4.24.2014

TIONGKOK AKU KEMBALI (Chapter 02 - habis)

Nah, lanjutan dari cerita kemarin waktu di Beijing adalah ketika kita dikasih kesempatan untuk melihat kota Shanghai. Alhamdulillah ya, kan saya udah cerita kalo kemarin yang 2007 itu, kita belum main-main ke Shanghai. Maka nikmat Allah mana yang kau dustakan, kali ini dikasih jalan ke Shanghai. Sebagai intro aja nih, kalau dari beberapa sumber yang saya baca, ini kota Shanghai letaknya agak lebih mendekat ke khatulistiwa, alias agak ke bawah. Kalau Beijing kan lebih ke atas yah. Nah, maka dari itu, kota Beijing itu lebih dingin dari kota Shanghai. Tapi kenyataannya, emang masih dingin juga sih. Ditambah pulak dengan angin yang niupnya agak kencang.

Berangkat dari kota Beijing di pukul 0800 kita menuju Shanghai. Perjalanan Beijing ke Shanghai yang berjarak sekitar 1500km ditempuh selama 5 jam saja dengan menggunakan Bullet Train. Stasiun kereta untuk ke Shanghai sama dengan stasiun kereta yang kita pakai untuk ke Tianjin kemarin. Bedanya cuma di gate masuk nya aja. Harga tiketnya adalah RMB 553 untuk sekali jalan duduk di kelas Ekonomi. Lumayan lah ya, Sekitar IDR 1,1 jutaan. Emang lebih murah dibandingkan dengan harga tiket kereta api Jakarta - Surabaya - Jogya (karena jaraknya mirip-mirip) yang seharga sekitar Rp 800,000. Tapi kan ya, ini waktu tempuhnya cuma 5 jam saja ya pemirsah. Bullet Train itu nyaman sekali, nggak ada suara berisiknya sedikit pun. Jadi, sepanjang 5 jam perjalanan itu saya nyenyak tidur. Biar nanti sampai di Shanghai bisa segar bugar lagi. Ya maklum aja, semalem udah kecapekan packing gara-gara mau bedol desa ke Shanghai.

Sampai di Shanghai, kita "landing" di Stasiun Kereta yang terintegrasi dengan Airport Domestic Shanghai Hongqiao. Keren abis emang, di sini, semua alat transportasi sudah terintegrasi. Dalam satu bangunan, ada terminal bus, ada subway, ada stasiun antar kota dan ada airport domestic. Canggih kan? Ini yang Indonesia belum punya. Di Indonesia, masing-masing alat angkutan umum masih berdiri sendiri. Walaupun Bandara Soekarno Hatta udah ada Damri, tapi tetap aja belum ada kereta apalagi terminal bus yang terintgrasi begitu. Nanti mungkin ya, tahun 2050 baru ada yang model gitu di Indonesia. Aamiin…

Shanghai, kota ini melekat banget dengan bangunan tinggalan jaman penjajah mereka : Inggris. Bangunan eropa banyak di berdiri di kota ini. Kotanya pun lumayan cukup maju. Dibandingkan dengan Beijing, Shanghai jauh lebih berkembang secara fisiknya. Hutan beton juga ini kota. Saya emang suka ngeliat sih, kalo peninggalan penjajah Inggris itu, kotanya lebih maju ketimbang negara yang dijajah sama Belanda. Liat deh, Singapore dan Hong Kong, juga Malaysia. Negara Commonwealth jauh lebih maju fisiknya dibanding Indonesia. Kalau waktu bisa diputar kembali, rasanya pengen banget dijajah sama Inggris. #eh. Ya ampun, nggak bersyukur banget ya, udah dijajah sama Belanda, malah minta dijajah sama Inggris. Emang rumput tetangga lebih hijau yeah.

Jalan-jalan di kota Shanghai, kita menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa lokasi yang terkenal di Shanghai. Pertama, kita ngunjungi pabrik sutra (ini sutra kain yah, bukan jenis sutra lainnya). Di pabrik ini, kita diliatin bagaimana ulat kepompong itu berkembang biak dan akhirnya bisa diproses itu sutra-nya. Pabrik sutra ini punya pemerintah China, makanya harganya nggak bisa mahal-mahal banget. Tapi kan ya, emang harga sutra itu nggak boong. Secara emang bikinnya juga nggak gampang. Butuh beberapa orang pekerja secara manual, dan nggak pake mesin, makanya mahal. Di pabrik sutra yang kita kunjungin ini, ada jual selimut sutra dengan berbagai macam ukuran, trus ada juga bed cover sutra, baju sutra, selendang sutra (asli yang ini made in China dan bukan lagu), dan ada pernak pernik lainnya juga kayak dompet, sarung bantal, tempat tissue, tas besar, tas kecil. Saya menyempatkan beli selendang titipan si emak. Hihihi, harganya emang agak mehong, tapi kan ya mamak udah kepengen, ya belikan lah ya.

Proses bikin kain sutra
Sedang mempergakan bagaimana mengambil sutera-nya (ya sutra lah ya....)

Dari pabrik sutra, kita jalan lagi ke Pearl Tower. Ini merupakan landmark-nya Shanghai. Bentuknya ada bola-bola gitu. Ini architect-nya asli Perancis, dibangun sekitar tahun 1996. Tinggi menara ini 256 meter dari permukaan tanah. Nah, dari atas menara Pearl Tower ini kita bisa lihat keseluruhan kota Shanghai. Menara Pearl Tower ini dikenal juga dengan TV Tower. Tapi sebelum kita naik ke Pearl Tower ini, kita menyempatkan diri jalan di sisi sungai yang terkenal di Shanghai, yang lebar badan sungainya itu kayak selebar sungai Kapuas. Lebar banget deh, pokoknya. Lha wong kapal tangker aja bisa lewat situ. Nah sempat juga saya dikasih tau, kalau dulu orang Inggris datang ke Shanghai ya lewat sungai ini. Makanya, di pinggiran sungai ini masih banyak gedung-gedung sisa peninggalan jaman Inggris. Aseli cakep emang (lagi-lagi peninggalan Inggris).

Hutan Beton dan Sungai-nya

Tuh liat kapalnya gede aja... 

Shanghai ini ya, konon menurut cerita, bisa maju juga karena orang-orang yang asli penduduk Shanghai ini penuh gengsi. Mereka rela beli barang mewah, demi penampilan. Istilah kasarnya, sebodo amat makan nasi warteg, tapi yang penting bisa punya tas LV, Aigner, Lanvin, atau apapun. Makanya, dalam hal pengembangan kota pun demikian. Mereka rela habis-habisan ngeluarin duit untuk pembangunan kota mereka, biar kota mereka dibilang, “wwaaahhh…”. Tapi jangan salah lho, dulu kala sebelum Shanghai ini maju, Shanghai merupakan kota yang terbuang, kota yang hancur lah. Kenapa? Soalnya Shanghai itu orang-orangnya diracuni sama yang namanya opium atau kalau anak jaman sekarang bilangnya “narkoba”. Hingga pada satu saat pemimpin tertinggi di Shanghai pusing dengan kelakuan tentara-tentaranya yang jadi pada tukang mabok opium. Nah, dari situ deh perang terhadap opium dimulai. Shanghai pun bangkit kembali. Sekilas ya, kalau kota Shanghai ini merupakan kota modern di China, sementara kalau Beijing itu emang kota sejarah. Jadi, kalau mau belajar banyak sejarah, datanglah ke Beijing. Eh tapi ada lagi sih kota yang lebih tua. Itu namanya kota Xian. Aseli, disana banyak peninggalan sejarah jama dahulu kala yang masih bisa dilihat. Tahun 2007 ke Xian, kita sempat main ke Terracota dan mesjid tertua di Xian (hhhmmm, kok jadi pengen bikin tulisan 2007 ke China yak…).

Kita naik ke Pearl Tower juga akhirnya. Berapa harga tiketnya, saya nggak tau soalnya semuanya udah dibayarin. Yang saya tau, Cuma di dalam Pearl Tower ini kita naik ke salah satu bola, yang bola itu lantainya dibuat dari kaca. Jadi kita bisa ngeliat ke bawah. Buat yang ngeri ketinggian, saya sarankan untuk nggak mendekat ke lantai kaca itu. Saya sendiri, nggak phobia sama ketinggian, tapi awalnya ya agak gimana juga gimanaaa gitu. Abis itu ya biasa aja lagi. Di atas ini beneran kita bisa lihat kota Shanghai dengan hutan beton-nya. Cakep lah. Mirip sama Hong Kong gitu.

Apa rasanya ya... 

Kota Shanghai dari Pearl Tower

Selesai main ke Pearl Tower, kita berangkat ke tempat belanja souvenir khas Shanghai, namanya YuYuan Night Market. Barang yang dijual disini banget-banget barang souvenir dan hampir nggak ada barang palsu-palsuan mirip di Yashow Beijing. Harga yang ditawarkan pun nggak segila di Yashow, tapi ya tetap mesti ditawar lah. Lumayan loh, beli tas boneka panda buat nares yang backpack, dia majangnya RMB 128, tapi akhirnya lepas juga RMB 50. Nah, di YuYuan itu, ada juga toko yang nggak mau ditawar, tapi di toko mereka udah ada tulisan fix price dan ada label harganya. Harganya emang belum tentu lebih murah, tapi yang jelas kita nggak pake ngotot untuk nawar-nawar pake urat. Ada salah satu toko yang kita kunjungi, jual boneka panda kecil seharga RMB 15 saja, padahal waktu di Yashow, nawarinnya RMB 200, di YuYuan toko lainnya nawarin RMB 45. Itu alat pijet muka yang dari jade ukuran kecil, harganya RMB 15. Nah, kalo udah belanja, mendingan jangan cerita ke temen-temennya ya. Soalnya bisa jadi temennya sakit hati karena beli barang yang sama, tapi harganya jauh lebih mahal. Wkwkwk….

YuYuan Garden at Night... Cakeeeep!

See the lighting... 
Belanjaaaaahhh...

Oia, pasar malam ini bentuk pasarnya lucu banget (lebih tepatnya cakep). Bangunan deret toko-toko dibalut dengan bangunan gaya arsitektur China. Dan yang membuat keren banget itu karena lightingnya yang emang jagoan banget. Cakep, indah, keren, bagoooos lah pokoknya. YuYuan ini tutup sekitar pukul 2200 local time. Bener-bener udah nggak ada yang buka di pukul 2200 itu. Mereka penjual disana serempak nutup toko entah pukul berapa. Karena pas kita turun selesai makan, toko-toko udah pada tutup semua. Huaaa, yang tadinya mau belanja lagi, malah nggak bisa. Hiks hiks hiks, dasar ibuk-ibuk… Dan finalnya adalah disini saya beli 2 boneka panda kecil, 1 tas panda backpack, 4 piece magnetic Shanghai, 1 piece crystal pasir landmark Shanghai, gelang batu Tiger Eye buat "si engkong" plus boneka karakter Kwang Dong, kaos Shanghai 2 bijik, tas manik hitam buat pesta (ini buat sayaaah). Lumayanlah, semua yang penting kebagian. Olraaaiiitt...

Di Shanghai, selesai sudah perjalanan kita. Berakhir lah sudah cerita saya ini. Mudah-mudahan nanti ada kesempatan lagi ya, ngunjungi kota di China yang lainnya. Aamiin… Mudah-mudahan juga nanti bisa pergi sama sang suami dan anak-anak… aamiin… Mudah-mudahan juga buat yang baca ini, kalau belum ke China, nanti bisa main ke China ya… aamiin…

4.20.2014

TIONGKOK AKU KEMBALI (Chapter 01)

Alhamdulillah ya Allah, bisa kembali menginjak tanah leluhur, tanah kelahiran buyut kungkung Muhammad Ali yang terlahir atas nama Lim Hok Lai, yaitu negeri Tiongkok. Emang kalo disuruh ziarah tuh ada aja yak rejekinya. Hihihi, kali ini pas dinas dari kantor untuk ngeliat gimana sistem perkeretaapian serta tata kota di negara Tiongkok itu.  Tahun 2007, kami sekeluarga berkesempatan untuk mengunjungi tanah leluhur kami. Tahun 2014 ini, saya berkesempatan datang lagi. Senang tak terkira rasanya. Di sini, di postingan ini, saya cuma mau cerita bagian kita jalan-jalannya ya. Seseruan berbagi pengalaman. 

Alhamdulillah (selalu dan lagi) kota yang belum pernah saya sambangi di kunjungan tahun 2007, disambangi tahun ini. Shanghai. Yes it was. Tahun 2007 saya nggak ke Shanghai. Emang rejeki, tahun ini bisa lihat Shanghai. 



Day 01


Hari pertama kita jalan-jalan di Beijing, kita langsung menuju Forbidden City. Itu merupakan rumah dari Kaisar China di jaman jebot. Konon katanya, jumlah kamarnya ada 9.999 karena menyesuaikan dengan jumlah selir si kaisar. Kebayang ye, jumlah selir segitu banyak, anaknya mau berapa bijik? Yaudahlah ya gak usah dibayangin. Forbidden City ini terkenal emang dengan kota terlarang. Agak-agak mirip sama kota haram di Arab gak sih? Bedanya adalah kalo kota terlarang di Beijing ini cuma sebutan di jaman dulu. Jadi, kota terlarang ini adalah terlarang buat beberapa orang yang emang gak boleh masuk atau bagi yang di dalam udah gak boleh keluar. Sayangnya di Forbidden City kali ini ada beberapa bangunan yang lagi di renovasi. Jadi gak bisa liat langsung deh.  


Tepat di depan pintu masuk Forbidden City


Forbidden City with my "pakde" xixixi...  Itu gerbang keharmonisan tuh yang di belakang

Pk 1200 siang, kita meninggalkan Forbidden City dan menuju pusat kerajinan tangan batu giok atau yang lebih dikenal dengan Jade. Jade di pabrik ini, dijamin keasliannya dan pastinya dijamin kemahalannya. Hahahaaa... makanya jujur aja saya nggak beli sebijik pun giok disini. Selain emang karena nggak terlalu suka giok, ya mahal itu. Akhirnya saya menikmati duduk di sofa yang disediakan sama toko tersebut. Sambil menikmati rekan-rekan yang berbelanja giok bin jade. 


My partner in crime in China 2014


Pkl 1430 kita berangkat menuju tempat makan. Lapar ya ciyn, makan pagi terkahir, sekitar pkl 0600. Sekarang di Beijing udah pukul 1500 yang mana di Jakarta sudah pkl 1400, makanya lapar sangat. Kita makan di restaurant menuju ke Great Wall, biar nggak jauh-jauh amat gitu loh makannya. Makanan yang disajikan pastinya dimintakan non-pork dan non-lard. Tapi ya nggak mungkin Halal, secara emang disana kalau untuk label Halal itu sangat susah. Alhamdulillah, saya makan nggak repot dan cerewet banget. Yang penting nggak berbabi dan baca doa, inshaa Allah berkah. Aamiin ya Allah... 


Selesai makan siang, kita langsung menuju ke salah satu titik pintu Great Wall alias Tembok Cina yang beken itu. Tembok Cina yang panjangnya adalah 6750 kilometer (ada 5 propinsi di China yang dipagarin sama Great Wall) ini mempunyai 5 titik pintu yang bisa diakses sama pengunjung di Beijing, tapi yang mudah diakses ya yang kita tuju ini. Dulu, tahun 2007 saya ke sini sama bapak ibu juga ke tempat ini. Jadinya kangen deh pergi jalan-jalan sama bapak ibu *mewek. Di Great Wall, ini kita diberikan waktu selama 1 jam untuk lihat-lihat dan naik ke atas pos yang ada di deket titik itu. Tapi saya dan "my partner in crime in Beijing" memilih untuk nggak naik ke pos itu. Nanjak-nya nggak nahan, boook. Takut bisa naik nanti nggak bisa turun. Bener aja gitu, ada yang bisa naik nggak bisa turun, kakinya kram hebat pas mau jalan turun :( . Pilihan yang tepat buat saya. Gerbang masuk ini ditutup pukul 1600 local time. Tapi kalo keluar sih bisa sampe lewat pkl 1700. Ya males juga gelap-gelapan di Great Wall ini. Apa juga kan yang mau diliat?
The Great Wall - Sekarang dipasangin gembok juga yeee....



Pkl 1700 kita chao menuju tempat pabrik obat yang sangat terkenal seantero Cina, itu lho tempat obat-obatan herbal. Yang terkenal itu obat luka bakar-nya yang namanya Bao Fu Ling. Tapi kan ya, ada obat-obatan lainnya juga yang dijual disitu. Ini pabrik obat punya pemerintah, dan turis yang datang ke Beijing wajib mengunjungi toko ini. Selesai dari toko obat ini udah pkl 1900 dan kita siap-siap menuju tempat dinner. Eya ampuuun, baru kelar makan sore, disuruh makan malam pula. Tapi karena cuaca dingin, jadinya emang laper terus. Dan pastinya mau cari toilet untuk buang air kecil. Oia, tips penting buat yang pergi ke China, bawalah tissue basah dan tissue kering sebanyak mungkin. Karena toilet di China ini banyak yang tidak menyediakan (hampir tidak ada) kran shower air untuk bilasan. Dan, kondisi toilet pasti "harum semerbak". 

Makan malem kita di Daheng Reataurant. Jangan tanya makanannya enak apa nggak. Jawabnya sangat biasa saja. Lagian juga yang penting kan ngisi perut ya, jadi mari nikmati makan malam yang ada. Habis makan makan malam, kita dianter ke hotel untuk istirahat. Besok pagi kita harus berangkat liat Stasiun di Beijing dan sedikit keluar kota. Oia, di Beijing ini, kita nginep di Hotel Jiangxi Grand Hotel. Hotel **** yang harga kamarnya yang paling murah adalah RMB 1888 (kurs RMB 1 = Rp 1900, tinggal dihitung sendiri saja yah). 


Day 02 

Hari kedua ini, kita siap-siap lagi karena harus ngejar kereta ke kota Tian Jin. Sebelum naik kereta yang keluar kota, kita nyempetin diri untuk naik kereta dalam kota alias subway gitu. Persis sama dengan MRT di Singapore deh. Ya station-nya, ya keretanya, ya tiketnya. Maaf ya, kalo dibandingkan dengan Jakarta, ya mungkin hanya 15% miripnya. Selebihnya, banyak bedanya. Jakarta emang harus banyak berubah. Kalau orang lain bisa, kenapa kita nggak bisa ya? Kondisi kereta dalam kota di Beijing ini pada jam kunjungan kita sekitar pk 0800 pagi ya sama kondisinya dengan KRL di Jakarta. Penuh sesak sampe mau keluar pun susah. Tapi, di Beijing ini, keretanya tiap 5 menit udah lewat. Jadi penumpang nggak pake numpuk. Ya maklum saja, di Beijing, kereta nggak pake kudu dijagain palang pintu dan bersinggungan dengan pengguna jalan lainnya. 

Subway station Beijing South 

Stasiun Antar Kota nih. Udah kayak airport yak... 

Kereta ke Tian Jin ini kereta terkenal dengan nama "Bullet Train" diberikan nama CRH alias China Railway Highspeed. Kecepatan yang dapat ditempuh adalah sampai dengan 305km/jam, jadi jarak Beijing Tianjin sekitar 150km itu cukup ditempuh dengan 30 menit saja pemirsah. Sedep bener ye... Stasiun untuk kita berangkat ke TianJin ini namanya South Beijing Train Station. Dia merupakan stasiun yang terintegrasi dengan kereta dalam kota (ala-ala MRT atau Commuterline) dan juga terminal bus. Mungkin kalo di Jakarta ini kayak di... mana ya? Nggak ada ye, kayaknya... Hahahaha!!! Di TianJin kita nggak keluar stasiun kereta. Kita cuma visit di Stasiun aja karena harus ngejar balik jadwal kunjungan ke tempat berikutnya. Stasiun kereta di China ini nggak beda jauh sama airport di Indonesia. Aseli keren. Segala toko mirip Duty Free pun ada di stasiun kereta.

THe Bullet Train 

Inside the bullet train - economy class

Balik ke Beijing, kita lanjut dengan makan siang di Yashow Shopping Center. Yashow ini merupakan pusat perbelanjaan di Beijing yang terkenal dengan "injek-injekan" harganya. Pedagang di sini, nawarin barang-barang dengan harga sekitar 5 kali lipat dari harga yang seharusnya. Bener banget deh, misalnya aja, semalem itu di pasar malem hotel, harga magnetic khas Beijing, dijual seharga RMB 10 untuk 3 bijik. Di Yashow ini, magnetic yang sama persis bentuknya, dia buka harga RMB 20 untuk sebijiknya. What the hell banget ya. Dan nawar harga disini emang harus pake urat. Buat saya pribadi, males urusan nawar-nawar nggak jelas gini. Apalagi pedagang disini suka ngomong dengan kata-kata "you crazy", "you kidding", "you joking", "just go"... ahahaha.... dan akhirnya saya pun hanya beli 3 tas bordir khas Cina yang seharga RMB 80 beserta tas simple seharga RMB 20.

Yashow - Belanja disini siap mental aja...

Pulang dari Yashow, kita menyempatkan diri jalan ke lapangan berdarah Tian An Men. Disinilah tragedi berdarah mahasiswa dibantai sama pemerintahan Cina. Ujung-ujungnya sih ini gegara masalah politik. Bisa dibilang kaya' tragedi Trisakti '98 itu kali ya. Disini ribuan mahasiswa menjadi korban, makanya disini ada monumen tragedi mahasiswa itu. Oia, Lapangan Tian An Men ini dikelilingi sama 4 gedung yang sangat penting. Ujungnya Forbidden City, Museum Nasional, Makam Mao Ze Dong (pemimpin China yang terkenal dengan komunis-nya) dan ada juga gedung Dewan China gitu. Makam Mao Ze Dong sekarang cuma dibuka di hari tertentu dan itupun antrinya udah dari jam 5 subuh. Wedeeew, padahal ya, pengen banget liat mumi-nya Mao Ze Dong. Tapi emang nggak nasib...






Balik dari lapangan Tian An Men, kita diajak nonton akrobat. Aseli ini akrobat disini bener-bener memukau penonton. Liat akrobat ala Cina yang sangat butuh ketrampilan dan keahlian nan luar biasa. Pasti mereka yang memainkan akrobat disini udah dilatih dari bayi oek oek kali ya. Badannya bisa lentur kaya karet. Nggak kebayang kalo udah tua baru latihan, bisa-bisa tulang patah semua. huahahaha....

Panggung akrobat (duduk di VIP nih, ceritanyaaah...)


Makan malam kali ini kita ngunjungi restoran Peking Duck tertua di Beijing. Enak kah? Yah standard Peking Duck lah. Masih enakan Peking Duck di Lei Garden Singapore punya #belaguk *toyor pala sendiri! Tapi yang enak itu karena emang kita udah kelaperan, jadinya makan apapun jadi enak. Huahaha...  Aseli ya, itu piring lauk dan nasi habis tak bersisa. Sisa piring dan sampah doang. Kita pada kelaperan karena dingin (alesan banget).

Selesai acara kita hari ini. Istirahat kembali ke hotel untuk packing karena besok pagi kita harus berangkat ke Shanghai. Iyak, selamat ber-packing dan susun strategi biar koper nggak beranak pinak. Secara besok harus pindah kota pake kereta dan nggak ada porter, jadi yang udah belanja kudu mikir kalo nambah-nambah bawaan. Rempong bin ribed.

Selamat malam, selamat tidur (tidur pagi karena sibuk packing).

Tunggu lanjutannya di Chapter 2 yah... ;)

4.17.2014

COROLLA ALTIS - BERAWAL DISINI (Chapter 01)

Mari berbagi kembali... kembali berbagi cerita. Ya maklum aja, namanya juga nge-blog dan masih pemula, jadi cuma bisa ngebagi cerita. Nanti insyaaAllah kalau udah naik kelas jadi senior blogger, baru aku kasih hadiahnya ya... Mari semangat menjadi senior blogger... 

Pemirsah pembaca yang budiman dan budiwati yang dimuliakan Tuhan, cerita kali ini saya ingin berbagi tentang kendaraan tunggangan saya. Sedan warna emas alias gold ini sudah dari November 2010 menemani keseharian saya. Rumah ke kantor, kantor ke rumah, rumah ke pasar, pasar ke rumah, rumah ke kampus, kampus ke rumah, pokoknya kemana aja pake si goldy ini. Nah, di chapter 01 ini saya mau share sejarah saya milih si sedan ini walaupun di usianya yang sudah termasuk ABG. Nggak masalah, asalkan mau sama mau dan suka sama suka toh... Hahaha....


Ini sejarah pakai sedan Toyota Corolla di keluarga kami...

Di tahun saya lahir, 1981, bapak saya alhamdulillah baru mendapatkan rejeki untuk memiliki mobil sendiri. Kerja keras-nya menjadi laskar negara, akhirnya membuahkan sebuah (apa sebiji? apa seekor?) mobil. Mobil yang dibeli bapak bukan mobil gress masih berplastik, tapi mobil second hand alias tangan kedua alias mobil bekas. Jaman dulu itu ya, punya mobil emang nggak mudah semudah sekarang yang modal 20 juta perak juga bisa punya mobil. Bedaaa banget. Makanya, bapak milih untuk meminang mobil keluaran tahun 1974, yang berarti sudah berumur 7 tahun saat dipinang di tahun 1981. Tapi itu pun sudah bersyukur banget ya, pemirsah... Rejeki halal yang penting, biar berkah #apasik.

Toyota Corolla hijau itu jauh juga perjalanannya. Sempat kita pakai mudik ke Magelang, Yogya nengokin eyang putri. Trus belum lagi main kalau ke Anyer sih, udah beberapa kali. Bandung dan Cianjur juga nggak lewat. Handal emang mesinnya. Yups, pilihan yang tidak salah!

Toyota 74 macam ini tampaknya (sumber: www.pakwheels.com)

Corolla tahun '74 ya, akhirnya kita pakai sampai tahun '86 saja. Berhubung kita harus ikut bapak pindah dinas keluar kota, akhirnya itu mobil kita jual juga. Sedih sih, udah sempet nemenin kita mudik ke Magelang dari Jakarta untuk beberapa kali, eh akhirnya harus pisah juga. Tapi emang dasar jodoh, di tempat baru bapak dinas, kita pun kebagian mobil dinas : Toyota Corolla '86. Yihaaa...., lagi dan lagi pakai Corolla. Kayaknya emang udah jodoh ya, pakai Corolla ini. Mobil simple tapi keren dan seksi. Yups banget. Corolla itu emang sexy!

Corolla '86 kendaraan dinas bapak ini harus direlakan kepada orang lain, soalnya kita pindah lagi ke Jakarta. Pulang ke rumah, mulai lagi dengan babak yang baru kehidupan (apa sih nih bahasanya?!). Sayangnya, jalanan Jakarta yang saat itu kurang bersahabat alias banyak hancur, sang bapak milih kendaraan MPV kembali. Katanya bapak, "Sayang kalau pakai sedan di jalanan rusak". Yaaah, apa mau dikata, sang pemilik uang nan berkuasa berkata tidak untuk sedan Corolla. 

Toyota '86 ini yang kita pakai (sumber: en.wikipedia.org)

Tapi emang dasar rejeki. Di tahun 1998 ketika saat itu krisis moneter melanda, sang berkuasa kembali merealisasikan keinginannya untuk membeli mobil tambahan untuk antar sang ibu pejabat ke tempat kegiatannya. Nah, secara emang udah pengalaman 10 tahun pakai Toyota Corolla dan nggak pake ribet, nggak pake aneh-aneh nggak pake resse akhirnya sang penguasa memilih Toyota Corolla Great keluaran tahun 1995 untuk nyonya besar. Wedewww... sedep kan pake Corolla lagi dan lagi. 

Tapi emang dasar rejeki, ini Corolla Great milik nyonya besar akhirnya dilungsurin ke saya. Alhamdulillah, dapet lungsuran Corolla Great yang sangat heits di tahun tersebut. Emerlad Red, begitu warna tertulis di STNK si Corolla Great. Ini mobil banyak jasanya. Mulai nemenin kuliah, kerja praktek, skripsi, sampai wisuda dan sampai pacaran #eh. Sampailah 7 tahun di usia kebersamaan saya dengan Corolla tersebut karena sang empunya kuasa punya titah yang lain pula (aseli ya, pas mobil ini diambil sama yang beli, dan saya pun menangis sejadi-jadinya). 

Miriplah sekali mobil kita waktu itu (sumber: mobil.mitula.co.id)

Corolla saya diganti dengan Corona, lungsuran sang penguasa nomor 1. Yah, emang dasar Toyota, mesinnya emang handal. Tapi sayangnya, Corona yang saya pakai itu cinta banget sama pom bensin. Habislah uang jajan sebulan untuk uang bensin saja. Ya maklum, namanya saja mobil 2.000cc, automatic transmission pulak, tambah lagi jalanan macet Jakarta ini. Komplit sudah. Akhirnya tahun 2008, setelah 3 tahun  pakai Toyota Corona, saya pun menyerah. 

Kijang kaspul diesel pun jadi besutan saya. Gagah dan macho ya boook... Naik tanjakan nggak pernah masalah. Bawa ke Puncak nggak rewel. Alhamdulillaaaaah... rawatnya juga nggak nyusahin. Ibarat anak yang tau diuntung, nah itulah Toyota. Itu mobil handal banget. Sebenernya juga sayang banget ngelepas itu mobil, karena emang masih nyaman dipakai, mesin nggak pernah ngadat dan hemat energi klakson. Secara orang di jalan pasti udah bakalan minggir dan kita nggak perlu repot-repot mencet klakson. Suranya itu loh. Tapi berhubung waktu itu saya hamil dan agak susah untuk naik turun mobil tinggi, akhirnya saya request ke pak suami untuk ganti mobil dari yang MPV gitu ke sedan saja. 

Nah, akhirnya kita sempat bingung nyari-nyari pilihan sedan yang paling cocok untuk seorang bumil. Sempet lirik-lirik toko sebelah, tapi akhirnya atas saran dari bapak boss yang dipertuan agung adalah, "Udahlah Toyota aja, nggak macem-macem. Rawatnya gampang, nggak macem-macem juga..." Nah kan, rekomendasi tetap ke Toyota. Ketok palu 8 kali, akhirnya saya dan pak suami mutuskan untuk beli Toyota Corolla Altis. Dan semenjak itu, pencarian Altis yang paling baik pun dimulai... jerengjengjeng....

Let's gooo with Toyota.... Ahiyyy... (akan berlanjut di Chapter 02)
Tulisan ini diilhami oleh keluarga besar Toyota Corolla Altis Indonesia Community

3.08.2014

ALTIC GOES TO ANYER - BROTHERHOOD JOURNEY FAMILY HAPPINESS

Saya dataaaaang... kembali nge-post blog lagi setelah kemarin bulan Februari sama sekali nggak posting blog. Aseli lagi dikunjungi si malas dan si setan liar untuk tidak menulis, makanya tak ada yang ditulis dan di-posting. Sedih? Banget... Tapi mau gimana lagi orang nggak niat, apa yang mau ditulis pulak? Eh ditambah lagi ya, bulan Februari itu nggak banyak moments yang mau diliput. Eceileee, gayanya udah kayak wartawan aja pake liliput segala. Gedubrakan jumpalitan... teerereeet jungkir balik! Ayo kita kemon balik ke topik...

Jadi ceritanya, Altis Community Indonesia (ALTIC) itu ngadain touring perdananya di  tahun 2014 ini. Awal tujuan tuh ya sebenernya kita mau ngadain touring ke Cirebon di awal Februari, tapi karena awal Februari cuaca kurang bersahabat dan kurang berteman, akhirnya kita undur ke awal Maret. Lokasi tujuan touring juga dipindahin, dari semula ke Cirebon, pindah ke Anyer. Selain lebih dekat dari Jakarta, juga jalanannya lebih bersahabat dari jalur pantura. Awalnya sih saya dan pak suami males ikutan, soalnya kita baru aja liburan ke Garut di mid of January. Eh kok awal Maret ya jalan lagi ya. Tapi berhubung ini perjalanan bakal seseruan bareng rombongan, akhirnya pak suami mau ikyuuut ciyn... Eh, kalo nyonyah sih tinggal duduk manis aja. Yang bayar pak suami, yang nyupir pak suami... ahiiy...  Satu lagi alasan yang membuat kita pergi, takut disetrap sama om Ketum Achmad Roland kalo nggak ikutan. 


Huhuhuuuy, seru banget touring ini, baru dateng aja udah bagi-bagi goodie bags. Apalagi ntar pas pulang kan yah. Eh tapi ya, nggak cuma goodie bags doang dibagiin, ada juga bagi-bagi sticker. Sticker bakal apaan? Sticker bakal tempal tempel di mobil donk ya pemirsah... Semua sponsor event touring ini, stickernya kita tempelin di mobil masing-masing member. Rame, meriah, seruuu!!!





Pkl 07.15 kita kumpul di rest area KM 13+500 toll Jakarta arah Tangerang. Sebenernya jadwalnya sih pk 07.00 udah harus kumpul, tapi namanya juga seseruan, jadi emang udah biasa telat. Jangan dicontoh yang model beginian ya... Pas kita dateng, udah ada om Teguh, om Kahfi, om Yogie, om Yudha, sama om siapa lagi dah lupa degh. Begitu dateng yah, langsung deh tuh bagi-bagi goodies bag dan merchandise-merchandise dari sponsor. Ternyata, begitu dateng yang bikin semangat itu kita dibagi octane booster dari Prestone (@autochemid). Nggak cuma dateng itu octane booster, tapi salah satu staff dari Preatone juga ikut nemenin kita pas di titik kumpul. Cihuuy bener dah, mau pergi jarak jauh diisi dulu itu octane booster, injek gas dikit langsung josss...


Pkl 09.00, sebelum berangkat menuju Anyer, Ketua Pelaksana Touring, om Arul (alias om Vin Diesel) membuka sambutan, ina inu ketua panitia touring pokoknya berikut dengan pesan-pesan dari pak Ketua Pelaksana. Dilanjutin dengan arahan SOP (Standard Operation and Procedure yak) dari om Teguh Hambudi. Nah, kalo om Teguh ini ngejelasin begimana caranya konvoi di jalan yang aman, nyaman, dan moga-moga biar selamat. Kali ini memang SOP yang disiapin itu orientasinya kepada SAFE (Smart, Alert, Focus, Educated). Dan saya pun baru tau kali ini, karena baru kali ini konvoi yang pake SOP. Ternyata ya, konvoi itu punya aturannya, nggak sembarangan asal iring-iringan mobil. Jadi, kalo ada yang konvoi di jalan dan ugal-ugalan itu, tandanya konvoi kampungan, mas bro, nggak punya aturan. Jangan ditiru dan jangan dicontoh...

Briefing berangkat by Ketua Pelaksana, om Arul 


Sedikit info tentang SOP kita kali ini:
  1. No Text While Driving, alias nggak boleh pegang hape atau tab selama nyupir. Makanya, kita dibekalin hate alias handy talkie buat komunikasi antar mobil. cipy copy roger monitooor...
  2. Konvoi kita dibagi atas group-group kecil (Alpha, Bravo, dan Charlie). Setiap mini group ada group leader dan sweepernya, susunan line-up nya menjadi : Leader Alpha (A1), Member Alpha (A2 sampai A4), dan Sweeper Alpha (A5). Tugas leader ya mimpin member sampai sweeper dan tugas sweeper untuk jagain yang depannya kaya' untuk kasih jalan. Saya sendiri kebagian jadi Sweeper Alpha (A5) dan untuk Leader Alpha dipegang sama om Yudha.
  3. Di konvoi main group ada Road Captain yang dipegang sama om Kahfi. Nah tugas Road Captain itu ngasih tau kondisi jalan di depan apa yang ada di depan, warning jalan buat member di belakang supaya hati-hati atau harus gimana-gimana di depan nantinya. 
  4. Ada Safety Officer (SO) yang dipegang sama om Arul (SO2) dan om Teguh (SO1). Nah tugas Safety Officer ini antara lain adalah buka jalan atau nutup jalan selama perjalanan kita, belum lagi cek-cek ombak di depan jalan ada apaan. 
  5. Ada lagi Sweeper (SW) sang penutup konvoi yang dipegang sama om Radit. Tugas om Radit ini ngejagain member-member yang di depannya supaya nggak ketinggalan. Udah kaya tukang angon bebek aja nih si om Radit. 
  6. No kebut-kebutan selama perjalanan konvoi, haram hukumnya. Ya gimana juga mau kebut-kebutan, lha wong pada bawa keluarga dan harus nge-line up pulak kan. 
  7. In case of emergency, kalo ada pengereman mendadak, untuk yang nomor genap kudu buang ke kanan dan nomor ganjil kudu buang ke kiri. 
Pk. 10.15 kita sempet mampir ke KM 42 untuk jemput beberapa member yang menunggu disini sambil memberikan kesempatan beberapa member yang membawa anak kecil untuk buang air, ataupun untuk sekedar meluruskan badan. Tapi yang jelas, karena member yang nunggu di KM 42 ini belum ditempelin atribut touring, jadilah kesempatan itu juga dipergunakan untuk nempelin atribut touring. Lanjut perjalanan dengan membaca bismillah, here we go Anyer... yihaaa... Selama di jalan toll, alhamdulillah perjalanan lancar sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang diberikan oleh Road Captain dan Safety Officer kita. Ada sempat beberapa rombongan tim Basarnas lewat pun, kita kasih jalan. Pokoknya, yang penting kita tidak mengganggu perjalanan orang lain ya...

Great Selfie dulu, pengen ikutan lomba di @great_water

Bekal dari sponsor buat event kita 

Keluar toll Cilegon Timur, kita di pintu toll nyebar, nggak urutan line up lagi. Ya kalo kudu nge-line up di pintu toll, urusannya bakalan lama kan. Kebayang aja gitu 25 mobil disatu baris, sementara gate toll yang lainnya sepi. Keluar toll, kita sempet jemput 1 member lagi yang memang tinggal di Cilegon. Hahaha, nggak mau dia ikutan balik ke Jakarta, jadinya dia nunggu di Cilegon. Nah, om Erdhie ini, yang nunggu di Cilegon, merupakan member ALTIC yang paling heits lah pokoknya. Dengan Altis cepernya yang warna hijau mint ini, selalu mencuri perhatian mata. Hmmm, sebenernya sih bukan karena hijaunya dia diperhatiin orang, tapi lebih karena mobilnya itu low-style alias ceper alias doyan nyium daratan. Sampailah ketika ada satu jalan yang hancur lebur dan rusak, mobil om Erdhie nggak bisa lewat dan terpaksa muter jalan lewat jalan tikus. Nah, om Erdhie kali ini ada temennya nih, namanya om Ayub. Mobil mereka berdua sadis lah cepernya. Sadis pula nyium aspalnya...

Si Low Style Ijo Minty punya om Erdhie (doc. Om Radit)

Sampai di Jayakarta Hotel, sekitar pukul 12.30, kita langsung cuusss untuk makan siang. Hahaha, sumpah, makan siang kali ini tumben pada ganas-ganas. Hanya beberapa menit saja, lauk yang terpajang di meja buffet sudah ludes. Ini karena emang laper atau karena perjalanan jauh ya? Acara makan siang selesai dan lanjut dengan pembagian kamar. Buat yang bawa keluarga, dapet kamar masing-masing. Bagi yang single, gelar kasur di ruang tengah. Yang bawa pacar? *keepsilentaja*. hihihiiii....

Istirahat dulu abis pembagian ruangan. Sementara cowok-cowok pada siap-siapin doorprize buat nanti malam dan beberapa ada yang sibuk pasang spanduk dari sponsor. Aseli itu Jayakarta Hotel, tamannya udah kayak punya ALTIC aja, disana sini pasang spanduk. Setelah ashar, kita pada ngadain lomba kecil-kecilan di pinggir pantai. Gamesnya kocak-kocak, bikin ngakak yang nonton. Udah gitu emang yang ikutan games juga pada ngocol-ngocol, jadinya makin seru. 

Rencananya pada mau nonton sunset, tapi berhubung itu matahari nggak nongol diumpetin awan, jadilah kita cuma duduk aja di pinggiran pantai sambil minum air kelapa. Ada juga beberapa yang main air, ada juga yang duduk di pinggiran kolam renang. Maghrib datang, semua kembali ke penginapan masing-masing, karena setelah itu kita harus makan malam. Makan malam ini bakalan seru, karena juga sembari pengenalan produk spara sponsor yang ngedukung acara ini, lanjut dengan pembagian door prize. Edun banget loh door prize kali ini, menggiurkan sangat, bikin ngiler. Nih dia daftar door prize nya... 
Om Ardhi dapet grand door prize (doc. Om Radit)

Itu baru door prize ya, belum lagi goodie bags kita yang kita dapet dari Mediatama Binakreasi (kalender 2014nya sangat bermanfaat!), Nestle Pure Life (air mineral sehat buat selama event), Garda Oto (bantal imut buat mempercantik mobil), Kacang Kangaroo (buat cemilan selama event), dan beberapa media partner lainnya. Pokoknya keren kece seru bingits. Keberuntungan diambil sama om Ardhi dan om Kahfi yang dapet kaca film. Aseli, ini dua member hoki karena bawa istri yang lagi hamil gede. Hahahah... emang ya, istri pembawa rejeki. Sayang istri, rejeki maknyus. Selesai bagi-bagi hadiah, kita lanjut barbeque di halaman Jayakarta Hotel ini. Tapi beberapa istri dan anak-anak sih langsung masuk kamar, udah nggak tahan sama ngantuk kayaknya setelah perjalanan hari ini dimulai dari subuh pastinya. Xixixix... 

Minggu pagi, schedule pk 10.30 kita rencana akan kembali ke Jakarta. Jadilah Minggu pagi kita sarapan dulu, dan setelahnya baru pada main banana boat. Saya sendiri nggak berani main banana boat. Selain karena takut basah lagi secara udah mandi pagi, males aja harus berjuang melawan Nares untuk melarikan diri darinya. Nares sebenernya pun udah ngerengek minta berenang, tapi kita sudah siap amunisi untuk ngeles dari kolam renang. Hihihi, urusannya bakalan panjang kalo Nares renang lagi pagi ini. Bisa malah ketinggalan rombongan balik ke Jakarta. Huaaaaa..... jadi kita keukeuh untuk Nares nggak berenang. Next time ya darling kalo nggak sama rombongan, kita berenang lagi.


Ayo pulang - line up line up (doc. Om Radit)
Here We Are... Not Just Brotherhood, We Are Family (doc. om Radit)

Tepat 10 menit sebelum pulang, kita foto-foto dulu di depan spanduk para sponsor nan banyak nian itu. Masing-masing pada heboh nenteng goodie bags yang didapetnya. Seseruan terakhir di hotel sebelum balik lah pokoknya, sembari bikin yang gak ikut touring biar pada ngiler ngeces-ngeces. Wkwkwk... Biar makin iri, makin nelangsa, makin mau manyuuun karena gak ikut touring ini. #ALTICGoesToAnyer kali ini kece bueraaat...

Okey, time to go back to Jekardah. Konvoi dimulai lagi dan tetap kembali pada perintah Allah beserta perintah Road Captain si RC om Kahfi, ahhhiiiiiyyyyy! Perjalanan pulang kali ini agak sedikit macet karena terhambat (lagi-lagi) jalan yang rusak pas di rel kereta. Tapi karena om Erdhie dan Altis Minty sudah pulang duluan kemaren, jadilah konsentrasi RC kali ini tertuju pada B5 sang ceperist om Ayub. Begitu lewat yang jerendal jerendul itu, semua member pada say Alhamdulillah di HT. Bebassss.... 

Kami menyempatkan diri singgah di rest area KM68 arah Jakarta untuk makan siang terakhir dalam touring ini. Tau nggak sih, makan siang kita kali ini tuh didukung sama pemilik "jagonya ayam". Yups, bener banget kita dapet jatah makan siang dari Kentucky Fried Chicken. Sedep bener deh akh, dapet ayam goreng dengan bumbu terbaik sedunia ayam goreng - haratesh dari KFC untuk ALTICers yang ikut touring ke Anyer ini. 



Selesai makan siang, maka selesai juga rentetan acara Touring ALTIC perdana ini. Briefing pulang disampaikan oleh om Arul, sekalian menutup rangkaian acara dan doa pulang. Dari titik ini, kami menyebar, masing-masing ke tujuan masing-masing. Ada rasa sedih berpisah dengan kerabat ALTICers yang sudah mewarnai weekend kali ini. Terima kasih ALTICers, buat moment yang sangat mengesankan... Love you all, bener-bener berasa banget deh moto ALTIC "Not Just Brotherhood, We are Family".

Terima kasih juga buat para sponsor event kali ini, acara Touring ALTIC Anyer kali ini bener-bener meriah dan banjir hadiah. Mudah-mudahan next event akan lebih ramai dan seru lagi. Brotherhood Journey, Family Happiness sangat mengesankan.

Bagi readers yang mau liat ALTIC itu apa, monggo buka web ALTIC di www.altis-indonesia.org yah...

1.16.2014

ESCAPE TO GARUT

Entah ada angin apa yang tiba-tiba datang ke permukaan bumi ini, si bapak ngajakin main ke Garut. Secara emang liburan akhir tahun kemaren kita nggak jalan-jalan kemana pun alias Cuma di Jakarta aja, makanya perginya pas sesudah liburan panjang. Jadilah intinya ya, kita berangkat ke Garut itu, Sabtu pagi, pukul 06.00 dari rumah. Langsung masuk toll Slipi secara emang jalannya pasti ke toll Bandung yang berakhir di Cileunyi. Sabtu pagi itu, walaupun tanggal menunjukkan di angka 11, yang katanya tanggal tanggung bulan, tapi tetap aja jalanan ya rame dan padat. Nggak bisa gas poll, paling juga cuma bisa 80kmph dan beberapa titik malah cuma jalam 60kpmh. Sempet sekali istirahat di KM 147 untuk ritual buang air kecil dan sarapan. Nares sekarang udah nggak pake diapers, jadi tiap beberapa jam harus diajak pipis. Dan pergi pagi itu, Nares masih tidur dan kita angkut aja pas dia tidur. Hehehee…


Sukaregang – Pusat Kerajinan Kulit

Sampai di Garut (kabupaten), sekitar pukul 10.00 yang mana jalanan cukup pada dan lawan arah kita ya padat sekali alias macet. Tiba di kota Garutnya, sekitar pukul 11.00 dan kita langsung nyari Jl. Ahmad Yani yang mana tujuan kesana adalah liat (etapi malah jadi beli) pusat kerajinan kulit Sukaregang. Menurut informasi dari beberapa pihak, kerajinan kulit asli Garut itu bagus dan harganya murah. Jadilah si bapak beli (tepatnya bikin) jaket kulit disana. Harganya emang Cuma separo dari yang beredar di Jakarta. Bener, nggak pake bohong. Nawar pun udah nggak bisa, karena emang harganya udah miring semiring topi. Kurang Rp 50,000 doang udah mentok. Untuk cowok, emang banyak pilihan. Tapi kalau untuk cewe, pilihannya sangat sedikit. Aseli, buat saya pribadi, nggak tertarik.



Di Sukaregang ini, kita sempet muterin daerah Jl. Gagak Lumayung dengan naik delman. Nares requested donk, “Mau naik kuda, bu...” katanya. Jadilah kita naik delman, keliling Jl. Gagak Lumayung dengan jarak sekitar 2km dan Rp 25,000 nggak mau ditawar juga. Ahahaha, sayang anak sayang anak ya bungkus sajalah. Eiya, masih cerita tentang Jl. Gagak Lumayung, jadi ini merupakan daerah yang juga jualan kerajinan kulit, tapi harganya nggak semahal yang di Jl. Ahmad Yani karena Jl. Ahmad Yani itu merupakan pinggir jalan besar yang mana daripada yang mana harga sewa kios akan lebih mahal daripada yang tidak dipinggir jalan besar itu. Jadi, kalau emang bisa milih dan masih mau usaha, berbelanjalah di Jl. Gagak Lumayung itu. Tokonya sih emang nggak banyak, tapi asal rajin dan mau, ya pasti bisa dapet.


Rumah Makan Cibiuk – Sambal 15 rupa

Selesai dari Sukaregang, kita lanjut makan siang ke Rumah Makan Cibiuk nan kesohor di seantero Garut. Katanya, kelau nggak ke Cibiuk itu ya belum ke Garut. Sampai di TKP Cibiuk sekitar pukul 12.30 dan Nares dalam keadaan tidur siang. Kita pesen tempat lesehan, secara Nares lagi tidur dan berharap Nares bisa ditidurin di saung itu. Tapi ternyata ya nggak bisa donk, pas ditidurin ya pasti bangun. Okelah sip. Si bapak sholat dulu, baru pesen makan deh. Makanan datang setelah 10 menit kita order. Everything looks super duper yummy. Ahaha, emang dasar aja itu gw yang laper sih, jadinya udah ngiler duluan. Ehm, kita juga pesen Es Goyobod loh, itu semacam es telernya di Garut. Isinya ada kelapa, nangka, dan semacam cenil ala es selendang mayang nya betawi, trus pake santan dan gula kelapa.



Dengan makanan yang kita pesan seperti di gambar (nasi liwet merah dan putih, udang asam manis, empal, sayur genjer, ikan peda goreng, bakwan jagung, dan es goyobod) kita menghabiskan Rp 121,000 (sudah termasuk pajak). Murah kan? Iya dibanding kalau makan di Jakarta dengan menu seperti itu, bisa habis Rp 200,000. Recommended lah makan disini. Fasilitas lengkap dan rasa pun boleh punya.


Sabda Alam – Waterpark Air Panas

Selesai makan di Cibiuk, kira-kira pukul 15.00, kita menuju ke Pemandian Air Panas di Sabda Alam yang daerahnya ada di Cipanas. Perjalanan dari Cibiuk ke Sabda Alam cukup 15 menit saja kok. Jalanannya bagus nggak pake rusak dan cukup untuk 2 mobil. Pake mobil sedan yang stance juga bisa. Kalau di area sekitar Cipanas ini emang banyak penginapan dan pemandian air panas. Tapi emang yang terkenal waterparknya ya di Sabda Alam. Sabda Alam sendiri, ada penginapannya. Tapi kemaren kita nggak kebagian kamar disini, karena fully booked dan nyisa yang bungalow untuk 3 kamar. Ya kali ye, Nares sekamar sendiri, bapaknya sekamar sendiri, dan saya sendiri. Bersumber dari info yang dipercaya, pemesanan kamar di Sabda Alam harusnya dilakukan 3 atau 2 bulan sebelumnya. Waddaaauuww, lah ini aja rencana dadakan baru dari awal tahun, mau nunggu 2 bulan lagi ya udah basi lah.

Informasi mengenai Taman Air Sabda Alam:
Weekdays : Rp 30,000/orang (anak-anak dibawah 4 tahun sepertinya grateish)
Weekend : Rp 40,000/orang
Sewa loker : Rp 5,000 untuk yang kecil dan Rp 10,000 untuk yang besar
Sewa ban : Rp  untuk yang double – yang singke nggak tau berapa
Parkir : Mobil Rp 5,000/sekali masuk – motor nggak tau berapa.
Tutup : pukul 21.00
Boleh bawa ban renang sendiri dan bawa masuk makanan/minuman.



Overall, pemandian air panas ini banyak mainannya, tapi ada juga beberapa yang nggak bisa dimainkan karena rusak. Trus, airnya itu sebenernya bersih, tapi karena lumutnya nggak dibersihin alias kurang maintenance, jadilah agak kotor itu airnya. Kotor serpihan lumut aja sih. Eh ada juga sing, sampah-sampah gitu. Sampah pita, sampah sim card, sampah yang perintilan gitu lah. Payahnya orang Indonesia, nggak bisa jaga kebersihan.

Menjelang maghrib, kita udahan deh tuh main airnya karena siap-siap mau makan malam dan istirahat di hotel. Nah, sayangnya lagi nih, kebersihan di kamar bilasnya nggak terjaga. Sampai sachet bekas shampoo dan sabun berserakan di lantai. Pemirsah, urusan kebersihan di Indonesia ini memang sesuatu banget ya. Padahal timbang buang sampah di tong sampah aja susah banget banget?


Makan Malam – Pondok Sate Tegal

Rencana makan malem di Pasar Ceplak yang terkenal seantero Garut, gagal ya sodara-sodara. Garut malem minggu kemaren diguyur hujan deras bin lebat. Akhirnya kita nyari makan yang nggak jauh dari hotel yang mau kita tumpangin buat tidur. Ketemulah itu Sate Tegal. Nothing’s special dari rumah makan ini kecuali tempatnya yang bersih dan pelayannya ramah-ramah. Harga standard banget (sate ayam 10 tusuk Rp 15,000 dan sate kambing 10 tusuk Rp 30,000 serta sop iga kambing Rp 22,500). Minum dapet teh tawar refill, grateish).


Hotel – Bintang Redannte

Nggak kebagian kamar di Sabda Alam (sesuai dengan rekomendasi banyak orang, yang bagus ya Sabda Alam), akhirnya sang suami mencari hotel lain yang bagus dan pasti harganya yang nggak menohok. Satu malam saja dan tepatnya hanya beberapa jam saja, jadi nggak perlu yang bagus-bagus banget. Yang penting bersih lah, nggak busuk-busuk banget karena bawa bocah (alesan banget deh). Ketemulah akhirnya Hotel bintang Redannte, di daerah Samarang dengan harga yang cukup bersahabat. Bungkus…



Sampe di hotel, sekitar pukul 20.30 langsung ditanyakan sama juru parkir, pesanan atas nama siapa. Weeew, tampak penuh ye ni hotel. Kalo belum pesan, bisa-bisa nggak kebagian kamar. Nggak nyangka ye, tengah-tengah bulan masih aja orang keliaran macam saya ini. Hihihi… Pelayanan di hotel ini bagus deh. Kamar hotel juga bersih. Parkiran cukup luas. Perlengkapan di kamar juga lumayan komplit (peralatan mandi ada, peralatan minum air panas juga ada, TV ada, air panas buat mandi pastinya juga ada). Untuk harga kisaran Rp 400,000 sangat lumayan lah. Informasi yang saya dapatkan, kalo di Sabda Alam harga kamar standard, sekitar RP 700,000 (masuk taman airnya gratis). Ya emang belum rejeki siyh nginep di Sabda Alam…

Pukul 09.30 di hari Minggu, kita check out dari Bintang Redannte. Sebelumnya, kita sarapan pagi di lobby hotel. Menu sarapannya sangat sederhana, tapi ya Alhamdulillah disyukuri saja. Menu yang ada kemarin itu : nasi goreng, sosis ayam, sosis sapi, telur ceplok, nasi putih, daging teriyaki, buah semangka dan papaya, dan roti tawar dengan selai strawberry, mentega dan coklat. Rasanya? Memang super duper standard. Tapi sekali lagi, syukuri sajaaa… xixixi.


Kebun Mawar Situhapa

Last destination kita di kota Garut ini adalah Kebun Mawar di Situhapa. Perjalanan dari hotel sekitar 30 menit. Perjalanan naik mobil sedan menuju ke Kebun Mawar ini masih bisa dilalui dengan sedan (mobil stance masih bisa lewat kok, asal siap-siap gasruk dikit lah). Pemandangan menuju Kebun Mawar sangat indah. Sawah dan bukit hijau, belum lagi kebun sayur yang menggairahkan. Pokoknya adem banget deh.

Sampai di Situhapa ini, gerimis kecil menyambut kedatangan kita. Jadinya, boleh minjem payung yang disediakan sama pengelola Kebun Mawar ini. Gratis kok, asal beli tiket masuk ke Kebun Mawar yang seharga Rp 15,000 per orang dewasa. Enaknya, pas kita sampai di kebun mawar ini pengunjung masih belum terlalu ramai, jadi parkir mobil masih gampang. Pas pulangnya, mobil sudah mulai ramai, dan sepertinya semakin siang akan semakin ramai deh nih parkiran.


Kebun Mawar ini ternyata nggak Cuma sekedar kebun mawar, tapi ada penginapan dan resto juga. Penginapan dengan 1 kamar, dibandrol harga sekitar Rp 1,000,000 per malamnya. Model cottage atau villa kayu gitu. Sangat natural suasanya karena penginapan tersebut berada di tengah-tengah kebun. Pas kita keliling, ada yang lagi foto prewedding. Emang tempatnya bagus banget kok buat prewedding. Sayangnya pas kita kesini, lading kebun mawar lagi nggak musimnya, jadi nggak banyak bunga-nya. Yang keliatan jadinya ya daun mawar deh. Hihihi… Disini, ada juga miniatur kebon kaktus, kolam dengan penuh bunga lotus, ada beberapa bunga hebras dan dahlia, juga giant kembang sepatu. Nice lah… buat penggemar bunga, tempat ini bisa dijadikan objek tujuan.

Mau lihat beberapa gambar bunga di kebun mawar? Monggo ke Instagram saya di @monanyafani. Disana lebih banyak gambar bunga-bunga yang cakep-cakep (ini emang bunganya yang cakep ye, bukan fotonya yang cakep).





Time to go Home

Saatnya pulang, kembali ke Jakarta (aseli belum rela waktu senang-senangnya berakhir). Tadinya kita mau ke Puncak Darajat, tempat yang saat ini pun masih happening di Garut. Tapi perjalanan ke Darajat Pass itu masih 45 menit dari hotel tadi ya masih lanjut 15 menit dari kebun mawar, dan kita takut kemaleman sampai Jakarta, eksekusi lah kalau kita balik ke Jakarta. Mampir dulu sebentar ke toko oleh-oleh khas Garut. Kebanyakan jual dodol garut, tapi saya malah beli kerupuk kulit darokdok saja. Dodol sudah bosan.


Makan Siang – Nasi Liwet Asep Stoberi

Nah, menuju pulang, kita mampir makan di Rumah Makan Nasi Liwet Asep Stroberi. Lokasinya sekitar 30 menit dari tadi kita mampir beli oleh-oleh. Letaknya ada di pertigaan jalan. Nah, ternyata Asep Stroberi itu ada dua di sekitar situ, yang satu banyak fasilitas mainnya dan yang satunya lagi lebih ke tempat pemancingan. Kita milih yang banyak fasilitas mainnya. Walaupun Nares nggak main juga di situ, tapi pasti dia seneng main-main.

Pesenan kita Nasi Liwet Ayam Goreng dan sup jamur. Cukup. Minum pun hanya the tawar hangat gratisan. Pelit?! Biarin! Yang penting gratis. Nasi liwetnya enak. Ayam goreng nya mah biasa. Sambel dan lalapan juga enak. Nah, yang maknyus, kata suami saya itu adalah ikan peda’nya. Nyuus… Saya nggak ngerti bedain ikan peda yang enak dan nggak. Kita makan berdua (tiga sama Nares ding), habis Rp 91,000. Kalau diperhatikan, menu di Asep Stroberi itu mirip dengan di Cibiuk, dan harganya relative sama. Di Asep Stroberi ini ada toko souvenir dan oleh-oleh yang cukup besar. Jadi bisa sekalian belanja oleh-oleh disini.



Nah, tamatlah cerita saya jalan-jalan ke Garut kali ini. Perjalanan singkat dengan perencanaan yang singkat tapi cukup menghibur hati dan menghilangkan kepenatan dan kejenuhan di Jakarta. Pake mobil sedan Corolla tahun jabot, cukup isi full tank dari Jakarta dan cukup sampai Jakarta lagi (kalo nggak macet jahanam yeee). Buat yang mau ke Garut, mau nginep di daerah Cipanas, coba reserved hotelnya jauh-jauh hari deh, daripada nggak kebagian model saya ini. 

Selamat kembali ke Jakartaaa.... ;p

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post