11.03.2016

ALTIC BATURADEN JOURNEY

Altis Indonesia Community (ALTIC) kembali mengadakan touring yang dilaksanakan pada tanggal 24-25 September 2016, kali ini yang akan menjadi tujuan adalah kawasan wisata Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah. 


Berangkat pada pukul 01.00 dinihari (24 September 2016), memulai perjalanan dari Rest Area Toll Cikampek KM 39, sebanyak 49 kendaraan. Menuju Baturraden, Purwokerto melalui toll Cipali, menyatukan line-up barisan touring dengan member ALTIC yang berada di area Pekalongan, Brebes dan Tegal untuk melanjutkan ke Purwokerto. Jumlah seluruh kendaraan sebanyak 79 kendaraan yang bergabung dalam touring ini. Beberapa chapter yang berpartisipasi dalam touring ini merupakan dari chapter Padang, Jakarta, Bogor, Bandung, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Selain touring yang bertujuan untuk bersilaturahmi dengan kerabat ALTIC di area Purwokerto, touring ALTIC kali ini juga melakukan satu kegiatan peduli dengan lingkungan hidup sekitar, yaitu dengan melakukan penanaman bibit pohon dan sumbangan beberapa perlengkapannya di Kebun Raya Baturraden, Purwokerto, “Sesuai dengan tema touring kali ini, Go Beyond, Go Green, maka kesempatan kali ini kami ikut berusaha melestarikan lingkungan hidup di sekitar kita. Bekerja sama dengan PT. Perhutani dan PT. Toyota Astra Motor, mudah-mudahan dengan kegiatan kami ini dapat memberikan manfaat di Kebun Raya Baturraden ” demikian penjelasan Ketua Pelaksana ALTIC Baturraden Journey, Muhammad Kahfi.

Pada kesempatan kali ini, menjadi salah satu rangkaian kegiatan touring ALTIC di Purwokerto adalah untuk meresmikan Chapter Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen). “Pertumbuhan member di area Barlingmascakeb sangat pesat dan sangat aktif, maka kita wadahi chapter khusus Barlingmascakeb. Selain itu juga karena untuk bergabung dengan Chapter Jawa Tengah di Semarang dan DI Yogyakarta cukup jauh”, demikian penjelasan Ketua Umum Chairul Fahry pada saat peresmian Chapter.

Tidak kalah menariknya pada touring kali ini adalah acara Test Drive Toyota Sienta bagi para member Altis Indonesia Community. “Mengapa Toyota Sienta kita coba pada touring kali ini? Mengingat jargon ALTIC “Not Just Brotherhood, We Are Family”, maka kami rasaToyota Sienta dapat juga menjadi alternatif kendaraan dan family car bagi member ALTIC.”, penjelasan dari Dyan Anto Wikamta, sebagai Ketua Chapter Barlingmascakeb

Sosialisai program Well Behaved Driver juga sebagai salah satu agenda utama di malam puncak touring ALTIC Baturraden Journey, mengingat program WBD merupakan program yang sangat penting bagi seluruh member ALTIC. Berkendara dengan sopan santun dan tidak emosi, merupakan salah satu program yang diutamakan bagi seluruh member ALTIC. Touring yang diisi juga dengan kegiatan wisata di Kawasan Wisata Baturraden ini, dilanjut dengan menyantap kulner khas Purwokerto, yaitu Soto Sokaraja, Tempe Mendoan dan Es Dawet di Rumah Makan Ekasari.

Turut mesponsori acara Touring ALTIC Baturraden Journey ini adalah Toyota Astra Motor, GT Radial, Prestone, TKB Group Indonesia, Autospeed, Zone, Alex Autocar, Martabak San Francisco, Pertamina Fastron, Duta Motor, dan Garudafood.

9.21.2016

MUDAHNYA URUS AKTA KELAHIRAN dan KARTU KELUARGA

Berbagi itu indah... apa aja dah yang bisa dibagi, asalkan halal, mari dibagi. Kali ini saya mau bagi-bagi cerita (seperti biasa), gimana caranya urus atau mungkin lebih tepatnya bikin surat Akta Kelahiran anak. Baru kali ini (di saat anak sudah tiga), saya urus sendiri Surat Akta Kelahiran si bocah.

Lha kemarin yang dua anak, piye bikinnya? Hmmm... joki, ciyn! Bahahahaha! Waktu jaman Nares, yang ngurus Akta Kelahiran, dari pihak RS (bayar sekian ratus ribu dan jadi). Waktu jaman Nara, yang ngurus Akta Kelahiran ada pengurus RW yang berbaik hati. Sekarang, karena saya pengangguran, makanya mau urus sendiri aja. Belajar... kali aja bisa jadi joki ngurus Akta Kelahiran... *kunyah bubble tea. Eh tapi ya, ini siy sebenernya karena pihak RS sekarang udah nggak mau lagi ngurusin bikin Akta Kelahiran, makanya mau nggak mau ngurus sendiri deh.

Ngurus Akta Kelahiran ternyata gampang banget kok, nggak pakai susah dan berbelit-belit. Sekarang apalagi jamannya koh Ahok jadi DKI-1, nggak main-main punya, urusan di kelurahan dan kecamatan nggak bisa sembarangan jadi permainan. Salah-salah ehm main-main maksudnya... kalo petugas main-main sama penduduk jelata macam saya ini, tinggal laporin via aplikasi Qlue, kelarlaaah... kelar riwayatnya di instansi pemerintahan.

Udah siap mau bikin Akta Kelahiran adik bayi? Nih langkah-langkahnya...


Lapor ke RT setempat untuk mendapatkan Surat Pengantar

Ini hal pertama banget yang harus dilakukan. Mintalah Surat Pengantar dari Pak/Bu RT kita. Tapi jangan lupa ya..., kalo mau minta Surat Pengantar RT pun harus bawa: 
   1. Surat Keterangan Lahir dari RS (asli)
   2. Kartu Keluarga (KK) - copy
   3. Surat Nikah - copy
   4. KTP suami dan istri - copy

Itu semua lampiran yang harus ditunjukan ke RT. Surat Pengantar ini nanti harus dilanjutkan untuk mendapatkan tanda tangan dan stempel pak/bu RW. 

Nah, yang perlu diperhatikan adalah, Surat Pengantar-nya nanti dapetnya 2 ya... karena yang satu adalah Surat Pengantar untuk membuat Akta Kelahiran dan yang satunya lagi Surat Pengantar untuk membuat/merevisi KK (karena ada tambahan anggota keluarga baru). Kalau menurut informasi dari pak RT saya, ini karena sekarang di Akta Kelahiran harus sudah ada Nomor Induk Kependudukan (NIK). Makanya, bikin KK dulu baru bisa bikin Akta Lahir.

Selesai Surat Pengantar Akta dan KK, saya lanjut ke Kelurahan Palmerah...


Lapor ke Kelurahan untuk Pembuatan KK dan Akta Kelahiran

Yuk lanjut proses di Kelurahan. Sampaikan ke petugas PTSP di Kelurahan, kalau kita mau bikin Akta Kelahiran si bocah, serahin aja semua Surat Pengantar Akta dan KK ke petugas. Nah, untuk yang dokumen Akta Kelahiran, jangan lupa siapkan 2 (dua) paket berkas:
   1. Surat Pengantar dari RT dan RW (asli)
   2. Surat Keterangan Lahir dari RS (copy) 
   3. Cap kaki bayi saat lahir dari RS (copy)
   4. Surat Nikah Orang Tua (copy)
   5. KK (copy)
   6. KTP orang tua anak - suami dan istri (copy)
   7. KTP 2 orang saksi (copy)

Kalau berkas diatas sudah lengkap, nanti petugas PTSP akan terima dan selanjutnya untuk dibuatkan Surat Pengantar membuat Akta Kelahiran kepada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jakarta Barat. Jadi, di Kelurahan itu hanya untuk membuat pengantar-nya ya, bukan untuk menjadi sebuah Akta Kelahiran. Setelah menyerahkan berkas diatas, seminggu kemudian saya disuruh datang kembali.

Datang kembali ke Kelurahan, seminggu setelah masuk berkas yang pertama, ternyata Surat Pengantar untuk bikin Akta Kelahiran dari Kelurahan sudah jadi, berikut dengan KK yang baru juga. KK-nya sudah ada nama adik bayi berikut dengan NIK-nya. Nah, KK yang baru ini, harus di tanda tangan Kepala Keluarga dan RT (tanda tangan dan stempel), baru kemudian diserahkan kembali ke Kelurahan. Mari kita pulang, minta tanda tangan pak suami dan pak RT...

Setelah lengkap tanda tangan pak suami dan pak RT di KK yang baru, saya kembali ke Kelurahan, untuk meminta tanda tangan pak/bu Lurah Palmerah. Setelah KK kita ditandatangani Kepala Keluarga dan RT, kembalikan ke Kelurahan dan selanjutnya ditandatangani pak/bu Lurah. Cepet kok, cukup 1 hari saja. Kebetulan waktu itu saya masuk berkas hari Jumat, maka datang lagi hari Senin dan taraaaa... sudah ada.

Lengkap sudah urusan di Kelurahan. Surat Pengantar untuk bikin Akta Kelahiran ke Disdukcapil Kecamatan dan Kartu Keluarga.

Kelurahan Palmerah kini canggih lah pokoknya...


Ajukan berkas Akta Kelahiran ke Kecamatan

Langkah selanjutnya, mari masukkan berkas-berkas untuk membuat Akta Kelahiran di tingkat Kecamatan. Jadi, sebenernya kita cukup antar berkas saja ke Disdukcapil di tingkat Kecamatan. Nanti petugas Kecamatan yang akan bawa berkas kita ke Disdukcapil Jakarta Barat. Cihuuuuy kan yesss...? Aman lah pokoknya. Asal berkas lengkap, nggak perlu amsyong. Nah, untuk di tingkat kecamatan ini, kelengkapan berkas bikin Akta Kelahiran:
   1. Surat Pengantar untuk membuat Akta Kelahiran dari Kelurahan (asli)
   2. Surat Keterangan Lahir dari RS (copy dan asli)
   3. Cap kaki bayi saat lahir dari RS (copy)
   4. Surat Nikah Orang Tua (copy)
   5. KK yang baru (copy)
   6. KTP orang tua anak - suami dan istri (copy)
   7. KTP 2 orang saksi (copy)

Setelah berkas kita diperiksa oleh petugas Disdukcapil Kecamatan dan sudah lengkap, kita diminta untuk mengisi formulir untuk data-data. Info aja nih, kalau yang mengurus Akta Kelahiran bukan orang tua sang anak alias perwakilan, perlu membuat Surat Kuasa bermaterai. Ini saya karena orang tuanya langsung, jadi nggak perlu Surat Kuasa. Setelah isi formulir dan dinyatakan sudah beres sama petugas Kecamatan, maka kita akan dikasih tanda terima berkas. Tanda terima ini nantinya akan dipergunakan untuk mengambil Akta Kelahiran yang ditargetkan jadi 2 minggu setelah berkas kita masuk.

2 minggu lewat 1 hari. Mari ambil Akta Kelahiran si adek... Begitu datang ke Kecamatan, serahkan Tanda Terima yang kita punya, dan taraaa... Akta Kelahiran si baby bala bala sudah ada. Grateish dan nggak pakai ribet. Asal berkas lengkap, express kok jadinya. Calo? Udah nggak ada. Ya orang ngurusnya juga gampang banget. 

Well done, alhamdulillah beres... Siap jadi joki Akta Kelahiran... anyone...? Bahahahahaha.....


Kantor Kecamatan Palmerah
Pelayanan Terpadu yang banyak membantu

Rangkuman proses bikin Akta Kelahiran:

1. Ke RT - RW setempat bikin Surat Pengantar (Akta dan KK)
2. Bawa Surat Pengantar dari RT ke Kelurahan
3. Surat Pengantar Akta jadi berikut KK baru jadi juga
4. Tanda tangan KK baru oleh Kepala Keluarga dan RT (berikut stempel RT)
5. Balikin KK yang sudah ditandatangani ke Kelurahan, untuk ditandatangani Lurah
6. Ambil KK yang sudah ditandatangani Lurah
7. Bawa Surat Pengantar Akta dari Kelurahan, berikut dengan KK baru ke Kecamatan.
8. Masukin berkas Akta Kelahiran ke Disdukcapil Kecamatan.  

9.13.2016

JALAN-JALAN SINGKAT DEKAT PADAT

Tujuh Belas Agustus Tahun Empat Lima...
Itulah Hari Kemerdekaan Kita...
Hari Merdekaaa... Nusa dan Bangsaaa... 
Hari Lahirnya Bangsa Indonesia...  
Mer... de... kaaa....!!!


Alhamdulillah, ini negara umurnya sudah 71 tahun, dan masih bertahan walaupun dalam kondisi yang berat. Mungkin terseok-seok atau mungkin terengal-engal. Yah, tapi setidaknya rakyatnya masih punya semangat untuk ngelanjutin hidup. Atau bahkan banyak yang masih bersemangat untuk membangun bangsa dan negara ini. Saya? Semangaaat donk, semangat jalan-jalan pastinya... Ya ampuuun, ini 17-an udah lewat mau sebulan, masih aja nulis cerita bulan lalu...

Mumpung libur, walaupun sehari, yuk lah cuss pergi ke tempat wisata. Yang deket aja nggak apa, yang penting happy semua. Jadi emang sebenernya mau jalan, tapi terms and condition-nya banyak banget niy... Pertama, nggak mau nginep karena emang libur cuma sehari. Kedua, nggak mau jauh-jauh dari Jakarta. Ketiga, nggak mau yang macet-macet karena pasti bete tuh bocah. Keempat, nggak mau yang sumpek alias banyak orang kayak cendol. Kelima, mau yang tempat murah meriah karena diluar budget jalan-jalan liburan beneran kita.

Pilih pilih sana sini sono, akhirnya kita putuskan untuk main ke Waduk Jatiluhur. Pertimbangan milih tempat ini adalah karena e karenaaa... Pertama, jarak dari Jakarta nggak terlalu jauh (liat di google maps cuma sekitar 60km). Kedua, aksesnya gampang banget, masuk toldakot Slipi, keluar langsung exit Jatiluhur via toll Cipularang. Ketiga, kecil kemungkinannya macet karena yang macet biasanya Bogor dan Puncak (ini kayaknya cuma feeling saya aja siyk). Keempat, ada yang mau nostalgia juga (nah ini emak saya punya gawe..., katanya pengen liat Waduk Jatiluhur, tempatnya study tour dulu dari kampus).

Bungkusss...

Team Lengkap ke Waduk Jatiluhur
Foto keluarga latar belakang waduk, tanpa si bayi yang ditinggal di rumah
Di pinggir waduk Jatiluhur
Pemandangan syantik, lhoo....

Rabu, 17 Agustus kita berangkat. Perjalanan Slipi - Waduk Jatiluhur lancar jali, pemirsa... Cukup 1 jam dan 30 menit saja. Padatnya pas di Kecamatan Jatiluhur aja tuh ya, karena mau persiapan pawai 17-an. Tapi cingcai kok padatnya, masih bisa jalan. Sampai di kawasan wisata waduk Jatiluhur, alhamdulillah nggak padat. Sepi dan sepi ajeee... Oia, masuknya bayar. Tiket masuk kawasan wisata adalah sebesar Rp 15.000 per orang (anak umur 2 tahun ke atas dihitung juga) dan mobil Rp 20.000/mobil. Jadi kemarin kita berlima Rp 95.000 kena-nya. Ini belum termasuk biaya parkir di dalamnya.

Saya parkir mobil yang bener banget deket pinggir danau (dulu bareng sama rombongan ALTIC juga pernah kesini). Udahlah siyh di dalam kita cuma duduk-duduk dan lihat-lihat. Bapak ibu saya kebetulan bawa bangku lipat sendiri, karena nggak bisa duduk di bawah. Sementara saya dan anak-anak sih duduk sebisanya aja. Duduk di pinggir waduk ini, ada yang nawarin naik perahu keliling danau, per orang kena Rp 20.000 dan 1 perahu itu bisa buat 12 orang katanya. Kalaupun mau sewa sendiri, boleh lah Rp 150.000. Tadinya mau juga siy naik perahu, tapi si ibu ternyata nggak mau.

Di lokasi wisata waduk Jatiluhur ini, ada beberapa tempat makan juga. Di pinggiran danau, ada yang enak kata temen saya. Makanan yang dijual ikan bakar gitu. Harganya juga nggak mahal. Tapi ternyata, ada juga rumah makan terapung di waduk. Kalau mau kesana ya harus sewa pakai perahu tadi. Kita nggak makan disini, soalnya waktu itu belum jam-nya makan siang. Skip makan di dalam lokasi waduk. Cuuusss pk 11.00 dari Waduk Jatiluhur.

Tujuan berikutnya adalah Giri Tirta Kahuripan. Nemu ini tempat baca-baca juga dari blog, katanya salah satu objek wisata yang bisa dikunjungi kalau ke Purwakarta. Cusss pakai Waze, Waduk Jatiluhur ke Giri Tirta Kahuripan, estimasi waktu tempuh 45 jam aja. Sampe juga akhirnya ke Giri Tirta Kahuripan. Jalanannya bagus siyh, nggak sempit, cuma waktu itu lagi ada bikin got, jadinya agak pelan sedikit jalannya. Jalannya menuju ke Giri Tirta ini, udah mendekati TKP, separo badan jalannya kemarin dipake untuk jemur padi sama penduduk setempat, jadilah kita agak susah jalannya. Gantian deh kalo ada mobil lewat berlawanan.

Sampai di Giri Tirta Kahuripan, untungnya nggak padat banget. Mudah sekali cari parkir. Bayar parkir Rp 5.000 aja seharian.

Nunggu wara wiri di Giri Tirta Kahuripan
Mobil wara wiri-nya

Giri Tirta Kahuripan itu apa?

Pemandangannya kurang keliatan ya...

Ceritanya Giri Tirta Kahuripan yang saya kunjungin itu ada agrowisata dan ada kolam renangnya. Karena saya nggak niat berenang, jadi saya masuk yang agrowisata-nya aja. Masuknya per orang kena Rp 25.000 (anak umur diatas 3 tahun juga bayar). Di dalam komplek agrowisata ini, kita bisa keliling pakai mobil ala wara wiri di ancol itu... gratis. Tinggal nunggu aja mobilnya datang, kalo cukup ya naik kalo nggak ya tunggu mobil berikutnya aja. Keliling dengan mobil, kita bisa liat banyak pohon duren yang masih muda, ada juga beberapa kandang binatang (ayam, rusa, domba tanduk empat, dll). Mau turun di tengah-tengah juga bisa. Ada kolam renang minimalis dan ada macam gazebo-gazebo juga serta kantin. Saya nggak turun, lanjut aja sampai habis balik lagi.

Oia, kolam renang si Giri Tirta Kahuripan ini cukup terkenal lho, di dunia Instagram. Emang sih, view-nya ketjeh. Tapi masuknya bayar Rp 60.000 per orang. Di dalam kawasan kolam renang ini ada restoran. Kolam renangnya bukan waterpark ya. Emang dia cuma kolam renang aja. Cukup mahal sih kalau menurut saya untuk tarif kolam renang biasa. Tapi karena tempatnya di atas gitu, makanya jadi mahal lah ya.

Satu yang kurang dari tempat wisata ini, nggak ada toilet dengan closet duduk, semuanya closet jongkok. Ini sangat menyulitkan buat ibu saya yang belum bisa jongkok, untuk buang air kecil. Ada closet jongkok di area kolam renang, tapi ya harus bayar dulu masuk kolam renang tadi kalau mau pake toiletnya. Hmmm, Rp 60.000 untuk buang air kecil dengan closet duduk? Jujur aja emang, sepertinya designer area ini kurang friendly dengan akses-akses pengguna kursi roda, tongkat dan anak kecil.

Selesai di Giri Tirta Kahuripan pkl 13.00 dan kita langsung cuss balik untuk cari makan. Makan dimana? Udah hunting dooonk dan nemu yang namanya Ayam Ciganea. Tau rumah makan ini dari temen kantor dulu. Katanya enak. Kebetulan lokasinya dekat pintu toll mau arah balik Jakarta. Berangkat deh, menuju rumah makan ini. Lokasinya juga enak, di sebelah kiri jalan kalau dari Jatiluhur.


Ayam Goreng Ciganea
Mari makan...

Makan disini, recommend laaah... Ayam goreng, karedok, empal gorengnya enak. Tapi emang sambelnya maknyuuus... Yaaah, jadi laper lagi deh ngomongin ayam goreng. Kita makan berlima, dengan ayam goreng 3 potong, karedok, bakwan jagung, sambel, dan minum air kelapa murni 1 batok habis sekitar Rp 200.000. Worth-it menurut saya. Udah gitu, senengnya lagi, di rumah makan ini, di depannya ada toko oleh-oleh yang jual srimping panganan khas Purwakarta. Kita bisa jajan disitu deh.

Selesai liburan pendek sangat kami sekeluarga... Alhamdulillah, a very short trip tapi sangat menyenangkan. Nggak macet, dapet beberapa spot, dan makan enak. Moreover ya perginya karena sama orang-orang tersayang..

8.16.2016

AKHIRNYA MEMILIH CLOTH DIAPERS

Ya udah siyk, udah ngaku kalau saya bukan blogger sejati. Hahaha, piye tho, lha wong nulis aja jarang-jarang, mau dicap blogger? Tapi mah ya, blogger atau bukan, yang penting masih bisa nulis, masih bisa cerita, masih bisa berbagi, masih bisa ninggalin jejak. Yang namanya mood nulis bagus atau nggak itu sudah biasa - ini pembelaan banget - kan..? Hahaha, namanya juga hidup ciyn, kayak roda yang berputar, kadang di atas, kadang dibawah. Too much prologue...

Kali ini mau cerita tentang popok si adek Narfa. Sudah kurang lebih 3 minggu ini saya akhirnya mengurangi sangat pemakaian popok sekali pakai (pospak) untuk si adek. Sebenernya memang jadwal pakai pospak itu cuma malam hari kok, ketika si adek sudah mau tidur, baru pakai pospak-nya. Selebihnya di rumah, ya cuma pakai popok tali itu yang kalau si adek pipis, basah, trus ganti. Gitu aja terus menerus. Udah mulai umur 2 bulan, popok tali mulai ditinggalkan karena sudah mulai kekecilan buat si adek, akhirnya naek kelas pakai celana pop. 

To be honest, saya agak kewalahan dengan bolak balik gantiin celana basah buat si adek. Agak riweuh apalagi kalau harus bolak balik saya ganti baju karena nggak bisa sholat pakai baju yang udah terkena pipis-an si adek. Oh yes lah, mulai ngeluh kan. Tapi udah pasti mau pakai pospak nggak mungkin. Ngeri banget sama ruam popok dan bikin sakit perut sama beli pospak. Hari gini pospak kalau nggak beli promo ya mehong bingit. Mulai punya idea buat pakai cloth diapers (clodi).

Mulai browsing sana sini situ. Apa itu clodi, terbuat dari bahan apa clodi, bagaimana maintenance-nya, apa kelebihan dan kekurangan clodi dibandingkan pospak, harganya berapa, yang paling bagus apaan. Percayalah, ketika saya memulai browsing, ketika itu juga saya mulai pusing. Serius, makin banyak baca itu makin bingung. Etapi kalau kata dosen saya dulu ya, makin bingung itu tandanya kita makin pinter. Makin banyak nggak ngerti, makin keren... Hauuuk akh elaph... 

Nih lah udah rangkuman saya kenapa akhirnya memutuskan untuk menggunakan clodi...

Capek bolak balik gantiin celana kain yang basah. True banget, ini capek buat saya karena si adek kadang baru 5 menit udah pipis lagi. Baru aja ganti, ganti lagi. Belum lagi ngurus si kakak Nara yang masih kecolongan pipis nggak di toilet.

Kalo udah kena pipis adek, harus ganti baju.
Capek bolak balik ganti baju saya, kena pipis si adek, nggak bisa sholat pake baju yang kena pipis. Nah, sementara masa mau bolak balik ganti baju yaaa... Makin besar pun pipis si adek makin bau pesyiiing...

Mengurangi tebaran najis di rumah. Walaupun emang cuma pipis bayi, tapi tetap aja ya najis ya, harus dibersihkan. Pipis jatuh di lantai, ya kudu pel, kudu lap. Nggak capek sih, tapi tetap butuh effort untuk ngebersihin najis di rumah.

Faktor U nggak bisa bo'ong. Makin tua, makin berumur, keberdayaan tubuh semakin menurun pula. Dulu waktu jaman kakak-nya si adek masih muda, sekarang juga masih muda, tapi kok ya... hmmm, pokoknya mulai berasaaa... ahahahah. Gemfor juga lama-lama ganti celana si adek.


Udah akhirnya saya ambil keputusan pakai clodi. Nah terus pusing kan milih clodi yang mana, baca deh tuh review bunda canggih para pakar per-clodi-an. Makin hamsyong baca tips-tips milih clodi. Bahahahaaa, mau milih aja udah bingung sayah. Abis pilihannya banyak banget. Faktor harga, faktor material, faktor model, belum lagi faktor corak. Seneng yang ini tapi begitu, seneng yang itu tapi begini. Puseeeeng...Udahlah kalo pusing nggak usah lama-lama. Maksudnya nggak usah baca review banyak-banyak. Makin banyak baca bisa makin pusing soalnya.

Clodi juga akhirnya...
Bisa juga pakai buat kakak-nya


Nih, akhirnya pertimbangan clodi yang saya pilih adalah...

Pilih pakai kancing (snap) daripada pakai velcro (ceprekan). Walaupun katanya pakai velcro bisa lebih presisi dengan ukuran body si anak, tapi katanya kalau velcro itu lama-lama bisa kurang main velcro-nya. Paham banget siyh, sifat velcro. Belum lagi kalau udah nyangkut benang atau rambut. Iysh... paling sebel tuh liat velcro nyangkut benang sama rambut. 

Pilih yang model pocket daripada yang model universal. Model pocket, semua insert. Ini sih pertimbangannya emang saya ngeliatnya pakai pocket itu lebih rapih daripada yang universal. Model pocket, insertnya masuk semua tertutup rapih dibawah sebuah permukaan suede itu. Kalau yang model universal, insertnya mumcul. Tapi emang universal ganti insertnya lebih mudah.

Pilih yang buatan lokal pastinya. Ini sih udah pasti numero uno, tentang harga. Kemampuan saya sebatas membeli clodi lokal saja, pemirsaaa... Kalaupun mampu beli clodi import, pastinya cuma kebeli 2 biji doang nanti. Ya mana cukuuup. Hahaha, kecuali kalau ada yang mau kasih gratisan, saya terima dengan senang hati tu clodi import.

Pilih yang bukan bludru sebagai outernya. Nggak tau kenapa, kurang sreg sama yang namanya bludru. Bukan apa-apa siy, sebenernya benda apapun saya nggak suka kalau itu dari bludru. Ahahahaa... jadi bukan untuk clodi saja saya kurang sreg, tapi sama semua. Skip lagh kalau badan bludru. Pilih yang PUL aja untuk outernya. PUL apa? Ntahlah kepanjangannya, monggo browsing.

Pilih yang ada leg-gusset nya. Kalau untuk milih yang ada leg gusset alias tahanan bocor samping, saya emang sengaja. anak saya cowok, pasti lebih gesit, banyak gerak. Grasak grusuk. Makanya mending carikan yang clodi ber leg gusset, biar nggak bocor samping. Browsing sasino, ternyata nggak banyak clodi lokal yang pakai leg gusset.

Pilih yang adjustable ukurannya. Namanya bayi cepet besar, makanya saya milih clodi yang bisa distel ukurannya. Secara anak 2 bulan maunya dipake sampai lulus toilet training.

Jadi..., pilih apa donk buat clodi adek? Pilihan saya jatuh kepada Ecobum. Clodi lokal yang harganya masuk di kantong saya ini, ternyata menurut review-an ibu-ibu canggih perclodian emang kualitas-nya bagus, terus ada leg-gusset juga ada. Pertama beli cuma 2 piece aja kok. Nyobain aja, kalau cocok ya beli lagi, kalau nggak cocok ya nggak rugi banget lah. Eh ternyata cocok. Akhirnya jadi beli lagi dan lagi deh.

Alhamdulillah, sekarang nggak capek bolak balik ganti celana kalau si adek pipis, nggak kena pipis adek nih baju ibu dan alhamdulillah ternyata efek samping yang lain adalah adek bisa tidur agak panjang, karena celananya nggak langsung basah kalau pipis. Jadi, sekarang pakai pospaknya hanya kalau pas pergi aja deh. Kalau di rumah, udah pakai clodi selalu.

Cukup sekian dan terima suka dengan kehadiran clodi. Rasanya sih males ya, bikin tulisan gimana cara bersihin clodi, gimana ngerawat clodi, boleh apa dan nggak boleh apa. Udah banyak review-an yang okay punya lah yang gampang banget dicari di dunia maya. Saya udah tinggal baca dan ngikutin aja. Hihihi. Jadi, ini tulisan sih sebenernya cuma mau bantu ninggalin jejak kenapa saya pakai clodi.


*bukan endorse-an Ecobum ya, ini cuma beneran review lho...

8.04.2016

TARIK NAPAS DALAM-DALAM... SANGAT...

Ini emang bukan ranah saya sebenarnya, tapi kalau nggak numpahin rasanya belum puas, karena saya pun sebenernya terlibat dalam hal ini. Bukan sebagai korban (dan in shaa Allah jangan sampai), tapi kan anak-anak saya diimunisasi juga.

Vaksin Palsu (gambar nyomot dari sini)


Udah ramai-ramai dari sebelum lebaran tentang vaksin palsu ini, dan sampai saat ini di menjelang akhir Juli 2016 masih ramai pembicaraannya. Emang harus ramai sih menurut saya. Ini satu hal yang harus dituntaskan karena bukan masalah yang sederhana dan semudah itu melupakannya. Ini terkait dengan kehidupan orang banyak, apalagi urusan dengan nyawa. Emang gila dasar ya..., kok ada yang tega mencari uang dengan cara yang teramat sangat merugikan orang lain.

Katanya, permulaan vaksin palsu ini dilakukan tahun 2003. Sudah 13 berarti hingga saat ini, mereka mengedarkan vaksin palsu itu. Coba aja dalam kurun rentang waktu 13 tahun itu, berapa anak kecil yang sudah menjadi korbannya. Berapa nyawa yang sudah dia permainkan? Berapa badan yang sudah dia rusak? Kok nggak pakai mikir ya itu orang? Terbuat dari apakah hatinya sampai demikian sampai hati-nya...

Konon katanya jenis vaksin yang dipalsukan juga termasuk vaksin yang wajib dari pemerintah, BCG, Polio, DPT, Hep B, Campak. Wowww banget ya? Ini mengerikan sekali buat saya. Sampai yang vaksin wajib pun dipalsukan. Coba itu gimana? Nah yang banyak pangsa pasarnya juga tuh yang kena palsu, vaksin HIB yang barengan sama DPT dan Polio. Secara ini vaksin cukup mahal untuk yang nggak pakai demam (kemungkinan demam-nya tipis).

Pediacel, vaksin kombinasi untuk diphteri, tetanus, pertussis, polio dan Hib (haemophillus influenza) itu sekali suntiknya, harganya Rp 875,000 lho... kan mahal banget kan ya, belum termasuk jasa konsultasi dokter lho yang totalnya bisa mencapai diatas Rp 1.000.000. Sementara pemberian vaksinnya nggak cuma sekali lho. Kebayang kan ya, berapa uang yang sudah dikeluarkan, tapi dapetnya apa? Zonk doang? Ampuuuun...

Kemarin sempat ada pembicaraan antara lawyer RS yang membeli vaksin palsu dengan BPOM dan perwakilan konsumen. Intinya, RS nggak tau kalau yang dibeli itu vaksin palsu. Jadi, sebenernya pun RS adalah korban. Sementara waktu itu memang sempat beberapa waktu, vaksin itu pada kosong dan langka. Jadi, katanya mumpung ada yang nawarin, makanya RS tersebut ngambil vaksinnya. Nawarinnya sih katanya lewat apoteker-nya.

Sebenernya sih, yang gw bingungin itu... kenapa pihak procurement Rumah Sakit yang terima vaksin palsu itu nggak cross-check ya ke pihak produsen asli-nya. Ibarat kata, minta surat keterangan bahwa memang si PT yang ngiderin vaksin itu benar adanya perpanjangan tangan dari si produsen. Kan bisa minta keterangan dari produsen, kalau si PT itu bener ambil vaksinnya dari pabrik itu. Nggak bisakah demikian dibuatnya? Aiyh entahlah, saya mah apah atuh cuma bisa nganga aja liat bocah dikasih vaksin palsu.

Walaupun nih ya, katanya pemerintah menyediakan untuk divaksin ulang buat anak-anak yang menjadi korban vaksin palsu, tapi apakah semudah itu jalan keluarnya? Gimana nasib anak-anak yang badannya udah kemasukan zat enatah apaan tau itu? Trus kan imunisasi itu ada masanya kan, misalanya anak umur sekian yang bagusnya divaksin apa. Lah kalo udah kewat, gimana? Apakah masih berlaku? Masih bisa bereaksi kah badannya? Nggak ngerti deh...

Dah lah akh, tulisan ini dibuat cuma karena mau numpahin uneg-uneg dari dalam hati aja kok, karena udah nggak tahan, udah geram, udah sampe ubun-ubun deh tuh geramnya. Dimana letak hati nurani itu orang ya, segitu teganya sama anak kecil pula... 

7.20.2016

LEBARAN 2015 - 1437 H

Selamat Idul Fitri 1437 H

Alhamdulillah, sampai juga di penghujung Ramadhan 1437 H. Walaupun puasa saya hanya 8 hari karena 22 hari Ramadhan masa nifas pasca lahiran adik bayi belum selesai, tapi tetap meriah kok lebaran tahun ini. Yang penting dan yang jelas, Idul Fitri tahun ini alhamdulillah keluarga kami bertambah jumlahnya. Ada adik Narfa yang telah bergabung. 

Lebaran tahun ini, libur panjang dan kita nggak kemana-mana. Nggak usah ditanya lagi kenapa, udah pasti jawabannya karena ada adik bayi. Bayinya belum dua bulan pula pas lebaran, jadi nggak berani yang macem-macem bawa jalan-jalannya. Maklum, saya termasuk ibu yang agak penakut urusan bawa bayi pergi ke tempat umum. Kata orang-orang diluaran sana banyak virus dan tubuh bayi belum terlalu kuat nahan virus. Yah, walaupun ada yang kontra dengan bilang, kalo mau sakit mah ya sakit aja. Apalah terserah, saya mah nggak mau lah bawa-bawa bayi piyik ke tempat umum. Pikirannya emang selain disana banyak virus dan yang paling saya males ya barang bawaan printilan itu.

Lebaran tahun ini, saya memtuskan untuk berlebaran dari H-1 alias mudik ke rumah ibu saya di Joglo. Selain alasan karena biar ikutan mudik, walaupun ala-ala mudik doang, yaitu karena saya udah nggak mampu menyiapkan bocah-bocah untuk rapih dari pagi-pagi buta untuk berangkat berlebaran ke rumah bapak ibu. Kebayang ya, tiga orang anak dan harus disiapin semuanya dari A sampai Z, sementara pak suami udah pasti pergi sholat Ied dan sang pengasuh sudah mudik juga dari H-4. To be honest, saya menyerah dan melambaikan bendera putih. Nah, ini mudik apa cari suaka sih sebenernya? 

Lebaran tahun ini, saya merasakan kehilangan yang sangat mendalam karena mama mertua saya sudah tidak ada lagi. Mama pergi meninggalkan kami semua di tepat hari raya Idul Adha tahun lalu. Ternyata Idul Fitri tahun lalu adalah lebaran terakhir mama dengan semua anak cucunya... Ya Allah, semoga lebaran tahun depan saya dan keluarga masih bisa merayakannya bersama-sama.

Lebaran tahun ini, karena saya nginep di rumah ibu, maka yang senang sekali adalah anak-anak saya. Hahahaha... Ini karena kakak saya (yang masih tinggal di rumah ibu), sangat memanjakan anak-anak saya. Begitu tau kalau saya akan menginap di rumah ibu, dirinya menyiapkan segala macam mainan dan makanan untuk keponakannya. Plus lagi, selama ada keponakan, dirinya mengurung diri di rumah. Menghabiskan waktu bersama dengan anak saya. Oh yes banget... Terima kasih pakde Ai, mainan anak-anak makin banyak, anak-anak makan dengan happy dan pastinya ibunya anak-anak terselamatkan karena ada yang momong. Qiqiqiq...

Lebaran tahun ini, saya amat sangat bersyukur lah pokoknya... karena Allah masih memberikan saya kesempatan untuk merayakannya... Buat semuanya, Mohon Maaf Lahir Bathin ya... Maapin kalau ada yang salah-salah kate, umpame... etdaaah... 

6.23.2016

SEDIAKAN PAYUNG SEBELUM HUJAN - UNTUK KULIT ANAK

Narfa dan Lactacyd Baby

Orang tua mana yang tidak bahagia ketika menyambut kedatangan adik bayi? Buah hati yang dinanti pasti disambut dengan riang gembira oleh seluruh keluarga. Seperti saya dan suami beserta kedua anak kami yang sangat berbahagia menyambut kedatangan adik bayi pada tanggal 14 Mei 2016 kemarin ini. Berbagai persiapan menyambut kedatangan adik bayi pun dilakukan. Masing-masing anggota keluarga sudah mempunyai tugas dalam mempersiapkan kebutuhan adik bayi. Sang bapak mempersiapkan dana untuk lahiran dan dana untuk membeli kebutuhan adik bayi (hahaha... untuk urusan sumber dana dan sumber keuangan, sudah pasti urusan bapak). Sang ibu pastinya bertugas untuk membalanjakan kebutuhan adik bayi yang harus dibeli (nah, urusan belanja sudah pastinya urusan ibu-ibu). Sementara kakak-kakak adik bayi mempersiapkan mental menjadi kakak... 

Seperti pada kedua anak sebelumnya, saya selalu mempersiapkan semua kebutuhan bayi yang akan digunakan setelah adik bayi lahir ke dunia. Prioritas pertama, pastinya memastikan barang-barang yang akan dipakai untuk adik bayi sesaat setelah lahir berikut juga dengan kebutuhan ibu pada saat persalinan di Rumah Sakit. Setelah itu, baru kemudian mempersiapkan kebutuhan adik bayi nanti pada saat sesudah bisa kembali ke rumah. Saya bukan type yang mudah mengingat, terlebih pada kebutuhan yang banyak mempersiapkan kebutuhan bayi, maka dari itu, saya catat semua barang-barang yang harus disiapkan. Berhubung ini merupakan anak ketiga, maka beberapa barang kebutuhan bayi yang masih ada, saya catat. Gunanya? Biar tidak perlu lagi membeli yang sudah ada. Beli saja yang belum ada. Penghematan sebagian dari pelit, pemirsa... ya... namanya juga Ibu-ibu. (*nyengir).



Pengalaman adalah guru yang terbaik... ~ unknown



Kulit anak saya bisa memerah...

Waktu melihat kulit bayi anak saya yang kedua (Nararya) yang lahir pada September 2014 agak merah-merah, saya mulai was-was. Tapi seperti biasa, pak suami selalu membawa saya ke arah dan jalan yang tenang - biar balance ; satu panik, satu tenang. Menunggu penjelasan dokter anak saja. Begitu jam kunjungan dokter anak Nararya, langsung lapor, kalau kulit Nararya memerah. Bu dokter memeriksa, dan memberikan penjelasan kalau memang kulit bayi baru lahir pasti sensitif. Beliau langsung menginstruksikan ke suster dan saya untuk memberikan Lactacyd Baby. Kata bu dokter, sabun bayi yang biasa untuk tidak diberikan dulu ke adik bayi. Siaaap, bu dokter. Ternyata, setelah dua kali mandi pagi dan 2 kali mandi sore menggunakan Lactacyd Baby, badan Nararya sudah tidak memerah lagi. Horeee...


Penyebab kulit anak saya memerah...

Sebagai orang tua yang baik hati dan tidak sombong serta rendah hati... hahaha (asli nggak nyambung), saya menanyakan ke bu dokter, mengapa anak saya yang kedua kulitnya bisa memerah seperti itu, sementara anak pertama saya tidak. Bu dokter memberikan penjelasan singkat, bahwa penyebab kulit bayi yang baru lahir bisa memerah karena:
  1. Ada faktor keturunan dari orang tua yang mempunyai kulit sensitif
  2. Ada kemungkin faktor cuaca yang tidak cocok dengan bayi.
  3. Ada kemungkinan dari air yang digunakan saat mandi tidak cocok
  4. Ada kemungkinan sabun yang digunakan bayi tidak cocok dengan kulit bayi
  5. Ada kemungkinan dari bahan baju yang digunakan tidak sesuai dengan kulit bayi
Kemungkinan kulit Nararya memerah karena sabun bayi yang digunakan saat itu tidak cocok. Tapi jujur saja, kulit ibunya anak-anak ini (yaitu saya sendiri maksudnya), memang sangat sensitif. Jadi mohon maaf ya nak, jika ibumu ini mewariskan satu hal yang bisa membuat kulitmu memerah tadi. Tapi syukurlah, dengan Lactacyd Baby, kulit Nararya bisa hilang merah-merahnya. Penyebab kulit memerah, jika dikarenakan poin 1 dan poin 2 di atas, sepertinya agak sulit menghindarinya, tapi untuk poin 3 sampai poin 5, kita bisa menghindarinya. Bagaimana caranya, menghindari kulit memerah karena faktor keturunan dan faktor cuaca? Rasanya sulit sekali...


Persiapan Baby Narfa di awal Mei 2016...

Ada yang berbeda pada persiapan beli-beli kebutuhan adik bayi kali ini. Iya, saya mencatat salah satu kebutuhan adik bayi yang harus dibeli adalah Lactacyd Baby. Jujur saja, pada persiapan persalinan di kedua anak sebelumnya, saya tidak mempersiapkan Lactacyd Baby di list belanja kebutuhan bayi. Anak pertama saya, setelah lahir tidak bermasalah dengan kulitnya. Makanya di anak kedua saya santai saja. Ternyata, anak kedua saya kulitnya sensitif sehingga memerah. Paham banget deh ya sama pepatah yang bilang, "Sedia payung sebelum hujan..." Nah itulah saya, menyediakan Lactacyd Baby buat anak ketiga sebelum disuruh bu dokter.

Menyambut kedatangan adik bayi kali ini, saya pastikan Lactacyd Baby sudah tersedia di tas yang akan saya bawa untuk persalinan. Saya memilih untuk menggunakan Lactacyd Baby untuk mencegah ketidakinginan yang dapat terjadi pada kulit anak saya nantinya, seperti anak kami kedua yang sebelumnya. Sungguh rasa tak tega melihat buah hati yang baru lahir beberapa saat ke dunia, yang harusnya orang tuanya senang, tapi agak sedikit meringis karena lihat adik bayi kulit memerah. Alhamdulillah, produk Lactacyd Baby mudah dicari di mana saja, kebetulan saya mendapatkannya di apotiek dekat rumah. Produk mudah dicari dan harganya pun sangat terjangkau. Lengkap sudah, kebutuhan untuk dibawa saat persalinan nanti. Adik bayi in shaa Allah tidak memerah lagi ya kulitnya. Bayi senang, ibu tenang... 

List Persiapan Belanja Kebutuhan Baby - Lactacyd Baby


Baby Narfa lahir dan Lactacyd Baby...

Alhamdulillah, tepat tanggal 14 Mei 2016, pkl 02.15 dinihari, putra kami yang kedua, anak ketiga lahir ke dunia. Walaupun melahirkan di ruang UGD karena ruang persalinan penuh, baby Narfa dan saya sehat semua - yeeeah, kita berhasil, nak! Hihihi, melahirkan di UGD Rumah Sakit pun pengalaman pertama buat saya. Narfa lahir dengan berat 2900 gram dan panjang 50cm. Setelah semua proses persalinan, proses Inisiasi Menyusui Dini, dan masa observasi pos partum, kami bersiap pindah ke ruang perawatan. Lega sekali rasanya, setelah melalui proses persalinan sekitar 2 jam 30 menit ini ditambah masa observasi 2 jam. Begitu tiba di ruang perawatan ini, saya mulai bisa menyusui Narfa dan bisa melihat Narfa mandi. Saya sudah menyiapkan Lactacyd Baby dan mulai menggunakannya. Antisipasi kulit memerah seperti sang kakak terdahulu.

Selamat datang Baby Narfa...


Lactacyd Baby itu...

Saya jadi penasaran, apa sebenernya Lactacyd Baby itu? Produk yang bisa dihandalkan untuk mengamankan kulit anak saya, bahkan anak bayi yang baru lahir ini. Nah, ini ternyata bahan yang ada pada Lactacyd Baby; Aqua, TEA-lauryl sulfate and Ammonium lauryl sulfate, Ethyleneglycol stearate, Diethyleneglycol stearate, Hydrogenated peanut oil, Lactic Acid dan Lactoserum, Ethylhydroxyethylcellulose, Natural orange flavour, Sodium methyl paraben, Sodium hydroxide, Cholesterol, Phoshoric acid. Ternyata banyak juga ya, kandungan yang ada pada Lactacyd Baby. Banyak kandungannya, ternyata sangat bermanfaat untuk bayi saya yang baru lahir. Nah, Lactacyd Baby ini mengandung susu lho... Ternyata Lactacyd Baby kan bukan hanya untuk mengatasi kulit sensitif seperti anak saya, tapi juga bisa mengatasi ruam-ruam (paling sering siy ruam popok) dan mengatasi biang keringat pada kulit bayi. 

Lactacyd Baby siap sedia

Komposisi, Fungsi, Cara Pemakaian, Tanggal Kadaluarsa


Bagaimana pakai Lactacyd Baby...

Cara pakai Lactacyd Baby ternyata juga mudah sekali. Sambil tutup mata nyiapinnya juga bisa lho... Tinggal tuang 3 atau 4 sendok teh cairan Lactacyd Baby ke dalam bak mandi si anak. Karena anak saya masih bayi banget, jadi saya ya mencampurnya ke dalam bak mandi berisikan air hangat alias air hangat suam suam kuku. Iya, bayi Narfa ketika mandi dengan air hangat langsung anteng padahal sebelumnya menangis. Mungkin karena air yang hangat sama seperti waktu di dalam perut ibu waktu belum lahir. Eh tapi ternyata, Lactacyd Baby ini bisa digunakan dengan berbagai macam cara lho. Pertama dengan cara yang seperti saya tadi, campurkan Lactacyd Baby ke dalam air di bak mandi bayi. Yang kedua yaitu dengan cara seperti menggunakan sabun cair sebagaimana biasanya kepada tubuh sang anak. Untuk saya, saya lebih memilih kepada cara pertama.

Cara menggunakan Lactacyd Baby (Sumber gambar : FB Lactacyd Baby)



Menggunakan Lactacyd Baby Ketika...

Nah, buat buk ibuk dan pak bapak, siapkan ya, Lactacyd Baby untuk buah hati anda. Ini bermanfaat sekali sangat. Kita nggak tau, anak kita punya masalah kulit apa, makanya lebih baik berjaga-jaga. Karena pepatah "sedia payung sebelum hujan" itu benar sekali adanya. Dulu pernah dikasih tahu oleh bu dokter, kalau kulit bayi anak bisa sensitif karena beberapa faktor, seperti cuaca, keturunan (kayaknya kalau anak saya karena menurun dari saya yang memang punya kulit rada sensitif - ya untung aja kulit yang sensitif, coba kalau perasaan *eeeaa), air susu ibunya, sama apalagi ya, lupaaaa. Siapkan saja Lactacyd Baby. Mudah didapatkan, kalau mau pergi-pergi untuk dibawa, tinggal beli yang kemasan kecilnya saja (60 ml), karena untuk kemasan yang besar bisa untuk dipakai di rumah (150 ml dan 230 ml).

Ayooo..., kita gunakan Lactacyd Baby untuk buah hati kesayangan kita, seperti bayi yang satu ini juga mandi dengan Lactacyd Baby... Lactacyd Baby buat kulit anak yang bermasalah maupun pencegahan ya... 



Penasaran dan mau tau lebih banyak tentang Lactacyd Baby? Like aja Fanpage Lactacyd Baby di Facebook. Ada banyak informasi tentang Lactacyd Baby disana, berikut tentang seluk beluk kulit perbayian. Kulit orang dewasa aja ada yang sensitif ya, apalagi kulit bayi yang baru lahir, pasti lebih sensitif lagi deh ya...


Tulisan ini diikutsertakan dalam #LactacydBaby Blog Competition

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post