7.21.2014

BUKA PUASA DENGAN BERBAGI HARAPAN

Memang sudah menjadi agenda rutin kegiatan komuniatas Altis Indonesia Community (ALTIC) di setiap tahunnya untuk mengadakan kegiatan buka puasa bersama sebagai wujud salah satu kopdar alias kopi darat alias kumpul bin silaturahmi. Kopdar bulan Ramadhan ini memang selalu lebih ramai dihadiri member komunitas dibanding dengan kopdar mingguan. Nah, karena momen-nya bulan Ramadhan, maka kegiatan buka puasa bersama ini dibarengin juga dengan kegiatan berbakti sosial dengan berbagai pihak yang membutuhkan. Dua tahun lalu, kita menyambangi pondok pesantren yatim/piatu di daerah Bekasi. Setahun lalu, alhamdulillah bisa menyantuni anak yatim/piatu di lingkungan Sekretariat ALTIC daerah Pasar Minggu. Dan tahun ini, agak berbeda dari biasanya. Kita akan berbagi dengan anak-anak yang mengidap penyakit kanker dan datang dari keluarga yang tidak atau kurang mampu. Case-nya agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya... tapi kita harus berbagi!

Ide untuk berbuka puasa bersama anak-anak penyandang kanker ini diprakarsai oleh salah satu member ALTIC yang memang sudah berkecimpung terlebih dahulu dengan anak-anak ini. Gayung bersambut, disetujui oleh beberapa pengurus ALTIC. Tujuan kita berbagi di tahun ini adalah di Yayasan Anyo Indonesia, yang berada di daerah Slipi, Jakarta Barat. Rumah Singgah Anyo (cekidot : dimarih) ini merupakan tempat tinggal sementara bagi anak-anak yang mau berobat kanker di RS Dharmais. Deket sama RS Dharmais biar nggak jauh-jauh lagi ke RS, tinggal jalan kaki, paling sekitar 10 menit sudah sampai di RS. Di rumah singgah ini, segala kebutuhan anak-anak sudah disiapkan lho, mulai dari ruang tidur, arena belajar, tempat bermain, bahkan untuk orang tua yang nungguin anaknya, disiapkan juga mesin cuci. Oia, dapurnya pun ada. Jadi bener-bener udah kayak rumah sendiri. Nyaman banget...

Okey, persiapan untuk bakti sosial ALTIC kali ini yang agak berbeda adalah pada saat menyiapkan konsumsi-nya. Kenapa? Karena anak-anak nggak bisa makan sembarangan dalam artian, makanan anak-anak harus bebas dari segala macam bumbu penyedap rasa buatan, trus nggak boleh juga makan yang dibakar karena mengandung zat apaaa, gitu. Jadilah kita pesen makanan sesuai dengan request dimaksud. Beruntung sekali, salah satu member komunitas (ehm, pengurus sesepuh ALTIC dink) punya rumah makan dan bersedia bantuin bikin masakan yang tidak sama sekali menggunakan penyedap rasa buatan. Alhamdulillah... 

Tanggal 12 July, Sabtu, acara digelar. Kita udah siap-siap di Rumah Anyo mulai pukul 15.00 karena acara akan dimulai pukul 16.00. Bagi-bagi tugas antara yang harus standby di Patung Panahan Senayan sebagai nmeeting point member (akh, nggak ikutan konvoi deh kita karena lokasi rumah Ayo deket sama rumah akhirnya kita langsung ke Rumah Anyo) dan juga bagi yang harus standby di Rumah Anyo untuk bantu-bantu persiapan acara. Oia, acara ini nggak cuma dihadiri sama member ALTIC lho, tapi juga bersama keluarga member. Karena ada yang bawa istri, anak, bahkan bawa calon istri/calon suami. Mantap kan? Pastinya donk, secara ALTIC emang Not Just Brotherhood, We Are Family

Om Yudha (Ketuhar ALTIC) lagi ngasih sambutan...

Acara dimulai pukul 16.30 (maafkeun molor 30 menit karena hujan dan jalan pun macet). Acara ini didahului dengan perkenalan apakah itu Rumah Anyo, bagaimana sejarahnya, dan apapun kegiatan di Rumah Anyo yang disampaikan oleh salah satu pengurus di Rumah Anyo. Saya sendiri sempet terharu dan merebes mili ketika liat profil singkat Rumah Anyo, terlebih dengan melihat langsung anak-anak yang mengidap kanker duduk tepat di depan hadapan saya. Akh, baru kali ini baksos ALTIC bikin haru mewek hati... Jadinya kita bersyukur banget ya, dikasih kesehatan sama Allah. Tapi anak-anak itu hebat sekali, mereka tetap tersenyum dan tertawa riang gembira lho... Walaupun diantara mereka itu ada yang terkena leukimia, kanker mata, kanker tulang, kanker syaraf otak... dan umurnya pun masih sangat kecil sekali, 4 tahun. Yups, Faiz, pengidap kanker darah berusia 4 tahun ini malah kelihatan gemuk dan sehat. 


Om Badut yang bisa sulap lagi main sama Timothy
Buka puasa dulu, kumpul semuaaa....
Here We Are... 

Alhamdulillah, rangkaian acara mulai dari hiburan badut sulap untuk anak-anak dan beberapa member ALTIC yang dikerjain badut, kemudian kita buka puasa dulu dan dilanjut dengan pemberian goodie bags, santunan untuk orang tua anak-anak pengidap kanker, dan akhirnya pemberian santunan untuk Yayasan Anyo, ditutup dengan makan malam bersama ini berjalan dengan lancar diiringi hujan yang cukup deras (kata orang sih, hujan pertanda bawa rejeki lho... aamiin). Seru banget, karena acara makan malam ini member komunitas berbaur dengan anak-anak yang tinggal di Rumah Anyo, lho. Kita main bareng, becanda bareng-bareng. Uhuuuy lah pokoknya. Tepat pukul 19.30, acara selesai dan member membubarkan diri, kecuali emang panitia yang harus bersih-bersih lokasi. 

Pembagian Goodie Bag buat anak-anak :)

Pemberian Santuan untuk Orang Tua (kecuali yang paling ujung kanan, yeee)
Penyerahan donasi untuk Yayasan Anyo

Acara kegiatan yang disponsorin sama Toyota Astra Motor, Garda Oto, dan Gajah Tunggal ini juga didukung juga dengan komunitas Veloz Community (Velozity) lho, ada om Didi sebagai Ketua Umum Velozity yang hadir di acara ini. Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi semua pihak ya... baik anak-anak mapun member komunitas.... Sampai ketemu di event berikutnya lagi....  :)

Cheers... :)
(dokumentasi dari om Radityo dan tante Ester)

7.17.2014

BANJARMASIN TRIP - DAY 3 & DAY 4

Day 3

Lanjut di peninggalan jejak cerita waktu kemarin liburan ke Banjarmasin. Selagi masih inget untuk curhatan, mari kita lanjutkan cerita setelah hari ke dua dan ke satu. Di perjalanan hari ketiga kita di Banjar, sebenernya kita cuma mampir ke rumah saudara di Kuala Kapuas. Nah kalo Kuala Kapuas ini bukan bagian dari Kalimantan Selatan, tapi udah masuk ke ranah Kalimantan Tengah. Perjalanan dari Banjarmasin ke Kuala Kapuas ini sekitar 2 jam perjalanan, dengan jarak sekitar 50km. Jalanannya bagus kok, mulus. Tapi emang ada beberapa titik yang sedikit rusak. Ya wajarlah kalau itu sih, asala bukan yang rusak parah ancur kayak jalan pantura atai pantai selatan ye... amit-amit cabang bayi kalau yang itu. Jalanan ke Kuala Kapuas ini aman buat sedan lho. Waktu kita kesana sempat liat konvoy mobil BMW yang kayaknya lagi touring.

Maaf ya, nggak bisa sharing cerita di Kuala Kapuas ngapain aja dan kemana aja karena emang bener-bener di Kuala Kapuas ini kita berkunjung ke rumah saudara saja. Ya makan siang, ya istirahat di rumah saudara. Perjalanan ke Kuala Kapuas kami tutup dengan foto-foto di Icon kota-nya Kuala Kapuas. Kebetulan rumah saudara kita ini deket dengan dermaga dan pasar tengah kota. Hubungannya? Kita makan siang enak pake banget ikan sungai yang masih sangat segar, manis, dan gurih, ikan air tawar yang tidak berbau tanah sama sekali. Akh, saya suka sekali.... Nikmatnya tiada tara mendua (disclaimer: bukan kampanye).

Cheers.... 
manyun time...


Day 4

Nah ini perjalanan di hari ini yang seru! Beneran seru pake banget. Kita jalan-jalan ke pasar terapung di Lok Baintan yang terkenal seantero jagat raya Indonesia. Perjalanan dari Banjarmasin (tepatnya depan rumah nenek di Banjar) makan waktu sekitar 1,5 jam dengan menggunakan klotok. Masalahnya adalah, pasar terapung Lok Baintan ini bubar sekitar pk. 07.00 pagi (local time). Jadi, kita abis sholat subuh ya kudu berangkat capcusciyn. Otherwise, kita bakalan nggak kebagian belanja di pasar terapung karena pedagangnya udah pada pulang, ciyn. Jadilah, kita berangkat abis sholat subuh, dan Nares pun terpaksa diangkut saat masih ternganga-nganga tidur di kasur. Ya maafkeun bapak ibu lah ya nak, terpaksa digotong naik klotok. Eh tapi ya untungnya pas naik klotok, Nares bangun lho. Mungkin karena getaran suara mesin klotok kali ya, makanya si bocah jadi bangun. Okey, sewa klotok dari Kuin Selatan ke Pasar Lok Baintan pulang pergi seharga Rp 450,000 ya, itu sudah termasuk uang solar dan supir klotok. Nggak pake lepas kunci. Duduk cantik manis aja di klotok. Hahahaha, ya ada kali gitu ya rental klotok yang pake lepas kunci trus kita bawa sendiri. Kalo bisa ya mungkin monggo... 

Perjalanan dari Kuin Selatan ke Lok Baintan menyusuri sungai Barito sedikit. Emang cakep pemandangan selama perjalanan ke Lok Baintan. Lihat rumah-rumah panggung tradisional Banjarmasin, lengkap dengan hutan-hutan perairan gitu. Aseli banget kayak di TV yang suka diliput-liput gitu. Takjub bener bisa liat langsung pake kepala mata sendiri. Subhanallah, ternyata alam Indonesia itu kaya banget ya. Mana ada negara lain punya pemandangan kayak di negara kita ini? Bener-bener sumber alam yang mankjubkan.

Rumah Panggung

Rumah Panggung Tradisional Banjar...

Okey, perjalanan ke Lok Baintan karena hampir 1,5 jam maka bisa diisi dengan kegiatan foto-foto. Buat yang hobby foto-foto, silahkan bawa kamera handalan kalian. Jamin banyak dapet spot yang bagus untuk dicapture. Saya nggak pake DSLR, cukup dengan camera handphone saja sudah cukup bagus (jadi pengen balik lagi kesana ini sih judulnya). Oia, kalau mau enak kena angin semriwing, bisa duduk di klotok bagian atas, pemandangannya jadi bebas. Saya sendiri nggak bisa duduk di bagian atas klotok karena satu kondisi (males naik-naiknya). Buat yang takut kelaperan, silahkan bawa cemilan atau sarapan dulu karena sepanjang perjalanan ke Lok Baintan nggak ada yang jualan makanan. Lagian juga repot kalaupun ada kudu menepi dulu ke daratan dan bakal kesiangan sampe di Lok Baintan. Kalau ada yang mau tanya tentang signal disini, alhamdulillah signal telkomsel yang saya pake dapet signal (data), punya suami yang pake XL juga ada jaringannya (aseli bukan iklan, cuma nginfoin aja)

Tiba lah sampai di Lok Baintan.

Pasar Terapung Lok Baintan


Beli ... Beli ... Beli ...

Mulai keliatan pasar terapung yang agak mulai sudah menyusut jumlah pedagangnya karena hari sudah terang. Kalau mau masih rame, coba berangkat sebelum subuh dari Kuin Selatan dan akan sampai di Lok Baintan masih pagi (mungkin sekitar pk. 0600). Belanja pertama di Lok Baintan ini adalah belanja makanan. Yes. Kami menikmati sarapan di klotok dan yang jual pun pakai jukung. Sangatlah unik. Hihihi, kampungan bin norak, tapi ya biarin aja, namanya juga baru nemu. Belum pernah nemu yang beginian nih... Kita-kita pada sarapan makanan tradisional Banjar. Ada laksa (mie laksanya dari tepung beras dan bentuknya seperti kue mayang itu lho, kuahnya kuah laksa), ada kue apem, ada buras (model lontong atau arem-arem tanpa isi dikasih saus kacang), kopi, teh. Sedaaapnyaaa...

Jualannya...

Selain belanja sarapan, kita juga belanja buah-buahan. Buah yang ada dijual disini merupakan hasil perkebunan rakyat setempat, antara lain : jeruk baby, pisang, pepaya, jambu bol, nanas, buah naga. Yang banyak emang buah gitu sih, kalau sayur ada tapi yang jual sangat sedikit dan jenis sayuran yang dijual juga  sedikit, paling terong (nggak pake terongan), wortel. Cukup murah (banget dibanding dengan harga jual di Giant, apalagi Total Buah #bukan ngejelekin toko ye) karena sekeranjang jeruk baby harganya cuma Rp 50,000 itu isi sekitar 10kg lah. Hahahaha... ngamuk yes, belinya. Kapan lagi beli jeruk baby semurah itu, ciyn. Udahlah harga barang lebih murah, pun kondisinya masih segar. Nah, di pasar Lok Baintan ini nggak ada yang jualan ikan, ayam atau daging. Ada juga yang jual bumbu dapur malah, itupun cuma 1 jukung doang. 

Puas kita belanja dan makan di pasar terapung Lok Baintan, kita puter arah menuju kembali ke Kuin. Udah mulai panas nih, matahari udah mulai tinggi soalnya. Tapi kan berhubung naik klotok dan kena angin semriwing, udah nggak terlalu panas. Bedanya cuma, yang tadinya pada duduk di atas, kali ini pada pindah ke bagian bawah. Sinar matahari udah nyengat, jadi males aja gitu kalo duduk di atas. Sementara saya cuma duduk nongkrong di atas. Hihihihi... Tapi ya, kocaknya lagi, karena pada duduk di belakang, klotoknya nggak imbang beratnya, sampe-sampe pak supir klotok nyuruh kita bagi-bagi tempat duduk, biar rata bebannya, klotok jadi nggak berat. Jumlah penumpang duduk di sisi kiri dan kanan juga kudu sama. Ya, atur lah, daripada kapal oleng, kapteeennn...

Soto Banjar Bang Amat

Sate Ayam Bang Amat

Sebelum sampai di Kuin, kita mampir dulu makan Soto Banjar yang heits di Banjarmasin. Kebetulan, Soto Banjar Bang Amat ini bagian belakang restorannya adalah sungai tempat kita lewat ke Lok Baintan. Jadilah itu klotok parkir di belakang restoran. Aiyh, udah kaya' di Venice aja lah pokoknya. Soto banjar Bang Amat emang terkenal di Banjar, tapi di rumah makan ini, ada juga jual Sate Ayam. Sate Ayamnya model sate ayam madura, yang pakai bumbu kacang gitu. Enak, tapi ya namanya juga mirip sate madura, ya begitu aja gitu bentuknya. Di rumah makan ini, ada juga model group orkestra Banjar yang tampil. Pastinya ngebawain lagu-lagu Banjar. Yaiyalah masa bawain lagu pop rock... Menu di Soto Banjar ini yang terkenal cuma Soto Banjar dan Sop Banjar plus Sate Ayam. Bedanya Soto dan Sop cuma kalau Soto pakai ketupat, kalao Sop ya pake nasi. Kalao yang biasa makan agak sedikit, mending pesan 1/2 porsi aja. Aseli porsinya banyak. Harganya? Kayaknya seporsi sekitar Rp 22,000. Aseli ini saya nggak tau karena bukan saya yang bayar. Hahahah... Selesai makan Soto Banjar, kita balik ke Kuin langsung. Alhamdulillah, perjalanan hari itu lancar. Cuaca bagus. Pemandangan bagus. Alhamdulillah....

On the way Kuin Selatan (see the blue sky)

On the way Kuin Selatan (airnya cokelat)

On the way Kuin Selatan (airnya hijau lho)

Nah... begitulah cerita kemarin perjalanan kita ke Banjarmasin. Seru banget, seneng banget... cuma 1 kalimat aja buat perjalanan kali ini ke Banjarmasin : how can I not love this place... Pengen banget main ke Banjarmasin lagi... Nanti ya.. in shaa Allah ada rejekinya lagi, kita main ke sini kembali... aamiin... 

6.14.2014

BANJARMASIN TRIP - DAY 2

Mari ngelanjut cerita perjalanan di Banjarmasin. Setelah perjalan 1 saya tumpahkan di sini, mari dilanjut dengan cerita di hari kedua kita jalan-jalan di Banjarmasin. Di hari kedua ini, perjalanan saya diawali dengan main ke Pasar Terapung di Muara Kuin, deket rumah saja. Sayang, momen-momen perjalanan disini nggak sempat diabadikan. Hiks hiks, kamera kita belum dicharge battery nya, sementara handphone saya pun low battery dan sedang di charge. Pagi itu, semuanya pada berebut colokan listrik. Alhasil ke Pasar Terapung di Muara Kuin cukup diabadikan melalui daya ingat saya. Hihihi... Pasar Terapung Muara Kuin ini lokasinya sangat dekat dengan rumah nenek. Tapi tetap ya harus pakai mobil atau kendaraan dulu kalau mau ke dermaga-nya. Dari dermaga, kita baru naik kapal klotok yang harga sewanya Rp 200,000 untuk pulang pergi. Apa itu klotok? Nanti ya saya ceritakan. Perjalanan dari Dermaga ke Pasar Terapung Muara Kuin kira-kira 15 menit saja. Nah, di Pasar Terapung ini pada jualan buah-buahan dan ada juga yang jualan makanan sarapan khas Banjar. Diantaranya adalah Soto Banjar dan Sate Ayam, serta juga ada yang jual Nasi Kuning beserta kue-kue. Seru banget lah pokoknya. Saya menyempatkan makan kue roti goreng dan kue pisang serta teh hangat manis di atas kapal klotok. Sarapan pagi pertama di kota Banjarmasin di atas kapal kolotok itu rasanya sangat sensasional. 

Nah, ini saya jelasin beberapa kata dalam bahasa Banjar yang terkait dengan perjalanan pagi ini....

Kapal klotok...
Kapal kecil dari bahan kayu gitu, tapi sudah dipasangin motor sebagai pengganti dayung untuk ngejalanin itu kapalnya. Ukuran kapal sekitar lebar 1,5 meter dan panjang sekitar 7-8 meter. Kapal klotok ini motornya ada di belakang, pake bahan bakar diesel. Kapal ini ada atapnya di bagian tengah, tapi tinggi dari tempat kita duduk ke atap cuma sekitar 1 meter, jadi kalau di bawah atap mau jalan ya harus jongkok. Agak susah emang buat yang nggak biasa jongkok-jongkok. Kepala saya pun sempet kepentok waktu mau pindah dari bangku kedua ke yang depan.

Wadai...
Wadai itu merupakan nama lain dari kue. Segala jenis kue di Banjarmasin ini, biasa disebut dengan wadai. Pagi itu, di kapal klotok saya makan kue pisang, dibilang wadai. Saya makan kue roti goreng, dibilangnya ya wadai. Ada juga kue bolu, dibilang wadai.

Setelah selesai sarapan di kapal klotok, kami pun pulang. Nares di rumah masih tidur dan dijagain sama bapak juga adik ipar saya. Hihihi, takut Nares bangun nanti nggak nggak ada orang, bahaya juga. Ninggalin bocah sendiri di rumah itu rasanya nggak mungkin banget emang. Yasudah, mari kita pulang dan gantian biar bapak yang bisa jalan-jalan sebentar. Di hari itu, rencana kita adalah ke Pasar Batu di Martapura yang jaraknya sekitar 40 km dari rumah dan target kedua adalah kebun buah naga milik sepupuan mas Fani. Yippy, lets start the day. Holiday banget ya boooo....


Pasar Batu Martapura

Perjalanan yang menyita waktu sekitar 1 jam dari kota Banjarmasin ini, mendarat dengan sempurna pada pukul 12.00 siang di Pusat Kerajinan Tangan Martapura. Menuju ke pusat kerajinan tangan ini, kita ngelewatin dulu sama yang namanya Kota Banjarbaru. Nah, kota Banjarbaru ini yang ada UnLam alias Universitas Lambung Mangkurat, universitas negeri nomor wahid di Kalimantan Selatan. Kota Banjarbaru sendiri memang sudah modern adanya. Terlihat dengan banyaknya perumahan dan ruko (rumah toko), apalagi kalao yang bentuknya minimalis bercorak gitu - minimalis tapi nggak minimal.

Sampai di Pasar Batu ini, kita langsung keliling-keliling pasar yang luasnya kurang lebih 2,000 meter persegi ini. Jualannya ya pasti seputaran souvenir, handicraft dan barang-barang kerajinan tangan khas Kalimantan. Apaan aja yang ada dijual di sini?
  1. Batu cincin, batu akik
  2. Kalung, gelang, dan cincin dari batu (harga paling murah dari Rp 5,000 perak sajah)
  3. Tas manik (mulai dari dompet sampe tas ransel) 
  4. Lampit (alas lantai yang dari rotan - tapi sekarang udah nggak cuma rotan bahannya, udah ada bahn juga dari bambu), 
  5. Baju dan kaos tulisan Banjar atau Dayak atau Kalimantan 
  6. Kain batik khas Banjarmasin alias Batik Sasirangan. 
  7. Kerajinan tangan dari getah yang dibentuk menjadi kapal Dayak, rumah Dayak, atau bahkan orang-orangan Dayak.
  8. masih banyak yang lainnya dijual disini...yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu... 
Surga Kalung Batu khas Martapura (doc. punya suami)

Pasar Batu Martapura ini, bentuknya kios-kios begitu. Ukuran satu kios sekitar 3 meter x 4 meter. Tapi ada juga loh, pedagang yang berkeliling jualan batu-batu gitu, udah kayak pedagang asong gitu modelnya. Kebetulan, saya sendiri banyak menghabiskan waktu di Toko Souvenir yang namanya Kalimantan's. Ini kiosnya model self-service gitu. Ambil barang sendiri. Untuk harga, emang termasuk yang murah (kalau dibandingkan dengan Jakarta yak, hihihiii...) Toko Kalimantan's ini cukup lengkap jualannya. Gelang, kalung, cincing, tas manik, bros, sarung khas banjar, ada juga peci. Kekurangan toko ini cuma satu, yaitu pembelinya rame banget. Jadi agak berdesakan gitu. Panas? Nggak sih, soalnya ini toko pake AC. Pelayannya ramah-ramah lho, plus dapet teh kotakan kalau kita belanja di situ. Lumayan lah, menghapus dahaga seketika pake gratisan. Selesai sudah belanja di Pasar Batu Martapura. Belanja oleh-oleh buat emak, kakak ipar, sodara, tetangga, temen kantor, temen sekolah, temen main, temen apalah itu namanya... 

Kelar belanja di Pasar Batu Martapura, kita makan siang di deket situ juga. Kita makan di Rumah Makan Ikan Bakar H. Fauzan. Menu-nya adalah ikan bakar. Nah, emang tuh ya, di Banjarmasin ini makanan yang banyak dijumpain itu ya ikan. Ya jelas aja, Banjarmasin dikelilingin sama sungai. Makanya banyak banget menu ikan. Ikan gabus yang paling banyak dan terkenal dari Banjarmasin ini. Rasa ikan sungai itu enak loh. Gurih, manis (karena baru ditangkap dari sungai) dan pastinya nggak bau tanah (karena bukan ikan tambak). Misalnya aja ikan patin, kalau di Jakarta kan ikan patin itu bau tanah, kalau di Banjarmasin ini, ikan patinnya nggak pake bau tanah dan manis pula.

Get rady for Ikan bakar enyak nyummy....

Sedep pake banget... 

Di warung makan H. Fauzan ini, kita pesen ikan patin bakar, ikan lais, untuk sayurnya kita pesen sayur waluh atau sayur labu yang dimasak model sayur lodeh, plus ada juga masakan yang baru nemu seumur hidup saya, yaitu nangka dimasak kering garing ala jadi kayak empal gitu. Enaaaaakkk aseli enak bingit. Saya sukaaaa! Di warung ini juga sambelnya enak, sambel ulek gitu. Nah, yang nggak kalah enak juga itu sambel mangga-nya. Ahahaha, semua disini enak-enak. Enaknya lagi nggak bayar sendiri, kan ya? Hidup tentrem gemah ripah lohjinawi itu sih... Eh iya disini juga ada udang bakar segede gaban gitu loh. Tapi kita nggak beli tuh udang, entah mengapa nggak pengen makan udang, tapi maunya ikan-ikan nan segar itu.

Mari lanjutkan perjalanan hari ini menuju ke kebun buah naga di daerah Pelaihari. Kira-kira perjalanan dari Martapura ke Pelaihari sekitar 1 jam lagi. Ya ampuuun, aseli yak, lokasi kunjungan kita hari ini jauh-jauh banget.  Dapet 2 lokasi tapi udah makan waktu seharian. E biarin aja dah, enjoy the holiday yang penting. Bersyukur banget jalanan disini sepanjang perjalanan di hari ini tuh ya bagus kinclong mulus semua. Aseli tuh ya beda banget sama jalanan nun di ranah pulau jawa yang namanya pantura dan pantai selatan. Padahal di jalanan ini juga dilewatin sama truk besar itu. Walaupun memang jumlah truknya nggak sebanyak di Jawa ini. Ah ya sudahlah, ngomongin project perbaikan jalan pantura mah nggak akan berujung kelar... tapi berujung sakit hati, ciyn...

Sampe juga akhirnya di perkebunan buah naga milik sepupu mas suami saya ini. Luas lahan sekitar 10 ribu meter alias sehektar. Pas kita kunjungin, ternyata kebun naga baru panen minggu lalu. Jadi hari ini kita bakalan cuma panen sisa-sisa dari hasil yang ada. Ya lumayan bangetlah, masih bisa panen. Hahah, makan buah  naga yang manis ranum mateng di pohon metik sendiri pula. Sensasionaaal... makan buah naga sampe sakit perut juga bisa.   Asal jangan tuh mulut aja yang bau naga.

Sekedar berbagi informasi, tentang buah naga niyh.... Jadi, buah naga itu aslinya dari Mexico sono. Tapi justru lebih beken di Asia karena buah naga menjadi salah satu buah persembahan ritual agama Konghucu. Jadilah buah naga itu jauh lebih terkenal di Asia ketimbang di Mexico. Buah naga ini ada yang warna dagingnya putih, merah keunguan dan kuning. Yang paling murah emang yang putih, pasaran di toko buah Jakarta sekitar Rp 29.000 per kg. Kedua, buah naga merah yang beredar sekitar Rp 50.000 per kg. Nah kalo yang kuning itu yang paling mahal dan jarang beredar juga di toko buah biasa. Pernah liat buah naga kuning di Grand Lucky SCBD harganya sekitar Rp 80.000 per kg. Silahkan dipilih sesuai selera dan kantong masing.-masing. Ahahaha....

Ini dia hasil dari kebun buah naga....

Buah Nagaaa....

Sekian dulu ya, cerita Banjarmasin Trip di hari kedua. Emang abis dari kebun buah nag kita kita pada pulang nih. Jadi, nantikan cerita Banjarmasin Trip kita di hari berikutnya, di Chapter selanjutnya....

6.04.2014

BANJARMASIN TRIP - DAY 1

Libur kentang emang nggak enak. Masuk - libur - masuk - libur - masuk. Hajar bleh, mari kita libur saja! Begitu ajakan pak suami kepada saya, beberapa hari sebelum kita pesen tiket ke Banjarmasin, yang mana kota tersebut merupakan kota kelahiran ayah dan ibu mertua saya, alias kampung halaman suami saya. Suami saya pun sudah lahir di Jakarta, dan terakhir mudik ke Banjarmasin tahun 1997 (lama bingits). Maka dari itu, marilah kita mudik ke Banjarmasin. Tahun lalu, kita mudik ke Muntilan (baca di sini ada sedikit cipratan ceritanya), tempat kelahiran ayah saya. Gantian di tahun ini kita mudik ke tempat mertua saya. Nanti kalau ada rejeki lagi, saya akan mudik ke kota kelahiran Ibu saya, di Singkawang - Kalimantan Barat.

Ceritanya waktu itu beli tiket pesawat masih 6 bulan sebelum hari keberangkatan kita di long "kentang" weekend bulan Mei 2014 ini. Jadilah masih dapet tiket yang harganya logis untuk pulang pergi ke Banjarmasin. Nyari tiket udah pasti yang paling murah, nggak pake mahal, karena perjalanan Jakarta - Banjarmasin ternyata cuma 1,5 jam. Jadilah kita pakai Citilink, dengan pesan via online. Alhamdulillah ya, masih ada rejeki dikasih tiket murah. Xixixi... secara cuma 1,5 jam dan itu kita emang milihnya penerbangan yang after lunch, jadi ya aman lah ya. Nggak pake gengsi kudu terbang pake Garuda lah, yang penting sampe, selamat. Lumayan sisa duitnya buat belanja oleh-oleh. Masih ngirit versi 2, di Banjarmasin kita nginep di tempat kelahiran mama. Alhamdulillah. Nah, daerah kita nginep ini namanya Kuin Selatan, dalam kota Banjarmasin.
Nungguin di Boarding Room - Ready to go

Ini merupakan perjalanan Nares pake pesawat, jadi sebagai emak yang mencoba mereduksi ke-cranky-an si bocah, sudah saya persiapkan segala jenis makanan. Mulai dari roti, permen yang disukain Nares, pudding, juice dan susu. Syukur banget, Nares menikmati perjalanan di pesawat karena ada sogokan dari emaknya. Hohooo, namanya juga antisipasi, kalau berhasil ya syukur. Kalo nggak berhasil ya minta tolong bapaknya. Akhir perjalanan di pesawat Nares sempet bilang kalau kupingnya sakit, tapi pas dielus-elus kupingnya, eh malah dia tidur.... yassalaaam... bersyukur ada si bapak yang siap gendong. Emaknya mah udah nyerah! Oia, buat informasi aja nih, kita kan bawa stroller, nah di Citilink ini stroller nggak boleh masuk ke cabin pesawat. Jadi pas di depan pintu pesawat, strollernya dikasihin ke petugas untuk masuk bagasi. Aseli, ketar ketir bakal bonces-bonces deh tuh stroller.

Sampe di Banjarmasin, sekitar pkl 15.30 WITA, perbedaan waktu Jakarta dengan Banjarmasin adalah 1 jam saja. Alhamdulillah, walaupun disambut dengan hujan, pesawat bisa mendarat dengan muluzzz... Nares yang tidur, tetap ngorok walaupun sempet keujanan dikit gegara dari pesawat ke tempat pengambilan barang kita harus pake bus shuttle. Bandara Syamsudin Noor, merupakan bandara kota Banjarmasin. Bukan merupakan bandara internasional, makanya bandara kecil sangat. Begitu kita masuk, langsung ruang tunggu ambil barang. Agak lama juga nunggu barangnya, saya rasa akibat hujan. Pas keluar, stroller nongol basah, koper nongol ya basah, tas adik ipar saya ya basah. Untung bukan basah kuyup dah. Selesai urusan ambil barang, cuss cabut karena udah dijemput sama sodaranya mas Fani. Hujan masih turun, tapi untungnya nggak terlalu lebat.

Jarak bandara Syamsudin Noor ke tengah kota Banjarmasin masih cukup jauh, ada sekitar 1 jam perjalanan lah. Itu juga udah pake macet dikit. Jalanan sih nggak perlu diragukan, mulus lah, nggak pake gropak gompel kayak Jakarta. Ada beberapa titik emang yang tergenang air, ternyata hujannya sebelum kami sampai di Banjarmasin udah lama dan agak lebat. Jadi bukan banjir ye, tapi genangan air.

Iwak Itik Mama Baiti

Saingan Mama Baiti

Liat Spanduknya...

Otw mau ke rumah, kita mampir dulu beli salah satu jenis makanan khas Banjar yang terbuat dari bebek, disini namanya iwak itik (daging bebek). Daerah yang menjualnya namanya daerah Pasar Gambut. Yang terkenal itu Kedai Iwak Itik Mama Baiti, tapi sekarang di sebelahnya itu buka cabang juga, warung iwak itik Tenda Biru. Yang kocak itu banner yang dipasang sama kedua warung iwak itik itu lho. Yakin banget gegara persaingan ketat, maka terciptalah spanduk-spanduk itu. Ini spanduk kocak yang pernah saya temukan. Kompetisi yang sangat hebat antara satu dengan yang lainnya. Penasaran? Ini dia penampakan spanduknya...

Selesai belanja makanan khas Banjar Iwak Itik, kita langsung menuju rumah saja. Mau mampir kemana juga secara udah berangkat dari pagi (nyempetin ke kampus dulu sebelum berangkat ke bandara). Jadi emang enaknya ya istirahat di rumah. Sepanjang perjalanan menuju rumah ya hujan, mudah-mudahan ini merupakan rejeki dari Allah. Hihihi, namanya juag doa ya pemirsah, jadi sah-sah saja kan? Okey, sampe di rumah kita langsung makan. Oia, rumah nenek di Banjar ini masih rumah lama khas Banjar. Rumah panggung dan lantainya dari kayu. Mirip dengan rumah nekwan dan nek'aki di Singkawang yang berpanggung ria. Typikal rumah di Kalimantan, kali ye... Nares seneng banget disini, soalnya kalo dia lari-larian, itu lantai bunyai geradak geruduk gabruk...

Di Teras Depan Rumah Nenek (rumahnya nggak keliatan yak?)

Segini dulu cerita di hari pertama... bersambung ke bagian kedua nanti ya... #nyariwaktu.

5.14.2014

COROLLA ALTIS - INI DIANYA (Chapter 02)

Pemirsah yang budiman yang dimuliakan Tuhan... (nah kan gayanya udah kayak yang mau dakwah)... yuk lanjut saya share tentang mobil kesayangan keluarga saya, Toyota Corolla Generasi ke-9 as known as Corolla Altis th 9th gen. Setelah di Chapter 1 saya cerita bagaimana Corolla begitu "mendarah" di keluarga saya, kali ini saya mau cerita gimana cerita saya mendapatkan Corolla Altis yang saya pake sudah hampir 4 tahun ini. Namanya juga beli second, menyesuaikan budget yang ada, tapi tetep donk ya maunya kayak baru. Prinsip ekonomi harus tetap dilaksanakan pemirsah, dengan modal yang sesedikit mungkin, harus mendapatkan keuntungan yang sebesar mungkin. Apalagi udah jadi buk ibuk gini, makinlah jadi itu prinsip ekonomi. Mendarah daging sepertinya....

Sebelum cerita lebih banyak lagi tentang Altis yang saya pilih, ini beberapa alasan kenapa saya dan pak suami memutuskan untuk membeli Corolla Altis (second) yang pastinya dengan rujukan sebelumnya yang udah dikasih sama bapak sendiri:

Interior yang enak dilihat. Aseli ya, begitu liat interior Altis 9th gen ini rasanya gimanaaa, gitu... Kebetulan yang saya liat ini yang type G yang emang juga nyari type G, merupakan type medium-nya (ada type J yang dibawahnya). Interiornya dipadukan dengan wood panel. Ngeliatnya jadi elegan, mewah, tapi kesan sederhana-nya tetap ada. That's Corolla banget menurut saya, sederhana tapi elegan! Begitu liat interior-nya langsung fallin in love with this car. Pas kebetulan lagi, ini yang punya mobil, type orang yang apik dan resik. Jadilah itu interior mobilnya rapih, bersih. Jok pun sudah dilapis dengan vinyl, membuat tampilan semakin resik. Jdeeeeeng, rasanya pengen langsung bungkus aja itu pake karet dua! Nggak pake lama ye, bang... *lirikin suami.

Interior yang enak dilihat

Mesin 1800cc. Altis 9th gen di Indonesia, keluar dengan kapasitas mesin 1800cc, sementara di luar sih ada yang 1600cc (beda negara emang beda varian yang keluar). Udah pengalaman sebelumnya, waktu pake mesin kapasitas 2000cc, itu rasanya dia jatuh cinta banget sama SPBU. Mobil senyum, tapi kantong manyun. Tuannya ini bukan type pemurah sama perhitungan bahan bakar. Maklum, Jakarta udah kayak apaan tauk macetnya. Dikasih mobil cc besar, kalo boros, mending lipet aja mobilnya, kecilin. Kalo ada yang isi pake air hujan, bolehlah sini saya beli. Tapi nggak mau mobil kacangan yeh. Saya sempet nanya sama pemilik mobil, perbandingan penggunaan bensin-nya, beliau menjelaskan sekitar 1:8 atau 1:9 kalau dalam kota. Lumayan irit ketimbang yang 2000cc kemarin. Bisa-bisa 1:6 bahkan 1:5. Sementara kalau luar kota bisa sekitar 1:14. Ahiiiy... E tapi kalo yang VVTI itu (Altis 9th gen keluaran 2004 keatas), itu beneran lebih irit loh. Dalam kota bisa 1:13 dan luar kota ada yang 1:22. Ebuseh, kasiyan tukang bengsing nggak laku...

Automatic Transmission (AT). Pokoknya kali ini nyari mobil yang nggak pake kopling deh ya! Ampun dan tobat sama kondisi jalanan Jakarta yang macetnya ampun kejem pun banget (hamil pulak sayah waktu itu). Jarak 7 kilometer aja sampe 2 jam. Dikit lagi sampe Bandung (kalo lancar gak pake macet). Pake kopling urusan betis gede sebelah. Yaudahlah gitu betis eksisting berkonde, mau ditambah lagi konde-nya? No way deh, mas bro mba sis. Saya vote buat pake "matic" aja. Altis sih sebenernya ngeluarin yang versi Manual Transmission (MT). MT ini ada di type J dan ada juga di type G. Ehm, kata orang-orang kebanyakan sih kalo dalam kota enakan pake AT tapi kalo keluar kota pake MT (pertimbangan dari akselerasinya). Saya sih kapasitas pemakaian lebih banyak dalam kota, makanya pilih AT (nggak pake Mahmud yah...*jreeng #jayus).

Tinggal gas dan rem, tapi kudu belajar manual dulu yeee... ;)

Cabin yang luas, tapi mobilnya nggak besar. Cabin Altis 9th gen ini terhitung lumayan luas buat saya. Yah, sedang lah ukurannya kalau cuma buat keluarga kecil seperti keluarga kita ini. Mobil gede di Jakarta susah cari parkir. Udah gitu kalo masuk gang juga pake ketar ketir dag dig dug ser ser ser... Secara emang lebih sering dipake cabin bagian depan, makanya nggak terlalu masalah dengan cabin di jok belakang. Aseli deh, jarang banget duduk di belakang. E tapi semenjak Nares udah mulai gede, duduk berdua di depan udah semakin sempit (nggak safety pulak), jadi saya ngalah duduk di belakang. Medium car ini kadang emang sih, jadi was-was kalo pas hujan karena takut banjir. Ya tapi kan emang mobil ini bakal jadi mobil kesayangan yang nggak boleh main banjir-banjiran kan. Nanti kalo ada rejekinya lagi, beli mobil tinggi buat main banjir-banjiran. Heyaaahhh... aamiin ya robbal alaamiin...

Bentuk body Altis yang enak dilihat. Saya emang suka sama bentuk-bentuk mobil Corolla yang dikeluarkan sama Toyota. Cocok banget dengan selera saya. Menurut saya, bentuknya ideal lah. Yang pentinga lagi, bentuknya itu nggak ketinggalan jaman. Liat aja Corolla Great yang keluaran tahun 92-95, bentuknya hingga di tahun 2014 ini masih nggak ketinggalan jaman. Masih aja dipake wira wiri sama banyak orang. That's why saya pilih Corolla.


Balik lagi ke cerita hunting my hunny bunny Corolla Altis...

Hunting Altis kali ini sudah ditekadkan mau cari dari pemakai langsung. Kita nggak mau lewat pedagang gitu dengan pertimbangan bakal harganya berselisih jauh. Sekali lagi pemirsah, prinsip ekonomi harus ditegakkan. E tapi ya, saya dan suami waktu itu sempat banget main ke Mobil 88 nyari Altis. Sayang, yang dijual disitu Altisnya tahun 2008 dan masih over over troubled money for both of us :(. Baru bangun rumah tagga, banyak yang harus diperhitungkan. Akhirnya, carilah saya dengan browsing di web. Cari langsung siapa yang mau jual mobilnya. Lokasi harus di Jakarta atau sekitarnya, biar bisa langsung tengok barangnya. Nggak mau juga beli kucing dalam karung. Oke deh sip kan ya. Pake bingits kalo anak kekinian bilangnya mah...

Sudah ketemu beberapa kandidat ciamik buat Altis pinangan kami berdua, tapi masih kurang sreg karena keliatan banget yang pake mobilnya jorok. Nih yang saya nggak suka dari pemilik mobil, nggak suka banget kalo mobilnya nggak dipelihara. Eh jangan bilang kalo karena mobil uzur ya, jadinya emang busuk. Saya sendiri pernah pake mobil selama 15 tahun, tapi siapa sangka pas dijual harganya ya masih tinggi gegara "nice look". Hahahaaa... Dan si pembeli pun sampe bilang, "nggak keliatan mobil tua ya, mba?" *uhuuuk (iya bingits ya pak, secara yang pake emang masih muda banget gitu lho... *sodorin ulekan minta diulek).

Oke, pencarian berakhir ketika di website muncul penjual Corolla Altis di Cibubur. Jauh siyh dari rumah kita yang di daerah Slipi. Tapi udah kepancing emosi ketika liat warna mobilnya itu gold. Ini emang salah satu warna kandidat saya dan pak suami : either gold or silver. Pengennya punya yang warna merah (eciyeh, inget dulu waktu masih pake Corolla Great yang warna merah) tapi populasinya teramat sangat jarang. Nah, kalo silver sih emang udah jadi warna handalan jaman baheula. Corona, kijang kapsul, camry, semuanya silver. Kalo gold emang diincer karena kepengen juga punya warna mobil yang agak beda. Eh ya kali aja Tuhan ngasih aja yah, mobil warna gold kali ini. Aamiin...

Mobil keluarga kecil kami... Loveliest... 

Setelah negosiasi dilangsungkan (dengan campur tangan kedua orang tua - secara sama korpsnya), akhirnya deal kami meminang itu Corolla Altis gold jebolan tahun 2002. Bismillah..., mudah-mudahan menjadi jodoh kami di keluarga kecil nan sederhana ini. Biar bawa berkahnya, ya....

Toyota... keluarga kita banget deh.... (awas kalo sampe ngomong "kita? loe aja kalik...")
Tulisan ini tetap dipersembahkan untuk Toyota Altis Indonesia Community (ALTIC)...

5.08.2014

HUNTING SEKOLAH BUAT NARES

Jadi orang tua nih sekarang, beneran jadi orang tua karena mau daftarin Nares masuk sekolah. Emang cuma playgroup sih, tapi ya kan tetep aja ala-ala sekolah. Yang harus masuk pagi dan pulang agak menjelang siang. Yang pastinya lagi, karena harus bayaran! Kalo kerja ya kan dibayar gitu, nah ini sekolah kan ya harus mbayar. Tahun ini umur Nares 3 tahun di bulan Februari, dan bakal jadi 3 tahun lewat 4 bulan nanti. Jadinya umurnya emang masuk playgroup. Kebetulan banget, di komplek tempat kita tinggal itu ada fasilitas TK dan SD. TK Tunas Muda IKKT I dan SD-nya juga SD IKKT. Ini dua sekolah berdiri dari tahun jebot. Jaman abang saya sekolah TK aja uda ada di marih. Saya pun TK juga disini, tapi cuma TK tahun pertama, secara tahun kedua TK udah pindah keluar kota. Sekolah di komplek ini milik yayasan Tunas Muda, yang mana yayasan ini punya Mabes TNI (secara juga emang kompleknya juga milik Mabes gitu...).

Ayoooo, sekolaaaah.... (gambar nyomot disini)


Secara prinsip, saya dan pak suami mempunyai pola pikir yang sama dalam memilih sekolah buat anak. Yang penting sekolah itu : (pertama) nggak jelek banget dari kualitas pendidikannya, (kedua) sebisa mungkin dekat dengan rumah (kasihan hari gini kalo anak sekolah jauh-jauh mesti bangun subuh - ini nasib saya waktu kecil, sekolahnya kudu jauh dari rumah jadi pagi buta udah harus bangun dan tidur lagi di school bus), (ketiga) bukan merupakan kewajiban masuk sekolah unggulan nan penuh gengsi. Kalau orang tua saya sendiri punya prinsip dalam menyekolahkan anaknya, "Sekolah nggak mesti unggulan, tapi anak harus unggul". Huahahahah... Ya, masing-masing pribadi pasti punya prinsip yang berbeda dalam mengambil keputusan memilih sekolah. 

Tapi ya, denger nggak sih, baru-baru ini ada kejadian kasus pelecehan seksual di sekolah beken daerah Pondok Indah itu? Anak umur 5 tahun, di kindergarten class, menjadi korban pelecehan seksual sama petugas cleaning service-nya. Mana itu si provider cleaning service juga perusahaan yang terkemuka seantero jagat raya kan? Masuknya aja duitnya nggak sedikit (uang pangkalnya pasti udah pake ribuan USD). Bulanannya pasti juga udah diatas Rp 1 juta (pasti bayarnya juga pake USD). Nggak jaminan juga kan kalo sekolah itu aman? Nggak jaminan juga kan kalo sekolah mahal nan unggulan itu bakal safe anak kita. Nah, jadi itu kesimpulan saya kenapa nggak mesti masukin anak ke sekolahan yang notabene dicap "unggulan".

Di sekitar perumahan kita tinggal ini, sebenernya ada 2 TK dan Playgroup yang agak besar. Yang satu itu di dalam Komplek, yang TK Tunas Muda IKKT tadi, dan satunya lagi TK Anggrek di luar komplek tapi masih dapat dijangkau dengan jalan kaki. Yuk bahas satu persatu informasinya... Mudah-mudahan berguna buat yang lagi nyari sekolah buat anaknya di seputaran Slipi sini. 


TK Tunas Muda IKKT I - Komplek Hankam Slipi

Fisik sekolah
Bangunan TK ini dibangun di tahun 1987 (kalau TK ini sih berdirinya mungkin tahun 1970an tapi di lokasi yang sedikit berbeda). TK ini berdiri di atas lahan seluas 3300 m2. Taman bermainnya cukup luas dan lengkap. Segala perosotan, ayunan, dan entah apalagi itu namanya, ada di sekolah ini. Tempat bermainnya juga cukup rindang karena pohonnya udah pada rimbun. Di sekolah ini juga ada aula atau hall buat tempat pertunjukan, eh tapi ada juga panggung buat pertunjukan outdoornya gitu lho. Ruang kelas-nya seluas kurang lebih 7 meter x 9 meter. Untuk playgroup sendiri, bakalan ada 2 kelas dan 1 kelas bisa diisi sampai 15 anak. Pas kemarin Nares daftar, udah 7 anak yang daftar (8 sama Nares). Kalau untuk CCTV sendiri, sepertinya belum ada degh, itu sepenglihatan saya loh ya... 

Metode Pendidikan
TK Tunas Muda IKKT ini menggunakan metode pendidikan Sentra yang terkenal dengan konsep bermain sambil belajar. Di rumah kita, ada tuh bukunya Yudhistira ANM Massardi yang tentang metode pendidikan sentra, buat gambaran apa itu metode sentra, monggo intip dimarih. Sedikit banget yang bisa saya jelaskan adalah (secara yang khatam buku metode sentra ini adalah pak suami, maka saya nggak bisa jelasin banyak), anak itu nggak belajar, tapi cuma main aja. Nah, di dalam permainan itu, diselipin pelajaran biar dia inget. Di TK IKKT sendiri ini, nerapin 8 metode sentra, dari 9 metode ya g ada. Guru pendamping untuk setiap metode pun beda-beda. Plus wali kelas yang selalu standby. Kebetulan banget, suami saya emang nyarinya yang pake metode sentra. Kebetulan pulak disini pakenya metode sentra.

Waktu masuk sekolah
Playgroup sendiri, masuk hanya 3 kali dalam seminggu. Hari Senin, Selasa dan Rabu. Masuk mulai pukul 0730 sampai pkl 1000. Kalau TK emang masuknya dari Senin sampai Jumat. Sekolahnya tutup sampai pukul 1200 (ya kalik ada yang mau daftar, datanglah sebelum pukul 1200).

Biaya-biaya
Total untuk masuk Playgroup di tahun 2014 ini adalah sebesar Rp 4.100.000. Biaya tersebut adalah untuk pembayaran Uang Pangkal, uang seragam, uang kegiatan selama setahun, uang peralatan selama setahun, uang SPP di bulan Juli 2014, dan uang bantuan sosial. Uang pangkal itu bakalan berlanjut sampai nanti kalau Nares ngelanjut TK di IKKT juga. Jadinya udah nggak perlu uang pangkal TK lagi. Nah, lumayanan menghemat kan. Tinggal bayar SPP, uang kegiatan, uang sosial, uang seragam. Uang sebesar Rp 4.100.000 ini diserahkan pada saat pengembalilan formulir berikut dengan fotokopi KK dan fotokopi Akta Lahir yah, sebelum sekolahnya masuk. Kalau biaya SPP perbulannya adalah sebesar Rp 340.000. Itu sudah termasuk makan bersama di sekolah pada setiap harinya. Biaya beli formulirnya sebesar Rp 100.000 ya pemirsah... dibayar tunai. Kalo uang pangkalnya boleh dicicil. Nah, buat PNS di Mabes TNI dan Anggota TNI, bisa dapet discount khusus. Jadi silahkan dimanfaatkan jika bisa...




Kalau mau liat-liat gimana TK IKKT Tunas Muda 1 ini, monggo buka disini yah... Saya sendiri nggak punya foto yang langsung diambil dari telepon pintar saya... Hihihi. JAdinya gambar boleh nyomot....


TK Anggrek - Jl Anggrek Rosliana, Slipi

Fisik Sekolah
Kalau dibandingkan dengan TK IKKT, TK Anggrek luasannya sekitar 1/3 dari TK IKKT. Bangunannya juga seperti udah lama nggak direnovasi, karena ada beberapa lisplank yang bekas bocor, keliatan banget. Ruangan kelas juga nggak sebesar di TK IKKT, sementara halaman bermain ya jauh lebih kecil. Begitu juga dengan peralatan mainan si bocah (merry-go-round, swing, etc), pasti jumlahnya nggak sebanyak di IKKT. Disini pastinya nggak pula hall indoor kayak di IKKT, tapi mereka punya area berkumpul outdoor tapi pake canopy gitu. Kemarin sih pas kesana, itu bocah-bocah lagi pada kumpul di hall luar itu. Taman hijau di TK Anggrek juga nggak sebanyak di IKKT. Tapi bukan berarti di TK ini nggak banyak tumbuhan atau pohonan yah. Rimbun sih tetep rimbun tapi emang menyesuaikan dengan lahan yang ada aja.

Metode Pendidikan
Pas dateng ke TK ini, saya ketemu dengan pengurus yayasan TK Anggrek. Ramah orangnya (ya iyalah namanya juga guru TK gitu). Sayang banget, pas kita nanya metode pendidikan yang digunakan di sini, si ibu cuma menjelaskan "Ya metodenya adalah bermain dan bermain. Kita juga mengenalkan pendidikan agama dini disini...". Rasanya kok kita nggak puas ya, dengan jawaban itu. Yaiyalah namanya juga anak-anak, taunya kan cuma bermain dan main. Makan, tidur, jalan-jalan. Kelar degh urusan. Huahahaha... Okesiplah. Oh iya, jumlah pengajar disini ada 7 guru yang mana 1 orang guru akan memegang 1 kelas. Beda banget ya sama IKKT yang tiap sentra punya guru masing-masing plus ditambah wali kelas.




Waktu masuk sekolah
Di TK Anggrek ini, untuk playgroup masuknya juga seminggu 3 kali. Bedanya adalah, masuk bulan ini akan berbeda dengan bulan depan. Misalnya bulan ini masuknya Senin, Selasa dan Rabu, maka bulan depan masuknya adalah Rabu, Kamis, dan Jumat. Untuk waktu masuk adalah pukul 07.15 sampai 10.00.

Biaya-biaya
Total masuk pertama di TK Anggrek untuk Playgroup adalah Rp 3.500.000. Uang sebanyak ini sih katanya untuk uang pangkal dan seminar orang tua sebanyak 2 kali dan juga pakaian seragam, alat tulis dan alat gambar, majalah sekolah. Uang sekolah di TK Anggrek ini sebanyak Rp 275.000 per bulannya dan itu juga sudah termauk uang makan di setiap harinya. Biaya formulir di TK Anggrek ini adalah Rp 75.000.


Kira-kira begitulah gambaran hasil hunting sekolah buat Nares. Yang deket rumah emang cuma dua ini sih. Kalau yang agak keluar komplek dan harus pakai kendaraan, tapi nggak terlalu jauh, masih ada Regina Pacis, ada Al Azhar Kemandoran, terus ada juga Tumbler Tots. Yang bisa dicapai dengan jalan kaki dan yang paling deket emang yang di IKKT ini... jadilah kita memutuskan untuk Nares masuk di sekolah ini. Semangat ya, Nares... semoga tumbuh menjadi anak yang sholehah, pintar, kreatif, bersahaja, dan selalu menyenangkan bagi orang lain... 

4.24.2014

TIONGKOK AKU KEMBALI (Chapter 02 - habis)

Nah, lanjutan dari cerita kemarin waktu di Beijing adalah ketika kita dikasih kesempatan untuk melihat kota Shanghai. Alhamdulillah ya, kan saya udah cerita kalo kemarin yang 2007 itu, kita belum main-main ke Shanghai. Maka nikmat Allah mana yang kau dustakan, kali ini dikasih jalan ke Shanghai. Sebagai intro aja nih, kalau dari beberapa sumber yang saya baca, ini kota Shanghai letaknya agak lebih mendekat ke khatulistiwa, alias agak ke bawah. Kalau Beijing kan lebih ke atas yah. Nah, maka dari itu, kota Beijing itu lebih dingin dari kota Shanghai. Tapi kenyataannya, emang masih dingin juga sih. Ditambah pulak dengan angin yang niupnya agak kencang.

Berangkat dari kota Beijing di pukul 0800 kita menuju Shanghai. Perjalanan Beijing ke Shanghai yang berjarak sekitar 1500km ditempuh selama 5 jam saja dengan menggunakan Bullet Train. Stasiun kereta untuk ke Shanghai sama dengan stasiun kereta yang kita pakai untuk ke Tianjin kemarin. Bedanya cuma di gate masuk nya aja. Harga tiketnya adalah RMB 553 untuk sekali jalan duduk di kelas Ekonomi. Lumayan lah ya, Sekitar IDR 1,1 jutaan. Emang lebih murah dibandingkan dengan harga tiket kereta api Jakarta - Surabaya - Jogya (karena jaraknya mirip-mirip) yang seharga sekitar Rp 800,000. Tapi kan ya, ini waktu tempuhnya cuma 5 jam saja ya pemirsah. Bullet Train itu nyaman sekali, nggak ada suara berisiknya sedikit pun. Jadi, sepanjang 5 jam perjalanan itu saya nyenyak tidur. Biar nanti sampai di Shanghai bisa segar bugar lagi. Ya maklum aja, semalem udah kecapekan packing gara-gara mau bedol desa ke Shanghai.

Sampai di Shanghai, kita "landing" di Stasiun Kereta yang terintegrasi dengan Airport Domestic Shanghai Hongqiao. Keren abis emang, di sini, semua alat transportasi sudah terintegrasi. Dalam satu bangunan, ada terminal bus, ada subway, ada stasiun antar kota dan ada airport domestic. Canggih kan? Ini yang Indonesia belum punya. Di Indonesia, masing-masing alat angkutan umum masih berdiri sendiri. Walaupun Bandara Soekarno Hatta udah ada Damri, tapi tetap aja belum ada kereta apalagi terminal bus yang terintgrasi begitu. Nanti mungkin ya, tahun 2050 baru ada yang model gitu di Indonesia. Aamiin…

Shanghai, kota ini melekat banget dengan bangunan tinggalan jaman penjajah mereka : Inggris. Bangunan eropa banyak di berdiri di kota ini. Kotanya pun lumayan cukup maju. Dibandingkan dengan Beijing, Shanghai jauh lebih berkembang secara fisiknya. Hutan beton juga ini kota. Saya emang suka ngeliat sih, kalo peninggalan penjajah Inggris itu, kotanya lebih maju ketimbang negara yang dijajah sama Belanda. Liat deh, Singapore dan Hong Kong, juga Malaysia. Negara Commonwealth jauh lebih maju fisiknya dibanding Indonesia. Kalau waktu bisa diputar kembali, rasanya pengen banget dijajah sama Inggris. #eh. Ya ampun, nggak bersyukur banget ya, udah dijajah sama Belanda, malah minta dijajah sama Inggris. Emang rumput tetangga lebih hijau yeah.

Jalan-jalan di kota Shanghai, kita menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa lokasi yang terkenal di Shanghai. Pertama, kita ngunjungi pabrik sutra (ini sutra kain yah, bukan jenis sutra lainnya). Di pabrik ini, kita diliatin bagaimana ulat kepompong itu berkembang biak dan akhirnya bisa diproses itu sutra-nya. Pabrik sutra ini punya pemerintah China, makanya harganya nggak bisa mahal-mahal banget. Tapi kan ya, emang harga sutra itu nggak boong. Secara emang bikinnya juga nggak gampang. Butuh beberapa orang pekerja secara manual, dan nggak pake mesin, makanya mahal. Di pabrik sutra yang kita kunjungin ini, ada jual selimut sutra dengan berbagai macam ukuran, trus ada juga bed cover sutra, baju sutra, selendang sutra (asli yang ini made in China dan bukan lagu), dan ada pernak pernik lainnya juga kayak dompet, sarung bantal, tempat tissue, tas besar, tas kecil. Saya menyempatkan beli selendang titipan si emak. Hihihi, harganya emang agak mehong, tapi kan ya mamak udah kepengen, ya belikan lah ya.

Proses bikin kain sutra
Sedang mempergakan bagaimana mengambil sutera-nya (ya sutra lah ya....)

Dari pabrik sutra, kita jalan lagi ke Pearl Tower. Ini merupakan landmark-nya Shanghai. Bentuknya ada bola-bola gitu. Ini architect-nya asli Perancis, dibangun sekitar tahun 1996. Tinggi menara ini 256 meter dari permukaan tanah. Nah, dari atas menara Pearl Tower ini kita bisa lihat keseluruhan kota Shanghai. Menara Pearl Tower ini dikenal juga dengan TV Tower. Tapi sebelum kita naik ke Pearl Tower ini, kita menyempatkan diri jalan di sisi sungai yang terkenal di Shanghai, yang lebar badan sungainya itu kayak selebar sungai Kapuas. Lebar banget deh, pokoknya. Lha wong kapal tangker aja bisa lewat situ. Nah sempat juga saya dikasih tau, kalau dulu orang Inggris datang ke Shanghai ya lewat sungai ini. Makanya, di pinggiran sungai ini masih banyak gedung-gedung sisa peninggalan jaman Inggris. Aseli cakep emang (lagi-lagi peninggalan Inggris).

Hutan Beton dan Sungai-nya

Tuh liat kapalnya gede aja... 

Shanghai ini ya, konon menurut cerita, bisa maju juga karena orang-orang yang asli penduduk Shanghai ini penuh gengsi. Mereka rela beli barang mewah, demi penampilan. Istilah kasarnya, sebodo amat makan nasi warteg, tapi yang penting bisa punya tas LV, Aigner, Lanvin, atau apapun. Makanya, dalam hal pengembangan kota pun demikian. Mereka rela habis-habisan ngeluarin duit untuk pembangunan kota mereka, biar kota mereka dibilang, “wwaaahhh…”. Tapi jangan salah lho, dulu kala sebelum Shanghai ini maju, Shanghai merupakan kota yang terbuang, kota yang hancur lah. Kenapa? Soalnya Shanghai itu orang-orangnya diracuni sama yang namanya opium atau kalau anak jaman sekarang bilangnya “narkoba”. Hingga pada satu saat pemimpin tertinggi di Shanghai pusing dengan kelakuan tentara-tentaranya yang jadi pada tukang mabok opium. Nah, dari situ deh perang terhadap opium dimulai. Shanghai pun bangkit kembali. Sekilas ya, kalau kota Shanghai ini merupakan kota modern di China, sementara kalau Beijing itu emang kota sejarah. Jadi, kalau mau belajar banyak sejarah, datanglah ke Beijing. Eh tapi ada lagi sih kota yang lebih tua. Itu namanya kota Xian. Aseli, disana banyak peninggalan sejarah jama dahulu kala yang masih bisa dilihat. Tahun 2007 ke Xian, kita sempat main ke Terracota dan mesjid tertua di Xian (hhhmmm, kok jadi pengen bikin tulisan 2007 ke China yak…).

Kita naik ke Pearl Tower juga akhirnya. Berapa harga tiketnya, saya nggak tau soalnya semuanya udah dibayarin. Yang saya tau, Cuma di dalam Pearl Tower ini kita naik ke salah satu bola, yang bola itu lantainya dibuat dari kaca. Jadi kita bisa ngeliat ke bawah. Buat yang ngeri ketinggian, saya sarankan untuk nggak mendekat ke lantai kaca itu. Saya sendiri, nggak phobia sama ketinggian, tapi awalnya ya agak gimana juga gimanaaa gitu. Abis itu ya biasa aja lagi. Di atas ini beneran kita bisa lihat kota Shanghai dengan hutan beton-nya. Cakep lah. Mirip sama Hong Kong gitu.

Apa rasanya ya... 

Kota Shanghai dari Pearl Tower

Selesai main ke Pearl Tower, kita berangkat ke tempat belanja souvenir khas Shanghai, namanya YuYuan Night Market. Barang yang dijual disini banget-banget barang souvenir dan hampir nggak ada barang palsu-palsuan mirip di Yashow Beijing. Harga yang ditawarkan pun nggak segila di Yashow, tapi ya tetap mesti ditawar lah. Lumayan loh, beli tas boneka panda buat nares yang backpack, dia majangnya RMB 128, tapi akhirnya lepas juga RMB 50. Nah, di YuYuan itu, ada juga toko yang nggak mau ditawar, tapi di toko mereka udah ada tulisan fix price dan ada label harganya. Harganya emang belum tentu lebih murah, tapi yang jelas kita nggak pake ngotot untuk nawar-nawar pake urat. Ada salah satu toko yang kita kunjungi, jual boneka panda kecil seharga RMB 15 saja, padahal waktu di Yashow, nawarinnya RMB 200, di YuYuan toko lainnya nawarin RMB 45. Itu alat pijet muka yang dari jade ukuran kecil, harganya RMB 15. Nah, kalo udah belanja, mendingan jangan cerita ke temen-temennya ya. Soalnya bisa jadi temennya sakit hati karena beli barang yang sama, tapi harganya jauh lebih mahal. Wkwkwk….

YuYuan Garden at Night... Cakeeeep!

See the lighting... 
Belanjaaaaahhh...

Oia, pasar malam ini bentuk pasarnya lucu banget (lebih tepatnya cakep). Bangunan deret toko-toko dibalut dengan bangunan gaya arsitektur China. Dan yang membuat keren banget itu karena lightingnya yang emang jagoan banget. Cakep, indah, keren, bagoooos lah pokoknya. YuYuan ini tutup sekitar pukul 2200 local time. Bener-bener udah nggak ada yang buka di pukul 2200 itu. Mereka penjual disana serempak nutup toko entah pukul berapa. Karena pas kita turun selesai makan, toko-toko udah pada tutup semua. Huaaa, yang tadinya mau belanja lagi, malah nggak bisa. Hiks hiks hiks, dasar ibuk-ibuk… Dan finalnya adalah disini saya beli 2 boneka panda kecil, 1 tas panda backpack, 4 piece magnetic Shanghai, 1 piece crystal pasir landmark Shanghai, gelang batu Tiger Eye buat "si engkong" plus boneka karakter Kwang Dong, kaos Shanghai 2 bijik, tas manik hitam buat pesta (ini buat sayaaah). Lumayanlah, semua yang penting kebagian. Olraaaiiitt...

Di Shanghai, selesai sudah perjalanan kita. Berakhir lah sudah cerita saya ini. Mudah-mudahan nanti ada kesempatan lagi ya, ngunjungi kota di China yang lainnya. Aamiin… Mudah-mudahan juga nanti bisa pergi sama sang suami dan anak-anak… aamiin… Mudah-mudahan juga buat yang baca ini, kalau belum ke China, nanti bisa main ke China ya… aamiin…

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post