan petugas. Makin lah memanas situasi setelah ada yang ketangkap itu. Beberapa orang awam yang melihatnya berkomentar kalau si petugas yang menagkap orang tadi dianggap tidak punya otak, karena membela orang kecil malah disalahkan. Hihihi, pengen komentarin balik sih, tapi pastinya nggak guna juga gitu. Malah jadi pepesan kosong belaka juga. So just forget it ajah...

Sekitar 30 menit berjalan proses penertiban kios, hujan mulai turun. Gerimis yang tidak sekedar gerimis (ini apa sih maksudnya...?), cukup membuat pedagang perlahan membubarkan dirinya. Males juga kali ya, ujan-ujanan sama pak petugas gitu. Mending juga nyelamatkan barang dagangan. Akhirnya sih, mesin backhoe dan operatornya melanjutkan pembersihan kios. Nggak berasa, kios-kios itu sudah tinggal menjadi kenangan sekarang. Sudah nggak berbentuk lagi kiosnya. Yang ada hanya puing reruntuhan kiosk.

Kiosk depan Stasiun sudah rata dengan tanah
Setelah 30 menit dari awal huru-hara penertiban itu, saya dan team beranjak dari Stasiun Depok Baru untuk kembali ke kantor di Jakarta. Pulang ke Jakarta dengan hati yang cukup haru karena mendapat pengalaman perdana melihat langsung proses penertiban kios. Rasanya antara sedih (terhadap pedagang) tapi juga membenarkan tindakan (aparat untuk menertibkan) itu. Secara emang pastinya udah disosialisasikan lah kalau kios mau ditertibkan. Kan nggak mungkin juga petugas main hajar bleh aja kan? Dengar punya berita sih, katanya udah dikasih waktu selama setahun untuk pedagang membersihkan kiosnya, gegara itu lahan mau dipake untuk dijadikan fasilitas parkir mobil dan motor pengguna KRL.

Sempet ngobrol juga sih, sama petugas PemKot (atau PemDa ya?) Depok, namanya pak Ali, yang menurut penjelasannya, sudah disosialisasi beberapa kali sebelumnya sebelum hari ini. PemKot sendiri hadir di Stasiun karena diminta oleh pihak Stasiun. "Ini sih wilayahnya PT KAI, mba, saya cuma memantau aja kegiatannya. Kalo kemaren yang penertiban di luar itu, nah itu baru bagian saya. Soalnya berada di wilayah bukan lahan KAI", begitu penjelasan dari Pak Ali yang mengira saya adalah anggota pers karena at the end, bilang, "Mba dari harian apa?". Hiihiii... *nyengir* Harian Bingung.

Okey, checklist kelar, nonton (halaaah..) gusuran pun kelar. Saatnya kembali ke kantor. Pulang pake KRL lagi lah yah, ke arah Juanda. Pas di jalan pulang ke Jakarta (kurang lebih 3 menit setelah KRL jalan), seketika terdengar bunyi suara KRL dilempar batu. Yak, ini pasti kerjaan orang nggak bertanggung jawab sama tangannya. Lempar batu bisanya... Payah, ngerusak fasilitas yang ada.

Pulang sampe Jakarta, bawa oleh-oleh cerita unik. Fasilitas yang buruk, penertiban pedagang, KRL ditimpuk batu.... Hedeuh.... 

12.05.2012

WARUNG SEMANGAT


Akhirnya, tumpah juga mau cerita keadaan yang melankolis ini. Sudah tak tahan lagi rasanya untuk numpahinnya ke tulisan ini. Curhat, aselik curhat kali ini di blog. Walaupun curhat keadaan pribadi, tapi (mudah-mudahan) tetap mendapatkan hikmah di balik tumpahan cerita ini ya readers.

Cerita awalnya tuh ya, gegara kelakuan pengasuh Nares yang tiba-tiba mengajukan resign *ngok*. Secara tiba-tiba, nggak ada angin, nggak ada hujan, si mba’ bilang, “Bu, saya mau balik aja ke yayasan. Saya nggak betah disini, bu. Saya mau pulang aja”. Pas ditanya alasannya nggak betah, jawabannya begini, “Ya nggak betah aja bu. Lagian saya mau sekolah sambil kerja aja, mau pulang ke kampung. Mana saya keca cacar pula. Pokoknya ibu anterin saya ke yayasan sekarang, nanti kan disana ada penggantinya”. Mau sekolah? Kenapa kerja? Kenapa nggak dari dulu? Kok udah kerja baru mau berhenti. Kena cacar? Sakit? Kok nggak ngomong? Kan kalo kena cacar itu katanya pake demam dulu. Pake nggak enak badan dulu. Ini kok nggak ada ciri-cirinya? Trus pas saya minta tunjukin mana yang cacar, si mba cuma bilang kalo kena cacarnya di bagian dalam. Nggak keliatan. Yah udahlah, seribu alasan dia bikin sendiri demi kepulangannya. Saya nggak percaya dia kena cacar. 

Trus saya bisa apa? Bilang wow kah? Sambil koprol? Basi. Saya pikir tuh ya, ya ambil orang lewat yayasan akan jauh lebih baik daripada yang lewat penyalur biasa atau mulut ke mulut. Nyatanya, sama aja kelautnya. Justru ya bayarnya kan lebih mahal lewat yayasan. Jadi…? Silahkan bikin summary sendiri, pemirsa. Apa nggak kesel ya, pengasuh itu kerja paling lama ya 4 bulan. Itu pun cuma 1 orang. Yang lain ya rata-rata 2-3 bulan bertahannya. Capek!!! *bertanduk*

Hmmm, baguuuus kan, kelakuan anak jaman sekarang. Mau kerja dan berhenti seenak perutnya sendiri tanpa mikir kondisi orang lain. Dia orang emang paling hebat lah *ala Ahok negur karyawannya*. Tarik napas dalam-dalam pokoknya saat itu diri ini. Antara mau marah, mau ngusir, mau ketawa (yang ini ketawa palsu), mau nangis, mau pingsan. Pokoknya jadi kesel sangat saat itu. Langsung lapor suami dulu deh ini urusannya. Untung punya suami yang selalu tenang dalam segala hal. Jadi bisa ngeguyur panasnya kepala ini. Kata suami, ya kita pulangin dia ke yayasan. Bawa surat-suratnya. Jangan lupa catatan uang bayaran dan yang sudah diambil sama si pengasuh. Si bapak nyuruh telfon dulu ke yayasan. Tapi dari 4 nomor telpon yang ada di kartu nama, nggak ada 1 pun yang diangkat dijawab. Baguuus… Sudahlah, toh juga emang harus ke yayasan.

Setelah Nares makan sore, kita baru berangkat menuju yayasan. Yayasan ini lokasinya dekat banget sama rumah mas Fani, daerah Kedoya. Tinggal jalan kaki ke yayasan, parkir mobil di rumah mas Fani. Jadi, kita sampe rumah mama itu pas maghrib. Sholat dulu, baru urusan ke yayasan. Nares tinggal dulu di rumah mama yang kebetulan ada sepupuan Nares di situ, jadi Nares bisa main. Secara juga Nares udah makan sebelumnya di rumah, jadi nggak ribet sama urusan makan Nares. Tinggal ngemil, minum susu dan main-main aja di rumah nenek.

Sampe yayasan, langsung ketemuan sama si pengurus bertampang mas-mas tenggeng itu. Dia sih nggak bisa banyak berbuat apa-apa, selain nawarin penggantinya. Pengganti itu hanya fisik ya tapinya. Maksudnya, kita harus nego gaji lagi sama yang bersangkutan langsung. Ada dua orang waktu itu yang bisa dijadiin pengganti. Yang satu pernah kita lihat sebelumnya. Waktu mau ambil si mba setelah Lebaran, itu yang satu udah ada. Tapi kita black list, mengingat pada penampilannya : berambut blonde (cat pirang), bonding, alis dicukur  tipis tapi dilukis pake pensil alis, bercelana pendek, berkaos ketat, dan mulut nyinyir (pas kita interview dia, selalu jawab nyolot). Nah, pas interview yang satunya lagi, tampang sih baik-baik, tapi minta gajinya tidak rasional. Menurut mas Fani, sangat tidak masuk akal untuk digaji segitu besar dan kerjaan yang hanya mengasuh Nares yang nggak banyak rewel. Well done, kita nggak sreg sama semuanya. Kali ini, datang bertiga dan pulang berdua. 

Tarik napas dalam-dalam lagi ya, soalnya harus berjuang keras lagi nih. Berjuang untuk cari pengasuh Nares selama saya dan suami kerja di luar rumah, kerja keras untuk beberes di rumah, kerja keras sang kakek dan nenek Nares untuk bantuin jaga Nares, kerja keras untuk menghadapi semuanya ini dengan senyuman. Nah, yang terakhir ini yang bener-bener berat buat saya. Yups, walaupun beberapa kali saya sudah mengalami hal ini, tapi rasa shock itu pasti ada dan ada lagi. Untuk urusan yang satu itu, urusan pengasuh emang nggak kapok bikin saya kesel. Tiap kali si mba minta pulang, pasti yang ada saya itu shock. Karena langsung kepikiran Nares kalo ditinggal kerja sama siapa??? Kakek dan nenek kan sudah sepuh. Oh tidak… *lap keringat*.

Selesai urusan di yayasan selesai, kami balik ke rumah mama. Liat muka Nares yang ceria, yang nggak ngerti apa-apa selain makan dan main, saya langsung sumringah. Cuma ingat kalo urusan pengasuh itu pasti ada jalan keluarnya. Tuhan pasti kasih kami jalan yang terbaik apapun itu caranya. Trus saya sempat ngomong gini sama mas Fani, “I do really need your support, pak… Really…” dan dijawab sama si bapak, “Iya, pasti. Kamu pasti bisa ngelewatin ini semua. Yang penting kamu semangat dulu. Pikiran harus tenang untuk cari jalan keluar yang baik. Semangat ya bu, bapak pasti ada untuk ibu” Thanks God, punya suami yang begitu tenangnya ketika menghadapi masalah. Yups, itulah suami saya. Selalu tenang dalam menghadapi masalah. Beda banget sama saya yang suka pake kesel campur gedeg. 

Okey. Promise to myself kalo semangat itu harus ada, siap-siapin stock semangat yang banyak. Nggak lupa juga stock sabarnya dikeluarin. Sepaketan itu jangan lupa diperbanyak degh, stocknya. Ditinggal pengasuh/pengasuh bukanlah hal yang membuat dunia kiamat. Pasti ada jalan keluarnya. Pasti ada solusinya. Optimis dan optimis, bahwa yang terbaik akan diberikan oleh Allah kepada umatNya. Yang penting kita usaha dan doa. InsyaaAllah kalo sudah berfikir jernih, hati tenang, nanti ngejalaninnya juga enak. Aamiin. Ini sih ya sebenernya nasihat buat diri saya sendiri. Emang bener sih, saya masih butuh banyak belajar dan belajar untuk me-manage emosi yang main di dalam diri ini. Ya kalau yang udah ngikutin TL di saya di twitter, pastinya udah pada tau kan ya, kalo saya itu orangnya doyan complain, doyan ngomel, doyan nyeromet, doyan nyampah, pokoknya cerewet bin bawel deh judulnya. *malu sendiri*
Semangat Superman

L a n j u u u t . . .   


Di rumah mama, kita sempet nonton pertandingan sepak bola AFF di RCTI, seru banget emang secara Malaysia lawan Indonesia gituh. Musuh bebuyutan, padahal serumpun. Yah, kalo ngomongin Malaysia vs Indonesia, pasti gak akan selesai. Entah juga ya, kenapa amat sampe berantem-berantem begitu. Anyone tau kenapa latar belakangnya? 

Hampir habis itu pertandingan sepak bola, dimana posisi Indonesia kalah (>_<) dari Malaysia, Firman (adik mas Fani) pulang. Hmmm, kita pikir yah, Firman itu abis begahul sama temen-temennya donk, soalnya kan itu malam minggu dan Firman pun ga punya pacar pulak (ngakunya ke kita sih gak punya cewe'). Ternyata ya, Firman abis ikutan acara galang dana buat temennya di SMAnya dulu (SMAN 112). Belum jelas banget sih, galang dana itu buat apa, siapa, dan kenapa. Pernah seketika emang Firman cerita ada temennya di SMA dulu kena kanker lidah. Tapi ya apa emang yang itu atau bukan, saya belum tau persis.

Akhirnya, setelah Firman makan malam, setelah dirinya santai, barulah dia cerita, bahwa kegiatan galang dana tadi siang itu ya buat temennya yang namanya Cecil, yang kena kanker lidah kurang lebih setahun belakang ini. Aduuuh, dengernya miris deh. Nggak tega bener. Tambah lagi ditunjukin foto-fotonya Cecil yang di acara galang dana temen-temennya di SMA 112 itu. Bener-bener membuat terenyuh. Maaf, ini bukan mau exploitasi kondisi Cecil. Tapi memang saya sedih banget dengan keadaan Cecil yang kena kanker lidah stadium lanjut. Kebayang aja, kalo kita yang diberi ujian itu sama Allah. Yang ada juga di benak saya pasti keluar banyak pertanyaan. Yang ada juga saya complain ke Tuhan. Yang ada mungkin saya nyeromet di SocMed. Yang ada mungkin saya putus asa. Yang ada mungkin saya akan mengurung diri sendiri. Tapi memang Tuhan tidak salah pilih memberikan ujian kepada umatNya. Si A nggak mungkin tertukar dikasih soal ujian si B atau si C. Begitupun dengan si B dan si C, nggak mungkin mereka tertukar soal ujian dengan si A atau yang lainnya. Percaya banget, bahwa Allah Maha Adil.

Cerita tentang Cecil lagi yang diceritain Firman adalah ternyata Cecil itu penggerak peduli penderita kanker. Cecil juga ada usaha yang namanya Junkiee Shoes yang hasil penjualannya itu untuk disumbangkan ke penderita kanker. Ya Allah, begitu berat cobaan yang kau berikan ya Allah, hingga Cecil harus mendapatkan ujian seperti itu.  Cerita Firman (lagi), masa SMA itu Cecil itu dermawan banget. Pernah ngebantuin uang sekolah temennya yang orang tuanya nggak mampu. Cecil yang anak periang. Pokoknya Cecil yang menyenangkan. Tapi siapa yang mengira, Cecil sekarang kena sakit kanker. Cecil yang sekarang itu kurus (keliatan dari foto yang diambil sama Firman) karena memang Cecil sekarang susah makan, terhalang oleh kondisi kanker lidah tersebut. Bentuk muka Cecil pun membengkak. 

Cerita Firman berakhir (kurang lebih setelah 10 menit dirinya menceritakan tentang Cecil ke saya) dengan dirinya nunjukkin ke saya curhatnya Cecil ke blog.rumahkanker.com. Saya catat dalam kepala saya, alamat web-nya, biar bisa baca dengan tenang di rumah pas pulang. 

Tapi pikiran saya nggak berhenti sama kondisi Cecil. Saya emang nggak bisa berbuat banyak untuk Cecil. Saya hanya bisa bantu panjatkan doa saja, semoga Cecil bisa diberikan kesembuhan oleh Allah. Semoga Cecil diberikan yang terbaik oleh Allah SWT. Aamiin ya Robbal Alamin. Mudah-mudahan, keluarga Cecil juga diberikan kesehatan selalu, kesabaran dalam mendampingi Cecil berobat melawan kanker-nya dan rezeki yang terus menerus mengalir untuk biaya pengobatan Cecil. Dan yang tidak kalah pentingnya, Cecil tetap semangat. Mudah-mudahan stok semangat Cecil semakin bertambah dan bertambah. Karena semangat itu yang bisa menjalankan semuanya. Semangat untuk membaik, memberikan aura positif yang memberikan kesembuhan untuk Cecil. 

Pikiran saya lainnya adalah, ternyata cobaan yang diberikan Allah kepada saya belum seberapa beratnya dibanding dengan cobaan yang diberikan Allah kepada Cecil. Ujian perginya pengasuh pasti belum seberapa kalau kita bandingkan dengan ujian Cecil. Jauh dan jauh banget. Pengasuh besok bisa cari lagi. Nggak cocok lagi, cari lagi. Pergi lagi, dapat lagi. Seperti itu polanya yang sudah-sudah. Sementara kondisi Cecil, belum tau polanya seperti apa. Cecil harus menderita kesakitan kalau sedang di treatment. Belum lagi biaya pengobatan yang amat sangatlah besar. Pantaskah saya mengeluh atas ujian yang diberikan dari Allah kepada saya saat ini? Kalau masalah pengasuh aja ngeluhnya seujung dunia, apa kabar Cecil yang dikasih ujian jauh lebih berat dari saya ya? Pasti saya udah pingsan duluan.

Mas Fani bilang, semua masalah pasti datang dan semua masalah ada jalan keluarnya. Masalah yang ada mau tidak mau harus dihadapi, tinggal kita susun strategi aja, gimana ngatasin masalah itu. Kalau otak kita tidak jernih, jalan keluar yang didapat biasanya tidak semaksimal mungkin karena emosi kita banyak peran serta disitu. Jadi kadang nggak pake logika lagi mengatasinya, tapi pake ego semata. Buat bapak alias suamikuh : Iya, sayang… Aku dengerin semua nasihat kamu.

Semangat, Kakak!!!

Semangat Mona, semangaaats. Jangan mau patah semangat karena pengasuh. Bismillah, cari lagi pengasuhnya dan mudah-mudah dapat yang lebih baik dari sebelumnya. Aamiin. Yuk mari readers, kalau ada yang lagi patah semangat (apapun itu penyebabnya) kita kumpulin lagi pecahan-pecahan semangat yang kemarin sempat tercecer. Kita susun kembali, membuatnya menjadi utuh. SEMANGAT. Yakin aja, bahwa Allah pasti memberikan ujian kepada umatNya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Allah nggak akan memberikan ujian kepada seseorang dimana orang itu tidak mampu memikulnya. (Aamiin…)


“Laa Hawla walaa Quwwata illa Billaahil ‘Aliyyil ‘Azhiim” 
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung.


Minggu pagi, hari pertama lagi tanpa si mba. Tapi tetap semangat donk. Cuma aja sayang nggak bisa sepedaan. Secara biasanya saya dan pak suami kalo Minggu pagi pasti sepedaan kesana kemari. Ya sudahlah, nggak apa-apa. Yang penting semangat itu ada dulu di diri saya. Yang penting tidak merasa yang paling buruk di dunia ini. Minggu pagi, siap-siapin semuanya dulu untuk keperluan bapak, keperluan Nares dan beberes rumah. Pas bapak bangun pagi, teh dan sarapan sudah ada juga di meja. Mantap! Menyambut hari dengan semangat. Warung semangat dalam diri ini memang sepertinya harus dibuka 24 jam dalam 7 hari dan selama 365 hari. Jualan semangat untuk diri sendiri...

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post