4.22.2016

TOTAL HIP REPLACEMENT (2)

Yuk akh lanjut... mari bercerita lagi mengenai operasi ibu, ganti tulang bonggol paha kemarin itu. Cerita bagian 1 nya boleh ceki-ceki disini ya.... Udah berlalu hampir 1 bulan lamanya, tapi masih inget kok langkah-langkah yang ditempuh untuk operasi Total Hip Replacement (THR). Pastinya juga nggak akan terlupakan kok, secara ini bukan operasi yang kecil untuk skala pemikiran saya. Emang banget, waktu yang berjalan itu juga udah cukup membuat saya dan keluarga inti saya dag dig dug ser ser ser...

Setelah ketiga dokter yang kami kunjungi merekomendasikan ibu untuk dilakukan operasi penggantian tulang bonggol paha, setelah sampai 7 bulan lamanya (macam orang hamil aja pakai nujuh bulan), akhirnya keluarga inti kami siap untuk melaksanakan operasi. Jujur aja emang, biaya yang dipergunakan untuk melakukan operasi bukan jumlah yang kecil. Tapi yang namanya buat kesehatan, buat kesembuhan, pasti ada jalannya dari Allah... (aamiin). Beberapa kerabat memang menyarankan kami untuk mencoba menggunakan BPJS, karena Bapak /Ibu kan anggota Askes yang mana daripada Askes sekarang dilebur ke BPJS. Dari dulu awalnya Asabri, Askes, dan kemudian dilebur menjadi BPJS sekarang kan ya?

Sempat banget memikirkan untuk menggunakan BPJS, karena selama ini Bapak bekerja, walaupun sekarang sudah pensiun, tapi selama beliau bekerja, iuran untuk Askes tetap ada. Nah, begitu lihat lagi ke kenyataan, betapa saat ini aplikasi di lapangan untuk penggunaan BPJS masih belum semudah membalikkan telapak tangan, maka keluarga inti kami mengurungkan niat untuk menggunakan BPJS. True story niy... ayah temen saya pun ada yang harus menjalani operasi penggantian tulang dengkul dan menggunakan BPJS. Hal yang terjadi adalah, pagi-pagi sebelum adzan subuh berkumandang, dirinya sudah harus siap untuk antri ambil nomor antrian di RS. Houbaaah... mau jam berapa dari rumah...? Ya Allah... Bismillah ya... nggak pakai BPJS.

Langkah berikutnya adalah kita menentukan Rumah Sakit mana dan dokter yang akan kita pilih. Semua dokter Orthopedi yang pernah kunjungi, adalah dokter yang baik, dokter yang hebat, dokter yang punya nama, dokter papan atas... Beneran lah... alhamdulillah ya... dikasih rejeki untuk ketemu dengan beliau-beliau. Justru sekarang kita sendiri yang bingung, mau ke RS dan dokter yang mana? Hahahahaa... yang ini jangan ditiru deh ya pemirsa... ini macam orang pacaran, punya 2 atau 3 orang pacar, terus semuanya baik, semuanya oke, bingung mau dinikahin sama yang mana? Hayaaaah... Akhirnya pun saya kembali konsultasi dengan seorang dokter yang kebetulan sahabat sendiri. Sarannya, cari RS yang fasilitasnya paling lengkap. 

Okey, PR selanjutnya setelah memutuskan untuk operasi, adalah memilih RS-nya. Untuk dokter, kami udah nggak milah milih lagi, secara dokternya semua oke punya. Faktor yang kami pertimbangkan untuk RS adalah fasilitas RS-nya lengkap dan bagus, RS-nya dekat dari rumah, dan RS-nya nggak yang mahal-mahal banget yaaa.... ahahahah... karena urusan celengan pasti nggak bisa bohong. Sebisa mungkin yang paling murah, tapi sebisa mungkin yang paling bagus. Bukan kah begitu, pemirsa? Ahahahaha... 

Dari segala faktor yang perlu dipertimbangkan, kita sangat memprioritaskan jarak RS dengan rumah bapak ibu yang terdekat, yaitu di RS Pondok Indah - Puri. Paling dekat dibanding dengan RS yang lainnya, yaitu RS Medistra dan RS PAD Gatot Subroto. Jarak dari rumah hanya sekitar 6 km saja kok, jadi waktu tempuh untuk bolak balik RS nggak terlalu lama juga harusnya. Kebayang kan kalo harus habis waktu di jalan karena macet? Nggak banget deh. Capek badan, nguras kantong buat beli bensin dan pastinya habis waktu. Bungkus : RS Pondok Indah Puri yang mana dengan dr. Muki Partono, SpOT ya.... 

Okey, akhirnya kami datang lagi ke dr. Muki untuk konsultasi final sebelum operasi. Ibu nggak ikut ke RS, udah males dan yang pastinya memang sakit untuk berjalan. Alhamdulillah, dokter mengijinkan untuk konsultasi tanpa pasien, modalnya pun hasil rontgen terakhir yang kita kunjungan ke beliau. Thanks, dok! Dokter pun langsung kasih rujukan atau rekomendasi tercatat untuk tindakan-tindakan yang akan dilakukan oleh Ibu. Hahaha... pastinya akan terkait dengan biaya, yaaaaa.... Syukur alhamdulillah juga, jadwalnya bisa langsung dapet dari dokter. "Next week, ya... Rabu...", demikian kata pak dokter. 

Ibu diminta masuk RS pada hari Selasa, karena Rabu akan dilakukan tindakan operasinya. Di hari Selasa itu, Ibu harus konsultasi dengan dokter internis, dokter jantung, dan dokter anastesi. Pemeriksanaan yang dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap (atas permintaan dokter internis), pemeriksaan jantung dengan EKG (atas permintaan dokter jantung), dan dokter anastesi nggak ada periksa apa-apa selain periksa kondisi ibu tanpa ada laboraturium atau radiologi. Oh iya, ada periksa kondisi paru -paru ibu aja, dengan foto thorax. Alhamdulillah, semua pemeriksaan lancar dan hasilnya juga bagus... Makanya dr. Muki langsung kasih green light untuk operasi besok harinya. bismillah ya Allah, mudah-mudah semuanya berjalan dengan lancarnya.

Hari yang ditunggu pun tiba. Karena operasinya di siang hari, maka ibu diwajibkan berpuasa dari pagi hari. Sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh dr. Muki, Ibu akan dipindah ke ruang operasi sekitar pk 13.00. Pk 13.00, ibu dipindah ke ruang operasi di lantai 3, dari ruang perawatan di lantai 6. Sebelum masuk ruang operasi yang beneran (macam studio operasi), ibu harus nunggu terlebih dahulu di ruang transisi. Di ruang ini, kami sebagai keluarga masih bisa nungguin ibu. Ini ruang setengah operasi kayaknya. Macam ruang tunggu. Tapi yang nunggu cuma ibu sendiri aja. Tepat pkl 1400, ibu sudah dipersilahkan masuk ruang operasi yang benerannya. kita keluarga udah nggak boleh nungguin lagi, udah harus keluar. Baiklah bu..., semoga lancar ya bu...

Saat operasi berjalan, kami pihak keluarga wajib nunggu di ruang tunggu operasi yang tempatnya di depan ruang operasi. Kalau kata mba suster, in case ada informasi yang perlu disampaikan ke keluarga, maka bisa cepat nyarinya. Well noted lah sus... ada yang jaga kok, tenang aja... Hingga pkl 17.20, akhirnya suster dan dokter manggil kita. Menginformasikan kalau operasi berjalan dengan lancar, ibu masih dalam keadaan tidur karena walau bius lokal, ibu dikasih obat tidur. Alhamdulillah ya Allah, operasi ibu berjalan dengan lancarnya. Sambil menunggu ibu diobservasi setelah operasi, ibu harus masuk ke ruang pemulihan 2 yang nantinya akan dilanjut ke ruang pemulihan 1. Ini hanya untuk memantau kondisi ibu. Jika aman jaya lancar, bisa langsung dipindahkan ke kamar perawatan lagi ya. Ahahahahah... ya, namanya juga baru banget abis operasi ya.... Tapi yang jelas, ibu udah laper banget, karena puasa dari pagi, trus pasca operasi belum bisa langsung makan karena masih ada rasa mual-nya. Minum air putih pun hanya seteguk aja... Sabar ya bu... hopes everything will be okey soon... emang proses yang harus dijalanin. Oia, malam itu juga, setelah operasi Ibu, kondisi tulang yang diganti, langsung difoto rontgen.

Lihat kan ya... ada sekrup... tuh sisi sisi sebelah kanan

Pasca operasi 3 hari, ibu diperbolehkan untuk berjalan. Atas instruksi dr. Muki, ibu dilatih berjalan. Untung dari rumah udah disiapin walker yang dulu dibeli pas operasi bapak. Udah 8 tahun umurnya walker itu. Hari ke 4 pasca operasi, dr. Muki kasih green light untuk pulang. Alhamdulillah, kondisi ibu memang baik, makanya dokter kasih pulang ke rumah. yeheee... Well done, operasi selesai, kita pulang ke rumah, bu... bismillah ya, semoga udah nggak sakit-sakit lagi kakinya. Pemulihan, menurut dr. Muki bisa sampai 6 bulan lagi baru lepas tongkat. Mudah-mudahan semua sesuai schedule ya... 

4.07.2016

TOTAL HIP REPLACEMENT

Judul postingan yang agak sulit dimengerti buat saya. Berbahasa Inggris, yang artinya penggantian total paha kalau saya nggak salah ngartiin. Nah, iya banget... paha diganti. Tulang paha tepatnya, dan itu pun hanya bonggolnya saja, sendi di paha. Agak ngilu emang mendengarnya, tapi begitulah keadaannya. Kejadian ini yang terjadi dengan ibu saya. Kondisi tulang paha-nya semenjak September 2015, menjadi tidak sempurna lagi. Ibu susah berjalan semenjak September 2015. Dari yang normal bisa berjalan, kemudian harus dibantu dengan tongkat, dan akhirnya sangat susah sekali berjalan. Sakit, ngilu, nyeri, itu yang dirasakan oleh Ibu.

Sakit di bulan September 2015, Ibu berobat ke dokter spesialis syaraf di RS Pondok Indah - Puri. Bertemu dengan dokter cantik dan baik hati, ibu sempat divonis seperti cedera otot. Sehingga perlu akhirnya di rontgen, dan di rujuk ke dokter Fisioterapi. Dokter fisioterapi menyarankan untuk melakukan beberapa terapi di rumah sakit, yang kemudian juga dilanjutkan dengan mencoba terapi alami, yaitu jalan di air. Jadilah ibu, selama 2 bulan itu terapi dan berjalan di air. Namanya juga semangat mau sembuh, ya apapun dilakukan. Alhamdulillah, masih sangat bersyukur, ada kolam renang deket sama rumah, cukup 5 menit naek mobil udah sampe...

Terapi di RS sudah, terapi renang juga sudah... tapi kondisi masih begitu juga... tidak ada perubahan sama sekali. Kalau kata ibu, sama sekali nggak ada perbaikan, malah kok makin sakit ya... Walaaah...

Ibu saya kemudian kembali dibawa ke dokter. Kali ini Ibu dibawa ke dokter ahli tulang dan bedah (apa bedah tulang, ya?), ke salah satu dokter Orthopedi nan masyhur di RS swasta daerah Pancoran. Kebetulan memang Bapak pernah ke beliau waktu dulu ada permasalahan dengan tulang belakang bapak yang sedikit bergeser. Alhamdulillah, waktu itu Bapak nggak perlu dioperasi untuk mengatas pergeseran tulang belakang. Cukup dengan terapi obat dan berjalan di air (dengan metode yang sama untuk Ibu), dan bapak bisa kembali berangsur pulih. Dokter di RS ini memang cukup senior, dan jam terbangnya tak diragukan lagi.

Setelah bertemu dengan dokter orthopedi di RS daerah Pancoran ini, dengan melihat kondisi ibu dan foto keadaan tulang paha Ibu, maka sang dokter menyarankan Ibu untuk dilakukan operasi. Intinya bentunk tulang bonggol paha Ibu, sudah tidak sempurna. Makanya harus diganti. Hmmm, kok dengernya ngilu banget ya. Tulang mau diganti. Ini pasti penyakit bukan sembarang penyakit. Pemikiran saya, kalau dokter senior ini sudah bilang untuk dilakukan tindakan, apalagi dokter yang lain ya... Pasti 2 kali lipat merekomendasikan untuk dilakukan operasi-nya. Oleh-oleh buat Ibu dari dokter ya cuma penghilang rasa sakit saja. Tapi nggak menyembuhkan.

Oktober 2015 akhir, Ibu minta untuk dicarikan second opinion. Ya masih berusaha untuk mencari solusi yang tidak melakukan operasi. Maklum, kami sekeluarga cukup shock ketika Ibu diminta dokter untuk melakukan operasi. Ya faktor umur, faktor minim pengalaman, faktor lainnya yang bikin kami sekeluarga cukup merasa "down". Jujur saja, kami sekeluarga memang agak ngeri kalau sudah dengar yang namanya harus operasi, walaupun mungkin kategori operasi yang dilakukan adalah operasi yang tidak besar, tetep aja namanya operasi. E tapi ya kan, ngebaca penyakit nyokap ini, bukan operasi yang kecil sepertinya.

Ibu akhirnya memutuskan untuk ke dokter (yang lain lagi) di akhir Oktober 2015. Pilihan Ibu adalah, dokter yang praktek-nya dekat dari rumah, soalnya biar bolak balik ke RS nggak jauh, nggak macet. Emang iya, secara kondisi ibu berjalan ya sudah susah. Saya pun browsing, dan menemukan dr. Muki Partono, SpOT di RS Pondok Indah - Puri. Bungkus aja, siap-siap ketemuan konsultasi dengan beliau. Mungkin masih ada jalan untuk tidak operasi. Eh tapi malah nyatanya ya sama aja. Operasi, begitu saran dr. Muki. Huaaaah, rasanya antara percaya nggak percaya (walau bukan lain dunia), menerima nasib kondisi ibu yang demikian harus di operasi.

Udah 2-0 skor nya untuk operasi. Coba aja lagi cari third opinion kalau begitu, mungkin masih ada yang bisa mengembalikan kondisi ibu, tanpa harus operasi. Akhirnya, kita dikasih informasi bahwa di RSPAD Gatot Subroto ada tehnik laser untuk penyembuhan pengapuran. Dikasih juga referensi dokter ahli tulang-nya. Nggak main-main, dikasih dokter ahli tulang yang punya jabatan di salah satu organisasi dokter tulang se-Indonesia. Kita akhirnya pergi ke RSPAD, ketemua beliau, tanpa kehadiran Ibu dan membawa hasil rontgen terakhir saja. Dijelaskan ina inu anu ini, akhirnya dokter juga memutuskan untuk dilakukan operasi. Oh well done, pemirsa. Operasi.

Itu tulang yang rusak (ilustrasi dari sini)

Tulisan lanjutannya ke episode 2 ya... 

3.25.2016

TOURING LAGI... ALTIC MOUNTAIN ADVENTURE

Touring lagi dan lagi... jujur aja ya, emang kalau touring itu, penuh dengan suka dan seru... Bikin kangen maksimal. Makanya, Altis Indonesia Community bikin touring lagi di Maret 2016 ini. Tujuannya ke Lembang, geser dikit dari Bandung. Ini merupakan touring perdana ALTIC di tahun 2016, secara ada 2 touring besar lagi lainnya di pertengahan tahun dan nanti penghujung tahun. Tujuannya? Rahasia akh, biar seru... qiqiqi...

Persiapan touring nggak hanya dilakukan pas hari mendekati touring, tapi udah jauh-jauh hari sudah dipersiapkan. Iya donk, secara touring kali ini, kita sosialisasi Well Behaved Driver. Mengedukasi pengendara lain untuk berlaku sopan di jalan. Apalagi kan emang biasanya kalau touring itu, cenderung peserta touring merasa jagoan. Tapi alhamdulillah ya, ALTIC nggak begitu. Kita justru mengedepankan bagaimana caranya touring yang benar dan baik. Mulai dari pembagian kendaraan dengan beberapa cluster, susun line up sebaik mungkin, dan pastinya edukasi WBD ke member ALTIC. Nah, nanti tinggal member ALTIC yang meneruskan edukasi WBD ke driver lainnya. Tapi ini bukan bisnis berantai ya...

Touring dengan judul ALTIC Mountain Adventure yang diadakan tanggal 19 - 20 Maret 2016 ini diikuti oleh 75 kendaraan member dan dengan total 139 peserta. Pastinya emang kalau touring emang enak bawa keluarga. Namanya juga ALTIC, semboyannya Not Just Brotherdhood, We Are Family. Jadi, emang bagus donk ya, touring bawa keluarga, biar bisa saling kenal satu sama lainnya. Nah, 75 kendaraan ini, datang dari berbagai macam chapter ALTIC. Ada yang datang dari Medan, Padang, Banten, Bogor, Jawa Tengah, Jogjakarta, sampai Bali. Kalau Jakarta dan Bandung siy udah nggak perlu disebut ya... emang udah markasnya.

Siap-siap berangkat
Line Up
Rameee...

Berangkat pkl 07.00 dari Rest Area KM 39 Toll Jakarta – Cikampek, diawali dengan  briefing oleh ketua event acara, om Paunk dan briefing oleh ketua umum ALTIC, om Arul. Ya mulai dari baca doa, reminder tata cara touring, dan sebagainya. Dari Rest Area langsung menuju Lembang. Alhamdulillah, nggak ada halangan di jalan. Lancar. Ternyata touring yang baik dan benar, nggak perlu ugal-ugalan, nggak perlu tet tot tet tot, nggak perlu rusuh. Everything is fine and under control, rombongan dipimpin oleh RC (Road Captain), dijagain sama SO (Safety Officer) dan ditutup oleh SW (Sweeper). 

Sampai di Lembang, acara kita dibuka dengan mampir ke SDN Pancasila Lembang untuk berbagi sedikit peralatan sekolah. Senengnya bertemu dengan adik-adik dan ibu guru disana. Iya dooonk, kita kan komunitas yang peduli sesama. Nggak Cuma keren di jalanan, keren di modifan mobil, tapi juga peduli dengan lingkungan sekitar. Makanya, kita share sedikit yang kita punya dengan mereka. Sedikit juga lumayan lah ya..., daripada nggak sama sekali. Kita happy, mereka juga happy kok... 

Selesai dari SDN Pancasila, kita lanjut ke Villa Gardenia, tempat kita nginep. Disinilah keseruan dimulai. Mulai dari haha hihi sampai sampai cebar cebur gabruk... ya, namanya juga touring. Kalo nggak rusuh, nggak touring namanya. Korban kali ini adalah om Zoel, ketua chapter Medan yang baru dibentuk ini. Seru kan, datang dari jauh, trus malah dikerjain. Horas ya om Zoel...

Kunjungan ke SD Pancasila Lembang
Sosialisasi WBD oleh Ketum ALTIC
Sukseskan WBD yaaa....

Peresmian Chapter Medan
Pagi-pagi biar seger...
Demi setumpuk voucher...

Terima kasih banyak ya, buat para sponsor, Toyota Astra Motor, GT Radial, Auto 2000, Mediatama Binakreasi, Autoside Indonesia dan TKB Group. Juga buat para pendukung acara ALTIC Mountain Adventure, mulai dari ACC, Garda Oto, Pertamina Lubricants, Pinky Guard, Auto Bridal, C80, Oatsbits8, Kopi ABC, Garudafood, Big Cola Indonesia, F88 minuman energi, Viro Air Mineral, TKB group, Auto Rotary, Duta Motor MGK, karena berkat para sponsor dan para pendukung, acara kita kemarin jadi meeerrriiiaaaah....

ALTIC MOUNTAIN ADVENTURE... PERSIAPAN LAGI

ALTIC Mountain Adventure

Tahun baru... touring baru... seseruan baru... dan pastinya barenga sama temen-temen di keluarga besar Altis Indonesia Community (ALTIC). Agenda touring besar perdana di tahun 2016 ini akan menuju ke Lembang, sanaan dikit dari Bandung. Setelah Januari kemarin sukses mini touring ke Serang dan emang kece badai, maka touring kali ini lebih ke tengah pulau Jawa lagi. Biar yang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dan Bali dan daerah timur lainnya bisa gabung di touring ini. Cusss lah ya...

Touring yang direncanakan diadakan tanggal 19 Maret ini, punya banyak kegiatan bermanfaat lho. Mulai dari sosialisasi WBD alias Well Behaved Driver, kegiatan CSR alias Community Social Responsibility, dan juga pastinya kegiatan seseruan bersama keluarga besar ALTIC. Seperti biasa, emang kita kalau touring nggak cuma konvoi-konvoi, pasti bakal ada ilmu-ilmu yang harus disampaikan. Iya dooonk, di komunitas kan juga harus nimba ilmu kan, ilmu urusan kendaraan pastinya. 

Well Behaved Driver ini merupakan sosialisasi buat pengendara biar nggak emosi di jalan raya. Salah satu bentuk mengelola emosi ketika nyupir mobil, yang ujung-ujungnya biar nggak terjadi kecelakaan. Jaman sekarang, kita nyupir bener aja bisa jadi salah. Apalagi nyupir yang salah kan, malah bisa jadi dua kali lipat salahnya. Makanya itu, sosialisasi dan edukasi WBD buat member ALTIC disuguhkan... ceile, bahasanya disuguhkan! Gubraaak...!!! Eh tapi ini beneran ya, kelola emosi itu nggak gampang lho... udah jalan nyantai, orang lain malah ugal-ugalan... kelar....

Direncanakan juga, nantinya kegiatan Touring ALTIC Mountain Adventure akan melakukan kegiatan bakti sosial untuk penduduk yang ada di sekitar lokasi touring kita, yaitu seputar Lembang. Kegiatan ini sudah biasa memang kita lakukan, tapi bentuknya sebenernya ganti-ganti. Pernah juga menyantuni adik-adik yang kurang beruntung (ini bukan riya' ya... tapi sekedar info aja). Kita sadar banget soalnya, komunitas ini komunitas palugada, jadi kalau seneng-seneng bisa, ya berbagi dengan yang lain juga harus bisa...

Seseruan sebelum touring lainnya juga ada lho, seperti on-air di Radio Brava FM 103.8 yang dihadiri oleh Ketua Umum ALTIC, Humas ALTIC, dan Team WBD ALTIC. Ahiy, ajib banget ya, mengudara. Belum lagi, sebelum touring, ada photo session yang dilakukan oleh GettinLow dan Rajamobil.com. Mobil yang difoto? Pastinya mobil yang kece badai. Hahaha... ya mobil handalan di ALTIC siapa lagi bukan kalau om Anto yang pakai velg HSR dari TKB group. 

Sedap kaaan...? Banget! Karena touring ini juga disponsori oleh Toyota Astra Motor, GT Radial Indonesia, Mediatama Binakreasi, Autoside Indonesia, Auto 2000, dan TKB group. Juga didukung oleh Pertamina Fastron, C-80 Carwash, Duta Motor, Yanspeed, Astra Credit Company, Garda Oto, Pinky Guard, Auto Bridal, Rotary Bintaro, Garuda Food, AJE Group (Big Cola), Kopi ABC & OAT8 Biscuit.

Persiapan Touring, bagi-bagi atribut.
On Air di Brava Radio FM 103.8 - yeaaah... 

Have fun go mad di #ALTICMountainAdventure bersama Altis Indonesia Community.

2.24.2016

GOODIES BAG ISI PRODUK RUMAHAN

Nares ulang tahun ke-5! Direncanakan untuk membuat syukuran kecil di sekolah-nya saja. Teman sekelas dan teman playgroupnya. Sederhana saja, tiup lilin, potong kue dan bagikan goodies bag. Udah pasti pun goodies bag yang sederhana, dan bukan produk pabrikan semata. Udah kebayang aja capeknya, tapi itulah saya. Suka dengan hal-hal yang berbau kerajinan tangan, lipat melipat kertas, pokoknya yang serba bikin sendiri. Punya kenikmatan sendiri ketika bisa bikin. Kecuali bikin kue, saya udah nyerah yaaa... Jadi, apa yang sanggup saya bikin sendiri, pasti saya bikin. Yang tak sanggup, saya akan serahkan kepada ahlinya.

Syukuran HUT Nares ke-5 ini, saya nggak punya konsep atau tema apapun, selain memberikan produk Homemade kepada temen-temen sekolah Nares. Dulu, guru sekolah Nares juga pernah pesan kepada orang tua murid, jika mengadakan ultah di sekolah, tidak disarankan memberikan makan yang mengandung MSG semacam snack-snack yang pakai bahan pewarna juga. Bukan apa-apa, ada beberapa anak-anak yang alergi makan perasa makanan, jadinya batuk-batuk deh. Kalau mau dibilang ya jangan dikasihin ke anaknya, kasihan juga... soalnya kan mereka lihat temannya pada makan, masa sendirian nggak makan? Ckckck... terlalu...

Okey, yuk mari bongkar isi goodies bag HUT Nares ke-5. Semoga bisa menginspirasi ibu ibu semuanya ya, memberikan goodies bag sehat buat anak-anak...


Puzzle 

Iya, saya menghadiahi anak-anak puzzle, daripada memberikan peralatan makan atau peralatan tulis lainnya. Kebetulan waktu itu ada bazaar di kantor pak suami, jual puzzle murah meriah buat anak-anak dengan karakter Winnie The Pooh, Cars, Frozen, dan Barbie! Yihaaa, lumayan banget ini. yang cowok bisa dapet The Pooh, atau Cars dan yang perempuan bisa dapet Frozen atau Barbie. Menurut saya, puzzle ini bisa membuat anak-anak bermain kan. Out of the box, kalau kata suami saya. Whatever itu, yang jelas harga dan barangnya lucu... ahahahaa...


Susu UHT

Yang ini  nggak mungkin bikin, udah pasti beli. Ya mau bikin gimana susu UHT? Beli aja di swalayan terdekat dengan harga yang terjangkau. Kebetulan waktu itu ada yang lagi promo, langsung deh borong susu UHT. Mau Indomilk, mau Ultra, mau Diamond, mau Frisian Flag, sama aja lah... tinggal liat yang masuk budget aja kok... dan lihat expired date-nya ya...


Spaghetti Bolognese

Menu ini dipilih sama saya karena gampang masaknya... tinggal cemplungin spaghetti-nya. Bumbu bolognese bisa bikin pun gampang pakai pasta tomat, daging cincang, dan bawang bombay. Males beli bumbu bolognese, bisa pesen rumahan. Yah, kalaupun mau juga, ada jual bumbu bolognese yang udah jadi, tinggal tambahin daging cincang atau apapun sesuai dengan selera. Lebih enak pakai parutan keju. Tapi kemarin saya udah gak sempat, makanya nggak pakai parutan keju deh.


Pudding Ubi Ungu

Bikin pudding ini gampang sekali. Beli agar-agar di supermarket, trus rebus atau kukus ubi ungu, ambil sari pati warnanya. jadi deh keungunan. Sehat karena nggak pakai pewarna buatan. Iya, pakai pewarna alami dari ubi ungu tadi. Pudding itu saya masukin ke cup-cup kecil bertutup, tinggal tambahin pakai sendok plastik. Jadi deh... Anak-anak cenderung suka warna yang menarik, tapi jangan juga dibantai pakai pewarna ya, kalau masih bisa pakai pewarna alami, kenapa nggak?


Nugget Ayam Wortel

Mencari pasangan makan spaghetti, agak bingung tadinya. Sempet kepikir mau kasih sosis, kebetulan ada temen jual sosis enak, tapi kok belum sreg sebagai padanan spagetthi. Akhirnya memutuskan bikin chicken carrot nugget. Iya, bikin sendiri alias nggak beli jadi. Kebetulan emang punya alat-alatnya, punya resepnya, dan punya niat bikin nugget. Horeee, jadi nugget homemade yang masih sangat fresh. Ngerjainnya emang gempor, tapi happy kok... bahahaha! Mau order? Boleeeh... ahahaha!


Cookies Hias Huruf

Aseli, kalau yang ini mah nyerah saya mau bikinnya. Saya nggak jago bikin kue. Kue apapun itu, kok nggak pede dan hampir jarang berhasil kalau bikinnya. Alhamdulillah, punya temen yang jago masak bikin kue, tinggal whatsapp, pesen dan bisa ambil. Sempet kepikiran bikin chocolate cookies aja. tapi emak Dian nawarin bikin cookies hias huruf bertuliskan NARES. Okey banget ide-nya dan saya setuju. Tinggal siapin kotak mika aja. Gampang lah itu bikin mika kotak...

Jajaran paper bag - ya bikin sendiri

Ready to distribute

Homemade semua

Happy Birthday, Nares

Bu... saya mau kue-nya... 

Done... jadi deh goodies bag Nares... alhamdulillah anak-anak dan emak-emak juga suka karena nggak pakai produk-produk ber MSG banyak. Mau pesen goodies bag buat ultah anak dengan harga bersahabat? Boleh contact ke bawah ini ya... hihihihi...


Cookies, kue ulang tahun dan berbagai jenis makanan home made lainnya..
Facebook : Dian Ekayani
Whatsapp : 081282208916
Line: dekamade_dianekayani
PIN BBM : 56B24375

Pesen chicken carrot nugget...
Email ke mona.archy@gmail.com
Whatsapp : 08151606909

TRIP KE SEMARANG (bagian 5) - PERJALANAN SEMARANG, DEMAK, KUDUS, JAKARTA

Yak, mari lanjutkan cerita kita liburan. Cerita pun akan berakhir di posting-an ini ya. Sudah habis masa liburannya, saatnya kembali kerja keras, kumpulin duit lagi, nyangkul lagi... 

Minggu pagi, kita siap-siap pindah kota. Demak dan Kudus, tujuan terakhir perjalanan liburan kita. Jauh juga ye, perjalanan kita, Jakarta - Kudus... Hahahaha, seperti nekat tampaknya. Tapi ya nggak siy untungnya emang bisa gantian nyupir, dan semuanya hobby nyupir, jadi perjalanan kita enjoy aja... Berangkat dari Whiz Semarang, pkl 08.30 setelah sarapan, langsung menuju Demak. Perjalanan alhamdulillah lancar, karena jalanan juga cenderung bagus dan tidak ada macet. Tiba di Masjid Demak nan kesohor tersebut, pkl 09.15 dan langsung bisa parkir di depan Masjid Demak yang tepat berada di depan alun-alun Demak, lokasi Masjid berseberangan dengan Rutan Demak. 

Masuk Masjid Demak, masjid yang terkenal dengan tatal alias kolomnya. Salah satu Masjid yang bersejarah, maka dari itu kita kunjungi. Disini, sebenernya nggak hanya masjid yang bisa dikunjungi, tapi ada juga museum-nya. Ada juga tempat wudhu yang bersejarah dari batu gitu, dikelilingi dengan pagar. Silahkan dieksplorasi ya... Lagi-lagi disayangkan karena nggak ada tempat jual souvenir gitu. Jadinya hilang jejak niy, perkoleksian saya. Apa boleh buat, ngunjungi Demak tanpa souvenir. Poto-poto aja deh kalao gitu. Bungkus aja. Kata kerabat saya, di alun-alun Demak ini, ada Bakso Balungan yang wajib dicoba. Saya nggak nyobain, udah keburu mau lanjut ke Kudus.

Mesjid Agung Demak

Asal mula tempat wudhu

Soko Tatal, soko guru - interior Masjid Agung Demak

Perjalanan Demak-Kudus, sekitar 40 menit saja, jalan mulus dan lancar. Sampai di Kudus, pk 11.00, kita langsung nyari Soto Ayam khas Kudus. Hahahah, di Kudus nggak ada yang namanya Soto Kudus, yaaa... Sama kayak di Tegal, nggak ada Warung Makan Tegal. Di Kudus, ada beberapa Rumah Makan Soto yang terkenal, tapi kita nyobain di Rumah Makan Soto Bu Djatmi, karena sekalian jalan menuju arah Mesjid Menara Kudus. Lokasinya di tengah kota, kok, gampang di cari, Jl. KH. Wahid Hasyim no. 43, kalau dari masuk Kudus, adanya di sebelah kanan jalan. Rame lah pokoknya. 

Makan siang disini, cukup direkomendasikan. Tempat nyaman, rasa enak, pilihan makan juga banyak, harga terjangkau. Disini menyediakan soto ayam, soto kerbau (di Kudus, daging sapi nggak dipakai untuk menghormati umat Hindu pada jaman dahulu kala), ada sate paru, sate ayam kulit, tahu bakso goreng, dan lain-lainnya. Rasa mau embat semua deh pokoknya. Kita makan 2 porsi soto berikut dengan printilannya, minum juice 2 gelas, cemilan bawa pulang, total Rp 70.000. Sepenglihatan saya selama makan disini, ciri khas orang sini itu mereka kalau makan jika sudah selesai maka akan langsung bubar atau balik, nggak pakai kongko-kongko lagi. Beneran deh, datang, pesan, makan, minum, langsung pulang. Jadi nggak ada tuh, ramah tamah di rumah makan ini. 

Lanjut dari makan siang, kita menuju Mesjid Menara Kudus nan kesohor. Modal aplikasi Waze, sampe juga ke tempat tujuan. Tapi nyatanya, kita nggak paham banget, disini nggak ada kawasan parkir khusus pengunjung ke Masjid. Jadilah kita masuk ke pedalaman masjid yang ternyata jalannya sempit banget. Hiks hiks, ngelawan sama becak, adooooh! Suami turun, gantian nyupirnya buat buka jalan, karena nggak bisa jalan udah diserbu sama becak. Beneraaan, nggak ada rambu dilarang mobil masuk atau harus parkir dimana buat mobil yang mau ke Masjid Menara. Rasa udah mau nangis, kejebak disini, tapi apa daya, harus keluar dari lingkaran becak ituuu, pemirsa! 

Masjid Menara Kudus

Ngintip dalam Masjid Menara Kudus

Kompleks Makam

Alhamdulillah, setelah stuck 30 menit di kubangan becak, akhirnya bisa keluar juga kita. Parkir di pinggiran jalan, kata salah satu orang disitu. Maklum deh ya, kita pake plat B yang tidak paham. Mau marah, sama siapa, dan nggak guna juga. Yang penting udah nemu parkiran dan bisa jalan kaki ke komplek Mesjid Menara. Parkir di pinggir jalan ini normalnya Rp 5.000 kayaknya ya... sempet juga dimintain Rp 10.000, tapi pas mau dikasih tambah, tukang parkirnya nggak ada. Nggak rejeki dia deh. Parkir dari pinggir jalan besar sampai di tempat tujuan cukup 8 menit saja, lewat jalan senggol, area Kauman. Mau naik becak juga bisa, tapi tanggung banget. Kecuali mau keliling Kauman juga, mungkin lebih berasa. 



Sampai di Mesjid Menara, kita muter-muter dulu, liat-liat sekeliling, waktu itu pkl 13.00, dan pengunjung cukup ramai. Hari Minggu dan Senin-nya tanggal merah alias Libur Nasional, jadilah ramai sekali. Mesjid Menara, emang khas sekalai di menara tersebut yang sangat bergaya Hindu. Emang bingung, ini mesjid atau pura, ya... hihihi. Keren deh! Keren dari sejarah dan arsitekturnya ya... tapi saya sendiri kecewa sama pengelolaannya yang sangat tidak bersahabat. Setelah kecewa dengan pengelolaan parkir wisata, lanjut lagi kecewa dengan fasilitas toilet dan tempat wudhu. Nggak pantas dan nggak layak banget. Jadi sedih rasanya. Iya, toilet cuma ada 2 kubikal, dan 1 titik saja. Tempat wudhu wanita, ampuuun kecil. Selesai deh perkara itu kunjungan. Kita akhirnya wudhu dan buang air kecil di rumah penduduk setempat. Bayar Rp 2.000 perak untuk buang air kecil.

Hari Minggu itu, kita nggak bisa melihat kondisi di dalam masjid seperti apa, kita hanya bisa sholat di sekitar pelataran masjid saja. Entah apa alasannya, mungkin masjid dibuka hanya untuk hari besar saja. Setelah sholat di masjid, kita bisa ngunjungi juga komplek makam Sunan Kudus. Lokasinya tepat di samping kiri Masjid Menara. Kita juga cuma intip-intip kok ke komplek makam ini, soalnya masih panas banget. 

Selesai kunjungan Mesjid Menara, kita lanjut ke Hotel Griptha yang udah menanti. Udah janji sama anak-anak, sore kita berenang di hotel, jadilah kita menuju hotel untuk istirahat sejenak, sore bisa main air. Alhamdulillah, hotel bagus dan recommend deh. Tinggal makan malam aja niyh, PR kita. Untungnya, tadi perjalanan Masjid Menara ke Hotel, liat rumah Makan Lombok Idjo, yang cukup kesohor se Semarang Raya. Hahahaha... jadilah kita nyobain makan disitu. Lumayan kok rasanya, dan harganya sangat terjangkau. Silahkan dicoba untuk makan malam ketika di Kudus. E tapi ya, sebenernya kuliner Kudus ini macam-macam kok..., mulai dari soto ayam/kerbau, lentog, garang asem, sate kerbau... hihihi!

Maen Aerrr....

Okey... Senin pagi saatnya kita kembali ke Jakarta. Liburan telat usai. Kembali ke dunia nyata. Pk 09.00 kita berangkat dari Griptha Hotel menuju Jakarta. Dijadwalkan dalam perjalanan pulang, kita mampir International Batik Center dan makan siang di Kepiting Prima Pemalang. Kondisi pas balik agak padat, pkl 12.00 baru tiba di Pekalongan disambut dengan hujan lebat dan macet parah. Jadilah IBC kita skip, karena di IBC aja udah pk 13.00, kalau mau mampir IBC lagi, bisa-bisa makan di Kepiting Prima pk 15.00. Nggak apa, kalaupun mau belanja batik seadanya, di RUmah Makan Kepiting Prima ada kok sedikit ala kadarnya. 

Makan di Kepiting Prima, pesen kepiting jantan, karena kepiting telurnya nggak ada. Nggak apalah. Pesen yang ada aja. Kita pesan kepiting saos prima emang handalan disitu. Pesan 2 ekor, berikut dengan cah kangkung polos, tahu dan tempe. Pesan makan disini, usahakan pesan sekali ya, jangan pakai tambahan soalnya bakalan lamaaa datengnya itu pesanan tambahan. Sekali datang aja, biar cepet. Makan disini, bagi yang bawa bayi atau anak kecil, nggak ada high chair. Siap-siap booster seat ya... pesen makan juga baiknya ditanya dulu, pedes atau nggak, soalnya cah kangkung yang kita pesen, ternyata pedeeees... Well done, makan disini, 1 ceting nasi putih, kepiting jantan saos prima 2 ekor, cah kangkung 1 porsi, tahu dan tempe goreng 1 porsi, serta teh hangat tawar, menghabiskan Rp 90.000. Murah? Relatif dah, kalo yang biasa makan kepiting di Jakarta... pasti bilangnya murah bangeeet...

Seleeesaaai... kita lanjut pulang ke Jakarta, kembali kena macet di toll Cikopo, karena semua rest area penuh dan ditutup. horeeee... perjalanan Kudus - Jakarta 15 jam saja! 

2.20.2016

TRIP KE SEMARANG (bagian 4) - PERJALANAN SEMARANG dsk

Perjalanan di hari kedua di Semarang, dijadwalkan ke Museum Kereta Api Ambarawa. Rencananya mau naik kereta itu lho, yang bisa liat Rawa Pening, khas kalau main ke Ambarawa. Siplah, berangkat pk 08.00 dari Whiz Semarang, lanjut menuju Ambarawa yang waktu tempuh (menurut google maps) sekitar 45 menit saja tanpa macet. Alhamdulillah, perjalanan lancar (via toll Semarang ke Ungaran yang pemandangannya sangat bagus). Bayar toll berapa ya, lupa niy, yang tercatat Rp 2.500 dan Rp 2.500. Keluar dari toll Ambarawa, masih butuh sekitar 15 menit menuju lokasi Mueseum KA. Pk 08.50 kita sudah sampai di Museum Kereta Api Ambarawa. Masih sepi sangat. Tapi walaupun masih sepi, jam segitu udah ada aja yang pulang. Mereka datang jam berapa, ya...

Road to Ambarawa from Semarang
Sila baca sejarah perkeretaapian Indonesia disini
Stasiun Ambarawa

Loket Jaman Baheula
Ini diaaanyaaa...

Ambarawa

Museum KA Ambarawa, masuk ke dalam objek wisata, per orang dewasa dikenakan tiket Rp 10.000 dan untuk anak-anak sebesar Rp 5.000. Rencana mau naik kereta, tinggal kenangan yuk dadah bay bay. Kereta ke Rawa Pening cuma ada di hari Minggu dan hari libur nasional (hari besar), pemirsaaa... Salah timing dah kita! Nah, bagi yang mau naik kereta ke Rawa Pening, catet ya, datengnya harus hari Minggu/Libur Nasional, bayar Rp 50.000 per orang dan jam keberangkatan pkl 10.00, pk 12.00 dan pkl 14.00. Kondisi Museum ini sangat baik, setelah direnovasi tahun 2015 lalu. Toilet bersih, parkir nyaman alas hotmix, bersih juga sekeliling museum. Sayang, lagi-lagi nggak ada tempat jual souvenir yang bagus, yang ada hanya ala kadarnya pedagang lokal diluar pagr museum. Mungking bagi yang minat, bisa ajukan proposal buka lapak ya... hahaha...

Sekitar 1,5 jam kita berkeliling melihat-lihat koleksi kereta api di sini. Menyenangkan! Melihat dan membayangkan stasiun serta perkeretaapian di jaman dahulu. Banyak loket-loket aseli yang masih berdiri disini, rel kereta api, lokomotif, gerbong, dan lain-lain. Bagi yang punya anak kecil, pasti suka kesini. Stroller bisa kepake banget disini, nyaman lah, karena track yang stroller friendly. Tidak cuma bisa menikmati objek wisata, silahkan liat pemandangan di sekitar museum, ada beberapa gunung tinggi di Jawa Tengah yang bisa dilihat, salah satunya Merapi. Sangat direkomendasikan untuk pergi ke Museum KA Ambarawa ini, lho. Sebenernya di Ambarawa ini juga ada Palagan Ambarawa yang cukup terkenal, tapi kita nggak mampir. 

Lanjut balik lagi ke Semarang, kita menuju Klenteng Sam Poo Kong. Klenteng ini juga banyak menyimpan sejarah, yaitu Panglima Cheng Kho, seorang muslim yang datang langsung dari Tiongkok. Saya nggak tau sejarah persisnya bagaimana, sila aja mampir browsing-browsing, bagaimana sejarah Klenteng Sam Poo Kong. Untuk masuk ke objek wisata ini, setiap pengunjung dikenakan Rp 5.000 per orang dan mobil Rp 3.000 untuk sekali parkir. Bagi yang melakukan ibadah, nanti biaya tiket masuk bisa dikembalikan. Oia, di klenteng ini kita menghabiskan waktu sekitar 1 jam saja. Di sini, bagi yang berminat bisa melakukan foto dengan menyewa pakaian tradisional China, harganya kalau nggak salah Rp 80.000. Buat yang punya baby, bisa bawa stroller, friendly kok...

Klenteng Sam Poo Kong

Gerbang dan Payung Cheng Kho

Klenteng Sam Poo Kong
Lawang Sewu nan Kesohor

Seribu pintu

Lorong

Setelah Sam Poo Kong, kita lanjut menuju ke Lawang Sewu, perjalanan sekitar 15 menit saja. Jalan di Semarang cukup mudah diingat, karena area yang tidak terlalu besar. Sampai di Lawang Sewu, sekitar pk 15.30, cuaca agak mendung. Hal yang pertama kita cari adalah tempat parkir, dan kita tidak menemukan tempat parkir yang layak. Parkir mobil dan motor resmi, nggak ada di Lawang Sewu, yang ada parkir liar aja, itu pun adanya di jalan sempit samping Lawang Sewu. Sangat tidak layak. Sempat ilfil karena bingung mau parkir dimana. Mau parkir di jalan pinggir itu, rasanya nggak sampai hati, karena kalau ada mobil lewat, udah pasti susah. Akhirnya kita menemukan pintu masuk belakang DP Mall Semarang, kita masuk dan numpang parkir disitu. Harus jalan kaki ke Lawang Sewu sekitar 10 menit, jalan di pedestrian yang sangat nyaman dan in shaa Allah aman. 

Selesai dari Lawang Sewu, kita lanjut perjalanan ke Kota Tua yang sempat tertunda kemarin karena hujan. Walaupun mendung, cenderung mau gerimis, bismillah aja. Pertama kita lihat Stasiun Tawang (yang kadang suka banjir), lanjut liat Gereja Blenduk yang kesohor, lihat gedung Kantor Pos yang jadul juga. Kereeen... Sayang aja kita nggak sempat tingak tinguk di dalam objek-objek tersebut, udah keburu sore dan cuaca pun gerimis. Alhasil, dari luar aja kita menikmatinya. Tak apalah, begini saja sangat senang, kok. Oia, menurut teman pak suami, Kota Tua Semarang ini menarik juga untuk dikunjungi malam hari. Lightingnya pasti menarik. Sayang, acara malam kami yaitu mau istirahat, ahahahah...

Gereja Blenduk

Bangunan Lama
Toko Loenpia Mbak Lien

Sateeeee...

Mie Jowo Pak Doel Noemani

Pulang dari Kota Tua Semarang, kita mampir ke Toko Loenpia Mbak Lien yang berada di Jl. Pemuda, deket sekali dengan Toko Oen. Sebenernya Loenpia yang terkenal ada di Jl. Lombok, tapi baca reviewnya, katanya antri lama, jadilah kita malas. Mending yang sejalan pulang dan cepat saja. Loenpia Mbak Lien, Rp 13.000 per piece, baik loenpia basah maupun loenpia goreng. Di toko mbak Lien ini, bisa juga makan disini kok... tapi tempatnya nggak besar. Paling muat sekitar 40 orang saja. Rasa? Cukup enak menurut saya, karena nggak bau aneh dari rebung. Pak suami yang nggak doyan rebung, masih bisa makan rebungnya. Loenpia Mbak Lien buka dari pk 09.00 - pk. 22.00. Bisa juga buat oleh-oleh lho. Kita nggak bawa pulang loenpia, karena sebelum pulang Jakarta kita mau ke Kudus dulu. 

Makan malam hari ini, kita nyobain di Bakmi Jowo Pak Doel Noemani yang terletak depan hotel kita nginep. Cukup terkenal katanya. Direkomendasikan oleh temen pak suami, Mie Jowo Pak Gareng, tapi kita nggak mampu kesana, karena infonya tempat kurang friendly buat bawa anak-anak, bentuknya warung tradisional gitu. Makanya jadi deh kita nyari yang deket aja. Makan bakmi Jowo Godhok, 2 porsi berikut dengan jeruk hangat 2 gelas, beserta 3 tusuk sate, Rp 44.000 kesemuanya. Murah sangat! Oia, untuk makan disini, kalau mau parkir, agak terbatas ya, on street parking, paling muat 5 mobil aja. Boleh aja kalau mau, parkir di seberang, ada Mall Paragon. Selesai makan, alhamdulillah nikmat.

Lanjut lagi kita meneruskan malam kita, menuju pusat oleh-oleh di Jl. Pandaran yang sangat beken dan hits tersebut. Kita naik taxi aja kesana, mobil tinggal di hotel karena parkir pasti penuh. Naik taxi dari depan hotel sampai di Bandeng Juwana, Rp 12.000 saja. Kebetulan juga, sampai disana, ternyata parkiran Bandeng Juwana nggak terlalu banyak. Seruuu, belanja oleh-oleh khas Semarang di Bandeng Juwana. Lengkap kok. Mulai dari bandeng (yang asep, yang otak-otak, yang apalagi entah), wingko babat (kelapa muda, nangka, entah apalagi rasanya), cemilan kriuk-kriuk, moci, kue gandjelrel khas Semarang, dan yang lainnya juga. Lengkaaaap... pemirsa, tinggal bayar di kasir - karena model toko swalayan. Sekalian aja, minta dikardusin, wrap paten lah pokoknya... 

KURIKULUM SD KINI... JAHARA DEH...

Buat ibu-ibu yang selalu mendampingi anak-anaknya belajar, pasti paham banget kalau materi pelajaran sekarang ini berat sekali. Ehm, apa ja...

Popular Post