8.09.2011

KEJAMNYA TRANSPORTASI JAKARTA

Saya benar-benar sudah muak dengan kondisi angkutan umum di kota Jakarta ini.

Tulisan ini saya buat karena sudah tak mampu membendung amarah yang meluap. Saya sudah terlalu jengkel dengan segala ide-ide yang katanya “inovatif” untuk menangani dan mengatasi kemacetan di kota Jakarta ini. Para ahli dan para pejabat yang mempunyai posisi serta kedudukan penting di pemerintahan kota, tampaknya tak sehebat yang seharusnya.

Keseharian saya, berangkat dan pulang kerja menggunakan kendaraan pribadi (baca: mobil). Ya, saya mulai menggunakan kendaraan pribadi ini pada saat saya kuliah. Jarak rumah dengan kampus yang tidak terlalu jauh, sekitar 4km, seharusnya dapat saya tempuh dengan menggunakan angkutan umum. Metromini B92 dan angkutan kota mini C13 sebenarnya dapat mengantarkan saya dari rumah ke kampus. Namun saya tetap memilih untuk menggunakan kendaraan mobil yang dimiliki orang tua saya, untuk dapat sampai di kampus. Bus yang penuh sesak, bau keringat, hampir menjadi korban pencopet, diturunkan di tengah jalan, supir bus ugal-ugalan, tidak mendapat tempat duduk, suara mobil yang berisik, asap rokok, membuat saya memutuskan untuk tidak menggunakan kendaraan umum.  Akhirnya, hingga kini (setelah 12 tahun berlalu dari masa kuliah) saya tak berniat sekali pun untuk menggunakan angkutan umum, khususnya bus atau angkot.

Entah siapa yang seharusnya bertanggung jawab akan kondisi angkutan umum di kota Jakarta ini? Siapa pula yang harus bertanggung jawab atas kemacetan di Jakarta ini? Siapa? 

Hampir setiap hari, pemikiran dan terobosan baru untuk mengatasi kemacetan di Jakarta ini menjadi tulisan di surat kabar ibukota maupun surat kabar nasional. Dimulai dengan sistem 3 in 1, pencanangan busway, pengenaan pajak progresif buat kendaraan pribadi, rencana pemberlakuan plat mobil ganjil genap, rencana penarapan ERP, dan mungkin rencana-rencana lainnya yang belum tercantum di notes saya ini, menjadi masukan untuk mengatasi kemacetan di Jakarta. Intinya, semua aturan untuk menekan angka kemacetan itu hanya tertuju untuk kendaraan pribadi (khususnya mobil). Tapi saya yakin dengan seyakin-yakinnya saya, tidak akan berhasil semua itu. Orang Jakarta itu berduit kok. Nggak khawatir lagh, untuk bayar atau beli sesuatu demi kenyamanan. Trust me!

Para pemimpin itu sebenernya sadar nggak ya, apa permasalahan utama kemacetan di Jakarta ini? Apa yang membuat Jakarta ini sampai sebegitu macetnya? Apa yang membuat orang Jakarta lebih memilih naik kendaraan pribadi dibanding kendaraan umum?  Apa dan dimana akar permasalahannya? Sebenernya simple kok. Jawabannya cuma karena angkutan umum massal di Jakarta ini nggak layak. Nggak layak banget malahan. Kebayang degh, kalo para pekerja kantoran yang harus tampil parlente itu naik kendaraan umum yang busuk. Busuk banget malah. Kalau saya pribadi, lebih baik mengeluarkan uang lebih banyak tapi bisa mendapatkan kenyamanan. Daripada harus berdesakan dan hidup susah di kendaraan umum. Kondisi bus dan angkot di Jakarta itu dibilang standard aja nggak, apalagi mau dibilang nyaman. Mau bandingin dengan kondisi bus di Singapore? Jangan mimpi. Coba aja liat perbandingannya....



Jakarta nggak punya angkutan umum massal yang dapat menampung jumlah warganya. Angkutan umum Kereta api hanya terjangkau di beberapa titik. Belum lagi infrastruktur jalan rel yang tidak memadai jumlahnya. Sementara pemerintah sendiri kalau yang saya perhatikan, sepertinya kurang mendukung dengan moda transportasi ini. Yang saya perhatikan, penambahan jalan toll jauh lebih banyak jumlahnya dibanding dengan penambahan jumlah jalan rel. Entah kenapa dengan pemerintah ini?


Okey, saatnya kembali ke dunia nyata. Kembali berkutat dengan ketidaknyamanan berkendaraan umum di Jakarta. Sampai kapan ya, warga Jakarta harus menikmati kondisi yang tidak enak ini? Miris rasanya. Angkutan umum layak guna tak tersedia, sementara punya mobil pun terus ditekan sama pemerintah... Tuhan, berikan mukjizatMu...


No comments:

Post a Comment

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post